(GFD-2024-22943) Keliru, Klaim Kasus Gondongan dan Cacar Terjadi Setelah Vaksin Covid-19
Sumber:Tanggal publish: 25/09/2024
Berita
Kolase video berisi klaim bahwa penyakit gondongan dan cacar disebabkan oleh vaksin Covid-19 dan polio, disebarkan oleh akun Instagram ini [ arsip ]. Isi konten mengaitkan bahwa pandemi Covid-19 dan munculnya penyakit-penyakit lanjutan tertulis dalam The Rockefeller Playbook, dokumen yang disebut agenda dari para elit untuk merencanakan pandemi dalam tiga fase.
“Makin banyak kasus cacar dan gondongan justru setelah mandatory. Pahamilah para ortu, pola elite menciptakan cipta kondisi,” demikian salah satu teks yang termuat. Di akhir video, konten itu memuat penyembuhan cacar dan gondongan dengan bahan herbal seperti jeruk nipis dan kapur sirih.
Hingga artikel ini ditulis, unggahan tanggal 12 September tersebut sudah disukai 112 kali. Benarkah penyakit cacar dan gondongan banyak terjadi setelah vaksinasi dan pandemi Covid-19?
Hasil Cek Fakta
Klaim 1: Vaksinasi Covid-19 sebabkan cacar air, cacar monyet, dan gondongan meningkat
Fakta: Vaksinasi justru untuk meningkatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu dengan merespon imun tubuh.
Tim Cek Fakta Tempo memverifikasi klaim di atas dengan mewawancarai ahli dan menggunakan rujukan ilmiah. Menurut epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, vaksinasi Covid-19 tidak menyebabkan penyakit cacar (cacar air maupun cacar monyet) serta gondongan meningkat.
“Sebelum pandemi dan vaksinasi Covid-19, cacar dan gondongan itu sudah ada dan jauh lebih besar dibanding yang muncul saat ini,” kata Dicky kepada Tempo, Selasa, 24 September 2024.
Cacar air (chickenpox) atau varicella adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus varicella-zoster (VZV), bukan oleh vaksin Covid-19. Penyakit tersebut ditularkan melalui udara yang menyebar ke seluruh dunia melalui batuk, bersin, dan kontak dengan lesi kulit. Kata chickenpox sendiri sudah dikenal sejak pertengahan abad ke-16, jauh sebelum pandemi Covid-19 terjadi.
Cacar air terjadi di semua negara dan bertanggung jawab atas sekitar 7000 kematian setiap tahunnya. Di negara-negara beriklim sedang, ini adalah penyakit yang umum terjadi pada anak-anak, dengan sebagian besar kasus terjadi pada musim dingin dan musim semi. Di daerah tropis, cacar air cenderung terjadi pada orang yang lebih tua dan dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius.
Sedangkan cacar monyet juga ditemukan juga sebelum pandemi Covid-19, yakni terjadi pada seorang anak laki-laki berusia sembilan bulan di Republik Demokratik Kongo pada 1970. Cacar monyet disebabkan oleh infeksi zoonosis, virusmonkeypox, sebuah virusorthopox yang terkait erat dengan virusvariola yang menyebabkan cacar. Kasus pertama di luar Afrika, ditemukan di Amerika Serikat pada tahun 2003.
Kemudian, terkait gondongan, disebabkan oleh infeksi virus dari golongan paramyxovirus. Virus ini bisa masuk ke dalam tubuh manusia kemudian akan menetap, berkembang biak, dan menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada kelenjar parotis.
Penyakit gondongan telah ditemukan dalam literatur pengobatan Cina sejak tahun 640 SM. Wabah gondok pernah terjadi dengan 327.759 kasus di Cina pada tahun 2013, 56.000 kasus di Inggris pada tahun 2005, dan 1.251 kasus pada tahun 2014 di Amerika Serikat.
