• (GFD-2025-27691) Cek Fakta: Video Ular Makan Perempuan Ini Bukan di Citraland Jakarta

    Sumber:
    Tanggal publish: 02/07/2025

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta- Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim video ular memakan perempuan di Citraland Jakarta, informasi tersebut tersebar diaplikasi percakapan WhatsApp.
    Klaim video ular memakan perempuan di Citraland Jakarta menampilkan seekor ular berukuran besar yang berada di dalam saluran air, kemudian dikeluarkan seorang berbaju biru.
    Video berikutnya menampilkan sejumlah orang sedang berkerumun dan membuka isi perut ular yang di dalamnya terdapat benda berwarna merah tua.
    Video tersebut diberi keterangan sebagai berikut.
    "Ular makan anak cewek remaja di Citralend, Jakarta Barat,orang tua harus waspada dan warga selalu membersihkan selokan apalahi selokan yang tertutup berpotensi tampat luar sembunyi."
    Benarkah klaim video ular memakan perempuan di Citraland Jakarta? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.
     

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim video ular memakan perempuan di Citraland Jakarta, dengan menangkap layar video untuk menjadikannya bahan penelusuran menggunakan Google Image.
     
    Penelusuran mengarah pada artikel berjudul "Kisah Menyeramkan Sebelum Wanita di Sultra Ditelan Ular Piton" yang dimuat situs Liputan6.com, pada 25 Juni 2018. 
     
    Artikel situs Liputan6.com memuat foto yang identik dengan cuplikan gambar dalam video kalim.
    Artikel Liputan6.com menyebutkan, Wa Tiba (54), wanita yang tewas ditelan ular piton asal Desa Lawela Kecamatan Lohia Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, ternyata sudah lama diteror ular. Ibu satu orang anak ini diteror kawanan ular sejak 2014.
     

    Kesimpulan


    Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim video ular memakan perempuan di Citraland Jakarta tidak benar.
    Perisitiwa dalam video tersebut terjadi di Desa Lawela Kecamatan Lohia Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.
  • (GFD-2025-27697) [HOAKS] Kabut di Jabodetabek adalah Rekayasa Agar Kasus TBC Meningkat

    Sumber:
    Tanggal publish: 02/07/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Fenomena kabut menyelimuti wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek sejak Minggu (29/6/2025).

    Di media sosial, tersiar narasi yang mengeklaim kabut tersebut terbentuk akibat rekayasa iklim. Tujuannya, untuk meningkatkan kasus TBC di Indonesia.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi itu tidak benar atau merupakan hoaks.

    Informasi yang mengeklaim kabut di Jabodetabek adalah rekayasa iklim untuk meningkatkan kasus TBC disebarkan oleh akun Facebook ini pada Senin (30/6/2025). Arsipnya dapat dilihat di sini.

    Berikut narasi yang ditulis:

    Banyak laporan orang orang mengapa lingkungan cuaca dingin serasa di puncak dan berkabut... Ada apa di balik itu semua?

    Biar program screening, obat obatan TBC TBC an laku dan laris manis, apalagi vaksinnya biar diloloskan dan disetujui....

    1 bulan saja dibuat rekayasa cuaca dan iklim dingin seperti di puncak maka tunggu saja headline berita tiba tiba kasus TBC melonjak naik....

    Si Fauci pernah bilang : agar dunia siap menghadapi pandemi maka caranya dengan membuat pandemi itu ada dan terjadi (plandemi) ,

    Penjelasan nya nanti saya sampaikan dalam live streaming online...

    Hasil Cek Fakta

    Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, penyebab fenomena kabut di wilayah Jabodetabek yakni kombinasi suhu rendah dan kelembaban tinggi.

    Fenomena alami ini terjadi pagi hari, terutama setelah turun hujan dan suhu udara belum cukup hangat.

    “Fenomena kabut yang teramati di sebagian wilayah Jabodetabek merupakan fenomena alami yang disebabkan oleh suhu udara yang rendah dan kelembaban udara yang tinggi, bukan karena kondisi (polusi) udara," kata Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani pada Senin (30/6/2025) dikutip dari Kompas.com.

    Meski demikian, ia tidak menafikan fakta bahwa kabut di kawasan perkotaan atau wilayah industri dapat bercampur dengan partikel polutan.

    "Kabut yang muncul di wilayah padat aktivitas manusia bukan berarti udara tidak sehat secara keseluruhan," ungkapnya.

    BMKG memastikan, fenomena kabut di wilayah Jabodetabek tidak akan menimbulkan gangguan signifikan terhadap aktivitas harian masyarakat.

    Di sisi lain, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman memastikan narasi mengenai peningkatan kasus TBC yang disengaja tidak benar.

    "Itu hoaks ya. Pemerintah tidak pernah melakukan hal tersebut," ujar Aji saat dihubungi Kompas.com, Selasa (17/2025).

    "Tugas kami tentu melindungi kesehatan masyarakat, bukan malah membuat masyarakatnya terserang penyakit tertentu," tegasnya.

