tirto.id - Gelombang demonstrasi besar di Iran telah berlangsung lebih dari dua pekan dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah signifikan. Laporan terbaru Tirto.id, berdasar data Iran Human Rights (IHRNGO) per 12 Januari 2026, jumlah korban tewas dalam gelombang protes anti pemerintah itu adalah setidaknya 648 pengunjuk rasa, termasuk sembilan anak di bawah usia 18 tahun, dan ribuan lainnya luka-luka.
ADVERTISEMENT
Di tengah derasnya arus informasi terkait kejadian tersebut, beredar sebuah video dengan narasi demonstran warga Iran dengan meramaikan jalanan sambil menyalakan ponsel di tengah kondi kegelapan. Video tersebut diunggah oleh akun Facebook @Calon Ilmuan (arsip) pada Senin (12/01/2026).
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“Internet diputus dan lampu jalan padam, warga Iran nyalakan lampu ponsel,” tulis narasi dalam video.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Dalam video tersebut terlihat ramainya massa yang berbaris memenuhi jalan yang gelap sambil menyalakan lampu di ponselnya. Terdapat juga sudut pandang video di tengah kerumunan yang memperlihatkan lebih dekat massa tersebut.
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Dalam keterangan video diberikan konteks kejadian. Disebutkan kalau otoritas di Iran memutus akses internet dan jaringan telepon serta mematikan lampu di beberapa ruas jalan untuk membatasi informasi dan memendam unjuk ras.
Hal ini yang memacu demonstran di Iran menyalakan ponsel mereka sebagai sumber cahaya. "Meski demikian, warga tetap terlihat berjaga diluar ruangan dengan cahaya ponsel yang menyala, menjadi simbol nyata bahwa mereka ada dan tetap menyuarakan kehadiran mereka, meski dalam kondisi terbatas," tulis narasi penyerta video.
Aksi tersebut digambarkan sebagai simbol keberadaan dan bentuk ekspresi bahwa mereka tetap hadir serta menyuarakan aspirasi.
ADVERTISEMENT
Periksa Fakta Demonstran Iran protes dalam gelap. foto/Hotline periksa Fakta tirto
Hingga Senin (19/01/2026), video tersebut sudah ditonton sekitar 2,1 ribu kali serta mendapatkan 16 tanda reaksi, dua komentar, dan dua kali dibagikan. Tirto menemukan Video serupa dari unggahan sejumlah akun di Instagram. (tautan 1, tautan 2, tautan 3)
Lalu bagaimana faktanya, benarkah video yang tersebar di media sosial menunjukkan kondisi demonstrasi di Iran?
(GFD-2026-31980) Video dari Kerumunan Demonstran Iran Menyalakan Senter Buatan AI
Sumber:Tanggal publish: 19/01/2026
Berita
Hasil Cek Fakta
Tirto memulai penelusuran dengan melakuan pencarian gambar terbalik (reverse image search) menggunakan Google Lens, untuk mencari sumber video yang beredar. Hasil penelusuran mengarahkan ke video identik berikut dari akun Instagram @elnaz555 pada 11 Januari 2026.
Hingga penelusuran ini dilakukan, video tersebut sudah ditonton hingga sekitar 84,6 juta kali. Dalam keterangan unggahannya, pemilik akun menjelaskan meski unggahan tersebut memang terkait konteks kondisi di Iran, konten yang dibagikan bukan rekaman asli. Video kurang dari 15 detik itu adalah karya visual yang dibuat menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Video tersebut disebut sebagai bentuk penghargaan digital bagi para demonstran di Iran.
"Karya ini bukanlah pengganti realitas! Ini adalah refleksi dari realitas, sebuah cara untuk membantu lebih banyak orang melihat apa yang terjadi, terutama karena seluruh negeri mengalami pemadaman digital selama 4 hari terakhir," tulis pengunggah video.
