(GFD-2021-8793) Keliru, Klaim Foto Puluhan Juta Umat Islam di Afrika Hadiri Acara Maulid Nabi Muhammad
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 26/10/2021
Berita
Sebuah foto yang memperlihatkan kerumunan orang di sebuah tanah lapang beredar di media sosial. Di internet foto tersebut dibagikan dengan narasi bahwa puluhan juta umat Islam di Afrika menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad SAW.
Foto tersebut dimuat situs ini pada Selasa, 19 Oktober 2021 dengan judul,
“Masya Allah… Puluhan Juta Umat Islam di Afrika Hadiri Acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW,”
Apa benar ini foto jutaan umat Islam di Afrika menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad?
Tangkapan layar unggahan blog yang mengklaim puluhan juta umat Islam di Afrika hadiri acara Maulid Nabi Muhammad
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digital foto tersebut dengan menggunakan reverse image tools Source dan Google. Hasilnya, foto tersebut merupakan perayaan Maulid Nabi Muhammad di Yaman pada Januari 2015.
Foto-foto yang identik dengan foto di atas pernah dimuat situs berbahasa Thailand abnewstoday.com pada 6 Januari 2015 dengan judul, “ Turki, Yaman dan banyak negara Muslim lainnya Bergabunglah dengan perayaan akbar Maulidun Bi.”
Menurut situs tersebut, aktivis Yaman telah merilis foto udara dari perayaan Hari tersebut. "Maolidunbi" yang agung dan indah dalam sejarah Sana'a Ibu kota Yaman menjadi jaringan global.
Foto yang identik pernah dimuat situs berbahasa Persia fa.alalam.ir pada Januari 2015 dengan judul, “Ulang tahun Nabi (SAW) yang belum pernah terjadi sebelumnya di ibukota Yaman.”
Menurut situs berita Al-Alam, foto tersebut diterbitkan aktivis yang dekat dengan kelompok Ansarullah Yaman, menunjukkan kehadiran yang sangat besar dari warga Yaman di acara tersebut yang belum pernah terjadi sebelumnya. Acara tersebut berlangsung di bekas markas Brigade Lapis Baja ke-1 di Sanaa. Menurut para aktivis, foto-foto itu diambil dengan helikopter yang terbang di atas lokasi upacara.
Karena serangan teroris seminggu sebelumnya minggu, pada hari kelahiran Nabi di provinsi Ab di Yaman, pasukan Komite Rakyat bertanggung jawab penuh untuk mengamankan upacara.
Republik Yaman adalah sebuah negara di Jazirah Arab di Asia Barat Daya, bagian dari Timur Tengah. Yaman berbatasan denganLaut Arab di sebelah selatan, Teluk Aden dan Laut Merah di sebelah barat, Oman di sebelah timur dan Arab Saudi di sebelah utara. Penduduk Yaman diperkirakan berjumlah sekitar 23 juta jiwa. Luas negara ini sekitar 530.000 km2 dan wilayahnya meliputi lebih dari 200 pulau.
Tahun ini jutaan orang Yaman bersiap untuk ambil bagian dalam demonstrasi massal untuk memperingati ulang tahun Nabi Muhammad (saw) pada Kamis sore di ibukota Sanaa dan provinsi lainnya.
Dilansir dari en.abna24.com, pada tanggal 19 Oktober, Sayyid Abdulmalik al-Houthi menyerukan kepada semua orang Yaman untuk berpartisipasi dalam perayaan Maulid Nabi, menekankan bahwa acara tahun ini akan lebih besar daripada tahun-tahun lainnya karena kesadaran, tekad dan iman orang-orang Yaman.
Panitia penyelenggara menetapkan 15 alun-alun besar untuk menyambut jutaan orang Yaman memperingati kelahiran Nabi Muhammad (saw) di provinsi Saada, Hajjah, Hodeidah, Dhamar, Ibb, Taiz, Amran, Mahweit, Jawf, Bayda, sebagai serta acara utama akan diadakan di ibu kota, Sanaa.