    TBC atau tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.

    Penyakit ini umumnya menyerang paru-paru, tulang belakang, kulit, otak, kelenjar getah bening, atau jantung.

    Penularannya melalui bakteri yang bertebaran di udara dan terhirup oleh manusia.

    Saat ini, Indonesia menempati peringkat kedua kasus TBC terbanyak di dunia.

    Indonesia tercatat diperkirakan memiliki 1.090.000 kasus TBC baru dan 125.000 kematian setiap tahun akibat TBC.

    Kemenkes menerapkan strategi eliminasi TBC, meliputi penguatan promosi dan pencegahan, pemanfaatan teknologi, serta integrasi data dengan rumah sakit dan Puskesmas.

    Salah satu langkah yang dilakukan yakni deteksi kasus TBC dengan target nasional mencapai 90 persen pada 2025.

    Sehingga, peningkatan kasus yang tercatat merupakan bagian dari peningkatan skrining atau deteksi kasus nasional.

    Pasalnya, angka kasus yang tercatat diperoleh dari hasil deteksi dan kasus yang terkonfirmasi.

    Kesimpulan

    Narasi yang mengeklaim kabut di Jabodetabek adalah rekayasa iklim untuk meningkatkan kasus TBC merupakan hoaks.

    BMKG menjelaskan, penyebab fenomena kabut di wilayah Jabodetabek yakni kombinasi suhu rendah dan kelembaban tinggi.

    Sementara, Kemenkes memastikan pemerintah tidak pernah dengan sengaja menyebarkan TBC.

    Peningkatan kasus TBC merupakan bagian dari upaya deteksi, sehingga kasus yang belum tercatat dapat terungkap.

    Rujukan

  • (GFD-2025-27698) Klaim 100 Pulau Dijual Mendagri, Bagaimana Faktanya?

    Sumber:
    Tanggal publish: 02/07/2025

    Berita

    tirto.id - Belum lama ini di media sosial berseliweran soal narasi penjualan pulau oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian. Akun Facebook bernama "Wardigu WP" (arsip) misalnya, membagikan klaim ini disertai foto Tito mengenakan jas hitam dan dasi merah.

    ADVERTISEMENT

    Di bagian bawah gambar terdapat teks yang mengindikasikan pernyataan Tito. Menurut unggahan tersebut, Tito bilang kalau pulau-pulau itu mending dijual daripada kosong.

    let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

    "Ada aja gebrakanya bapak satu ini," begitu bunyi takarir yang dibubuhkan akun pengunggah. Namun di bagian kolom komentar, akun pengunggah tampak membagikan tautan ke WhatsApp.
    #inline3 img{margin: 20px auto;max-width:300px !important;}

    let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

    #gpt-inline3-passback{text-align:center;}

    Header Periksa Fakta Klaim 100 Pulau Dijual Mendagri. tirto.id/Fuad

    #inline4 img{max-width:300px !important;margin:20px auto;}

    let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

    #gpt-inline4-passback{text-align:center;}

    Unggahan bertanggal 22 Juni 2025 ini sudah mendapatkan 1.200 reaksi emoji dan 742 komentar. Postingan itu juga sudah dibagikan sebanyak 319 kali. Para warganet yang melontarkan komentar tampak memaki-maki pemerintah, serta ada pula yang menyebut kalau uang pejualan akan masuk kantong kroninya.

    Selain di Facebook, narasi selaras juga tersebar di X, Instagram, dan YouTube. Di X, cuitan ini juga mengumpulkan ribuan reaksi, termasuk 5.500 likes dan 1.900 retweet.

    Namun, bagaimana kebenarannya?

    ADVERTISEMENT

    Hasil Cek Fakta

    Tim Riset Tirto mencari awal mula klaim ini dengan menggunakan Google Image dan penelusuran Google menggunakan kata kunci “Mendagri jual 100 pulau”. Dari pencarian itu, kami menemukan artikel Go Riau pada 6 Desember 2022.

    Lansiran itu memasang header foto Tito dengan judul yang sama persis, yakni “100 Pulau Dilelang, Mendagri Tito Bilang Daripada Kosong Mending Dijual”. Namun begitu, isi laporannya justru memuat penjelasan Mendagri kalau pulau yang dimaksud, yakni Kepulauan Widi, bukan dilelang untuk dijual, melainkan untuk menarik investor.

    Narasi ini memang ramai saat tahun 2022, di mana 100 pulau di kawasan Kepulauan Widi, Maluku Utara dikabarkan dilelang di situs lelang asing di New York.

    Namun, Tito sudah menjelaskan kalau konteks pelelangan yakni untuk pengembangan pariwisata di Kepulauan Widi. Dilansir Detik, Tito bilang, pengembang Kepulauan Widi, PT Leadership Islands Indonesia (LII) diberikan waktu 7 tahun untuk mengembangkan kawasan tersebut. PT LII disebut mencari investor karena kekurangan modal.

