(GFD-2024-23794) Keliru, Klaim Video Menteri Luar Negeri Jerman Berkunjung ke Cina Tanpa Penyambutan
Sumber:Tanggal publish: 04/11/2024
Berita
Sebuah video pendek diunggah oleh akun media sosial ini [ arsip ] saat Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock turun dari pesawat di sebuah bandara. Tidak ada prosesi penyambutan terhadap Menlu di ujung tangga pesawat, hanya sejumlah fotografer yang berusaha mengabadikan momen tersebut.
Narasi yang disematkan pada video ialah Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock berkunjung ke Cina planga plongo di Bandara Beijing tidak nggak ada yang menyambutnya.
Benarkah Menlu Jerman berkunjung ke Cina tanpa penyambutan?
Hasil Cek Fakta
Hasil verifikasi Tempo menunjukkan bahwa kunjungan Menteri Luar Negeri Jerman tersebut bukan ke Cina, melainkan ke Malaysia pada Januari 2024.
Akun Kementerian Luar Negeri Jerman di X pada 19 Januari 2024 mengunggah video yang identik dengan video yang beredar di media sosial. Postingan tersebut berbunyi: “....Nikmati ringkasan video kunjungan Menteri Luar Negeri Annalena Baerbock ke Asia Tenggara.”
Jenis pesawat, model dan warna baju yang digunakan Baerbock identik dengan video tersebut. Hal ini memperjelas bahwa keduanya direkam di lokasi yang sama dan pada waktu yang sama tetapi dari sudut yang berbeda.
Akun Instagram Kedutaan Besar Jerman Jakarta juga pernah mengunggah sejumlah foto Menlu Baerbock saat berkunjung ke tiga negara Asia Tenggara lainnya di sini. Dalam keterangannya menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock mengunjungi tiga negara Asia Tenggara pada 11-12 Januari untuk membahas isu-isu terkini dengan mitra-mitra politik di kawasan.
Melalui pertemuan dengan rekan sejawat di Malaysia, Singapura dan Filipina, Menlu Baerbock dapat berbagi tentang kunjungan terkininya ke Timur Tengah, lebih memahami perspektif Asia Tenggara terhadap perang yang berlangsung sekaligus menjabarkan posisi Jerman.
Media Jerman Deutsche Welle pada 16 Januari 2024 pernah memuat artikel berjudul Germany strikes balancing act in Southeast Asia dengan memasang foto Menlu Baerbock saat turun dari pesawat mengenakan baju yang sama sebagai foto utama. Keterangan foto menyebutkan; “Menteri Luar Negeri Jerman mengunjungi Malaysia setelah lawatannya ke Timur Tengah”.
Ketika Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock bertemu dengan mitranya dari Malaysia, Mohamad Hasan, di Kuala Lumpur pada tanggal 12 Januari 2024, ia sedang menjalani hari keenam perjalanan yang membawanya dari Timur Tengah ke Asia Tenggara, demikian tulis Deutsche Welle. Artikel ini memperkuat analisa bahwa Menlu Jerman di dalam video bukan berkunjung ke Cina tetapi ke Malaysia.
Dengan mengenakan busana yang sama, Menlu Jerman bertemu Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim seperti video yang diunggah akun YouTube Anwar Ibrahim ini. Mereka membahas isu-isu seperti ekonomi, pendidikan, sains dan teknologi, dan juga Palestina.
Dalam laporan kantor berita milik negara Rusia RIA Novosti, Kementerian Luar Negeri Jerman telah mengomentari video Baerbock yang tidak mendapat penyambutan di bandara itu.
"Videonya diklaim terjadi di India, disebutkan juga dari Cina. Ini juga tidak benar. Kita bicara soal pendaratan Menlu di Malaysia," kata Fischer saat pengarahan Kabinet Jerman, Senin.
Ia menjelaskan, akibat kesalahan tersebut, pihak yang menyambutnya diposisikan agak jauh dan Berbock harus berjalan beberapa langkah untuk dapat menyapanya. Kunjungan ke Malaysia berlangsung pada awal tahun. Menteri mengunjungi India minggu lalu.
