“Sudah pencitraan sedemikian rupa naik mobil biasa, eeh ditolak mentah-mentah oleh panitia. Tenggelam bener dah pamornya”.
“Jokowi kaget saat melihat sambutan umat Katolik dan umat lainnya yang begitu luar biasa atas kedatangan Paus di Jakarta. Lalu, dia berniat mengais simpati dan ingin menunggangi momen sakral ini. Jokowi memaksa panitia dan tim Paus untuk mengizinkannya mengikuti acara suci tersebut. Rupanya ia ingin juga ikut melambaikan tangan ke lebih dari 90.000 umat Katolik di Stadion Gelora Bung Karno. Lalu dengan sigap keuskupan Jakarta mencoba menolak keinginan Jokowi secara halus. Debat sengit terjadi antara tim kepresidenan dan juga panitia. Akhirnya dicapai kesepakatan dan komprominya adalah Jokowi akan datang untuk sekadar meninjau persiapan. Tapi, ia meminta dengan sangat dan harus disiarkan di jumbotron super besar yang ada di lokasi acara di GBK. Wartawan yang mengetahui ini lantas saja menggelengkan kepala. Memalukan”.
(GFD-2024-22660) [SALAH] Jokowi Berdebat Sengit dengan Keuskupan Jakarta untuk Dilibatkan dalam Misa Akbar Paus Fransiskus di GBK
Sumber: TwitterTanggal publish: 17/09/2024
Berita
Hasil Cek Fakta
Akun Twitter @lolina_321lagi mengunggah video yang menjelaskan bahwa Jokowi memaksa panitia kedatangan Paus Fransiskus untuk ikut penyambutan Paus di GBK. Tidak hanya itu, di video tersebut juga dijelaskan bahwa Jokowi memaksa untuk disiarkan di jumbotron besar di GBK, karena ingin mengais simpati dan menunggangi momen sakral ini. Klaimnya, tim kepresidenan dan keuskupan Jakarta berdebat sengit supaya Jokowi tetap menjadi pusat perhatian dalam acara penyambutan Paus di GBK. Cuitan dan video yang diunggah pada 5 September itu telah disukai 4,400 orang, dikutip dan dibagikan ulang 1,300 kali, serta telah dilihat 851,000 kali.
Setelah dilakukan pencarian atas klaim pemaksaan Jokowi untuk datang ke GBK, tidak ditemukan berita resmi bahkan kolom opini dari media mengenai kejadian ini. Sebaliknya, Kardinal Indonesia sekaligus Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, justru berterima kasih atas sambutan hangat Jokowi. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers di Gereja Katedral Jakarta 7 September lalu. Ungkapan Suharyo tersebut dikutip oleh Kompas dan berbunyi sebagai berikut:
“Acara itu sungguh-sungguh sangat istimewa, dan yang lebih istimewa lagi, yang sangat mengharukan bagi Paus, adalah ketika Bapak Presiden menyambutnya saat beliau tiba di Stadion GBK. Ini sungguh tak terduga”.
Selain itu, media KATOLIKANA dalam artikelnya yang berjudul “Kardinal Suharyo: Paus Terharu dengan Sambutan Presiden Jokowi” juga membahas bagaimana semua pihak keuskupan Jakarta berterima kasih dan sangat terharu dengan sambutan Jokowi dan segenap pemerintah Indonesia dalam rangkaian acara kedatangan Paus dari 3 hingga 6 September.
Terlebih lagi, penyambutan oleh Presiden RI sudah menjadi rangkaian acara yang dilakukan jika Indonesia kedatangan kunjungan resmi dari tamu penting, seperti saat kedatangan Raja dan Ratu Belanda pada Maret 2020 dan Presiden Argentina pada 26 Juni 2019.
Dengan demikian, informasi yang disebarkan akun Twitter @lolina_321lagi merupakan konten yang menyesatkan.
Setelah dilakukan pencarian atas klaim pemaksaan Jokowi untuk datang ke GBK, tidak ditemukan berita resmi bahkan kolom opini dari media mengenai kejadian ini. Sebaliknya, Kardinal Indonesia sekaligus Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, justru berterima kasih atas sambutan hangat Jokowi. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers di Gereja Katedral Jakarta 7 September lalu. Ungkapan Suharyo tersebut dikutip oleh Kompas dan berbunyi sebagai berikut:
“Acara itu sungguh-sungguh sangat istimewa, dan yang lebih istimewa lagi, yang sangat mengharukan bagi Paus, adalah ketika Bapak Presiden menyambutnya saat beliau tiba di Stadion GBK. Ini sungguh tak terduga”.
