• (GFD-2022-10903) [SALAH] Covid-19 Subvarian XBB berbeda, mematikan dan tidak mudah terdeteksi dengan baik

    Sumber: Whatsapp.com
    Tanggal publish: 06/11/2022

    Berita

    “berita singapura!
    Semua orang disarankan memakai masker karena virus corona varian baru COVID-Omicron XBB berbeda, mematikan dan tidak mudah terdeteksi dengan baik:-
    Gejala virus novel COVID-Omicron XBB adalah sebagai berikut:-

    Tidak batuk.
    Tidak ada demam.
    Hanya akan ada banyak :-
    Nyeri sendi.
    Sakit kepala.
    Sakit leher.
    Sakit punggung bagian atas.
    Pneumonia.
    Umumnya tidak nafsu makan.
    Tentu saja, COVID-Omicron XBB 5 kali lebih beracun daripada varian Delta dan memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi daripada Delta.
    Dibutuhkan waktu yang lebih singkat untuk kondisi mencapai tingkat keparahan yang ekstrim, dan kadang-kadang tidak ada gejala yang jelas.
    Mari lebih berhati-hati!
    Jenis virus ini tidak ditemukan di daerah nasofaring, dan secara langsung mempengaruhi paru-paru, “jendela”, untuk waktu yang relatif singkat

    Hasil Cek Fakta

    Beredar melalui pesan berantai informasi tentang Covid-19 Subvarian XBB yang telah terdeteksi di Indonesia adalah varian mematikan dan tidak bisa terdeteksi.

    Mengutip dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id , Juru Bicara Covid-19 Kementerian Kesehatan dr. M. Syahril menyampaikan bahwa ada gejala seperti batuk, pilek dan demam. Pasien pertama Covid-19 Subvarian XBB dari Lombok Nusa Tenggara Timur tersebut melakukan pemeriksaan dan dinyatakan positif pada 26 September. Setelah menjalani isolasi, pasien telah dinyatakan sembuh pada 3 Oktober. Jubir Syahril menambahkan meski varian baru XBB cepat menular, namun fatalitasnya tidak lebih parah dari varian Omicron.

    Dilansir dari liputan6.com Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dr. Reisa Broto Asmoro. Ia menyampaikan vaksin covid-19 masih efektif menghadapi gejala berat dari varian XBB. Penjelasan yang senada juga disampaikan oleh Ketua Satgas Covid-19 IDI, Erlina Burhan, menurutnya gejala yang ditimbulkan oleh subvarian XBB cenderung mirip dengan gejala COVID-19 varian Omicron secara umum. Sejauh ini, lanjut Erlina, belum ada laporan resmi yang mengatakan bahwa XBB menyebabkan COVID-19 dengan gejala yang lebih berat.

    Menurut Jubir Satgas Covid-19 RS UNS Solo, dr Tonang Dwi Ardyanto melalui akun Facebook pribadinya, XBB tetap dapat dideteksi di nasofaring, jadi tidak benar bahwa langsung masuk ke paru-paru. Maka XBB tetap dapat dideteksi seperti juga cara mendeteksi varian lainnya. Jadi tes PCR dan Antigen yang ada saat ini, mampu mendeteksinya. Dua pekan terakhir, laporan positivitas memang meningkat. Walau jumlah kesakitan dan kematian tetap masih rendah.

    “XBB TIDAK lebih ganas dibandingkan delta, karena ini adalah sub-varian Omicron. Jadi tidak benar juga bahwa XBB lebih ganas daripada gelombang pertama covid.” tambah Tonang.

    Berdasarkan penjelasan di atas klaim terkait Covid-19 Subvarian XBB yang mematikan dan tidak mudah dideteksi adalah keliru dan termasuk dalam kategori konten yang menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Riza Dwi (Anggota Tim Kalimasada)

    Juru Bicara Covid-19 Kementerian Kesehatan dr. M. Syahril mengatakan meski varian baru XBB cepat menular, namun fatalitasnya tidak lebih parah dari varian Omicron.

    Rujukan

  • (GFD-2022-10902) [SALAH] Panda Merah Mati Setelah Diberi Dosis Vaksin Covid-19

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 06/11/2022

    Berita

    Sebuah akun Twitter membagikan gambar yang berisi dua tangkapan layar berita, pertama terkait pemberian vaksinasi kepada hewan di Kebun Binatang Toronto dan yang kedua terkait kematian panda merah yang baru berusia 3 bulan, diketahui panda merah yang mati tersebut bernama Dash. Dalam unggahan Twitternya disematkan narasi “mereka membunuh panda merah” narasi tersebut mengartikan bahwa panda merah tersebut mengalami kematian akibat pemberian vaksinasi Covid-19.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri, informasi tersebut salah. Faktanya, di saat kematiannya, Dash belum pernah divaksinasi, hal tersebut dikonfirmasi oleh pihak Kebun Binatang Toronto melalui Twitter resminya, @TheTorontoZoo. Dalam informasi resminya juga menyatakan bahwa pemberian vaksinasi kepada hewan justru terbukti efektif daripada yang belum diberikan vaksinasi.