Klaim 2: The Rollercoaster Playbook rencanakan pandemi Covid-19
Fakta: Dokumen yang diklaim The Rollercoaster Playbook tersebut pernah beredar di Amerika Serikat pada Januari 2021.Outlet cek fakta dari USA Today dan Snopes, menjelaskan bahwa tidak ada dokumen "Operation Lockstep" tersebut dan gambar itu tidak berasal dari "Rockefeller Playbook." Mereka yang menyebarkan rumor ini telah menghubungkan "Operation Lockstep" dengan sebuah laporan berjudul "Scenarios for the Future of Technology and International Development" yang diterbitkan oleh The Rockefeller Foundation pada tahun 2010.
Dokumen tersebut sebenarnya membayangkan tentang empat narasi skenario pandemi yang berpotensi terjadi di masa depan. Dari empat skenario tersebut hanya satu yang menyebut "Lock Step," yang membahas pandemi global.
Fakta lain di dalam dokumen The Rockefeller Foundation tidak menyebutkan bahwa lockdown atau penguncian akan mengondisikan masyarakat untuk hidup di bawah hukum yang kejam, mencegah protes dan mengidentifikasi perlawanan publik dan juga tidak menyebutkan kata "COVID".
Peneliti virologi dari Universitas Airlangga, Dr. Arif Nur Muhammad Ansori, M.Si menjelaskan bahwa isi dokumen "The Rockefeller Playbook” tersebut berisi teori konspirasi yang tidak berdasarkan fakta ilmiah. Teori ini mengklaim bahwa pandemi dirancang secara sengaja untuk melemahkan sistem kekebalan manusia dan memaksakan vaksinasi massal, dengan skenario anarki dan kekacauan jika vaksin tidak diterima oleh semua orang.
“Namun, penting untuk ditegaskan bahwa informasi ini adalah hoaks yang berbahaya dan tidak berdasarkan fakta ilmiah,” ungkap Arif, melalui pesan singkat.
Pada fase pertama yang menyebut bahwa sistem pengujian Covid-19 "cacat" dan angka kasus sengaja diinflasi, menurut Arif, adalah tidak benar. Proses pengujian Covid-19 melalui PCR dan metode lain, telah diuji secara ilmiah dan diakui oleh berbagai otoritas kesehatan global, termasuk WHO. Penghitungan kasus juga berdasarkan protokol medis yang jelas dan transparan.
Kedua, tidak ada bukti ilmiah yang mengaitkan paparan radiasi 5G dengan pelemahan sistem kekebalan tubuh atau penyebaran Covid-19. Klaim ini sudah berulang kali dibantah oleh komunitas ilmiah. Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, bukan akibat radiasi.
Ketiga, tidak ada bukti bahwa virus SARS, HIV, atau MERS yang "bersenjata" akan dilepaskan untuk memaksa vaksinasi. Vaksin Covid-19 yang ada saat ini dikembangkan melalui penelitian yang ketat dan telah terbukti aman serta efektif melindungi masyarakat dari virus.
Kesimpulan
Hasil verifikasi Tempo tentang klaim kasus gondongan dan cacar terjadi setelah vaksin Covid-19 adalahkeliru.
Cacar air, cacar monyet dan gondongan disebabkan oleh virus jenis lain, bukan karena vaksin Covid-19. Penyakit-penyakit ini telah ditemukan dan pernah mewabah jauh sebelum pandemi Covid-19. Sedangkan “The Rockefeller Playbook” tidak pernah ada dan tidak pernah diterbitkan oleh The Rockefeller Foundation.
Rujukan
- https://www.instagram.com/reel/C_zcjlOBYSc/?utm_source=ig_embed&utm_campaign=loading
- https://web.archive.org/web/20240925073031/
- https://www.instagram.com/reel/C_zcjlOBYSc/
- https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448191/
- https://www.oed.com/dictionary/chickenpox_n
- https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448191/
- https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mpox#:~:text=The%20monkeypox%20virus%20was%20discovered,of%20the%20Congo%20(1970).