Klaim tentang video ini sebelumnya pernah diperiksa oleh Reuters dan India Today (terjemahan google) pada 29 Oktober 2024.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemeriksaan Tempo, klaim video Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock berkunjung ke Cina tanpa penyambutan adalahkeliru.
Video tersebut direkam di Bandara Kuala Lumpur di Malaysia pada tanggal 12 Januari 2024. Pesawat yang membawa Menlu Jerman parkir di posisi parkir yang berbeda dari yang telah ditentukan sebelumnya, sedangkan panitia penerima berada di tempat yang telah disepakati. Hal tersebut membuat Baerbock harus berjalan beberapa langkah hingga ke posisi penyambutan.
Rujukan
- https://www.instagram.com/reel/DBrPUtJpUZr/?utm_source=ig_embed&utm_campaign=loading
- https://mvau.lt/media/b634f661-0b97-4db4-b28c-e27877edd666
- https://x.com/GermanyInSEAsia/status/1748204995454132663
- https://www.instagram.com/germanembassyjkt/p/C2Q8LMnycDG/?img_index=5
- https://www.dw.com/en/germany-strikes-balancing-act-in-southeast-asia/a-68000565
- https://www.youtube.com/watch?v=1MI5TzCtrNw
- https://ria.ru/20241028/berbok-1980567314.html
- https://www.reuters.com/fact-check/fact-check-video-does-not-show-germanys-foreign-minister-being-snubbed-india-2024-10-31/
- https://www-indiatoday-in.translate.goog/fact-check/story/fact-check-german-foreign-minister-annalena-baerbock-not-formally-welcomed-at-delhi-airport-2625115-2024-10-29?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sc&_x_tr_hist=true /cdn-cgi/l/email-protection#f497919f92959f8095b4809199849bda979bda9d90
(GFD-2024-23793) [SALAH] Raja Thailand Larang Warganya ke Indonesia karena Banyak Teroris
Sumber: Facebook.comTanggal publish: 04/11/2024
Berita
Akun Facebook ‘Ema Nompetus’ pada Sabtu (07/09/2024) membagikan foto [arsip] berupa tangkapan layar dengan narasi:
“Raja Thailand: Melarang Keras Warganya Untuk Berlibur Ke Indonesia, Karena Indonesia Markas Teroris”
“Raja Thailand: Melarang Keras Warganya Untuk Berlibur Ke Indonesia, Karena Indonesia Markas Teroris”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax), tidak ditemukan artikel dengan judul tersebut di Wolipop, tetapi gambar serupa tayang dalam artikel “Kontroversi Raja Thailand Saat Corona, Tidur di Hotel Mewah dengan 20 Selir” yang diunggah tahun 2020.
Artikel itu membahas Raja Thailand Maha Vajiralongkorn yang menuai kontroversi karena melakukan isolasi diri di hotel mewah di kawasan pegunungan Alpen, Jerman, bersama 20 selirnya selama pandemi COVID-19. Tidak ada narasi tentang Raja Thailand melarang warganya ke Indonesia karena banyak teroris.
Artikel itu membahas Raja Thailand Maha Vajiralongkorn yang menuai kontroversi karena melakukan isolasi diri di hotel mewah di kawasan pegunungan Alpen, Jerman, bersama 20 selirnya selama pandemi COVID-19. Tidak ada narasi tentang Raja Thailand melarang warganya ke Indonesia karena banyak teroris.
Kesimpulan
Unggahan dengan narasi “Raja Thailand melarang warganya ke Indonesia karena banyak teroris” merupakan konten yang dimanipulasi (manipulated content).
Rujukan
- http[Wolipop] Kontroversi Raja Thailand Saat Corona, Tidur di Hotel Mewah dengan 20 Selir
- https://wolipop.detik.com/entertainment-news/d-4958629/kontroversi-raja-thailand-saat-corona-tidur-di-hotel-mewah-dengan-20-selir
- https://www.facebook.com/ema.nompetus.1/posts/1304399143859415 (tautan asli unggahan akun Facebook “Ema Nompetus”)
- https://ghostarchive.org/archive/ek3Pg (arsip unggahan akun Facebook “Ema Nompetus”)
(GFD-2024-23792) [SALAH] Yaman Merudal Kapal Milik Inggris di Laut Merah
Sumber: twitter.comTanggal publish: 04/11/2024
Berita
Akun X “@PPQSI_” mengunggah video [arsip] pada Selasa (22/10/2024) disertai cuitan:
Yaman beraksi lagi, kali ini kapal tanker Inggris berisi segala keperluan untuk Israel kembali dirudal di Laut Merah.