    Selain itu, menurut worldwildlife.org, panda merah memang sedang mengalami ancaman kepunahan karena perubahan iklim dan aktivitas manusia yang berdampak pada hutan habitat tempat panda merah tinggal. Dilansir dari kompas.com, peneliti The University of Queensland menyebut kondisi tersebut menyebabkan resiko kematian panda merah meningkat dan dapat menurunkan populasi panda merah untuk jangka panjang.

    Dengan demikian, panda merah mati setelah diberi dosis vaksin Covid-19 merupakan hoax dengan kategori Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Mochamad Marcell
    Klaim tersebut salah, faktanya panda merah yang mati di Kebun Binatang Toronto belum diberikan vaksinasi Covid-19. Melalui Twitter resmi Kebun Binatang Totonto (@TheTorontoZoo), mengonfirmasi bahwa informasi tersebut menyesatkan, justru pemberian vaksinasi terhadap hewan yang mereka pelihara terbukti efektif.

    Rujukan

  • (GFD-2022-10901) [SALAH] Jokowi Mengembalikan Ahok ke Balai Kota DKI

    Sumber: Youtube.com
    Tanggal publish: 06/11/2022

    Berita

    Beredar sebuah informasi di YouTube yang mengklaim bahwa Presiden Jokowi mengembalikan Ahok ke DKI, informasi tersebut beredar pada saat berakhirnya masa jabatan Anies Baswedan sebagai gubernur DKI Jakarta. Diketahui, Pilkada DKI diundur ke tahun 2024 sehingga penanggung jawab jabatan gubernur DKI Jakarta dipilih oleh presiden.

    Hasil Cek Fakta


    Setelah ditelusuri, informasi tersebut salah. Faktanya, Presiden Jokowi tidak memilih Ahok untuk mengisi jabatan tersebut dan mengembalikannya ke dalam pemerintahan DKI. Melalui laman resmi Presiden RI, Jokowi menunjuk Heru Budi Hartono sebagai PJ Gubernur DKI Jakarta hingga Pilkada DKI 2024 nanti, tidak ada kaitannya dengan Ahok. Saat ini Ahok masih menjabat menjadi Komisaris Utama PT Pertamina dan tidak memiliki jabatan apa pun dalam pemerintahan.

    Kemudian, dalam video tidak menunjukkan fakta-fakta yang membuktikan klaim tersebut. Namun lebih menjelaskan alasan Jokowi menunjuk Heru Budi Hartono sebagai PJ Gubernur DKI Jakarta dan menyebutkan bahwa Heru mengikuti cara Ahok dalam menampung aspirasi masyarakat, seperti membuka pos pengaduan di Balai Kota DKI Jakarta.

    Dengan demikian, Jokowi mengembalikan Ahok ke Balai Kota DKI merupakan hoax dengan kategori Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Mochamad Marcell

    Klaim tersebut salah, faktanya Presiden Jokowi menunjuk Heru Budi Hartono sebagai PJ Gubernur DKI Jakarta. Saat ini Ahok tidak memiliki jabatan di pemerintahan, ia masih menjadi Komisaris Utama PT Pertamina, tidak ada sumber dari berita yang valid terkait kabar tersebut.

    Rujukan

  • (GFD-2022-10900) [SALAH] Seekor Naga Ditemukan di Mongolia

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 05/11/2022

    Berita

    Akun Twitter @ronin19217435 menulis cuitan dan mengunggah cuplikan video yang menunjukkan seekor naga yang terlihat tergeletak di tanah. Pengguna Twitter tersebut juga menulis klaim bahwa video tersebut diambil di Mongolia, dan naga di video tersebut merupakan seekor naga sungguhan.

    Cuitan dan video yang diunggah pada 22 Oktober tersebut telah disukai oleh hampir 8,000 orang, serta telah dikutip dan dibagikan ulang hampir 2,500 kali.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, informasi tersebut salah. Video serupa telah banyak beredar di internet sejak 2018 lalu, salah satunya diunggah di YouTube oleh pengguna bernama “Familia este totul”. Video tersebut juga dilengkapi deskripsi lengkap yang menjelaskan bahwa naga tersebut dibuat oleh Juan Villa pada 1998. Juan Villa bekerja di Promotheus Sculpture, di mana perusahaan tersebut telah banyak membuat properti untuk kepentingan pameran di musium, pembuatan film dan teater.

    Lebih lanjut, informasi serupa juga pernah dibahas oleh AFP Fact Check dengan judul “This video shows a dragon model featured on a Spanish television show, not a real dragon”.

    Dengan demikian, informasi yang disebarluaskan oleh @ronin19217435 meupakan konteks yang salah.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Evarizma Zahra.

    Konteks yang salah. Seekor naga yang terlihat di video tersebut merupakan naga yang dibuat untuk proses sebuah film di Spanyol, bukan seekor naga asli yang ditemukan di Mongolia.

    Rujukan