- https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/monkeypox
- https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1467/gondongan
- https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7198052/
- https://www-usatoday-com.translate.goog/story/news/factcheck/2021/01/14/fact-check-operation-lockstep-covid-19-conspiracy-theory/6567231002/?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=wapp
- https://www.snopes.com/fact-check/rockefeller-operation-lockstep/
- https://archive.org/details/rockefeller-foundation-scenarios-for-future-technology-and-international-development/page/n23/mode/2up /cdn-cgi/l/email-protection#bcdfd9d7daddd7c8ddfcc8d9d1ccd392dfd392d5d8
(GFD-2024-22948) CEK FAKTA: Hoaks! Video Gibran Rakabuming Raka Sedang Make Up - TIMES Indonesia
Sumber:Tanggal publish: 25/09/2024
Berita
TIMESINDONESIA, JAKARTA – Beredar sebuah video tentang pria mirip Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka sedang di-make up oleh seorang wanita. Dalam video tersebut, Gibran terlihat memakai baju perempuan berwarna pink dan bando berwarna hitam. Di depannya, ada seorang wanita yang sedang memegang brush dan memberikan make-up kepadanya.
Dalam video berdurasi 1.07 detik yang tersebar di berbagai aplikasi media sosial dan grup Whatsapp itu, video disertai dengan narasi "Ampun dhe punya wakil kaya gini...hancur...????????????,".
Benarkah informasi tersebut?
Dalam video berdurasi 1.07 detik yang tersebar di berbagai aplikasi media sosial dan grup Whatsapp itu, video disertai dengan narasi "Ampun dhe punya wakil kaya gini...hancur...????????????,".
Benarkah informasi tersebut?
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta TIMES Indonesia, video tentang pria mirip Gibran Rakabuming Raka yang sedang di-make up itu tidaklah benar atau hoaks. Dari hasil penelusuran tim Cek Fakta TIMES Indonesia menggunakan Google lens, ditemukan bahwa video seorang pria mirip gibran yang sedang di-make up itu sebenarnya adalah video yang dibuat oleh seorang konten kreator tiktok @istrinyabaharuddin2. Dalam kontenya, pria paruh baya itu memang kerap kali berpakaian dan bergaya layaknya seorang wanita, dan memparodikan aktivitas wanita sehari-hari.
Pemilik video asli pria yang sedang di make up. (Sumber: https://www.tiktok.com/@istrinyabaharuddin2/video/7407408641889848582)
Cek Fakta TIMES Indonesia juga menemukan konten aslinya sebelum diedit wajahnya dengan wajah Gibran Rakabuming Raka (https://vt.tiktok.com/ZS2qYr3fC/). Sehingga dapat disimpulkan, ada pihak yang mengedit video tersebut dengan cara mengganti wajah konten kreator tersebut dengan wajah Gibran Rakabuming Raka.
Pemilik video asli pria yang sedang di make up. (Sumber: https://www.tiktok.com/@istrinyabaharuddin2/video/7407408641889848582)
Cek Fakta TIMES Indonesia juga menemukan konten aslinya sebelum diedit wajahnya dengan wajah Gibran Rakabuming Raka (https://vt.tiktok.com/ZS2qYr3fC/). Sehingga dapat disimpulkan, ada pihak yang mengedit video tersebut dengan cara mengganti wajah konten kreator tersebut dengan wajah Gibran Rakabuming Raka.
Kesimpulan
Video yang dinarasikan sebagai Gibran Rakabuming Raka yang sedang di-make up oleh seorang wanita merupakan konten yang menyesatkan atau misleading content. Faktanya, video tersebut adalah milik seorang konten kreator Tik Tok yang sedang membuat konten tentang ketika dia sedang di-make up oleh orang lain. Ada yang mengedit wajah pria tersebut dengan wajah Gibran Rakabuming Raka.
Rujukan
(GFD-2024-22956) [KLARIFIKASI] Pernyataan "Fitnah adalah Alat Orang Kalah Debat" Bukan dari Socrates
Sumber:Tanggal publish: 25/09/2024
Berita
KOMPAS.com - Beredar kutipan pernyataan yang diatribusikan kepada filsuf Yunani, Socrates. Pernyataan itu memuat pandangan Socrates soal debat dan fitnah.
Kutipan yang dibagikan berbunyi sebagai berikut: "Ketika kalah dalam debat, fitnah menjadi alat bagi pecundang".
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, Socrates tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut.
Kutipan pernyataan soal debat dan fitnah yang disebut berasal dari Socrates dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, ini, dan ini.
