“Celine Dion was diagnosed with stiff-person syndrome. It’s a neurological disorder with features of an autoimmune disease. Over the past year she started to experience debilitating symptoms which surely couldn’t have been brought on by multiple jabs. And here is the side effect “stiff person syndrome” listed on Pfizer’s list of side effects they wanted to hide from the public for 70+ years. @celinedion do you see this?? Will you speak out about it? Don’t you want to save others from this same fate?”
Terjemahan:
“Celine Dion didiagnosis dengan sindrom orang kaku. Ini adalah gangguan neurologis dengan fitur penyakit autoimun. Selama setahun terakhir dia mulai mengalami gejala yang melemahkan yang tentunya tidak mungkin disebabkan oleh banyak suntikan. Dan inilah efek samping “sindrom orang kaku” yang terdaftar di daftar efek samping Pfizer yang ingin mereka sembunyikan dari publik selama 70+ tahun. @Celine Dion apakah kamu melihat ini?? Apakah Anda akan membicarakannya? Apakah Anda tidak ingin menyelamatkan orang lain dari nasib yang sama?”
(GFD-2022-11275) [SALAH] Sindrom Stiff-Person yang Diderita Penyanyi Celine Dion Disebabkan Vaksin Pfizer
Sumber: twitterTanggal publish: 28/12/2022
Berita
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah unggahan di Twitter yang menunjukkan daftar dampak penyakit yang ditimbulkan setelah melakukan vaksinasi Covid-19 dengan menggunakan vaksin Pfizer, unggahan tersebut mengklaim bahwa penyakit sindrom Stiff-Person yang dialami Celine Dion merupakan dampak dari pemberian vaksin Pfizer dalam melakukan vaksinasi Covid-19.
Setelah ditelusuri, klaim tersebut salah. Faktanya, klaim mengenai penyakit Sindrom Stiff-Person yang disebabkan oleh vaksinasi Covid-19 merupakan klaim yang ‘tidak masuk akal secara ilmiah’. Hasil penelusuran oleh AFP menunjukkan dokumen yang dimiliki oleh Pfizer bukan dokumen yang menunjukkan efek samping yang dimiliki setelah melakukan vaksinasi Covid-19 dan belum memiliki hubungan sebab akibat yang berarti.
Melalui AFP Wakil Kepala Pusat Farmakovigilans Regional Burgundy mengatakan bahwa Sindrom Stiff-Person bukan salah satu dari efek samping yang dilaporkan pasca penyuntikan vaksin Pfizer. Selain itu, Dalam catatan medis yang dimiliki Celine Dion disampaikan bahwa, dirinya sudah mengalami gejala kesehatan tersebut jauh sebelum Covid-19 muncul.
Dengan demikian, Sindrom Stiff-Person yang diderita penyanyi Celine Dion disebabkan vaksin Pfizer merupakan hoax dengan kategori Konten yang Menyesatkan.
Setelah ditelusuri, klaim tersebut salah. Faktanya, klaim mengenai penyakit Sindrom Stiff-Person yang disebabkan oleh vaksinasi Covid-19 merupakan klaim yang ‘tidak masuk akal secara ilmiah’. Hasil penelusuran oleh AFP menunjukkan dokumen yang dimiliki oleh Pfizer bukan dokumen yang menunjukkan efek samping yang dimiliki setelah melakukan vaksinasi Covid-19 dan belum memiliki hubungan sebab akibat yang berarti.
Melalui AFP Wakil Kepala Pusat Farmakovigilans Regional Burgundy mengatakan bahwa Sindrom Stiff-Person bukan salah satu dari efek samping yang dilaporkan pasca penyuntikan vaksin Pfizer. Selain itu, Dalam catatan medis yang dimiliki Celine Dion disampaikan bahwa, dirinya sudah mengalami gejala kesehatan tersebut jauh sebelum Covid-19 muncul.
