(GFD-2024-19855) [SALAH] Akun WhatsApp Kabag 3 Biro PBJ Prov Kaltim Sayid Awaluddin
Sumber: WhatsApp.comTanggal publish: 16/05/2024
Berita
“0857 6591 8011
Hasil Cek Fakta
Beredar akun WhatsApp bernomor 0857 6591 8011 memasang nama dan foto profil Kepala Bagian III, Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setda Prov. Kaltim, Sayid Awaluddin.
Faktanya akun WhatsApp tersebut bukan milik Sayid Awaluddin. Akun Instagram Biro PBJ Kaltim mengimbau untuk tidak merespon dan melaporkan langsung pada akun Instagram @biro.pbj.provkaltim, “Bersikap Smart dalam menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal ya Sobat Pengadaan.
Tetap Waspada, Sobat Pengadaan!!!”
Berdasarkan penjelasan di atas akun WhatsApp yang mengatasnamakan Kepala Bagian III, Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setda Prov. Kaltim, Sayid Awaluddin adalah akun tiruan.
Faktanya akun WhatsApp tersebut bukan milik Sayid Awaluddin. Akun Instagram Biro PBJ Kaltim mengimbau untuk tidak merespon dan melaporkan langsung pada akun Instagram @biro.pbj.provkaltim, “Bersikap Smart dalam menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal ya Sobat Pengadaan.
Tetap Waspada, Sobat Pengadaan!!!”
Berdasarkan penjelasan di atas akun WhatsApp yang mengatasnamakan Kepala Bagian III, Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setda Prov. Kaltim, Sayid Awaluddin adalah akun tiruan.
Kesimpulan
Biro PBJ Setda Prov Kaltim menegaskan nomor yang beredar bukan milik Sayid Awaluddin
Rujukan
(GFD-2024-19865) [SALAH] Video Sri Mulyani Mempromosikan Obat Hipertensi
Sumber: Facebook.comTanggal publish: 16/05/2024
Berita
Sri Mulyani: “Hipertensi telah merenggut nyawa semua kerabat saya, dan saya merasa bahwa saya akan segera mati juga. Namun berkat obat ini, saya lupa akan tekanan darah tinggi, nyeri dada, dan kelelahan kronis.”
“STOP Hipertensi! Rahasia Alami Ini Bisa”
“STOP Hipertensi! Rahasia Alami Ini Bisa”
Hasil Cek Fakta
Artikel disadur dari Tempo.
Beredar sebuah video yang menunjukkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani memberikan testimoni sekaligus mempromosikan obat hipertensi yang ia konsumsi. Disebutkan juga bahwa obat tersebut adalah rekomendasi dari dr. Terawan, mantan Menteri Kesehatan, yang tidak dijual di apotek.
Namun setelah ditelusuri oleh Tempo, video tersebut merupakan hasil manipulasi deepfake dengan menggunakan AI. Tim Cek Fakta Tempo menjelaskan dalam analisa gerakan bibir dan wajah Sri Mulyani terlihat gerakan yang terputus-putus setiap ganti kata, gerakan bibir yang tidak wajar tersebut adalah salah satu indikasi deepfake.
Video asli Sri Mulyani yang digunakan dalam video tersebut merupakan momen saat dirinya diwawancara oleh VOA yang membahas mengenai kondisi geopolitik dan ketegangan yang dihadapi Indonesia sebagai tuan rumah KTT G-20 di Bali pada November 2022.
Dengan demikian, Sri Mulyani mempromosikan obat hipertensi adalah tidak benar dengan kategori Konten yang Dimanipulasi.
Beredar sebuah video yang menunjukkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani memberikan testimoni sekaligus mempromosikan obat hipertensi yang ia konsumsi. Disebutkan juga bahwa obat tersebut adalah rekomendasi dari dr. Terawan, mantan Menteri Kesehatan, yang tidak dijual di apotek.
Namun setelah ditelusuri oleh Tempo, video tersebut merupakan hasil manipulasi deepfake dengan menggunakan AI. Tim Cek Fakta Tempo menjelaskan dalam analisa gerakan bibir dan wajah Sri Mulyani terlihat gerakan yang terputus-putus setiap ganti kata, gerakan bibir yang tidak wajar tersebut adalah salah satu indikasi deepfake.
Video asli Sri Mulyani yang digunakan dalam video tersebut merupakan momen saat dirinya diwawancara oleh VOA yang membahas mengenai kondisi geopolitik dan ketegangan yang dihadapi Indonesia sebagai tuan rumah KTT G-20 di Bali pada November 2022.
Dengan demikian, Sri Mulyani mempromosikan obat hipertensi adalah tidak benar dengan kategori Konten yang Dimanipulasi.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Moch. Marcellodiansyah
Faktanya suara dalam video tersebut adalah hasil manipulasi AI, video asli menunjukkan wawancara VOA dengan Sri Mulyani yang membahas tentang kondisi geopolitik dan ketegangan yang dihadapi Indonesia sebagai tuan rumah KTT G-20 di Bali.
