• (GFD-2024-19860) [KLARIFIKASI] Konten AI, Video Iwan Fals Nyanyikan Lagu Kritik Dinasti Jokowi

    Sumber:
    Tanggal publish: 14/05/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar video penyanyi Virgiawan Liestanto atau Iwan Fals menyanyikan lagu dengan lirik yang mengkritik keluarga Presiden Joko Widodo. Lagu itu dinarasikan berjudul "Dinasti Jokowi".

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, video tersebut merupakan hasil manipulasi.

    Suara Iwan Fals dalam video itu diprediksi merupakan buatan perangkat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

    Video Iwan Fals menyanyikan lagu "Dinasti Jokowi" dibagikan oleh akun ini, ini, ini, dan ini.

    Berikut petikan intro lagu "Dinasti Jokowi" dalam video tersebut:

    Terlahirnya dinasti Pak WiwiMenjadi kontroversi

    Menjelang pemiluTerciptanya dinasti Pak Wiwi

    Lahir semenjak dariDicalonkan anaknya jadi petinggi

    Hasil Cek Fakta

    Video Iwan Fals dalam konten tersebut berasal dari unggahan YouTube DEPPO KOPLO, 27 April 2018, berjudul "IWAN FALS - Galang Rambu Anarki (Live Di Bebek Bali)".

    Lagu yang dinyanyikan Iwan Fals berjudul "Galang Rambu Anarki", yang dirilis pada 1982 dan merupakan bagian dari album Opini.

    Setelah dicermati, lagu "Dinasti Jokowi" yang beredar di Facebook menggunakan musik dari lagu "Galang Rambu Anarki".

    Namun, terdapat perbedaan pada bagian lirik. Berikut intro dari lagu "Galang Rambu Anarki" yang dinyanyikan Iwan Fals:

    Galang Rambu Anarki, anakkuLahir awal Januari menjelang pemilu

    Galang Rambu Anarki, dengarlahTerompet tahun baru menyambutmu

    Galang Rambu Anarki, ingatlahTangisan pertamamu ditandai BBMMembumbung tinggi (melambung)

    Perbedaan lirik antara lagu yang beredar di Facebook dengan lagu asli mengindikasikan bahwa konten tersebut merupakan hasil manipulasi.

    Tim Cek Fakta Kompas.com lantas mengecek lagu "Dinasti Jokowi" menggunakan perangkat AI Voice Detector, yang dapat mendeteksi apakah sebuah audio dihasilkan oleh AI.

    Hasilnya, suara Iwan Fals menyanyikan lagu "Dinasti Jokowi" terdeteksi memiliki probabilitas 80,29 persen dihasilkan oleh perangkat kecerdasan buatan.

    Unggahan dengan narasi yang menyatakan bahwa Iwan Fals menyanyikan lagu yang mengkritik Jokowi merupakan hasil manipulasi.

    Video itu bisa saja dimanfaatkan untuk mengkritik Jokowi dan keluarganya yang dinilai berupaya mempertahankan kekuasaan. Namun, fakta bahwa video ini diprediksi sebagai hasil manipulasi perlu ditegaskan karena berpotensi mengelabui pendengarnya.

    Jika kita mengetahui bahwa suara Iwan Fals itu diprediksi sebagai hasil buatan AI dan memberikan penjelasan bahwa itu bukan suara asli, maka konten bisa dikategorikan sebagai satire.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, video Iwan Fals menyanyikan lagu berjudul "Dinasti Jokowi" merupakan hasil manipulasi.

    Dalam video asli, Iwan Fals menyanyikan lagu "Galang Rambu Anarki". Lagu "Dinasti Jokowi" memiliki probabilitas 80,29 persen dibuat oleh perangkat AI yang meniru suara Iwan Fals.

    Rujukan

  • (GFD-2024-19867) [HOAKS] Temukan Kecurangan, FIFA Putuskan Indonesia Vs Uzbekistan Diulang

    Sumber:
    Tanggal publish: 14/05/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar video yang mengeklaim Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) memutuskan untuk mengulangi laga Indonesia melawan Uzbekistan di semifinal Piala Asia U23 2024.

