• (GFD-2023-12637) [SALAH] “Berita Politik: Tolak Ganjar Nyapres!! Krisdayanti & Puluhan Kader PDIP Deklarasikan Anies”

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 24/05/2023

    Berita

    “BERITA POLITIK TOLAK GANJAR NYAPRES !! KRISDAYANTI & PULUHAN KADER PDIP DEKLARASIKAN ANIES”

    Hasil Cek Fakta

    Beredar sebuah video di Facebook dengan judul yang mengklaim bahwa Kridayanti dan Puluhan kader PDI Perjuangan mendeklarasikan mendukung Anies Baswedan dalam pemilihan presiden tahun depan.

    Setelah ditelusuri tidak ditemukan sumber berita valid yang memberitakan deklarasi dukungan terhadap Anies Baswedan dari kader-kader PDI Perjuangan, termasuk dari Krisdayanti. Kemudian narator dalam video tersebut hanya membacakan artikel dari AyoJakarta.com terkait elektabilitas Anies Baswedan dalam pemilihan presiden 2024 lebih unggul dari Prabowo dan Ganjar berdasarkan survey di DKI Jakarta.

    Cuplikan pertama dalam video menunjukkan seorang wanita yang sedang berorasi tersebut adalah Monica Meiva Rorong, video tersebut diambil saat kampanyenya politik PDIP di Sulawesi Utara pada 2019, dalam kampanye tersebut Monica meminta suara masyarakat untuk memilih Jokowi-Ma’ruf dalam pilpres 2019. Tidak berkaitan dengan pilpres yang akan berlangsung pada 2024.

    Kemudian cuplikan video wawancara dengan Krisdayanti diambil pada saat pelantikan anggota DPR-RI periode 2019-2024, dalam wawancara di gedung DPR-RI tersebut membahas mengenai apa yang akan dilakukannya dalam 100 hari sebagai anggota DPR-RI. Tidak ada kaitannya dengan pilpres 2024 atau dukungannya terhadap Anies Baswedan.

    Dengan demikian, Krisdayanti & Puluhan kader PDIP tolak Ganjar nyapres dan deklarasikan Anies Baswedan adalah tidak benar dengan kategori Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Mochamad Marcell

    Faktanya tidak ditemukan sumber berita valid yang memberitakan klaim tersebut, narator dalam video tersebut hanya membacakan artikel dari AyoJakarta.com terkait elektabilitas Anies Baswedan dalam pemilihan presiden 2024 lebih unggul dari Prabowo dan Ganjar di DKI Jakarta. Selengkapnya pada bagian penjelasan.

    Rujukan

  • (GFD-2023-12636) [SALAH] Video Putin Mengomentari Demokrasi Amerika dan Membantah Intervensi Pemilu di Amerika

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 24/05/2023

    Berita

    “America, you blame me for interfering with your democracy, but I don’t have to. You are doing it yourself. Polling stations are closing. You don’t know who to trust. You are divided. There are strings we can pull but we don’t have to, you are pulling them for us.”

    Terjemahan:

    “Amerika, Anda menyalahkan saya karena mencampuri demokrasi Anda, tetapi saya tidak harus melakukannya. Anda melakukannya sendiri. Tempat pemungutan suara ditutup. Anda tidak tahu siapa yang harus dipercaya. Anda terbagi. Ada senar yang bisa kami tarik tetapi kami tidak harus melakukannya, Anda menariknya untuk kami.”

    Hasil Cek Fakta

    Unggahan di Instagram menunjukkan video Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengomentari demokrasi di Amerika serta menangkapi tuduhan terhadapnya yang telah mengintervensi pemilihan umumnya.

    Setelah ditelusuri video tersebut adalah hasil rekayasa deepfake, faktanya tidak ditemukan sumber pemberitaan yang valid dari pesan yang dibuat oleh Presiden Rusia tersebut. Deepfake merupakan tipuan dapat berupa gambar atau video yang direkayasa dengan menggunakan teknologi AI.

