KOMPAS.com - Video yang mengeklaim pengusaha Michael Bambang Hartono menjanjikan bantuan Rp 50 juta melalui nomor WhatsApp beredar di media sosial.
Michael Hartono merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes. Nilai kekayaan Michael tercatat Rp 396 triliun pada akhir Juli 2024.
Namun, nama orang ketiga terkaya di Indonesia itu dicatut untuk penipuan di media sosial. Setelah ditelusuri, video tersebut merupakan hasil manipulasi.
Video yang mengeklaim Michael Bambang Hartono menjanjikan bantuan Rp 50 juta muncul di media sosial, salah satunya dibagikan oleh akun Facebook ini, ini dan ini.
Dalam video Hartono mengatakan, untuk mendapat Rp 50 juta yakni dengan menyukai dan membagikan unggahan tersebut. Unggahan itu juga mencantumkan nomor kontak, berikut narasinya:
LANGSUNG KE WHATSAPP0882-7642-5567
Akun Facebook Tangkapan layar Facebook narasi yang menyebut Michael Bambang Hartono membagikan Rp 50 juta
(GFD-2024-22885) [HOAKS] Michael Bambang Hartono Bagikan Rp 50 Juta di Medsos
Sumber:Tanggal publish: 23/09/2024
Berita
Hasil Cek Fakta
Tim Cek Fakta Kompas.com menelusuri video tersebut menggunakan teknik reverse image search. Hasilnya, video tersebut identik dengan unggahan di kanal YouTube Kumparan ini.
Dalam video aslinya Hartono tidak menjanjikan bantuan Rp 50 juta, namun membicarakan soal cabang olahraga bridge.
Video itu diambil pada 2018 setelah Michael Hartono meraih medali perunggu pada cabang olahraga bridge dalam Asian Games 2018.
Saat itu Hartono mengatakan, bonus medali perunggu dari pemerintah ia kembalikan untuk pengembangan olahraga bridge di Indonesia.
Tim Cek Fakta Kompas.com mengecek suara dalam video menggunakan Hive Moderation.
Hasilnya, suara Hartono menjanjikan bantuan Rp 50 juta memiliki probabilitas 99.1 persen dihasilkan oleh artificial intelligence (AI).
Manipulasi suara itu kemudian ditempel pada video, seolah-olah Michael Hartono membagi-bagi uang hingga Rp 50 juta.
Dalam video aslinya Hartono tidak menjanjikan bantuan Rp 50 juta, namun membicarakan soal cabang olahraga bridge.
Video itu diambil pada 2018 setelah Michael Hartono meraih medali perunggu pada cabang olahraga bridge dalam Asian Games 2018.
Saat itu Hartono mengatakan, bonus medali perunggu dari pemerintah ia kembalikan untuk pengembangan olahraga bridge di Indonesia.
Tim Cek Fakta Kompas.com mengecek suara dalam video menggunakan Hive Moderation.
Hasilnya, suara Hartono menjanjikan bantuan Rp 50 juta memiliki probabilitas 99.1 persen dihasilkan oleh artificial intelligence (AI).
Manipulasi suara itu kemudian ditempel pada video, seolah-olah Michael Hartono membagi-bagi uang hingga Rp 50 juta.
Kesimpulan
Video yang mengeklaim Michael Bambang Hartono menjanjikan bantuan Rp 50 juta merupakan hasil manipulasi. Dalam video aslinya ia membicarakan soal olahraga bridge.
Ketika dicek menggunakan Hive Moderation suara Hartono terdeteksi dihasilkan AI.
Ketika dicek menggunakan Hive Moderation suara Hartono terdeteksi dihasilkan AI.
Rujukan
- https://www.facebook.com/reel/1485200718843855
- https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=551035457590122&id=100080510160124&mibextid=oFDknk&rdid=wk5RfzKRLdYOOrxU
- https://www.facebook.com/watch/?mibextid=D5vuiz&v=1490639058251008&rdid=Uul2cZwTGkKxWgAS
- https://www.youtube.com/watch?v=x_BRoHrPbV4&t=77s
- https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D
(GFD-2024-23160) [SALAH] Video Ikan Naik ke Permukaan Pantai di Gorontalo, Indikasi Megathrust
Sumber: facebook.comTanggal publish: 23/09/2024
Berita
Kejadian tadi malam di pantai LEATO Propinsi Gorontalo….
