Akun Hazard (fb.com/attan.mail) mengunggah sebuah gambar ke grup Simpatisan KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) (fb.com/groups/942718382806877) dengan narasi “Bravo TNI”
Di gambar yang diunggah, terdapat prajurit Kopassus berbaret merah. Terdapat narasi sebagai berikut:
“”Siap menghancurkan PKI. jgnkan di balik partai politik, di sarang harimau atau di istana setan kalian bersembunhyipun kalian akan kami jemput. Camkan itu…!! GEMPAR.. SEGERA DIBACA SEBELUM DIHAPUS..!! Pesan Telak KOPASSUS Untuk PKI Yang Sekarang Mulai Bangkit!!..”
(GFD-2020-5176) [SALAH] “Pesan Telak KOPASSUS Untuk PKI Yang Sekarang Mulai Bangkit”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 06/10/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Medcom, klaim adanya pesan dari Kopassus untuk PKI adalah klaim yang keliru.
Faktanya, bukan dari Kopassus. Kepala Penerangan Kopassus Letkol Inf Tri Hadimatoyo menyatakan pesan tersebut hoaks.
Dilansir dari akun twitter resmi @penkopassus yang telah bercentang biru telah membantah informasi tersebut. Bantahan dari Kopassus diunggah pada 28 September 2017.
“Pemberitaan ini HOAX!!!, kepada semua masyakarat harus lebih bijak dalam menanggapi pemberitaan di sosial media.”
“Kopassus kan punya Twitter resmi, punya semua yang berkaitan dengan media resmi. Kalau itu kan gambar biasa itu, banyak di YouTube, orang ambil kan gampang saja. Ambil, terus tulis kata-kata,” ujar Tri kepada detikcom, Kamis (28/9/2017).
Tri mengatakan pihaknya enggan menanggapi kabar hoaks tersebut lebih jauh. Pesan tersebut dibuat oleh orang tidak bertanggung jawab yang tidak suka dengan TNI, khususnya Kopassus.
“Nggaklah (dari Kopassus), Kopassus kan tidak pernah keluarkan WA (menyebar) seperti itu. Itu kan kalau media sosial kita tidak pernah keluarkan WA, Telegram, dan sebagainya. Itu kan model-model yang kayaknya tidak terlalu penting untuk ditanggapi,” kata Tri.
“Itu kan gambar, jadi kita lihat ada gambar dimanfaatkan sama orang, ya kita tulis ‘hoax’ tengahnya. Kita ngapain memperkeruh suasana, nggak mungkinlah Kopassus membuat dan memperkeruh suasana. Kalau sudah ada tulisan ‘hoax’ di tengahnya, pasti bukan dari Kopassus,” tambah Tri.
Menurutnya, berita palsu Kopassus yang menulis kebangkitan PKI tersebut tidak perlu diperbesar. Namun pihaknya meminta untuk terus waspada dan memantau kemungkinan bangkitnya PKI di Indonesia.
“Jadi, menurut saya, tidak usah diperbesar yang seperti (berita palsu) itu. Yang jelas, seperti yang disampaikan Panglima, kita cukup mengamati, pasti ada, sudah jelas di mana tempatnya, kita amati saja gerakannya,” ungkapnya.
Faktanya, bukan dari Kopassus. Kepala Penerangan Kopassus Letkol Inf Tri Hadimatoyo menyatakan pesan tersebut hoaks.
Dilansir dari akun twitter resmi @penkopassus yang telah bercentang biru telah membantah informasi tersebut. Bantahan dari Kopassus diunggah pada 28 September 2017.
“Pemberitaan ini HOAX!!!, kepada semua masyakarat harus lebih bijak dalam menanggapi pemberitaan di sosial media.”
“Kopassus kan punya Twitter resmi, punya semua yang berkaitan dengan media resmi. Kalau itu kan gambar biasa itu, banyak di YouTube, orang ambil kan gampang saja. Ambil, terus tulis kata-kata,” ujar Tri kepada detikcom, Kamis (28/9/2017).
Tri mengatakan pihaknya enggan menanggapi kabar hoaks tersebut lebih jauh. Pesan tersebut dibuat oleh orang tidak bertanggung jawab yang tidak suka dengan TNI, khususnya Kopassus.
