• (GFD-2024-19653) [KLARIFIKASI] Tidak Benar Pertalite Sudah Tidak Tersedia di SPBU Pertamina

    Sumber:
    Tanggal publish: 07/05/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar foto dengan narasi yang menyatakan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina tidak lagi menjual bahan bakar minyak (BBM) Pertalite.

    Narasi foto menyebutkan, Pertalite yang memiliki harga Rp 10.000 per liter telah ditiadakan dan diganti Pertamax Green 95 yang dijual Rp 13.900 per liter.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, konten itu perlu diluruskan.

    Foto SPBU Pertamina tidak lagi menjual Pertalite dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini, pada Minggu (5/5/2024).

    Berikut narasi yang dibagikan:

    KLO cinta sudah melekat...Melihat kecoa disangka coklatSelamat menikmati Kemenangan

    Selamat tinggal Pertalite, Selamat datang Pertamax Green...Selamat menikmati !Dan selamat menyaksikan!

    #Pingin rasanya ada yang nangis tersedu-sedu seperti dulu sa'at BBM naik Rp 500

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com mengecek alamat SPBU dalam foto berdasarkan nomor SPBU yang tertera, yaitu 34.132.09.

    Di situs mypertamina.id, SPBU 34.132.09 berlokasi di Jalan Pemuda Nomor 40-41 Kelurahan Rawamangun, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur.

    Kemudian, Kompas.com menghubungi Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting untuk meminta penjelasan terkait penghapusan Pertalite dari SPBU tersebut.

    Irto mengatakan, SPBU 34.132.09 masih menjual Pertalite.

    "Tadi sudah dicek, SPBU tersebut masih jual Pertalite," kata Irto, Senin (6/5/2024).

    SPBU 34.132.09 merupakan salah satu outlet Pertamina yang menyediakan Pertamax Green 95, produk BBM terbaru dari Pertamina yang diklaim lebih ramah lingkungan.

    SPBU tersebut menjadi bagian dari pengembangan outlet Pertamax Green 95 untuk mendukung dekarbonisasi Indonesia menuju Net Zero Emission (NZE).

    "Sejak dipasarkan, permintaan Pertamax Green 95 di konsumen terus tumbuh meski belum besar. Hal ini medorong Pertamina menambah penyediaan outlet tersebut," ucap Irto.

    "Saat ini tersebar 63 outlet Pertamax Green 95 di Jabodetabek dan Jawa Timur," ujarnya.

    Meski terus memperluas cakupan outlet Pertamax Green 95, Irto mengatakan bahwa SPBU Pertamina juga masih tetap menyalurkan Pertalite.

    "Untuk saat ini kami masih tetap melakukan penyaluran Pertalite sesuai penugasan yang diberikan oleh Pemerintah," jelas Irto.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, konten SPBU Pertamina tidak lagi menjual Pertalite perlu diluruskan.

    Konten tersebut memuat foto SPBU 34.132.09 yang berlokasi di Pulogadung, Jakarta Timur. Pertamina memastikan bahwa SPBU dalam foto tersebut masih menyediakan Pertalite.

    Pertamina saat ini tengah menambah cakupan outlet penyedia Pertamax Green 95, tetapi masih tetap melakukan penyaluran Pertalite sesuai penugasan pemerintah.

    Rujukan

  • (GFD-2024-19654) Hoaks! Ronaldo dan Messi bela Indonesia atas kecurangan wasit

    Sumber:
    Tanggal publish: 07/05/2024

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan video di TikTok menarasikan pemain sepak bola asal Portugal, Christian Ronaldo dan pemain sepak bola asal Argentina, Lionel Messi membela Indonesia dalam pertandingan semifinal Piala Asia U23 2024 melawan Uzbekistan Senin (29/4/2024).