Semoga saja bukan indikasi MEGATRUSH akan segra tiba….
Lindungi kami ya Allah
Arsip: https://archive.md/BsQuM
Semoga saja bukan indikasi MEGATRUSH akan segra tiba….
Lindungi kami ya Allah
Arsip: https://archive.md/BsQuM
Hasil Cek Fakta
Artikel saduran dari Tempo.co
Akun facebook dengan nama Leonardo mengunggah sebuah video yang menampakkan cuplikan sekelompok orang mengerumuni sebuah pantai. Dalam video tersebut terlihat juga ikan-ikan di pantai naik ke dasar. Masyarakat pun berbondong-bondong menangkapnya dengan menggunakan ember. Kejadian tersebut diklaim terjadi di Pantai Leato Provinsi Gorontalo.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Tempo dengan artikel berjudul “Keliru, Video Berisi Klaim Ikan Berloncatan Tanda Tsunami dan Gempa,” yang terbit pada 10 September 2024, menunjukkan bahwa lokasi kejadian pada video bukanlah di Indonesia, melainkan di pesisir Pantai Barangay Tinoto, Kota Madya Maasim, Provinsi Sarangani, Pulai Mindanao, Filipina pada Minggu, 7 Januari 2024.
Menurut Zenaida A. Dangkalan yang merupakan pejabat perikanan Provinsi Sarangani, fenomena tersebut adalah normal yang bisa terjadi karena tiga kemungkinan, yakni terkait musim lupoy yang terjadi di Filipina, ikan yang lebih besar mengejar gerombolan ikan yang lain ke arah pantai karena mereka tidak bisa mengakses daerah dangkal, dan ikan-ikan tersebut tertarik pada cahaya dari resor pantai.
Dalam hal ini, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, Nuraididin, menyebut bahwa fenomena tersebut merupakan siklus yang lumrah terjadi dan bukan pertanda bencana besar.
Setiap kemarau, kemunculan ikan mendekati bibir pantai atau muara karena terjadi arus dingin di bawah laut karena cuaca merupakan kejadian biasa. Ikan muncul ke permukaan untuk mendekati arus air yang lebih hangat.
Dengan demikian, klaim bahwa video yang beredar merupakan kejadian di Indonesia dan terkait dengan Megathrust, tidak benar.
Akun facebook dengan nama Leonardo mengunggah sebuah video yang menampakkan cuplikan sekelompok orang mengerumuni sebuah pantai. Dalam video tersebut terlihat juga ikan-ikan di pantai naik ke dasar. Masyarakat pun berbondong-bondong menangkapnya dengan menggunakan ember. Kejadian tersebut diklaim terjadi di Pantai Leato Provinsi Gorontalo.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Tempo dengan artikel berjudul “Keliru, Video Berisi Klaim Ikan Berloncatan Tanda Tsunami dan Gempa,” yang terbit pada 10 September 2024, menunjukkan bahwa lokasi kejadian pada video bukanlah di Indonesia, melainkan di pesisir Pantai Barangay Tinoto, Kota Madya Maasim, Provinsi Sarangani, Pulai Mindanao, Filipina pada Minggu, 7 Januari 2024.
Menurut Zenaida A. Dangkalan yang merupakan pejabat perikanan Provinsi Sarangani, fenomena tersebut adalah normal yang bisa terjadi karena tiga kemungkinan, yakni terkait musim lupoy yang terjadi di Filipina, ikan yang lebih besar mengejar gerombolan ikan yang lain ke arah pantai karena mereka tidak bisa mengakses daerah dangkal, dan ikan-ikan tersebut tertarik pada cahaya dari resor pantai.
