• (GFD-2024-23804) Cek Fakta: Hoaks Video Gurita Raksasa Terdampar di Pasir Panjang

    Sumber:
    Tanggal publish: 05/11/2024

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Sebuah video yang diklaim gurita raksasa terdampar di Pasir Panjang, Singkawang, Kalimantan Barat beredar di media sosial. Video tersebut disebarkan salah satu akun Facebook pada 31 Oktober 2024.
    Dalam video terlihat seekor gurita raksasa terdampar di pinggir pantai. Gurita itu berwarna coklat kehitam-hitaman. Selain itu, ada sjeumlah orang yang mendekati gurita raksasa. Video tersebut kemudian dikaitkan dengan kabar bahwa gurita raksasa terdampar di Pantai Panjang.
    "Gurita Raksasa terdampar di Pasir Panjang 😱…," tulis salah satu akun Facebook.
    Konten yang disebarkan akun Facebook tersebut telah 2.500 kali ditonton dan mendapat 61 komentar dari warganet.
    Benarkah dalam video tersebut seekor gurita raksasa terdampar di Pantai Panjang? Berikut penelusurannya.
     

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri video yang diklaim gurita raksasa terdampar di Pasir Panjang, Singkawang, Kalimantan Barat. Penelusuran dilakukan dengan mengunggah video tersebut ke situs hivemoderation.com.
    Situs tersebut dapat mengidentifikasi sebuah foto dan video dibuat oleh artificial intelligence (AI) atau tidak. Hasilnya, video yang diklaim gurita raksasa yang diklaim terdampar di Pantai Panjang memiliki probabilitas 96,3 persen dibuat oleh AI.
    Berikut gambar tangkapan layarnya.
     

    Kesimpulan


    Video yang diklaim gurita raksasa terdampar di Pasir Panjang, Singkawang, Kalimantan Barat ternyata tidak benar alias hoaks. Faktanya, video tersebut merupakan hasil rekayasa digital menggunakan perangkat AI.
  • (GFD-2024-23805) Cek Fakta: Hoaks Poster Lowongan Pekerjaan dari Kementerian PPN/Bappenas

    Sumber:
    Tanggal publish: 05/11/2024

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Sebuah poster lowongan pekerjaan atau rekrutmen yang diklaim dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) beredar di media sosial. Poster tersebut disebarkan salah satu akun Facebook pada 31 Oktober 2024.
    Dalam poster tersebut berisi tentang posisi yang sedang dibutuhkan hingga jumlah gaji yang bakal diterima.
    "OPEN RECRUITMENT KEMENTERIAN PPN/BAPPENAS
    Analis dan Asisten Tenaga Ahli
    KUALIFIKASI
    Gaji Pokok Rp5.000.000-Rp20.000.00
    Terbuka Untuk Umum
    Penempatan Di Berbagai Daerah
    Tersedia Berbagai Macam Posisi
    Mendapatkan Asuransi, Hak Cuti, dan Bonus
    Dapat Benefit Lain," demikian narasi dalam poster tersebut.
    Selain itu, akun Facebook tersebut juga membagikan tautan atau link pendaftaran. Benarkah dalam poster tersebut berasal dari Kementerian PPN/Bappenas? Berikut penelusurannya.
     

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri poster lowongan pekerjaan atau rekrutmen yang diklaim dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Penelusuran dilakukan dengan mengecek link pendaftaran yang dibagikan oleh akun Facebook tersebut.
    Ketika diklik, link tersebut mengarah ke sebuah situs. Situs tersebut menampilkan poster yang sama. Selain itu, ada juga kolom untuk mengisi data dan nomor telepon yang terhubungan dengan akun telegram. Laman itu ternyata bukan website resmi yang dikelola Kementerian PPN/Bappenas.
    Berikut gambar tangkapan layarnya.
    Penelusuran juga dilakukan dengan mengunjungi akun Instagram resmi yang dikelola Kementerian PPN/Bappenas, @bappenasri. Dalam salah satu postingannya, Kementerian PPN/Bappenas meminta masyarakat mewaspadai konten penipuan bermodus lowongan kerja yang mencatut badan tersebut.
    Selain itu, Kementerian PPN/Bappenas juga memberikan stampel penipuan pada poster rekrutmen yang viral di media sosial.
    Berikut gambar tangkapan layarnya.
    "#SahabatPembangunan, saat ini tengah beredar informasi yang tidak benar terkait lowongan pekerjaan yang mengatasnamakan Kementerian PPN/Bappenas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab❌??‍♀️??‍♂️
    Mohon agar selalu waspada agar tidak membagikan data diri pribadi melalui pranala yang mencurigakan dan waspadai informasi yang beredar agar kamu tidak menjadi korban serta penyebar hoaks dengan selalu cek kredibilitas sumber ya ✅
    #Bappenas #MembangunIndonesia #Hoaks," tulis akun Instagram @bappenasri pada 3 November 2024.
     

