• (GFD-2024-22884) Keliru, Konten tentang Dokter Terawan Menemukan Obat Prostatitis yang Bisa Sembuhkan Dalam 9 Hari

    Sumber:
    Tanggal publish: 24/09/2024

    Berita



    Video berdurasi 3 menit 49 detik berisi klaim bahwa mantan Menteri Kesehatan RI, dokter Terawan Agus Putranto, menemukan metode pengobatan radang pada prostatitis atau kelenjar prostat. Terdapat keterangan bahwa metode temuannya diklaim telah menyembuhkan lebih dari 147 ribu pria penderita prostatitis di Indonesia dalam jangka waktu 9 hari.  



    Hingga artikel ini ditulis pada Senin 23 September 2024, video yang beredar di Facebook [ arsip ] itu sudah ditonton 8,1 juta kali dan telah direspon 891 komentar. Lantas, benarkah Dokter Terawan menemukan obat prostatitis ?

    Hasil Cek Fakta



    Tempo menelusuri sumber video dengan memfragmentasi menjadi gambar menggunakan tools InVID. Gambar hasil fregmentasi kemudian ditelusuri dengan menggunakan tools Yandex Image dan Google Image. Hasilnya video tersebut diketahui merupakan gabungan video dan gambar dari peristiwa yang berbeda.

    Potongan video Dokter Terawan yang memberikan pernyataan seperti pada detik ke-35 hingga menit ke-01:14, identik dengan video wawancara khusus Pimpinan Redaksi Kompas TV, Rosianna Silalahi, terkait vaksin Nusantara dan metode cuci otak yang dianggap kontroversial, Jumat, 8 Juli 2022 pukul 19.00 WIB. 



    Wawancara Eksklusif tersebut diunggah Kompas TV pada akun YouTube resmi pada 8 Juli 2022 dengan judul “[ROSI EKSKLUSIF] Akhirnya, Dokter Terawan Menjawab”. Dalam wawancara ini, Dokter Terawan tidak menyinggung terkait metode pengobatan metode pengobatan prostatitis dalam waktu 9 hari.

    Video lain adalah gambar diagram yang diklaim merupakan proses pengobatan prostatitis seperti pada menit ke-01:16 sampai 01:21 merupakan diagram pada penelitian berjudul “Resolving the problem of persistence in the switch from acute to chronic inflammation”. Penelitian itu ditulis oleh Oliver Haworth dan Christopher D. Buckley, peneliti dari Pusat Pengaturan Imun Dewan Penelitian Medis, Institut Penelitian Biomedis, Universitas Birmingham, Inggris. 



    Diagram itu menjelaskan terkait penyelesaian masalah persistensi peradangan akut ke peradangan kronis, bukan tentang metode pengobatan prostatitis temuan Dokter Terawan.

    Tempo kemudian memeriksa suara yang digunakan dalam video tersebut dengan menggunakantools AI Voice Detector. Mulanya, Tempo mengunduh video itu dan mengubahnya ke ke format audio (mp3) menggunakantools Cloud Convert. Video yang telah diubah ke format suara lalu diperiksa dengan menggunakantools Hive Moderation



    Hasilnya, suara dalam video tersebut merupakan hasil rekayasa digital menggunakan teknologi kecerdasan buatan atauArtificial Intelligence dengan tingkat probabilitas mencapai 90,9 persen.

    Kesimpulan



    Hasil pemeriksaan Tempo, video berdurasi 3 menit 49 detik yang memperlihatkan Dokter Terawan menemukan pengobatan prostatitis adalahkeliru. 

    Tidak ditemukan informasi valid dari sumber kredibel yang menyatakan dokter Terawan menemukan metode pengobatan prostatitis. Klaim dokter terawan menemukan metode pengobatan prostatitis dalam waktu 9 hari sebelumnya merupakan narasi lawas yang sudah pernah beredar sejak November 2023.

    Informasi ini sesungguhnya sudah dikategorikan sebagai informasi yang keliru atau palsu. Video yang dibagikan tersebut merupakan gabungan video dan gambar dari peristiwa yang berbeda dan tidak terkait dengan metode pengobatan Dokter Terawan.