Selain itu, media KATOLIKANA dalam artikelnya yang berjudul “Kardinal Suharyo: Paus Terharu dengan Sambutan Presiden Jokowi” juga membahas bagaimana semua pihak keuskupan Jakarta berterima kasih dan sangat terharu dengan sambutan Jokowi dan segenap pemerintah Indonesia dalam rangkaian acara kedatangan Paus dari 3 hingga 6 September.
Terlebih lagi, penyambutan oleh Presiden RI sudah menjadi rangkaian acara yang dilakukan jika Indonesia kedatangan kunjungan resmi dari tamu penting, seperti saat kedatangan Raja dan Ratu Belanda pada Maret 2020 dan Presiden Argentina pada 26 Juni 2019.
Dengan demikian, informasi yang disebarkan akun Twitter @lolina_321lagi merupakan konten yang menyesatkan.
Kesimpulan
Konten yang menyesatkan. Pihak keuskupan Jakarta justru menyambut keterlibatan Jokowi di GBK dengan respon yang sangat positif. Selain itu, tidak ada sumber resmi dan kredibel yang mengonfirmasi perdebatan Jokowi dengan keuskupan Jakarta.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2024/09/17/salah-jokowi-berdebat-sengit-dengan-keuskupan-jakarta-untuk-dilibatkan-dalam-misa-akbar-paus-fransiskus-di-gbk/
- https://nasional.kompas.com/read/2024/09/07/20480371/uskup-agung-jakarta-paus-fransiskus-tersentuh-sambutan-presiden-jokowi-di
- https://www.katolikana.com/2024/09/08/kardinal-apresiasi-kunjungan-apostolik-paus-berjalan-lancar/
- https://www.youtube.com/watch?v=bCkzaHl9DCw
- https://www.youtube.com/watch?v=xXXqtQAhbOg
(GFD-2024-22659) [KLARIFIKASI] Atlet Agnes Sirait Tidak Dipaksa Pakai Jilbab di PON Aceh-Sumut 2024
Sumber:Tanggal publish: 13/09/2024
Berita
KOMPAS.com - Atlet Muay Thai Agnes Sirait, diklaim dipaksa memakai jilbab saat bertanding di Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara (Sumut) 2024.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi itu keliru dan perlu diluruskan informasinya.
Informasi Agnes Sirait dipaksa pakai jilbab disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini.
Berikut penggalan narasi yang ditulis salah satu akun pada Sabtu (7/9/2024):
Panitia PON Aceh Tidak Profesional
Agnes Sirait, atlit Muaythai asal Sumut kecewa berat karena sebelum pertandingan disuruh panitia mencari jilbab sebelum pertandingan. Agnes dan pelatih harus mencari jilbab agar bisa bertanding.Tim Muaythai Sumut kaget.
Agnes Sirait asal Desa Lumban Nabolon, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba itu tidak terbiasa pakai jilbab. Agnes Sirait mahasiswi Olahraga Unimed itu juga maham peraturan.
Jika harus pakai jilbab di Aceh, kenapa tidak dikasih tau sejak awal? Bagaimana sudah siap tanding di ring harus cari jilbab, cara memakai jilbab tidak terbiasa. Bukankah pertandingan harus konsentrasi penuh?
akun Facebook Tangkapan layar konten hoaks di sebuah akun Facebook, Sabtu (7/9/2024), mengenai Agnes Sirait dipaksa pakai jilbab saat mengikuti PON Aceh-Sumut 2024.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi itu keliru dan perlu diluruskan informasinya.
Informasi Agnes Sirait dipaksa pakai jilbab disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini.
Berikut penggalan narasi yang ditulis salah satu akun pada Sabtu (7/9/2024):
Panitia PON Aceh Tidak Profesional
Agnes Sirait, atlit Muaythai asal Sumut kecewa berat karena sebelum pertandingan disuruh panitia mencari jilbab sebelum pertandingan. Agnes dan pelatih harus mencari jilbab agar bisa bertanding.Tim Muaythai Sumut kaget.
Agnes Sirait asal Desa Lumban Nabolon, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba itu tidak terbiasa pakai jilbab. Agnes Sirait mahasiswi Olahraga Unimed itu juga maham peraturan.