Berikut kutipan pernyataan yang dibagikan:
Ketika kalah dalam debat, fitnah menjadi alat bagi pecundang.
Kutipan yang dibagikan berbunyi sebagai berikut: "Ketika kalah dalam debat, fitnah menjadi alat bagi pecundang".
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, Socrates tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut.
Kutipan pernyataan soal debat dan fitnah yang disebut berasal dari Socrates dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, ini, dan ini.
Berikut kutipan pernyataan yang dibagikan:
Ketika kalah dalam debat, fitnah menjadi alat bagi pecundang.
Hasil Cek Fakta
Dilansir Britannica, meski dikenal sebagai filsuf berpengaruh, Socrates tidak menulis apa pun. Pemikirannya dicatat oleh murid-muridnya, terutama Plato dan Xenophon.
Catatan tentang Socrates juga ditulis oleh murid Plato, Aristoteles, yang memperoleh pengetahuan tentang Socrates melalui gurunya.
Dilansir PolitiFact, asisten profesor filsafat dan klasik di Penn State University, Christopher Moore mengatakan, Plato dan Xenophon menulis tentang Socrates dan fitnah, tetapi tidak dalam konteks perdebatan yang kalah.
Socrates percaya, mereka yang memfitnahnya membenci filsafat dan kebenaran. Namun, ia tidak menyebut mereka sebagai pecundang.
Tidak ada bukti Socrates mengatakan sesuatu seperti kutipan yang beredar di Facebook, atau variasi dari kutipan tersebut.
Dilansir Biography, Socrates tidak memberikan ceramah tentang pengetahuan. Ia juga tidak menuliskan pikirannya dalam bentuk apa pun.
Socrates menjuluki dirinya sebagai orang bodoh karena tidak punya ide. Namun pada saat bersamaan, ia juga mengaku sebagai orang bijak karena mengakui ketidaktahuannya sendiri.
Socrates hidup di Athena, Yunani, pada 470-399 SM. Ia kerap berkeliling Athena untuk mengajukan pertanyaan dengan metode dialektika yang disebut Metode Socrates.
Metode itu memaksa lawan bicaranya untuk memikirkan masalah hingga sampai pada kesimpulan yang logis. Terkadang jawaban dari masalah tersebut sangat jelas, tetapi lawan bicara Socrates keliru menjawab dan membuat mereka terlihat bodoh.
Selama masa hidup Socrates, Athena mengalami kemunduran setelah kalah dari Sparta dalam Perang Peloponnesia. Warga Athena pun memasuki periode ketidakstabilan.
Banyak dari mereka mencoba mempertahankan identitas dengan berpegang teguh pada kejayaan masa lalu, gagasan tentang kekayaan, dan terpaku pada keindahan fisik. Socrates menyerang nilai-nilai ini dengan penekanannya yang kuat pada pentingnya pikiran.
Meski banyak orang Athena yang mengagumi kritik Socrates terhadap nilai-nilai konvensional Yunani masa itu, sebagian lainnya menjadi marah dan merasa bahwa Socrates mengancam cara hidup dan masa depan mereka yang tidak menentu.
Pada 399 SM, Socrates dituduh merusak generasi muda Athena dan menyebarkan bidah. Ia pun dijatuhi hukuman mati dengan menenggak campuran racun hemlock.
Catatan tentang Socrates juga ditulis oleh murid Plato, Aristoteles, yang memperoleh pengetahuan tentang Socrates melalui gurunya.
Dilansir PolitiFact, asisten profesor filsafat dan klasik di Penn State University, Christopher Moore mengatakan, Plato dan Xenophon menulis tentang Socrates dan fitnah, tetapi tidak dalam konteks perdebatan yang kalah.
Socrates percaya, mereka yang memfitnahnya membenci filsafat dan kebenaran. Namun, ia tidak menyebut mereka sebagai pecundang.
Tidak ada bukti Socrates mengatakan sesuatu seperti kutipan yang beredar di Facebook, atau variasi dari kutipan tersebut.
Dilansir Biography, Socrates tidak memberikan ceramah tentang pengetahuan. Ia juga tidak menuliskan pikirannya dalam bentuk apa pun.