Pengunggah menjelaskan bahwa visual itu terinspirasi dari sebuah video yang beredar sebelumnya, yang memperlihatkan massa demonstran di jalanan gelap Iran menyalakan lampu ponsel mereka setelah pemerintah disebut mematikan lampu jalan. Adegan tersebut kemudian direka ulang melalui seni berbasis AI dengan tujuan membantu menggambarkan situasi protes kepada publik luas, terutama di tengah pemadaman akses digital yang dilaporkan terjadi selama beberapa hari terakhir.
Untuk memperkuat temuan tersebut, Tirto turut menganalisis video menggunakan alat pendeteksi AI Hive Moderation. Hasil analisis menunjukkan bahwa video tersebut memiliki probabilitas sebagai konten buatan AI sebesar 76,2 persen.
Tim periksa fakta Tirto kemudian menelusuri dokumentasi asli aksi demonstrasi di Iran yang diduga menjadi sumber inspirasi pembuatan video tersebut.
Dengan menggunakan kata kunci “aksi protes Iran dengan menyalakan lampu ponsel”, ditemukan sejumlah video yang menunjukkan massa demonstran di Iran menyalakan lampu ponsel mereka saat berunjuk rasa.
Salah satu contohnya adalah unggahan dari akun X @PopularFront_ pada 11 Januari 2026. Unggahan tersebut menampilkan beberapa video aksi demonstrasi di malam hari di wilayah Punak dan Teheran, Iran, dengan massa yang mengangkat dan menggerakkan ponsel mereka dengan lampu menyala ke udara.
Meski demikian, video tersebut kemudian dibagikan ulang oleh sejumlah pihak tanpa keterangan bahwa konten tersebut merupakan buatan AI, sehingga berpotensi menyesatkan. Perlu ditegaskan bahwa meskipun aksi menyalakan lampu ponsel memang benar terjadi dalam beberapa dokumentasi asli, video yang viral bukanlah rekaman kejadian sebenarnya, melainkan hasil rekayasa visual berbasis AI.
Hingga penelusuran ini dilakukan, video tersebut sudah ditonton hingga sekitar 84,6 juta kali. Dalam keterangan unggahannya, pemilik akun menjelaskan meski unggahan tersebut memang terkait konteks kondisi di Iran, konten yang dibagikan bukan rekaman asli. Video kurang dari 15 detik itu adalah karya visual yang dibuat menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Video tersebut disebut sebagai bentuk penghargaan digital bagi para demonstran di Iran.
"Karya ini bukanlah pengganti realitas! Ini adalah refleksi dari realitas, sebuah cara untuk membantu lebih banyak orang melihat apa yang terjadi, terutama karena seluruh negeri mengalami pemadaman digital selama 4 hari terakhir," tulis pengunggah video.
Pengunggah menjelaskan bahwa visual itu terinspirasi dari sebuah video yang beredar sebelumnya, yang memperlihatkan massa demonstran di jalanan gelap Iran menyalakan lampu ponsel mereka setelah pemerintah disebut mematikan lampu jalan. Adegan tersebut kemudian direka ulang melalui seni berbasis AI dengan tujuan membantu menggambarkan situasi protes kepada publik luas, terutama di tengah pemadaman akses digital yang dilaporkan terjadi selama beberapa hari terakhir.
Untuk memperkuat temuan tersebut, Tirto turut menganalisis video menggunakan alat pendeteksi AI Hive Moderation. Hasil analisis menunjukkan bahwa video tersebut memiliki probabilitas sebagai konten buatan AI sebesar 76,2 persen.
Tim periksa fakta Tirto kemudian menelusuri dokumentasi asli aksi demonstrasi di Iran yang diduga menjadi sumber inspirasi pembuatan video tersebut.
Dengan menggunakan kata kunci “aksi protes Iran dengan menyalakan lampu ponsel”, ditemukan sejumlah video yang menunjukkan massa demonstran di Iran menyalakan lampu ponsel mereka saat berunjuk rasa.
Salah satu contohnya adalah unggahan dari akun X @PopularFront_ pada 11 Januari 2026. Unggahan tersebut menampilkan beberapa video aksi demonstrasi di malam hari di wilayah Punak dan Teheran, Iran, dengan massa yang mengangkat dan menggerakkan ponsel mereka dengan lampu menyala ke udara.
