Sebuah video yang memuat klaim bahwa Sri Mulyani bertestimoni di acara yang dipandu Najwa Shihab soal penyakit hipertensi yang sembuh berkat pengobatan dr. Zaidul Akbar, beredar di Facebook [arsip].
Video itu menayangkan program Najwa Shihab yang menghadirkan lima orang, salah satunya Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dalam video itu, Sri Mulyani mengatakan sembuh dari hipertensi berkat dr. Zaidul Akbar. Di akhir video, Zaidul Akbar mengatakan sudah 200.000 orang yang berhasil berkat pengobatannya.
Lalu benarkah program Najwa Shihab menayangkan testimoni Sri Mulyani yang sembuh hipertensi berkat metode Zaidul Akbar?
(GFD-2025-25766) Keliru: Video Najwa Shihab Menayangkan Testimoni Sri Mulyani yang Sembuh dari Hipertensi
Sumber:Tanggal publish: 19/02/2025
Berita
Hasil Cek Fakta
Tim Cek Fakta Tempo memverifikasi konten tersebut dengan Yandex Image Search, Google Lens, dan pencarian kata kunci di YouTube. Hasilnya menunjukkan bahwa video Najwa Shihab dan testimoni Sri Mulyani soal hipertensi adalah hasil rekayasa dengan kecerdasan buatan.
Faktanya, video asli Najwa Shihab tersebut diambil dari siniar dari Program Mata Najwa yang diunggah di akun YouTube Najwa Shihab pada 1 September 2024 berjudul “[Eksklusif] Anies Baswedan dan Drama Pilkada”.
Anies Baswedan hadir di Mata Najwa itu menceritakan berbagai drama yang mengiringinya dalam proses pencalonan di Pilkada 2024. Dalam video itu, Najwa Shihab sama sekali tidak menayangkan testimoni kesembuhan Sri Mulyani dari hipertensinya lewat metode Zaidul Akbar.
Demikian pula dengan potongan video Zaidul Akbar yang dikutip dalam konten tersebut. Dalam video asli yang diunggah akun YouTube dr. Zaidul Akbar Official, Zaidul tidak menyampaikan metode pengobatan hipertensi yang bisa sembuh dalam waktu 3 jam. Ia menyampaikan kajian dengan tema “Bertambah Usia, Bertambah Cinta.”
Dalam kajiannya tersebut, Zaidul memberikan tausiah bagaimana merasa bahagia dan penuh cinta. Dalam video itu, Zaidul Akbar sama sekali tidak menjelaskan tentang metode pengobatan hipertensi.
Video Sri Mulyani
Berdasarkan penelusuran Tempo, dengan mengidentifikasi busana, anting, kacamata yang dikenakan, model rambut, potongan video Sri Mulyani di konten tersebut, berasal dari video rapat koordinasi Program Penertiban Impor Berisiko Tinggi yang diselenggarakan Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang ia hadiri, 12 Juli 2017.
Rapat tersebut melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kantor Staf Kepresidenan Indonesia (KSP), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kepolisian Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kejaksaan Agung, serta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Akun YouTube Kanal Bea Cukai TV pernah mengunggah video rapat koordinasi itu di sini. Sementara Beritasatu mengunggah video acara konferensi persnya di sini dan sini. Situs Antara.com dan CNNIndonesia.com di sini memuat foto Sri Mulyani di sini dan sini.
Dalam akun Instagram @smindrawati pada tanggal 12 Januari 2017, Sri Mulyani mengunggah sejumlah foto di acara itu, mengenakan busana batik yang sama. Ia menulis, “Kami semuanya yang hadir melakukan koordinasi untuk menangani apa yang disebut impor berisiko tinggi. Tujuannya dalam rangka untuk menegakkan suatu kepastian didalam kita memperlakukan para pelaku impor, agar mereka yang baik tentu dilayani dengan baik, dan yang memiliki risiko tinggi kita harapkan mulai juga menjadi baik sehingga keseluruhan sistem bisa dibersihkan.”
Tim Cek Fakta Tempo juga memeriksa keaslian suara pada video menggunakan Hive Moderation. Hasil AI-Generated Content Detection ini menunjukkan 98,8% video program Najwa Shihab tersebut adalah deepfake.