Socrates menjuluki dirinya sebagai orang bodoh karena tidak punya ide. Namun pada saat bersamaan, ia juga mengaku sebagai orang bijak karena mengakui ketidaktahuannya sendiri.
Socrates hidup di Athena, Yunani, pada 470-399 SM. Ia kerap berkeliling Athena untuk mengajukan pertanyaan dengan metode dialektika yang disebut Metode Socrates.
Metode itu memaksa lawan bicaranya untuk memikirkan masalah hingga sampai pada kesimpulan yang logis. Terkadang jawaban dari masalah tersebut sangat jelas, tetapi lawan bicara Socrates keliru menjawab dan membuat mereka terlihat bodoh.
Selama masa hidup Socrates, Athena mengalami kemunduran setelah kalah dari Sparta dalam Perang Peloponnesia. Warga Athena pun memasuki periode ketidakstabilan.
Banyak dari mereka mencoba mempertahankan identitas dengan berpegang teguh pada kejayaan masa lalu, gagasan tentang kekayaan, dan terpaku pada keindahan fisik. Socrates menyerang nilai-nilai ini dengan penekanannya yang kuat pada pentingnya pikiran.
Meski banyak orang Athena yang mengagumi kritik Socrates terhadap nilai-nilai konvensional Yunani masa itu, sebagian lainnya menjadi marah dan merasa bahwa Socrates mengancam cara hidup dan masa depan mereka yang tidak menentu.
Pada 399 SM, Socrates dituduh merusak generasi muda Athena dan menyebarkan bidah. Ia pun dijatuhi hukuman mati dengan menenggak campuran racun hemlock.
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, Socrates tidak pernah terbukti mengatakan "ketika kalah dalam debat, fitnah menjadi alat bagi pecundang".
Socrates percaya, mereka yang memfitnahnya membenci filsafat dan kebenaran. Namun, ia tidak menyebut mereka sebagai pecundang.
Socrates percaya, mereka yang memfitnahnya membenci filsafat dan kebenaran. Namun, ia tidak menyebut mereka sebagai pecundang.
Rujukan
- https://www.facebook.com/photo/?fbid=963007219199503&set=a.562710769229152
- https://www.facebook.com/groups/101414637977/?multi_permalinks=10161387935787978&hoisted_section_header_type=recently_seen
- https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid02zoR7xwqBbDJAkZERXwBPEoVGTTJDBLzn2kVhVG7oA1vEbnweihGsyicbViyo3hJul&id=61553041124546
- https://www.facebook.com/batista.soares.9028/posts/pfbid04RDBqUqU1kGwzetVHH6ZjuN7Tw64Ld6gtmeVSYPSRuQSSC75WD5ymPw9xRByGeJYl
- https://www.britannica.com/biography/Socrates
- https://www.politifact.com/factchecks/2018/oct/08/viral-image/no-socrates-didnt-call-slander-tool-losers/
- https://www.biography.com/scholars-educators/socrates
- https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D
(GFD-2024-22957) [KLARIFIKASI] Foto Ledakan Panel Surya Tidak Terkait Peristiwa di Lebanon
Sumber:Tanggal publish: 25/09/2024
Berita
KOMPAS.com - Beredar foto yang diklaim menunjukkan panel surya milik anggota Hezbollah, kelompok perlawanan di Lebanon, meledak dan terbakar.
Konten tersebut beredar menyusul serangkaian ledakan perangkat komunikasi terjadi di Lebanon pada 17-19 September 2024.
Ledakan terutama menyasar pager (penyeranta) dan walkie-talkie milik anggota Hezbollah, kelompok perlawanan yang berkonflik dengan Israel.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, foto panel surya tersebut dibagikan dengan konteks keliru.
Foto yang diklaim menunjukkan panel surya milik anggota Hezbollah meledak dan terbakar dibagikan oleh akun Facebook ini dan ini, pada 18 September 2024.
Berikut narasi yang dibagikan:
Panel surya milik Hizbullah juga meledak hari ini di Lebanon
Konten tersebut beredar menyusul serangkaian ledakan perangkat komunikasi terjadi di Lebanon pada 17-19 September 2024.