    Dilansir dari AFP, video tersebut telah sengaja dibuat sejak 2020 yang direncanakan tayang pada iklan di TV Amerika namun penayangannya dibatalkan. Diketahui 2020 adalah tahun pemilihan presiden Amerika Serikat.

    Dengan demikian, video Putin nengomentari demokrasi Amerika dan membantah intervensi pemilu di Amerika adalah salah dengan kategori Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Mochamad Marcell

    Faktanya video tersebut adalah hasil deepfake untuk merekayasa sintesis citra manusia dengan menggunakan AI. Selengkapnya pada bagian penjelasan.

    Rujukan

  • (GFD-2023-12635) [SALAH] KitKat Mengandung Bahan Serangga dan Cacing Tanah

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 24/05/2023

    Berita

    “KitKat mengandung bahan serangga dan cacing tanah Itu tertera di kemasannya, tapi kenapa orang memakannya?

    Hasil Cek Fakta

    Unggahan di Facebook menunjukkan foto kemasan KitKat yang terdapat ikon menyerupai katak. Dalam narasi pada unggahan tersebut pengunggah menyebut bahwa dalam kemasan KitKat menyertakan kandungan berbahan serangga dan cacing tanah.

    Setelah ditelusuri klaim tersebut salah, faktanya ikon bergambar katak tersebut adalah merupakan logo dari Rainforest Alliance yang merupakan NGO internasional yang berfokus pada pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Logo Rainforest Alliance pada kemasan KitKat menunjukkan bahwa produk tersebut telah tersertifikasi menggunakan metode yang berkelanjutan dalam produknya melestarikan ekosistem hutan oleh Rainforest Alliance.

    Penelusuran oleh AFP menunjukkan, bahwa KitKat mendapatkan sertifikasi tersebut karena bahan kakao yang digunakan untuk membuat cokelat telah dipanen di pertanian dan hutan yang mengikuti praktik yang sustainable atau berkelanjutan.

    Kemudian juru bicara Nestlé yang memproduksi produk KitKat, menyebut bahwa KitKat diproduksi sesuai dengan standar keamanan pangan global, sehingga tidak ada kandungan serangga dan cacing dalam KitKat serta aman untuk dikonsumsi.

    Dengan demikian, klaim KitKat mengandung bahan serangga dan cacing tanah adalah tidak benar dengan kategori Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Mochamad Marcell

    Faktanya juru bicara Nestlé, perusahaan pembuat KitKat, membantah bahwa tidak ada kandungan dalam serangga dan cacing dalam produk tersebut. Selengkapnya pada bagian penjelasan.

    Rujukan

  • (GFD-2023-12634) Cek Fakta: Tidak Benar Pfizer Dapat Paten Lacak Orang yang Sudah Divaksin

    Sumber: liputan6.com
    Tanggal publish: 24/05/2023

    Berita

    Liputan6.com, Jakarta- Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim Pfizer mendapat paten melacak orang yang sudah divaksin. Informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 24 Mei 2023.
    Klaim Pfizer mendapat paten melacak orang yang sudah divaksin, berupa tangkapan layar dokumen bertuliskan sebagai berikut.
    "United States Patent
    Ehrlich et al
    METHODS AND SYSTEMS OF PRIORIYIZING TREATMENTS. VACCINATION, TESTUNG ANDOR ACTIVITIES WHILE PROTECTING THE PRIVACY OF INDIVIDUALS"
    Pada tangkapan layar tersebut terdapat tulisan sebagai berikut.
    "The Pfizer patent application approved, August 31st, 2021, and is the very first patent that shows up in a list of over 18,500 for the purpose of remote contact tracing of all vaccinated humans worldwide, who will be or are now connected to the "internet of things' by aquantum link of plsating microwave frequencies of 2.4 gHz or higher from cell towers and satellites directly to the graphene oxide hels ind the fatty tissues of all persons who've had the deadht-shot."
    Tangkapan layar tersebut diberi keterangan sebagai berikut.
    "Tidak sulit untuk menemukan kebenaran saat ini, yang harus Anda lakukan, adalah riset.
    Bangkit❗---+Semua V1rus Adalah Buatan Manusia
    Dr. Otto Heinrich Warburg
    Pemenang Hadiah Nobel Fisiologi 1931Menemukan Penyebab Kanker pada (1923)"KANKER tumbuh di jaringan ASAM yang Kekurangan Oksigen"
    "PENYAKIT tidak dapat bertahan dalam TUBUH ALKALI" "Sedangkan jaringan kanker bersifat asam jaringan sehat bersifat basa"
    Menghilangkan sel 35% dari cxygen selama 48 jam dan dapat menjadi kanker.
    ---
    Pf1z3r diberikan paten pertama pada tahun 2021 untuk koneksi menara seluler dan komunikasi dengan graphene oxide yang disuntikkan ke manusia di seluruh dunia untuk tujuan pelacakan dan eliminasi kontak dengan kedok v1rus palsu dan pandemi palsu."
    Benarkah Klaim Pfizer mendapat paten melacak orang yang sudah divaksin? Simak penelusurannya Cek Fakta Liputan6.com.
     

