• (GFD-2021-8798) Keliru, Video Wawancara Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan Presiden Jokowi saat KTT G20 2021 di Italia

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 01/11/2021

    Berita


    Sebuah video yang memperlihatkan Menteri Keuangan Sri Mulyani melakukan wawancara dengan Presiden Joko Widodo beredar di media sosial. Video tersebut dibagikan dengan narasi bahwa Menteri Keuangan Sri Mulyani mewawancarai Presiden Jokowi saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 2021 di Roma, Italia.
    Di Twitter, video tersebut dibagikan akun ini pada 1 November 2021. Akun inipun menuliskan narasi, “Semangat pagi. Reporter spesial Menteri Keuangan Sri Mulyani mewawancarai Presiden @jokowi yang menjadi tokoh sentral KTT G20 karena Indonesia memegang keketuaan G20, menggantikan Italy. Laporan langsung dari Roma!”.
    Dalam video berdurasi 56 detik tersebut Sri Mulyani bertanya kepada Jokowi perihal agenda pertemuan di hari kedua pertemuan tersebut.
    Hingga artikel ini dimuat video tersebut telah diretweets sebanyak 223 kali dan mendapat 40 quote. Apa benar ini video wawancara Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan Presiden Jokowi saat KTT G20 2021 di Roma, Italia?
    Tangkapan layar klaim Video Wawancara Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan Presiden Jokowi saat KTT G20 2021 di Italia