Faktanya, video asli Najwa Shihab tersebut diambil dari siniar dari Program Mata Najwa yang diunggah di akun YouTube Najwa Shihab pada 1 September 2024 berjudul “[Eksklusif] Anies Baswedan dan Drama Pilkada”.
Anies Baswedan hadir di Mata Najwa itu menceritakan berbagai drama yang mengiringinya dalam proses pencalonan di Pilkada 2024. Dalam video itu, Najwa Shihab sama sekali tidak menayangkan testimoni kesembuhan Sri Mulyani dari hipertensinya lewat metode Zaidul Akbar.
Demikian pula dengan potongan video Zaidul Akbar yang dikutip dalam konten tersebut. Dalam video asli yang diunggah akun YouTube dr. Zaidul Akbar Official, Zaidul tidak menyampaikan metode pengobatan hipertensi yang bisa sembuh dalam waktu 3 jam. Ia menyampaikan kajian dengan tema “Bertambah Usia, Bertambah Cinta.”
Dalam kajiannya tersebut, Zaidul memberikan tausiah bagaimana merasa bahagia dan penuh cinta. Dalam video itu, Zaidul Akbar sama sekali tidak menjelaskan tentang metode pengobatan hipertensi.
Video Sri Mulyani
Berdasarkan penelusuran Tempo, dengan mengidentifikasi busana, anting, kacamata yang dikenakan, model rambut, potongan video Sri Mulyani di konten tersebut, berasal dari video rapat koordinasi Program Penertiban Impor Berisiko Tinggi yang diselenggarakan Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang ia hadiri, 12 Juli 2017.
Rapat tersebut melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kantor Staf Kepresidenan Indonesia (KSP), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kepolisian Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kejaksaan Agung, serta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Akun YouTube Kanal Bea Cukai TV pernah mengunggah video rapat koordinasi itu di sini. Sementara Beritasatu mengunggah video acara konferensi persnya di sini dan sini. Situs Antara.com dan CNNIndonesia.com di sini memuat foto Sri Mulyani di sini dan sini.
Dalam akun Instagram @smindrawati pada tanggal 12 Januari 2017, Sri Mulyani mengunggah sejumlah foto di acara itu, mengenakan busana batik yang sama. Ia menulis, “Kami semuanya yang hadir melakukan koordinasi untuk menangani apa yang disebut impor berisiko tinggi. Tujuannya dalam rangka untuk menegakkan suatu kepastian didalam kita memperlakukan para pelaku impor, agar mereka yang baik tentu dilayani dengan baik, dan yang memiliki risiko tinggi kita harapkan mulai juga menjadi baik sehingga keseluruhan sistem bisa dibersihkan.”
Tim Cek Fakta Tempo juga memeriksa keaslian suara pada video menggunakan Hive Moderation. Hasil AI-Generated Content Detection ini menunjukkan 98,8% video program Najwa Shihab tersebut adalah deepfake.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemeriksaan fakta, Tim Cek Fakta Tempo menyimpulkan bahwa klaim program Najwa Shihab menayangkan testimoni Sri Mulyani yang sembuh hipertensi berkat metode Zaidul Akbar adalah keliru.
Rujukan
- https://www.facebook.com/100090213181863/videos/2429337227236743/
- https://mvau.lt/media/b0c2076a-1e69-4af7-93eb-05046065c1c5
- https://www.youtube.com/watch?v=ywOTgyabiiY
- https://www.youtube.com/watch?v=rgmxu-4JMyo
- https://www.youtube.com/watch?v=fx7VkXjPEVo
- https://www.youtube.com/watch?v=2v8OV0MfCO0&t=121s
- https://www.youtube.com/watch?v=M3KBUD_0Ql0
- https://en.antaranews.com/amp/news/111816/international-cooperation-against-tax-evation-important-sri-mulyani?fullsite=true
- https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170713141702-78-227622/sri-mulyani-minta-restu-dpr-suntik-modal-kai-rp2-triliun
- https://www.instagram.com/p/BWczg6dA87z/?img_index=10 /cdn-cgi/l/email-protection#781b1d131e19130c19380c1d150817561b1756111c
(GFD-2025-25765) Keliru: Video Raffi Ahmad dan Ustad Adi Hidayat Promosikan Obat Diabetes
Sumber:Tanggal publish: 19/02/2025
Berita
Sebuah video beredar di Facebook [arsip] berisi klaim bahwa selebriti Raffi Ahmad dan Ustad Adi Hidayat (UAH) mempromosikan metode atau obat untuk menyembuhkan penderita diabetes atau kencing manis.