Faktanya suara dalam video tersebut adalah hasil manipulasi AI, video asli menunjukkan wawancara VOA dengan Sri Mulyani yang membahas tentang kondisi geopolitik dan ketegangan yang dihadapi Indonesia sebagai tuan rumah KTT G-20 di Bali.
Rujukan
(GFD-2024-19866) Cek Fakta: Hoaks Video Eks Menkes Siti Fadilah Supari Promosikan Obat Nyeri Sendi
Sumber:Tanggal publish: 16/05/2024
Berita
Liputan6.com, Jakarta - Beredar di media sosial postingan video mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mempromosikan obat nyeri sendi. Postingan ini beredar sejak beberapa waktu lalu.
Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 11 Februari 2024.
Dalam postingannya terdapat video Siti Fadilah Supari berbicara terkait obat yang ia promosikan membantu mengatasi nyeri sendi. Hingga saat ini video tersebut telah dilihat lebih dari 346,8 ribu kali, mendapat 73 ribu likes dan 4,6 ribu kali dibagikan.
Lalu benarkah postingan video mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mempromosikan obat nyeri sendi?
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dengan menggunakan Google Lens. Hasilnya ada video yang identik dengan postingan.
Video itu diunggah di akun @siti_fadilah_supari di Tiktok pada 15 September 2023. Namun dalam video tersebut tidak berbicara terkait promosi obat nyeri sendiri.
Namun dalam video tersebut Siti Fadilah Supari terkait pengalaman seseorang untuk memperhatikan anjuran dokter jika ada keluhan. Video asli itu sendiri berdurasi 3 menit 6 detik.
Selain itu penelusuran dilanjutkan dengan menggunakan website pendeteksi konten video AI, deepware.ai. Di sana ditemukan bahwa video dalam postingan merupakan buatan AI.
Kesimpulan
Postingan video mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mempromosikan obat nyeri sendi adalah hoaks.
Rujukan
(GFD-2024-19869) [SALAH] Covid-19 Sudah Direncanakan oleh Rockefeller Foundation dan Orang yang Divaksin akan Dikontrol AI
Sumber: SnackVideo.comTanggal publish: 16/05/2024
Berita
“Begini Katanya Tentang COVID-19, Siapa Yang Vaksin Akan Dikontrol Artificial Intelligence”
“Covid-19 Sudah Direncanakan oleh Rockefeller Foundation”
“Yang Vaksin Akan Dikontrol oleh Artificial Inteligence”
Narasi dalam video:
“Kedokteran medis itu buatan Rockefeller Foundation juga, tahun 1910”
“Covid itu singkatan dari certificate of vaccine identity digital. Lihat sekarang, siapa yang sudah kena, akan menerima sertifikat right? Sebagai identitas digital untuk menjadi persyarakatan boleh ke mana-mana. … Mereka kontrol by system dan 19 itu artinya ada P itu A artinya artificial, 9-nya I. Jadi barang siapa sudah divaksin dia akan menerima sertifikat sebagai identitas digitalnya, dia dan akan dikontrol artificial intelligence, dan itu sekarang terjadi”
“Covid-19 Sudah Direncanakan oleh Rockefeller Foundation”
“Yang Vaksin Akan Dikontrol oleh Artificial Inteligence”
Narasi dalam video:
“Kedokteran medis itu buatan Rockefeller Foundation juga, tahun 1910”
“Covid itu singkatan dari certificate of vaccine identity digital. Lihat sekarang, siapa yang sudah kena, akan menerima sertifikat right? Sebagai identitas digital untuk menjadi persyarakatan boleh ke mana-mana. … Mereka kontrol by system dan 19 itu artinya ada P itu A artinya artificial, 9-nya I. Jadi barang siapa sudah divaksin dia akan menerima sertifikat sebagai identitas digitalnya, dia dan akan dikontrol artificial intelligence, dan itu sekarang terjadi”
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah postingan di Snack Video yang menunjukkan Komjen. Pol. (Purn). Dharma Pongrekun yang menyebut bahwa Covid-19 sudah direncanakan oleh Rockefeller Foundation dan siapa pun yang mendapatkan vaksin Covid-19 akan dikontrol oleh AI. Ia juga menyebut bahwa kedokteran medis dibuat oleh Rockefeller Foundation pada tahun 1910.
Disebutkan juga bahwa Covid-19 merupakan akronim dari Certificate Of Vaccine Identity Digital, kemudin urutan huruf ke-1 adalah A yang berarti Artificial dan urutan huruf ke-9 adalah I yang berarti Intelligence.
Namun hasil penelusuran klaim-klaim yang disebutkan oleh Dharma Pongrekun tersebut menyesatkan. Dilansir dari Tempo.co, klaim Covid-19 adalah buatan Rockefeller Foundation merupakan hanya konspirasi yang telah lama beredar sejak Juli 2020 yang tidak memiliki bukti yang mendasar.