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menyaksikan video tersebut dari awal hingga akhir. Hasilnya, pada detik ke 0:48 hingga 0:50 terlihat backdrop dalam ruangan tersebut yang bertuliskan, “G20 Osaka Summit 2019”.
    Selanjutnya, Tim CekFakta Tempo juga memfragmentasi video tersebut dengan menggunakan tool Invid. Gambar-gambar fragmentasi ditelusuri jejak digitalnya dengan menggunakan reverse image Google dan Yandex. Hasilnya, video tersebut telah beredar di internet sejak Juni 2019, tepatnya saat hari kedua KTT G20 Leders yang membahas Inequalities and Realizing Inclusive and Sustainable World.
    Video yang identik dengan kualitas yang lebih baik pernah diunggah ke Instagram oleh akun terverifikasi @smindrawati pada 29 Juni 2019.
    “Saya menyempatkan diri ngevlog dengan Presiden RI Joko Widodo @jokowi. Disamping itu juga membahas tentang pentingnya Women Empowerment. Sesuai dengan temanya, saya mengajak Presiden RI Joko Widodo @jokowi , untuk foto bersama wanita yang hadir antara lain: Menlu Retno Marsudi @retno_marsudi, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde @christinelagarde , Permaisuri Belanda Ratu Maxima dan Ivanka Trump. Osaka, 29 Juni 2019,” tulis akun @smindrawati.
    Video yang identik pernah diunggah ke Youtube oleh kanal Indonesia PANCASILA pada 29 Juni 2019 dengan judul, “ Wawancara Singkat Pak De ”.
    Video identik lainnya juga pernah diunggah ke Youtube oleh kanal MEGAWIN TV pada 30 Juni 2019 dengan judul, “ Pak jokowi di wawancarai oleh wartawan dadakan ”.
    Saat menghadiri pertemuan KTT G20 di Osaka, Jepang, Sri Mulyani memang menyempatkan diri untuk ngevlog bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi).
    Dilansir dari Liputan6.com, dalam unggahan tersebut, Sri Mulyani menyebutkan pada hari kedua KTT G20 Leaders membahas inequalities and realizing insclusive and suistanable world.
    Sri Mulyani menuturkan, dirinya menyempatkan diri ngevlog dengan Presiden Joko Widodo saat hari kedua KTT G20.
    "Saya menyempatkan diri ngevlog dengan Presiden Joko Widodo," tulis Sri Mulyani seperti dikutip dari laman instagram @smindrawati.
    Pada video singkat berdurasi hampir satu menit di instagram, Sri Mulyani menuturkan, kalau Presiden Jokowi telah bertemu dengan banyak tokoh-tokoh terutama perempuan pada hari kedua KTT G20 Leader Summit. Hal ini juga berkaitan dengan tema yang dibahas mengenai pentingnya women empowerment.
    "Hari ini Bapak Presiden G20 leader summit, tadi pagi bertemu dengan banyak tokoh-tokoh terutama perempuan-perempuan," tutur Sri Mulyani.
    Sri Mulyani pun menanyakan kepada Presiden Jokowi mengenai agenda kedua KTT G20. Jokowi mengatakan, kalau pertemuan hari kedua KTT G20 sangat penting terutama dengan pertumbuhan ekonomi dunia.
    "Berhubungan dengan perang dagang sampai detik ini belum ada jalan keluar, pemberdayaan ekonomi untuk perempuan," Jokowi menambahkan.
    Indonesia Terima Presidensi G20
    Berdasarkan arsip berita Tempo, Indonesia resmi meneruskan estafet presidensi G20 dari Italia dan untuk pertama kalinya akan memegang presidensi G20 pada tahun 2022. Penyerahan presidensi tersebut dilakukan pada sesi penutupan KTT G20 Roma yang berlangsung di La Nuvola, Roma, Italia, pada Ahad, 31 Oktober 2021.
    Perdana Menteri Italia Mario Draghi secara simbolis menyerahkan palu kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang kemudian mengetukkan palu tersebut. Dalam intervensinya, Jokowi mengapresiasi Italia yang telah berhasil memegang presidensi G20 tahun 2021.
    "Saya sampaikan selamat kepada Italia yang telah sukses menjalankan presidensi G20 di tahun 2021. Indonesia merasa terhormat untuk meneruskan presidensi G20 di tahun 2022," ujar Jokowi.
    Jokowi menjelaskan bahwa presidensi G20 Indonesia akan mendorong upaya bersama untuk pemulihan ekonomi dunia dengan tema besar 'Recover Together, Recover Stronger'. Pertumbuhan yang inklusif, people-centered, serta ramah lingkungan dan berkelanjutan, menjadi komitmen utama kepemimpinan Indonesia di G20.
    "Upaya tersebut harus dilakukan dengan cara luar biasa, terutama melalui kolaborasi dunia yang lebih kokoh, dan inovasi yang tiada henti. G-20 harus menjadi motor pengembangan ekosistem yang mendorong kolaborasi dan inovasi ini. Hal ini yang harus terus kita perdalam pada pertemuan-pertemuan kita ke depan," kata Jokowi.
    Pada kesempatan tersebut, Jokowi juga secara langsung mengundang para pemimpin dunia yang hadir untuk melanjutkan diskusi pada KTT G20 di Indonesia yang rencananya digelar di Bali pada 30-31 Oktober 2022.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, video dengan klaim wawancara Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan Presiden Jokowi saat KTT G20 2021 di Italia, keliru. Video tersebut merupakan wawancara Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan Presiden Jokowi saat KTT G20 di Osaka Jepang pada Juni 2019.
    TIM CEK FAKTA TEMPO

    Rujukan

  • (GFD-2021-8797) Keliru, WHO Sebut Covid-19 Sama dengan Flu Biasa dan 500 Orang Amerika Meninggal karena Vaksin

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 01/11/2021

    Berita


    Dua klaim yang menyebut Badan Kesehatan Dunia atau WHO mengakui bahwa virus Covid-19 sama dengan virus flu biasa serta 500 ribu orang Amerika meninggal setelah divaksin, menyebar di Facebook. 
    Klaim itu dibagikan salah satu akun pada 12 Oktober 2021 dengan menyertakan tangkapan layar video dari situs www.bitchute.com berjudul WHO concedes the covid virus is just like the common flu - 500,000 americans dead from vaccine
    Di situs www.bitchute.com video tersebut sudah ditonton 76.377 kali dan disukai 326. 
    Benarkah WHO mengakui virus Covid sama dengan flu biasa dan kematian warga Amerika setelah vaksin mencapai 500 ribu orang?
    Tangkapan layar unggahan dengan klaim WHO Sebut Covid-19 Sama dengan Flu Biasa dan 500 Orang Amerika Meninggal karena Vaksin.

