• (GFD-2026-31545) Hoaks! Video Purbaya mengatakan menolak dijadikan wapres

    Sumber:
    Tanggal publish: 10/01/2026

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah video berdurasi 30 detik yang beredar di TikTok menarasikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak permintaan untuk dicalonkan sebagai wakil presiden, serta menyebut dirinya hanya ingin mengembalikan harga bensin, beras, dan sembako agar tetap murah dan stabil seperti pada masa Presiden Soeharto

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “Tadi ada yang meminta saya untuk mencalonkan diri sebagai wakil presiden, saya tidak mau. Saya menolak untuk dicalonkan menjadi wakil presiden, saya hanya bercita-cita mengembalikan harga bensin, beras dan sembako tetap murah dan stabil seperti pada zaman Pak Soeharto dulu”

    Namun, benarkah video Purbaya mengatakan menolak dijadikan wapres tersebut?



    Hasil Cek Fakta

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan video maupun pernyataan resmi dari Purbaya yang berisi ucapan seperti dalam unggahan tersebut.

    ANTARA juga memeriksa video tersebut menggunakan AI Detector Hive Moderation dan hasilnya menunjukkan video itu kuat terindikasi merupakan hasil kecerdasan buatan (AI).



    Adapun sebelumnya, Purbaya memang pernah menanggapi isu peluangnya maju sebagai calon wakil presiden setelah popularitasnya meningkat usai dilantik menjadi Menteri Keuangan, tetapi ia menyatakan tidak memikirkan hal tersebut dan memilih fokus bekerja.

    "Nggak, nggak mikir sama sekali. Kerja juga belum. Ini kan baru cuma di permukaan saja, yang di bawahnya belum kita sisir betulan. Jadi nggak kepikiran sama sekali. Gue nggak peduli juga," ungkap Purbaya, dilansir dari ANTARA.

    Dengan demikian, video dengan klaim Purbaya menyatakan menolak dijadikan wakil presiden sambil menyampaikan pernyataan soal harga sembako seperti di era Soeharto tidak benar.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Klaim: Video Purbaya mengatakan menolak dijadikan Wapres

    Rating: Hoaks

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: M Arief Iskandar

    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    Rujukan

  • (GFD-2026-31544) Hoaks! Video rapat DPRD Jawa Barat marah syarat vasektomi untuk bansos

    Sumber:
    Tanggal publish: 10/01/2026

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah video berdurasi 46 detik yang beredar di Facebook menampilkan suasana rapat dengan latar tulisan “DPRD Jawa Barat”.

    Dalam video itu, terlihat seorang perempuan seolah-olah marah dan menentang rencana vasektomi yang diklaim menjadi syarat bagi warga miskin untuk menerima bantuan sosial (bansos).

    Narasi yang menyertai unggahan tersebut menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran hak asasi manusia dan “penghinaan” terhadap orang miskin.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “Seorang gubernur ngomong kayak gini. Orang miskin udah kesulitan eh disuruh vasektomi dulu baru boleh terima bansos, apa logikamu rusak total pak? Hak asasi manusia itu bukan pajangan pak hak untuk punya anak itu hak dasar, bukan barang yang bisa ditukar dengan uang segelintir rupiah. Dua atau tiga juta sebulan buat hidup keluarga itu jelas tidak sebanding dengan tindakan memandulkan orang miskin. Ini bukan solusi, ini penghinaan.”

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Namun, benarkah video rapat DPRD Jawa Barat marah tentang syarat vasektomi untuk bansos tersebut?



    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan video resmi rapat DPRD Jawa Barat yang berisi pernyataan seperti dalam unggahan tersebut.

    Pemeriksaan menggunakan AI Detector Hive Moderation juga menunjukkan bahwa video itu 99,9 persen terindikasi merupakan hasil kecerdasan buatan (AI).



    Adapun isu yang beredar sebelumnya berkaitan dengan pernyataan Dedi Mulyadi di Bandung pada Senin (28/4) tentang rencana menjadikan kepesertaan keluarga berencana (KB) sebagai salah satu syarat untuk menerima bantuan, mulai dari beasiswa hingga bansos.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Meski begitu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah mengklarifikasi bahwa tidak ada kebijakan vasektomi sebagai syarat penerima bansos, dan program KB yang dimaksud bersifat anjuran, terutama bagi calon penerima bantuan yang sudah memiliki banyak anak.

    “Tidak ada kebijakan vasektomi. Tidak ada. Tidak ada kebijakan itu,” kata Dedi, dilansir dari ANTARA.

    Dengan demikian, video dengan klaim rapat DPRD Jawa Barat marah soal vasektomi sebagai syarat bansos merupakan hasil AI dan tidak benar.

    Klaim: Video rapat DPRD Jawa Barat marah syarat vasektomi untuk bansos

    Rating: Hoaks

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: M Arief Iskandar

    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • (GFD-2026-31543) Cek Fakta: Tidak Benar Link Pendaftaran Pegawai Haji 2026 dari BPKH

