Jakarta (ANTARA/JACX) - Video gunung api aktif yang muncul di tengah persawahan di Jawa Tengah, mendapat atensi publik di berbagai saluran media sosial di Indonesia.
Hadirnya gunung berapi pada akhir Maret 2024 tersebut terkesan mendadak, sehingga membuat warganet kebingungan. Fenomena alam itu kemudian banyak dikaitkan dengan gempa bumi yang terjadi di Tuban, Jawa Timur, pada 24 Maret 2024.
Adapula, yang menghubungkannya dengan banjir Demak, Jawa Tengah, yang berlangsung sebelum gempa magnitudo 4,6 di Tuban terjadi. Beberapa konten pun menyebutkan bahwa fenomena tersebut merupakan tanda akhir zaman.
Berikut narasinya:
"TANDA-TANDA AKHIR ZAMAN!? Pasca Gempa Dan Banjir Di Jawa Tengah, Tiba-Tiba Muncul Gunung Berapi Aktif Di Persawahan Warga!?,".
Lalu, benarkah gunung yang muncul pascagempa Tuban dan banjir Demak jadi tanda akhir zaman?
(GFD-2024-17932) Hoaks! Muncul gunung pasca-gempa Tuban dan banjir Demak
Sumber:Tanggal publish: 01/04/2024
Berita
Hasil Cek Fakta
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Muhammad Wafid menjelaskan adanya gunung baru di tengah sawah di daerah Grobogan, Jawa Tengah, adalah fenomena gunung lumpur (mud volcano) bernama Bledug Kramesan.
Wafid, dalam berita ANTARA, mengungkapkan kejadian tersebut bukanlah sesuatu yang luar biasa, sehingga warga sekitar tidak perlu panik. Ia menerangkan pengaruh gempa terhadap gunung lumpur adalah adanya kemungkinan terbukanya rekahan-rekahan yang dilewati oleh material lumpur.
Dengan terbukanya rekahan-rekahan tersebut, kata Wafid, rembesan lumpur akan mengalami pergerakan naik dan ada penambahan debit material. Hal itu yang menimbulkan gunung lumpur. Penjelasan tersebut mematahkan narasi yang menyebutkan bahwa gunung yang muncul pascagempa Tuban dan banjir Demak jadi tanda akhir zaman.
Klaim: gunung yang muncul pascagempa Tuban dan banjir Demak jadi tanda akhir zaman
Rating: Hoaks
Pewarta: Tim JACX
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2024
Wafid, dalam berita ANTARA, mengungkapkan kejadian tersebut bukanlah sesuatu yang luar biasa, sehingga warga sekitar tidak perlu panik. Ia menerangkan pengaruh gempa terhadap gunung lumpur adalah adanya kemungkinan terbukanya rekahan-rekahan yang dilewati oleh material lumpur.
Dengan terbukanya rekahan-rekahan tersebut, kata Wafid, rembesan lumpur akan mengalami pergerakan naik dan ada penambahan debit material. Hal itu yang menimbulkan gunung lumpur. Penjelasan tersebut mematahkan narasi yang menyebutkan bahwa gunung yang muncul pascagempa Tuban dan banjir Demak jadi tanda akhir zaman.
Klaim: gunung yang muncul pascagempa Tuban dan banjir Demak jadi tanda akhir zaman
Rating: Hoaks
Pewarta: Tim JACX
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2024
Rujukan
(GFD-2024-17677) [HOAKS] Garis Horizontal di Batang Hidung Tanda Penyakit Jantung
Sumber:Tanggal publish: 01/04/2024
Berita
KOMPAS.com - Beredar narasi mengenai tanda-tanda pada tubuh ketika seseorang terkena penyakit jantung.
Tanda-tanda tersebut, antara lain, munculnya garis horizontal di batang hidung dan garis 45 derajat di telinga.
Selain itu, pembuluh darah bawah lidah berwarna gelap dan bercabang, serta pembuluh vena di ibu jari berwarna biru.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut tidak benar atau hoaks.
