• (GFD-2025-28513) Hoaks Dua Orang Polisi Tewas Saat Amankan Demonstrasi di Pati

    Sumber:
    Tanggal publish: 19/08/2025

    Berita

    tirto.id - Ribuan masyarakat Kabupaten Pati turun ke jalan melakukan unjuk rasa penolakan terhadap keputusan Bupati Sudewo yang menaikkan tarif PBB Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen pada Rabu (13/8/2025).

    ADVERTISEMENT

    Dilaporkan pula, aksi protes yang awalnya damai berubah menjadi bentrokan antara demonstran dan aparat ketika Bupati Sudewo hadir di tengah demonstran. Massa melempar botol ke arah Sudewo, dan kericuhan pun pecah. Dalam benturan tersebut, sebuah mobil milik provost dibakar, dan polisi terpaksa membubarkan massa menggunakan gas air mata serta water cannon.

    let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

    Di tengah maraknya pemberitaan mengenai demonstrasi itu, beredar sebuah narasi di media sosial yang mengeklaim adanya korban jiwa akibat aksi unjuk rasa di Pati tersebut. Disebutkan bahwa ada dua anggota kepolisian dikabarkan tewas saat bertugas mengamankan demonstrasi di Pati.
    #inline3 img{margin: 20px auto;max-width:300px !important;}

    let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

    #gpt-inline3-passback{text-align:center;}

    Narasi itu diunggah oleh akun Facebook bernama “Kaka Jhon”(arsip) pada Rabu (13/8/2025) melalui sebuah unggahan video dan keterangan teks. Video tersebut menampilkan situasi unjuk rasa yang memperlihatkan beberapa orang anggota polisi tengah melarikan diri dari amukan massa yang melemparinya dengan sejumlah benda.
    #inline4 img{max-width:300px !important;margin:20px auto;}

    let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

    #gpt-inline4-passback{text-align:center;}

    “Dua orang polisi Di Kabarkan tewas saat demo bupati Pati,” bunyi keterangan takarir unggahan tersebut.

    Periksa Fakta Polisi TEwas Demo Pati. foto/Hotline periksa fakta tirto

    ADVERTISEMENT

    Sehari setelah narasi itu beredar, tepatnya pada Kamis (14/8/2025) beberapa unggahan di Facebook yaitu “Hendra Fengky”,”Eddy” dan “Mochamad Zaka” menyebarkan informasi soal nama salah satu anggota polisi yang diklaim meninggal saat mengamankan demo Pati tersebut yaitu bernama Teguh Sulistyo.

    “Telah berpulang ke rahmatullah, *Aiptu Teguh Sulistyo*, anggota Polres Pati, dalam tugas mulia menjaga keamanan saat pengamanan unjuk rasa. Beliau gugur sebagai bentuk pengabdian tertinggi kepada bangsa dan negara,” tulis keterangan salah satu unggahan.

    Sepanjang Kamis (14/8/2025) hingga Selasa (19/8/2025) atau selama lima hari tersebar di Facebook, salah satu unggahan tersebut telah memperoleh 16 reaksi, empat komentar dan 636 tayangan.

    Lantas, bagaimana kebenaran informasi tersebut? Benarkah ada dua anggota kepolisian tewas saat bertugas mengamankan demonstrasi di Pati?

    Hasil Cek Fakta

    Tirto menelusuri konteks dan asal usul video yang tersebar tersebut menggunakan reverse image search dan pencarian melalui kata kunci terkait di platform YouTube. Hasilnya, kami menemukan video identik diunggah di kanal youtube Merdeka.com dan Tribunnews.

    Video tersebut memang memperlihatkan kondisi saat demo di Pati, terlihat anggota polisi nampak berlari usai diserang para pendemo. Polisi tersebut, nampak sempat jatuh tersungkur, meski kemudian bisa menyelamatkan diri. Meski demikian, tidak ada keterangan sama sekali dalam video tersebut yang membenarkan ada anggota polisi tewas saat mengamankan demo tersebut.

    Tirto menelusuri klaim ini ke sejumlah pihak terkait seperti Polresta Pati, Polda Jawa Tengah dan Dinas Kesehatan Pati. Kapolresta Pati, Kombes Pol. Jaka Wahyudi, melalui akun Instagram resmi Polresta Pati, menegaskan bahwa kabar tersebut adalah hoaks. Ia memastikan tidak ada anggota kepolisian yang meninggal dunia dalam peristiwa demonstrasi tersebut.

