• (GFD-2026-31807) Keliru: Garuda Indonesia Angkat Khairun Nisa Menjadi Pramugari

    Sumber:
    Tanggal publish: 19/01/2026

    Berita

    SEBANYAK 70 konten di media sosial seperti  Instagram [arsip], Facebook, Threads, dan X, menyebarkan klaim palsu bahwa Garuda Indonesia telah mengangkat Khairun Nisa sebagai pramugari. Unggahan tersebut menyertakan foto yang memperlihatkan manajemen Garuda Indonesia tengah menjabat tangan Khairun Nisa.

    Nama Khairun Nisa sebelumnya sempat viral di media sosial karena aksi penyamarannya. Ia berpura-pura menjadi pramugari Batik Air demi menyenangkan hati orang tuanya setelah tertipu Rp 30 juta oleh oknum yang menjanjikannya pekerjaan. "Khairun Nisa akhirnya diterima sebagai pramugari maskapai penerbangan Garuda Indonesia," bunyi narasi dalam konten yang beredar tersebut.



    Namun, benarkah Garuda Indonesia secara resmi menerima Khairun Nisa sebagai pramugari seperti ditunjukkan dalam foto yang beredar?

    Hasil Cek Fakta

    Tempo memverifikasi konten tersebut menggunakan pengamatan visual, peranti deteksi akal imitasi, serta konfirmasi dari berbagai sumber otoritatif. Hasilnya, manajemen Garuda Indonesia membantah telah mengangkat Khairun Nisa sebagai pramugari. Foto yang beredar luas di media sosial itu terbukti merupakan hasil rekayasa teknologi akal imitasi.  

    Dikutip dari Berita Satu edisi Kamis, 15 Januari 2026, Kepala Komunikasi Garuda Indonesia, Dicky Irchamsyah, menyatakan perusahaannya tidak sedang menggelar rekrutmen pegawai. Ia menegaskan bahwa foto yang mencatut nama maskapai plat merah tersebut murni hasil manipulasi. "Saat ini Garuda Indonesia belum membuka rekrutmen awak kabin," ujar Dicky.

    Kisah Khairun Nisa menjadi viral setelah perempuan asal Ogan Ilir, Sumatera Selatan, ini kedapatan menyamar sebagai pramugari Batik Air dalam penerbangan Palembang-Jakarta pada 6 Januari 2026. Nisa telah mengakui perbuatannya dan meminta maaf melalui akun TikTok pribadinya. Di sisi lain, Aeronef Academy sempat menawarkan pelatihan gratis bagi Nisa, namun hingga 15 Januari 2026, lembaga tersebut mengaku belum mendapatkan respons lanjutan.



    Hasil verifikasi Tempo mengonfirmasi bahwa foto tersebut merupakan produk rekayasa akal imitasi. Kesimpulan ini berpijak pada temuan tiga anomali fisik yang janggal. Pertama, desain papan nama Garuda Indonesia yang terpampang dalam foto tidak sesuai dengan identitas visual resmi milik perusahaan maskapai tersebut.

    Kedua, perbedaan warna kulit pada telapak tangan pria dalam foto terlihat sangat mencolok, mengindikasikan adanya ketidakkonsistenan dalam proses pengolahan gambar. Ketiga, teks pada sertifikat di bagian depan tetap tampak buram dan tidak terbaca meskipun telah melalui proses pembesaran gambar berulang kali.

    Anomali pada foto tersebut, lazim ditemukan pada konten-konten yang dibuat dengan teknologi AI. Analisis manual tersebut diperkuat dengan alat deteksi AI Image Whisperer yang menyatakan foto dibuat menggunakan AI dengan tingkat konfidensial sangat tinggi. Demikian juga dengan alat deteksi Hive Moderation, menerangkan kemungkinan konten buatan AI mencapai 99,9 persen.

    Kesimpulan

    Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan Khairun Nisa yang berpura-pura menjadi pramugari dalam penerbangan Batik Air awal tahun 2026, diterima bekerja oleh Garuda Indonesia adalah klaim keliru.