    Keputusan VAR kontroversial yang terjadi pada laga tersebut dianggap tidak adil bagi timnas Indonesia. Dalam video tersebut, dinarasikan Ronaldo dan Messi membela timnas Indonesia atas kecurangan tersebut.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “INDONESIA benar2 sedang menjadi perhatian Dunia, CR7 dan LEOnel Messi juga bela Indonesia”

    Namun, benarkah Ronaldo dan Messi bela Indonesia atas kecurangan wasit?

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, unggahan tersebut serupa dengan video YouTube adidas Football yang berjudul “WHEN ZINEDINE ZIDANE MET LIONEL MESSI” yang diunggah pada 9 November 2023. Dalam wawancara tersebut, Lionel Messi dan Zinedine Zidane mengungkapkan kekagumannya terhadap satu sama lain.

    Selain itu, narator dalam video tersebut membacakan artikel pada lama Bola Sport yang berjudul “Timnas U-23 Indonesia Kalah dari Uzbekistan, Exco PSSI Singgung Wasit VAR asal Thailand Sivakorn Pu-Udom”. Dalam artikel tersebut, tidak ada narasi Ronaldo dan Messi bela Indonesia atas kecurangan wasit.

    Klaim: Ronaldo dan Messi bela Indonesia atas kecurangan wasit

    Rating: Hoaks

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: Indriani

    Copyright © ANTARA 2024

    Rujukan

  • (GFD-2024-19656) CEK FAKTA: Benarkah Perubahan Iklim Sebabkan Kasus DBD Meningkat?

    Sumber:
    Tanggal publish: 07/05/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Pambudi mengatakan, perubahan iklim menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus demam berdarah dengue (DBD).

    "Perubahan iklim tak hanya membebani pelayanan kesehatan, karena membuat kasus semakin naik dan naik, tetapi kami juga menimbang bahwa perubahan iklim akan membebani sistem kesehatan. Sebagai contoh, kekeringan," kata Imran, dalam Arbovirus Summit di Bali, pada 22 April 2024.

    Pernyataan Imran didokumentasikan di kanal YouTube Kemenkes RI pada jam ke-5 menit ke-58.

    Imran menggambarkan, ketika desa diterpa kekeringan, maka masyarakat pindah ke kota. Kemudian, kota akan semakin padat dan dapat membuat kasus semakin naik.

    Lantas, benarkah pernyataan tersebut?

    Salah satu perubahan iklim terkait DBD adalah meningkatnya suhu global.

    Berdasarkan informasi di jurnal kesehatan The Lancet, meningkatnya suhu global antara tahun 1950 sampai 2018 turut meningkatkan kesesuaian iklim untuk penularan virus dengue oleh vektor nyamuk Aedes aegypti.

    Peneliti kesehatan publik Universitas Airlangga, Ilham Akhsanu Ridlo menyampaikan, ketika suhu terus meningkat, lebih banyak daerah akan menjadi tempat yang layak huni bagi nyamuk.

    Sehingga, peningkatan suhu juga memperluas jangkauan geografis penularan demam berdarah.

    Sementara, perubahan iklim berupa peningkatan curah hujan, kejadian banjir, dan perubahan pola musim juga dapat meningkatkan populasi nyamuk dan penularan demam berdarah.

    Hal ini terbukti dalam studi yang dilakukan di Argentina. Studi menunjukkan korelasi yang jelas antara tren positif dalam suhu dan keberadaan serta peningkatan kasus DBD.

    Studi tersebut memaparkan jumlah hari dan bulan dengan suhu optimal untuk penularan demam berdarah yang meningkat dari waktu ke waktu.

    Sementara di Indonesia, studi ekologi spasial di Sumatera dan Kalimantan pada 2006-2016 menunjukkan, kejadian DBD sangat bersifat musiman dan terkait dengan faktor iklim dan deforestasi.