Dalam hal ini, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, Nuraididin, menyebut bahwa fenomena tersebut merupakan siklus yang lumrah terjadi dan bukan pertanda bencana besar.
Setiap kemarau, kemunculan ikan mendekati bibir pantai atau muara karena terjadi arus dingin di bawah laut karena cuaca merupakan kejadian biasa. Ikan muncul ke permukaan untuk mendekati arus air yang lebih hangat.
Dengan demikian, klaim bahwa video yang beredar merupakan kejadian di Indonesia dan terkait dengan Megathrust, tidak benar.
Kesimpulan
Faktanya, video yang beredar merupakan kejadian di Filipina, bukan di Indonesia. Selain itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya menyebut bahwa kejadian dalam video merupakan siklus biasa dan bukan pertanda bencana besar.
Rujukan
(GFD-2024-23161) [SALAH] Surat Pemberitahuan Mahkamah Internasional kepada Presiden RI Tentang Berakhirnya Sistem Republik Kontrak Kelola Negara
Sumber: youtube.comTanggal publish: 23/09/2024
Berita
“Jelang Akhir Jabatan Presiden Jokowi Dihantui Momok Menakutkan #mulyono
SURAT PEMBERITAHUAN KE PRESIDEN RI
Mahkamah Internasional di Den Hag sudah kirim Surat Pemberitahuan kepada Presiden RI. Joko Widodo’ perihal BERAKHIRNYA SISTEM REPUBLIK KONTRAK KELOLA NEGARA selama 80 Tahun dengan Amar Keputusan NEGARA harus dikembalikan kepada yang punya, yaitu para sultan dan raja-raja di Indonesia.
Jika Presiden RI Joko Widodo tidak melaksanakan Amar Keputusan tersebut maka ia bisa kehilangan kursinya.
Pemenang PILPRES – 2024 bisa BATAL DILANTIK, atau DILANTIK sebagai PERDANA MENTERI NKKI / NEGARA KESATUAN KERAJAAN INDONESIA / THE UNITED KINDOM OF INDONE SIA”
Arsip: https://ghostarchive.org/varchive/883oF3wls2w
SURAT PEMBERITAHUAN KE PRESIDEN RI
Mahkamah Internasional di Den Hag sudah kirim Surat Pemberitahuan kepada Presiden RI. Joko Widodo’ perihal BERAKHIRNYA SISTEM REPUBLIK KONTRAK KELOLA NEGARA selama 80 Tahun dengan Amar Keputusan NEGARA harus dikembalikan kepada yang punya, yaitu para sultan dan raja-raja di Indonesia.
Jika Presiden RI Joko Widodo tidak melaksanakan Amar Keputusan tersebut maka ia bisa kehilangan kursinya.
Pemenang PILPRES – 2024 bisa BATAL DILANTIK, atau DILANTIK sebagai PERDANA MENTERI NKKI / NEGARA KESATUAN KERAJAAN INDONESIA / THE UNITED KINDOM OF INDONE SIA”
Arsip: https://ghostarchive.org/varchive/883oF3wls2w
Hasil Cek Fakta
Sebuah kanal YouTube dengan nama Al Mu’allim Center mengunggah sebuah video dengan judul “Jelang Akhir Jabaten Presiden Jokowi Dihantui Momok Menakutkan #mulyono,” yang berdurasi 9 menit. Pada menit ke 3, ditayangkan sebuah narasi dengan judul “Surat Pemberitahuan ke Presiden RI,” yang diklaim merupakan surat dari Mahkamah Internasional kepada Presiden RI dalam rangka pemberitahuan bahwa Republik kontrak kelola negara telah usai dan harus dikembalikan kepada para sultan dan raja-raja di Indonesia. Jika tidak segera dikembalikan, maka dapat berdampak pembatalan terhadap pelantikan Prabowo-Gibran menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI.
Penelusuran fakta dilakukan dengan mengetikkan kata kunci “Surat dari Mahkamah Internasional untuk Presiden RI”. Hasilnya, tidak ditemukan satu pun informasi yang valid dari media-media kredibel. Tidak ditemukan pula pemberitaan di situs resmi Mahkamah Internasional (Internasional Court of Justice) terhadap klaim pada narasi.
