• (GFD-2020-4964) [SALAH] Video “RUSIA BERSHOLAWAT”

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 08/09/2020

    Berita

    Akun Nunang Kadim (fb.com/nunang.kadim.50) mengunggah sebuah video dengan narasi:

    “RUSIA BERSHOLAWAT”

    Yang terlihat dalam video tersebut adalah seorang wanita tengah melantunkan sholawat badar yang juga diikuti oleh para penonton.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya video Rusia bershalawat adalah klaim yang salah.

    Faktanya, video itu bukan di Rusia. Video itu adalah video ketika qariah terkenal Malaysia Sharifah Khasif Fadzilah Syed Mohd Baduzzaman Al Yahya menyanyikan lagu kasidah di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina.

    Klaim ini sebelumnya pernah diperiksa faktanya pada November 2019 di artikel berjudul “[SALAH] “Di Rusia Juga Ada Yang Bersholawat” yang dimuat di turnbackhoax.id pada 14 November 2019.

    Dikutip dari turnbackhoax.id, setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, belakangan diketahui bahwa video tersebut terjadi bukan di Rusia melainkan di Bosnia Herzegovina. Hal tersebut terungkap melalui tayangan video di situs web berbagi video Youtube. Video yang diunggah melalui Youtube dan diberi judul “Kehebatan Shafirah Khasif” diunggah pada 26 Maret 2018.

    Dilansir dari AFP, keterangan video itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai berikut : “KUALA LUMPUR 26 Maret – Video qariah terkenal nasional Sharifah Khasif Fadzilah Syed Mohd Baduzzaman Al Yahya menyanyikan lagu kasidah di Sarajevo, Bosnia Herzegovina di akhir tahun lalu mulai menjadi viral hari ini.

    “Video berdurasi 6 menit 25 detik itu menunjukkan Sharifah Khasif melantunkan Selawat Rasulullah di hadapan lebih dari 10.000 orang dan diiringi dua penari Sufi dari Turki serta sekelompok penyanyi latar dan musisi pengiring.”

    Adegan di video di unggahan menyesatkan bisa dilihat dari menit ke-2:22 di video asli.

    Sharifah juga mengunggah video yang sama di laman Facebooknya pada tanggal 24 Maret 2018.

    Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, status unggahan itu berbunyi: “Saya merasa terhormat untuk mewakili negara saya, Malaysia di malam Alquran dan Kasidah Internasional yang mulia di Bosnia & Herzegovina dengan lebih dari 10.000 penggemar dari seluruh dunia, setelah 30 tahun berlumuran darah, keringat dan air mata …. Saya bersyukur atas semua keistimewaan menjadi Qariah Internasional membawa jalan saya, kesempatan untuk melihat dunia, persahabatan, pertemanan dan masih banyak lagi …. Pasti kenangan terbaik yang akan saya hargai dan tidak pernah lupa .. Terima kasih telah menerima saya..”.

    Kesimpulan

    Bukan di Rusia. Video itu adalah video ketika qariah terkenal Malaysia Sharifah Khasif Fadzilah Syed Mohd Baduzzaman Al Yahya menyanyikan lagu kasidah di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina.

    Rujukan

  • (GFD-2020-8262) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ribuan Ikan Datangi Pantai Gaza Usai Israel Larang Nelayan Palestina Melaut?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 07/09/2020