    Hasil Cek Fakta


    Hasil verifikasi Tim Cek Fakta Tempo, menunjukkan, WHO tidak pernah menyatakan bahwa Covid-19 sama dengan virus flu biasa. Selain itu, kematian warga Amerika setelah vaksin mencapai 500 ribu orang, tidak sesuai fakta.
    Seorang pria yang sedang berpidato dalam video yang diunggah di situs bitchute.com tersebut, adalah seorang pengacara asal Jerman, Reiner Fuellmich. Video Reiner menjadi bagian dari aksi demonstrasi anti-vaksin dan anti-lockdown yang berlangsung pada 24 Juli di Trafalgar Square, London. Selain Reiner, sejumlah tokoh yang menentang vaksinasi juga berbicara di aksi tersebut.
    Tempo mendapatkan petunjuk tersebut melalui akun Twitter Shayan Sardarizadeh, seorang jurnalis investigasi disinformasi BBC yang melaporkan demonstrasi itu melalui unggahannya pada 24 Juli waktu Indonesia. 
    Berita mengenai demonstrasi anti-vaksin dan anti lockdown itu juga diberitakan oleh situs independent.co.uk
    Klaim 1: WHO mengakui bahwa virus Covid-19 sama dengan virus flu biasa
    Pada menit 1:25, Reiner Fuellmich mengatakan,  WHO menyebutkan bahwa virus penyebab Covid-19, lepas apakah itu sepenuhnya alami atau semi buatan, tidak lebih berbahaya dari flu biasa.  Tempo telah memeriksa klaim ini dan tidak menemukan keterangan yang membenarkan pernyataan Reiner tersebut.
    Sebaliknya, WHO mempublikasikan artikel yang menjelaskan, selain memiliki persamaan, tapi ada perbedaan antara Covid-19 dengan flu biasa atau influenza. Menurut WHO, Covid-19 dan influenza disebabkan oleh virus yang berbeda, dan ada beberapa perbedaan dalam hal siapa yang paling rentan terhadap keparahan penyakit.  
    Selain itu, vaksin yang dikembangkan untuk COVID-19 tidak melindungi terhadap influenza, dan demikian pula, vaksin flu tidak melindungi dari COVID-19.  
    Dari segi tingkat kematian, WHO memperkirakan bahwa 290.000 hingga 650.000 orang meninggal karena terkait flu setiap tahun di seluruh dunia.
    Sedangkan menurut data Worldometer, jumlah kematian karena Covid-19 telah mencapai lebih dari 5 juta (5.014.985) orang di seluruh dunia, sejak pandemi terjadi hingga 1 November 2021. 
    Klaim 2: 500 ribu orang Amerika meninggal setelah divaksin 
    Reiner juga menyebut 500 ribu orang Amerika yang meninggal setelah vaksinasi Covid-19. Faktanya, angka 500 ribu orang ini adalah jumlah total warga Amerika mereka yang meninggal karena Covid-19 hingga Februari 2021. 
    Tempo mendapatkan angka ini dari pemberitaan yang dimuat The New York Times. Kematian karena Covid-19 tersebut melampaui jumlah yang meninggal di medan perang Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan Perang Vietnam jika digabungkan.
    Kematian Covid-19 pertama di negara itu terjadi di Santa Clara County, California, pada 6 Februari 2020, dan pada akhir Mei, 100.000 orang telah meninggal. Butuh empat bulan bagi Amerika untuk mencatat 100.000 kematian lagi; berikutnya, sekitar tiga bulan; berikutnya, hanya lima minggu.
    Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Laporan kematian setelah vaksinasi COVID-19 jarang terjadi. Lebih dari 414 juta dosis vaksin COVID-19 diberikan di Amerika Serikat dari 14 Desember 2020 hingga 25 Oktober 2021. Selama waktu ini, Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) menerima 9.143 laporan kematian (0,0022%) di antara orang-orang yang menerima COVID-19 vaksin.
    FDA mewajibkan penyedia layanan kesehatan untuk melaporkan kematian apa pun setelah vaksinasi COVID-19 kepada VAERS, meskipun tidak jelas apakah vaksin itu penyebabnya. Laporan efek samping kepada VAERS setelah vaksinasi, termasuk kematian, tidak selalu berarti bahwa vaksin menyebabkan masalah kesehatan. Tinjauan informasi klinis yang tersedia, termasuk sertifikat kematian, otopsi, dan catatan medis, belum menetapkan hubungan sebab akibat dengan vaksin COVID-19. 
    Namun, laporan terbaru menunjukkan hubungan kausal yang masuk akal antara Vaksin J&J/Janssen COVID-19 dan TTS, efek samping yang jarang dan serius—pembekuan darah dengan trombosit rendah—yang telah menyebabkan kematian. 