Meski demikian, video tersebut kemudian dibagikan ulang oleh sejumlah pihak tanpa keterangan bahwa konten tersebut merupakan buatan AI, sehingga berpotensi menyesatkan. Perlu ditegaskan bahwa meskipun aksi menyalakan lampu ponsel memang benar terjadi dalam beberapa dokumentasi asli, video yang viral bukanlah rekaman kejadian sebenarnya, melainkan hasil rekayasa visual berbasis AI.
Kesimpulan
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa video yang beredar bukan rekaman asli demonstrasi di Iran, melainkan visual buatan Artificial Intelligence (AI). Klaim yang menyebut video tersebut sebagai dokumentasi langsung peristiwa demonstrasi salah dan menyesatkan (false and misleading).
Meski aksi menyalakan lampu ponsel memang terjadi dalam beberapa dokumentasi asli, video viral tersebut dibuat sebagai karya seni berbasis AI dan kerap dibagikan ulang tanpa keterangan yang memadai.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Meski aksi menyalakan lampu ponsel memang terjadi dalam beberapa dokumentasi asli, video viral tersebut dibuat sebagai karya seni berbasis AI dan kerap dibagikan ulang tanpa keterangan yang memadai.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
- https://tirto.id/korban-tewas-demo-di-iran-bertambah-jadi-757-orang-hpcD
- https://www.facebook.com/reel/733350009831304
- https://archive.today/0bvrd
- https://www.instagram.com/reel/DTfVvDbkvJo/?igsh=MWV6d2RmbGVkd2p3dw==
- https://www.instagram.com/reel/DTdNaWVER94/?igsh=MXZrbDV5Y3BsanF2NQ==
- https://www.instagram.com/reel/DTffCkwkyeW/?igsh=c3ViOGxzZ2hnY3Vu
- https://www.instagram.com/reel/DTWXsHajNvl/
- https://hivemoderation.com/ai-generated-content-detection
- https://x.com/i/status/2010085468822806651
(GFD-2026-31775) Cek Fakta: Tidak Benar Link Pendaftaran CPNS Kemendagri pada 11 Januari-7 Februari 2026
Sumber:Tanggal publish: 18/01/2026
Berita
Liputan6.com, Jakarta - Beredar postingan di media sosial klaim link pendaftaran CPNS di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada 11 Januari - 7 Februari 2026. Informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook pada 15 Januari 2026.
Berikut isi unggahannya:
"BUKA ! PENDAFTARAN CPNS KEMENTERIAN DALAM NEGRI 2026
Bergabung lah dalam pasukan pembina keamanan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia
Pendaftaran 11 Januari s/d 7 February Info Pendaftaran 👇 https://cpnsp3k.rhbapk.com/"
Unggahan disertai poster dengan tulisan:
"PENDAFTARAN CPNS KEMENTERIAN DALAM Negeri
11 JANUARI-7 FEBRUARI 2026
LULUSAN SMA/SEDERAJAT, D3 & S1 PENEMPATAN SELURUH WILAYAH INDONESIA"
Jika tautan pendaftaran diklik, akan mengarah pada halaman situs dengan tampilan formulir digital yang meminta sejumlah identitas pribadi seperti nama hingga nomor Telegram.
Lalu benarkah klaim link pendaftaran CPNS di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada 11 Januari - 7 Februari 2026? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim link pendaftaran CPNS di Kementerian Dalam Negeri pada 11 Januari - 7 Februari 2026. Penelusuran mengarah pada artikel berita Liputan6.com berjudul "Bocoran Terbaru Rekrutmen CPNS 2026, Siap-Siap Daftar" yang tayang pada 7 Januari 2026.
Artikel ini menerangkan, seleksi calon aparatur sipil negara (CASN) atau CPNS 2026 sedang dipersiapkan. Proses pengadaannya bakal diinisiasi oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), didukung oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan instansi terkait lainnya.
Kepala BKN Zudan Arif Fakrulloh mengatakan, pembahasan terkait CASN 2026 sudah digulirkan. Namun pengadaannya masih menunggu kebutuhan formasi dari masing-masing instansi.