Jika harus pakai jilbab di Aceh, kenapa tidak dikasih tau sejak awal? Bagaimana sudah siap tanding di ring harus cari jilbab, cara memakai jilbab tidak terbiasa. Bukankah pertandingan harus konsentrasi penuh?
akun Facebook Tangkapan layar konten hoaks di sebuah akun Facebook, Sabtu (7/9/2024), mengenai Agnes Sirait dipaksa pakai jilbab saat mengikuti PON Aceh-Sumut 2024.
Hasil Cek Fakta
Agnes Sirait merupakan atlet Muay Thai asal Sumut. Video pertandingannya viral di media sosial karena memakai penutup kepala putih saat bertanding. Misalnya seperti diunggah oleh akun Facebook ini.
Penutup kepala itu bukanlah jilbab, melainkan pelindung kepala. Rambut di belakang kepala Agnes masih terlihat.
Ketua Panitia Penyelenggara Pertandingan Cabang Olahraga Muaythai di PON Aceh-Sumut 2024, Dahlan Jamaluddin memastikan tidak ada diskriminasi dalam perhelatan olahraga tersebut.
"Saya ingin memastikan tidak ada bentuk diskriminasi apapun karena olahraga memiliki ketentuan sendiri secara teknis dan kita tidak mengintervensi itu. Hampir semua daerah (atlet putrinya) tidak menggunakan hijab karena itu memang tidak diatur," kata Dahlan pada Sabtu (7/9/2024) dikutip dari Tempo.
Aturan Muay Thai mengharuskan atlet memakai base layer dari kepala hingga kaki.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pengprov Muaythai Aceh tersebut menjelaskan, base layer berbentuk kain ketat.
"Kontingen dari Aceh juga memakai penutup yang seperti legging itu (base layer) untuk menutupi tangan, kaki, sampai kepalanya," kata dia.
Penutup kepala itu bukanlah jilbab, melainkan pelindung kepala. Rambut di belakang kepala Agnes masih terlihat.
Ketua Panitia Penyelenggara Pertandingan Cabang Olahraga Muaythai di PON Aceh-Sumut 2024, Dahlan Jamaluddin memastikan tidak ada diskriminasi dalam perhelatan olahraga tersebut.
"Saya ingin memastikan tidak ada bentuk diskriminasi apapun karena olahraga memiliki ketentuan sendiri secara teknis dan kita tidak mengintervensi itu. Hampir semua daerah (atlet putrinya) tidak menggunakan hijab karena itu memang tidak diatur," kata Dahlan pada Sabtu (7/9/2024) dikutip dari Tempo.
Aturan Muay Thai mengharuskan atlet memakai base layer dari kepala hingga kaki.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pengprov Muaythai Aceh tersebut menjelaskan, base layer berbentuk kain ketat.
"Kontingen dari Aceh juga memakai penutup yang seperti legging itu (base layer) untuk menutupi tangan, kaki, sampai kepalanya," kata dia.
Kesimpulan
Narasi mengenai Agnes Sirait dipaksa pakai jilbab saat mengikuti PON Aceh-Sumut 2024 merupakan informasi keliru.
Faktanya, ia memakai base layer di kepala, bukan jilbab. Rambut masih terlihat di belakang kepala Agnes.
Panitia Penyelenggara Pertandingan Cabang Olahraga Muaythai di PON Aceh-Sumut 2024 memastikan tidak ada diskriminasi dalam perhelatan olahraga tersebut.
Faktanya, ia memakai base layer di kepala, bukan jilbab. Rambut masih terlihat di belakang kepala Agnes.
Panitia Penyelenggara Pertandingan Cabang Olahraga Muaythai di PON Aceh-Sumut 2024 memastikan tidak ada diskriminasi dalam perhelatan olahraga tersebut.
Rujukan
- https://www.facebook.com/adhy.hutasoit.7/posts/pfbid0njozE7fUTRxmAHrEH4Eg9cCQHv4oYfYhAq5RTT4PVJJ1jHEwbnK1vFZKoqTi6qpdl
- https://www.facebook.com/reel/524878440137308
- https://www.facebook.com/groups/219479090285038/posts/872779204955020/
- https://www.facebook.com/100077336476614/videos/544147701610633
- https://sport.tempo.co/read/1913570/panitia-penyelenggara-pertandingan-muaythai-pon-2024-bantah-ada-diskriminasi-atlet-putri-wajib-pakai-hijab
- https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D
(GFD-2024-22658) [KLARIFIKASI] Agenda Imunisasi 2030 Dipahami Secara Keliru
Sumber:Tanggal publish: 13/09/2024
Berita
KOMPAS.com - Beredar unggahan di media sosial berupa poster yang bersumber dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai Agenda Imunisasi 2030.