    Kesimpulan


    Dari pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa Badan Kesehatan Dunia atau WHO mengakui bahwa virus Covid-19 sama dengan virus flu biasa serta 500 ribu orang Amerika meninggal setelah divaksin, adalah keliru. Sejauh ini Covid-19 menyebabkan kematian lebih banyak dibandingkan flu biasa. Sedangkan terkait klaim 500 ribu orang yang meninggal di Amerika Serikat adalah data total kematian warga karena Covid-19 --bukan akibat vaksinasi, hingga Februari 2021.
    Tim Cek Fakta Tempo

    Rujukan

  • (GFD-2021-8796) Tidak Terbukti, Taliban Memenggal Pemain Voli Perempuan Afghanistan

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 29/10/2021

    Berita


    Sejumlah situs dan warganet mengunggah informasi tentang kematian seorang pemain bola voli perempuan Afghanistan. Kematiannya diduga karena kepalanya dipenggal oleh Taliban. Informasi tersebut ramai beredar sejak pekan lalu. 
    Salah satu akun di Instagram, @nasionalis_me misalnya, memuat tangkapan layar dari situs nusantaratv.com pada 23 Oktober 2021. Tangkapan layar memuat berita berjudul Sadis, Pemain Bola Voli Cantik Asal Afghanistan Mahjabin Hakimi Tewas Dipenggal Taliban. Di dalamnya juga memuat dua foto Mahjabin dalam balutan kaos olahraga berwarna biru dan saat ia sedang menunggang sepeda.
    Di situs lainnya, dikabarkan, Mahjabin dipenggal karena membuka aurat, seperti yang ditulis dalam judul berita, Karena Aurat, Taliban Penggal Atlet Voly Wanita Afganistan. 
    Tangkapan layar unggahan Pananews.id

    Hasil Cek Fakta


    Hasil pemeriksaan fakta Tempo yang dikutip dari altnews.in menunjukkan bahwa tewasnya Mahjabin Hakimi bukan karena dipenggal oleh Taliban. Mahjabin meninggal sebelum Taliban menguasai ibu kota Afghanistan pada 15 Agustus 2021. 
    Klaim kematian Mahjabin karena dipenggal oleh Taliban banyak diberitakan media, mulai dari India hingga Indonesia pada pekan lalu. Namun penyebab kematiannya terungkap setelah organisasi pemeriksa fakta Altnews.in di India mempublikasikan hasil investigasi pemeriksaan fakta pada 21 Oktober 2021.
    Menurut Altnews.in, Mahjabin meninggal pada pekan pertama Agustus sebelum Taliban menguasai Afghanistan. Namun ada dua versi mengenai penyebabnya meninggal. Pertama karena bunuh diri dan kedua diduga karena dibunuh oleh mertuanya.
    Tempo telah memeriksa ulang sumber terbuka yang dicantumkan Altnews.in pada artikelnya. Sumber yang digunakan antara lain  cuitan tiga jurnalis yang mengetahui insiden tersebut serta melalui anggota keluarganya. Salah satu petunjuk berasal profil Facebook Skandar Hakimi, saudara Mahjabin yang mengubah profilnya menjadi gambar hitam pada 7 Agustus. Ia menerima lebih dari 100 komentar yang berisi ucapan belasungkawa yang ditulis dalam bahasa Persia. 
    Pada tanggal 9 Agustus, ia memposting gambar Mahjabin dengan perlengkapan militer bersama dengan keterangan, “Aku akan selalu bangga padamu, saudariku.” 
    Mahjabin disebut pernah menjadi anggota Komando Tentara Nasional Afghanistan sebelum bergabung ke Asosiasi Bola Voli Wanita Afghanistan. 
    Tempo telah mengirimkan pesan melalui facebook untuk meminta izin Skandar Hakimi mengutip unggahannya dalam artikel ini. 
    Alt News juga menghubungi anggota keluarga Mahjabin, seorang aktivis Afghanistan yang berbasis di Kanada, Farishta Barez. Kerabat itu juga membenarkan bahwa Skandar adalah saudara Mahjabin. Dari anggota keluarga  inilah diketahui bahwa Mahjabin tidak dibunuh oleh Taliban.
    “Dia tidak dibunuh oleh Taliban pada bulan Oktober. Kematian Mahjabin terjadi pada 6 Agustus dan tubuhnya ditemukan di kamar mandi tunangannya di Kabul. Dia mengklaim Mahjabin mati lemas. Namun, keluarga kami mencurigai adanya tindakan yang dilakukan oleh mertuanya.”
    Anggota keluarga tersebut juga membagikan gambar batu nisan Mahjabin. Tanggal kematian menurut kalender Persia dikonversi ke 6 Agustus sesuai kalender Inggris. Batu nisan ini berada di Kabul. 

