KOMPAS.com - Di media sosial beredar unggahan video yang mengeklaim BPJS Ketenagakerjaan menjanjikan bantuan Rp 250 juta kepada seluruh Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi itu tidak benar atau hoaks.
Video yang mengeklaim BPJS Ketenagakerjaan menjanjikan bantuan Rp 250 juta kepada TKI muncul di media sosial, misalnya dibagikan akun Facebook ini, ini, dan ini.
Akun tersebut membagikan video pemberiataan di Kompas TV dan diberi keterangan sebagai berikut:
Hai sodara/sodari yang inigin menerima dana bantuan bpjs ketenagakerjaan dengan bantuan ini di keluarkan langsung oleh badan keuangan milik negara Indonesia untuk membantu para tki/TKW
Maupun dalam negri silahkan langsung hubungiDokter Fauzi
Klilk tombol di bawah ini
Akun Facebook Tangkapan layar Facebook narasi yang mengeklaim BPJS Ketenagarkerjaan memberikan bantuan Rp 250 juta kepada TKI Penelusuran Kompas.com
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Tim Cek Fakta Kompas.com, video identik dengan unggahan di kanal YouTube Kompas TV ini.
Video itu berjudul "Hari Pelanggan Nasional jadi Momentum BPJS Ketenagakerjaan Dorong Pekerja untuk Tumbuh dan Kuat".
Adapun video memberitakan kunjungan Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan ke Kantor Cabang Yogyakarta. Kunjungan itu dilakukan saat momen peringatan Hari Pelanggan Nasional pada 4 September 2022.
Saat dikonfirmasi, pihak BPJS Ketenagakerjaan menjelaskan tidak pernah mengadakan program bantuan Rp 250 juta pada TKI.
"BPJS Ketenagakerjaan memastikan bahwa informasi tersebut tidak benar atau hoaks," ujar Deputi Komunikasi BPJS Ketenagakerjaan, Oni Marbun Jumat (23/5/2025).
Menurut Oni, unggahan itu merupakan penipuan. Ia meminta masyarakat untuk berhati-hati terhadap penipuan yang mengatasnamakan BPJS Ketenagakerjaan.
"Seluruh informasi resmi terkait BPJS Ketenagakerjaan dapat diakses melalui website www.bpjsketenagakerjaan.go.id," kata Oni.
(GFD-2025-27171) [HOAKS] BPJS Ketenagakerjaan Bagikan Bantuan Rp 250 Juta ke TKI
Sumber:Tanggal publish: 27/05/2025
Berita
Hasil Cek Fakta
Kesimpulan
Video yang mengeklaim BPJS Ketenagakerjaan menjanjikan bantuan Rp 250 juta kepada TKI tidak benar atau hoaks.
Faktanya, video asli memperlihatkan pemberitaan kunjungan Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan ke Kantor Cabang Yogyakarta.
Ketika dikonfirmasi, Deputi Komunikasi BPJS Ketenagakerjaan, Oni Marbun juga memastikan narasi soal bantuan Rp 250 juta kepada TKI adalah hoaks dan mengarah pada penipuan.
Faktanya, video asli memperlihatkan pemberitaan kunjungan Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan ke Kantor Cabang Yogyakarta.
Ketika dikonfirmasi, Deputi Komunikasi BPJS Ketenagakerjaan, Oni Marbun juga memastikan narasi soal bantuan Rp 250 juta kepada TKI adalah hoaks dan mengarah pada penipuan.
Rujukan
(GFD-2025-27172) [KLARIFIKASI] Video Penemuan Candi Wisnu di Dasar Laut Bali adalah Rekayasa AI
Sumber:Tanggal publish: 27/05/2025
Berita
KOMPAS.com - Di media sosial beredar video yang diklaim menunjukkan penemuan Candi Wisnu, salah satu dewa utama dalam agama Hindu, di dasar laut Bali, Indonesia.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, video tersebut merupakan hasil rekayasa artificial intelligence (AI). Informasi dalam unggahan keliru dan perlu diluruskan.
Video yang diklaim menunjukkan penemuan Candi Wisnu di dasar laut Bali dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini, pada April dan Mei 2025.
Berikut narasi yang dibagikan (diterjemahkan ke bahasa Indonesia):
*"Candi Wisnu:"* ditemukan di bawah laut dekat Bali, Indonesia. Konon usianya sudah 5.000+ Tahun. Penduduk setempat menyebut tempat menyelam baru di "Pantai Pemuteran" ini sebagai *"Taman Candi Bawah Air, Bali."* Banyak patung ditemukan di bawah air laut di sana.
