• (GFD-2024-22668) Hoaks Wabah Mpox Sudah Menyebar ke Manado

    Sumber:
    Tanggal publish: 17/09/2024

    Berita

    tirto.id - Wabah virus Mpox menjadi sorotan publik belakangan ini. Pasalnya, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) telah menetapkan keadaan darurat terkait wabah Mpox pada pekan kedua Agustus 2024.

    WHO mengambil langkah tersebut setelah terjadi peningkatan kasus dan kematian akibat Mpox di negara-negara Afrika. Peningkatan dan kematian itu disebabkan oleh virus Mpox klad 1b. WHO melaporkan peningkatan kasus akibat klad 1b terjadi di Kongo dan negara Afrika lainnya. Hingga awal Agustus 2024, kasus Mpox sudah tercatat lebih dari 15.600 kasus dan 537 kasus kematian.

    Di Indonesia, menurut data Kesehatan Kemenkes (Kemenkes), terdapat 88 kasus Mpox antara tahun 2022-2024. Rincian persebaran kasusnya, paling besar di DKI Jakarta sebanyak 59 kasus konfirmasi. Kemudian Jawa Barat 13 kasus konfirmasi, Banten sembilan konfirmasi, Jawa Timur tiga konfirmasi, Daerah Istimewa Yogyakarta tiga konfirmasi, dan Kepulauan Riau satu konfirmasi.

    Direktur Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan Kemenkes (Kemenkes), Achmad Farchany Tri Adryanto, menjelaskan kalau sampai 22 Agustus 2024 lalu, tersisa satu kasus aktif Mpox dan pasien menjalani isolasi dalam keadaan umum baik.

    Pihak Kemenkes juga menyebut kalau kasus Mpox di Indonesia, seluruhnya varian klad 2b, berbeda dengan yang klad 1b yang menyebar di sejumlah negara di Afrika.

    Namun, di media sosial, ketakutan masyarakat akan persebaran virus Mpox masih tinggi. Sejumlah unggahan sempat beredar tentang isu persebaran Mpox di Jember maupun Bali, juga isu mengenai akan dilakukannya lockdown akibat Mpox. Namun, berdasarkan penelusuran Tirto, tiga klaim tersebut telah terbukti merupakan hoaks.

    Terbaru, Tirto menemukan sebuah unggahan di media sosial yang menyebut temuan kasus Mpox di wilayah Manado, Sulawesi Utara. Unggahan dengan klaim ini salah satunya disebar akun "Faisaluber Faizaluber"(arsip) di Facebook.

    “Hati" so di manado skarang ni panyaki ini,” begitu bunyi pesan di media sosial tersebut pada 15 September 2024. Beserta pesan tersebut, terdapat dua buah tangkapan layar.

    Tangkapan layar pertama berisi percakapan di aplikasi pengiriman pesan yang menyebut penyakit Mpox yang telah masuk ke Bali. Sementara tangkapan layar kedua berisikan informasi di komunitas Facebook yang menyebut adanya temuan kasus Mpox di Rumah Sakit Kandou, Manado. Unggahan tersebut hanya mendapat sembilan impresi (tanda suka dan emoji), serta empat komentar, tetapi sudah dibagikan ulang sebanyak 362 kali.

    Terkait klaim temuan virus Mpox di RS Kandou, juga kami temukan dari unggahan akun Facebook "Ei Anggrainy" (arsip) pada 11 September 2024 berikut. Akun tersebut mengambil tangkapan layar yang sama dan telah disebarkan ulang sebanyak 111 kali.

    Lalu, bagaimana faktanya? Apakah benar virus Mpox sudah masuk ke Manado?

    Pemeriksaaan Fakta

    Sedikit bahasan mengenai Mpox, penyakit ini disebabkan oleh Orthopoxvirus. Pada asalnya, penyakit ini adalah penyakit zoonosis, yang berarti ditularkan dari hewan ke manusia. Meski begitu, penyakit ini juga dapat menyebar dari manusia ke manusia.

    Gejala Mpox umumnya berupa demam, sakit kepala hebat, nyeri otot, sakit punggung, lemas, pembengkakan kelenjar getah bening (di leher, ketiak atau selangkangan) dan ruam atau lesi kulit.