Video soal tanda-tanda seorang terkena penyakit jantung dibagikan oleh akun Facebook ini, ini dan Instagram ini.
Narasi yang disebarkan dalam bentuk video itu diberikan keterangan demikian:
Hanya ingin berbagi informasi untuk mengetahui tanda² di tubuh kita ... ????Semoga Bermanfaat.?? Salah satu tanda jantung lemah garis horizontal d batang hidung....Salam Sehat Selalu.
Akun Facebook Tangkapan layar Facebook narasi yang menyebut garis horizontal di batang hidung merupakan tanda seorang mengalami masalah jantung
Tanda-tanda tersebut, antara lain, munculnya garis horizontal di batang hidung dan garis 45 derajat di telinga.
Selain itu, pembuluh darah bawah lidah berwarna gelap dan bercabang, serta pembuluh vena di ibu jari berwarna biru.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut tidak benar atau hoaks.
Video soal tanda-tanda seorang terkena penyakit jantung dibagikan oleh akun Facebook ini, ini dan Instagram ini.
Narasi yang disebarkan dalam bentuk video itu diberikan keterangan demikian:
Hanya ingin berbagi informasi untuk mengetahui tanda² di tubuh kita ... ????Semoga Bermanfaat.?? Salah satu tanda jantung lemah garis horizontal d batang hidung....Salam Sehat Selalu.
Akun Facebook Tangkapan layar Facebook narasi yang menyebut garis horizontal di batang hidung merupakan tanda seorang mengalami masalah jantung
Hasil Cek Fakta
Dikutip dari Kompas.com, dokter spesialis jantung Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) Habibie Arifianto membantah narasi tersebut.
Menurut dia, garis horizontal di batang hidung atau nasal bridge tidak menandakan seseorang terkena penyakit jantung.
Begitu pula pembuluh darah vena yang gelap dan bercabang di area lidah. Ini merupakan tanda peningkatan tekanan vena atau pembuluh darah balik, biasanya karena proses penuaan.
Kendati begitu, Habibie mengatakan, ada beberapa tanda-tanda sekunder yang bisa dijadikan penanda masalah pada jantung dan pembuluh darah.
Tanda sekunder itu dapat berupa frank sign atau garis lekukan diagonal pada daun telinga. Semakin tegas garis diagonal pada daun telinga dan semakin dalam lipatannya, maka semakin berhubungan dengan penyakit jantung, seperti jantung koroner, penyakit pembuluh darah tepi, dan stroke.
Tanda lainnya, yakni adanya titik-titik atau gumpalan kekuningan di sekitar kelopak mata. Ini menandakan kadar kolesterol tinggi yang menumpuk di sekitar jaringan bawah kulit sekitar mata.
Selain itu, jari tabuh atau clubbing finger juga dapat menunjukkan seseorang mengalami masalah jantung. Kondisi ini muncul saat ujung jari tangan atau kaki bengkak, sehingga kuku tampak melebar dan melengkung.
Adapun untuk tanda-tanda primer atau tanda yang langsung mengarah pada penyakit jantung, yakni detak jantung yang tidak teratur dan temuan bising jantung.
Bising jantung merupakan suara desingan atau tiupan yang terdengar dengan stetoskop saat jantung berdetak.
Adanya penumpukan cairan di paru-paru pada pasien yang mengalami sesak napas akibat gagal jantung juga menjadi tanda primer.
Menurut dia, garis horizontal di batang hidung atau nasal bridge tidak menandakan seseorang terkena penyakit jantung.
Begitu pula pembuluh darah vena yang gelap dan bercabang di area lidah. Ini merupakan tanda peningkatan tekanan vena atau pembuluh darah balik, biasanya karena proses penuaan.
Kendati begitu, Habibie mengatakan, ada beberapa tanda-tanda sekunder yang bisa dijadikan penanda masalah pada jantung dan pembuluh darah.
