• (GFD-2025-30132) [SALAH] Kejagung Sita Uang Jokowi Triliunan Rupiah

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 18/11/2025

    Berita

    Beredar video [arsip] dari akun Facebook “Vera” pada Rabu (28/10/2025) berisi narasi:

    “K3J4GUNG SIT4 UW4NG JOKOW1”

    “KEJAGUNG SITA UANG JOKOWI SEBESAR 1.452 TRILIUN…!

    FUFU FAFA KELOJOTAN !!!

    AKHIRNYA KEJAKSAAN AGUNG SITA UANG JOKOWI DAN KELUARGANYA !

    FUFU FAFA KELOJOTAN”

    Per Senin (17/11/2025), konten tersebut sudah ditonton lebih dari 407.000 kali, menuai hampir 12.000 ibu tanda suka dan 3.000-an komentar, serta dibagikan ulang hampir 1.000  kali.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri kebenaran klaim dengan memasukkan kata kunci “Kejagung Sita Uang Jokowi Triliunan Rupiah” ke mesin pencarian Google. Tidak ditemukan informasi valid atau pemberitaan kredibel yang membenarkan klaim.

    Penelusuran teratas mengarah ke artikel di laman resmi Kejaksaan Agung “story.kejaksaan.go.id” berjudul “Kejagung Sita Rp. 1,3 Triliun Hasil Korupsi Fasilitas CPO” yang tayang Juli 2025. Tidak ditemukan indikasi keterkaitan Joko Widodo dalam kasus korupsi fasilitas CPO tersebut. 

    TurnBackHoax kemudian memasukkan kata kunci “Kejagung Sita Aset Jokowi” di mesin pencarian Google. Hasil penelusuran mengarah ke artikel kompas.com “[HOAKS] Kejaksaan Agung Sita Aset Kaesang Pangarep dan Bobby Nasution” yang dimuat Rabu (2/7/2025). Artikel tersebut membantah klaim tentang Kejaksaan Agung menyita aset milik keluarga Joko Widodo.

    Kesimpulan

    Unggahan berisi klaim “Kejagung sita uang Jokowi triliunan rupiah” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).

    Rujukan

  • (GFD-2025-30133) [SALAH] Hukuman Mati untuk Koruptor Resmi Disahkan, Banyak Pejabat Mundur

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 18/11/2025

    Berita

    Akun Facebook “Omen Zaini” pada Kamis (1/10/2025) mengunggah video [arsip] berisi narasi:

    “Pemerintah akhirnya resmi mengesahkan hukuman mati bagi para pelaku korupsi, Keputusan besar ini langsung membuat panggung politik berguncang. Satu-persatu anggota Dewan hingga pejabat tinggi negara memilih mundur secara mendadak. Alasan mereka beragam mulai dari urusan pribadi hingga kesehatan…”

    Hingga Selasa (18/11/2025), unggahan telah disukai sekitar 36 ribu akun, dibagikan ulang lebih dari 1.661 kali, serta menuai 3.600-an komentar.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) memasukkan kata kunci “hukuman mati untuk koruptor disahkan” di laman pencarian google.  Hasil penelusuran teratas merujuk pada artikel periksa fakta kompas.com  “[HOAKS] Video Pejabat Panik karena UU Hukuman Mati Koruptor Disahkan”.

    Artikel yang tayang Rabu (17/9/2025) itu mengulas hoaks video dengan narasi “Pejabat panik, Presiden Prabowo sahkan UU Hukuman Mati Koruptor” yang diketahui berasal dari beberapa potongan klip berbeda namun tidak ada hubungannya dengan klaim.

    Lebih lanjut, TurnBackHoax menelusuri klaim “banyak pejabat mundur karena hukuman mati koruptor” di laman pencarian google. Namun tidak ditemukan informasi yang relevan.

    Kesimpulan

    Unggahan berisi klaim “hukuman mati koruptor resmi disahkan, banyak pejabat mundur” merupakan konten palsu (fabricated content).

    Rujukan

  • (GFD-2025-30136) [SALAH] Bank Indonesia Resmi Keluarkan Uang Redenominasi

    Sumber: tiktok.com
    Tanggal publish: 18/11/2025

    Berita

    Akun TikTok “Larisberkah_shop2” pada Minggu (16/11/2025) mengunggah video [arsip] berisi narasi:

    “Viral uang baru Indonesia resmi dikeluarkan hari ini. Wow! Bank Indonesia resmi mengeluarkan uang baru atau Rupiah kertas.
    Nominal uang kertas ini dari nominal paling kecil yaitu Rp1000 hingga Rp100.000
    Namun ada yang berbeda dan baru dari tampilan  Rupiah kertas ini yaitu tidak adanya tiga angka nol paling belakang .…”

    Hingga Selasa (18/11/2025), unggahan telah disukai sekitar 641 ribu akun, dibagikan ulang lebih dari 191.000 kali, serta menuai 12.300-an komentar.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri video dengan memanfaatkan Google Lens. Dari penelusuran tersebut ditemukan bahwa mata uang yang ada pada video adalah Euro dengan ciri-ciri adanya logo European Central Bank (ECB).

    Adapun pada detik 10:00, terdapat cuplikan gambar uang rupiah kertas. Namun, saat ditelusuri menggunakan Google Lens, hasil teratas merujuk ke artikel kompas.com[HOAKS] Bank Indonesia Keluarkan Uang Baru Hasil Redenominasi”.

    TurnBackHoax kemudian memasukkan kata kunci “pemerintah sahkan rupiah redenominasi” di mesin pencarian Google. Hasil teratas merujuk ke pemberitaan RRI.co.idBanggar DPR: Redenominasi Rupiah Belum Mendesak Diberlakukan”.

    Berita yang tayang (11/11/2025) itu membahas pernyataan Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah yang menilai kebijakan redenominasi rupiah belum mendesak untuk diterapkan dalam waktu dekat. Kesiapan teknis pemerintah dan literasi keuangan masyarakat masih menjadi tantangan utama sebelum kebijakan itu dilaksanakan.

    Sebagai informasi, dikutip dari artikel tempo.coWacana Redenominasi Rupiah” yang tayang Jumat (14/11/2025), rencana redenominasi rupiah saat ini sudah masuk dalam program legislasi nasional (prolegnas) jangka menengah 2025-2029 dan ditargetkan rampung tahun 2027.

    Kesimpulan

    Unggahan berisi klaim “Bank Indonesia resmi keluarkan uang kertas redenominasi” merupakan konten palsu (fabricated content).

    Rujukan

  • (GFD-2025-30137) Menyesatkan: Vaksin PCV Meningkatkan Risiko Penularan Pneumonia dan Kematian

    Sumber:
    Tanggal publish: 18/11/2025

    Berita

    SEBUAH konten diunggah di Instagram [arsip] dengan narasi bahwa vaksin pneumonia atau Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) tidak efektif. 

    Pengunggah mengutip studi kohort berjudul Real world effectiveness of anti pneumococcal vaccination against pneumonia in adults a population-based cohort study yang dilakukan di Catalonia, Spanyol, pada 2019. Ia menafsirkan hasil penelitian terhadap dua juta orang dewasa itu sebagai bukti bahwa vaksin PCV meningkatkan risiko pneumonia dan kematian, lalu mempertanyakan efektivitas vaksin PCV pada anak.



    Hingga tulisan ini dibuat, unggahan itu mendapatkan lebih dari 25 ribu suka. Namun, benarkah vaksin PCV justru meningkatkan risiko tertular pneumonia dan kematian, termasuk anak-anak?

    Hasil Cek Fakta

    Tempo memverifikasi klaim ini dengan mewawancarai dokter dan menelusuri jurnal kredibel. Hasil pemeriksaan menunjukkan penelitian di Catalonia, Spanyol, memiliki kelemahan metodologi sehingga temuannya bias dan tidak bisa diterapkan pada anak.

    Pneumonia merupakan peradangan yang menyerang alveolus, kantung udara tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Penyebabnya beragam mulai dari bakteri, virus, jamur sampai parasit.

    Penelitian yang dikutip konten tersebut menggunakan studi cohort retrospektif yakni jenis studi observasional di mana sekelompok individu yang memiliki karakteristik tertentu (kohort) diikuti selama periode waktu tertentu, dan hasilnya diukur pada satu atau lebih titik waktu.

    Dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Alergi-Imunologi Klinik Universitas Airlangga, dr Ari Baskoro, SpPD, K-AI, FINASIM, mengatakan studi kohort bukan metode terbaik untuk menilai efektivitas vaksin meski relatif sering digunakan. Sebab dengan metode cohort, subyek riset yang memiliki karakteristik serupa telah ditentukan sejak awal. Kelompok yang divaksinasi, dibandingkan dengan non-vaksinasi. Selanjutnya, diobservasi dari waktu ke waktu dan diukur luarannya (outcome), diperbandingkan antara yang terpapar penyakit dan yang tetap sehat. 

    Dalam studi di Colonia, Spanyol tersebut, subyek yang dijadikan sampel penelitian itu semuanya berusia lebih dari 65 tahun yang memiliki risiko tinggi terpapar pneumonia. Selain itu, selisih antara jumlah subyek yang divaksin dan tidak divaksin sangat jauh. Dengan demikian hasilnya bisa bias.

    “Dalam istilah riset, cara seperti itu banyak biasnya. Studi Catalonia merupakan satu contoh hasil penelitian yang menyesatkan,” kata Ari Baskoro.

    Namun sebenarnya, kata Ari, studi di Catalonia tidak menyimpulkan bahwa vaksinasi menyebabkan pneumonia. Hasil penelitian menyatakan individu yang berisiko tinggi terpapar pneumonia merupakan target vaksinasi.

    Untuk menilai efektivitas vaksin, Ari menjelaskan standar emas adalah uji coba terkontrol acak atau randomized controlled trial (RCT) dan analisis meta (meta-analyses). Gabungan kedua metode itu menekan bias dan menghasilkan kesimpulan paling kuat. 

    Kunci utama RCT terletak pada randomisasi, di mana kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dipilih secara acak sehingga faktor perancu bisa diminimalkan. Perbandingan kedua kelompok dapat dilakukan secara seimbang. Kelebihan lain RCT adalah peneliti dapat mengontrol dosis, waktu, frekuensi, dan durasi intervensi. Upaya penyamaran atau blinding menekan bias karena subyek riset maupun peneliti tidak mengetahui perlakuan yang diterima. Itulah sebabnya RCT memiliki validitas internal tertinggi.

    Sementara meta-analisis unggul dalam sintesis data kuantitatif, memberikan kekuatan statistik lebih presisi, dan menilai konsistensi antar subyek penelitian. Dengan demikian, meta-analisis mampu menyajikan ringkasan komprehensif dari semua bukti yang tidak bias.

    “Metodologi ini penting dalam merumuskan pedoman klinis dan kebijakan kesehatan,” kata dokter yang bertugas di RSUD Dr Soetomo, Surabaya itu.

    PCV Efektif untuk Anak-anak

    Lulusan Ph.D Ilmu Kedokteran dari Universitas Kobe, Jepang, Adam Prabata, menegaskan bahwa hasil riset vaksinasi pada orang dewasa di Catalonia, Spanyol, tidak bisa digeneralisasi pada anak-anak.

    Hal Ini disebabkan beberapa faktor, antara lain perbedaan kondisi maturasi sistem imun, perbedaan respon antibodi sehingga dapat berpengaruh terhadap efikasi yang dapat muncul. 

    “Termasuk perbedaan kemungkinan efek samping yang dapat muncul dengan dosis tertentu,” ujarnya kepada Tempo melalui pesan teks, Kamis, 13 November 2025.

    Adam mengutip penelitian meta analisis dan tinjauan sistematis dari jurnal Vaccine: X. Penelitian ini merangkum dan menganalisis 25 studi lainnya, untuk melihat efektivitas vaksin pneumonia pada anak-anak. Desain penelitian riset tersebut adalah systematic review dan meta-analisis, sehingga tingkat kepercayaannya tinggi.

    Hasil dari studi tersebut, vaksin pneumonia efektif bagi anak, terutama untuk mencegah infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae dan dapat mengancam jiwa (invasive pneumococcal disease). Efektivitasnya mencapai 66,8% (1 kali dosis primer), 78,8% (2 kali dosis primer), 82,0% (3 kali dosis primer), dan 94,4% (Vaksin primer dan booster).

    Selain itu, terdapat penelitian uji klinis yang dipublikasikan American Academy of Pediatrics, melibatkan 1.500 anak untuk mendapatkan vaksin pneumonia, yakni 1.000 anak mendapatkan PCV20 dan 500 anak PCV13. “Penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum vaksin pneumonia memiliki keamanan yang baik dan dapat ditoleransi oleh anak,” kata Adam.

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelusuran Tempo, klaim bahwa vaksin PCV justru meningkatkan risiko tertular pneumonia dan kematian, termasuk anak-anak adalah menyesatkan.

    Rujukan