Video itu memperlihatkan sosok Raffi Ahmad dan UAH secara bergantian di tempat yang saling berbeda. Raffi sebagai host mengatakan bahwa UAH telah menemukan sebuah metode ampuh untuk menghilangkan diabetes dari tubuh penderitanya. Kemudian UAH menyatakan banyak perusahaan farmasi besar berusaha menekannya agar tidak menyebarkan metode penyembuh diabetes yang ditemukannya.
Namun, benarkah video itu memperlihatkan kedua orang itu sedang mempromosikan sebuah metode pengobatan diabetes?
Video itu memperlihatkan sosok Raffi Ahmad dan UAH secara bergantian di tempat yang saling berbeda. Raffi sebagai host mengatakan bahwa UAH telah menemukan sebuah metode ampuh untuk menghilangkan diabetes dari tubuh penderitanya. Kemudian UAH menyatakan banyak perusahaan farmasi besar berusaha menekannya agar tidak menyebarkan metode penyembuh diabetes yang ditemukannya.
Namun, benarkah video itu memperlihatkan kedua orang itu sedang mempromosikan sebuah metode pengobatan diabetes?
Hasil Cek Fakta
Hasil verifikasi Tempo menunjukkan bahwa video Raffi Ahmad dan Adi Hidayat yang mempromosikan obat adalah hasil suntingan dengan teknologi kecerdasan buatan. Faktanya, pada video asli, Raffi dan Adi Hidayat tidak mempromosikan obat diabetes atau kencing manis.
Tempo membandingkan dengan video yang dipublikasikan di kanal Adi Hidayat Official. Video yang beredar di Facebook itu janggal karena memuat logo Adi Hidayat Official di bagian kanan atas dengan ukuran besar. Padahal konten-konten di saluran YouTube Adi Hidayat memperlihatkan logonya disematkan di bagian kanan bawah video dengan ukuran lebih kecil.
Tempo juga menyisir video-video di saluran YouTube Raffi Ahmad dan UAH untuk mencari video serupa seperti klip yang beredar di Facebook. Ditemukan video-video aslinya yang menunjukkan sebenarnya mereka sedang tidak membicarakan obat diabetes. Berikut hasil penelusurannya:
Verifikasi Video
Video 1
Video yang beredar diawali menampilkan sosok Raffi di ruang bertembok putih dan latar belakang televisi yang bergambar tumpukan kayu yang dibakar. Video aslinya ditemukan di saluran YouTube Rans Entertainment tertanggal 11 Juni 2021.
Dalam video itu Raffi Ahmad berbincang dengan istrinya, Nagita Slavina, mengenai kehidupan mereka. Sesungguhnya Raffi Ahmad tidak mempromosikan metode pengobatan diabetes UAH seperti yang disampaikan dalam narasi yang beredar.
Video 2
Video kedua yang muncul di detik ke-23 dalam video yang beredar di Facebook, memperlihatkan sosok UAH. Video aslinya ditemukan di saluran YouTube Adi Hidayat Official tertanggal 30 Desember 2024.
Dalam video aslinya, sesungguhnya UAH sedang membawakan kajian akhir tahun tentang agama Islam. Selain itu, di saluran YouTube miliknya dia hanya fokus membahas keagamaan, di luar materi kesehatan.
Video 3
Pemeriksaan menggunakan aplikasi pemindai video AI atau konten yang dibuat dengan kecerdasan buatan, Hivemoderation.com, juga menghasilkan kesimpulan 99,7 persen video yang beredar di Facebook itu telah direkayasa atau menggunakan materi dari AI.
Beberapa temuan tersebut membuktikan bahwa video yang beredar di Facebook telah diubah dari versi aslinya menggunakan teknologi AI agar seakan-akan berisi promosi obat diabetes, padahal bohong.
Tempo membandingkan dengan video yang dipublikasikan di kanal Adi Hidayat Official. Video yang beredar di Facebook itu janggal karena memuat logo Adi Hidayat Official di bagian kanan atas dengan ukuran besar. Padahal konten-konten di saluran YouTube Adi Hidayat memperlihatkan logonya disematkan di bagian kanan bawah video dengan ukuran lebih kecil.