Tanda sekunder itu dapat berupa frank sign atau garis lekukan diagonal pada daun telinga. Semakin tegas garis diagonal pada daun telinga dan semakin dalam lipatannya, maka semakin berhubungan dengan penyakit jantung, seperti jantung koroner, penyakit pembuluh darah tepi, dan stroke.
Tanda lainnya, yakni adanya titik-titik atau gumpalan kekuningan di sekitar kelopak mata. Ini menandakan kadar kolesterol tinggi yang menumpuk di sekitar jaringan bawah kulit sekitar mata.
Selain itu, jari tabuh atau clubbing finger juga dapat menunjukkan seseorang mengalami masalah jantung. Kondisi ini muncul saat ujung jari tangan atau kaki bengkak, sehingga kuku tampak melebar dan melengkung.
Adapun untuk tanda-tanda primer atau tanda yang langsung mengarah pada penyakit jantung, yakni detak jantung yang tidak teratur dan temuan bising jantung.
Bising jantung merupakan suara desingan atau tiupan yang terdengar dengan stetoskop saat jantung berdetak.
Adanya penumpukan cairan di paru-paru pada pasien yang mengalami sesak napas akibat gagal jantung juga menjadi tanda primer.
Kesimpulan
Garis horizontal di batang hidung, garis 45 derajat di telinga, pembuluh darah bawah lidah berwarna gelap dan bercabang, serta pembuluh vena di ibu jari berwarna biru bukan tanda-tanda seseorang terkena penyakit jantung.
Dokter spesialis jantung Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) Habibie Arifianto membantah narasi tersebut. Garis horizontal di batang hidung atau nasal bridge tidak menandakan seseorang terkena penyakit jantung.
Dokter spesialis jantung Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) Habibie Arifianto membantah narasi tersebut. Garis horizontal di batang hidung atau nasal bridge tidak menandakan seseorang terkena penyakit jantung.
Rujukan
- https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=439669891961885&id=100077566340490&mibextid=oFDknk&rdid=sjlDvcCzkYZNNyYH
- https://www.facebook.com/reel/3723174397961128
- https://www.facebook.com/reel/432958562637197
- https://www.kompas.com/tren/read/2024/03/25/090000065/garis-garis-di-wajah-disebut-tanda-gangguan-jantung-ini-kata-dokter?page=2
- https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D
(GFD-2024-17678) CEK FAKTA: Benarkah Hamil di Usia 35 Tahun ke Atas Berisiko Stunting pada Anak?
Sumber:Tanggal publish: 01/04/2024
Berita
KOMPAS.com - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengimbau, usia maksimal ibu hamil adalah 35 tahun guna mencegah anak mengalami stunting atau tengkes.
"Usia 35 tahun maksimal untuk hamil karena pada dasarnya manusia dari lemah dikuatkan, dari kuat dilemahkan, dan puncaknya ada di umur 32 tahun, itu sudah mulai menua. Sejak usia 32 tahun sudah mulai keropos tulang-tulangnya," kata Hasto, seperti diberitakan Antara, 27 Maret 2024.
Lantas, benarkah hamil pada usia di atas 35 tahun berisiko melahirkan anak yang mengalami stunting?
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi mengatakan, perempuan hamil pada usia 35 tahun ke atas dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan.
Risiko yang muncul, antara lain, diabetes gestational, hipertensi, dan kelahiran prematur. Adapun kelahiran prematur dikaitkan dengan peningkatan risiko stunting pada bayi.
Menurut Mahmud, risiko komplikasi tersebut cenderung meningkat seiring dengan pertambahan paritas dan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang tinggi (overweight dan obesitas).
"Namun, hingga saat ini, belum cukup bukti yang menunjukkan bahwa kehamilan pada usia di atas 35 tahun secara signifikan berpengaruh terhadap risiko stunting atau malnutrisi pada bayi yang baru lahir, asalkan faktor-faktor lainnya dapat terkontrol," kata Mahmud.
Ia mengatakan, tidak ada batasan usia maksimum 35 tahun bagi perempuan untuk hamil terkait risiko malnutrisi.