Per Senin (4/11/2024) konten tersebut sudah menuai lebih dari 58 ribu tayangan dan diunggah ulang lebih dari 1.000 kali.
Yaman beraksi lagi, kali ini kapal tanker Inggris berisi segala keperluan untuk Israel kembali dirudal di Laut Merah.
Per Senin (4/11/2024) konten tersebut sudah menuai lebih dari 58 ribu tayangan dan diunggah ulang lebih dari 1.000 kali.
Hasil Cek Fakta
Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) pertama-tama menelusuri kebenaran klaim dengan memasukkan gambar ke mesin Google Lens. Hasilnya, diketahui video tersebut merupakan potongan dokumentasi unggahan kanal YouTube Sri Lanka Air Force berjudul “Latest video footage of the “X-PRESS PEARL”.
Isi video membahas kapal Xpress Pearl yang terbakar di lepas pantai Sri Lanka tahun 2021, bukan Laut Merah. Kebakaran disebabkan interaksi kimia dalam muatannya, termasuk bahan kimia peledak. Kapal tersebut hancur oleh api dan tenggelam di lepas pantai Sri Lanka.
Video dengan klaim “Yaman rudal kapal milik Inggris di Laut Merah” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).
(Ditulis oleh Yudho Ardi)
Isi video membahas kapal Xpress Pearl yang terbakar di lepas pantai Sri Lanka tahun 2021, bukan Laut Merah. Kebakaran disebabkan interaksi kimia dalam muatannya, termasuk bahan kimia peledak. Kapal tersebut hancur oleh api dan tenggelam di lepas pantai Sri Lanka.
Video dengan klaim “Yaman rudal kapal milik Inggris di Laut Merah” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).
(Ditulis oleh Yudho Ardi)
Kesimpulan
Faktanya, video yang beredar merupakan dokumentasi kapal Xpress Pearl yang terbakar di lepas pantai Sri Lanka tahun 2021.
Video dengan klaim “Yaman rudal kapal milik Inggris di Laut Merah” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).
Video dengan klaim “Yaman rudal kapal milik Inggris di Laut Merah” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).
Rujukan
(GFD-2024-23791) Tidak Benar WHO Akui Mpox sebagai Efek Samping Vaksin Covid-19
Sumber:Tanggal publish: 04/11/2024
Berita
tirto.id - Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) kembali menetapkan keadaan darurat terhadap wabah Mpox pada Agustus lalu. Selama 29 September – 12 Oktober 2024, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengumumkan tidak ada kasus konfirmasi Mpox baru di Indonesia. Sementara secara kumulatif, ada sekira 88 kasus yang tersebar di 6 provinsi dan semuanya telah dinyatakan sembuh.
Namun, baru-baru ini, muncul narasi di jagat maya yang mengaitkan Mpox dengan vaksin Covid-19. Akun Facebook dengan nama “Fernando Tambunan” salah satunya, menyebut kalau WHO mengakui Mpox sebagai efek samping vaksin messenger RNA/vaksin mRNA Covid-19.
Akun itu turut melampirkan tangkapan layar sebuah artikel dengan judul berbahasa Inggris, berbunyi “WHO Admits Monkeypox Is ‘Side Effect’ of Covid ‘Vaccine’”. Dalam unggahan itu, disebut bahwa pengakuan WHO terkubur dalam situs VigiAccess milik WHO.
“Situs web tersebut berisi basis data yang mencantumkan semua efek samping yang diketahui dari semua obat dan vaksin yang telah disetujui untuk penggunaan publik,” tulis akun pengunggah, Selasa (22/10/2024).