    Sumber:
    Tanggal publish: 09/01/2026

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Beredar unggahan di media sosial klaim link pendaftaran pegawai haji 2026 dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Informasi tersebut diunggah salah satu akun TikTok pada 25 Desember 2025. 
    Berikut isi unggahannya:
    "LOWONGAN KERJA PETUGAS HAJI 2026 -Gaji 5-10jt/bulan -Pendaftaran Gratis Tidak Dipungut Biaya!!! -Sesuai Domisili/Daerah masing-masing -keuntungan petugas ikut ibadah haji -pembuatan phisa gratis LINK PENDAFTARAN ADA DI BIO
    #haji #lokerhaji #lowongankerjapetugashaji #petugashaji #haji2025 #infohaji#infoloker #madina #fyp #pertugas#fyppppppppppppppppppppppp #viral"
    Unggahan turut menyertakan poster dengan tulisan sebagai berikut:
    RESMI DIBUKA!!
    "BPKH UMUMKAN REKRUTMEN PEGAWAI HAJI TAHUN 2026
    PENDAFTARAN INI TIDAK MEMUNGUT BIAYA AAPAPUN!"
    Pada link bio terdapat link https://necafth.it.com/pendaftaran-haji yang jika klik akan mengarah pada halaman situs yang menampilkan formulir digital dan meminta data pribadi, seperti nama hingga nomor Telegram.
    Lalu benarkah klaim link pendaftaran pegawai haji 2026 dari BPKH? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim link pendaftaran pegawai haji 2026 dari BPKH. Penelusuran mengarah pada unggahan BPKH melalui akun Instagram resminya yakni @bpkhri yang dikutip pada 9 Januari 2026.
    Dalam unggahannya beberapa waktu yang lalu, BPKH menampilkan poster dengan label hoaks. Poster tersebut bertuliskan waspada hoaks rekrutmen pegawai BPKH. Informasi rekrutmen BPKH hanya melalui kanal resmi bpkh.go.id.
    Berikut isi caption dari postingan BPKH:
    "Assalamu’alaikum #HajiMuda,
    Hati-hati dengan hoaks rekrutmen pegawai BPKH.
    Informasi rekrutmen hanya diumumkan melalui kanal resmi BPKH, seperti bpkh.go.id dan media sosial terverifikasi.
    ❗ BPKH tidak memungut biaya apa pun dan tidak menghubungi lewat jalur pribadi.
    Pastikan selalu cek sumbernya.
    Yuk, bantu sebarkan informasi yang benar.
    #BPKH #WaspadaHoax #RekrutmenBPKH #InfoResmi #SemuaBisaHaji"
    Penelusuran juga mengarah pada artikel dari Liputan6.com berjudul "Minat Jadi Petugas Haji? Simak Cara Daftar dan Persyaratannya".
    Dalam artikel ini, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia resmi telah membuka seleksi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tahun 1447 Hijriah/2026.
    Pendaftaran calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 dilakukan secara daring melalui situs resmi Kementerian Haji dan Umrah. Calon pendaftar wajib mengakses petugas.haji.go.id untuk memulai proses ini.

    Kesimpulan


    Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim link pendaftaran pegawai haji 2026 dari BPKH, tidak benar.
     

    Rujukan

  • (GFD--31542) Cek Fakta: Hoaks! Tautan Pendaftaran Bantuan PKH 2026 Rp900 Ribu dari Kemensos, Ini Bahayanya

    Sumber:

    Berita

    SuaraLampung.id - Di tengah ramai dibicarakan bantuan sosial untuk masyarakat menjelang 2026, sebuah tautan pendaftaran bantuan PKH Rp900 ribu dari Kementerian Sosial (Kemensos) mendadak viral di media sosial. Tautan itu terlihat meyakinkan dan ditulis seakan berasal dari fitur pendaftaran resmi pemerintah, sehingga banyak netizen tertarik untuk mengklik dan membagikannya.

    Beredar unggahan tautan [arsip] dari akun Facebook “Info Berita Terkini” pada Rabu (7/1/2026). Unggahan beserta narasi :

    “Silahkan cek dan hak anda sekarang!”

    Hingga Jumat (9/1/2026) unggahan telah mendapatkan 159 tanda suka, 22 komentar dan telah dibagikan ulang 1 kali.

    Namun sebelum Anda tergiur, klik tautan, atau bahkan mengisi data pribadi, cek dulu fakta lengkapnya! Karena klaim ini ternyata PENIPUAN dan bukan berasal dari pemerintah.

    Unggahan yang tersebar di platform seperti Facebook, TikTok, dan WhatsApp menyatakan bahwa:

    Tim TurnBackHoax.ID / Mafindo telah menyelidiki isi tautan dan klaim tersebut, dan menemukan fakta jelas sebagai berikut:

    1. Kementerian Sosial RI tidak pernah merilis tautan pendaftaran bantuan PKH 2026 sebagaimana yang beredar.2.  Portal resmi bantuan sosial pemerintah selalu berada di domain berakhiran .go.id atau kanal resmi yang ditetapkan, bukan tautan acak yang dibagikan secara bebas.3. Tautan yang beredar bukan domain resmi pemerintah, melainkan domain pihak ketiga yang tidak terverifikasi.4. Banyak situs serupa yang dibuat untuk modus penipuan atau phishing, bertujuan mengumpulkan data pribadi pengunjung.5. Program Program Keluarga Harapan (PKH) memiliki mekanisme penyaluran terverifikasi dan resmi melalui sistem Kemensos dan lembaga terkait, bukan lewat tautan pendaftaran seperti klaim tersebut.

    Karena itu, klaim bahwa tautan itu adalah pendaftaran bantuan PKH 2026 tidak benar dan berbahaya jika diikuti.

    Hasil Cek Fakta

    Kesimpulan

    Tautan “Pendaftaran Bantuan PKH 2026 Rp900 Ribu dari Kemensos” adalah PENIPUAN.

    Informasi tersebut bukan berasal dari Kementerian Sosial RI, tidak tercantum di laman resmi pemerintah, dan berpotensi digunakan untuk mengumpulkan data pribadi atau modus penipuan lainnya.

    Bahaya Mengikuti Tautan Penipuan IniMengklik atau mengisi data melalui tautan semacam ini dapat berpotensi:

    Tips Cek Fakta & Hindari Penipuan OnlineAgar tidak menjadi korban hoaks atau penipuan:

    Dengan langkah sederhana ini, Anda dapat terhindar dari penipuan digital dan tetap aman dalam berbagi informasi.