Sebaliknya, dalam kondisi kesehatan yang baik, pertambahan usia ibu dapat menjadi keuntungan karena memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas.
Menurut Mahmud, status gizi anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk status gizi ibu, asupan makanan, akses terhadap layanan kesehatan, dan kondisi sanitasi lingkungan.
"Selama ibu dapat mengelola risiko dari faktor-faktor tersebut dengan baik, risiko stunting atau malnutrisi pada anaknya dapat diminimalkan," ujar Mahmud.
Meski demikian, kata Mahmud, perhatian khusus tetap diperlukan bagi ibu hamil pada usia 35 tahun ke atas untuk menjaga kesehatan, terutama selama masa kehamilan.
Terdapat studi yang menunjukkan peningkatan usia berkorelasi dengan pengeroposan tulang, tetapi beberapa penelitian juga menyatakan tidak ada korelasi antara komposisi tubuh dan tekanan darah dengan usia ibu.
"Semua ini tergantung pada kemampuan individu dalam menjaga kesehatan tubuh dan karakteristik individu masing-masing," kata Mahmud.
Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, serta stimulasi psikososial yang tidak memadai.
Dampaknya, tingkat kecerdasan (IQ) anak turun hingga 15 poin. Otak anak tidak berkembang, sehingga membuat tingkat kecerdasan rendah, sulit konsentrasi, dan sulit menangkap pelajaran.
Dilansir Kompas.id, gangguan ini terjadi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), sejak pembentukan janin hingga anak berumur 23 bulan. Stunting ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak yang berada di bawah standar sesuai umurnya.
Stunting juga membuat sel tubuh tidak berkembang sebagaimana mestinya. Akibatnya, daya tahan tubuh anak rendah hingga gampang sakit, rentan menderita berbagai gangguan metabolik, dan penyakit degeneratif saat dewasa.
Hal tersebut juga menyebabkan buruknya produktivitas dalam bekerja, sehingga, pendapatan mereka 20 persen lebih rendah dibandingkan dengan pekerja yang di masa balitanya tidak stunting.
Kerusakan otak akibat stunting tidak bisa diperbaiki. Untuk itu, penting menemukan anak di bawah 2 tahun yang stunting agar intervensi dan perbaikan bisa segera dilakukan, karena plastisitas atau kemampuan berubahnya otak di masa itu masih sangat tinggi.
Setelah lewat 2 tahun, intervensi yang dilakukan tidak akan memberikan hasil optimal.
***
Artikel ini merupakan hasil kolaborasi program Panel Ahli Cek Fakta The Conversation Indonesia bersama Kompas.com dan Tempo.co, didukung oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
"Usia 35 tahun maksimal untuk hamil karena pada dasarnya manusia dari lemah dikuatkan, dari kuat dilemahkan, dan puncaknya ada di umur 32 tahun, itu sudah mulai menua. Sejak usia 32 tahun sudah mulai keropos tulang-tulangnya," kata Hasto, seperti diberitakan Antara, 27 Maret 2024.
Lantas, benarkah hamil pada usia di atas 35 tahun berisiko melahirkan anak yang mengalami stunting?
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi mengatakan, perempuan hamil pada usia 35 tahun ke atas dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan.
Risiko yang muncul, antara lain, diabetes gestational, hipertensi, dan kelahiran prematur. Adapun kelahiran prematur dikaitkan dengan peningkatan risiko stunting pada bayi.
Menurut Mahmud, risiko komplikasi tersebut cenderung meningkat seiring dengan pertambahan paritas dan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang tinggi (overweight dan obesitas).
"Namun, hingga saat ini, belum cukup bukti yang menunjukkan bahwa kehamilan pada usia di atas 35 tahun secara signifikan berpengaruh terhadap risiko stunting atau malnutrisi pada bayi yang baru lahir, asalkan faktor-faktor lainnya dapat terkontrol," kata Mahmud.
Ia mengatakan, tidak ada batasan usia maksimum 35 tahun bagi perempuan untuk hamil terkait risiko malnutrisi.