Tempo juga menyisir video-video di saluran YouTube Raffi Ahmad dan UAH untuk mencari video serupa seperti klip yang beredar di Facebook. Ditemukan video-video aslinya yang menunjukkan sebenarnya mereka sedang tidak membicarakan obat diabetes. Berikut hasil penelusurannya:
Verifikasi Video
Video 1
Video yang beredar diawali menampilkan sosok Raffi di ruang bertembok putih dan latar belakang televisi yang bergambar tumpukan kayu yang dibakar. Video aslinya ditemukan di saluran YouTube Rans Entertainment tertanggal 11 Juni 2021.
Dalam video itu Raffi Ahmad berbincang dengan istrinya, Nagita Slavina, mengenai kehidupan mereka. Sesungguhnya Raffi Ahmad tidak mempromosikan metode pengobatan diabetes UAH seperti yang disampaikan dalam narasi yang beredar.
Video 2
Video kedua yang muncul di detik ke-23 dalam video yang beredar di Facebook, memperlihatkan sosok UAH. Video aslinya ditemukan di saluran YouTube Adi Hidayat Official tertanggal 30 Desember 2024.
Dalam video aslinya, sesungguhnya UAH sedang membawakan kajian akhir tahun tentang agama Islam. Selain itu, di saluran YouTube miliknya dia hanya fokus membahas keagamaan, di luar materi kesehatan.
Video 3
Pemeriksaan menggunakan aplikasi pemindai video AI atau konten yang dibuat dengan kecerdasan buatan, Hivemoderation.com, juga menghasilkan kesimpulan 99,7 persen video yang beredar di Facebook itu telah direkayasa atau menggunakan materi dari AI.
Beberapa temuan tersebut membuktikan bahwa video yang beredar di Facebook telah diubah dari versi aslinya menggunakan teknologi AI agar seakan-akan berisi promosi obat diabetes, padahal bohong.
Kesimpulan
Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan video yang beredar di Facebook memperlihatkan Raffi Ahmad dan UAH mempromosikan metode pengobatan diabetes adalah klaim keliru.
Video itu adalah hasil rekayasa video aslinya menggunakan teknologi AI, sehingga tercipta video baru yang mengandung kebohongan.
Video itu adalah hasil rekayasa video aslinya menggunakan teknologi AI, sehingga tercipta video baru yang mengandung kebohongan.
Rujukan
- https://www.facebook.com/share/v/1EgJEDzrVD/?mibextid=oFDknk
- https://mvau.lt/media/fedc269c-0965-4810-9e9b-50190481474a
- https://www.youtube.com/@AdiHidayatOfficial/videos
- https://www.youtube.com/watch?v=e9gu6vQDT9k&list=PLxEy2U3EVYiuFt6wuNNvfYDbAD6lSEu5G&index=8
- https://www.youtube.com/watch?v=CpW5bgt70JA
- http://hivemoderation.com
(GFD-2025-25764) Sebagian Benar: Gambar Sampul Majalah Tempo Bergambar Prabowo, Jokowi, dan Gibran
Sumber:Tanggal publish: 18/02/2025
Berita
Sebuah gambar beredar di WhatsApp yang diklaim memperlihatkan sampul Majalah Tempo yang menunjukkan sosok Presiden Prabowo Subianto, Presiden ke-7 Joko Widodo alias Jokowi, dan putranya yang sekaligus Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Gambar itu juga berisi tulisan berbunyi: “Jenderal Omon-omon hanya pidato saja garang nyatanya gak bernyali" yang menutup bagian sampul Majalah Tempo.
Tempo menerima permintaan untuk memeriksa kebenaran sampul tersebut. Benarkah Tempo pernah menerbitkan edisi majalah dengan gambar dan tulisan tersebut?
Gambar itu juga berisi tulisan berbunyi: “Jenderal Omon-omon hanya pidato saja garang nyatanya gak bernyali" yang menutup bagian sampul Majalah Tempo.
Tempo menerima permintaan untuk memeriksa kebenaran sampul tersebut. Benarkah Tempo pernah menerbitkan edisi majalah dengan gambar dan tulisan tersebut?
Hasil Cek Fakta
Tempo mengamati sampul majalah tersebut yang menunjukkan nomor edisi 16 Juli 2023. Kemudian mencari versi sampul aslinya di website Tempo.co, pada menu utama Mingguan.