    Lebih lanjut, terkait beredarnya nama-nama di media sosial yang diklaim sebagai anggota polisi yang tewas, yakni Aiptu Teguh Sulistyo dan Bripka Catur Puji Santoso, pihak Polresta Pati menjelaskan bahwa keduanya memang telah meninggal dunia, namun bukan akibat bentrokan dalam aksi demonstrasi. Keduanya wafat pada tahun 2024 lalu.

    “Beredar luas informasi di media sosial, bahwa ada dua personel Polri yang dikabarkan meninggal dunia. Setelah kami telusuri dan cek fakta di lapangan berita tersebut HOAX. Perlu kami sampaikan bahwa dua personel tersebut yakni Aipda Teguh Sulistiyo wafat pada tanggal 17 Mei 2024 dan Bripka Catur Puji Santoso telah wafat pada tanggal 2 Februari 2024. Saring Before Sharing,” tulis keterangan resmi Polresta Pati, Kamis (14/8/2025).

    Seperti yang dilaporkan Tirto, Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto, membantah kabar adanya korban meninggal dalam aksi ini. Berdasarkan informasi yang ia himpun, belum ada laporan korban meninggal.

    "Sampai sore hari ini hasil penelusuran kami, dari kepolisian nihil. Tidak ada korban yang meninggal dunia," kata Artanto, Rabu (13/8/2025) sore.

    Meski demikian, Artanto mengatakan puluhan orang termasuk sejumlah anggota kepolisian mengalami luka-luka dalam insiden demo ricuh mendesak lengserkan Sudewo, Bupati Pati. "Ada korban dari kedua belah pihak, baik dari anggota Polri maupun dari masyarakat, yaitu ada 34 orang saat ini sedang diobati dan dirawat di rumah sakit," kata Artanto, Rabu (13/8/2025) sore.

    Dari jumlah itu, polisi yang mengalami luka-luka sekitar tujuh orang. Selain masyarakat peserta demo, ada pula jurnalis yang mengalami luka. Artanto menyebut, para korban menderita luka berbeda-beda. Ada yang mengalami luka lebam, bocor kepala, kulit robek, hingga sesak nafas.

    Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mencatat ada 64 korban luka dalam aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Pati pada Rabu (13/8/2025).

    "Dari 64 korban luka tersebut, ada yang dirawat di RSUD RAA Soewondo, Klinik Marga Husada, Klinik Pratama PMI, RS Keluarga Sehat, dan perawatan di tempat," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Lucky Pratugas Nasrimo, di Pati, Rabu (13/8/2025) dilansir dari Antara.

    Untuk pasien yang dirawat di RSUD RAA Soewondo ada 40 orang, Klinik Marga Husada empat orang, Klinik Pratama PMI satu orang, RS Keluarga Sehat ada tujuh orang, dan perawatan di tempat ada 12 orang. Sebagian besar, kata dia, menjalani rawat jalan, sedangkan rawat inap enam orang, selebihnya rawat jalan dan ada yang observasi. Tidak ada korban meninggal hingga periksa fakta ini ditulis pada Selasa (19/8/2025).

    Kesimpulan

    Hasil penelusuran fakta menunjukkan bahwa klaim yang menyebut ada dua anggota kepolisian tewas saat bertugas mengamankan demonstrasi di Pati bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).

    Pihak terkait seperti Polresta Pati telah membantah kabar bahwa ada dua anggota kepolisian yang tewas saat mengamankan demonstrasi. Sementara itu, Dinas Kesehatan Pati juga telah memastikan bahwa tidak ada korban tewas dalam demonstrasi yang digelar pada Rabu (13/8/2025).

    Tidak ada korban meninggal di kerusuhan tersebut, hingga periksa fakta ini ditulis pada Selasa (19/8/2025).

    ==

    Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

    Rujukan

  • (GFD-2025-28512) [HOAKS] Penemuan Beha Raksasa di Hutan Kalimantan

    Sumber:
    Tanggal publish: 19/08/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Di media sosial, beredar narasi mengenai penemuan sebuah pakaian dalam perempuan atau beha raksasa ditemukan di pedalaman hutan di Kalimantan.

    Pengguna media sosial menyertakan sebuah foto beha raksasa berwarna putih yang kotor akibat terkubur di tanah.

    Sementara, di sekelilingnya terdapat alat berat dan warga menyaksikan temuan unik tersebut.