Sebaliknya, dalam kondisi kesehatan yang baik, pertambahan usia ibu dapat menjadi keuntungan karena memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas.
Menurut Mahmud, status gizi anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk status gizi ibu, asupan makanan, akses terhadap layanan kesehatan, dan kondisi sanitasi lingkungan.
"Selama ibu dapat mengelola risiko dari faktor-faktor tersebut dengan baik, risiko stunting atau malnutrisi pada anaknya dapat diminimalkan," ujar Mahmud.
Meski demikian, kata Mahmud, perhatian khusus tetap diperlukan bagi ibu hamil pada usia 35 tahun ke atas untuk menjaga kesehatan, terutama selama masa kehamilan.
Terdapat studi yang menunjukkan peningkatan usia berkorelasi dengan pengeroposan tulang, tetapi beberapa penelitian juga menyatakan tidak ada korelasi antara komposisi tubuh dan tekanan darah dengan usia ibu.
"Semua ini tergantung pada kemampuan individu dalam menjaga kesehatan tubuh dan karakteristik individu masing-masing," kata Mahmud.
Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, serta stimulasi psikososial yang tidak memadai.
Dampaknya, tingkat kecerdasan (IQ) anak turun hingga 15 poin. Otak anak tidak berkembang, sehingga membuat tingkat kecerdasan rendah, sulit konsentrasi, dan sulit menangkap pelajaran.
Dilansir Kompas.id, gangguan ini terjadi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), sejak pembentukan janin hingga anak berumur 23 bulan. Stunting ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak yang berada di bawah standar sesuai umurnya.
Stunting juga membuat sel tubuh tidak berkembang sebagaimana mestinya. Akibatnya, daya tahan tubuh anak rendah hingga gampang sakit, rentan menderita berbagai gangguan metabolik, dan penyakit degeneratif saat dewasa.
Hal tersebut juga menyebabkan buruknya produktivitas dalam bekerja, sehingga, pendapatan mereka 20 persen lebih rendah dibandingkan dengan pekerja yang di masa balitanya tidak stunting.
Kerusakan otak akibat stunting tidak bisa diperbaiki. Untuk itu, penting menemukan anak di bawah 2 tahun yang stunting agar intervensi dan perbaikan bisa segera dilakukan, karena plastisitas atau kemampuan berubahnya otak di masa itu masih sangat tinggi.
Setelah lewat 2 tahun, intervensi yang dilakukan tidak akan memberikan hasil optimal.
***
Artikel ini merupakan hasil kolaborasi program Panel Ahli Cek Fakta The Conversation Indonesia bersama Kompas.com dan Tempo.co, didukung oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
Hasil Cek Fakta
Rujukan
(GFD-2024-17936) Keliru, Klaim Vaksin Covid-19 Sebabkan Penyakit Lambung pada Perempuan
Sumber:Tanggal publish: 01/04/2024
Berita
Sebuah akun di Facebook [ arsip ] mengunggah konten dengan klaim seorang pelajar yang pernah mendapatkan vaksin Covid-19 mengalami penyakit lambung. Pelajar perempuan disebut sebagai yang paling rentan mendapatkan ancaman itu.
Konten itu memuat penjelasan bahwa vaksin Covid-19 dapat menyerang dan menginfeksi lambung agar penderita tidak bisa mendapatkan saripati dari makanan. “Dengan kata lain lambungnya sengaja di-blocked. Karena lambung sudah ter-blocked maka obat kimia sintetis apapun ditelan akan berubah menjadi racun sekalipun itu paracetamol atau obat dosis ringan sekelas obat warung."
Konten itu disertai foto hasil tangkapan layar ucapan duka pada seorang perempuan berhijab yang mengenakan seragam sekolah. Tertulis pada foto itu bahwa ia meninggal dunia karena penyakit lambung. Namun, benarkah klaim bahwa vaksin Covid-19 menyebabkan penyakit lambung pada perempuan?