    Kesimpulan


    Dengan demikian, informasi tentang Taliban memenggal kepala atlet bola voli Afghanistan,  adalah tidak terbukti. 
    TIM CEK FAKTA TEMPO

    Rujukan

  • (GFD-2021-8795) Menyesatkan, Megawati Menjabat di BRIN untuk Mengubah Sejarah G30S

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 28/10/2021

    Berita


    Narasi berisi informasi bahwa Megawati mendorong riset sains untuk mengubah sejarah G30S/PKI saat menjabat Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),  beredar di Facebook, 24 Oktober 2021. 
    Klaim itu beredar berupa gambar kolase berisi foto Megawati, tangkapan layar artikel, dan sejumlah teks yang salah satunya tertulis:
    “Megawati akan mendorong riset sains untuk membenarkan klaim-klaim ideologisnya. Misal, Pancasila yang sebenarnya adalah versi 1 Juni 1945 G30s adalah kudeta merangkak Suharto/TNI terhadap kekuasaan Soekarno presiden yang sah PKI tidak terlibat dalam G30s.”
    Narasi tersebut beredar setelah Megawati, dilantik menjadi ketua Dewan Pengarah BRIN pada Rabu 13 Oktober 2021. Sesuai dengan Perpres Nomor 33 Tahun 2021, Dewan Pengarah mempunyai tugas memberikan arahan kepada Kepala BRIN dalam merumuskan kebijakan dan penyelenggaraan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi menjadi landasan dalam perencanaan pembangunan nasional di segala bidang kehidupan yang berpedoman pada nilai Pancasila. 
    Lantas benarkah Megawati mendorong riset sains tentang PKI tidak terlibat G30S?
    Tangkapan layar unggahan dengan klaim menyesatkan bahwa Megawati menjabat di BRIN untuk mengubah sejarah G30S