Ledakan terutama menyasar pager (penyeranta) dan walkie-talkie milik anggota Hezbollah, kelompok perlawanan yang berkonflik dengan Israel.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, foto panel surya tersebut dibagikan dengan konteks keliru.
Foto yang diklaim menunjukkan panel surya milik anggota Hezbollah meledak dan terbakar dibagikan oleh akun Facebook ini dan ini, pada 18 September 2024.
Berikut narasi yang dibagikan:
Panel surya milik Hizbullah juga meledak hari ini di Lebanon
Hasil Cek Fakta
Setelah dicermati, foto ledakan panel surya yang beredar di Facebook terdiri dari dua foto yang digabungkan menjadi satu.
Penelusuran menggunakan reverse image search dan kata kunci terkait menemukan foto panel surya terbakar di laman Facebook Fire Safety Research Insitute.
Laman tersebut mengunggah foto itu pada 25 Agustus 2017 dan mencantumkan lokasi pengambilan gambar di Delaware County Emergency Services Training Center.
Sementara itu, hasil reverse image search untuk foto rumah terbakar mengarah ke artikel pemeriksaan fakta yang dipublikasikan Arabia Sky News pada 20 September 2024.
Berdasarkan hasil penelusuran Arabia Sky News, foto tersebut dimuat dalam pemberitaan Vernon Morning Star yang dipublikasikan pada 7 Desember 2020.
Pemberitaan itu menyebutkan, sebuah rumah di Westshore Estates, Vernon, Kanada, hancur total akibat kebakaran yang terjadi pada 6 November 2020 malam.
Dilansir L'Orient Today, setelah serangkaian ledakan penyeranta dan walkie-talkie, Kantor Berita Lebanon melaporkan ledakan panel surya di beberapa daerah di Beirut dan selatan, termasuk Nabatieh. Namun, laporan-laporan ini masih belum dikonfirmasi.
Philippe Khoury, CEO Me-green, penyedia solusi energi terbarukan, dan Pierre Khoury, Presiden Pusat Konservasi Energi Lebanon (LCEC), mengatakan bahwa mereka tidak menerima laporan tentang meledaknya sistem energi surya.
Sementara itu, Georges Abboud, CEO dan Co-Owner perusahaan energi terbarukan Earth Technologies mengatakan, banyak klien yang menelepon perusahaan setelah serangkaian ledakan penyeranta di Beirut untuk menanyakan tentang keamanan produk.
Menurut Abboud, litium fosfat yang digunakan dalam panel surya memang dapat menyebabkan kebakaran, tetapi tidak meledak.
Ia meyakini bahwa yang terjadi di Nabatieh kemungkinan adalah ledakan penyeranta di dekat panel surya, yang menimbulkan kebakaran.
Selan itu, Abboud juga tidak mendengar atau mendapatkan laporan soal ledakan atau peretasan panel surya di daerah lain..
"Panel surya tidak bisa meledak kecuali ada bahan peledak di dalamnya," kata Abboud.
Abboud juga mengatakan bahwa sangat tidak mungkin sistem-sistem tersebut diretas, karena peretasan perlu dikerjakan pada setiap sistem secara terpisah.
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, foto yang diklaim menunjukkan panel surya milik anggota Hezbollah meledak dan terbakar perlu diluruskan.
Foto ledakan panel surya tersebut dibagikan dengan konteks keliru. Setelah dicermati, foto tersebut terdari dua foto yang digabungkan menjadi satu.
Kedua foto telah beredar di internet sebelum serangkaian ledakan penyeranta di Lebanon pada September 2024. Selain itu, laporan ledakan panel surya di Lebanon belum terkonfirmasi.
Penelusuran menggunakan reverse image search dan kata kunci terkait menemukan foto panel surya terbakar di laman Facebook Fire Safety Research Insitute.
Laman tersebut mengunggah foto itu pada 25 Agustus 2017 dan mencantumkan lokasi pengambilan gambar di Delaware County Emergency Services Training Center.
Sementara itu, hasil reverse image search untuk foto rumah terbakar mengarah ke artikel pemeriksaan fakta yang dipublikasikan Arabia Sky News pada 20 September 2024.