Panitia penyelenggara memanggil warga di ibukota dan gubernur Sana'a untuk berkumpul dalam massa besar di The 70th Square, sedangkan Stadion Olahraga Revolusi ditujukan untuk acara wanita.
Kerumunan massa telah berkumpul sejak Rabu dari berbagai distrik di provinsi Sanaa dan provinsi lain ke Lapangan Sabaeen, meskipun kondisi ekonomi sulit.
Meskipun hampir enam tahun pengepungan dan agresi, Yaman merayakan kelahiran Nabi (SAW) dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo foto dengan klaim puluhan juta umat Islam di Afrika hadiri acara Maulid Nabi Muhammad, keliru. Foto tersebut bukan perayaan Maulid Nabi Muhammad di Afrika, melainkan di Yaman pada Januari 2015.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Rujukan
- https://www.kompasnews.xyz/2021/10/masya-allahpuluhan-juta-ummat-islam-di.html
- http://abnewstoday.com/
- https://www.abnewstoday.com/2840
- http://fa.alalam.ir/
- https://fa.alalam.ir/news/1663301/%D9%85%D8%B1%D8%A7%D8%B3%D9%85-%D8%A8%DB%8C%D8%B3%D8%A7%D8%A8%D9%82%D9%87-%D9%85%DB%8C%D9%84%D8%A7%D8%AF-%D9%BE%DB%8C%D8%A7%D9%85%D8%A8%D8%B1-%D8%B5-%D8%AF%D8%B1-%D9%BE%D8%A7%DB%8C%D8%AA%D8%AE%D8%AA-%DB%8C%D9%85%D9%86-%D8%B9%DA%A9%D8%B3
- https://www.geografi.org/2017/04/geografi-negara-yaman.html
- https://en.abna24.com/news//millions-of-yemenis-prepare-to-commemorate-prophet-muhammad%E2%80%99s-birthday_1081835.html
(GFD-2021-8792) Keliru, Model Omar Borkan Al Gala Dideportasi dari Arab Saudi
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 25/10/2021
Berita
Sebuah informasi di instagram menyebut tentang seorang pria bernama Omar Borkan Al Gala. Pria ini dikabarkan diusir oleh negaranya, Arab Saudi karena terlalu tampan.
Informasi itu diunggah pada 18 Oktober 2021 dengan menyertakan foto Omar dan teks bertuliskan: “Pria bernama Omar Borkan Al Gala ini diusir dari negaranya di Arab Saudi karena dianggap terlalu tampan oleh pemerintah dan melihatnya ketampanannya bisa membuat wanita patah hati. Saat ini ia tinggal di Kanada.”
Unggahan ini telah disukai 14.282 kali oleh warganet.
Tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi klaim model Omar Borkan Al Gala dideportasi dari Arab Saudi
Hasil Cek Fakta
Hasil verifikasi Tim Cek Fakta Tempo menunjukkan bahwa pemerintah Arab Saudi tidak pernah mendeportasi model dan aktor asal Dubai ini. Saat itu, Omar hanya diminta meninggalkan acara Jenadrivah Heritage & Culture Festival oleh polisi agama setempat.
Cerita tentang pendeportasian Omar sempat menjadi viral setelah sebuah media melaporkan pada April 2013, bahwa dia dan dua temannya diusir dari Arab Saudi karena terlalu tampan. Pejabat di festival tersebut takut wanita di sana bisa jatuh cinta mendadak pada mereka.
Dikutip dari Huffpost dari wawancara eksklusif dengan media Metro pada 2015, Omar mengungkapkan bahwa dia dan teman-temannya berada di festival di Riyadh ketika beberapa gadis mengenalinya. Saat mereka berkumpul untuk tanda tangan dan foto, kerumunan bertambah dan membuat polisi agama tidak menyukainya.
"Mereka datang dan meminta saya dengan sopan untuk meninggalkan festival," kata dia.