Lebih lanjut, akun itu juga menulis dalam takarirnya bahwa WHO mencantumkan “cacar monyet”, “cacar air”, dan “cacar sapi”, di bawah vaksin Covid-19 Pfizer BioNTech.
Meski hingga Senin (4/11/2024), unggahan ini tidak memperoleh impresi, narasi yang sama persis juga dibagikan oleh sejumlah akun Facebook lain, seperti ini dan ini. Ada pula akun Facebook yang menyebarkan klaim ini disertai tautan artikel Slay News dengan judul yang sama.
Lantas, bagaimana faktanya?
Namun, baru-baru ini, muncul narasi di jagat maya yang mengaitkan Mpox dengan vaksin Covid-19. Akun Facebook dengan nama “Fernando Tambunan” salah satunya, menyebut kalau WHO mengakui Mpox sebagai efek samping vaksin messenger RNA/vaksin mRNA Covid-19.
Akun itu turut melampirkan tangkapan layar sebuah artikel dengan judul berbahasa Inggris, berbunyi “WHO Admits Monkeypox Is ‘Side Effect’ of Covid ‘Vaccine’”. Dalam unggahan itu, disebut bahwa pengakuan WHO terkubur dalam situs VigiAccess milik WHO.
“Situs web tersebut berisi basis data yang mencantumkan semua efek samping yang diketahui dari semua obat dan vaksin yang telah disetujui untuk penggunaan publik,” tulis akun pengunggah, Selasa (22/10/2024).
Lebih lanjut, akun itu juga menulis dalam takarirnya bahwa WHO mencantumkan “cacar monyet”, “cacar air”, dan “cacar sapi”, di bawah vaksin Covid-19 Pfizer BioNTech.
Meski hingga Senin (4/11/2024), unggahan ini tidak memperoleh impresi, narasi yang sama persis juga dibagikan oleh sejumlah akun Facebook lain, seperti ini dan ini. Ada pula akun Facebook yang menyebarkan klaim ini disertai tautan artikel Slay News dengan judul yang sama.
Lantas, bagaimana faktanya?
Hasil Cek Fakta
Sebagai informasi awal, Mpox, yang sebelumnya dikenal sebagai cacar monyet atau Monkeypox, adalah penyakit zoonosis yang berarti ditularkan dari hewan ke manusia.
Seiring dengan meningkatnya jumlah kasus dan penyebaran, seperti dilansir laman Kemenkes, ditemukan bahwa Mpox juga dapat menular antarmanusia, melalui kontak langsung dengan luka atau cairan tubuh orang yang terinfeksi, serta melalui kontak dengan benda atau permukaan yang telah terkontaminasi oleh virus.
Gejala awal Mpox biasanya muncul dalam waktu 5 hingga 21 hari setelah terpapar virus. Gejalanya mencakup demam, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan, sakit punggung, pembengkakan kelenjar getah bening, dan ruam kulit yang berkembang secara bertahap.
Meski gejala Mpox pada umumnya bersifat ringan dan dapat sembuh dengan sendiri dalam beberapa minggu, pada beberapa kasus Mpox dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama mereka yang termasuk dalam kelompok rentan, termasuk anak-anak, ibu hamil, dan penderita gangguan sistem imun.
Untuk mengecek apakah Mpox adalah efek samping vaksin Covid-19, Tim Riset Tirto berusaha melakukan penelusuran Google dengan kata kunci seperti judul artikel yang beredar, yakni “WHO Admits Monkeypox is Side Effect of Covid Vaccine”.
Dari pencarian itu kami menemukan bahwa klaim ini telah dinyatakan tidak benar oleh beberapa lembaga pemeriksa fakta, salah satunya Reuters.
Artikel Slay News yang dikutip oleh unggahan Facebook, terbit pada 11 Oktober 2024 dan berisi narasi tentang cacar monyet, cacar, dan cacar sapi yang disebut tercantum dalam VigiAccess milik WHO. Hal itu ditunjukkan terpampang di bawah vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech, sebagai bukti bahwa WHO telah mengakui infeksi ini merupakan efek samping dari produk tersebut.