    Rujukan

  • (GFD-2024-22886) [HOAKS] Radiasi 5G Picu Vaksin dalam Tubuh Mengaktifkan Mpox

    Sumber:
    Tanggal publish: 24/09/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar narasi di media sosial yang mengeklaim radiasi jaringan 5G akan memicu vaksin di dalam tubuh untuk mengaktifkan penyakit Mpox atau cacar monyet.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut hoaks.

    Narasi jaringan 5G akan memicu vaksin mengaktifkan cacar monyet dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini, pada Agustus dan September 2024.

    Berikut narasi yang dibagikan:

    Agenda Berikutnya - Meningkatkan Frekuensi untuk mengaktifkan nanopartikel dalam tubuh - ini akan menyebabkan Cacar Monyet dan kemungkinan bisul/luka pada mereka yang telah Ditandai dengan vx666ine.

    Wahyu 16:2

    Kemudian timbullah bisul yang buruk dan menyakitkan pada semua orang yang mempunyai tanda binatang itu

    Hasil Cek Fakta

    Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, membantah adanya kaitan antara jaringan 5G dengan vaksin dan Mpox.

    "Teori konspirasi yang menghubungkan radiasi 5G dengan vaksin dalam tubuh, yang diklaim menyebabkan penyakit seperti Mpox, ini jelas tidak berdasar dan tidak masuk akal dari sudut pandang ilmiah," kata Dicky kepada Kompas.com, Jumat (20/9/2024).

    Dicky menjelaskan, radiasi 5G adalah radiasi non-ionisasi.

    Artinya, energi yang dipancarkan radiasi tersebut terlalu rendah untuk dapat merusak DNA atau sel-sel tubuh manusia.

    Radiasi non-ionisasi seperti 5G juga tidak memiliki kemampuan untuk memecah ikatan kimia dalam molekul.

    Sementara itu, vaksin seperti vaksin Covid-19, dirancang untuk menginduksi respons imun dengan cara biokimia dan biologis

    "Jadi, vaksin engga punya komponen elektronik atau material yang bisa berinteraksi dengan radiasi elektromagnetik, termasuk dengan 5G," tuturnya.

    Menurut Dicky, menghubungkan vaksin dengan teknologi 5G adalah sesuatu yang tidak ilmiah dan juga tidak masuk akal.

    Untuk diketahui, Mpox atau sebelumnya disebut cacar monyet berasal dari infeksi Orthopoxvirus dan pertama kali terdeteksi pada manusia pada 1970 di Kongo. Penyakit ini dianggap endemik di negara-negara di Afrika tengah dan barat.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, Mpox dapat menular dari kontak kulit ke kulit, mulut ke kulit, mulut ke mulut, atau berdekatan dengan penderita Mpox dalam waktu cukup lama.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi jaringan 5G akan memicu vaksin dalam tubuh mengaktifkan cacar monyet adalah hoaks.

    Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, membantah adanya kaitan antara jaringan 5G dengan vaksin dan Mpox.

    Rujukan

  • (GFD-2024-22900) [HOAKS] Warga Arab Saudi Sebut Umat Islam Indonesia Bodoh

    Sumber:
    Tanggal publish: 24/09/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar tangkapan layar yang seolah-olah memperlihatkan artikel dari situs berita Antara mengenai warga Arab Saudi yang menyebut umat Islam Indonesia bodoh.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, tangkapan layar tersebut merupakan konten manipulatif.

    Tangkapan layar Antara memberitakan mengenai warga Arab Saudi yang menyebut umat Islam Indonesia bodoh, disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, ini, ini, dan ini.

    Berikut judul artikelnya:

    Warga Arab Saudi Sebut: Islam Indonesia mudah di Bodohi Oleh Habib-Habib Yang Tidak Jelas Asal Usul nya

    Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada Minggu (22/9/2024):

    Itu fakta, asal bisa bahasa arab, walau ngedabrus dianggap wali, nyanyi lagu pop tentang cinta bahasa Arab dianggap sholawat, ampe nangis nagis.

    Hasil Cek Fakta

    Tidak ditemukan berita seperti judul pada tangkapan layar di situs berita Antara.

    Berdasarkan pencarian dengan metode reverse image search, foto yang dipakai pada tangkapan layar serupa dengan artikel Antara, 10 Januari 2019.

