• (GFD-2025-27100) [KLARIFIKASI] Belum Ada Putusan Hakim Terkait Ijazah Jokowi

    Sumber:
    Tanggal publish: 22/05/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Ijazah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi sorotan karena dituding palsu. Proses hukum kasus ini juga sedang bergulir setelah Jokowi melapor ke kepolisian.

    Di media sosial, kemudian beredar sebuah video dengan narasi yang menyebutkan bahwa hasil persidangan memutuskan ijazah Jokowi terbukti palsu.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi itu tidak benar atau merupakan hoaks.

    Narasi mengenai hasil persidangan membuktikan ijazah Jokowi palsu disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, ini, ini, dan ini.

    Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada Minggu (18/5/2025):

    HAKIM MENGAKUI IJAZAH JOKO WIDODO PALSU.VIRALKAN NEWS INI SE INDONESIA RAYA

    Semoga tercipta negara yg damaiHIDUP RAKYAT INDONESIA!!

    akun Facebook Tangkapan layar konten hoaks di sebuah akun Facebook, Minggu (18/5/2025), mengenai hasil persidangan membuktikan ijazah Jokowi palsu.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com menemukan video serupa di kanal YouTube Harisun Abd Hadi (ustadz kampung), 7 Mei 2025.

    Video yang beredar bukanlah penyampaikan hasil sidang, melainkan hanya penyampaian kecurigaan atas ijazah palsu oleh warga.

    Sejauh ini, sudah tiga kali ijazah Jokowi diperkarakan keasliannya di meja hijau.

    Pertama, pada 2019 ketika seorang bernama Umar Kholid menyebarkan narasi terkait ijazah SMA Jokowi yang diduga palsu melalui akun Facebooknya.

    Dikutip dari Kompas.com, narasi itu langsung dibantah oleh pihak sekolah.

    Kemudian, gugatan di meja hijau dilayangkan Bambang Tri Mulyono yang menuding ijazah SD, SMP, dan SMA Jokowi palsu.

    Namun gugatan dengan nomor perkara 592/Pdt.G/2022/PN Jkt.Pst itu telah ditolak Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

    Gugatan berikutnya dengan nomor perkara 610/Pdt.G/2023/PN.Jkt.Pst dan 99/Pdt.G/2025/PN Skt yang memperkarakan ijazah S1 Jokowi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

    Baru-baru ini, Jokowi diadukan atas dugaan ijazah palsu dengan nomor laporan LI/39/IV/RES.1.24./2025/Direktorat Tindak Pidana Umum pada 9 April 2025.

    Jokowi telah memenuhi undangan penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri untuk diperiksa sebagai terlapor dalam kasus dugaan ijazah palsu pada Selasa (20/5/2025).

    Berdasarkan pemberitaan Kompas.com, ia diperiksa selama sekitar satu jam dengan diberi 22 pertanyaan.

    Jokowi baru akan menunjukkan ijazah aslinya jika diminta oleh majelis hakim.

    “Ijazah nanti akan kami buka pada saat diminta oleh pengadilan, oleh hakim. Jadi, ya kita tunggu proses hukum selanjutnya,” ujarnya.

    Sejauh ini, belum ada putusan sidang yang menyatakan bahwa ijazah tersebut asli atau palsu.

    Kesimpulan

    Narasi mengenai hasil persidangan membuktikan ijazah Jokowi palsu merupakan hoaks.

    Dari dua gugatan terkait ijazah Jokowi, tidak ada hasil persidangan yang menyatakan asli atau tidaknya ijazah.

    Dalam gugatan teranyar, Jokowi baru diperiksa sebagai terlapor. Dalam kasus baru ini belum memasuki pengadilan, apalagi putusan sidang.

    Rujukan

  • (GFD-2025-27099) Keliru: Video Pesawat Rafale yang Ditembak Pakistan

    Sumber:
    Tanggal publish: 22/05/2025

    Berita

    SEBUAH akun media sosial TikTok [arsip] pada 9 Mei 2025, mengunggah video yang diklaim penembakan pesawat Rafale milik India oleh militer Pakistan. Pesawat berbendera India tersebut tampak jatuh menimpa beberapa rumah. 

