• (GFD-2026-34930) Cek Fakta: Hoaks Penyebab Mati Listrik Massal di Sumatra karena Serangan Monyet

    Sumber:
    Tanggal publish: 01/06/2026

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Tim Cek Fakta Liputan6.com menemukan postingan yang mengklaim mati listrik massal di Sumatra karena serangan monyet. Postingan itu beredar sejak pekan lalu.
    Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 25 Mei 2026.
    Dalam unggahannya terdapat foto sekawanan monyet sedang berada di atas kabel listrik disertai narasi sebagai berikut:
    "Inilah penyebab Pulau Sumatra Mati total sampai lumpuh.. mulai dari kota aceh, medan, padang pekanbaru sampai palembang"
    Lalu benarkah postingan yang mengklaim mati listrik massal di Sumatra karena serangan monyet?
    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dan menemukan artikel berjudul "PLN Ungkap Awal Mula Pemadaman Listrik Massal di Sumatra" yang tayang di Liputan6.com pada 23 Mei 2026.
    Dalam artikel tersebut terdapat penjelasan dari Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo terkait penyebab awal gangguan listrik di sebagian pulau Sumatra.
    Ia menyebut indikasi awal menunjukkan cuaca buruk memicu gangguan pada sistem transmisi yang berdampak pada sebagian jaringan kelistrikan Sumatra.
    "Gangguan pada ruas transmisi berdampak meluas pada sebagian sistem transmisi Sumatra, sehingga memicu penurunan frekuensi listrik dan efek domino gangguan di sejumlah wilayah," ujarnya.
    Di sisi lain Wakabareskrim Polri Irjen Nunung Syaifudin menegaskan, dugaan sementara penyebab mati listrik total (balckout) di Sumatera adalah faktor teknis, gangguan transmisi dan cuaca ekstrem. Nunung menyebut tidak ditemukan unsur kesengajaan atau sabotase.

    Hasil Cek Fakta

    Kesimpulan


    Postingan yang mengklaim mati listrik massal di Sumatra karena serangan monyet adalah hoaks.

    Rujukan

  • (GFD-2026-34853) [SALAH] Hasil Sidang Menyatakan Ijazah Jokowi Terbukti Palsu

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 31/05/2026

    Berita

    Beredar unggahan gambar [arsip] dari akun Facebook “Murshid 2” pada Senin (25/5/2026) yang memuat narasi :

    “RICUH HASIL SIDANG IJAZAH JKW IJAZAH JOKOWI DITUNJUKAN, TERNYATA BENAR-BENAR PALSU!”

    Hingga Minggu (31/5/2026) unggahan telah mendapatkan lebih dari 1,400 tanda suka, 845 komentar dan telah dibagikan ulang 130 kali.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) mencoba mencari apakah ada pernyataan resmi yang sesuai dengan narasi yang beredar tersebut. Penelusuran dimulai dengan memasukan kata kunci “hasil sidang menyatakan ijazah Jokowi palsu” ke kolom pencarian Google.

    Setelah ditelusuri tidak dapat ditemukan informasi yang membenarkan hal tersebut. Sebaliknya justru hanya ditemukan artikel-artikel yang membantah isu serupa, di antaranya:

    • Artikel Jala Hoaks berjudul “[HOAKS] - HASIL SIDANG BUKTIKAN IJAZAH PRESIDEN JOKOWI PALSU” yang tayang Senin (5/2/2024).

    • Artikel Kompas.com berjudul “Klarifikasi Tidak Benar PN Surakarta Menyatakan Ijazah Jokowi Palsu” yang tayang Kamis (15/1/2025).

    Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi maupun putusan dari pihak pengadilan manapun yang menyatakan ijazah Jokowi terbukti palsu.

    Kesimpulan

    Faktanya belum ada pernyataan resmi dari PN tentang hasil sidang ijazah Jokowi. Unggahan dengan klaim “Hasil sidang menyatakan ijazah Jokowi terbukti palsu” adalah konten palsu (fabricated content).

    Rujukan

  • (GFD-2026-34870) [PENIPUAN] Tautan Pendaftaran Bantuan Bibit Udang Gratis 2026

    Sumber: Mixed
    Tanggal publish: 31/05/2026

    Berita

    Akun Facebook “Nur Rahmayani” pada Minggu (3/5/2026) membagikan foto [arsip] disertai takarir:

    Saatnya masyarakat bangkit dan mandiri! Kami menghadirkan Program Bantuan Bibit Udang GRATIS sebagai upaya mendukung budidaya udang, ketahanan pangan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Program ini terbuka untuk warga yang serius ingin berusaha dan berkembang. Ayo daftar sekarang dan jadilah bagian dari perubahan!! Untuk pendaftaran silahkan klik link https://dftrsekarangjuga[dot]niliini[dot]com/

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menemukan klaim serupa di akun TikTok “inspirasi_masyarakat” [arsip]. 