    Hasil Cek Fakta

    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim Pfizer mendapat paten melacak orang yang sudah divaksin, menggunakan Google Search dengan kata kunci 'The Pfizer patent application approved, August 31st, 2021'.
    Penelusuran mengarah pada sejumlah artikel situs berita, salah satunya artikel berjudul "Fact check: False claim that Pfizer filed a patent for remote contact tracing of vaccinated people" yang dimuat situs usatoday.com.
    Dalam situs usatoday.com Juru Bicara Pfizer  Kit Longley menyatakan tidak ada paten yang diajukan oleh Pfizer yang memungkinkan pelacakan kontak jarak jauh dari individu yang divaksinasi, juga tidak ada frekuensi gelombang mikro yang dipancarkan dari vaksin Pfizer untuk memungkinkan pelacakan kontak dalam bentuk apa pun.
    "Tidak ada frekuensi gelombang mikro yang dipancarkan dari vaksin yang memungkinkan pelacakan kontak jarak jauh," kata Longley kepada USA TODAY.
    Paten tersebut didaftarkan oleh dua penemu, Gal Ehrlich dan Maier Fenster, bukan oleh Pfizer.

    pfizer nanochip
    "Paten itu tidak ada hubungannya dengan Pfizer atau produsen obat atau vaksin lainnya secara khusus," kata Ehrlich melalui email. "Penemuan ini disusun selama April, Mei 2020, setelah mengetahui fenomena penyebaran super. Tidak ada vaksin yang tersedia saat itu."
    Paten mengusulkan penggunaan komunikasi Bluetooth antara ponsel untuk mengidentifikasi orang mana yang memiliki interaksi sosial paling banyak dan dengan demikian akan menjadi paling penting untuk memvaksinasi mengingat persediaan vaksin yang terbatas.
    Paten menetapkan bahwa penggunaan vaksin untuk memerangi COVID-19, dalam kasus di mana persediaan terbatas, akan lebih efektif jika diberikan kepada mereka yang memiliki lebih banyak interaksi sosial terlebih dahulu dibandingkan dengan mereka yang berisiko, menurut Ehrlich. Itu tidak mengatakan apa-apa tentang frekuensi gelombang mikro yang terhubung ke orang yang divaksinasi.
     

    Kesimpulan

    Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim Pfizer mendapat paten melacak orang yang sudah divaksin tidak benar.
    Juru Bicara Pfizer Kit Longley menyatakan tidak ada paten yang diajukan oleh Pfizer yang memungkinkan pelacakan kontak jarak jauh dari individu yang divaksinasi,
    Paten dalam tangkapan layar tersebut diajukan oleh dua penemu, Gal Ehrlich dan Maier Fenster, bukan oleh Pfizer, paten mengusulkan penggunaan komunikasi Bluetooth antara ponsel untuk mengidentifikasi orang mana yang memiliki interaksi sosial paling banyak dan dengan demikian akan menjadi paling penting untuk memvaksinasi mengingat persediaan vaksin yang terbatas.
     

    Rujukan