    Sejumlah orang kemudian menyaksikan pesawat yang masih mengeluarkan api dan asap itu. Namun tak satupun dari mereka berusaha untuk memadamkan api.



    Benarkah ini pesawat Rafale yang ditembak Pakistan?

    Hasil Cek Fakta

    Tempo memverifikasi video dengan analisis visual, layanan pencarian gambar terbalik dengan Google, alat pendeteksi kecerdasan buatan, dan menelusuri pemberitaan terkait dari organisasi cek fakta di India dan Pakistan. Hasilnya, konten tersebut dibuat menggunakan kecerdasan buatan.

    Berdasarkan analisis manual dengan membagi video menjadi dua frame utama, Tempo menemukan visual yang anomali dan janggal pada konten tersebut. Kejanggalan visual seperti ini menjadi salah satu ciri konten dibuat dengan kecerdasan buatan. 

    Anomali dapat dilihat pada tekstur api terlihat tidak alami, asap yang tiba-tiba muncul dari ujung kepala pesawat (lingkaran kuning) dan kepala orang berbaju merah yang terdistorsi (lingkaran merah). 



    Tempo kemudian menganalisis menggunakan alat deteksi kecerdasan buatan, Hivemoderation.com. Hasilnya, 57,6 persen video melibatkan kecerdasan buatan di antaranya Flux, Stable Diffusioan, dan Midjourney.



    Konten tersebut lebih dulu menyebar di India. Organisasi pemeriksa fakta independen di India, Factly, menulis, konten itu beredar di tengah informasi dari pejabat AS yang mengatakan bahwa jet Pakistan menjatuhkan dua pesawat Militer India pada 8 Mei 2025. Namun, tidak ada konfirmasi resmi atau bukti yang sama hingga 09 Mei 2025.

    Factly menggunakan analisis visual dan alat deteksi kecerdasan buatan. Hasilnya sama dengan kesimpulan Tempo, konten tersebut dibuat dengan AI. Deteksi dengan Hive Moderation menghasilkan 72 persen konten mirip menggunakan kecerdasan buatan.

    Perbedaan hasil deteksi Hive tersebut dapat terjadi sebab kreator konten menambahkan teks versi bahasa Indonesia, dengan ukuran lebih besar yang menutup hampir separuh konten. Menyisipkan teks seperti ini sudah jamak dilakukan untuk mengelabui alat deteksi kecerdasan buatan. 

    Organisasi pemeriksa fakta lainnya berbahasa Urdu, News Checker, juga telah memeriksa konten serupa. Mereka menggunakan alat pendeteksi AI seperti Site Engine dan juga Hive Moderation. Site Engine telah menunjukkan 99% kemungkinan penggunaan kecerdasan buatan pada frame video ini dan Hive Moderation telah menunjukkan 91,5% kemungkinan penggunaan AI.

    Hasil deteksi menggunakan Site Engine. [Sumber: News Checker India]

    Konflik India-Pakistan

    Konflik antara India dan Pakistan dimulai setelah terjadinya serangan di Lembah Baisaran, Pahalgam, Kashmir yang dikuasai India pada 22 April 2025. Dalam serangan itu, sekelompok pria bersenjata membunuh 26 orang, termasuk 25 wisatawan dan satu penunggang kuda lokal.

    India menuding Pakistan mendukung, mempersenjatai, dan melatih kelompok-kelompok bersenjata yang dianggap menjadi sumber kerusuhan di daerah tersebut. Di sisi lain, Pakistan menegaskan bahwa mereka hanya memberikan dukungan moral dan diplomatik untuk gerakan pemisahan diri di Kashmir.

    Pada Rabu pagi, 7 Mei 2025, India meluncurkan serangan rudal ke sejumlah wilayah di Pakistan dan Kashmir yang dikuasai Pakistan. Serangan ini disebut sebagai operasi sindoor, mengakibatkan sejumlah ledakan yang terdengar di berbagai daerah, termasuk Kota Bahawalpur, Muridke, Bagh, Muzaffarabad, dan Kotli di wilayah yang disengketakan.