Masih dari Tempo.co, hasil studi di Scripps Research Institute oleh profesor imunologi dan mikrobiologi menunjukkan bahwa SARS-CoV-2, yang menjadi penyebab penyakit Covid-19 adalah proses dari evolusi alami, bukan virus yang sengaja dibuat.
Penelusuran terkait nama Covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi nama tersebut yang merupakan akronim dari Coronavirus Disease, dan 19 merujuk pada tahun munculnya virus SARS-CoV-2 pada Desember 2019 di Wuhan, China.
Sebelumnya penyakit ini disebut juga sebagai “Virus Wuhan” atau “Virus China”, namun Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom menyebut bahwa pemberian nama penyakit tidak boleh merujuk pada lokasi geografis, nama hewan, dan nama individu atau nama kelompok yang berhubungan dengan penyakit agar tidak menimbulkan stigma di masyarakat.
Klaim bahwa kedokteran medis adalah buatan Rockefeller Foundation pada tahun 1910 tidak mendasar. Pada laman resminya disebut bahwa Rockefeller Foundation berdiri pada tahun 1913, sedangkan penelusuran terkait sejarah kedokteran medis, Wikipedia mencatat pada abad ke 9 Sekolah Kedokteran pertama kali dibuka bernama The Schola Medica Salernitana di Italia. Dengan begitu kedokteran medis sudah ada jauh sebelum Rockefeller Foundation berdiri.
Dengan demikian, Rockefeller Foundation yang merencanakan pandemi Covid-19 adalah tidak benar dengan kategori Konten yang Menyesatkan.
Disebutkan juga bahwa Covid-19 merupakan akronim dari Certificate Of Vaccine Identity Digital, kemudin urutan huruf ke-1 adalah A yang berarti Artificial dan urutan huruf ke-9 adalah I yang berarti Intelligence.
Namun hasil penelusuran klaim-klaim yang disebutkan oleh Dharma Pongrekun tersebut menyesatkan. Dilansir dari Tempo.co, klaim Covid-19 adalah buatan Rockefeller Foundation merupakan hanya konspirasi yang telah lama beredar sejak Juli 2020 yang tidak memiliki bukti yang mendasar.
Masih dari Tempo.co, hasil studi di Scripps Research Institute oleh profesor imunologi dan mikrobiologi menunjukkan bahwa SARS-CoV-2, yang menjadi penyebab penyakit Covid-19 adalah proses dari evolusi alami, bukan virus yang sengaja dibuat.
Penelusuran terkait nama Covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi nama tersebut yang merupakan akronim dari Coronavirus Disease, dan 19 merujuk pada tahun munculnya virus SARS-CoV-2 pada Desember 2019 di Wuhan, China.
Sebelumnya penyakit ini disebut juga sebagai “Virus Wuhan” atau “Virus China”, namun Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom menyebut bahwa pemberian nama penyakit tidak boleh merujuk pada lokasi geografis, nama hewan, dan nama individu atau nama kelompok yang berhubungan dengan penyakit agar tidak menimbulkan stigma di masyarakat.
Klaim bahwa kedokteran medis adalah buatan Rockefeller Foundation pada tahun 1910 tidak mendasar. Pada laman resminya disebut bahwa Rockefeller Foundation berdiri pada tahun 1913, sedangkan penelusuran terkait sejarah kedokteran medis, Wikipedia mencatat pada abad ke 9 Sekolah Kedokteran pertama kali dibuka bernama The Schola Medica Salernitana di Italia. Dengan begitu kedokteran medis sudah ada jauh sebelum Rockefeller Foundation berdiri.
Dengan demikian, Rockefeller Foundation yang merencanakan pandemi Covid-19 adalah tidak benar dengan kategori Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Moch. Marcellodiansyah
Klaim tersebut hanya konspirasi yang telah lama beredar sejak Juli 2020 yang tidak memiliki bukti yang mendasar. Selengkapnya pada bagian penjelasan.
Klaim tersebut hanya konspirasi yang telah lama beredar sejak Juli 2020 yang tidak memiliki bukti yang mendasar. Selengkapnya pada bagian penjelasan.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/2883/keliru-covid-19-merupakan-hasil-konspirasi-rockefeller-foundation
- https://www.youtube.com/watch?v=RZw2OUWLycI
- https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/technical-guidance/naming-the-coronavirus-disease-(covid-2019)-and-the-virus-that-causes-it
- https://medicine.yale.edu/news-article/calling-covid-19-the-wuhan-virus-or-china-virus-is-inaccurate-and-xenophobic/
- https://www.rockefellerfoundation.org/about-us/our-history/
- https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_medicine
Halaman: 3609/7989



:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4833411/original/064255800_1715834842-cek_fakta_sendi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4833412/original/086354800_1715834900-cek_fakta_sendi_2.jpg)