“Nggaklah (dari Kopassus), Kopassus kan tidak pernah keluarkan WA (menyebar) seperti itu. Itu kan kalau media sosial kita tidak pernah keluarkan WA, Telegram, dan sebagainya. Itu kan model-model yang kayaknya tidak terlalu penting untuk ditanggapi,” kata Tri.
“Itu kan gambar, jadi kita lihat ada gambar dimanfaatkan sama orang, ya kita tulis ‘hoax’ tengahnya. Kita ngapain memperkeruh suasana, nggak mungkinlah Kopassus membuat dan memperkeruh suasana. Kalau sudah ada tulisan ‘hoax’ di tengahnya, pasti bukan dari Kopassus,” tambah Tri.
Menurutnya, berita palsu Kopassus yang menulis kebangkitan PKI tersebut tidak perlu diperbesar. Namun pihaknya meminta untuk terus waspada dan memantau kemungkinan bangkitnya PKI di Indonesia.
“Jadi, menurut saya, tidak usah diperbesar yang seperti (berita palsu) itu. Yang jelas, seperti yang disampaikan Panglima, kita cukup mengamati, pasti ada, sudah jelas di mana tempatnya, kita amati saja gerakannya,” ungkapnya.
Kesimpulan
BUKAN dari Kopassus. Kepala Penerangan Kopassus Letkol Inf Tri Hadimatoyo menyatakan pesan tersebut hoaks.
Rujukan
(GFD-2020-5177) [SALAH] “BERSEPEDA PAKAI MASKER, MAKAN KORBAN JIWA DI DENPASAR”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 06/10/2020
Berita
Akun Made In Bali (fb.com/169859196453069) mengunggah beberapa foto dengan klaim sebagai berikut:
“AMOR ING ACINTYA :cry::cry::cry:
BERSEPEDA PAKAI MASKER, MAKAN KORBAN JIWA DI DENPASAR.
.
Diduga bermasker saat bersepeda, seorang pengendara sepeda meregang nyawa di jalan.
Orqngnya jatuh sendiri di depan banjar Panti Sanur, dinyatakan telah meninggal dunia.
Kejadian pada Sabtu 03/10/20 pkl. 06.40 wita, selanjutnya korban atas nama I Nyoman Sumarta, SH. Alamat ; Jl. Danau Tondano No. 35, Br. Danginpeken Sanur – Denpasar Selatan, dievakuasi menggunakan bantuan dari Ambulans BPBD kota Denpasar.
#bpbd#bpbddenpasar
VIA @info jagat maya”
“AMOR ING ACINTYA :cry::cry::cry:
BERSEPEDA PAKAI MASKER, MAKAN KORBAN JIWA DI DENPASAR.
.
Diduga bermasker saat bersepeda, seorang pengendara sepeda meregang nyawa di jalan.
Orqngnya jatuh sendiri di depan banjar Panti Sanur, dinyatakan telah meninggal dunia.
Kejadian pada Sabtu 03/10/20 pkl. 06.40 wita, selanjutnya korban atas nama I Nyoman Sumarta, SH. Alamat ; Jl. Danau Tondano No. 35, Br. Danginpeken Sanur – Denpasar Selatan, dievakuasi menggunakan bantuan dari Ambulans BPBD kota Denpasar.
#bpbd#bpbddenpasar
VIA @info jagat maya”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim CekFakta Tempo, klaim adanya pesepeda di Denpasar yang meninggal karena memakai masker adalah klaim yang salah.
Faktanya, bukan karena memakai masker. Pengendara sepeda yang berinisial INS itu meninggal usai terjatuh dari sepedanya karena mengalami serangan jantung. Menurut pihak keluarga, INS memang memiliki riwayat penyakit jantung.
Dilansir dari Kumparan.com, Koordinator Ambulans Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Denpasar, Dewa Mahendra, mengatakan INS meninggal setelah terjatuh dari sepedanya sekitar pukul 06.30 WITA. INS pun dievakuasi oleh petugas ambulans Public Safety Center (PSC) BPBD Pos Juanda. “Setelah dilakukan pemeriksaan, rupanya korban terserang penyakit jantung,” ujar Dewa.
INS kemudian dibawa ke kediamannya yang terletak di Sanur, Bali. “Atas permintaan dari keluarga, korban langsung dievakuasi ke kediamannya,” kata Dewa. Menurut keterangan keluarga korban, INS memang memiliki riwayat penyakit jantung. “Kemarin masih aktif kontrol ke rumah sakit,” tuturnya.