    Rujukan

  • (GFD-2026-31808) Video dari Kerumunan Demonstran Iran Menyalakan Senter Buatan AI

    Sumber:
    Tanggal publish: 19/01/2026

    Berita

    tirto.id - Gelombang demonstrasi besar di Iran telah berlangsung lebih dari dua pekan dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah signifikan. Laporan terbaru Tirto.id, berdasar data Iran Human Rights (IHRNGO) per 12 Januari 2026, jumlah korban tewas dalam gelombang protes anti pemerintah itu adalah setidaknya 648 pengunjuk rasa, termasuk sembilan anak di bawah usia 18 tahun, dan ribuan lainnya luka-luka.

    ADVERTISEMENT

    Di tengah derasnya arus informasi terkait kejadian tersebut, beredar sebuah video dengan narasi demonstran warga Iran dengan meramaikan jalanan sambil menyalakan ponsel di tengah kondi kegelapan. Video tersebut diunggah oleh akun Facebook @Calon Ilmuan (arsip) pada Senin (12/01/2026).

    let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

    “Internet diputus dan lampu jalan padam, warga Iran nyalakan lampu ponsel,” tulis narasi dalam video.

    let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

    #gpt-inline3-passback{text-align:center;}

    Dalam video tersebut terlihat ramainya massa yang berbaris memenuhi jalan yang gelap sambil menyalakan lampu di ponselnya. Terdapat juga sudut pandang video di tengah kerumunan yang memperlihatkan lebih dekat massa tersebut.

    let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

    #gpt-inline4-passback{text-align:center;}

    Dalam keterangan video diberikan konteks kejadian. Disebutkan kalau otoritas di Iran memutus akses internet dan jaringan telepon serta mematikan lampu di beberapa ruas jalan untuk membatasi informasi dan memendam unjuk ras.

    Hal ini yang memacu demonstran di Iran menyalakan ponsel mereka sebagai sumber cahaya. "Meski demikian, warga tetap terlihat berjaga diluar ruangan dengan cahaya ponsel yang menyala, menjadi simbol nyata bahwa mereka ada dan tetap menyuarakan kehadiran mereka, meski dalam kondisi terbatas," tulis narasi penyerta video.

    Aksi tersebut digambarkan sebagai simbol keberadaan dan bentuk ekspresi bahwa mereka tetap hadir serta menyuarakan aspirasi.

    ADVERTISEMENT

    Periksa Fakta Demonstran Iran protes dalam gelap. foto/Hotline periksa Fakta tirto

    Hingga Senin (19/01/2026), video tersebut sudah ditonton sekitar 2,1 ribu kali serta mendapatkan 16 tanda reaksi, dua komentar, dan dua kali dibagikan. Tirto menemukan Video serupa dari unggahan sejumlah akun di Instagram. (tautan 1, tautan 2, tautan 3)

    Lalu bagaimana faktanya, benarkah video yang tersebar di media sosial menunjukkan kondisi demonstrasi di Iran?

    Hasil Cek Fakta

    Tirto memulai penelusuran dengan melakuan pencarian gambar terbalik (reverse image search) menggunakan Google Lens, untuk mencari sumber video yang beredar. Hasil penelusuran mengarahkan ke video identik berikut dari akun Instagram @elnaz555 pada 11 Januari 2026.

    Hingga penelusuran ini dilakukan, video tersebut sudah ditonton hingga sekitar 84,6 juta kali. Dalam keterangan unggahannya, pemilik akun menjelaskan meski unggahan tersebut memang terkait konteks kondisi di Iran, konten yang dibagikan bukan rekaman asli. Video kurang dari 15 detik itu adalah karya visual yang dibuat menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI).

    Video tersebut disebut sebagai bentuk penghargaan digital bagi para demonstran di Iran.

    "Karya ini bukanlah pengganti realitas! Ini adalah refleksi dari realitas, sebuah cara untuk membantu lebih banyak orang melihat apa yang terjadi, terutama karena seluruh negeri mengalami pemadaman digital selama 4 hari terakhir," tulis pengunggah video.

    Pengunggah menjelaskan bahwa visual itu terinspirasi dari sebuah video yang beredar sebelumnya, yang memperlihatkan massa demonstran di jalanan gelap Iran menyalakan lampu ponsel mereka setelah pemerintah disebut mematikan lampu jalan. Adegan tersebut kemudian direka ulang melalui seni berbasis AI dengan tujuan membantu menggambarkan situasi protes kepada publik luas, terutama di tengah pemadaman akses digital yang dilaporkan terjadi selama beberapa hari terakhir.