Komisi Arab Saudi untuk Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan memberlakukan aturan ketat yang membatasi interaksi antara pria dan wanita yang tidak memiliki hubungan keluarga. Jadi Omar tidak pernah diminta untuk meninggalkan negara itu — hanya festival.
Omar, yang berasal dari Dubai kemudian pindah ke Vancouver bersama orang tua dan tiga saudara laki-lakinya.
Latin Times pada 2 Juli 2013 juga mempublikasikan dengan mengutip pernyataan Omar dalam majalah Quién. Menurutnya, rumor bahwa dia telah dideportasi dari Arab Saudi bersama dengan dua pria lain karena "terlalu tampan" sebenarnya salah.
"Sungguh, saya hanya berjalan-jalan dan saya berakhir di tempat yang salah pada waktu yang salah," kata Omar kepada majalah itu.
Versi lain, dari sumber berbahasa Arab Al-Quds.com, Omar memang telah menyebabkan ketidaknyamanan karena "menari secara tidak pantas" di sebuah acara keluarga. Setelah itu dia dibawa oleh anggota garda nasional UEA, diinterogasi dan dibebaskan. Tapi dia tidak pernah diminta untuk pergi.
Kesimpulan
Dari pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa seorang pria bernama Omar Borkan Al Gala diusir dari negaranya, Arab Saudi karena terlalu tampan, adalah keliru.
Pertama, Omar Borkan bukan warga negara Arab Saudi, melainkan berasal dari Dubai. Kedua, dia tidak pernah dideportasi oleh pemerintah Arab Saudi karena wajahnya. Pada April 2013, ia diminta meninggalkan sebuah festival budaya di Riyadh, saat ia menghadiri acara tersebut.
Ada dua versi mengapa dia diminta meninggalkan festival. Pertama karena kedatangannya menyebabkan para perempuan berkerumun untuk berfoto dan meminta tanda tangan. Kedua, karena dia menari tidak pantas di sebuah acara keluarga.
Tim Cek Fakta Tempo
Rujukan
(GFD-2021-8791) Keliru, Klaim Bahasa Cina Jadi Kurikulum Pendidikan di Halmahera Selatan
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 25/10/2021
Berita
Pesan berantai yang berisikan tautan video dengan klaim bahwa bahasa Cina sudah masuk kurikulum sekolah di Halmahera Selatan, Maluku Utara beredar di aplikasi pengiriman pesan. Pesan tersebut juga diikuti narasi:
“MIRIS ... !!!¸ BUKAN HOAX, Hari ini Kerja di Negeri Sendiri Wajib Pakai Bahasa China ÷Hersubeno Arief÷. Bahasa China Sudah Masuk Kurikulum Sekolah di Halmahera Selatan ... Untuk Memenuhi Syarat Masuk Kerja. Hanya Untuk Menjadi Buruh di Perusahaan-Perusahaan China, Kedaulatan Bangsa Kita Digadaikan, Harus Belajar dan Bisa Bahasa China. Seharusnya, Mereka Pendatang itu Yang Belajar Bahasa Indonesia ... !¸Ataukah Memang Kita, Bangsa Indonesia Secara Perlahan Tapi Pasti Akan Jadi Koloni China, Jajahan China .. ? Pengamat : SEBENTAR LAGI, CHINA AKAN KUASAI INDONESIA”.
Benarkan bahasa Cina sudah masuk menjadi kurikulum sekolah di Halmahera Selatan, Maluku Utara?
Tangkapan layar potongan vidoe yang mengklaim bahas aCina masuk kurikulum lokal Maluku Utara.
Hasil Cek Fakta
Untuk memeriksa klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri terkait informasi tersebut pada beberapa media lokal di Maluku Utara. Hasilnya diketahui, informasi tersebut merupakan informasi yang muncul di media pada 14 Juli 2021. Informasi ini kembali viral setelah sebuah pesan berantai yang berisikan video yang mengklaim bahasa china sudah masuk kurikulum sekolah di Halmahera Selatan, Maluku Utara beredar di aplikasi pengiriman pesan.