    Kepada Al Jazeera, setelah serangan 7 Mei itu, Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar mengatakan Islamabad, telah menembak jatuh lima jet India, di antaranya tiga Rafale, satu MiG-29, dan satu Su-30. 

    Sejauh ini New Delhi belum secara resmi mengonfirmasi atau membantah laporan tersebut.

    Kesimpulan

    Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa klim video pesawat Rafale yang ditembak Pakistan adalah keliru.

    Rujukan

  • (GFD-2025-27098) Keliru: Gambar-gambar Jatuhnya Jet Tempur India karena Ditembak Militer Pakistan

    Sumber:
    Tanggal publish: 22/05/2025

    Berita

    KONFLIK India dan Pakistan di Kashmir telah mendorong munculnya beragam disinformasi. Konten-konten yang beredar memuat klaim situasi peperangan, dan penembakan pesawat tempur. Salah satunya adalah video yang beredar di TikTok [arsip], memperlihatkan gambar-gambar jet tempur yang diklaim milik India. 

    Narasi yang menyertai, jatuhnya sejumlah pesawat tempur itu setelah ditembak oleh militer Pakistan. Video itu memperlihatkan sejumlah jet tempur di angkasa, peluncuran rudal, dan ledakan besar di puncak gunung. Peristiwa itu disebut terjadi pada Rabu dini hari, 7 Mei 2025.



    Namun, benarkah video itu memperlihatkan pesawat-pesawat tempur India yang jatuh tertembak rudal Pakistan?

    Hasil Cek Fakta

    Tempo memverifikasi narasi tersebut menggunakan alat deteksi kecerdasan buatan. Selain itu, Tempo juga melibatkan Deepfakes Analysis Unit (DAU) dari Misinformation Combat Alliance–aliansi lintas industri, perusahaan media, dan organisasi untuk memerangi disinformasi terbesar di India. Berikut hasil penelusurannya:



    Pemindaian menggunakan aplikasi pendeteksi AI, Hive Moderation, menyatakan bahwa komponen audio pada konten tersebut, 99.9 persen kemungkinannya dibuat menggunakan kecerdasan buatan.  

    Tempo kemudian membagi video tersebut menjadi frame-frame kunci, lalu gambar tersebut dianalisis dengan alat deteksi kecerdasan buatan. Frame ledakan di atas gunung seperti yang ditunjukkan di bawah ini, terdeteksi menggunakan kecerdasan buatan sebesar 99,1 persen dengan alat dari 4o milik OpenAI dan Grok.



    Frame berikutnya yang memperlihatkan peluncuran rudal. Gambar ini memiliki kemungkinan 98.8 persen melibatkan kecerdasan buatan seperti Grok dan 4o Open AI.



    Hasil analisa DAU India, mengatakan, video tersebut memang terlihat tidak realistis. Pertama, mereka memindai video itu dan gambar-gambar tangkapan layarnya pada aplikasi Hive Moderation. Kesimpulannya sama, konten itu dibuat menggunakan kecerdasan buatan.

    Kedua, gambar penembakan rudal dalam video itu lebih mirip peluncuran roket luar angkasa. Ketiga, gambar sejumlah jet tempur yang terbang bersama di atas pegunungan, memperlihatkan kejanggalan. Pesawat-pesawat di bagian latar belakang bentuknya rusak, tak lagi seperti pesawat.



    Keempat, gambar daratan dari udara yang memperlihatkan kawah dan kubah-kubah warna biru, tampak bukan daratan bumi. Bukan juga instalasi militer pada topografi sebenarnya, melainkan tampak seperti gambar mikroskopis koloni bakteri.

    “Menurut pengamatan saya, dan hasil dari perangkat tersebut, gambar video ini memiliki tanda-tanda nyata yang dibuat dengan AI,” kata DAU kepada Tempo, Rabu, 21 Mei 2025.

    Kesimpulan

    Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan video yang beredar memperlihatkan jet tempur Angkatan Udara India yang berjatuhan setelah ditembak militer Pakistan adalah klaim keliru.

