• (GFD-2020-8188) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Masuk Kawasan Pantai Indah Kapuk Harus Pakai Paspor?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 17/07/2020

    Berita


    Klaim bahwa masuk kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) harus memakai paspor beredar di media sosial. Klaim itu dibagikan bersama gambar tangkapan layar artikel di situs Geloranews yang memuat foto beberapa pesepada serta cuitan di Twitter yang berisi klaim tersebut.
    Di Facebook, gambar tangkapan layar itu diunggah salah satunya oleh akun Raf Rafaini pada 15 Juli 2020 dengan narasi, “Kalo bener, hebat banget bangsa ini. Ada negara dalam negara, dgn penduduk etnis tertentu. Luar biasa. Buat yg selalu teriak NKRI harga mati, sana gih main-main ke PIK.”
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Raf Rafaini.
    Apa benar masuk kawasan Pantai Indah Kapuk harus memakai paspor?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, foto pesepeda yang dimuat di situs Geloranews tersebut merupakan gambar tangkapan layar video yang dibikin oleh seorang pesepeda yang mengaku dimintai paspor oleh penjaga portal saat hendak memasuki kawasan PIK.
    Video tersebut ramai di media sosial sejak 14 Juli 2020. Di Twitter, video berdurasi 39 detik ini diunggah salah satunya oleh akun Zulkifli Lubis. Dalam video itu, terdengar seorang pesepeda yang berkata:
    "Jadi, seperti tadi sudah saya sampaikan bahwa kalau memasuki tempat ini di atas jam 9 harus pakai paspor, harus minta izin kepada pemilik di kantor marketing. Karena ini sudah dikuasai pihak swasta, jadi kita sebagai rakyat tidak bisa. Mobil yang bebas, Pak. Jadi, harus pakai paspor ya. Ini kalau kita ke Pantai Indah Kapuk itu seperti turis di negeri sendiri. Parah."
    Dilansir dari Detik.com, pengelola PIK 2, Agung Sedayu Group, membantah bahwa masuk kawasan Pantai Indah Kapuk harus memakai paspor. "Isu paspor sama sekali tidak benar," ujar Township Management Director Agung Sedayu Group, Restu Mahesa, pada 15 Juli 2020.
    Restu mengatakan warga yang hendak masuk atau berolahraga di kawasan PIK 2 memang harus melapor ke petugas. Namun, kebijakan ini bukan pelarangan warga untuk masuk, melainkan hanya mendata warga agar yang masuk ke PIK 2 aman mengingat masih adanya pembangunan di kawasan itu.
    "Proyek kami masih berjalan di beberapa lokasi, masih belum bisa diakses secara umum. Karena membahayakan bilamana pengunjung masuk ke area tersebut, masih banyak alat berat, masih banyak truk di sana, sehingga kami berikan kebijakan yang akan olahraga tetap minta izin sehingga tercatat semuanya," ujar Restu.
    Dilansir dari Suara.com, Wali Kota Jakarta Utara Sigit Wijatmoko juga menjelaskan bahwa pengelola PIK 2 tengah melakukan pengaturan jadwal kendaraan masuk karena sedang ada pengerjaan proyek. Berbagai kendaraan berat, seperti truk, akan lalu lalang di atas pukul 09.00 dan pesepeda dilarang melintas demi keselamatan.
    "Info security, ada pengaturan untuk giat olahraga atau bersepeda di kawasan tersebut dalam rangka aspek keselamatan mengingat di lokasi masih banyak alat berat beroperasi dan mobilisasi truk besar," kata Sigit. Ia juga menyebut, tepat di dekat pos keamanan tempat pesepeda itu dihentikan, ada pemberitahuan jadwal kendaraan.
    Sigit menduga para pesepeda tersebut tidak melihatnya. Karena terlanjur kesal, menurut dia, pesepeda itu akhirnya mengeluarkan sindiran bahwa untuk bisa masuk PIK 2 harus menggunakan paspor. "Yang bersangkutan tidak jelaskan waktu ada di lokasi, padahal di belakang jelas ada spanduk yg mengatur penggunaan jalur untuk bersepeda," tuturnya.
    Dilansir dari Kumparan.com, Camat Penjaringan, Jakarta Utara, Depika Romadi, pun melakukan pengecekan lapangan pada 14 Juli 2020. Dalam video klarifikasi yang dikirimkan oleh Depika, terlihat bahwa ia mengunjungi sejumlah lokasi untuk mengecek laporan dalam video yang viral itu.
    Pertama, ia melihat suasana dari PIK 1 menuju Pantai Maju melalui jembatan sekitar pukul 19.15. Terlihat sejumlah orang yang bersepeda. Ia mengatakan tidak ada penutupan jalan menuju Pantai Maju. Depika juga mengecek bagian sisi timur tanggul Pantai Maju, tepatnya di Jalasena. Terlihat sejumlah masyarakat yang beraktivitas, mulai dari jalan-jalan hingga bersepeda, termasuk di area bundaran Pantai Maju. 
    Selain melakukan pengecekan, Depika juga bertanya kepada petugas soal spanduk yang berisi aturan terkait akses menuju PIK 2 bagi pengguna sepeda. Petugas menjelaskan, akses ke jembatan tersebut belum dibuka untuk umum karena area proyek di mana banyak mobil besar maupun alat berat. 
    Kemudian, Depika menanyakan soal aturan untuk pesepeda yang tertulis dalam spanduk, yakni waktu bersepeda di pagi hari pukul 06.00-09.00 dan sore hari pukul 16.00-17.00. "Jadi, bilamana ada kegiatan bersepeda yang menggunakan seperti di sini dikatakan izin khusus (menunjukkan spanduk) kami akan menyesuaikan aturan di sini," ujar petugas kepada Depika.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa masuk kawasan Pantai Indah Kapuk harus memakai paspor keliru. Pengelola PIK 2, Agung Sedayu Group, telah membantah bahwa masuk kawasan PIK harus memakai paspor. Wali Kota Jakarta Utara Sigit Wijatmoko pun menjelaskan bahwa pengelola PIK 2 tengah melakukan pengaturan jadwal kendaraan masuk karena sedang ada pengerjaan proyek. Berbagai kendaraan berat, seperti truk, akan lalu lalang di atas pukul 09.00 dan pesepeda dilarang melintas demi keselamatan.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-4357) [SALAH] Setelah Ada Yang Bakar Bendera PDIP, Kaos Gambar Banteng Semakin Go Publik Di Arab Saudi