Hasil Cek Fakta
Tim Cek Fakta Tempo mengkonfirmasi klaim di atas dengan mewawancarai Ketua Dokter Indonesia Bersatu, Eva Sri Diana. Ia menjelaskan konsep vaksin.
Vaksin sengaja dimasukkan seakan-akan mirip dengan virus aslinya dalam bentuk yang bisa dikontrol tubuh sehingga aman. Tujuannya agar sel-sel tubuh kita yang berfungsi melindungi, bisa mengenalinya kemudian menyimpan memori yang gunanya jika ada virus asli masuk suatu saat, maka tubuh langsung memberi perlawanan.
“Jadi vaksin membentuk kekebalan/imunitas sebelum terpapar. Tidak benar cairan vaksin Covid-19 itu menyerang dan menginfeksi lambung,” kata Eva lewat pesan singkat kepada Tempo, Kamis, 28 Maret 2024.
Menurut epidemiolog Dicky Budiman, keluhan pada lambung bisa saja merupakan dampak lanjut infeksi Covid-19 berulang atau risiko long covid. Infeksi covid bisa terjadi pada berbagai organ tubuh.
“Namun untuk memastikannya, tentu perlu pemeriksaan intensif oleh ahli. Yang terpenting lakukan perilaku hidup sehat dan bersih. Dan jangan lupa booster immune dengan vaksinasi, terutama bagi yang rentan,” kata Dicky melalui pesan singkat, kemarin.
Dikutip dari situs Centers for Disease Control and Prevention bahwa penelitian menunjukkan orang yang tertular Covid-19 setelah vaksinasi lebih kecil kemungkinannya untuk melaporkan Long Covid-19 –istilah untuk menyebut dampak lanjutan setelah terinfeksi virus penyebab penyakit Covid-19, dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi. Meskipun Long Covid tampaknya lebih jarang terjadi pada anak-anak dan remaja dibandingkan pada orang dewasa, efek jangka panjang setelah COVID-19 memang terjadi pada anak-anak dan remaja.
Mantan Ketua Satgas Covid-19 IDI, Prof Dr dr Zubairi Djoerban SpPD-KHOM menyampaikan, pada sebuah laporan penelitian, ada beberapa orang yang melaporkan timbulnya gejala GERD, seperti mulas selama atau setelah terjangkit Covid-19.
“Penyakit refluks gastroesofageal (GERD) terjadi ketika asam lambung mengalir kembali ke kerongkongan yang menyebabkan sering mengalami mulas, regurgitasi atau nyeri. Ada kemungkinan Covid-19 berkontribusi terhadap GERD karena dapat menimbulkan gejala pencernaan,” ungkap Zubairi lewat pesan singkat.
National Library of Medicine melansir bahwa Covid-19 utamanya menyerang sistem pernapasan. Namun dapat berdampak pada sistem organ lain, khususnya sistem pencernaan. Pada penelitian yang melibatkan 561 pasien Covid-19, hasilnya hampir 40% pasien mengalami gejala gastrointestinal, terutama kehilangan nafsu makan, mual, muntah dan diare. Namun, adanya gejala gastrointestinal tidak dikaitkan dengan hasil yang lebih buruk seperti angka kematian, masuk ICU, lama rawat inap di rumah sakit, dan peningkatan intubasi mekanis pada pasien Covid-19.
Kesimpulan
Hasil verifikasi Tempo, klaim vaksin Covid-19 menyebabkan penyakit pada lambung adalah keliru.
Sebaliknya, vaksin membentuk kekebalan tubuh dari virus penyebab Covid-19. Terinfeksi virus Covid-19 bisa berdampak pada sistem organ pencernaan.
Rujukan
- https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid02Fv46AkDtUeFbQLcnDS4ffZCfzo4dTJ9EhsUGTZHRFhreHD1im7aihdeCouwNairFl&id=100095282747900&_rdc=1&_rdr
- https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/long-term-effects/index.html
- https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC10167716/
- https://wa.me/6281315777057 mailto:cekfakta@tempo.co.id
Halaman: 4042/8008