    Untuk memperkuat temuan tersebut, Tirto turut menganalisis video menggunakan alat pendeteksi AI Hive Moderation. Hasil analisis menunjukkan bahwa video tersebut memiliki probabilitas sebagai konten buatan AI sebesar 76,2 persen.

    Tim periksa fakta Tirto kemudian menelusuri dokumentasi asli aksi demonstrasi di Iran yang diduga menjadi sumber inspirasi pembuatan video tersebut.

    Dengan menggunakan kata kunci “aksi protes Iran dengan menyalakan lampu ponsel”, ditemukan sejumlah video yang menunjukkan massa demonstran di Iran menyalakan lampu ponsel mereka saat berunjuk rasa.

    Salah satu contohnya adalah unggahan dari akun X @PopularFront_ pada 11 Januari 2026. Unggahan tersebut menampilkan beberapa video aksi demonstrasi di malam hari di wilayah Punak dan Teheran, Iran, dengan massa yang mengangkat dan menggerakkan ponsel mereka dengan lampu menyala ke udara.

    Meski demikian, video tersebut kemudian dibagikan ulang oleh sejumlah pihak tanpa keterangan bahwa konten tersebut merupakan buatan AI, sehingga berpotensi menyesatkan. Perlu ditegaskan bahwa meskipun aksi menyalakan lampu ponsel memang benar terjadi dalam beberapa dokumentasi asli, video yang viral bukanlah rekaman kejadian sebenarnya, melainkan hasil rekayasa visual berbasis AI.

    Kesimpulan

    Hasil penelusuran menunjukkan bahwa video yang beredar bukan rekaman asli demonstrasi di Iran, melainkan visual buatan Artificial Intelligence (AI). Klaim yang menyebut video tersebut sebagai dokumentasi langsung peristiwa demonstrasi salah dan menyesatkan (false and misleading).

    Meski aksi menyalakan lampu ponsel memang terjadi dalam beberapa dokumentasi asli, video viral tersebut dibuat sebagai karya seni berbasis AI dan kerap dibagikan ulang tanpa keterangan yang memadai.

    ==

    Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

    Rujukan

  • (GFD-2026-31810) Cek Fakta: Tidak Benar Link Ini untuk Cek Status Bansos PKH 2026

    Sumber:
    Tanggal publish: 19/01/2026

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Beredar unggahan di media sosial klaim link untuk mengecek status bantuan sosial (bansos) PKH 2026. Informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook sejak 13 Januari 2026.
    Berikut isi unggahannya:
    "Bantuan PKH & BLT Rp 2.500.000 SUDAH CAIR
    Buruan Cek Sekarang Apakah Kalian Juga Dapat Dengan Klik DAFTAR Dibawah!!!"
    Unggahan turut menyertakan poster dengan tulisan sebagai berikut:
    "BANSOS RP600 RIBU
    CAIR AWAL TAHUN 2026
    CEK STATUS & JADWAL DI SINI"
    Unggahan tersebut disertai menu pendaftaran, jika diklik akan muncul link berikut:
    "https://pendaftarandigitals-ri.online/?fbclid=IwY2xjawPayUNleHRuA2FlbQIxMQBicmlkETFKY1RqZ3UyMnBUNWVuNTRrc3J0YwZhcHBfaWQQMjIyMDM5MTc4ODIwMDg5MgABHs74ZBDP-2g8SH3kEh5M1DjVNTydtqNYcOV2jjz7295kyg7BDRqGhF91tOfD_aem_GVuKfJKnnzEC-eEmz2XEhA"
    Link tersebut mengarah pada halaman situs yang menampilkan formulir digital dan meminta data pribadi, seperti nama hingga nomor Telegram.
    Lalu benarkah klaim link untuk mengecek status bansos PKH 2026? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim link untuk mengecek status bansos PKH 2026. Penelusuran mengarah kepada artikel berita Liputan6.com berjudul "Cara Cek Bansos Januari 2026 Pakai KTP, Pastikan Terdaftar" yang tayang pada 14 Januari 2026.
    Dalam artikel ini dijelaskan, masyarakat dapat dengan mudah mengecek status kepesertaan dan jadwal pencairan bantuan sosial melalui platform resmi Kementerian Sosial. Pengecekan ini sangat penting untuk memastikan bahwa nama Anda terdaftar sebagai penerima manfaat. Anda hanya memerlukan data NIK yang tertera pada KTP Anda untuk proses verifikasi.
    Cara paling umum adalah melalui situs resmi cekbansos.kemensos.go.id, lalu memilih nama provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa/kelurahan sesuai KTP. Setelah itu, masukkan nama lengkap sesuai KTP dan kode captcha yang muncul.
    Klik "Cari Data" untuk melihat hasilnya, yang akan menampilkan jenis bantuan, status, dan periode pencairan.
    Alternatif lain adalah menggunakan aplikasi "Cek Bansos" yang dapat diunduh dari Google Play Store atau App Store. Setelah mengunduh, Anda perlu mendaftar akun dengan mengisi data, mengunggah foto KTP, dan swafoto.
    Setelah akun terverifikasi dan aktif, Anda bisa masuk dan memilih menu "Cek Bansos", lalu masukkan data wilayah dan nama untuk melihat hasilnya. Aplikasi ini juga menyediakan fitur Usul dan Sanggah untuk partisipasi masyarakat.