Berdasarkan hasil penelusuran Arabia Sky News, foto tersebut dimuat dalam pemberitaan Vernon Morning Star yang dipublikasikan pada 7 Desember 2020.
Pemberitaan itu menyebutkan, sebuah rumah di Westshore Estates, Vernon, Kanada, hancur total akibat kebakaran yang terjadi pada 6 November 2020 malam.
Dilansir L'Orient Today, setelah serangkaian ledakan penyeranta dan walkie-talkie, Kantor Berita Lebanon melaporkan ledakan panel surya di beberapa daerah di Beirut dan selatan, termasuk Nabatieh. Namun, laporan-laporan ini masih belum dikonfirmasi.
Philippe Khoury, CEO Me-green, penyedia solusi energi terbarukan, dan Pierre Khoury, Presiden Pusat Konservasi Energi Lebanon (LCEC), mengatakan bahwa mereka tidak menerima laporan tentang meledaknya sistem energi surya.
Sementara itu, Georges Abboud, CEO dan Co-Owner perusahaan energi terbarukan Earth Technologies mengatakan, banyak klien yang menelepon perusahaan setelah serangkaian ledakan penyeranta di Beirut untuk menanyakan tentang keamanan produk.
Menurut Abboud, litium fosfat yang digunakan dalam panel surya memang dapat menyebabkan kebakaran, tetapi tidak meledak.
Ia meyakini bahwa yang terjadi di Nabatieh kemungkinan adalah ledakan penyeranta di dekat panel surya, yang menimbulkan kebakaran.
Selan itu, Abboud juga tidak mendengar atau mendapatkan laporan soal ledakan atau peretasan panel surya di daerah lain..
"Panel surya tidak bisa meledak kecuali ada bahan peledak di dalamnya," kata Abboud.
Abboud juga mengatakan bahwa sangat tidak mungkin sistem-sistem tersebut diretas, karena peretasan perlu dikerjakan pada setiap sistem secara terpisah.
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, foto yang diklaim menunjukkan panel surya milik anggota Hezbollah meledak dan terbakar perlu diluruskan.
Foto ledakan panel surya tersebut dibagikan dengan konteks keliru. Setelah dicermati, foto tersebut terdari dua foto yang digabungkan menjadi satu.
Kedua foto telah beredar di internet sebelum serangkaian ledakan penyeranta di Lebanon pada September 2024. Selain itu, laporan ledakan panel surya di Lebanon belum terkonfirmasi.
Rujukan
- https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid02746zHzZnJEr4Ep2MNzWoaefkYwJE1m3r4R7WssdEiU9kNaMszmRrw4yBaXJkuX7Tl&id=61561353147444
- https://www.facebook.com/makelarperanghmkb/posts/pfbid02r9VCbV4zohTGuSVdLvv1Cj2B7UrpQ6MioSz4ugPy14axczdNJYWbmDEdD7hvKrrsl
- https://www.facebook.com/photo/?fbid=1035161750007306&set=a.1035161703340644
- https://www.facebook.com/photo/?fbid=1035161750007306&set=a.1035161703340644
- https://arabiaskynews.com/arabic/%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%87%D8%A7%D8%B1%D8%AA%D8%AA%D8%AD%D9%82%D9%82/339248/%D9%87%D8%B0%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%88%D8%B1%D8%A9-%D9%84%D8%A7-%D8%AA%D8%B8%D9%87%D8%B1-%D8%A7%D8%AD%D8%AA%D8%B1%D8%A7%D9%82-%D8%A3%D9%84%D9%88%D8%AD-%D8%B7%D8%A7%D9%82%D8%A9-%D8%B4%D9%85%D8%B3%D9%8A%D8%A9-%D8%AA%D8%A7%D8%A8%D8%B9%D8%A9-%D9%84%D8%AD%D8%B2%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%AE%D9%84%D8%A7%D9%84-%D8%A7%D9%86%D9%81%D8%AC%D8%A7%D8%B1%D8%A7%D8%AA-%D9%84%D8%A8%D9%86%D8%A7%D9%86-factcheck
- https://today.lorientlejour.com/article/1427662/did-solar-power-energy-systems-explode-during-wednesdays-attack.html
- https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D
Halaman: 2772/7906