Video tersebut merupakan video konten youtube yang diunggah akun redaksi islam pada 06 Oktober 2021. Akun ini menuliskan narasi “MIRIS.! Bukan Hoax Hari ini Kerja DiNegeri Sendiri Wajib Pake Bahasa China.? | Hersubeno Arief…”. Sejak diunggah video tersebut sudah ditonton 26 ribu kali.
Dikutip dari koran harian Malut Post edisi Rabu 14 Juli 2021, wacana memasukan bahasa cina dalam kurikulum sekolah mula-mula bergulir saat Kepala Dinas Pendidikan Halmahera Selatan, Safiun Radjulan, melakukan paparan konsultasi publik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang diselenggarakan Badan Perencanaan Penelitian dan Pembangunan dan Halmahera Selatan, Selasa 13 Juli 2021.Pada paparannya, Safiun mengatakan, memasukan bahasa cina menjadi kurikulum sekolah bertujuan untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja lokal yang mampu menguasai bahasa asing. Kurikulum bahasa cina ini nantinya akan menggantikan kurikulum bahasa Inggris.
Dilansir dari beritadetik.id, memasukan bahasa cina menjadi kurikulum sekolah ungkap, Safiun Radjulan, juga sebagai upaya menyiapkan tenaga kerja lokal yang berkualitas. Sebab bahasa Mandarin bagi calon pekerja di setiap perusahaan pertambangan masih menjadi kendala bagi putra daerah, karena itu Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan akan memasukkan Bahasa Cina atau Mandarin di sekolah di Halmahera Selatan.
Sementara itu, seperti dikutip penamalut, Safiun Radjulan sendiri membantah kebijakan memasukan bahasa cina menjadi kurikulum di sekolah sudah diterapkan. Di hadapan Komisi 1 DPRD Halmahera Selatan, Safiun mengatakan rencana menjadikan bahasa cina menjadi kurikulum sekolah baru sebatas gagasan yang bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia.
Sebelumnya isu serupa sempat pula menyeret mantan Menteri Agama Fachrul Razi pada Januari 2020. Saat itu, Ia dikabarkan meminta agar bahasa Mandarin menjadi salah satu syarat kelulusan siswa Madrasah Aliyah (MA).
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta, klaim bahasa china sudah masuk kurikulum sekolah di Halmahera Selatan, keliru. Di hadapan komisi 1 DPRD Halmahera Selatan, Kepala Dinas Pendidikan, Safiun Radjulan mengatakan wacana memasukan bahasa cina dalam kurikulum di sekolah baru sebatas gagasan. Wacana ini disampaikan pada paparan konsultasi publik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Halmahera Selatan.
TIM CEKFAKTA TEMPO
Rujukan
- https://www.youtube.com/watch?v=EE1TE9Z3DMo
- https://beritadetik.id/2021/07/14/ganti-bahasa-inggris-bahasa-cina-segera-masuk-kurikulum-lokal/
- https://penamalut.com/2021/07/14/kadikbud-halsel-bantah-soal-bahasa-cina-masuk-kurikulum/
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/551/fakta-atau-hoaks-benarkah-menag-minta-bahasa-mandarin-jadi-syarat-lulus-madrasah-aliyah
(GFD-2021-8790) Keliru, Narasi Tentang Kenaikan Prevalensi Merokok Anak Tidak Terkait dengan Iklan Rokok
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 22/10/2021
Berita
Sebuah poster berisi klaim terkait kenaikan prevalensi merokok anak tidak terkait dengan iklan rokok dan jumlah perokok anak turun, beredar di Twitter, 16 Oktober 2021. Salah satu akun mengunggah klaim itu setelah Pemprov DKI Jakarta menutup display penjualan rokok di minimarket.