    Kesimpulan


    Poster lowongan pekerjaan atau rekrutmen yang diklaim dari Kementerian PPN/Bappenas ternyata tidak benar alias hoaks. Faktanya, poster tersebut diduga merupakan modus penipuan mencatut Kementerian PPN/Bappenas.
     

    Rujukan

  • (GFD-2024-23808) [HOAKS] Hasil Survei Elektabilitas Pilkada PALI Sumsel dari Indikator Politik

    Sumber:
    Tanggal publish: 04/11/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar hasil survei elektabilitas pasangan calon bupati dan wakil bupat Kabupaten Penukai Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.

    Hasil survei itu disebut berasal dari lembaga survei Indikator Politik, dan diselenggarakan pada 2 sampai 14 Oktober 2024.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, hasil survei tersebut palsu dan bukan berasal dari Indikator Politik.

    Hasil survei elektabilitas cabup dan cawabup PALI dibagikan oleh akun Facebook ini pada 25 Oktober 2024. Survei itu disebut diadakan pada 2-14 Oktober 2024.

    Berikut narasi yang dibagikan:

    Survei "Indikator" Elektabilitas Paslon Bupati/Wakil Bupati Kabupaten Pali.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com mengecek hasil survei elektabilitas cabup-cawabup Kabupaten Pali di situs resmi Indikator Politik.

    Namun, tidak ditemukan hasil survei yang dimaksud. Kemudian, Kompas.com mengecek akun media sosial Indikator Politik.

    Dalam unggahan akun X (Twitter), 25 Oktober 2024, Indikator Politik mengatakan bahwa mereka tidak pernah mengadakan survei di Kabupaten PALI.

    "Kami mendapat laporan bahwa ada rilis survei terkait Pilkada Kabupaten Pali, Sumatera Selatan. Sudah jelas ini hoax karena kami tidak pernah melakukan survei disana," demikian pernyataan Indikator Politik.

    Ini bukan kali pertama Indikator Politik dicatut untuk kepentingan Pilkada 2024. Sebelumnya, beredar hasil survei Pilkada Bone Bolango yang mengatasnamakan lembaga tersebut.

    Hasil survei itu dibantah Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi, yang mengatakan lembaganya terakhir kali menggelar survei di Bone Bolango pada Agustus 2024.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, Hasil survei elektabilitas cabup dan cawabup PALI mengatasnamakan Indikator Politik adalah hoaks.

    Dalam unggahan akun X (Twitter), 25 Oktober 2024, Indikator Politik mengatakan bahwa mereka tidak pernah mengadakan survei di Kabupaten PALI.

    Rujukan

  • (GFD-2024-23941) Tidak Benar WHO Akui Mpox sebagai Efek Samping Vaksin Covid-19

    Sumber:
    Tanggal publish: 04/11/2024

    Berita

    tirto.id - Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) kembali menetapkan keadaan darurat terhadap wabah Mpox pada Agustus lalu. Selama 29 September – 12 Oktober 2024, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengumumkan tidak ada kasus konfirmasi Mpox baru di Indonesia. Sementara secara kumulatif, ada sekira 88 kasus yang tersebar di 6 provinsi dan semuanya telah dinyatakan sembuh.

    Namun, baru-baru ini, muncul narasi di jagat maya yang mengaitkan Mpox dengan vaksin Covid-19. Akun Facebook dengan nama “Fernando Tambunan” salah satunya, menyebut kalau WHO mengakui Mpox sebagai efek samping vaksin messenger RNA/vaksin mRNA Covid-19.

    Akun itu turut melampirkan tangkapan layar sebuah artikel dengan judul berbahasa Inggris, berbunyi “WHO Admits Monkeypox Is ‘Side Effect’ of Covid ‘Vaccine’”. Dalam unggahan itu, disebut bahwa pengakuan WHO terkubur dalam situs VigiAccess milik WHO.

    “Situs web tersebut berisi basis data yang mencantumkan semua efek samping yang diketahui dari semua obat dan vaksin yang telah disetujui untuk penggunaan publik,” tulis akun pengunggah, Selasa (22/10/2024).

    Lebih lanjut, akun itu juga menulis dalam takarirnya bahwa WHO mencantumkan “cacar monyet”, “cacar air”, dan “cacar sapi”, di bawah vaksin Covid-19 Pfizer BioNTech.

    Meski hingga Senin (4/11/2024), unggahan ini tidak memperoleh impresi, narasi yang sama persis juga dibagikan oleh sejumlah akun Facebook lain, seperti ini dan ini. Ada pula akun Facebook yang menyebarkan klaim ini disertai tautan artikel Slay News dengan judul yang sama.