    Berita


    Video yang memperlihatkan sejumlah pria sedang menangkap ribuan ikan yang terdampar di pantai beredar di media sosial. Video ini diklaim sebagai video ribuan ikan yang mendatangi pantai Gaza di setelah Israel melarang warga di wilayah Palestina tersebut melaut untuk mencari ikan.
    "Masya Allah Israel melarang Warga gaza Menangkap ikan Di laut. Tapi, Allah Pemilik laut Memerintahkan Ikan-ikan Untuk berenang Ketepi pantai Supaya muda Ditangkap oleh Para nelayan Seluruh warga Gaza. Allahu Akbar," demikian narasi dalam video tersebut.
    Di Instagram, video itu dibagikan salah satunya oleh akun @nitaz98 pada 2 September 2020. Hingga artikel ini dimuat, video itu telah ditonton lebih dari 123 ribu kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Instagram @nitaz98.
    Apa benar video di atas adalah video ribuan ikan yang mendatangi pantai Gaza, Palestina, setelah Israel melarang nelayan di sana mencari ikan?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video tersebut menjadi beberapa gambar dengantoolInVID. Selanjutnya, gambar-gambar itu ditelusuri denganreverse image toolGoogle dan Yandex. Hasilnya, ditemukan jejak digital yang menunjukkan bahwa video tersebut merupakan video terdamparnya ikan di Oman dan Yaman, dua negara di Timur Tengah yang bersebelahan, akibat badai Mekunu pada 2018.
    Video yang sama pernah diunggah oleh kanal YouTube Oman2363 pada 25 September 2019 dengan judul "Hasil tangkapan melimpah di Oman". Video serupa, yang diambil dari peristiwa yang sama, juga pernah diunggah oleh kanal milik stasiun televisi RT Arabic pada 5 September 2019 dengan judul "Saksikan kemudahan memancing di Teluk Oman".
    Video tersebut diberi keterangan: “Sebuah klip video yang baru beredar mendokumentasikan fenomena aneh di Teluk Oman, di mana nelayan menangkap ikan hanya dengan keranjang, dengan mudah, mengingat padatnya stok ikan di kawasan itu. Klip tersebut dengan cepat menyebar melalui media sosial.”
    Video itu pun pernah diunggah oleh kanal YouTube Moayed Al-Shaibani pada 24 Mei 2018 dengan judul “Topan di Yaman 2”. Kanal ini juga mengunggah lima video lainnya dari peristiwa yang sama, mulai dari terdamparnya ribuan ikan di pantai, kondisi di tengah laut ketika badai terjadi, hingga terjadinya banjir di kota akibat badai.
    Dilansir dari situs media Turki, Yenisafak.com, pada 26 Mei 2018 memang terjadi gelombang raksasa yang ditimbulkan oleh badai Mekunu, yang dimulai dari Yaman menuju ke Oman, dan membawa ikan-ikan tersebut ke pantai Yaman. Badai Mekunu, yang dimulai dari Pulau Socotra dan menyeret ikan ke pantai Yaman, menyebabkan terjadinya banjir di Oman.
    Para nelayan bergegas ke pantai setelah badai Mekunu mereda, kemudian dengan gembira memenuhi perahu mereka dengan ikan-ikan tersebut. Menurut para nelayan tersebut, itu adalah pertama kalinya mereka menemukan hal seperti itu di negaranya.
    Dikutip dari kantor berita Al Jazeera, badai Mekunu yang terjadi ketika itu memiliki kecepatan angin hingga 185 kilometer per jam. Salah satu kota di Oman, Salalah, diguyur hujan deras dan angin kencang, padahal episentrum badai berada sekitar 80 kilometer dari daerah tersebut.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas merupakan video ribuan ikan yang mendatangi pantai Gaza setelah Israel melarang nelayan di sana mencari ikan, keliru. Peristiwa dalam video tersebut terjadi di Oman dan Yaman. Ribuan ikan terseret ke pantai akibat badai Mekunu yang melanda perbatasan kedua negara itu pada Mei 2018.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8263) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Cina Bangun Pangkalan Militer di Indonesia?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 07/09/2020