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 16/07/2020

    Berita

    Akun facebook bernama Ibnu Syukur mengunggah gambar jaket dengan menambahkan narasi “Setelah ada yang bakar bendera PDIP, kaos bergambar banteng semakin go publik hadir di Arab Saudi.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, gambar banteng yang ada di jaket tersebut adalah logo milik tim basket NBA Chicago Bulls dan tidak ada sangkut pautnya dengan PDIP maupun aksi pembakaran terhadap bendera PDIP pada demo RUU HIP beberapa waktu lalu.

    Logo bergambar hewan banteng pada tim NBA Chicago Bulls sudah digunakan sejak awal tim tersebut berdiri yaitu tahun 1966. Sementara itu untuk merchandise Chicago Bulls sendiri memang tersebar hampir di seluruh dunia termasuk Arab Saudi.

    Kesimpulan

    Logo banteng tersebut adalah logo milik tim basket NBA Chicago Bulls dan tidak ada sangkut pautnya dengan PDIP maupun aksi pembakaran terhadap bendera PDIP pada demo RUU HIP beberapa waktu lalu.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4358) [SALAH] Video “Ini adalah pusat Judi terbesar pertama di Arab Saudi Arabia”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 16/07/2020

    Berita

    Akun Ki Ageng Cakra Bumi (fb.com/kisabda.ciptarasa) membagikan video yang diunggah oleh akun hijab_cantik849 (fb.com/hijabcantikr) dengan narasi “Yg kmu anggp orang arab itu suci dimna nya perjudian di sana mlh kaya god of gambler”

    Video yang sudah diunggah sejak 31 Desember 2019 itu, diberi narasi:

    “Astagfirullahal’azim…
    Mari kita bersama-sama berlindung kepada Allah swt…
    Ini adalah pusat Judi terbesar pertama di Arab Saudi Arabia. Yang telah di resmikan di Jeddah oleh Fatwa Mufti Wahaby. #Khiamatsemakindekat#”

    Dalam video berdurasi 19 detik itu, memperlihatkan beberapa kelompok pria berpakaian ghutrah (pakaian khas pria Timur Tengah) yang sedang bermain sejenis permainan kartu.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa video beberapa kelompok pria berpakaian ghutrah (pakaian khas pria Timur Tengah) yang sedang bermain sejenis permainan kartu adalah pusat judi terbesar pertama di Arab Saudi adalah klaim yang salah.

    Bukan pusat judi. Acara di video itu adalah kompetisi resmi pertama permainan Kartu Baloot. “Baloot” mirip dengan permainan kartu Belote dari Prancis dan merupakan salah satu permainan yang populer di Arab Saudi.

    Pada tahun 2018, klaim yang mirip sudah pernah diperiksa faktanya dan dimuat di situs turnbackhoax.id. Lokasi yang direkam di video yang disertakan di post yang diedarkan pada tahun 2018 itu bukan lounge untuk berjudi. Video tersebut merekam event turnamen kartu, yaitu event permainan kartu “Baloot” selama 4 hari.

    Dilansir dari liputan6.com, permainan kartu itu bernama Baloot sangat populer di Arab Saudi. Permainan ini terinspirasi dari permainan bernama Belote asal Prancis serta Rummy asal India dan Pakistan.