"Itu sering kita bahas dalam berbagai forum. Masih menunggu permintaan formasi dari kementerian/lembaga, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota," ujar Zudan Arif kepada Liputan6.com, Rabu 7 Januari 2026.
Penelusuran juga mengarah pada artikel berita dari Liputan6.com berjudul "Viral Pendaftaran Seleksi CPNS 2026, Simak Panduan Pendaftarannya" yang tayang pada 17 November 2025.
Dalam artikel ini ditegaskan, seluruh proses pendaftaran dan seleksi CPNS 2026 hanya akan dilakukan melalui portal resmi Sistem Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (SSCASN) milik BKN yakni https://sscasn.bkn.go.id.
Kesimpulan
Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim link pendaftaran CPNS di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada 11 Januari - 7 Februari 2026, tidak benar.
(GFD-2026-31776) Cek Fakta: Tidak Benar Link untuk Mengecek Status Penerima BSU Januari 2026
Sumber:Tanggal publish: 18/01/2026
Berita
Liputan6.com, Jakarta - Beredar postingan di media sosial klaim link untuk mengecek status penerima Bantuan Subsidi Upah (BSU) Januari 2026. Informasi tersebut diunggah di salah satu akun Facebook pada 12 Januari 2026.
Berikut isi unggahannya:
"Cara cek penerima BSU di bulan Januari 2026 via Kemanker dan BPJS ketenagakerjaan
BSU CAIR DI BULAN INI SAMPAI AKHIR TAHUN 2026"
Unggahan disertai poster dengan tulisan:
"Bantuan Subsidi Upah Rp950 Ribu
Cek Nama Anda, Terdaftar atau Tidak Ya?
Subsidi gaji untuk pekerja swasta dengan penghasilan di bawa Rp 5jt akan di salurkan akan di ambil dari data peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek)
Gimana cara cek Silahkan klik link Pendaftaran Resmi Kami
Klik Daftar Sekarang Juga!!"
Unggahan disertai menu daftar, jika diklik akan muncul link berikut:
"https://registernow.cek-verif.online/?fbclid=IwY2xjawPZb7RleHRuA2FlbQIxMQBicmlkETFKekwwQ3pkRVdVd3lQbXRoc3J0YwZhcHBfaWQQMjIyMDM5MTc4ODIwMDg5MgABHkQfEelpe2fXn9Wg82MROHktoxaylwWQX1ZI5-vWBn8qw14HieXibO4pxM5N_aem_KL-gXxxfUg3MgrMPBXPGCA"
Link tersebut mengarah pada halaman situs yang menampilkan formulir digital dan meminta data pribadi seperti nama hingga nomor Telegram.
Lalu benarkah klaim link untuk mengecek status penerima BSU Januari 2026? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim link untuk mengecek status penerima BSU Januari 2026. Penelusuran mengarah ke artikel berita dari Liputan6.com berjudul "Ramai Info BSU 2026, Kemnaker Tegaskan Belum Ada Kebijakan Resmi" yang tayang pada 7 Januari 2026.
Dalam artikel ini, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai maraknya informasi palsu atau hoaks yang mengatasnamakan Program Bantuan Subsidi Upah (BSU) 2026. Informasi menyesatkan tersebut umumnya disertai tautan pendaftaran tidak resmi yang berpotensi mengarah pada penipuan.
Kepala Biro Humas Kemnaker, Faried Abdurrahman Nur Yuliono, mengatakan klarifikasi ini perlu disampaikan menyusul beredarnya unggahan di media sosial, pesan berantai, hingga sejumlah pemberitaan yang mencatut Program BSU 2026. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
"Kami mengimbau masyarakat tidak mudah percaya pada hoaks dan disinformasi tentang BSU, khususnya yang mengarahkan pendaftaran melalui tautan tidak resmi, karena BSU tidak memerlukan pendaftaran mandiri," kata Faried dikutip dari Antara, Rabu (7/1/2026).
Ia menegaskan, masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam menyikapi setiap informasi terkait BSU yang beredar di luar kanal resmi pemerintah. Menurutnya, modus penipuan kerap memanfaatkan tingginya minat masyarakat terhadap program bantuan pemerintah.