    Berita


    Klaim bahwa Cina membangun pangkalan militer di Indonesia beredar di media Facebook. Klaim ini diunggah salah satunya oleh akun Roni Abdul Fattah, yakni pada 5 September 2020.
    Akun itu menulis, "Cina bangun pangkalan militer di Indonesia. Harus siap-siap nih dari sekarang. Mudah-mudahan pintu jihad terbuka, sehingga peluang syahid terbuka lebar dihadapan kita wahai kaum Muslimin. Islam vs Komunis."
    Klaim tersebut dibagikan bersama dengan foto tayangan berita di stasiun televisi tvOne yang berjudul "Cina Bangun Pangkalan Militer di RI? Indonesia Anut Politik Luar Negeri Bebas Aktif".
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Roni Abdul Fattah.
    Apa benar Cina bangun pangkalan militer di Indonesia?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri tayangan berita di tvOne yang berjudul "Cina Bangun Pangkalan Militer di RI? Indonesia Anut Politik Luar Negeri Bebas Aktif". Di kanal YouTube tvOneNews, tayangan itu diunggah pada 4 September 2020. Menurut berita itu, AS menuding Cina berupaya membangun pangkalan militer di Indonesia. Namun, aktivitas-aktivitas pembangunan yang terekam dalam video itu hanyalah ilustrasi, di mana cuplikan-cuplikan itu telah beredar di YouTube sejak 2017.
    Menurut berita itu, Amerika Serikat menyatakan bahwa Cina sedang mempertimbangkan untuk membangun jaringan logistik militer yang dapat mencakup wilayah Afrika dan Asia Pasifik, seperti Myanmar, Thailand, Singapura, Indonesia, dan sebagainya. Wilayah tersebut meliputi area di Laut Cina Selatan yang dipersengketakan Cina dengan Indonesia. Rencana ini terdapat dalam laporan yang disusun oleh Kementerian Pertahanan AS.
    Namun, dalam tayangan itu, juru bicara Menteri Pertahanan RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa Indonesia akan tetap menganut asas politik luar negeri bebas aktif. Artinya, Indonesia menjaga kedekatan yang sama dengan seluruh negara, baik Cina maupun AS. "Jadi, pada prinsipnya, Pak Prabowo (Menhan) aktif berkomunikasi dengan seluruh negara di kawasan untuk terus mendorong zonapeace, freedom, and neutrality," kata Dahnil.
    Dalam tayangan itu, pengamat hubungan internasional Hikmahanto Juwono juga menuturkan bahwa publik harus berhati-hati menyikapi laporan dari AS ini. Beberapa waktu lalu, sempat terjadi ketegangan antara AS dan Cina. Menurut dia, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pun ketika itu menyinggung konflik antara beberapa negara ASEAN dan Cina terkait Laut Cina Selatan.
    "Ini kan sebenarnya rivalitas antara Cina dan AS, tapi dia perlu bantuan negara-negara lain untuk mendukung. Indonesia strategis. AS tahu bahwa sebenarnya politik luar negeri kita bebas aktif, tidak akan melakukan hal seperti itu. Tapi mungkin dia ingin memunculkan kemarahan dari Indonesia, lalu akan mendukung tindakan AS untuk berhadapan dengan Cina," katanya.
    Dilansir dari situs media CNBC Indonesia, menurut laporan Kemenhan AS yang berjudul "Military and Security Developments Involving The People's Republic of China" itu, selain Indonesia, Cina menargetkan Myanmar, Thailand, Singapura, Pakistan, Sri Lanka, Uni Emirat Arab, Kenya, Seychelles, Tanzania, Angola, dan Tajikistan. "Cina kemungkinan besar sudah mempertimbangkan dan merencanakan fasilitas logistik militer tambahan untuk mendukung proyeksi angkatan laut, udara, dan darat," demikian tertulis dalam laporan itu.
    Namun, Cina membantah tudingan itu. Cina bahkan mendesak balik AS dan meminta mereka berhenti membuat laporan yang "tidak bertanggung jawab" dari tahun ke tahun. "Kami mendesak pihak AS untuk meninggalkan mentalitas perang dingin yang sudah ketinggalan zaman dan pola pikirzero-sum game," kata juru bicara Kemenlu Cina Hua Chunying.