Hasilnya, teks "Jenderal Omon-omon hanya pidato saja garang nyatanya gak bernyali" itu buatan dari warganet yang ditambahkan pada sampul Majalah Tempo edisi 16 Juli 2023.
Sampul aslinya berjudul “Karena Jokowi Demi Jokowi” dengan karikatur Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, dan Joko Widodo.
Berita utama Majalah Tempo pada edisi tersebut juga tidak menuliskan istilah "Jenderal Omon-omon". Berita edisi itu terkait dukungan Jokowi pada Prabowo yang sedang mencalonkan diri menjadi presiden dan memasangkan Gibran dengan Prabowo tersebut dalam Pilpres.
Selain itu, Pimpinan Redaksi Majalah Tempo Setri Yasra menyatakan tidak ada pihak yang meminta izin untuk menggunakan sampul Majalah Tempo dengan cara menambah tulisan tentang jenderal omon-omon.
“Membuat konten media memakai sampul Tempo, dengan menambahkan narasi dengan tujuan agar menyampaikan pesan bahwa (seakan-akan) itu produk Tempo, adalah pelanggaran,” kata Setri, Selasa, 18 Februari 2025.
Dia tak menampik ada kemungkinan rekayasa sampul Majalah Tempo itu bertujuan menyampaikan kritik masyarakat pada pemerintah. Namun, menurutnya cara itu tetap tergolong memproduksi dan menyebarkan hoaks.
“Kendati niat baik untuk mengkritik, tapi menyamarkan dengan memakai produk media sama halnya dengan membuat hoaks,” kata Setri lagi.
Hasilnya, teks "Jenderal Omon-omon hanya pidato saja garang nyatanya gak bernyali" itu buatan dari warganet yang ditambahkan pada sampul Majalah Tempo edisi 16 Juli 2023.
Sampul aslinya berjudul “Karena Jokowi Demi Jokowi” dengan karikatur Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, dan Joko Widodo.
Berita utama Majalah Tempo pada edisi tersebut juga tidak menuliskan istilah "Jenderal Omon-omon". Berita edisi itu terkait dukungan Jokowi pada Prabowo yang sedang mencalonkan diri menjadi presiden dan memasangkan Gibran dengan Prabowo tersebut dalam Pilpres.
Selain itu, Pimpinan Redaksi Majalah Tempo Setri Yasra menyatakan tidak ada pihak yang meminta izin untuk menggunakan sampul Majalah Tempo dengan cara menambah tulisan tentang jenderal omon-omon.
“Membuat konten media memakai sampul Tempo, dengan menambahkan narasi dengan tujuan agar menyampaikan pesan bahwa (seakan-akan) itu produk Tempo, adalah pelanggaran,” kata Setri, Selasa, 18 Februari 2025.
Dia tak menampik ada kemungkinan rekayasa sampul Majalah Tempo itu bertujuan menyampaikan kritik masyarakat pada pemerintah. Namun, menurutnya cara itu tetap tergolong memproduksi dan menyebarkan hoaks.
“Kendati niat baik untuk mengkritik, tapi menyamarkan dengan memakai produk media sama halnya dengan membuat hoaks,” kata Setri lagi.
Kesimpulan
Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan gambar yang beredar memperlihatkan sampul Majalah Tempo bergambar Prabowo, Jokowi, dan Gibran adalah klaim yang sebagian benar.
Majalah Tempo pernah terbit dengan gambar demikian pada edisi 16 Juli 2023. Namun dalam versi aslinya tak ada tulisan jenderal omon-omon dan seterusnya, dan gambar yang beredar di WhatsApp telah mengalami rekayasa oleh pihak tanpa izin dari Redaksi Tempo.
Majalah Tempo pernah terbit dengan gambar demikian pada edisi 16 Juli 2023. Namun dalam versi aslinya tak ada tulisan jenderal omon-omon dan seterusnya, dan gambar yang beredar di WhatsApp telah mengalami rekayasa oleh pihak tanpa izin dari Redaksi Tempo.
Rujukan
(GFD-2025-25763) Menyesatkan: Potongan Video Ketua DPD Gerindra Lampung Tak Hafal Pancasila
Sumber:Tanggal publish: 18/02/2025
Berita
Potongan video diunggah di YouTube [arsip] memuat klaim bahwa Gubernur Lampung 2025-2030 terpilih, sekaligus Ketua DPD Gerindra Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, tidak hafal Pancasila.