Kendati begitu, tidak ada kasus Mpox, yang terdokumentasi, yang terbukti disebabkan oleh jenis vaksin apapun.
VigiAccess sendiri merupakan alat pencarian berbasis web milik WHO untuk mengakses basis data VigiBase, yang mencantumkan laporan reaksi obat yang merugikan dan kejadian buruk setelah imunisasi. Aduan itu dilaporkan oleh individu kepada otoritas kesehatan nasional mereka, yang selanjutnya dilaporkan ke Program Pemantauan Obat Internasional WHO (WHO PIDM).
Basis data yang dikelola oleh Pusat Pemantauan Uppsala (UMC)—sebuah yayasan nirlaba yang meneliti manfaat dan risiko produk obat, ini memang memperlihatkan enam laporan cacar monyet, lima laporan cacar sapi, dan 15 laporan cacar setelah menerima vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech.
Namun, juru bicara WHO mengatakan, data tersebut mencerminkan kemungkinan efek samping yang dilaporkan, bukan hubungan efek samping suatu produk yang dikonfirmasi.
“Informasi dalam VigiAccess tentang potensi efek samping tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa produk obat atau zat aktifnya menyebabkan efek yang diamati atau tidak aman untuk digunakan,” kata juru bicara WHO, seperti dinukil Reuters, Rabu (30/10/2024).
Juru bicara tersebut menambahkan bahwa hubungan sebab akibat adalah proses rumit yang memerlukan penilaian menyeluruh dan evaluasi terperinci dari keseluruhan data.
Menyoal situs Slay News, Media Bias Fact Check mengidentifikasi situs ini sebagai situs yang memiliki kredibilitas rendah dan bias ekstrem sayap kanan. Situs Slay News disebut seringkali menyebarkan propaganda, konspirasi, pseudosains, dan konten-konten plagiat.
Seiring dengan meningkatnya jumlah kasus dan penyebaran, seperti dilansir laman Kemenkes, ditemukan bahwa Mpox juga dapat menular antarmanusia, melalui kontak langsung dengan luka atau cairan tubuh orang yang terinfeksi, serta melalui kontak dengan benda atau permukaan yang telah terkontaminasi oleh virus.
Gejala awal Mpox biasanya muncul dalam waktu 5 hingga 21 hari setelah terpapar virus. Gejalanya mencakup demam, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan, sakit punggung, pembengkakan kelenjar getah bening, dan ruam kulit yang berkembang secara bertahap.
Meski gejala Mpox pada umumnya bersifat ringan dan dapat sembuh dengan sendiri dalam beberapa minggu, pada beberapa kasus Mpox dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama mereka yang termasuk dalam kelompok rentan, termasuk anak-anak, ibu hamil, dan penderita gangguan sistem imun.
Untuk mengecek apakah Mpox adalah efek samping vaksin Covid-19, Tim Riset Tirto berusaha melakukan penelusuran Google dengan kata kunci seperti judul artikel yang beredar, yakni “WHO Admits Monkeypox is Side Effect of Covid Vaccine”.
Dari pencarian itu kami menemukan bahwa klaim ini telah dinyatakan tidak benar oleh beberapa lembaga pemeriksa fakta, salah satunya Reuters.
Artikel Slay News yang dikutip oleh unggahan Facebook, terbit pada 11 Oktober 2024 dan berisi narasi tentang cacar monyet, cacar, dan cacar sapi yang disebut tercantum dalam VigiAccess milik WHO. Hal itu ditunjukkan terpampang di bawah vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech, sebagai bukti bahwa WHO telah mengakui infeksi ini merupakan efek samping dari produk tersebut.
Kendati begitu, tidak ada kasus Mpox, yang terdokumentasi, yang terbukti disebabkan oleh jenis vaksin apapun.
VigiAccess sendiri merupakan alat pencarian berbasis web milik WHO untuk mengakses basis data VigiBase, yang mencantumkan laporan reaksi obat yang merugikan dan kejadian buruk setelah imunisasi. Aduan itu dilaporkan oleh individu kepada otoritas kesehatan nasional mereka, yang selanjutnya dilaporkan ke Program Pemantauan Obat Internasional WHO (WHO PIDM).