    Berdasar informasi dari artikel WHO, wabah Mpox sempat ditetapkan WHO sebagai Penyakit Darurat Kesehatan Global (PHEIC) pada tahun 2022 lalu. Seiring dengan melandainya kasus, pada Mei 2023, status tersebut dicabut. Pada 14 Agustus 2024, status PHEIC kembali diumumkan terkait Mpox, setelah terjadi peningkatan kasus dan kematian akibat mpox di negara-negara Afrika.

    Penyakit Mpox sebelumnya dinamakan cacar monyet. Belakangan, nama itu dihapus WHO karena terkesan rasis dan berbau stigma, sehingga resmi diganti menjadi Mpox pada tahun 2022 lalu.

    Soal kabar Mpox yang menyebar di Manado, Sulawesi Utara, Tirto mencoba melakukan penelusuran. Mula-mula kami mencoba mencari informasi soal klaim tersebut menggunakan mesin pencarian Google. Hasilnya tidak ditemukan adanya informasi yang mendukung klaim tersebut.

    Situs RSPU Prof Dr R.D Kandou Manado bahkan sudah mengeluarkan pernyataan kalau informasi tersebut adalah hoaks.

    "Berita tersebut adalah hoaks," tegas dr. Wiyono, Manager Tim Kerja Pelayanan Medik RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado dalam keterangan resmi rumah sakit, Kamis (12/9/2024).

    Dokter Yono, sapaan akrab Wiyono, menjelaskan, ada seorang pasien perempuan berusia 61 tahun, yang masuk rumah sakit akibat kelainan kulit. Pasien tersebut telah melalui prosedur pemeriksaan dan langkah pencegahan Mpox.

    "Pasien tersebut kami lakukan dengan prosedur Mpox yaitu pemeriksaan laboratorium dan swab atau hapusan tenggorok, apusan nasofaring, apusan lesi, dan hapusan anus. Ilmu kulit menyimpulkan bahwa pasien tersebut didiagnosis herpes atau biasa disebut dengan muntah ular," jelas dr Yono.

    Dia menegaskan kembali kalau di RSUP Kandou, Manado belum ada pasien dengan kasus Mpox. dr Yono juga mengimbau "Kami mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang tidak benar dan dapat menimbulkan kepanikan," tambahnya.

    Pihak rumah sakit juga mengharapkan masyarakat untuk tetap tenang dan waspada serta mengikuti protokol kesehatan, yang dianjurkan untuk mencegah penyebaran penyakit menular.

    Tirto juga menemukan pemberitaan dari TVRI Sulawesi Utara yang mendukung pernyataan dr. Yono. Dinas Kesehatan Sulawesi Utara (P2P) dan Dinas Kesehatan Manado menegaskan kalau tidak ada pasien yang dicurigai Mpox di Sulawesi Utara hingga 12 September 2024.

    Kami juga sempat melihat gambar yang disertakan dalam tangkapan layar unggahan. Terlihat ada dua gambar dalam dua tangkapan layar tersebut. Gambar pertama yang menunjukkan seorang perempuan dengan lesi di badannya. Sementara gambar kedua menunjukkan seorang pria dengan lesi menonjol di wajahnya.

    Kedua foto tersebut telah beredar di media sosial sebelumnya dalam unggahan-unggahan yang terbukti hoaks. Foto pertama terkait kasus Mpox di Bali, gambar tersebut tidak terbukti terkait dengan klaim. Sama halnya dengan gambar kedua, foto pria dengan bintik di sekujur wajah dan tubuhnya tersebut, sempat dinarasikan sebagai pria Pj Bupati Brebes yang terjangkit Mpox. Informasi ini, berdasarkan penelusuran Tirto, terbukti sebagai hoaks.

    Hasil Cek Fakta

    Kesimpulan

    Hasil pemeriksaan fakta menunjukkan, klaim virus Mpox sudah masuk Manado bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

    Pihak RSUP Kandou, Manado, Dinas Kesehatan Sulawesi Utara, dan Dinas Kesehatan Manado menegaskan tidak ada pasien dengan diagnosis Mpox di wilayah tersebut. Pasien yang dicurigai menderita Mpox, setelah melalui pemeriksaan, ternyata menderita penyakit herpes.