"Informasi resmi BSU hanya disampaikan melalui laman bsu.kemnaker.go.id dan media sosial resmi Kementerian Ketenagakerjaan," ujar Faried.
Kesimpulan
Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim link untuk mengecek status penerima BSU Januari 2026, tidak benar.
(GFD-2026-31771) Hoaks! Hakim resmi putuskan ijazah Jokowi palsu
Sumber:Tanggal publish: 17/01/2026
Berita
Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di platform X menampilkan tangkapan layar bertajuk breaking news yang memperlihatkan gambar ruang sidang dan menarasikan seolah-olah hakim di Surakarta telah memutuskan bahwa ijazah Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, adalah palsu.
Berikut narasi dalam unggahan tersebut:
“SIDANG GUGATAN IJAZAH JOKOWI
BREAKING NEWS
HAKIM SURAKARTA MENYATAKAN IJAZAH JOKOWI PALSU”
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Unggahan tersebut juga disertai narasi:
“BREAKING NEWS... SIDANG GUGATAN IJAZAH JOKOWI, HAKIM SURAKARTA MENYATAKAN IJAZAH JOKOWI PALSU....”
Namun, benarkah hakim resmi putuskan ijazah Jokowi palsu?
Berikut narasi dalam unggahan tersebut:
“SIDANG GUGATAN IJAZAH JOKOWI
BREAKING NEWS
HAKIM SURAKARTA MENYATAKAN IJAZAH JOKOWI PALSU”
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Unggahan tersebut juga disertai narasi:
“BREAKING NEWS... SIDANG GUGATAN IJAZAH JOKOWI, HAKIM SURAKARTA MENYATAKAN IJAZAH JOKOWI PALSU....”
Namun, benarkah hakim resmi putuskan ijazah Jokowi palsu?
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran, hingga saat ini belum terdapat putusan resmi pengadilan yang menyatakan ijazah Jokowi palsu.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Informasi yang benar menunjukkan bahwa Majelis Komisioner Komisi Informasi Pusat hanya mengabulkan permohonan sengketa informasi yang diajukan oleh pengamat kebijakan publik Bonatua Silalahi dan memerintahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI untuk menyerahkan salinan ijazah Jokowi karena dinyatakan sebagai informasi publik yang terbuka, bukan sebagai putusan hukum yang menyatakan ijazah tersebut palsu.
"Menyatakan informasi salinan ijazah atas nama Joko Widodo yang digunakan sebagai persyaratan pencalonan Presiden RI periode 2004 dan 2022 merupakan informasi yang terbuka," kata Ketua Majelis Handoko Agung Saputro, dilansir dari ANTARA.
Dengan demikian, klaim dalam unggahan yang menyebut hakim Surakarta telah memutuskan ijazah Jokowi palsu merupakan hoaks.
Klaim: Hakim resmi putuskan ijazah Jokowi palsu
Rating: Hoaks
Pewarta: Tim JACX
Editor: M Arief Iskandar
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Informasi yang benar menunjukkan bahwa Majelis Komisioner Komisi Informasi Pusat hanya mengabulkan permohonan sengketa informasi yang diajukan oleh pengamat kebijakan publik Bonatua Silalahi dan memerintahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI untuk menyerahkan salinan ijazah Jokowi karena dinyatakan sebagai informasi publik yang terbuka, bukan sebagai putusan hukum yang menyatakan ijazah tersebut palsu.
"Menyatakan informasi salinan ijazah atas nama Joko Widodo yang digunakan sebagai persyaratan pencalonan Presiden RI periode 2004 dan 2022 merupakan informasi yang terbuka," kata Ketua Majelis Handoko Agung Saputro, dilansir dari ANTARA.
Dengan demikian, klaim dalam unggahan yang menyebut hakim Surakarta telah memutuskan ijazah Jokowi palsu merupakan hoaks.
Klaim: Hakim resmi putuskan ijazah Jokowi palsu
Rating: Hoaks
Pewarta: Tim JACX
Editor: M Arief Iskandar
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Rujukan
Halaman: 527/7823