    Menurut dia, laporan terbaru ini sama dengan laporan sebelumnya yang mengabaikan fakta dan penuh bias. "Cina dengan tegas menentang komentar yang tidak pantas tentang pertahanan nasional Cina dan distorsi yang disengaja dari niat strategis Cina," ujar Chunying.
    Juru bicara Kemenlu RI, Teuku Faizasyah, pun mengatakan bahwa pendirian pangkalan militer Cina di Indonesia tidak memungkinkan, karena konsep politik luar negeri bebas aktif. "Politik luar negeri RI yang bebas aktif tidak membuka ruang untuk adanya kerjasama militer semacam ini dengan negara mana pun," katanya.
    "Tidak mungkin ada kerjasama semacam ini, terlebih lagi Indonesia adalah negara yang aktif mendorong kawasan ASEAN yg damai, bebas, dan netral (ZOPFAN) dan konsisten menolak pangkalan militer asing di kawasan Asia Tenggara," ujar Faizasyah menambahkan.
    ZOPFAN adalah Zone of Peace, Freedom, and Neutrality. Pernyataan tentang ZOPFAN ditandatangani oleh menteri luar negeri lima negara ASEAN, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, pada 1971 demi menjaga kawasan Asia Tenggara bebas dari campur tangan kekuatan lain dan selalu bekerja sama.
    Dilansir dari situs media CNN Indonesia, anggota Komisi Pertahanan atau Komisi I DPR Effendi Simbolon juga mengatakan bahwa tidak ada peluang sekecil apapun bagi Cina atau negara mana pun di dunia untuk membangun pangkalan militer di Indonesia. "Sangat tidak mungkin. Tidak boleh ada kebijakan kerja sama memberi akses pangkalan militer dalam bentuk apapun kepada negara mana pun," katanya.
    Effendi mengatakan, selama ini, kerja sama militer memang kerap dilakukan oleh Indonesia dengan negara lain. Namun, kerja sama militer dengan membangun pangkalan militer adalah dua hal yang berbeda. Pembangunan pangkalan militer, kata dia, tidak boleh terjadi. Indonesia selaku negara berdaulat tidak boleh sekali pun memberi celah kepada negara lain untuk membangun pertahanan militer di wilayahnya.
    Dikutip dari CNBC Indonesia, pengamat hubungan internasional Hikmahanto Juwono mengatakan tidak mungkin Cina membangun pangkalan militer di Indonesia. Alasannya, Indonesia menganut kebijakan luar negeri bebas aktif, yang tidak memungkinkan Indonesia menerima fasilitas bahkan pangkalan militer dari negara lain.
    Hikmahanto bercerita bahwa Indonesia pernah diajak bergabung dalam Pakta Pertahanan negara-negara di Asia Tenggara, yang disebut SEATO (Southeast Asia Treaty Organisation). Ketika itu, kata Indonesia menolak untuk masuk dalam pakta ini. "Pemerintah akan konsisten. Saya yakin pemerintah akan konsisten menggunakan kebijakan politik bebas dan aktif," kata Hikmahanto.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Cina membangun pangkalan militer di Indonesia menyesatkan. Klaim ini diambil dari laporan yang dibuat oleh Kemenhan AS. Namun, laporan itu hanya menyatakan bahwa "Cina kemungkinan besar sudah mempertimbangkan dan merencanakan fasilitas logistik militer tambahan" di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Cina pun telah membantah tudingan tersebut. Selain itu, menurut Kemenlu RI, tidak mungkin Cina membangun pangkalan militer di Indonesia, karena Indonesia menganut asas politik luar negeri bebas aktif, yang tidak membuka ruang untuk adanya kerjasama militer semacam itu dengan negara mana pun.
    IBRAHIM ARSYAD
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8264) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Media Vatikan Memuat Berita Anies yang Dicemooh Orang Italia?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 07/09/2020