“Nah lo. Kalo emang datanya udah turun, terus kemarin pada nutupin warung rokok pake tirai berarti bukan karena alasan biar anak2 gak merokok kali, ya. Tapi buat laporan sama ndoro funding kali, ya,” tulis akun itu menyertai poster yang diunggah.
Poster itu berisi dua teks: “Kenaikan prevalensi perokok anak tidak disebabkan oleh iklan rokok, namun minimnya edukasi pemerintah.”
Teks kedua memuat data tentang jumlah perokok anak mencapai 9,76 persen tahun 2018. Tahun 2019 menurun menjadi 3,87 persen dan jumlah 2020 menurun lagi menjadi 3,81 persen.
Tangkapan layar unggahan poster berisi klaim terkait kenaikan prevalensi merokok anak dikaitkan dengan iklan rokok dan jumlah perokok anak turun
Hasil Cek Fakta
Hasil verifikasi Tempo menunjukkan, ada kaitan yang erat antara kenaikan iklan rokok dengan prevalensi merokok anak. Gencarnya iklan, promosi, dan sponsor rokok berdampak pada semakin meningkatnya prevalensi merokok pada anak-anak dan remaja. Dua penelitian berikut menunjukkan bahwa iklan, promosi, dan sponsor rokok menimbulkan keinginan anak dan remaja untuk merokok.
Pertama, penelitian Tobacco Control Support Centre - Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TSCC-IAKMI), menunjukkan ada kaitan erat antara iklan rokok dan prevalensi perokok anak. Penelitian berjudul Paparan Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok di Indonesia (2018), tersebut menemukan hubungan yang signifikan antara paparan iklan rokok di TV, radio, billboard, poster, dan internet dengan status merokok pada anak dan remaja usia dibawah 18 tahun.
Anak dan remaja usia dibawah 18 tahun lebih banyak terpapar iklan rokok melalui TV (85%), banner (76,3%), billboard (70,9%), poster (67,7%), tembok publik (57,4%), kendaraan umum (47,3%), internet (45,7%), koran/majalah (23,6%), radio (17,4%), dan bioskop (12,4%).
Sumber: Tobacco Control Support Centre - Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TSCC-IAKMI) dalam studi Paparan Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok di Indonesia (2018).
Sumber: Tobacco Control Support Centre - Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TSCC-IAKMI) dalam studi Paparan Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok di Indonesia (2018).
Selain itu, didapatkan pula hasil bahwa ada hubungan yang signifikan antara pemberian sampel rokok gratis, sponsor rokok di acara olahraga, logo pada merchandise, sponsor rokok di acara musik, dan harga diskon dengan status merokok pada anak dan remaja usia dibawah 18 tahun.
Selain dari iklan, anak dan remaja usia dibawah 18 tahun pun lebih banyak terpapar promosi dan sponsor rokok di toko yang menjual rokok (74,2%), acara olahraga (46,6%), logo pada merchandise (39,1%), acara musik (39%), pembagian sampel rokok gratis (14,7%), harga diskon (12,3%), hadiah gratis atau diskon spesial (8,7%), kupon/voucher rokok (5,4%), dan surat (6,5%).
Penelitian tersebut menggunakan desain potong lintang dengan metode pengambilan sampel dilakukan dengan Multistage Cluster Sampling. Studi dilakukan terhadap 5.234 responden atau 97,8% dari total sample yang berasal dari 16 kota/kabupaten, 139 kecamatan dan 279 desa/kelurahan. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner.
Kedua, penelitian oleh Yayasan Lentera Anak, Ruandu Foundation, Gagas, dan Komunitas Peduli Udara Bersih tahun 2021, juga memperkuat temuan dari TSCC-IAKMI.
Penelitian berjudul Survei Keterpaparan Iklan Rokok Elektrik pada Perokok Anak dan Hubungan Iklan Rokok Konvensional terhadap Preferensi Rokok yang Disukai Anak, itu melibatkan 180 anak yang merokok (laki-laki dan perempuan) di rentang usia 10-18 tahun di Jakarta, Solo, Jember, Padang dan Mataram.