Video itu menampilkan sekelompok penyelam menjelajahi dasar laut dan menemukan kompleks bangunan kuno serta patung-patung di dalamnya.
Penelusuran Kompas.com
Tim Cek Fakta Kompas.com tidak menemukan pemberitaan kredibel mengenai penemuan Candi Wisnu di dasar laut Bali. Video itu juga tidak dimuat oleh media kredibel mana pun.
Sementara itu, Candi Wisnu menurut data Kemdikbud adalah salah satu candi di kompleks percandian Rara Jonggrang, yang berada di Dusun Karangasem, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Namun, bentuk Candi Wisnu yang berada di Sleman,DIY, berbeda dengan bangunan kuno yang ditampilkan dalam video Facebook.
Kemudian, Tim Cek Fakta Kompas.com mengecek keaslian video tersebut dengan Hive Moderation, yang dapat mendeteksi apakah sebuah konten dihasilkan dengan AI.
Hasil pemeriksaan Hive Moderation menunjukkan bahwa video yang diklaim menunjukkan Candi Wisnu di dasar laut Bali memiliki probabilitas 99,9 persen dihasilkan dengan AI.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, video tersebut merupakan hasil rekayasa artificial intelligence (AI). Informasi dalam unggahan keliru dan perlu diluruskan.
Video yang diklaim menunjukkan penemuan Candi Wisnu di dasar laut Bali dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini, pada April dan Mei 2025.
Berikut narasi yang dibagikan (diterjemahkan ke bahasa Indonesia):
*"Candi Wisnu:"* ditemukan di bawah laut dekat Bali, Indonesia. Konon usianya sudah 5.000+ Tahun. Penduduk setempat menyebut tempat menyelam baru di "Pantai Pemuteran" ini sebagai *"Taman Candi Bawah Air, Bali."* Banyak patung ditemukan di bawah air laut di sana.
Video itu menampilkan sekelompok penyelam menjelajahi dasar laut dan menemukan kompleks bangunan kuno serta patung-patung di dalamnya.
Penelusuran Kompas.com
Tim Cek Fakta Kompas.com tidak menemukan pemberitaan kredibel mengenai penemuan Candi Wisnu di dasar laut Bali. Video itu juga tidak dimuat oleh media kredibel mana pun.
Sementara itu, Candi Wisnu menurut data Kemdikbud adalah salah satu candi di kompleks percandian Rara Jonggrang, yang berada di Dusun Karangasem, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Namun, bentuk Candi Wisnu yang berada di Sleman,DIY, berbeda dengan bangunan kuno yang ditampilkan dalam video Facebook.
Kemudian, Tim Cek Fakta Kompas.com mengecek keaslian video tersebut dengan Hive Moderation, yang dapat mendeteksi apakah sebuah konten dihasilkan dengan AI.
Hasil pemeriksaan Hive Moderation menunjukkan bahwa video yang diklaim menunjukkan Candi Wisnu di dasar laut Bali memiliki probabilitas 99,9 persen dihasilkan dengan AI.
Hasil Cek Fakta
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, video yang diklaim menunjukkan penemuan Candi Wisnu di dasar laut Bali adalah informasi keliru.
Video tersebut memiliki probabilitas mencapai 99,9 persen dihasilkan dengan AI. Candi Wisnu juga tidak berlokasi di dasar laut Bali, melainkan di Sleman, DIY.
Video tersebut memiliki probabilitas mencapai 99,9 persen dihasilkan dengan AI. Candi Wisnu juga tidak berlokasi di dasar laut Bali, melainkan di Sleman, DIY.
Rujukan
(GFD-2025-27173) [KLARIFIKASI] Perjanjian Pandemi WHO Dipahami Secara Keliru
Sumber:Tanggal publish: 27/05/2025
Berita
KOMPAS.com - Perjanjian pandemi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yang telah disepakati negara anggota dipahami secara keliru.
Narasi di media sosial mengeklaim proses perumusan perjanjian tersebut tidak boleh diliput oleh media.
Ada pula narasi yang menyebutkan bahwa perjanjian pandemi WHO sebagai upaya kontrol dan bersifat paksaan.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut keliru dan perlu diluruskan.
Informasi mengenai perjanjian pandemi WHO tidak boleh diliput media dan berisifat paksaan disebarkan oleh akun Facebook ini dan ini.
Narasi yang beredar mencakup beberapa poin keliru seputar perjanjian pandemi WHO.
Berikut rangkumannya:
Narasi di media sosial mengeklaim proses perumusan perjanjian tersebut tidak boleh diliput oleh media.