    Rujukan

  • (GFD-2025-27097) Keliru: Berita GP Ansor Siap Bela Jokowi Soal Ijazah

    Sumber:
    Tanggal publish: 22/05/2025

    Berita

    SEBUAH akun di media sosial X [arsip] mengunggah tangkapan layar berita online dengan foto Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Jawa Timur, Musaffa’ Safril, 21 Mei 2025. 

    Tangkapan layar itu memuat judul “Ansor dan Banser Kami siap Mati Jika Jokowi Masuk Penjara Gara-gara Ijazah Palsu, Menyakiti Jokowi Sama Saja Menyakiti Banser”. Pada badan artikel tercetak tanggal publikasi pada 4 Februari 2025 pukul 13.35 WIB. Rahardi J. Soekarno tercatat sebagai penulis.



    Hingga Kamis 22 Mei, konten itu telah dibagikan ulang 133 kali dan dilihat 63,8 ribu kali. Namun, benarkah ada berita tentang Ansor siap bela Jokowi soal dugaan ijazah palsu?

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Tempo memverifikasi klaim di atas dengan layanan pencarian gambar terbalik dan pemberitaan kredibel di Indonesia. Faktanya, tidak ada media yang mempublikasikan berita tentang GP Ansor dan Banser siap mati bela Jokowi dalam kasus dugaan ijazah palsu.

    Dari hasil penelusuran Tempo, judul asli dari artikel yang memuat foto Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur, Musaffa’ Safril, itu adalah “Ansor dan Banser Jatim: Kami tak Tinggal Diam Jika HTI Hidup Kembali”. 



    Versi asli berita dipublikasikan oleh situs media Beritajatim.com pada 4 Februari 2025 pukul 13.35 WIB. Nama penulis yang tertera sama, Rahardi J. Soekarno.  

    Dalam berita tersebut, Musaffa’ Safril mengecam unjuk rasa yang dilakukan oleh kelompok yang terindikasi berafiliasi dengan organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di beberapa titik di Indonesia, termasuk di Surabaya pada Minggu, 2 Februari 2024.

    Sebagaimana diketahui, HTI telah dinyatakan sebagai organisasi terlarang berdasarkan Perppu No. 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan yang kemudian disahkan menjadi Undang-Undang No. 16 Tahun 2017. Dengan demikian, segala bentuk aktivitas yang membawa atribut, simbol, maupun gagasan HTI adalah ilegal dan bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

    Musaffa’ mempertanyakan bagaimana mungkin kelompok yang telah dibubarkan secara hukum masih dapat melakukan aksi secara terbuka di berbagai kota, termasuk Surabaya.

    “Kami mempertanyakan apakah pihak kepolisian memberikan izin terhadap kegiatan ini. Jika benar ada izin, kami mendesak Kapolri untuk segera menindak tegas aparat yang telah mengeluarkan izin tersebut,” tegasnya.

    Kasus Ijazah Jokowi

    Ijazah Strata-1 mantan Presiden Indonesia, Joko Widodo, saat ini menjadi polemik. Tempo melansir, pada 15 April 2025 lalu, seratusan orang yang menyatakan berasal dari TPUA (Tim Pembela Ulama dan Aktivis) mendatangi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Mereka meminta UGM mengklarifikasi ijazah Jokowi. UGM telah berulang kali menyampaikan, ijazah Jokowi asli.

    Buntut dari peristiwa ini, Jokowi melaporkan lima orang, yakni Roy Suryo (RS), Rismon Sianipar (RS), Eggy Sudjana (ES), Tifauzia Tyassuma (TT), dan seseorang berinisial K. Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma telah menjalani pemeriksaan sebagai saksi terlapor pada Kamis, 15 Mei 2025.

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Ade Ary Syam Indradi menyatakan polisi telah memeriksa 24 orang sebagai saksi dalam laporan Jokowi tentang dugaan fitnah dan pencemaran nama baiknya. Laporan tersebut diajukan Jokowi atas banyaknya tuduhan ijazah palsu.

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil pemeriksaan fakta, Tim Cek Fakta Tempo menyimpulkan bahwa klaim berita GP Ansor siap bela Jokowi soal ijazah adalah keliru.

    Rujukan