    Hasil Cek Fakta


    Hasil penelusuran Tempo, menunjukkan narasi tentang Megawati mendorong riset sains untuk mengubah sejarah G30S/PKI, berasal dari artikel opini yang ditulis oleh Radhar Tribaskoro dan dimuat pertama kali di situs RMOL Jatim pada 19 Oktober 2021. Artikel opini tersebut dipublikasikan dengan judul Apa yang Dicari Megawati Sehingga Mau Mengepalai Lembaga Riset Sains dan Teknologi?
    Artikel opini tersebut kemudian dipublikasikan ulang oleh beberapa situs dengan mengubah judul. Salah satunya dimuat oleh situs democrazy.id pada berjudul: Jadi Dewan Pengarah BRIN, Pemerhati Sosial & Politik: Mega Dorong Riset Sains PKI Tak Pernah Terlibat G30S. Penelusuran menggunakan tools domainbigdata, situs democrazy.id diketahui baru dibuat pada tanggal 18 September 2020. l  
    Tangkapan layar judul artikel dari democrazy.id tersebut kemudian yang diedarkan warganet ke Facebook. Artikel opini sendiri berarti mewakili pandangan pribadi penulis. Klaim apakah Megawati akan mendorong riset sains untuk mengubah sejarah G30S/PKI saat menjabat Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), belum bisa dibuktikan. 
    Tidak ada bukti-bukti yang disertakan dalam artikel opini tersebut terkait klaim Megawati akan mengubah sejarah G30S/PKI setelah dia dilantik menjadi Ketua Dewan BRIN. 
    Pro Kontra Pengangkatan Megawati
    Pengangkatan Megawati sendiri sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN menimbulkan pro kontra. Dewan Penasihat Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) Herlambang P. Wiratraman pada Mei lalu menilai ada arah kepentingan politik untuk menempatkan sains di bawah kekuasaan. Dewan Pengarah harusnya jadi pagar aktivitas keilmuan agar tetap berlandaskan ideologi Pancasila.
    Ia juga melihat ditempatkannya Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN justru merupakan kemunduran. Dengan kapasitas politik Megawati yang begitu besar dalam rezim kekuasaan hari ini, kata Herlambang, bukan tidak mungkin ada intervensi kekuasaan atau partai penguasa dalam strategi atau implementasi riset Indonesia ke depannya.
    Namun Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto membantah hal ini. Ia mengatakan Megawati merupakan ketua umum partai politik yang paling konsisten menyuarakan pentingnya ilmu-ilmu dasar, riset dan inovasi, dan terus memperjuangkan peningkatan anggaran penelitian 5 persen dari Produk Domestik Bruto.
    Perdebatan dalam Sejarah Gerakan 30 September
    Sebelumnya Megawati pernah meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim meluruskan catatan sejarah soal kejadian 1965. Dikutip dari cnnindonesia.com
    Mega menilai ada hal yang hilang dalam catatan sejarah Indonesia, khususnya di periode 1965. Ia menyebut ada politik desukarnoisasi yang dimulai sejak kepemimpinan Presiden Soeharto.
    Upaya desukarnoisasi tersebut pernah disampaikan sejarawan Asvi Warman Adam, saat pengukuhannya sebagai profesor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 26 Juli 2018. Dikutip dari historia.id, situs  kredibel yang bermuatan sejarah populer, ada tiga periode perdebatan dalam penulisan sejarah (historiografi) peristiwa G30S. 
    Periode pertama tentang dalang peristiwa G30S pada kuru 1965-1968. Periode kedua terjadi penulisan sejarah resmi oleh pemerintah Soeharto sejak 1968 hingga 1998. Sedangkan periode ketiga dikenal sebagai periode pelurusan sejarah semenjak berhentinya Soeharto pada 1998. 
    Desukarnoisasi tersebut, menurut Asvi, terjadi pada periode kedua di mana pemerintah Soeharto menyeragamkan versi sejarah G30S berdasarkan tafsir sepihak dari penguasa. Asvi menyebut nama Nugroho Notosusanto sebagai arsitek dari rekayasa penulisan sejarah tersebut.  
    Selain menyeragamkan sejarah G30S, Nugroho Notosusanto berperan dalam upaya desukarnoisasi dalam peristiwa kelahiran Pancasila 1 Juni 1945. Dia menyisihkan peran Sukarno dalam proses penggalian konsep Pancasila dengan mengedepankan peran Mohammad Yamin. 
    Setelah Orde Baru jatuh, beragam versi G30S bermunculan, baik dari kesaksian penyintas maupun hasil penelitian para ahli. Menurut Asvi, peristiwa pembunah jenderal pada 30 September 1965 hanya dalih bagi Soeharto untuk menghabisi PKI sekaligus merebut kekuasan dari tangan Soekarno. Sebagian besar korban pada peristiwa 1965, dipersekusi massal dan tidak pernah ditunjukkan kesalahannya di muka pengadilan. 
     

    Kesimpulan


    Dari pemeriksaan fakta di atas, Tempo menyimpulkan, unggahan terkait Megawati mendorong riset sains untuk mengubah sejarah G30S/PKI saat menjabat Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), adalah menyesatkan. Narasi ini berasal dari artikel opini seorang penulis. Namun hingga artikel ini diturunkan, tidak ada bukti bahwa Megawati akan mengubah sejarah G30S/PKI melalui BRIN. 
    Di sisi lain, semenjak 1998, makin banyak fakta baru tentang peristiwa G30S baik yang berasal dari para korban maupun hasil penelitian para ahli. Fakta-fakta tersebut menjadi titik terang dalam sejarah nasional . 
    TIM CEKFAKTA TEMPO

    Rujukan