Berbagai sumber kredibel menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan bagian dari sejarah panjang perlawanan para Pahlawan Kemerdekaan terhadap kolonial Belanda dan Jepang yang menjajah Indonesia selama berpuluh tahun.
Tidak terdapat sumber yang valid mengenai adanya “Republik kontrak” sebagaimana tertulis pada narasi.
Dengan demikian, klaim pada narasi tidak benar dan merupakan konten yang menyesatkan.
Penelusuran fakta dilakukan dengan mengetikkan kata kunci “Surat dari Mahkamah Internasional untuk Presiden RI”. Hasilnya, tidak ditemukan satu pun informasi yang valid dari media-media kredibel. Tidak ditemukan pula pemberitaan di situs resmi Mahkamah Internasional (Internasional Court of Justice) terhadap klaim pada narasi.
Berbagai sumber kredibel menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan bagian dari sejarah panjang perlawanan para Pahlawan Kemerdekaan terhadap kolonial Belanda dan Jepang yang menjajah Indonesia selama berpuluh tahun.
Tidak terdapat sumber yang valid mengenai adanya “Republik kontrak” sebagaimana tertulis pada narasi.
Dengan demikian, klaim pada narasi tidak benar dan merupakan konten yang menyesatkan.
Kesimpulan
Faktanya, tidak ditemukan sumber yang valid mengenai informasi adanya surat pemberitahuan dari Mahkamah Internasional di Den Haag kepada Presiden RI tentang berakhirnya sistem Republik kontrak kelola negara.
Rujukan
(GFD-2024-22933) Cek Fakta: Donald Trump Ditempeleng saat Berpidato
Sumber:Tanggal publish: 23/09/2024
Berita
Suara.com - Beredar di media sosial sebuah narasi yang menyebut Donald Trump mendapat tempeleng dari seseorang saat sedang berpidato.
Narasi tersebut muncul dalam video di X/Twitter berisi potongan pidato Donald Trump, tetapi di tengah pidatonya tiba-tiba ada seorang pria yang berlari sambil menampar kepala belakang Donald Trump dan membuatnya terlihat marah.
Berikut narasi yang disampaikan:
"Terlalu banyak Janji² Kosong Donald Trump dapat tempeleng gratis"
Lantas benarkah demikian?
Narasi tersebut muncul dalam video di X/Twitter berisi potongan pidato Donald Trump, tetapi di tengah pidatonya tiba-tiba ada seorang pria yang berlari sambil menampar kepala belakang Donald Trump dan membuatnya terlihat marah.
Berikut narasi yang disampaikan:
"Terlalu banyak Janji² Kosong Donald Trump dapat tempeleng gratis"
Lantas benarkah demikian?
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran fakta Suara.com, seperti dilihat di laman AFP, video tersebut berasal dari konten Youtube yang berjudul “Watch: Secret Service run to Trump as protester rushes stage”, video ini menampilkan pidato kampanye Donald Trump di tahun 2016 lalu.
Memang benar ketika pidato tersebut berlangsung ada seorang pengunjuk rasa yang hendak berlari menuju Trump, namun faktanya pengunjuk rasa tersebut tidak berhasil naik ke atas podium dan menampar Donald Trump seperti yang ada dalam video di X/Twitter tersebut.
Memang benar ketika pidato tersebut berlangsung ada seorang pengunjuk rasa yang hendak berlari menuju Trump, namun faktanya pengunjuk rasa tersebut tidak berhasil naik ke atas podium dan menampar Donald Trump seperti yang ada dalam video di X/Twitter tersebut.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa momen seorang pria yang menampar Donald Trump tersebut merupakan hasil editan. Pada video aslinya, dapat dilihat jika Trump tidak menerima serangan fisik dari seorang pengunjuk rasa sedikitpun. Oleh sebab itu, narasi yang disampaikan tidak benar dan termasuk konten yang menyesatkan.
Halaman: 2797/7911