    Per Minggu (31/5/2026) konten tersebut telah mendapat lebih dari 50 tanda suka, menuai 79 komentar, dan dibagikan ulang sebanyak 1 kali oleh pengguna Facebook lainnya.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) mengakses tautan pada unggahan akun Facebook “Nur Rahmayani”. Diketahui, tautan mengarah ke halaman berisi formulir digital yang meminta pengisian data pribadi, seperti nama lengkap sesuai KTP dan nomor telegram aktif yang berpotensi digunakan untuk pencurian data pribadi. 

    TurnBackHoax lalu memasukkan kata kunci “bantuan bibit udang gratis” ke mesin pencarian Google. Hasil penelusuran mengarah ke sejumlah artikel, antara lain:

    • Artikel kompas.com “[HOAKS] Tautan untuk Klaim Bantuan Benih Udang dari Pemerintah”, tayang Rabu (20/4/2026). Artikel ini menyebut bahwa klaim tautan pendaftaran bantuan benih udang gratis dari pemerintah adalah hoaks.

    • Artikel tempo.co “Keliru: Tautan Pendaftaran Bantuan Bibit Ikan Dari Kementerian Kelautan dan Perikanan”, tayang Senin (7/7/2025). Artikel ini menyebut bahwa klaim tautan pendaftaran bantuan bibit ikan dari Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) adalah hoaks.

    Sepanjang penelusuran, tidak ditemukan informasi dari sumber kredibel yang membenarkan klaim.

    Kesimpulan

    Tidak ditemukan informasi kredibel yang membenarkan klaim. Unggahan berisi klaim “tautan pendaftaran bantuan bibit udang gratis 2026” merupakan konten palsu (fabricated content).

    Rujukan

  • (GFD-2026-34871) [SALAH] Utang Whoosh Bakal Lunas dalam Dua Bulan, Pakai Dana Danantara

    Sumber: YouTube
    Tanggal publish: 31/05/2026

    Berita

    Kanal YouTube “dpcprikabbatang” pada April 2026 mengunggah video [arsip] berisi narasi:

    Bikin kaget! Ternyata Pak Prabowo diam-diam lunasin hutang Whoosh! Kalau kalian bilang hutang Whoosh dibayar pakai APBN, kamu salah besar! Soalnya hutang Whoosh ini akan lunas dalam 2 bulan lagi dengan dana dari Danantara. Dulu Danantara buatan Pak Prabowo ini penuh dengan kritikan, dan Whoosh dianggap beban negara, tapi itulah mengapa Pak Prabowo menciptakan Danantara, karena di saat seperti ini kita bisa merasakan manfaatnya.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri klaim dengan memasukkan kata kunci “Prabowo lunasi utang proyek Whoosh” ke mesin pencari Google. Hasil penelusuran mengarah ke laporan Cek Fakta Tempo yang tayang pada Minggu, (26/04/2026). 

    Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa istilah “dua bulan” yang beredar di media sosial sebenarnya merujuk pada tenggat pembahasan restrukturisasi utang proyek Whoosh, bukan pelunasan seluruh utang proyek. Hingga saat ini, pemerintah masih membahas skema penyelesaian pembiayaan dan belum menetapkan keputusan final mengenai mekanisme pembayaran utang tersebut. 

    TurnBackHoax juga menemukan laporan BBC News Indonesia yang tayang pada Senin (13/102025). Diketahui, proyek Kereta Cepat Whoosh masih berkutat dengan pembahasan pembiayaan jangka panjang dan restrukturisasi kewajiban proyek. Tidak terdapat pernyataan resmi yang menyebut bahwa seluruh utang proyek telah dilunasi dalam waktu singkat sebagaimana diklaim dalam unggahan yang beredar.

    Masih melansir laporan BBC News Indonesia, utang proyek Kereta Cepat Whoosh mencapai sekitar Rp118 triliun, sebagian besar berasal dari pinjaman China Development Bank. Utang ini bukan utang langsung pemerintah, melainkan dikelola oleh konsorsium perusahaan, terutama PT Kereta Api Indonesia (KAI). Proyek ini sudah berjalan sejak 2016 dan masih dalam proses pengelolaan serta pembahasan, sehingga utangnya tidak mungkin dilunasi dalam waktu singkat.

    Kesimpulan

    Informasi tersebut keliru karena “dua bulan” hanya merujuk pada proses pembahasan restrukturisasi, sementara utang proyek masih berlangsung dan belum ada keputusan final terkait penyelesaiannya. Oleh karena itu, unggahan berisi klaim “utang Whoosh bakal lunas dalam dua bulan, pakai dana Danantara” merupakan konten dengan konteks yang salah (false context).

    Rujukan