    Namun setelah ditelusuri Tim Cek Fakta Kompas.com, foto itu merupakan konten manipulatif.

    Foto penemuan beha raksasa di hutan Kalimantan disebarkan oleh Facebook ini, ini, ini, dan ini.

    Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada Minggu, 10 Agustus 2025:

    Penemuan pakaian dalam wanita berukuran raksasa di hutan Kalimanan.Bukti bawa manusia zaman dahulu berukuran raksasa.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com mengecek campur tangan artificial intelligence (AI) dari konten yang beredar.

    Salah satu tools yang mampu mendeteksi campur tangan AI adalah Hive Moderation.

    Hasil pengidentifikasian Hive Moderation menunjukkan, gambar penemuan beha raksasa di hutan Kalimantan memiliki probabilitas 99,9 persen dihasilkan AI.

    Sejauh ini, tidak ditemukan pemberitaan kredibel atas temuan tersebut.

    Adapun beha ditemukan sekitar abad ke-4 Masehi.

    Sebagaimana dilansir Vogue, beberapa penggunaan beha zaman dahulu ditemukan dalam lukisan dinding, termasuk mosaik Romawi di Villa Romana del Casale di Sisilia.

    Jejak pemakaian beha di zaman Romawi juga ditemukan melalui mozaik yang ditemukan di Kreta.

    Sementara, keberadaan manusia raksasa dan penemuan beha tampaknya memiliki jalur waktu yang berlainan.

    Adapun narasi mengenai manusia raksasa di zaman purba tidak sepenuhnya benar.

    Meski manusia purba lebih tinggi, tetapi evolusi di zaman modern juga menunjukkan perubahan.

    Dikutip dari Australian Museum, rata-rata tinggi laki-laki Eropa sekitar 40.000 tahun yang lalu yakni 183 cm.

    Rata-rata tinggi manusia di zaman dulu tidaklah luar biasa, sehingga dikategorikan sebagai raksasa.

    Adapun sekitar 10.000 tahun yang lalu tinggi rata-rata laki-laki Eropa yakni 162,5 cm dan 600 tahun lalu rata-rata yakni 165 cm.

    Namun, di zaman modern rata-ratanya yakni 175 cm. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan tinggi manusia dinamis dari masa ke masa.

    Kesimpulan

    Narasi penemuan beha raksasa di hutan Kalimantan merupakan hoaks. Gambar yang digunakan merupakan konten manipulatif berbasis AI.

    Manusia purba memang cenderung lebih tinggi, tetapi evolusi di zaman modern juga menunjukkan perubahan.

    Keberadaan manusia raksasa dan penemuan beha tampaknya memiliki jalur waktu yang berlainan, karena beha baru diketahui ada sekitar abad ke-4 Masehi.

    Rujukan

  • (GFD-2025-28511) [KLARIFIKASI] Balita di Cilacap Tewas Dianiaya Selingkuhan Ibunya, Bukan karena Utang

    Sumber:
    Tanggal publish: 18/08/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Balita berinisial AK (3) tewas mengenaskan akibat disiksa di sebuah bukit di wilayah Kedungreja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

    Di media sosial, beredar narasi yang mengeklaim seorang ibu menjadikan buah hatinya sendiri sebagai jaminan utang.

    Ketika tidak mampu membayar, rentenir menyiksa balita itu hingga tewas.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi itu keliru dan perlu diluruskan

    Informasi mengenai balita tewas disiksa rentenir karena jadi jaminan utang, disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, ini, ini, dan ini.

    Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada Sabtu (16/8/2025):

    BEGITU SULITNYA RAKYAT, KATANYA KEMISKINAN MENURUN INNALILLAHI WA INNA ILAIIHI ROJIUN...

    Wahai Pemerintah...ini Hadiah terindah 80th Kemerdekaan RI...dari Rakyatmu....

    Krn kebutuhan Ekonomi, seorang ibu menjaminkan balitanya ke Rentenir, krn tdk bisa bayar hutangnya, si Balita yg digunakan untuk jaminan tdb disiksa oleh Rentenir tsb. hingga meninggal dunia. Kejadiannya di Cilacap Jateng

    Hasil Cek Fakta

    Kepolisian Resor Kota (Polresta) Cilacap menetapkan dua tersangka atas kasus pengaiayaan dan pembunuhan AK.