    Seperti dikutip dari media Pakistan Geo TV News, kompetisi Baloot itu diselenggarakan pada 4-18 April 2018 di King Abdullah Petroleum Studies and Research Center. Kompetisi ini diselengarakan Otoritas Hiburan Umum Pemerintah Saudi diikuti oleh 12 ribu peserta.

    Dilansir dari Detik.com, turnamen yang berlangsung selama empat hari ini menyediakan total hadiah sekitar satu juta riyal Saudi (270 ribu USD) untuk empat tim teratas.

    Ulama senior, Sheikh Adel al-Kalbani, hadir di hari pembukaan turnamen kartu tersebut. “Sayangnya saya tidak tahu cara bermain Baloot namun saya berharap semua orang beruntung dan saya berharap ada sportivitas yang baik,” ujar ulama tersebut.

    Kesimpulan

    Bukan pusat judi. Acara di video itu adalah kompetisi resmi pertama permainan Kartu Baloot. “Baloot” mirip dengan permainan kartu Belote dari Prancis dan merupakan salah satu permainan yang populer di Arab Saudi.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4360) [SALAH] Gambar “Islam Jangan Liberal!”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 16/07/2020

    Berita

    Akun Rama Firmansyah (fb.com/100009698109052) mengunggah sebuah gambar yang terdapat narasi sebagai berikut:

    “ISLAM JANGAN LIBERAL!”

    Terdapat ilustrasi penggunaan masker yang dibawahnya terdapat narasi:

    “Islam ada di atas, leberal ada di bawah!”, “banyak yang tergoda untuk menurunkan keislamanya sehingga tercampur liberalisme.” dan, “Islam yang sudah tercampur liberalisme akan menginfeksi pernafasan sehingga wajah korban akan menjadi merah seperti wajah Aidit.”

    Terdapat logo Kumparan, kemudian narasi “kumparan Olah data: Brian Hikari | Grafis: Hod Susanto” dan “@kumparancom”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya konten grafis dari kumparan yang berisi ilustrasi yang mengaitkan cara pemakaian masker dengan “ISLAM JANGAN LIBERAL!” adalah klaim yang salah.

    Konten grafis yang diunggah oleh sumber klaim adalah konten yang sudah mengalami proses editan atau suntingan. Konten asli dari kumparancom adalah grafis dengan narasi “JANGAN TURUN KE DAGU”, terkait imbauan agar masyarakat tak menurunkan maskernya ke dagu karena hal ini justru akan mencemari masker.

    Konten grafis yang asli, diunggah di media sosial milik kumparan.com, pada tanggal 13 Juli 2020.

    Misalnya, di akun facebooknya, kumparan mengunggah konten tersebut dengan narasi: “Pakai masker yang benar ya, agar tidak terpapar virus, bakteri, atau kuman. Oke? #TopNews https://bit.ly/38XXfbK”

    Sementara di akun Instagramnya, konten itu diunggah dengan narasi : “Pakai masker yang benar ya, agar tidak terpapar virus, bakteri, atau kuman. Oke?”

    Konten grafis tersebut, berisi ilustrasi penggunaan masker dengan narasi masing-masing:

    “JANGAN TURUN KE DAGU”, “Area terekspos”, “Bagian dalam masker kini tercema.”, “Mulut dan hidung terpapar bakteri, virus, atau kuman.” dan “Bila ingin makan, minum atau aktivitas apapun yang mesti lepas masker, lepas saja seluruhnya.”

    Akun Rama Firmansyah sendiri, akhirnya meminta maaf dan menghapus postingannya setelah ada klarifikasi langsung kumparan yang meminta warganet berhati-hati atas beredarnya konten hoax hasil modifikasi dari infografik kumparan, dengan pesan yang melenceng dari aslinya dan mengajak warganet melaporkan akun yang menyebarkan informasi bohong tersebut.

    “PERNYATAAN MAAF
    Saya, Rama Firmansyah, mewakili rekan rekan saya untuk meminta maaf karena memparodikan infografis kumparan yang mencantumkan nama Brian Hikari dan Hod Susanto selaku staf kumparan. Tidak ada niatan misinformasi dari kami, dan kami mengapresiasi tindak cepat dari Kumparan karena mencerminkan etos pemberantasan hoax yang baik. Untuk netizen, kami ucapkan terima kasih pula atas peringatanya. Kalian memberi peringtan secara sopan, dan etos yang sopan tersebut kami apresiasi. Sekian dan selamat malam.” Tulis Rama Firmansyah di akunnya.

    Kesimpulan

    Konten suntingan / editan. Konten asli dari kumparancom adalah grafis dengan narasi “JANGAN TURUN KE DAGU”, terkait imbauan agar masyarakat tak menurunkan maskernya ke dagu karena hal ini justru akan mencemari masker. Sumber klaim juga sudah meminta maaf dan menghapus postingannya.

    Rujukan