    Berdasarkan unggahan yang beredar, FIFA akan mengulang laga Indonesia melawan Uzbekistan karena ditemukan kecurangan.

    Akan tetapi, setelah ditelusuri video tersebut tidak benar atau hoaks.

    Video yang mengeklaim FIFA memutuskan mengulangi laga Indonesia melawan Uzbekistan karena menemukan kecurangan muncul di media sosial, salah satunya dibagikan oleh akun Facebook ini, ini dan ini.

    Salah satu akun membagikan video pada 1 Mei 2024 dengan judul:

    KEPUTUSAN FIFA SUDAH BULAT?FIFA Temukan KECURANGAN, Laga Indonesia Vs Uzbekistan Diulang Hari Rabu

    Kemudian, di awal video terdapat klip yang menampilkan Presiden FIFA Giani Infantino.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com menelusuri klip pada awal video yang menampilkan Presiden FIFA Giani Infantino. Hasilnya, video itu identik dengan yang ada di kanal YouTube Sky Sport News ini.

    Video itu adalah momen ketika Infantino menyampaikan konferensi pers Piala Dunia pada 19 November 2022 di Doha, Qatar. 

    Dalam keterangan pers, Infantino tidak membahas pertandingan Indonesia melawan Uzbekistan, tetapi membahas terkait penyelenggaraan Piala Dunia Qatar 2022. 

    Salah satu hal yang disorot Infantino dalam pidatonya yakni terkait negara barat yang kerap mengkritik soal dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Piala Dunia Qatar 2022. 

    Setelah disimak sampai tuntas, tidak ditemukan informasi valid yang memastikan laga Indonesia melawan Uzbekistan diulang.

    Narator hanya membahas soal berjalannya pertandingan antara Indonesia melawan Uzbekistan di Piala Asia U23 2024. 

    Adapun Piala Asia U23 2024 telah berakhir. Jepang berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Uzbekistan 1-0 di partai final pada 3 Mei 2024.

    Kesimpulan

    Video yang mengeklaim FIFA memutuskan mengulangi laga Indonesia melawan Uzbekistan karena menemukan kecurangan tidak benar atau hoaks. 

    Klip yang menampilkan Presiden FIFA Gianni Infantino merupakan video lama saat Piala Dunia Qatar 2022.

    Adapun Piala Asia U23 2024 telah berakhir. Jepang berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Uzbekistan 1-0 di partai final pada 3 Mei 2024.

    Rujukan

  • (GFD-2024-20180) Cek Fakta: benarkah pemakaian mobil listrik memangkas separuh emisi dari kendaraan?

    Sumber:
    Tanggal publish: 14/05/2024

    Berita

    Penggunaan kendaraan listrik mengurangi sumbangan emisi karbon hingga 50% ke udara. Jika menggunakan kendaraan yang mengonsumsi BBM, sepanjang 10 km perjalanan akan mengonsumsi BBM hingga 1 liter dan menghasilkan emisi hingga 2,4 kg CO2. Sedangkan, dengan menggunakan kendaraan listrik untuk menempuh jarak 10 km dibutuhkan daya hingga 1,3 KWh yang menghasilkan emisi 1,1 kg CO2. Jadi ada selisih 1,3 CO2 yang bisa kita mitigasi setiap 10 km perjalanan. Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Havidh Nazif, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, 4 April 2024.

    Havidh mengemukakan bahwa penggunaan kendaraan listrik dapat memangkas separuh emisi karbon dibandingkan kendaraan berbasis bahan bakar minyak (BBM). Apa benar begitu?

    Kami bekerja sama dengan peneliti bidang energi dari UNSW Sydney, Denny Gunawan, untuk memeriksa klaim Havidh.

    Pernyataan Havidh Benar

    Denny mengatakan, pernyataan Havidh soal pemakaian kendaraan listrik dapat mengurangi emisi benar. Denny mengutip studi International Council on Clean Transportation (ICCT) pada 2023 yang membuktikan emisi kendaraan listrik sebesar 108-127 gram setara CO2 per km (g CO2-eq/km). Jumlah emisi itu berkisar 47-56% lebih rendah dari kendaraan BBM (246 gCO2-eq/km).