Ketua Yayasan Lentera Anak, Lisda Sundari, mengatakan, hasil penelitian menunjukkan sebanyak 99,4 persen anak mengaku pernah melihat iklan rokok dan 76,7 persen anak mengaku banyak terpapar iklan rokok. Disebut banyak karena diasumsikan anak terpapar oleh iklan rokok lebih dari satu kali dalam sehari.
Selain itu 60,6 persen anak mengaku bahwa mereka terpapar oleh iklan rokok elektrik. Anak-anak paling banyak melihat iklan rokok elektrik di media sosial sebesar 88,1%. Sedangkan untuk yang lainnya melihat di berita online sebesar 3,7%.
Paparan iklan rokok tersebut juga mempengaruhi perilaku merokok anak. Menurut Lisda, setelah dilakukan analisis hubungan antara iklan rokok yang diingat anak dengan merek rokok yang paling disukai, nilai signifikansinya sebesar 0,003. Artinya terdapat hubungan yang besar antara iklan rokok dengan merek rokok yang paling disukai anak
Klaim 2: jumlah perokok anak turun
Sumber data yang tertulis dalam poster digital tersebut merujuk data Persentase Merokok Pada Penduduk Usia ≤ 18 Tahun, Menurut Jenis Kelamin (Persen), 2018-2020 oleh Badan Pusat Statistik. Menurut data tersebut, jumlah persentase merokok penduduk usia di bawah 18 tahun pada 2018 secara nasional, mencapai 9,65 persen. Sedangkan pada 2019 mencapai 3,87 persen dan 3,81 persen pada 2020.
Direktur Statistik Kesejahteraan Rakyat Badan Pusat Statistik, Ahmad Avenzora, menjelaskan data persentase merokok penduduk usia di bawah 18 tahun pada 2018 dan 2019-2020, menggunakan sumber data yang berbeda. Tahun 2018 menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan. Sementara tahun 2019 dan 2020 dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).
“Ada perbedaan pendekatan antara Riskesdas dan Susenas. Sebenarnya tidak apple to apple untuk membandingkan yang 2018 dengan 2019 dan 2020,” kata Ahmad kepada Tempo, 19 Oktober 2021.
Salah satu perbedaan pendekatan antara Riskesdas dan Susenas, kata Ahmad Avenzora, terkait jenis rokok. Di Riskesdas, mencakup jenis rokok elektrik. Sedangkan pada Susenas, tidak memasukkan rokok elektrik.
Menurut Ahmad, dengan perbedaan sumber data tersebut, tidak bisa disimpulkan bahwa jumlah perokok anak menurun signifikan dari tahun 2018 ke tahun 2019-2020.
Kesimpulan
Dari pemeriksaan fakta di atas, klaim terkait kenaikan prevalensi merokok anak tidak terkait dengan iklan rokok dan jumlah perokok anak turun, adalah keliru. Berdasarkan sejumlah penelitian, iklan rokok mempengaruhi prevalensi perokok anak, baik yang mengkonsumsi rokok konvensional maupun rokok elektrik. Kedua, terkait klaim jumlah perokok anak turun dari tahun 2018 ke tahun 2019 dan 2020 juga keliru. BPS telah menyatakan bahwa sumber data yang digunakan pada 2018 berbeda dengan 2019 dan 2020 sehingga tidak dapat digunakan sebagai perbandingan.
Tim Cek Fakta Tempo
Rujukan
- https://twitter.com/GoberSindhik/status/1449322803170213889/photo/1
- http://www.tcsc-indonesia.org/wp-content/uploads/2018/10/Hasil-Studi-Paparan-Iklan-Promosi-dan-Sponsor-Rokok-di-Indonesia_TCSC-IAKMI.pdf
- https://www.bps.go.id/indicator/30/1533/1/persentase-merokok-pada-penduduk-usia-18-tahun-menurut-jenis-kelamin.html
Halaman: 5616/7231