Video itu memperlihatkan Rahmat Mirzani memimpin pembacaan Pancasila di acara HUT Partai Gerindra ke-17. Lalu terdengar dimana Rahmat melewatkan sila keempat Pancasila. “Memalukan...!! Viral kader gerindra tak hafal pancasila di hut-17 gerindra lompat dari sila 3."
Namun, benarkah Ketua DPD Gerindra Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, tidak membaca sila keempat Pancasila saat HUT Partai Gerindra ke-17?
Video itu memperlihatkan Rahmat Mirzani memimpin pembacaan Pancasila di acara HUT Partai Gerindra ke-17. Lalu terdengar dimana Rahmat melewatkan sila keempat Pancasila. “Memalukan...!! Viral kader gerindra tak hafal pancasila di hut-17 gerindra lompat dari sila 3."
Namun, benarkah Ketua DPD Gerindra Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, tidak membaca sila keempat Pancasila saat HUT Partai Gerindra ke-17?
Hasil Cek Fakta
Hasil verifikasi Tempo menunjukkan, terdapat masalah teknis streaming pada kanal YouTube Gerindra TV. Hal ini berdampak pada pembacaan Pancasila yang dipimpin Ketua DPD Gerindra Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menjadi tidak utuh. Faktanya, Rahmat Mirzani membacakan lima sila pada Pancasila dengan lengkap.
Tempo menonton dua siaran HUT Gerindra ke-17 di Sentul International Convention Center, Bogor yang ditayangkan oleh Gerindra TV dan Garuda TV pada 15 Januari 2025. Garuda TV adalah sebuah jaringan televisi swasta di Indonesia yang dimiliki oleh PT Digdaya Media Nusantara, yang terafiliasi dengan Prabowo Subianto.
Di saluran Gerindra TV, pada menit ke-36:30, Rahmat terdengar tidak membacakan sila keempat Pancasila. Dari sila ketiga, Rahmat dan hadirin langsung melompat ke sila kelima. Namun, siaran langsung Garuda TV pada menit ke-26:53, memperlihatkan kelima sila dibacakan secara lengkap oleh Rahmat dan peserta.
Rahmat melalui akun Instagram miliknya, mengunggah video yang direkam peserta lewat kanal Garuda TV saat dia membacakan Pancasila. Dalam video tersebut, Rahmat dan peserta membaca lima sila dengan lengkap.
Masalahnya, bagaimana perbedaan itu terjadi meski sudut pengambilan video pada kedua saluran tersebut sama?
Tempo mewawancarai salah satu penyedia layanan jasa live streaming yang berpengalaman menangani acara seremonial kepresidenan di Jawa Timur. Muhammad Yunan Fahmy dari CV Alzen Metro Data menjelaskan, siaran langsung yang dihadiri presiden biasanya mengandalkan satu sumber pengambilan video. “Sumber itu yang mengelola input video dari beberapa kamera yang terpasang,” kata Fahmi kepada Tempo, Senin, 17 Februari 2025.
Kemudian, beberapa instansi di pemerintahan yang membutuhkan siaran langsung, menghubungkan encoder ke sumber kamera tersebut. Encoder adalah perangkat elektronik yang digunakan untuk mengubah gerakan atau posisi fisik menjadi sinyal digital yang dapat dibaca oleh sistem komputer atau kontrol.
Pada umumnya, sudut pengambilan video pada acara tersebut akan sama, meskipun disiarkan oleh beberapa pihak. Namun, kesalahan teknis apa yang mungkin bisa terjadi sehingga output video siaran bisa berbeda?
Fahmi menyimak hasil dua siaran langsung yang ditayangkan Gerindra TV dan Garuda TV menggunakan headset. Memang di saluran Gerindra TV menunjukkan suara atau voice terpotong setelah pembacaan sila ketiga.
Fahmi menduga masalah yang mungkin terjadi ada di perangkat encoder saluran YouTube Gerindra TV sehingga menurunkan kualitas media yang ditransfer (down bitrate). Jika masalah ini terjadi, video siaran langsung yang mengalami down bitrate akan menampilkan tanda jeda atau delay.
“Namun saat siaran langsung itu selesai dan hasilnya diunggah ke YouTube, bagian yang mengalami down bitrate akan terhapus,” kata Fahmi.