    Rujukan

  • (GFD-2024-22667) Timnas Bahrain mundur dari Piala Dunia 2026 karena takut melawan Timnas Indonesia, benarkah?

    Sumber:
    Tanggal publish: 17/09/2024

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan video di YouTube menarasikan Timnas Bahrain mundur dari Piala Dunia 2026 karena takut melawan Timnas Indonesia pada 10 Oktober mendatang.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “HEBOH TAKUT LAWAN SKUAD TIMNAS INDONESIA, PELATIH BAHRAIN PILIH MUNDUR DARI PIALA DUNIA 2026”

    Namun, benarkah pernyataan tersebut?

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, narasi dalam video tersebut serupa dengan artikel TV One yang berjudul “Media Bahrain Blak-blakan Sebut Negarannya Takkan Mudah Melawan Timnas Indonesia, 'King Indo' Ditakuti karena Hal Ini”.

    Dalam artikel tersebut, dinarasikan Media Bahrain, Al Watan News menyoroti pertahanan Timnas Bahrain yang rapuh ketika dibantai Jepang sebelum menjamu Timnas Indonesia.

    Al Watan News pun mengingatkan pelatih Timnas Bahrain, Dragan Talajic agar mengevaluasi anak asuhnya dan komposisi pemain The Maroons sebelum bersua Timnas Indonesia.

    Dengan demikian, tidak ada narasi Timnas Bahrain mundur dari Piala Dunia 2026 karena takut melawan Timnas Indonesia.

    Klaim: Timnas Bahrain mundur dari Piala Dunia 2026 karena takut melawan Timnas Indonesia

    Rating: Disinformasi

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: Indriani

    Copyright © ANTARA 2024

    Rujukan

  • (GFD-2024-22666) [HOAKS] Bantuan Dana Rp 175 Juta untuk Pekerja Migran dari Kemenkes-BNP2TKI

    Sumber:
    Tanggal publish: 13/09/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar informasi di media sosial yang mengeklaim ada bantuan dana Rp 175 juta untuk pekerja migran mengatasnamakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan BNP2TKI.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, informasi tersebut hoaks.

    Informasi adanya bantuan dana Rp 175 juta untuk pekerja migran mengatasnamakan Kemenkes dan BNP2TKI dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini, pada Jumat (13/9/2024).

    Berikut narasi yang dibagikan:

    Assalamu Alaikum Wr Wb,

    Sehubungan Dangan Adanya Keluhan Kami Terima Dari TKI/TKW Di Luar Negeri Bahwa Mereka Banyak Gagal Di Negeri Tetangga, Kami Dari "BP2MI" Memberikan Dana Bantuan Khususnya Seluruh Warga Negara INDONESIA Yang Bekerja Di Luar Negeri Tanpa Terkecuali.

    Bagi Yang Belum Menerima Dana Bantuan Sosial, Diwajibkan Untuk Menghubungi Kami Secepatnya Supaya Segera Kami Cairkan.

    Dana Bantuan Sosial Resmi Diberikan Kepada Seluruh TKI Sebesar Rp.175.000.000,00 Setiap Orang, Dari Kementerian Kesehatan Republik INDONESIA.

    Untuk Info Penerimaan Dana Bantuan Sosial Hubungi Layanan Kami. Untuk Melaporkan Identitas Lengkapnya Sebagai TKI Yang Bekerja Di Luar Negeri. Messenger

    Semoga Dana Bantuan Kami Berikan Bisa Menjadi Berkah, Dan Bisa Di Jadikan Sebagai Modal Usaha. Semoga Berkah & Bermanfaat

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com menghubungi Kemenkes untuk mengonfirmasi kebenaran informasi bantuan dana tersebut.

    Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril membantah informasi itu dan menyebutnya hoaks.

    "Ini hoaks," kata Syahril saat dihubungi Kompas.com, Jumat (13/9/2024).