Basis data yang dikelola oleh Pusat Pemantauan Uppsala (UMC)—sebuah yayasan nirlaba yang meneliti manfaat dan risiko produk obat, ini memang memperlihatkan enam laporan cacar monyet, lima laporan cacar sapi, dan 15 laporan cacar setelah menerima vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech.
Namun, juru bicara WHO mengatakan, data tersebut mencerminkan kemungkinan efek samping yang dilaporkan, bukan hubungan efek samping suatu produk yang dikonfirmasi.
“Informasi dalam VigiAccess tentang potensi efek samping tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa produk obat atau zat aktifnya menyebabkan efek yang diamati atau tidak aman untuk digunakan,” kata juru bicara WHO, seperti dinukil Reuters, Rabu (30/10/2024).
Juru bicara tersebut menambahkan bahwa hubungan sebab akibat adalah proses rumit yang memerlukan penilaian menyeluruh dan evaluasi terperinci dari keseluruhan data.
Menyoal situs Slay News, Media Bias Fact Check mengidentifikasi situs ini sebagai situs yang memiliki kredibilitas rendah dan bias ekstrem sayap kanan. Situs Slay News disebut seringkali menyebarkan propaganda, konspirasi, pseudosains, dan konten-konten plagiat.
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, unggahan media sosial yang mengutip artikel Slay News dan menyebut bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengakui Mpox sebagai efek samping vaksin Covid-19 bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).
Tidak ada kasus Mpox atau cacar sapi, yang terdokumentasi, yang terbukti disebabkan oleh jenis vaksin apapun. Juru bicara WHO mengatakan, data laporan kasus Mpox yang diterima pihaknya setelah menerima vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech mencerminkan kemungkinan efek samping yang dilaporkan, bukan hubungan efek samping suatu produk yang dikonfirmasi.
Media Bias Fact Check mengidentifikasi situs Slay News sebagai situs yang memiliki kredibilitas rendah dan bias ekstrem sayap kanan. Situs ini disebut seringkali menyebarkan propaganda, konspirasi, pseudosains, dan konten-konten plagiat.
Tidak ada kasus Mpox atau cacar sapi, yang terdokumentasi, yang terbukti disebabkan oleh jenis vaksin apapun. Juru bicara WHO mengatakan, data laporan kasus Mpox yang diterima pihaknya setelah menerima vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech mencerminkan kemungkinan efek samping yang dilaporkan, bukan hubungan efek samping suatu produk yang dikonfirmasi.
Media Bias Fact Check mengidentifikasi situs Slay News sebagai situs yang memiliki kredibilitas rendah dan bias ekstrem sayap kanan. Situs ini disebut seringkali menyebarkan propaganda, konspirasi, pseudosains, dan konten-konten plagiat.
Rujukan
- https://tirto.id/kembali-darurat-mewaspadai-peluang-mpox-sebagai-pandemi-baru-g21U
- https://infeksiemerging.kemkes.go.id/situasi-mpox/update-mpox-minggu-ke-42-dan-ke-43-2024-13-26-oktober-2024
- https://web.facebook.com/photo/?fbid=27885141334410652&set=a.413643285320494&_rdc=1&_rdr
- https://web.facebook.com/photo/?fbid=1190739658693195&set=a.107111450389360&_rdc=1&_rdr
- https://web.facebook.com/photo/?fbid=997897192353706&set=a.471129961697101&_rdc=1&_rdr
- https://web.facebook.com/bernadette.mcquitty.71/posts/pfbid0ZwdzhvmW5PjufAJQg3p2XPcW5vPshvWKPRwnKhNbthehuskGxXe8tYDojHVEuAuCl?_rdc=1&_rdr
- https://upk.kemkes.go.id/new/kenali-bahaya-dan-gejala-mpox
- https://www.reuters.com/fact-check/who-didnt-admit-monkeypox-is-side-effect-pfizers-covid-vaccine-2024-10-30/
- https://mediabiasfactcheck.com/slay-news-bias-and-credibility/
Halaman: 649/5960