Tempo menonton dua siaran HUT Gerindra ke-17 di Sentul International Convention Center, Bogor yang ditayangkan oleh Gerindra TV dan Garuda TV pada 15 Januari 2025. Garuda TV adalah sebuah jaringan televisi swasta di Indonesia yang dimiliki oleh PT Digdaya Media Nusantara, yang terafiliasi dengan Prabowo Subianto.
Di saluran Gerindra TV, pada menit ke-36:30, Rahmat terdengar tidak membacakan sila keempat Pancasila. Dari sila ketiga, Rahmat dan hadirin langsung melompat ke sila kelima. Namun, siaran langsung Garuda TV pada menit ke-26:53, memperlihatkan kelima sila dibacakan secara lengkap oleh Rahmat dan peserta.
Rahmat melalui akun Instagram miliknya, mengunggah video yang direkam peserta lewat kanal Garuda TV saat dia membacakan Pancasila. Dalam video tersebut, Rahmat dan peserta membaca lima sila dengan lengkap.
Masalahnya, bagaimana perbedaan itu terjadi meski sudut pengambilan video pada kedua saluran tersebut sama?
Tempo mewawancarai salah satu penyedia layanan jasa live streaming yang berpengalaman menangani acara seremonial kepresidenan di Jawa Timur. Muhammad Yunan Fahmy dari CV Alzen Metro Data menjelaskan, siaran langsung yang dihadiri presiden biasanya mengandalkan satu sumber pengambilan video. “Sumber itu yang mengelola input video dari beberapa kamera yang terpasang,” kata Fahmi kepada Tempo, Senin, 17 Februari 2025.
Kemudian, beberapa instansi di pemerintahan yang membutuhkan siaran langsung, menghubungkan encoder ke sumber kamera tersebut. Encoder adalah perangkat elektronik yang digunakan untuk mengubah gerakan atau posisi fisik menjadi sinyal digital yang dapat dibaca oleh sistem komputer atau kontrol.
Pada umumnya, sudut pengambilan video pada acara tersebut akan sama, meskipun disiarkan oleh beberapa pihak. Namun, kesalahan teknis apa yang mungkin bisa terjadi sehingga output video siaran bisa berbeda?
Fahmi menyimak hasil dua siaran langsung yang ditayangkan Gerindra TV dan Garuda TV menggunakan headset. Memang di saluran Gerindra TV menunjukkan suara atau voice terpotong setelah pembacaan sila ketiga.
Fahmi menduga masalah yang mungkin terjadi ada di perangkat encoder saluran YouTube Gerindra TV sehingga menurunkan kualitas media yang ditransfer (down bitrate). Jika masalah ini terjadi, video siaran langsung yang mengalami down bitrate akan menampilkan tanda jeda atau delay.
“Namun saat siaran langsung itu selesai dan hasilnya diunggah ke YouTube, bagian yang mengalami down bitrate akan terhapus,” kata Fahmi.
Kesimpulan
Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan sila keempat tidak diucapkan dalam pembacaan Pancasila dalam acara HUT Partai Gerindra ke-17 adalah klaim yang menyesatkan.
Video yang beredar berasal dari saluran YouTube Gerindra TV yang mengalami masalah teknis saat siaran langsung, sehingga video pembacaan sila keempat menjadi terpotong. Pada video lainnya yang disiarkan Garuda TV, Rahmat dan peserta HUT Gerindra membacakan seluruh sila Pancasila dengan lengkap.
Video yang beredar berasal dari saluran YouTube Gerindra TV yang mengalami masalah teknis saat siaran langsung, sehingga video pembacaan sila keempat menjadi terpotong. Pada video lainnya yang disiarkan Garuda TV, Rahmat dan peserta HUT Gerindra membacakan seluruh sila Pancasila dengan lengkap.
Rujukan
- https://www.youtube.com/watch?v=XYmU5tWhTgM
- https://ghostarchive.org/varchive/XYmU5tWhTgM
- https://www.youtube.com/live/qrX4piPhaYM?si=SHf1jYTQy_WzS9sh
- https://www.youtube.com/live/IPASD4e-F1s?si=RVceOp8cMXkC125j
- https://www.instagram.com/reel/DGF55FtPe6A/?igsh=Y2M2NzM0Z25sem5n /cdn-cgi/l/email-protection#dab9bfb1bcbbb1aebb9aaebfb7aab5f4b9b5f4b3be
Halaman: 161/5963