    "Dari LII ini 7 Tahun diberikan kesempatan untuk mengembangkan, tetapi lebih 7 tahun hingga tahun 2022, mungkin dia kekurangan modal, sehingga dia belum kembangkan," jelasnya di Kemendagri, Senin (5/12/2022).

    Tito juga mengatakan kalau target investor untuk pengembangan kepulauan tersebut diperbolehkan dari asing. Menurutnya, yang terpenting kepemilikan dari kawasan tersebut milik Indonesia.

    "Investor asing kan boleh saja, yang penting bukan pemiliknya, uangnya dari luar negeri, kemudian perusahaan dikelola oleh pemerintah Indonesia kan tidak ada masalah," tuturnya.

    Tito mengatakan bahwa penandatanganan PT LII dengan Kepulauan Widi sudah terjadi sejak 2015 silam. Kerja sama itu bertujuan untuk mengembangkan daerah tersebut menjadi kawasan wisata.

    "Daripada dia tidak digunakan kosong begitu saja, kenyataannya masyarakat bisa memancing dan melakukan aktivitas. Ecotourism itu kan bagus sebetulnya, pasti ada beberapa daerah yang akan dipakai untuk dijadikan resortnya, Raja Ampat juta seperti itu. Tetapi ada persentasenya, kalau tidak salah itu 30% untuk konservasi," ungkapnya.

    Sementara PT LII juga sudah menegaskan pihaknya bukan melakukan penjualan hak milik pulau, melainkan mencari mitra investor untuk pengembangan pariwisata di Kepulauan Widi.

    Juru Bicara LII, Okki Soebagio menyatakan untuk mempercepat investasi ke Kepulauan Widi, pihaknya bekerja sama dengan rumah lelang Sotheby di New York, untuk mencari mitra investor dengan model lelang.

    Narasi yang berlalu lalang ini sudah dinyatakan tidak benar oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

    Kesimpulan

    Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, klaim Mendagri menjual 100 pulau bersifat missing context, atau menyesatkan tanpa keterangan tambahan.

    Narasi ini memang ramai saat tahun 2022, di mana 100 pulau di kawasan Kepulauan Widi, Maluku Utara dikabarkan dilelang di situs lelang asing di New York. Akan pulau itu bukan dilelang untuk dijual, melainkan untuk menarik investor.

    Mendagri Tito sudah menjelaskan kalau konteks pelelangan yakni untuk pengembangan pariwisata di Kepulauan Widi.

    ==

    Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

    Rujukan

  • (GFD-2025-27699) [SALAH] Tangkapan Layar Post Gelora.co dengan Foto Jokowi Terkena Penyakit Kusta

    Sumber: X/Twitter
    Tanggal publish: 02/07/2025

    Berita

    Pada Rabu (18/6/2025) beredar unggahan foto di X (arsip cadangan) oleh akun "Ary" (@Ary_PrasKe2) yang berisi unggahan oleh akun X “GELORA NEWS” (@geloraco) yang berisi teks:

    “Kusta, Penyakit yang Sering Dikaitkan dengan Kutukan dan Azab”

    dengan foto Jokowi (Joko Widodo) dan tampilan pratinjau (preview) dari situs gelora.co dengan judul yang sama seperti teks di atas.

    Selain itu, pengunggah juga menambahkan narasi:

    “Terkena Penyakit Apakah Dya???
    Ada Yang Tau?!”

    di unggahannya.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta MAFINDO (TurnBackHoax) menelusuri kebenaran klaim menggunakan fitur pencarian bawaan X.

    Hasil pencarian mengarahkan ke post akun X @geloraco dengan teks "Kusta, Penyakit yang Sering Dikaitkan dengan Kutukan dan Azab" pada Selasa (3/6/2024) yang mendahului unggahan oleh akun penyebar di atas. Di unggahan ini foto asli yang digunakan adalah foto orang lain, bukan foto Jokowi.

    Unggahan oleh akun X @geloraco juga membagikan tautan ke artikel yang dimuat di situs gelora.co terbitan Jumat (8/2/2019), tautan tersebut tampil dalam bentuk pratinjau (preview) di unggahan di atas dengan judul artikel yang ditampilkan sama dengan teks yang digunakan di unggahan di X yaitu "Kusta, Penyakit yang Sering Dikaitkan dengan Kutukan dan Azab".

    Selain itu, dengan menggunakan kata kunci “kusta penyakit yang sering dikaitkan dengan kutukan dan azab” ditemukan juga artikel-artikel dari berbagai sumber yang mengkoroborasi mendukung artikel oleh Gelora News, artikel-artikel tersebut berisi informasi mengenai penyakit Kusta yang menurut mitos dikaitkan dengan aspek kutukan, aspek agama, dan aspek mistis.

    Kesimpulan

    Unggahan tersebut masuk ke kategori konten yang dimanipulasi (manipulted content), faktanya foto tangkapan layar yang disebarkan yang dimuat di post oleh akun @geloraco di media sosial X dan di artikel bukan foto Jokowi.

    Rujukan