Dengan demikian, Sindrom Stiff-Person yang diderita penyanyi Celine Dion disebabkan vaksin Pfizer merupakan hoax dengan kategori Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Mochamad Marcell
Klaim tersebut salah, faktanya tidak terdapat bukti yang menunjukkan penyakit Sindrom Stiff-Person disebabkan penggunaan vaksin Pfizer sebagai vaksin Covid-19. Kabar yang menyesatkan ini dikaitkan dengan penyakit Stiff-Person yang diderita penyanyi Celie Dion. Selengkapnya di bagian penjelasan.
Klaim tersebut salah, faktanya tidak terdapat bukti yang menunjukkan penyakit Sindrom Stiff-Person disebabkan penggunaan vaksin Pfizer sebagai vaksin Covid-19. Kabar yang menyesatkan ini dikaitkan dengan penyakit Stiff-Person yang diderita penyanyi Celie Dion. Selengkapnya di bagian penjelasan.
Rujukan
(GFD-2022-11274) Cek Fakta: Hoaks Artikel Berjudul "Ma'ruf Amin Beri Hadiah Rp 1 Miliar Jika Banser Menang Melawan KKB"
Sumber: liputan6.comTanggal publish: 28/12/2022
Berita
Liputan6.com, Jakarta- Kabar tentang Wakil Presiden Ma'ruf Amin akan memberikan hadiah uang Rp 1 miliar jika Banser menang melawan kelompok kriminal bersenjata (KKB) beredar di media sosial. Kabar tersebut disebarkan salah satu akun Facebook pada 23 Desember 2022.
Akun Facebook tersebut mengunggah gambar tangkapan layar artikel berjudul "Ma'ruf Amin beri hadiah 1 Miliyar jika Banser menang melawan KKB".
Dalam gambar tersebut terdapat sosok Ma'ruf Amin yang tengah memberikan pernyataan di depan sejumlah wartawan.
"Diam diam beliau suka bcanda juga.. 😅😅😅;" tulis salah satu akun Facebook.
Konten yang disebarkan akun Facebook tersebut telah 3 kali dibagikan dan mendapat 3 komentar dari warganet.
Benarkah Wapres Ma'ruf Amin akan memberikan hadiah uang Rp 1 miliar jika Banser menang melawan KKB? Berikut penelusurannya.
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kabar Wapres Ma'ruf Amin akan memberikan hadiah uang Rp 1 miliar jika Banser menang melawan KKB. Penelusuran dilakukan dengan memasukkan kata kunci "ma'ruf amin beri hadiah 1 miliar jika banser menang melawan kkb" di kolom pencarian Google Search.
Hasilnya tidak ada artikel dari media arus utama yang mengabarkan informasi tersebut. Liputan6.com justru menemukan artikel yang memuat foto identik dengan klaim tersebut.
Adalah artikel berjudul "Gaduh Luhut Bicara OTT, Wapres Ma'ruf Jelaskan Tiga Kerja KPK" yang dimuat situs cnnindonesia.com pada 24 Desember 2022.
Berikut gambar tangkapan layarnya:
Kesimpulan
Kabar Wapres Ma'ruf Amin akan memberikan hadiah uang Rp 1 miliar jika Banser menang melawan KKB ternyata tidak benar alias hoaks. Faktanya, gambar tangkapan layar artikel berita tersebut diduga hasil rekayasa digital.
Rujukan
(GFD-2022-11273) [SALAH] Video Seorang Tentara Ukraina yang Berumur 16 Tahun
Sumber: Artikel riafan.ruTanggal publish: 28/12/2022
Berita
(Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):
“Pejuang pasukan khusus GRU: tentara berusia 16 tahun bergabung dengan barisan Angkatan Bersenjata Ukraina”.
“Angkatan Bersenjata Ukraina mengirim tentara muda berusia 14 – 16 tahun ke garis depan. Ini diceritakan oleh seorang prajurit dari Brigade Tujuan Khusus Pengawal Terpisah ke-3 dari Direktorat Utama Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia ‘Ukrop’”.
“Pejuang pasukan khusus GRU: tentara berusia 16 tahun bergabung dengan barisan Angkatan Bersenjata Ukraina”.