    Sebagaimana diwartakan Kompas.com, kedua tersangka yakni FA (21), pria asal Aceh yang bekerja di koperasi simpan pinjam, serta RI (23), yang merupakan ibu kandung korban.

    Kasat Reskrim Polresta Cilacap, Kompol Guntar Arif Setyoko, menyatakan bahwa FA merupakan selingkuhan dari RI.

    Pelaku beralasan, penganiayaan itu merupakan "pelajaran" bagi anak.

    "Penganiayaan tersebut katanya untuk memberi pelajaran kepada korban," ungkap Guntar pada Senin (11/8/2025).

    FA menganiaya korban di sebuah bukit di wilayah Kedungreja sebanyak dua kali.

    Pertama dilakukan seminggu sebelum kematian korban, terakhir pada Kamis, 7 Agustus 2025 yang mengakibatkan kematian korban.

    Aksi kekerasan bahkan direkam oleh pelaku menggunakan ponsel.

    Diketahui, hubungan antara FA dan RI baru terjalin selama sekitar satu bulan, dan AK dianggap menjadi penghalang hubungan gelap tersebut.

    Korban disebut sering menunjukkan rasa tidak suka terhadap kehadiran FA di rumah.

    Sementara itu, ayah kandung korban diketahui sedang bekerja di Jakarta dan tidak mengetahui perselingkuhan istrinya.

    Video yang beredar juga menampilkan kerumunan warga yang tampak ricuh.

    Peristiwa dalam video merupakan luapan emosi warga ketika berlangsung rekonstruksi kasus dugaan pengaiayaan dan pembunuhan AK.

    Dikutip dari pemberitaan Kompas TV, warga sempat berupaya menyerang tersangka FA. Namun polisi segera mengamankan FA dan meninggalkan lokasi rekonstruksi.

    Kesimpulan

    Ada yang perlu diluruskan mengenai balita yang dianiaya hingga tewas di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

    Korban berinisial AK (3) disiksa sampai tewas oleh FA (21), pria asal Aceh yang bekerja di koperasi simpan pinjam, serta RI (23), yang merupakan ibu kandung korban. Keduanya menjalin hubungan perselingkuhan.

    Korban dianiaya bukan karena utang ibunya, melainkan dianggap sebagai penghalang dalam hubungan dua tersangka.

    Rujukan

  • (GFD-2025-28510) Cek Fakta: Tidak Benar Uang Pecahan Rp 250.000 yang Beredar di Medsos

    Sumber:
    Tanggal publish: 19/08/2025

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Beredar postingan di media sosial klaim gambar uang baru pecahan Rp 250.000. Informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada Senin 18 Agustus 2025.
    Unggahan tersebut tertulis:
    Wih uang baru pecahan 250rb 🥰
    4 lembar udah 1jt ..
    Kira2 bakal menghilang kayak pecahan 75rb gak ya 🤭
    Dalam gambar yang diunggah, terdapat uang pecahan Rp 250.000 dengan dominasi warna merah dan putih yang bertuliskan Bank Republik Nusantara.
    Terdapat gambar seorang pria pada satu sisi dan candi pada sisi lainnya. Selain itu, ada angka tahun 2025 pada uang tersebut.
    Benarkah klaim uang Rp 250.000 tersebut? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim pecahan Rp 250.000 dengan menghubungi Percetakan Uang Republik Indonesia (PERURI). Head of Corporate Secretary PERURI, Adi Sunardi menyampaikan, kabar tersebut tidak benar.
    "Hingga saat ini uang Rupiah pecahan terbaru yaitu Tahun Emisi 2022. Selain itu, uang rupiah resmi pasti bertuliskan Bank Indonesia selaku pihak resmi yang mengeluarkan uang rupiah, bukan Bank Republik Nusantara seperti gambar yang beredar di media sosial tersebut," kata Adi Sunardi kepada Liputan6.com, Selasa (19/8/2025).
    Adi mengatakan, meneruskan imbauan dari Bank Indonesia, masyarakat dapat mengecek informasi tentang uang pecahan rupiah yang masih berlaku melalui website resmi Bank Indonesia.

    Kesimpulan


    Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim uang baru pecahan Rp 250.000 tidak benar.
    Head of Corporate Secretary PERURI, Adi Sunardi menyampaikan uang rupiah resmi pasti bertuliskan Bank Indonesia selaku pihak resmi yang mengeluarkan uang rupiah, bukan Bank Republik Nusantara.