Poster itu disebarkan dalam bentuk video. Narasi dalam video menyebutkan, Agenda Imunisasi 2030 akan mengurangi 50 persen anak yang tidak menerima semua vaksin.
Target itu dikaitkan dengan agenda tatanan dunia baru yang mewajibkan banyak vaksinasi.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, agenda tersebut dipahami secara keliru.
Agenda Imunisasi 2030 dikaitkan dengan tatanan dunia baru yang mewajibkan banyak vaksinasi, disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini.
Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada 3 September 2024:
AGENDA SUDAH TERPAMPANG NYATAFOKUS PADA POIN KE 3
BISMILLAH, KITA AKAN BERPERANG HEBAT DENGAN AKAL SEHAT...===========
Pada tahun 2030, Agenda Imunisasi bertujuan untuk:
Poster itu disebarkan dalam bentuk video. Narasi dalam video menyebutkan, Agenda Imunisasi 2030 akan mengurangi 50 persen anak yang tidak menerima semua vaksin.
Target itu dikaitkan dengan agenda tatanan dunia baru yang mewajibkan banyak vaksinasi.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, agenda tersebut dipahami secara keliru.
Agenda Imunisasi 2030 dikaitkan dengan tatanan dunia baru yang mewajibkan banyak vaksinasi, disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini.
Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada 3 September 2024:
AGENDA SUDAH TERPAMPANG NYATAFOKUS PADA POIN KE 3
BISMILLAH, KITA AKAN BERPERANG HEBAT DENGAN AKAL SEHAT...===========
Pada tahun 2030, Agenda Imunisasi bertujuan untuk:
Hasil Cek Fakta
Poster yang beredar memang dibuat oleh WHO. Seperti yang diunggah di sini.
Poster berisi terget Agenda Imunisasi 2030, meliputi:
Agenda Imunisasi 2030 atau IA2030 merupakan strategi dan inisiasi global untuk mengkampanyekan vaksinasi.
WHO diminta untuk memimpin IA2030, sementara pemangku kepentingan bersama-sama menciptakan dan mengembangkan vaksin.
IA2030 dirancang untuk kepentingan masing-masing negara, terlepas dari tingkat pendapatan atau geografi.
Strategi ini bersifat rekomendasi dan tidak mengikat, sehingga penerapannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara.
Narasi yang beredar menggambarkan, seolah 500 vaksin baru wajib diberikan.
Poster tersebut menggarisbawahi poin pada poster tatanan dunia baru, mengenai "kewajiban banyak vaksinasi" oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Agenda Tim Cek Fakta Kompas.com telah menelusuri kebenaran narasi dalam poster. PBB membantah seluruh poin agenda yang beredar di media sosial.
Poster berisi terget Agenda Imunisasi 2030, meliputi:
Agenda Imunisasi 2030 atau IA2030 merupakan strategi dan inisiasi global untuk mengkampanyekan vaksinasi.
WHO diminta untuk memimpin IA2030, sementara pemangku kepentingan bersama-sama menciptakan dan mengembangkan vaksin.
IA2030 dirancang untuk kepentingan masing-masing negara, terlepas dari tingkat pendapatan atau geografi.
Strategi ini bersifat rekomendasi dan tidak mengikat, sehingga penerapannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara.
Narasi yang beredar menggambarkan, seolah 500 vaksin baru wajib diberikan.
Poster tersebut menggarisbawahi poin pada poster tatanan dunia baru, mengenai "kewajiban banyak vaksinasi" oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Agenda Tim Cek Fakta Kompas.com telah menelusuri kebenaran narasi dalam poster. PBB membantah seluruh poin agenda yang beredar di media sosial.
Kesimpulan
Agenda Imunisasi 2030 dipahami secara keliru. Agenda tersebut tidak bersifat mengikat, melainkan rekomendasi dari inisiasi global.
Agenda Imunisasi 2030 dikaitkan dengan konspirasi mengenai agenda tatanan dunia, yang telah dibantah oleh PBB sebelumnya.
Agenda Imunisasi 2030 dikaitkan dengan konspirasi mengenai agenda tatanan dunia, yang telah dibantah oleh PBB sebelumnya.