“Angkatan Bersenjata Ukraina mengirim tentara muda berusia 14 – 16 tahun ke garis depan. Ini diceritakan oleh seorang prajurit dari Brigade Tujuan Khusus Pengawal Terpisah ke-3 dari Direktorat Utama Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia ‘Ukrop’”.
Hasil Cek Fakta
Sebuah media Rusia bernama riafan.ru menerbitkan berita yang berjudul “GRU special forces fighter: 16-year-old soldiers joined the ranks of the Armed Forces of Ukraine” dan menulis klaim bahwa pemerintah Ukraina memaksa warganya yang baru berumur 14 -16 tahun untuk bergabung dengan angkatan bersenjata Ukraina. Berita tersebut juga dilengkapi dengan video yang memperlihatkan seorang tentara Ukraina yang diklaim masih berumur 16 tahun.
Berita tersebut ditulis pada 15 November lalu, dan telah dibagikan beberapa kali di berbagai platform media sosial.
Berdasarkan hasil penelusuran, berita tersebut menyesatkan. Seorang wartawan dari program televisi Ukraina Вікна-новини (Unified News) mewawancarai langsung remaja yang ada di video tersebut yang bernama Yelyzaveta. Hasil dari wawancara tersebut mengungkapkan bahwa Yelyzaveta berumur 23 tahun, bukan 16 tahun.
Video Yelyzaveta yang menyatakan umurnya 23 tahun juga telah diunggah di laman YouTube resmi Unified News dengan judul “She is 14 years old and she is “sitting on a needle?” Paramedic of the Armed Forces of Ukraine dispelled PROPAGANDA’s myths about herself”.
Selain itu, berdasarkan UU “Wajib Militer dan Dinas Militer” Ukraina yang disahkan pada 25 Maret 1992 no. 2232-XII (Article 15) menjelaskan bahwa warga negara Ukraina yang ikut wajib militer harus di atas 18 tahun.
Dengan demikian, berita yang ditulis media Rusia riafan.ru berjudul “GRU special forces fighter: 16-year-old soldiers joined the ranks of the Armed Forces of Ukraine” merupakan konten yang menyesatkan.
Berita tersebut ditulis pada 15 November lalu, dan telah dibagikan beberapa kali di berbagai platform media sosial.
Berdasarkan hasil penelusuran, berita tersebut menyesatkan. Seorang wartawan dari program televisi Ukraina Вікна-новини (Unified News) mewawancarai langsung remaja yang ada di video tersebut yang bernama Yelyzaveta. Hasil dari wawancara tersebut mengungkapkan bahwa Yelyzaveta berumur 23 tahun, bukan 16 tahun.
Video Yelyzaveta yang menyatakan umurnya 23 tahun juga telah diunggah di laman YouTube resmi Unified News dengan judul “She is 14 years old and she is “sitting on a needle?” Paramedic of the Armed Forces of Ukraine dispelled PROPAGANDA’s myths about herself”.
Selain itu, berdasarkan UU “Wajib Militer dan Dinas Militer” Ukraina yang disahkan pada 25 Maret 1992 no. 2232-XII (Article 15) menjelaskan bahwa warga negara Ukraina yang ikut wajib militer harus di atas 18 tahun.
Dengan demikian, berita yang ditulis media Rusia riafan.ru berjudul “GRU special forces fighter: 16-year-old soldiers joined the ranks of the Armed Forces of Ukraine” merupakan konten yang menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Evarizma Zahra.
Konten yang menyesatkan. Pada video yang terlampir, remaja Ukraina tersebut berusia 23 tahun, bukan 16 tahun, dan tidak ada aturan di Ukraina yang memaksa remaja berumur 14 – 16 tahun untuk ikut bergabung di angkatan bersenjata Ukraina.
Konten yang menyesatkan. Pada video yang terlampir, remaja Ukraina tersebut berusia 23 tahun, bukan 16 tahun, dan tidak ada aturan di Ukraina yang memaksa remaja berumur 14 – 16 tahun untuk ikut bergabung di angkatan bersenjata Ukraina.