    Kesimpulan


    Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim link untuk mengecek status bansos PKH 2026, tidak benar.
  • (GFD-2026-31825) Video dari Kerumunan Demonstran Iran Menyalakan Senter Buatan AI

    Sumber:
    Tanggal publish: 19/01/2026

    Berita

    tirto.id - Gelombang demonstrasi besar di Iran telah berlangsung lebih dari dua pekan dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah signifikan. Laporan terbaru Tirto.id, berdasar data Iran Human Rights (IHRNGO) per 12 Januari 2026, jumlah korban tewas dalam gelombang protes anti pemerintah itu adalah setidaknya 648 pengunjuk rasa, termasuk sembilan anak di bawah usia 18 tahun, dan ribuan lainnya luka-luka.

    ADVERTISEMENT

    Di tengah derasnya arus informasi terkait kejadian tersebut, beredar sebuah video dengan narasi demonstran warga Iran dengan meramaikan jalanan sambil menyalakan ponsel di tengah kondi kegelapan. Video tersebut diunggah oleh akun Facebook @Calon Ilmuan (arsip) pada Senin (12/01/2026).

    let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

    “Internet diputus dan lampu jalan padam, warga Iran nyalakan lampu ponsel,” tulis narasi dalam video.

    let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

    #gpt-inline3-passback{text-align:center;}

    Dalam video tersebut terlihat ramainya massa yang berbaris memenuhi jalan yang gelap sambil menyalakan lampu di ponselnya. Terdapat juga sudut pandang video di tengah kerumunan yang memperlihatkan lebih dekat massa tersebut.

    let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

    #gpt-inline4-passback{text-align:center;}

    Dalam keterangan video diberikan konteks kejadian. Disebutkan kalau otoritas di Iran memutus akses internet dan jaringan telepon serta mematikan lampu di beberapa ruas jalan untuk membatasi informasi dan memendam unjuk ras.

    Hal ini yang memacu demonstran di Iran menyalakan ponsel mereka sebagai sumber cahaya. "Meski demikian, warga tetap terlihat berjaga diluar ruangan dengan cahaya ponsel yang menyala, menjadi simbol nyata bahwa mereka ada dan tetap menyuarakan kehadiran mereka, meski dalam kondisi terbatas," tulis narasi penyerta video.

    Aksi tersebut digambarkan sebagai simbol keberadaan dan bentuk ekspresi bahwa mereka tetap hadir serta menyuarakan aspirasi.

    ADVERTISEMENT

    Periksa Fakta Demonstran Iran protes dalam gelap. foto/Hotline periksa Fakta tirto

    Hingga Senin (19/01/2026), video tersebut sudah ditonton sekitar 2,1 ribu kali serta mendapatkan 16 tanda reaksi, dua komentar, dan dua kali dibagikan. Tirto menemukan Video serupa dari unggahan sejumlah akun di Instagram. (tautan 1, tautan 2, tautan 3)

    Lalu bagaimana faktanya, benarkah video yang tersebar di media sosial menunjukkan kondisi demonstrasi di Iran?