    Artikel membahas mengenai minat warga Arab Saudi untuk mempelajari bahasa Indonesia yang cukup tinggi.

    Foto yang ditampilkan merupakan pengunjung yang memadati stan Indonesia pada Festival Janadriyah, Riyadh, Arab Saudi yang dimulai pada 20 Desember 2018 sampai 8 Januari 2019.

    Tangkapan layar artikel tersebut disunting, kemudian diganti judulnya dengan narasi hoaks.

    Direktur Pemberitaan LKBN Antara, Irfan Junaidi menjelaskan, tangkapan layar yang beredar merupakan hoaks.

    "Kami minta masyarakat untuk bisa berhati-hati setiap menerima informasi, terutama yang aneh-aneh, karena Antara tidak dalam jalur itu," kata Irfan dikutip dari Antara.

    "Mohon hati-hati dan cek setiap informasi yang diterima, kebenaran, sumbernya dari mana, validitas dan seterusnya. Apalagi mengatasnamakan Antara, itu kan ada website-nya, tinggal dicari saja di laman Antara apakah benar atau tidak informasi itu," ucapnya.

    Kesimpulan

    Tangkapan layar Antara memberitakan mengenai warga Arab Saudi yang menyebut umat Islam Indonesia bodoh, merupakan hoaks.

    Tangkapan layar artikel Antara, 10 Januari 2019 disunting, kemudian diganti judulnya.

    Artikel asli membahas soal minat warga Arab Saudi untuk mempelajari bahasa Indonesia.

    Rujukan

  • (GFD-2024-22901) [KLARIFIKASI] Video Kecelakaan di Morowali Dinarasikan Terjadi di Batam

    Sumber:
    Tanggal publish: 24/09/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Sebuah unggahan di media sosial yang diklaim menampilkan kecelakaan di wilayah Tanjung Uncang, Kota Batam, Kepulauan Riau beredar di media sosial.

    Akan tetapi, konten tersebut dibagikan dengan konteks keliru, sehingga informasinya perlu diluruskan.

    Unggahan yang diklaim menampilkan kecelakaan di wilayah Tanjung Uncang, Kota Batam muncul di media sosial, salah satunya dibagikan oleh akun Facebook ini.

    Akun tersebut membagikan video beberapa orang yang tergeletak dan mengalami luka pada 22 September 2024.

    Berikut keterangan tertulis yang disampaikan dalam unggahan:

    Kecelakaan di Tanjung uncang

    #batam#TanjanUncang

    Akun Facebook Tangkapan layar Facebook peristiwa kecelakaan yang diklaim terjadi di Tanjung Uncang Batam

    Hasil Cek Fakta

    Dikutip dari Batam Pos, Kepala Unit Penegakkan Hukum Lalu Lintas Polresta Barelang, Iptu Viktor Hutahaean memastikan informasi kecelakaan di Tanjung Uncang yang beredar pada 22 September 2024 adalah hoaks.

    Menurut Viktor. kecelakaan itu tidak terjadi di Batam atau wilayah lain di Kepulauan Riau.

    "Itu hoaks. Kejadiannnya bukan di Batam, tapi di Morowali, Sulawesi Tengah," ujar Viktor. 

    Dilansir Tribunnews, pada Sabtu (21/9/2024) sebuah mobil pikap milik PT Senapati Sinergi Tujuh Tujuh (SSTT) mengalami kecelakaan di kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

    Kecelakaan itu diduga terjadi karena sopir pikup kehilangan kendali saat mencoba menyalip bus.

    Pikap tersebut akhirnya terguling dan mengakibatkan sejumlah penumpang terlempar.

    Akibat peristiwa itu dua orang meninggal, tiga orang dirawat di Puskesmas Bahodopi, dan sembilan orang dirujuk ke RSUD Morowali. Video kecelakaan di Morowali bisa dilihat di sini. 

    Kesimpulan

    Video yang diklaim menampilkan kecelakaan di wilayah Tanjung Uncang, Kota Batam, Kepulauan Riau merupakan informasi yang keliru.

    Faktanya, peristiwa dalam video memperlihatkan kecelakaan pikap di kawasan industri PT Indonesia Morowali yang mengakibatkan dua orang meninggal. Video itu kemudian disebar dengan konteks keliru.

    Rujukan