Ada pula narasi yang menyebutkan bahwa perjanjian pandemi WHO sebagai upaya kontrol dan bersifat paksaan.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut keliru dan perlu diluruskan.
Informasi mengenai perjanjian pandemi WHO tidak boleh diliput media dan berisifat paksaan disebarkan oleh akun Facebook ini dan ini.
Narasi yang beredar mencakup beberapa poin keliru seputar perjanjian pandemi WHO.
Berikut rangkumannya:
Hasil Cek Fakta
Perjanjian pandemi WHO yang dimaksudkan dalam narasi yang beredar bersumber dari rilis WHO pada 19 Mei 2025.
Perjanjian pandemi yang dirancang tersebut melalui proses selama lebih dari tiga tahun, yang mulai dibahas selama pandemi Covid-19.
Tujuan utama perjanjian pandemi itu yakni menegosiasikan kesepakatan untuk mengatasi kesenjangan dan ketidakadilan dalam mencegah, menghadapi, dan menanggapi pandemi.
Perjanjian ini disepakati oleh 124 negara anggota, sementara 11 negara abstain.
Perjanjian tersebut menegaskan bahwa tidak ada pemberian wewenang kepada WHO terkait kekuasaan apa pun yang mengikat kebijakan nasional suatu negara.
"Tidak ada ketentuan dalam Perjanjian Pandemi WHO yang ditafsirkan sebagai pemberian kewenangan kepada Sekretariat WHO, termasuk Direktur Jenderal WHO, untuk mengarahkan, memerintahkan, mengubah atau menetapkan kebijakan nasional dan internasional," tulis WHO.
Dalam perjanjian yang telah disepakati disebutkan, setiap negara wajib menerapkan pendekatan yang melibatkan seluruh pemerintah dan seluruh masyarakat di tingkat nasional, sesuai dengan keadaan nasional.
Sehingga, narasi yang mengeklaim tidak adanya keterlibatan pemerintahan daerah tidak benar.
Adapun terkait informasi kesehatan suatu negara, tetap berpegang pada hukum internasional dan nasional yang berlaku.
Termasuk regulasi dan standar nasional atas penilaian risiko, biosafety, biosecurity, dan pengendalian ekspor patogen, serta perlindungan data.
Sebelumnya, perjanjian pandemi WHO dikaitkan dengan teori konspirasi yang disebut pandemic treaty.
Dilansir DW, perjanjian mengenai kesiapsiagaan pandemi dinegosiasikan antara 194 negara anggota WHO, tetapi WHO sendiri tidak dapat menentukan isi perjanjian tersebut.
WHO menyatakan, tidak terlibat dalam sertifikasi kesehatan digital nasional, maupun pengumpulan data pribadi.
Data kesehatan dan penyerahannya merupakan hak masing-masing negara untuk mengaturnya.
Perjanjian pandemi yang dirancang tersebut melalui proses selama lebih dari tiga tahun, yang mulai dibahas selama pandemi Covid-19.
Tujuan utama perjanjian pandemi itu yakni menegosiasikan kesepakatan untuk mengatasi kesenjangan dan ketidakadilan dalam mencegah, menghadapi, dan menanggapi pandemi.
Perjanjian ini disepakati oleh 124 negara anggota, sementara 11 negara abstain.
Perjanjian tersebut menegaskan bahwa tidak ada pemberian wewenang kepada WHO terkait kekuasaan apa pun yang mengikat kebijakan nasional suatu negara.
"Tidak ada ketentuan dalam Perjanjian Pandemi WHO yang ditafsirkan sebagai pemberian kewenangan kepada Sekretariat WHO, termasuk Direktur Jenderal WHO, untuk mengarahkan, memerintahkan, mengubah atau menetapkan kebijakan nasional dan internasional," tulis WHO.
Dalam perjanjian yang telah disepakati disebutkan, setiap negara wajib menerapkan pendekatan yang melibatkan seluruh pemerintah dan seluruh masyarakat di tingkat nasional, sesuai dengan keadaan nasional.
Sehingga, narasi yang mengeklaim tidak adanya keterlibatan pemerintahan daerah tidak benar.
Adapun terkait informasi kesehatan suatu negara, tetap berpegang pada hukum internasional dan nasional yang berlaku.
Termasuk regulasi dan standar nasional atas penilaian risiko, biosafety, biosecurity, dan pengendalian ekspor patogen, serta perlindungan data.
Sebelumnya, perjanjian pandemi WHO dikaitkan dengan teori konspirasi yang disebut pandemic treaty.
Dilansir DW, perjanjian mengenai kesiapsiagaan pandemi dinegosiasikan antara 194 negara anggota WHO, tetapi WHO sendiri tidak dapat menentukan isi perjanjian tersebut.
WHO menyatakan, tidak terlibat dalam sertifikasi kesehatan digital nasional, maupun pengumpulan data pribadi.
Data kesehatan dan penyerahannya merupakan hak masing-masing negara untuk mengaturnya.
Kesimpulan
Narasi mengenai perjanjian pandemi WHO tidak boleh diliput media dan berisifat paksaan merupakan informasi keliru.
WHO tidak terlibat dalam isi perjanjian, tetapi ditentukan sendiri oleh 194 negara anggota.
Tidak ada pemberian kewenangan kepada WHO dalam perjanjian tersebut, termasuk yang melebihi kepentingan nasional masing-masing negara.
WHO tidak terlibat dalam isi perjanjian, tetapi ditentukan sendiri oleh 194 negara anggota.
Tidak ada pemberian kewenangan kepada WHO dalam perjanjian tersebut, termasuk yang melebihi kepentingan nasional masing-masing negara.
Rujukan
- https://www.facebook.com/lucky.harmony.reborn/videos/3924853871070069/
- https://www.facebook.com/photo/?fbid=10212978565096553&set=a.3078625142314
- https://www.who.int/news/item/19-05-2025-member-states-approve-who-pandemic-agreement-in-world-health-assembly-committee--paving-way-for-its-formal-adoption
- https://www.who.int/news/item/20-05-2025-world-health-assembly-adopts-historic-pandemic-agreement-to-make-the-world-more-equitable-and-safer-from-future-pandemics
- https://apps.who.int/gb/ebwha/pdf_files/WHA78/A78_10-en.pdf
- https://www.dw.com/en/fact-check-conspiracy-theories-about-the-pandemic-treaty/a-65982226
- https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D
(GFD-2025-27136) Keliru: Klaim TBC Tiba-Tiba Ada
Sumber:Tanggal publish: 26/05/2025
Berita
SEBUAH akun di media sosial X [arsip] mengunggah tangkapan layar tentang TBC dari konten milik Manto Gudono, 15 Mei 2025. Konten tersebut berisi tangkapan layar berita online berjudul Ada 274 RW di Jakarta Berstatus Siaga TBC. Artikel dipublikasikan pada 14 Mei 2025 pukul 17.42 WIB. Agus Rahmad dan Fajar Ramadhan tercatat sebagai penulis.
Akun Manto Gudono menulis bahwa semua terjadi serba tiba-tiba. "Tiba-tiba Bill Gates datang, tiba-tiba Kadiskes mengumumkan status siaga TBC dan tiba-tiba disuntik vaksin," tulisnya.
Hingga Kamis 22 Mei 2025, konten itu telah dibagikan ulang 814 kali dan dilihat 2,2 juta kali. Namun, benarkah TBC tiba-tiba ada?
Akun Manto Gudono menulis bahwa semua terjadi serba tiba-tiba. "Tiba-tiba Bill Gates datang, tiba-tiba Kadiskes mengumumkan status siaga TBC dan tiba-tiba disuntik vaksin," tulisnya.
Hingga Kamis 22 Mei 2025, konten itu telah dibagikan ulang 814 kali dan dilihat 2,2 juta kali. Namun, benarkah TBC tiba-tiba ada?
Hasil Cek Fakta
Tim Cek Fakta Tempo memverifikasi klaim tersebut dengan layanan pencarian gambar terbalik dan wawancara ahli. Faktanya, tidak benar bahwa penyakit TBC muncul secara tiba-tiba. Sejarah mencatat penyakit ini sudah terdeteksi sejak lama.
Klaim ini muncul dihubungkan dengan rencana uji coba vaksin tuberkulosis (TB) yang dikembangkan oleh Bill Gates Foundation. Pendiri Microsoft itu datang ke Indonesia pada 7 Mei 2025.
Menurut Epidemiologi Indonesia dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman, penyakit tuberkulosis sudah ditemukan ribuan tahun sebelum masehi. Temuan arkeologi, teks kuno hingga rekaman kedokteran zaman dulu, sudah mendeteksi keberadaan TBC tersebut.
“Tuberkulosis sudah didokumentasikan terjadi ribuan tahun bahkan sebelum masehi,” kata Dicky Budiman kepada Tempo, 22 Mei 2025.
Pada kerangka tubuh mumi di Mesir yang berasal dari 2400-3400 SM, ditemukan gejala penyakit TBC. Di negara Asia, pemilik peradaban tertua adalah India dan Cina, sudah mendeteksi keberadaan penyakit ini. TBC sudah ada di India sejak 3300 tahun lalu sedangkan di Cina 2300 tahun lalu.