    Lantas, bagaimana faktanya?

    Hasil Cek Fakta

    Sebagai informasi awal, Mpox, yang sebelumnya dikenal sebagai cacar monyet atau Monkeypox, adalah penyakit zoonosis yang berarti ditularkan dari hewan ke manusia.

    Seiring dengan meningkatnya jumlah kasus dan penyebaran, seperti dilansir laman Kemenkes, ditemukan bahwa Mpox juga dapat menular antarmanusia, melalui kontak langsung dengan luka atau cairan tubuh orang yang terinfeksi, serta melalui kontak dengan benda atau permukaan yang telah terkontaminasi oleh virus.

    Gejala awal Mpox biasanya muncul dalam waktu 5 hingga 21 hari setelah terpapar virus. Gejalanya mencakup demam, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan, sakit punggung, pembengkakan kelenjar getah bening, dan ruam kulit yang berkembang secara bertahap.

    Meski gejala Mpox pada umumnya bersifat ringan dan dapat sembuh dengan sendiri dalam beberapa minggu, pada beberapa kasus Mpox dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama mereka yang termasuk dalam kelompok rentan, termasuk anak-anak, ibu hamil, dan penderita gangguan sistem imun.

    Untuk mengecek apakah Mpox adalah efek samping vaksin Covid-19, Tim Riset Tirto berusaha melakukan penelusuran Google dengan kata kunci seperti judul artikel yang beredar, yakni “WHO Admits Monkeypox is Side Effect of Covid Vaccine”.

    Dari pencarian itu kami menemukan bahwa klaim ini telah dinyatakan tidak benar oleh beberapa lembaga pemeriksa fakta, salah satunya Reuters.

    Artikel Slay News yang dikutip oleh unggahan Facebook, terbit pada 11 Oktober 2024 dan berisi narasi tentang cacar monyet, cacar, dan cacar sapi yang disebut tercantum dalam VigiAccess milik WHO. Hal itu ditunjukkan terpampang di bawah vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech, sebagai bukti bahwa WHO telah mengakui infeksi ini merupakan efek samping dari produk tersebut.

    Kendati begitu, tidak ada kasus Mpox, yang terdokumentasi, yang terbukti disebabkan oleh jenis vaksin apapun.

    VigiAccess sendiri merupakan alat pencarian berbasis web milik WHO untuk mengakses basis data VigiBase, yang mencantumkan laporan reaksi obat yang merugikan dan kejadian buruk setelah imunisasi. Aduan itu dilaporkan oleh individu kepada otoritas kesehatan nasional mereka, yang selanjutnya dilaporkan ke Program Pemantauan Obat Internasional WHO (WHO PIDM).

    Basis data yang dikelola oleh Pusat Pemantauan Uppsala (UMC)—sebuah yayasan nirlaba yang meneliti manfaat dan risiko produk obat, ini memang memperlihatkan enam laporan cacar monyet, lima laporan cacar sapi, dan 15 laporan cacar setelah menerima vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech.

    Namun, juru bicara WHO mengatakan, data tersebut mencerminkan kemungkinan efek samping yang dilaporkan, bukan hubungan efek samping suatu produk yang dikonfirmasi.

    “Informasi dalam VigiAccess tentang potensi efek samping tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa produk obat atau zat aktifnya menyebabkan efek yang diamati atau tidak aman untuk digunakan,” kata juru bicara WHO, seperti dinukil Reuters, Rabu (30/10/2024).

    Juru bicara tersebut menambahkan bahwa hubungan sebab akibat adalah proses rumit yang memerlukan penilaian menyeluruh dan evaluasi terperinci dari keseluruhan data.

    Menyoal situs Slay News, Media Bias Fact Check mengidentifikasi situs ini sebagai situs yang memiliki kredibilitas rendah dan bias ekstrem sayap kanan. Situs Slay News disebut seringkali menyebarkan propaganda, konspirasi, pseudosains, dan konten-konten plagiat.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, unggahan media sosial yang mengutip artikel Slay News dan menyebut bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengakui Mpox sebagai efek samping vaksin Covid-19 bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

    Tidak ada kasus Mpox atau cacar sapi, yang terdokumentasi, yang terbukti disebabkan oleh jenis vaksin apapun. Juru bicara WHO mengatakan, data laporan kasus Mpox yang diterima pihaknya setelah menerima vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech mencerminkan kemungkinan efek samping yang dilaporkan, bukan hubungan efek samping suatu produk yang dikonfirmasi.

    Media Bias Fact Check mengidentifikasi situs Slay News sebagai situs yang memiliki kredibilitas rendah dan bias ekstrem sayap kanan. Situs ini disebut seringkali menyebarkan propaganda, konspirasi, pseudosains, dan konten-konten plagiat.

    Rujukan