    Hasil Cek Fakta

    Tirto memulai penelusuran dengan melakuan pencarian gambar terbalik (reverse image search) menggunakan Google Lens, untuk mencari sumber video yang beredar. Hasil penelusuran mengarahkan ke video identik berikut dari akun Instagram @elnaz555 pada 11 Januari 2026.

    Hingga penelusuran ini dilakukan, video tersebut sudah ditonton hingga sekitar 84,6 juta kali. Dalam keterangan unggahannya, pemilik akun menjelaskan meski unggahan tersebut memang terkait konteks kondisi di Iran, konten yang dibagikan bukan rekaman asli. Video kurang dari 15 detik itu adalah karya visual yang dibuat menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI).

    Video tersebut disebut sebagai bentuk penghargaan digital bagi para demonstran di Iran.

    "Karya ini bukanlah pengganti realitas! Ini adalah refleksi dari realitas, sebuah cara untuk membantu lebih banyak orang melihat apa yang terjadi, terutama karena seluruh negeri mengalami pemadaman digital selama 4 hari terakhir," tulis pengunggah video.

    Pengunggah menjelaskan bahwa visual itu terinspirasi dari sebuah video yang beredar sebelumnya, yang memperlihatkan massa demonstran di jalanan gelap Iran menyalakan lampu ponsel mereka setelah pemerintah disebut mematikan lampu jalan. Adegan tersebut kemudian direka ulang melalui seni berbasis AI dengan tujuan membantu menggambarkan situasi protes kepada publik luas, terutama di tengah pemadaman akses digital yang dilaporkan terjadi selama beberapa hari terakhir.

    Untuk memperkuat temuan tersebut, Tirto turut menganalisis video menggunakan alat pendeteksi AI Hive Moderation. Hasil analisis menunjukkan bahwa video tersebut memiliki probabilitas sebagai konten buatan AI sebesar 76,2 persen.

    Tim periksa fakta Tirto kemudian menelusuri dokumentasi asli aksi demonstrasi di Iran yang diduga menjadi sumber inspirasi pembuatan video tersebut.

    Dengan menggunakan kata kunci “aksi protes Iran dengan menyalakan lampu ponsel”, ditemukan sejumlah video yang menunjukkan massa demonstran di Iran menyalakan lampu ponsel mereka saat berunjuk rasa.

    Salah satu contohnya adalah unggahan dari akun X @PopularFront_ pada 11 Januari 2026. Unggahan tersebut menampilkan beberapa video aksi demonstrasi di malam hari di wilayah Punak dan Teheran, Iran, dengan massa yang mengangkat dan menggerakkan ponsel mereka dengan lampu menyala ke udara.

    ?? #Iran: Footage from Punak and Tehran shows massive crowds of protesters using the lights of their mobile phones while chanting anti-government slogans.Authorities have cut electricity to several streets in Tehran in an apparent attempt to suppress the protests. Meanwhile,… pic.twitter.com/gWFZXbxX4q— POPULAR FRONT (@PopularFront_) January 10, 2026

    Meski demikian, video tersebut kemudian dibagikan ulang oleh sejumlah pihak tanpa keterangan bahwa konten tersebut merupakan buatan AI, sehingga berpotensi menyesatkan. Perlu ditegaskan bahwa meskipun aksi menyalakan lampu ponsel memang benar terjadi dalam beberapa dokumentasi asli, video yang viral bukanlah rekaman kejadian sebenarnya, melainkan hasil rekayasa visual berbasis AI.

    Kesimpulan

    Hasil penelusuran menunjukkan bahwa video yang beredar bukan rekaman asli demonstrasi di Iran, melainkan visual buatan Artificial Intelligence (AI). Klaim yang menyebut video tersebut sebagai dokumentasi langsung peristiwa demonstrasi salah dan menyesatkan (false and misleading).

    Meski aksi menyalakan lampu ponsel memang terjadi dalam beberapa dokumentasi asli, video viral tersebut dibuat sebagai karya seni berbasis AI dan kerap dibagikan ulang tanpa keterangan yang memadai.

    ==

    Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

    Rujukan