    Berita


    Gambar tangkapan layar sebuah judul berita dalam bahasa Italia tentang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan beredar di media sosial. Judul itu berbunyi “Gli Italiani Chiamano Anies Baswedan Troppo Stupido Come il Governatore di Jakarta”. Dalam gambar tersebut, ada pula logo situs media Vatikan, Vatican News.
    Judul itu, jika diterjemahkan, berarti "Orang Italia Sebut Anies Baswedan Terlalu Bodoh Seperti Gubernur Jakarta". Dalam gambar tangkapan layar itu, terdapat pula foto seorang pria bermasker dan berompi oranye yang terbaring di dalam peti.
    Di Facebook, gambar tangkapan layar tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Yoon Young, yakni pada 6 September 2020. Akun ini pun menuliskan narasi, “Kegoblokano anieso baswedano sudahno sampaino ke vatikano italiano. Sungguhno Sandiaga uno, eeehhhh....maksutno nomero uno.”
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yoon Young (kiri) dan gambar yang diklaim sebagai berita dari situs Vatican News (kanan).
    Apa benar situs Vatican News memuat berita tentang Anies Baswedan yang dicemooh oleh orang Italia?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto pria bermasker dan berompi oranye dalam unggahan akun Yoon Young denganreverse image toolSource dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa foto tersebut pernah dimuat oleh situs Media Indonesia pada 4 September 2020. Foto itu diberi keterangan “Sanksi masuk peti”.
    Berita Media Indonesia yang memuat foto tersebut berjudul "Tuai Kritik, Sanksi Masuk Peti Jenazah Dihentikan". Berita itu berisi tentang dihentikannya sanksi memasukkan para pelanggar protokol kesehatan Covid-19 ke peti oleh Satpol PP Jakarta Timur setelah menuai kritik dari masyarakat.
    Tempo kemudian menelusuri arsip berita Vatican News dengan memasukkan kata kunci sesuai judul dalam unggahan akun Yoon Young, "Gli Italiani Chiamano Anies Baswedan Troppo Stupido Come il Governatore di Jakarta Vatican News", ke mesin pencarian Google. Hasilnya, tidak ditemukan berita dengan judul tersebut di Vatican News. Begitu pula saat Tempo menelusurinya lewat kolom pencarian situs Vatican News.
    Lewat pencarian di situs Vatican News, hanya ditemukan dua berita yang berisi kata kunci "Anies Baswedan". Berita pertama, dalam bahasa Inggris, yang dimuat pada 4 Januari 2020 berjudul "Jakarta Archdiocese assisting victims of Indonesia’s deadly floods". Berita ini berisi tentang kegiatan pengumpulan dana dan bantuan untuk korban banjir di Jakarta oleh Keuskupan Agung Jakarta.
    Adapun berita kedua, dalam bahasa Italia, yang dimuat pada 4 Juni 2020 berjudul "Il conforto della Chiesa all'umanità sofferente (archivio VNS 27marzo-30giugno)". Berita ini berisi tentang berbagai kegiatan gereja di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dalam membantu penanganan pandemi Covid-19.
    Dalam dua berita tersebut, meskipun sama-sama menyebut "Anies Baswedan", tidak terdapat pernyataan ataupun informasi bahwa "orang Italia sebut Anies Baswedan terlalu bodoh". Dengan demikian, gambar yang diunggah oleh akun Yoon Young merupakan hasil suntingan.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa situs Vatican News memuat berita tentang Anies Baswedan yang dicemooh oleh orang Italia, dengan judul “Gli Italiani Chiamano Anies Baswedan Troppo Stupido Come il Governatore di Jakarta”, keliru. Gambar yang memuat klaim itu merupakan hasil suntingan. Tidak ditemukan berita dengan judul tersebut di situs Vatican News. Begitu pula dengan foto pria bermasker dan berompi oranye yang terdapat dalam gambar itu, tidak pernah dimuat di Vatican News.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan