• (GFD-2024-24191) Cek Fakta: Tidak Benar Korban Perundungan Siswa SMP 3 Gowa dalam Video Ini Meninggal Dunia

    Sumber:
    Tanggal publish: 26/11/2024

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Kabar tentang korban perundungan siswa SMP 3 Gowa, Sulawesi Selatan meninggal dunia. Kabar tersebut disebarkan salah satu akun Facebook pada 18 November 2024.
    Akun Facebook tersebut mengunggah video perundungan yang dilakukan seorang murid SMP kepada teman sekelasnya. Video berdurasi 34 detik itu menampilkan dua orang murid terlibat perkelahian di sebuah kelas.
    Meski dipenuhi siswa lainnya di dalam kelas, namun tidak ada yang melerai perkelahian tersebut. Korban terus dipukul oleh pelaku dan ditendang hingga terkapar di lantai.
    Video tersebut kemudian dikaitkan dengan kabar seorang siswa SMP 3 Gowa meninggal dunia akibat dirundung oleh temannya.
    "Siswa brutal di SMP 3 Gowa, korbannya meninggal.
    Harus dihukum penjara dan diviralkan agar menjadi pelajaran bagi para anak dan orang tua yang tidak bisa mendidik anaknya.
    Nge-share seperti ini agar kita jangan bosan² menasehati anak² kita agar tidak mempunyai sifat #iBLi5 dan #4NJIN6," tulis salah satu akun Facebook.
    Konten yang disebarkan akun Facebook tersebut telah 240 kali ditonton dan mendapat 11 komentar dari warganet.
    Benarkah kabar seorang siswa SMP 3 Gowa korban perundungan meninggal dunia? Berikut penelusurannya.
     

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kabar tentang korban perundungan siswa SMP 3 Gowa, Sulawesi Selatan meninggal dunia. Penelusuran dilakukan dengan memasukkan kata kunci "perundungan siswa smp 3 gowa" di kolom pencarian Google Search.
    Hasilnya terdapat beberapa artikel yang menjelaskan mengenai kasus perundungan di SMP 3 Gowa setelah videonya viral di media sosial.
    Satu di antaranya artikel berjudul "Viral Siswa SMP 3 Gowa Dianiaya Teman hingga Pingsan, Alami Pemukulan hingga Diinjak Berkali-kali" yang dimuat situs Liputan6.com pada 29 Agustus 2024.
    Liputan6.com, Bandung - Media sosial belakangan ini dihebohkan dengan sebuah video viral yang memperlihatkan seorang siswa SMP menjadi korban perundungan atau bullying teman sekelasnya. Melansir dari video yang beredar korban mengalami pemukulan hingga tidak sadarkan diri.
    Diketahui video perundungan tersebut pertama kali viral di media sosial X (sebelumnya Twitter). Video berdurasi 34 detik itu memperlihatkan seorang siswa yang memukuli temannya dari posisi berdiri hingga tersungkur di meja dan terjatuh di lantai.
    Suasana kelas juga dipenuhi oleh siswa lainnya namun sayangnya tidak ada satu siswa yang menghentikan aksi tersebut. Terlihat korban terus dihajar bahkan bagian kepalanya sempat ditendang hingga terkapar di lantai.
    Korban yang sudah tergeletak di bawah lantai tersebut langsung terlihat tidak sadarkan diri dengan wajah yang pucat. Pada kondisi tersebut siswa lain kemudian memeriksa kondisi korban.
    Melansir dari Merdeka, diketahui insiden perundungan tersebut terjadi di sebuah Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Gowa. Kasusnya menjadi sorotan publik dan banyak pihak yang menuntut adanya penyelesaian terhadap kasus tersebut.
    Sejumlah warganet juga mempertanyakan kondisi korban yang terlihat tidak sadarkan diri. Sementara itu, Kepala SMPN 3 Gowa, Ma’ruf menuturkan bahwa anak yang menjadi korban penganiayaan tersebut tidak meninggal dunia seperti yang dirumorkan warganet.
    "Tidak seperti itu (meninggal dunia). Anak itu sudah ditangani oleh pihak keluarga dan sekolah," kata Ma’ruf.
    Ma’ruf juga menyebutkan bahwa ia berharap dengan adanya peristiwa tersebut khususnya di Kabupaten Gowa tidak ada kejadian yang serupa dan berharap cukup sampai di SMPN 3 Gowa saja dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran untuk semua pihak.
    "Semoga pendidikan berkarakter dan berkualitas bisa terwujud," katanya.
    Pelaksana tugas (Plt) Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor Gowa, Inspektur Dua Udin Sibadu mengungkapkan bahwa video penganiayaan yang beredar di media sosial saat ini adalah peristiwa yang benar terjadi.
    Menurutnya peristiwa tersebut telah terjadi sejak dua minggu yang lalu dan telah diselesaikan secara internal sekolah. Sehingga tidak ada laporan resmi yang masuk ke Polres terkait peristiwa tersebut.
    "Tidak ada laporan resmi yang masuk ke Polres terkait kejadian ini, karena semuanya telah diselesaikan secara internal oleh pihak sekolah, termasuk oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK)," katanya.
    Udin juga menyebutkan bahwa dalam kasus tersebut pihak sekolah bertanggung jawab memberikan bimbingan kepada siswa dan menangani permasalahan yang terjadi di lingkungan sekolah.
    Kemudian juga sekolah bisa berkolaborasi bersama pihak kepolisian dalam memberikan penyuluhan terutama untuk mencegah terjadinya tindakan-tindakan lainnya yang merugikan siswa.
    "Jadi terkait hal begini, guru memberikan bimbingan kepada siswa di sekolahnya, kemudian juga dengan bantuan aparat kepolisian dalam hal upacara, sekolah memberikan pendidikan penyuluhan untuk menghindari kegiatan kegiatan yang merugikan siswa itu sendiri," ucapnya.
    Sementara itu ketika ditanya terkait motif kekerasan tersebut, Ipda Udin menyebutkan bahwa kejadian tersebut dipicu oleh kesalahpahaman antara siswa. Kemudian pihak sekolah diketahui telah menyelesaikan permasalahan tersebut.
    "Itu untuk sementara pihak sekolah yang menyelesaikan, bisa yang begitu kalau anak-anak masalah kesalahpahaman," ucapnya mengutip dari Merdeka.
     

    Kesimpulan


    Kabar tentang korban perundungan siswa SMP 3 Gowa, Sulawesi Selatan meninggal dunia ternyata tidak benar. Faktanya,  Kepala SMPN 3 Gowa, Ma’ruf menuturkan bahwa anak yang menjadi korban penganiayaan tersebut tidak meninggal dunia seperti yang dirumorkan warganet.
  • (GFD-2024-24195) [KLARIFIKASI] Korban Perundungan Siswa SMP di Gowa Pingsan, Bukan Meninggal

    Sumber:
    Tanggal publish: 26/11/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Sebuah video menampilkan perundungan yang dilakukan siswa sekolah menengah pertama (SMP) di ruang kelas.

    Seorang siswa dipukuli dan diinjak oleh temannya. Narasi yang beredar di media sosial menyebutkan, siswa korban perundungan itu meninggal dunia.

    Namun setelah ditelusuri Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut keliru.

    Video siswa SMP meninggal dunia akibat dirundung, disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini.

    Berikut narasi yang ditulis salah satu akun:

    Siswa brutal di SMP, menganiaya temannya hingga meninggal.

    Harus dihukum penjara agar menjadi pelajaran bagi para anak dan orang tua yang tidak bisa mendidik anaknya.

    Ngeri banget liat videonya.

    Hasil Cek Fakta

    Video yang beredar merupakan kejadian perundungan di SMP 3 Gowa, Sulawesi Selatan.

    Kemudian, video tersebut sempat viral dan diwartakan Tribunnews, 29 Agustus 2024.

    Seorang siswa laki-laki memukul dan menginjak korban hingga tak sadarkan diri. Adapun korban masih hidup.

    Kepala Sekolah SMP 3 Gowa, Ma'ruf memastikan kabar korban meninggal dunia tidak benar.

    "Hari ini kami juga dimediasi oleh pihak Polres Gowa dengan orang tua korban dalam rangka upaya mediasi dan melihat kedua belah pihak dalam insiden perkelahian ini," kata Ma'ruf pada 28 Agustus 2024.

    Seperti yang sudah diberitakan Kompas.com, peristiwa tersebut terjadi dipicu oleh kesalahpahaman antar-siswa.

    Plt Kasi Humas Polres Gowa Ipda Udin Sibadu mengatakan, kejadian ini telah diselesaikan secara internal oleh pihak sekolah.

    Kesimpulan

    Video perundungan di SMP 3 Gowa, Sulawesi Selatan disebarkan dengan konteks keliru.

    Korban perundungan tidak meninggal, melainkan pingsan. Pihak sekolah memastikan korban masih hidup dan menyelesaikan masalah ini secara internal.

    Rujukan

  • (GFD-2024-24196) [Cek Fakta] Arab Saudi Bakal Memproklamirkan Sebagai Negara Ateis? Ini Faktanya

    Sumber:
    Tanggal publish: 26/11/2024

    Berita

    Jakarta: Beredar di media sosial Facebook unggahan yang menyebutkan bahwa Arab Saudi secara resmi akan memproklamirkan sebagai negara ateis pada 2025 mendatang.  

    Akun Facebook Cahaya Nussanntaraa pada Sabtu, 16 November 2024, mengunggah sebuah foto perempuan. Dalam foto tersebut ada narasi yang mengatakan bahwa Arab Saudi akan memplokamirkan sebagai negara atheis pada 2025.  

    “Resmi 2025 Arab Saudi akan memproklamirkan sebagai negara atheis,” demikian narasi pada unggahan Facebook tersebut.

    Pemilik akun juga menuliskan caption yang cukup panjang. Sementara itu, unggahan tersebut telah dikomentari setidaknya sebanyak 50 kali.

    Unggahan yang menyebut Arab Saudi akan memproklamirkan sebagai negara ateis. Foto: tangkapan layar

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan informasi atau pengumuman resmi dari Pemerintah Arab Saudi bahwa mereka akan menjadi negara ateis. Arab Saudi justru merupakan satu dari 12 negara yang melarang ateisme.  

    Larangan ini bukan sekadar lisan, melainkan tercantum dalam Undang-undang Dasar Pemerintahan Saudi tahun 1992. Disebutkan bahwa negara resmi Saudi Arabia adalah Islam dengan konstitusi berdasarkan Al Quran dan Sunnah, atau tindakan dan hukum yang dilakukan zaman Nabi Muhammad.  

    Peraturan tersebut juga melarang ateisme dalam bentuk apapun, serta memberikan hukuman penjara hingga hukuman mati bagi orang-orang yang murtad.  

    Sejumlah riset memang menunjukkan jumlah penganut ateis di Arab Saudi meningkat. Kendati begitu, pemerintah setempat tetap menolak pemikiran ateisme dan menganggap kampanye ateisme sebagai tindakan kriminal setara dengan terorisme.

    Kesimpulan

    Unggahan foto dengan narasi Arab Saudi akan memproklamirkan sebagai negara ateis pada 2025 adalah tidak benar alias hoaks.  

    Konten ini masuk dalam kategori konten yang menyesatkan ( misleading content ). Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.  

    Rujukan

  • (GFD-2024-24197) Hoaks Tautan Pendaftaran Bantuan Pestisida dan Alat Pertanian

    Sumber:
    Tanggal publish: 26/11/2024

    Berita

    tirto.id - Baru-baru ini di jagat maya berseliweran poster pemberitahuan soal program bantuan pestisida dan alat-alat pertanian gratis. Sebuah akun Facebook dengan nama “Seputar Informasi Pertanian” (arsip) membagikan informasi ini disertai tautan menuju ke situs tertentu.

    Dalam poster terlihat ilustrasi petani sedang menanam padi. Kemudian di bagian bawahnya terdapat teks imbauan untuk melakukan registrasi. Bantuan ini disebut bakal dibagikan ke 38 provinsi, 416 kabupaten dan 7.288 kecamatan, serta 80 ribu kelurahan/desa.

    “INFO PEMBAGIAN PESTISIDA DAN ALAT-ALAT PERTANIAN SESI 2 BAGI YANG BELUM SEGERA DAFTAR,” begitu bunyi takarir penyerta unggahannya.

    Informasi ini memperoleh reaksi yang tak sedikit, yakni berupa 2 ribu likes dan 612 komentar, sejak diunggah pada Rabu (6/11/2024) sampai Selasa (26/11/2024). Unggahan ini juga diketahui telah dibagikan ke 66 orang.

    Para pemilik akun Facebook membanjiri kolom komentar dengan doa agar program bantuan pestisida dan alat pertanian gratis ini tepat sasaran. Selain itu ada juga yang mengatakan bahwa hal ini merupakan kabar gembira bagi para petani.

    Namun, benarkah informasi dan tautan yang disebarkan?

    Hasil Cek Fakta

    Tim Riset Tirto mula-mula mengecek bio akun pengunggah untuk mencari informasi terkait akun yang memakai profil logo Kementerian Pertanian (Kementan) tersebut. Akun ini diketahui memiliki 681 pengikut per Selasa (26/11/2024) dan menyebut dirinya sebagai “akun resmi” Kementan RI.

    Namun begitu, akun Facebook resmi Kementan yaitu “Kementerian Pertanian Republik Indonesia” yang punya pengikut sebanyak 273 ribu orang, hingga Selasa (26/11/2024). Jadi, bisa dibilang bahwa akun Facebook yang menyebarkan poster bantuan pestisida gratis ini merupakan akun palsu.

    Untuk mengecek klaim yang berlalu-lalang, Tirto melakukan pencarian Google dengan kata kunci “bantuan pestisida gratis”. Hasilnya, kami menemukan narasi ini telah dinyatakan hoaks oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

    Tautan yang beredar dikatakan bukanlah situs resmi untuk mengakses bantuan pemerintah. Meski program ini memang eksis, pengajuan bantuan pestisida dilakukan melalui dinas pertanian masing-masing daerah.

    Sampai saat ini belum ada situs secara nasional untuk pengajuan bantuan pestisida, sehingga persyaratan dan mekanisme untuk mengakses bantuan juga bervariasi di setiap pemerintah daerah.

    Di Kabupaten Tulungagung, misalnya, masyarakat yang bisa mengajukan bantuan pestisida gratis yakni kelompok tani/gapoktan yang melaksanakan usaha budidaya tanaman pangan. Tak hanya itu, tanaman pangan yang dibudidaya juga mesti terdapat serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

    Prosedurnya antara lain kelompok tani membuat surat permohonan bantuan pestisida yang diketahui oleh petugas lapang/POPT, atas dasar rekomendasi petugas pengendali OPT. Kemudian Petugas Pertanian Kabupaten melakukan verifikasi permohonan bantuan, terakhir kelompok tani bisa mengambil bantuan pestisida didampingi oleh Petugas Lapang/POPT.

    Selanjutnya Tirto mencoba menelusuri poster unggahan dengan memanfaatkan Google Image. Dari situ kami menemukan kalau ilustrasi petani yang dicantumkan berasal dari Pinterest.

    Lewat pencarian tersebut Tirto juga menjumpai unggahan serupa dengan nama akun yang sama di Instagram. Namun, lagi-lagi informasi ini tidak terbukti kebenarannya.

    Masyarakat bisa mengakses situs resmi https://sippn.menpan.go.id/ dan memasukkan kata kunci “bantuan pestisida” disertai tempat domisili untuk mengakses persyaratan dan mekanisme program bantuan pestisida gratis.

    Kesimpulan

    Hasil penelusuran fakta menunjukkan bahwa unggahan poster pemberitahuan soal program bantuan pestisida dan alat-alat pertanian gratis disertai tautan tertentu bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

    Narasi ini telah dinyatakan tidak benar oleh Kementerian Komunikasi dan Digital. Meski program ini memang eksis, pengajuan bantuan pestisida dilakukan melalui dinas pertanian masing-masing daerah.

    Akun Facebook pengunggah juga diketahui bukanlah akun resmi Kementerian Pertanian RI. Akun Facebook asli Kementan yaitu “Kementerian Pertanian Republik Indonesia” yang punya pengikut sebanyak 273 ribu orang, hingga Selasa (26/11/2024).

    Rujukan