Peristiwa ini juga diberitakan oleh Tribun Bali. Dilansir dari Tribun Bali, menurut Ni Putu Isma Diarthi, petugas medis PSC BPBD Denpasar yang menangani korban di lokasi kejadian, menjelaskan bahwa korban memang memiliki riwayat penyakit jantung.
Hal itu dibenarkan oleh pihak keluarga. Sebelum meninggal pun, korban masih aktif kontrol ke rumah sakit. “Informasi dari keluarga, almarhum INS memiliki riwayat sakit jantung, kemarin masih aktif kontrol ke rumah sakit,” katanya. Sebelum meninggal, INS sempat mengalami napas tersendat dan mengap-mengap.
Isu soal adanya orang yang meninggal ketika bersepeda menggunakan masker bukan kali ini saja beredar. Pada awal Juni 2020, terdapat isu serupa yang menyebar. Pesepeda yang meninggal ketika itu pun memiliki riwayat penyakit jantung. Menanggapi isu ini, dilansir dari Kompas.com, dokter spesialis kedokteran olahraga Michael Triangto menjelaskan, jika memang ada gangguan jantung yang dimiliki oleh pesepeda tersebut, kemungkinkan terbesar itulah penyebabnya, bukan karena penggunaan masker.
Menurut Michael, orang dengan riwayat gangguan jantung tentu berisiko terkena serangan jantung kapan pun, terlepas menggunakan masker atau tidak. Bahkan, ia bisa mengalami serangan jantung ketika tidur maupun sedang berolahraga. Michael menyatakan, ketimbang berdiam diri saja, risiko kematian bagi orang dengan riwayat penyakit jantung tentu akan meningkat ketika melakukan aktivitas seperti berolahraga. Ini dikarenakan jantung bekerja lebih berat untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
Namun, bukan berarti orang dengan gangguan jantung tidak bisa berolahraga. Sebaliknya, menurut Michael, mereka diwajibkan berolahraga, dengan catatan disesuaikan dengan kapasitas tubuh sehingga tidak memicu kerja jantung yang terlalu berat. Michael menjelaskan menggunakan masker ketika berolahraga memang akan mempengaruhi sirkulasi udara. Namun, bukan berarti seseorang bakal meninggal karena kehabisan napas lantaran berolahraga menggunakan masker.
Jika merasa tidak nyaman, seseorang pasti akan merespons dengan melepas masker tersebut. “Kalau mulai pusing (karena sulit bernapas), kenapa enggak dibuka? Masak kamu enggak mampu untuk buka masker sendiri yang jadi penyebab itu (sulit bernapas),” katanya. Michael pun menambahkan, di tengah pandemi Covid-19, kita tetap bisa berolahraga menggunakan masker selama itu ringan. Menurut dia, olahraga berat umumnya hanya dilakukan oleh atlet, yang tentunya berada di lokasi khusus dan tidak perlu mengenakan masker.
Faktanya, bukan karena memakai masker. Pengendara sepeda yang berinisial INS itu meninggal usai terjatuh dari sepedanya karena mengalami serangan jantung. Menurut pihak keluarga, INS memang memiliki riwayat penyakit jantung.
Dilansir dari Kumparan.com, Koordinator Ambulans Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Denpasar, Dewa Mahendra, mengatakan INS meninggal setelah terjatuh dari sepedanya sekitar pukul 06.30 WITA. INS pun dievakuasi oleh petugas ambulans Public Safety Center (PSC) BPBD Pos Juanda. “Setelah dilakukan pemeriksaan, rupanya korban terserang penyakit jantung,” ujar Dewa.
INS kemudian dibawa ke kediamannya yang terletak di Sanur, Bali. “Atas permintaan dari keluarga, korban langsung dievakuasi ke kediamannya,” kata Dewa. Menurut keterangan keluarga korban, INS memang memiliki riwayat penyakit jantung. “Kemarin masih aktif kontrol ke rumah sakit,” tuturnya.
Peristiwa ini juga diberitakan oleh Tribun Bali. Dilansir dari Tribun Bali, menurut Ni Putu Isma Diarthi, petugas medis PSC BPBD Denpasar yang menangani korban di lokasi kejadian, menjelaskan bahwa korban memang memiliki riwayat penyakit jantung.
Hal itu dibenarkan oleh pihak keluarga. Sebelum meninggal pun, korban masih aktif kontrol ke rumah sakit. “Informasi dari keluarga, almarhum INS memiliki riwayat sakit jantung, kemarin masih aktif kontrol ke rumah sakit,” katanya. Sebelum meninggal, INS sempat mengalami napas tersendat dan mengap-mengap.
Isu soal adanya orang yang meninggal ketika bersepeda menggunakan masker bukan kali ini saja beredar. Pada awal Juni 2020, terdapat isu serupa yang menyebar. Pesepeda yang meninggal ketika itu pun memiliki riwayat penyakit jantung. Menanggapi isu ini, dilansir dari Kompas.com, dokter spesialis kedokteran olahraga Michael Triangto menjelaskan, jika memang ada gangguan jantung yang dimiliki oleh pesepeda tersebut, kemungkinkan terbesar itulah penyebabnya, bukan karena penggunaan masker.
Menurut Michael, orang dengan riwayat gangguan jantung tentu berisiko terkena serangan jantung kapan pun, terlepas menggunakan masker atau tidak. Bahkan, ia bisa mengalami serangan jantung ketika tidur maupun sedang berolahraga. Michael menyatakan, ketimbang berdiam diri saja, risiko kematian bagi orang dengan riwayat penyakit jantung tentu akan meningkat ketika melakukan aktivitas seperti berolahraga. Ini dikarenakan jantung bekerja lebih berat untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
Namun, bukan berarti orang dengan gangguan jantung tidak bisa berolahraga. Sebaliknya, menurut Michael, mereka diwajibkan berolahraga, dengan catatan disesuaikan dengan kapasitas tubuh sehingga tidak memicu kerja jantung yang terlalu berat. Michael menjelaskan menggunakan masker ketika berolahraga memang akan mempengaruhi sirkulasi udara. Namun, bukan berarti seseorang bakal meninggal karena kehabisan napas lantaran berolahraga menggunakan masker.
Jika merasa tidak nyaman, seseorang pasti akan merespons dengan melepas masker tersebut. “Kalau mulai pusing (karena sulit bernapas), kenapa enggak dibuka? Masak kamu enggak mampu untuk buka masker sendiri yang jadi penyebab itu (sulit bernapas),” katanya. Michael pun menambahkan, di tengah pandemi Covid-19, kita tetap bisa berolahraga menggunakan masker selama itu ringan. Menurut dia, olahraga berat umumnya hanya dilakukan oleh atlet, yang tentunya berada di lokasi khusus dan tidak perlu mengenakan masker.
Kesimpulan
Bukan karena memakai masker. Pengendara sepeda yang berinisial INS itu meninggal usai terjatuh dari sepedanya karena mengalami serangan jantung. Menurut pihak keluarga, INS memang memiliki riwayat penyakit jantung.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1040/fakta-atau-hoaks-benarkah-pesepeda-di-denpasar-ini-meninggal-karena-pakai-masker
- https://kumparan.com/kanalbali/jatuh-dari-sepeda-seorang-pria-di-denpasar-meninggal-dunia-1uJmaVsyuuN
- https://jakarta.tribunnews.com/2020/10/03/pesepeda-56-tahun-mendadak-meninggal-usai-terjatuh-di-sanur-sempat-megap-megap-saat-kenakan-masker
- https://www.kompas.com/sains/read/2020/06/02/203033223/bersepeda-pakai-masker-sebabkan-kematian-benarkah
(GFD-2020-5214) [SALAH] Pengantin Wanita Meninggal saat Dirias
Sumber: facebook.comTanggal publish: 06/10/2020
Berita
Viral Pengantin Wanita di Pemalang – Jawa Tengah Meninggal Saat Dirias Jelang Akad
Hasil Cek Fakta
Melalui media sosial Facebook, akun Muslim Dunia membagikan artikel berjudul “Viral Pengantin Wanita di Pemalang – Jawa Tengah Meninggal Saat Dirias Jelang Akad”. Tampilan sampul depan yang digunakan pada artikel tersebut diketahui berasal dari sebuah video TikTok yang diunggah akun @aisyahnaura0.
Berdasar penelusuran, informasi yang menyebut pengantin meninggal adalah salah. Dilansir oleh detik.com, pemilik akun TikTok Aisyah yang pertama kali mengunggah video pengantin melakukan klarifikasi.
Aisyah menegaskan, pengantin wanita dalam video yang diunggahnya ke tidak meninggal dunia, melainkan hanya tertidur.
“Disini saya akan mengklarifikasi tentang video TikTok saya, yang sedang viral tentang pengantin tertidur itu. Di sana saya sudah kasih judul tertidur, bukan meninggal. Video itu saya ambil pada 12 Agustus 2020. Pas acara pernikahan kedua mempelai, di desa Kepohagung,Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kebetulan saya sebagai tukang riasnya” kata Aisyah.
Lanjut Aisyah menjelaskan terkait faktor pengantin wanita itu tertidur saat dirias.
“Saat itu pengantin wanita lemas, mungkin karena factor kecapekan, dan itu terjadi pada saat sesi foto-foto keluarga. Saya sudah ketemu sama pengantin dan sudah membuat kalrifikasi tentang video itu. Tolong diluruskan pemberitaan yang simpang siur tersebut.” lanjut Aisyah.
Dengan demikian, viralnya video pengantin meninggal saat dirias termasuk kategori Konten yang Menyesatkan. Hal ini dikarenakan Video tersebut adalah tidak sesuai fakta.
Berdasar penelusuran, informasi yang menyebut pengantin meninggal adalah salah. Dilansir oleh detik.com, pemilik akun TikTok Aisyah yang pertama kali mengunggah video pengantin melakukan klarifikasi.
Aisyah menegaskan, pengantin wanita dalam video yang diunggahnya ke tidak meninggal dunia, melainkan hanya tertidur.
“Disini saya akan mengklarifikasi tentang video TikTok saya, yang sedang viral tentang pengantin tertidur itu. Di sana saya sudah kasih judul tertidur, bukan meninggal. Video itu saya ambil pada 12 Agustus 2020. Pas acara pernikahan kedua mempelai, di desa Kepohagung,Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kebetulan saya sebagai tukang riasnya” kata Aisyah.
Lanjut Aisyah menjelaskan terkait faktor pengantin wanita itu tertidur saat dirias.
“Saat itu pengantin wanita lemas, mungkin karena factor kecapekan, dan itu terjadi pada saat sesi foto-foto keluarga. Saya sudah ketemu sama pengantin dan sudah membuat kalrifikasi tentang video itu. Tolong diluruskan pemberitaan yang simpang siur tersebut.” lanjut Aisyah.
Dengan demikian, viralnya video pengantin meninggal saat dirias termasuk kategori Konten yang Menyesatkan. Hal ini dikarenakan Video tersebut adalah tidak sesuai fakta.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Rahmi Kania Dewi (Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta)
Informasi salah. Pengantin tersebut nyatanya hanya tertidur karena kelelahan.
Selengkapnya terdapat di penjelasan.
Informasi salah. Pengantin tersebut nyatanya hanya tertidur karena kelelahan.
Selengkapnya terdapat di penjelasan.
Rujukan
(GFD-2020-5215) [SALAH] Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Dihuni Gerombolan PKI
Sumber: facebook.comTanggal publish: 06/10/2020
Berita
“Perhatikan…!!! Putih yg hanya dimoncong
melambangkan kata” manis yg menarik
simpati dgn janji” yg tanpa realisasi..mata
merah memancarkan kesadisan dan kebrutalan yg tiada peri..tubuh hitam menyelimuti layakx kegelapan malam yg menyeramkan..
TUGAS KITA
MENYAMPEKAN
INI PARTAI DIHUNI
GEROMBOLAN PKI
KLAU ANDA WARAS JANGAN DIPILIH” unggah akun Facebook Yunus Bin Matta, Kamis (8/9).
melambangkan kata” manis yg menarik
simpati dgn janji” yg tanpa realisasi..mata
merah memancarkan kesadisan dan kebrutalan yg tiada peri..tubuh hitam menyelimuti layakx kegelapan malam yg menyeramkan..
TUGAS KITA
MENYAMPEKAN
INI PARTAI DIHUNI
GEROMBOLAN PKI
KLAU ANDA WARAS JANGAN DIPILIH” unggah akun Facebook Yunus Bin Matta, Kamis (8/9).
Hasil Cek Fakta
Akun Facebook Yunus Bin Matta mengunggah lambang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan diikuti dengan narasi bahwa partai PDIP diisi dengan gerombolan PKI, pada Kamis (8/9).