    Selain itu, saat ini tidak ada lembaga pemerintah yang bernama BNP2TKI.

    Sebelumnya memang ada lembaga pemerintah non kementerian bernama Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia atau BNP2TKI. Akan tetapi, lembaga itu sudah berganti nama sejak 2019.

    Melalui Peraturan Presiden Nomor 90 Tahun 2019, lembaga itu kini berganti nama menjadi Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia atau BP2MI.

    Di media sosial begitu banyak konten yang mengeklaim adanya bantuan dana dan mencatut lembaga negara atau lembaga pemerintahan.

    Jangan percaya dengan iming-iming hadiah yang beredar di media sosial, apalagi yang sumber informasinya tidak jelas. Selalu waspada, dan cek faktanya sebelum bertindak.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, informasi bantuan dana Rp 175 juta untuk pekerja migran mengatasnamakan Kemenkes adalah hoaks.

    Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril membantah informasi itu dan menyebutnya hoaks. Saat ini juga tidak ada lembaga negara bernama BNP2TKI dan telah berganti nama menjadi BP2MI.

    Rujukan

  • (GFD-2024-22665) [KLARIFIKASI] Belum Ada Kasus Mpox di Ambon

    Sumber:
    Tanggal publish: 13/09/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Tersiar kabar bahwa wabah cacar monyet atau monkeypox (Mpox) telah menyebar di Kota Ambon, Maluku.

    Seorang pasien Mpox, dikabarkan telah dirawat di Rumah Sakit (RS) Siloam Ambon.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, informasi itu tidak benar atau hoaks.

    Informasi mengenai kasus Mpox di Ambon disebarkan oleh akun Facebook ini pada Selasa (10/9/2024). Arsipnya dapat dilihat di sini.

    Berikut narasi yang ditulis:

    Pasien Cacar Monyet sudah ada di Kota Ambon, saat ini dirawat di Siloam. Jadi semua jaga kesehatan tamang¹ Usahakan selalu bawa Antis dan cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh pasien

    Hasil Cek Fakta

    Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ambon memastikan informasi mengenai pasien Mpox tidak benar.

    "Untuk kasus monkeypox di Kota Ambon belum ditemukan, sehingga masyarakat di Kota Ambon tidak dibuat resah dan heboh dengan monkeypox," kata Kepala Dinkes Kota Ambon, Wendy Pelupessy pada Selasa (10/9/2024) dikutip dari situs web Pemkot Ambon.

    Wendy mengatakan, memang ada pasien dari Kabupaten Seram Bagian Barat yang memeriksakan gejala penyakit kulit.

    Namun, belum dapat dipastikan apakah ia menderita mpox karena baru dapat diketahui melalui pemeriksaan laboratorium.

    Ketika pihak rumah sakit meminta pasien untuk ke laboratorium Balai Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BLTK) Ambon, pasien itu sudah pergi ke Jakarta.

    Sementara, RS Siloam Ambon menyatakan, kabar mengenai pasien Mpox tidak benar.

    "Kabar yang beredar, ada pasien dirawat di RS Siloam itu tidak benar," kata Direktur Siloam Hospital Ambon Paulus Triani Hadiwijaya, dilansir Kompas.com.

    "Saya sudah melihat isu dan foto yang beredar di WhatsApp grup dan kami pastikan itu hoaks," ucapnya.

    Sejauh ini, sudah ada 88 kasus konfirmasi Mpox di Indonesia, sejak pertama kali dilaporkan pada 2022.

    Wabah tersebut menyebar di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kepulauan Riau, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Berdasarkan laporan perkembangan situasi penyakit infeksi emerging terakhir, periode 25-31 Agustus 2024, tidak terdapat penambahan kasus konfirmasi Mpox.

    Kesimpulan

    Dinkes Kota Ambon memastikan, informasi mengenai pasien Mpox tidak benar. RS Siloam Ambon menyatakan, tidak ada pasien Mpox yang dirawat di instansi tersebut.

    Berdasarkan laporan Kemenkes periode 25-31 Agustus 2024, wabah Mpox belum masuk ke Ambon, Maluku.

    Rujukan