    "Penelitian ini lebih jauh memerlukan telaah lanjut untuk menggabungkan indikator iklim ke dalam surveilans berbasis risiko mungkin diperlukan untuk demam berdarah di Indonesia," kata Ilham.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa pemanasan global dengan suhu rata-rata lebih tinggi, curah hujan, dan periode kekeringan yang lebih lama dapat memicu jumlah infeksi demam berdarah di seluruh dunia.

    Selain faktor iklim, faktor pendorong lain seperti urbanisasi, peningkatan pergerakan orang dan barang, serta tekanan terhadap air dan sanitasi juga berkontribusi terhadap penyebaran demam berdarah.

    Namun, perubahan iklim dianggap sebagai faktor utama yang mendorong peningkatan dramatis kasus demam berdarah secara global dalam beberapa dekade terakhir.

    Bukti ilmiah telah menunjukkan bahwa perubahan iklim, melalui dampaknya terhadap suhu, curah hujan, dan faktor lingkungan lainnya, merupakan pendorong utama di balik meningkatnya insiden dan penyebaran geografis DBD.

    Penelitian lain terkait isu ini diterbitkan pada 2022, mengenai studi retrospektif perubahan iklim yang memengaruhi DBD.

    Studi lain pada 2023 membahas soal bagaimana perubahan iklim berpengaruh terhadap DBD.

    Sehingga dapat disimpulkan, bahwa perubahan iklim mengakibatkan meningkatnya penyebaran dan kasus DBD.

    Namun, perpindahan masyarakat ke kota bukan penyebab utama, ada faktor lain seperti meningkatnya suhu dan curah hujan yang memengaruhi kembang biak nyamuk.

    ***

    Artikel ini merupakan hasil kolaborasi program Panel Ahli Cek Fakta The Conversation Indonesia bersama Kompas.com dan Tempo.co, didukung oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

    Hasil Cek Fakta

    Rujukan

  • (GFD-2024-19657) [HOAKS] Foto Ikan Raksasa di Danau Hogganfield pada 1930

    Sumber:
    Tanggal publish: 07/05/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar foto ikan raksasa di Danau Hogganfield, Glasgow, Inggris yang diklaim dipotret pada 1930.

    Dalam foto, tampak orang-orang berkumpul di sekeliling ikan raksasa yang dijuluki Hoggie itu.

    Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi dalam foto tidak benar atau hoaks.

    Foto ikan raksasa di Danau Hogganfield disebarkan oleh akun Threads ini, ini, dan ini.

    Berikut narasi yang ditulis salah satu pengguna Threads, pada Jumat (3/5/2024):

    Foto terkenal yang diambil pada hari ini pada tahun 1930 dari “Hoggie”, monster legendaris Hogganfield Loch yang akhirnya diambil setelah bertahun-tahun masyarakat meragukan keberadaannya.

    Foto serupa juga ditemukan di akun Facebook ini, ini, dan Twitter ini.

     

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com tidak menemukan informasi, laporan, berita, atau foto lain yang mendukung penemuan ikan raksasa di Danau Hogganfield.

    Sementara, hasil reverse image search di TinEye menunjukkan, foto itu baru beredar pada 2023.

    Selain itu, terdapat beberapa kejanggalan dari foto yang beredar, terutama pada penampakan orang-orang dalam foto.

    Apabila dicermati, wajah orang-orang dalam foto tampak buram, tidak simetris, bahkan memiliki bentuk yang aneh.

    Ini merupakan ciri dari foto rekayasa yang dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

    Untuk membuktikannya, Tim Cek Fakta Kompas.com menggunakan tools pendeteksi gambar AI yang dikembangkan Hive Moderation.

    Hasilnya, gambar tersebut diidentifikasi 99,9 persen merupakan rekayasa atau buatan AI.

    Kesimpulan

    Foto ikan raksasa di Danau Hogganfield, Glasgow, Inggris, pada 1930 merupakan manipulasi. Hive Moderation mengidentifikasi foto tersebut 99,9 persen merupakan rekayasa AI.

    Rujukan