Dari hasil penelusuran, melansir dari merdeka.com, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri pernah mengeluarkan surat edaran berisi bantahan terhadap pihak-pihak yang mengaitkan PDIP dengan paham Komunisme. Surat dengan nomor 2588/IN/DPP/II/2017 itu ditandatangani langsung oleh Megawati Soekarnoputri dan Sekjen Hasto Kristyanto, Surat itu dikeluarkan pada Kamis (2/2/17).
Isinya penjelasan sekaligus instruksi dari Megawati agar para kader menyosialisasikan dan menjelaskan bahwa PDIP adalah partai yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945. Seluruh kader juga diminta untuk melaksanakan asas partai yang sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila dalam praktek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Adapun isi dari surat tersebut adalah:
“PDIP tidak memiliki kaitan apapun dengan ajaran komunisme karena PDI Perjuangan sebagai partai nasionalis yang menjunjung tinggi dan melaksanakan nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Demokrasi, dan keadilan sosial yang terkandung dalam Pancasila”.
Melalui penelusuran lebih lanjut, Pemerintah Republik Indonesia sendiri telah menetapkan MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi PKI, dan Larangan Menyebarkan atau Mengembangkan Paham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme.
Disebutkan juga pada pasal 107e undang-undang nomor 27 tahun 1999, bahwa barang siapa yang mendirikan organisasi yang diketahui atau patut diduga menganut ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme atas dalam segala bentuk dan perwujudannya atau barang siapa yang mengadakan hubungan dengan atau memberikan bantuan kepada organisasi, baik didalam maupun di luar negeri, yang diketahuinya berasaskan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme atau dalam segala bentuk dan perwujudannya dengan maksud mengubah dasar negara atau menggulingkan Pemerintah yang sah akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.
Berdasar dari seluruh referensi, unggahan Yunus Bin Matta tidak sesuai fakta dan masuk ke dalam kategori misleading content atau konten menyesatkan
Dari hasil penelusuran, melansir dari merdeka.com, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri pernah mengeluarkan surat edaran berisi bantahan terhadap pihak-pihak yang mengaitkan PDIP dengan paham Komunisme. Surat dengan nomor 2588/IN/DPP/II/2017 itu ditandatangani langsung oleh Megawati Soekarnoputri dan Sekjen Hasto Kristyanto, Surat itu dikeluarkan pada Kamis (2/2/17).
Isinya penjelasan sekaligus instruksi dari Megawati agar para kader menyosialisasikan dan menjelaskan bahwa PDIP adalah partai yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945. Seluruh kader juga diminta untuk melaksanakan asas partai yang sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila dalam praktek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Adapun isi dari surat tersebut adalah:
“PDIP tidak memiliki kaitan apapun dengan ajaran komunisme karena PDI Perjuangan sebagai partai nasionalis yang menjunjung tinggi dan melaksanakan nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Demokrasi, dan keadilan sosial yang terkandung dalam Pancasila”.
Melalui penelusuran lebih lanjut, Pemerintah Republik Indonesia sendiri telah menetapkan MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi PKI, dan Larangan Menyebarkan atau Mengembangkan Paham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme.
Disebutkan juga pada pasal 107e undang-undang nomor 27 tahun 1999, bahwa barang siapa yang mendirikan organisasi yang diketahui atau patut diduga menganut ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme atas dalam segala bentuk dan perwujudannya atau barang siapa yang mengadakan hubungan dengan atau memberikan bantuan kepada organisasi, baik didalam maupun di luar negeri, yang diketahuinya berasaskan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme atau dalam segala bentuk dan perwujudannya dengan maksud mengubah dasar negara atau menggulingkan Pemerintah yang sah akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.
Berdasar dari seluruh referensi, unggahan Yunus Bin Matta tidak sesuai fakta dan masuk ke dalam kategori misleading content atau konten menyesatkan
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Rizky Maulana (Universitas Bina Sarana Informatika).
Faktanya, Melalui surat dengan nomor 2588/IN/DPP/II/2017, yang ditandatangani Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Sekjen Hasto Kristyanto yang isinya menjelaskan sekaligus instruksi dari Megawati agar para kader menyosialisasikan dan menjelaskan bahwa PDIP adalah partai yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945.
Faktanya, Melalui surat dengan nomor 2588/IN/DPP/II/2017, yang ditandatangani Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Sekjen Hasto Kristyanto yang isinya menjelaskan sekaligus instruksi dari Megawati agar para kader menyosialisasikan dan menjelaskan bahwa PDIP adalah partai yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945.
Rujukan
Halaman: 7253/8086