Rujukan
- https://www.facebook.com/Terracotta.yy503/videos/7967542953372283
- https://www.facebook.com/100074112581984/videos/7715258261913438/
- https://www.facebook.com/reel/877058240818292
- https://www.who.int/images/default-source/departments/immunization-ivb/immunization-agenda-2030/ia2030-targets-ig.jpg?sfvrsn=ea325e97_5
- https://cdn.who.int/media/docs/default-source/immunization/strategy/ia2030/ia2030_frameworkforactionv04.pdf?sfvrsn=e5374082_1&download=true
- https://cdn.who.int/media/docs/default-source/immunization/strategy/ia2030/ia2030-draft-4-wha_b8850379-1fce-4847-bfd1-5d2c9d9e32f8.pdf?sfvrsn=5389656e_69&download=true
- https://www.kompas.com/cekfakta/read/2024/03/04/173600982/-hoaks-agenda-pbb-soal-tata-dunia-baru-dari-vaksinasi-hingga-depopulasi?page=all
- https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D
(GFD-2024-22657) Cek Fakta: Hoaks Kemenkes Bagikan Bantuan Rp 175 Juta Bagi Pekerja Migran
Sumber:Tanggal publish: 17/09/2024
Berita
Liputan6.com, Jakarta - Beredar di media sosial postingan yang mengklaim Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membagikan bantuan uang Rp 175 juta bagi pekerja migran. Postingan itu beredar sejak awal pekan ini.
Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 16 September 2024.
Berikut isi postingannya:
"Assalamu Alaikum Wr Wb, Sehubungan Dangan Adanya Keluhan Kami Terima Dari TKI/TKW Di Luar Negeri Bahwa Mereka Banyak Gagal Di Negeri Tetangga, Kami Dari "BP2MI" Memberikan Dana Bantuan Khususnya Seluruh Warga Negara INDONESIA Yang Bekerja Di Luar Negeri Tanpa Terkecuali.
Bagi Yang Belum Menerima Dana Bantuan Sosial, Diwajibkan Untuk Menghubungi Kami Secepatnya Supaya Segera Kami Cairkan.
Dana Bantuan Sosial Resmi Diberikan Kepada Seluruh TKI Sebesar Rp.175.000.000,00
Setiap Orang, Dari Kementerian Kesehatan Republik INDONESIA.Untuk Info Penerimaan Dana Bantuan Sosial Hubungi Layanan Kami.
Untuk Melaporkan Identitas Lengkapnya Sebagai TKI Yang Bekerja Di Luar Negeri. Messenger
Semoga Dana Bantuan Kami Berikan Bisa Menjadi Berkah, Dan Bisa Di Jadikan Sebagai Modal Usaha. Semoga Berkah & Bermanfaat"
Lalu benarkah postingan yang mengklaim Kementerian Kesehatan membagikan bantuan uang Rp 175 juta bagi pekerja migran?
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dengan melihat akun resmi Kemenkes di Instagram @kemenkes_ri yang sudah bercentang biru atau terverifikasi.Di sana terdapat bantahan terkait klaim tersebut.
Bantahan itu diunggah pada 16 September 2024. Berikut isinya:
"Hati-hati dengan akun palsu. Informasi yang mengatasnamakan Kementerian Kesehatan terkait bantuan Rp 175 juta untuk pekerja adalah hoaks. Informasi resmi Kementerian Kesehatan RI dapat diakses pada website dan akun media sosial resmi Kemenkes RI."
Selain itu kami juga mengunjungi akun Instagram Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) @bp2mi_ri. Mereka juga meminta para pekerja mewaspadai akun palsu menjanjikan bantuan tertentu.
Hal ini pernah diunggah dalam postingan 18 Juli 2024 lalu.
"#SobatMigran Saat ini tengah beredar penipuan dengan iming-iming dana bantuan sejumlah uang bagi Pekerja Migran Indonesia mengatasnamakan BP2MI.
#SobatMigran harap berhati-hati agar tidak terjerat tipu daya dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. BP2MI atau pejabat BP2MI tidak pernah menginstruksikan untuk mengirim data secara pribadi, maupun menawarkan bantuan sejumlah uang dengan cara tersebut.
Sampaikan kabar ini kepada #SobatMigran yang lain ya."
Selain itu dalam postingan Facebook terdapat juga permintaan untuk menghubungi kontak pada akun tersebut. Ini merupakan modus pencurian data ataupun terhubung dengan pinjaman online ilegal.
Kesimpulan
Postingan yang mengklaim Kementerian Kesehatan membagikan bantuan uang Rp 175 juta bagi pekerja migran adalah hoaks.
Rujukan
Halaman: 930/5962