    Menurut dia, emisi ini bahkan berpotensi terus menurun jika Indonesia terus mengurangi produksi listrik dari energi batu bara. Per 2021, sekitar 62% dari total produksi listrik Indonesia masih diproduksi dari energi batu bara.

    Peralihan sumber listrik ke energi terbarukan, kata Denny, berperan penting menurunkan emisi kendaraan listrik. Di Eropa, emisi kendaraan listrik berukuran sedang diperkirakan sebesar 76-83 g CO2-eq/km. Angka tersebut berkisar 63-69% lebih rendah dibandingkan kendaraan BBM (245-246 gCO2-eq/km).

    Emisi yang rendah tersebut juga ditopang oleh rendahnya pemakaian batu bara di Eropa. Per 2021, Eropa hanya mengandalkan sekitar 15,9% listriknya dari batu bara.

    “Jika Indonesia menggunakan 100% listrik terbarukan, penurunan emisi kendaraan listrik bisa meningkat hingga 85-89% dari emisi kendaraan BBM,” tutur Denny yang juga menyitir studi ICCT.

    Artikel ini merupakan hasil kolaborasi program Panel Ahli Cek Fakta The Conversation Indonesia bersama Kompas.com dan Tempo.co, didukung oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

    Robby Irfany Maqoma, Environment Editor, The Conversation

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.



    Hasil Cek Fakta

    Rujukan

  • (GFD-2024-19757) Vaksin HPV picu menopause dini pada anak perempuan, benarkah?

    Sumber:
    Tanggal publish: 13/05/2024

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memiliki program terkait vaksinasi Human Papiloma Virus (HPV) pada tahun ini.

    Pemberian vaksin HPV gratis akan diperluas, dari awalnya program hanya menargetkan anak-anak perempuan kelas 5 dan 6 SD.  Kini, sasarannya menjadi lebih tinggi, yakni hingga anak-anak kelas 3 SMP, atau anak usia 15 tahun.

    Imunisasi massal itu disebut bakal digelar pada Agustus 2024, bertepatan dengan Bulan Imunisasis Anak Nasional (BIAN).

    Penambahan usia penerima program tersebut bukanlah tanpa alasan. Adapun, setiap tahunnya sebanyak 15.000 kasus kanker serviks terjadi di Indonesia.

    Kanker serviks juga disebut sebagai penyakit pembunuh wanita nomor 1 di Indonesia.

    Namun, saat ini beredar narasi yang menyebutkan bahwa vaksinasi HPV memiliki sejumlah risiko pada anak perempuan, di antaranya kemandulan, berpeluang terkena kanker, hingga potensi mengalami menopause dini.

    Berikut potongan narasi yang ada di "X":

    "Vaksin HPV menyebabkan kanker, kemandulan, kegagalan ovarium pada wanita muda, menyebabkan anak perempuan berusia 9 dan 10 tahun mengalami menopause dini,".

    Benarkah vaksin HPV picu menopause dini pada anak perempuan?

    Hasil Cek Fakta

    Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mendefinisikan menopause dini sebagai kondisi tubuh wanita saat tidak haid selama 12 bulan berturut-turut sebelum menginjak usia 40 tahun. Atau berhenti menstruasi lebih cepat daripada usia rata-rata.

    Kemenkes RI telah menepis isu soal vaksin HPV dapat menyebabkan menopause dini. Narasi itu tidak terbukti secara data dan penelitian ilmiah.

    Tidak hanya soal menopause dini, efek samping vaksin HPV sebagai penyebab kanker juga tak terbukti, menurut                       

    Imunisasi HPV merupakan pencegahan primer kanker serviks dimana tingkat keberhasilannya dapat mencapai 100 persen jika diberikan sebanyak dua kali pada populasi anak perempuan umur 9-13 tahun yang merupakan usia sekolah dasar.

    ANTARA juga sudah pernah membantah narasi soal potensi kemandulan akibat vaksinasi HPV. Artikelnya berjudul "Hoaks! Vaksin HPV dapat membuat perempuan mandul."

    Dengan demikian vaksinasi HPV dinyatakan aman digunakan.

    Klaim: Vaksin HPV picu menopause dini pada anak perempuan

    Rating: Hoaks

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: Indriani

    Copyright © ANTARA 2024

    Rujukan