Rujukan
(GFD-2022-11272) [SALAH] Berita TASS Rusia: “The United States reported that Kyiv supplied white phosphorus used in Karabakh to Baku”
Sumber: Artikel TASSTanggal publish: 28/12/2022
Berita
(Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):
“Amerika Serikat melaporkan bahwa Kyiv memasok fosfor putih yang digunakan di Karabakh ke Baku”.
“Ukraina memasok Azerbaijan dengan amunisi fosfor putih, yang digunakan selama sangketa di Nagorno-Karabakh pada tahun 2020. Pernyataan ini disampaikan pada hari Rabu oleh Ketua Komite Urusan Luar Negeri Senat Kongress AS, Robert Menendez dari partai Demokrat, negara bagian New Jersey”.
“Amerika Serikat melaporkan bahwa Kyiv memasok fosfor putih yang digunakan di Karabakh ke Baku”.
“Ukraina memasok Azerbaijan dengan amunisi fosfor putih, yang digunakan selama sangketa di Nagorno-Karabakh pada tahun 2020. Pernyataan ini disampaikan pada hari Rabu oleh Ketua Komite Urusan Luar Negeri Senat Kongress AS, Robert Menendez dari partai Demokrat, negara bagian New Jersey”.
Hasil Cek Fakta
Sebuah media Rusia bernama TASS menerbitkan berita yang berjudul “Amerika Serikat melaporkan bahwa Kyiv memasok fosfor putih yang digunakan di Karabakh ke Baku” dan menulis klaim bahwa pernyataan tersebut dibuat oleh Senat Kongress AS negara bagian New Jersey, Robert Menendez pada November lalu.
Berita tersebut ditulis pada 16 November 2022, dan telah dibagikan beberapa kali di berbagai platform media sosial.
Berdasasrkan hasil penelusuran, berita tersebut menyesatkan. Robert Menendez memang memberikan pernyataan tersebut saat sidang peninjauan kebijakan AS November lalu, namun tidak menyertakan bukti konkrit yang mendukung klaimnya.
Terlebih lagi, Ukraina telah meratifikasi konvensi internasional tentang pelarangan penggunaan senjata kimia (International Convention on the Prohibition of Chemical Weapons) pada 1998.
Selain itu, informasi serupa pernah dibahas oleh stopfake.org dengan judul “Fake: Ukraine Supplied Azerbaijan with Phosphorus Weapons”.
Dengan demikian, berita yang ditulis media Rusia TASS berjudul “The United States reported that Kyiv supplied white phosphorus used in Karabakh to Baku” merupakan konten yang menyesatkan.
Berita tersebut ditulis pada 16 November 2022, dan telah dibagikan beberapa kali di berbagai platform media sosial.
Berdasasrkan hasil penelusuran, berita tersebut menyesatkan. Robert Menendez memang memberikan pernyataan tersebut saat sidang peninjauan kebijakan AS November lalu, namun tidak menyertakan bukti konkrit yang mendukung klaimnya.
Terlebih lagi, Ukraina telah meratifikasi konvensi internasional tentang pelarangan penggunaan senjata kimia (International Convention on the Prohibition of Chemical Weapons) pada 1998.
Selain itu, informasi serupa pernah dibahas oleh stopfake.org dengan judul “Fake: Ukraine Supplied Azerbaijan with Phosphorus Weapons”.
Dengan demikian, berita yang ditulis media Rusia TASS berjudul “The United States reported that Kyiv supplied white phosphorus used in Karabakh to Baku” merupakan konten yang menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Evarizma Zahra.
Konten yang menyesatkan. Tidak ada bukti valid yang mendukung klaim tersebut, dan Ukraina telah meratifikasi konvensi internasional tentang pelarangan penggunaan senjata kimia (International Convention on the Prohibition of Chemical Weapons) pada 1998.
Konten yang menyesatkan. Tidak ada bukti valid yang mendukung klaim tersebut, dan Ukraina telah meratifikasi konvensi internasional tentang pelarangan penggunaan senjata kimia (International Convention on the Prohibition of Chemical Weapons) pada 1998.
Rujukan
Halaman: 3501/5729