Pada masa Yunani, kata Dicky, TBC disebut sebagai consumption atau dalam bahasa Yunani, phthisis. Yunani merupakan salah satu pelopor ilmu pengetahuan. Penyakit ini ditulis dalam buku Hippocrates yang disebut sebagai penyakit mematikan, khususnya pada anak muda.
“Di Eropa, penyakit ini sudah ditemukan sejak era Renaissance. Di era modern setelah penemuan mikroskop, TBC sudah jauh lebih berkembang,” kata dia.
Situs Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melansir bahwa pada tahun 1882, penyakit TB telah membunuh satu dari tujuh orang di Amerika Serikat dan Eropa. Dr. Robert Koch mengumumkan penemuan Mycobacterium tuberculosis (MT), kuman penyebab tuberkulosis pada tanggal 24 Maret 1882. Komunitas kesehatan global menetapkan tanggal 24 Maret sebagai Hari TB Sedunia. Penemuan Dr. Koch ini sangat penting dalam upaya pemberantasan penyakit TBC.
Tahun 1700-an, orang-orang menyebut penyakit TB sebagai "wabah putih" karena kulit penderita TB pucat. Kemudian di tahun 1800-an, orang-orang menyebutnya sebagai "konsumsi”. Hingga akhirnya pada tahun 1834, Johann Schonlein menamai penyakit tersebut tuberkulosis. Clemens von Pirquet menciptakan istilah "infeksi TB laten" untuk merujuk pada TB tidak aktif pada tahun 1909.
Dikutip dari situs National Library of Medicine, genus Mycobacterium berasal lebih dari 150 juta tahun yang lalu. MT memiliki asal usul yang sangat kuno.
Penyakit ini telah bertahan selama lebih dari 70.000 tahun dan saat ini menginfeksi hampir 2 miliar orang di seluruh dunia dengan sekitar 10,4 juta kasus baru TBC setiap tahunnya. Hampir sepertiga dari populasi dunia adalah pembawa basil TBC dan berisiko untuk mengembangkan penyakit aktif.
Dokter spesialis paru dari RS Persahabatan Jakarta, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR mengatakan, berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024, Indonesia berada pada peringkat dua penderita TBC terbanyak di dunia setelah India. Angkanya mencapai 1.060.000 kasus dengan angka kematian 134.000 jiwa.
“Setiap kali praktik, kami selalu menemukan pasien dengan TB ini. Angka TB kita tinggi setiap tahunnya,” kata Agus kepada Tempo, Senin, 26 Mei 2025.
Data TB Indonesia dalam rentang waktu 10 tahun terakhir bisa dilihat di sini.
Menurut Agus, penyakit TB sudah ada sejak lama di Indonesia. Bahkan sejak jaman kerajaan dulu. Agus menyebut keliru bila ada klaim yang mengatakan bahwa penyakit ini tiba-tiba saja ada di Indonesia.
Tangkapan Layar Berita Online
Dari hasil penelusuran Tempo, tangkapan layar berita berjudul Ada 274 RW di Jakarta Berstatus Siaga TBC diambil dari artikel yang publikasikan oleh situs media Viva.co.id pada 14 Mei 2025 pukul 17.42 WIB. Baik judul, foto Kepala Dinas Kesehatan Jakarta, tanggal terbit hingga nama penulis, menunjukkan kesamaan.
Dalam berita tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Jakarta mengatakan bahwa angka kasus TBC di Jakarta terbilang tinggi. Sehingga untuk menekan angka penularannya, Dinas Kesehatan melakukan pengendalian kasus TBC dengan basis komunitas.
“Kami sudah memiliki 274 RW yang statusnya sudah siaga TBC,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jakarta, Ani Ruspitawati di Rusunawa Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, Rabu 14 Mei 2025.
Ani meminta masyarakat yang merasa dirinya pernah melakukan kontak erat dengan penderita penyakit TBC untuk memeriksakan diri. Pemerintah Provinsi Jakarta membentuk Pasukan Putih yang salah satu tujuannya tracing kasus TBC di tengah-tengah masyarakat. Pasukan Putih akan berkeliling ke masyarakat dengan mendatangi langsung, khususnya warga yang termasuk lanjut usia (lansia), untuk pelayanan kesehatan.
Klaim ini muncul dihubungkan dengan rencana uji coba vaksin tuberkulosis (TB) yang dikembangkan oleh Bill Gates Foundation. Pendiri Microsoft itu datang ke Indonesia pada 7 Mei 2025.
Menurut Epidemiologi Indonesia dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman, penyakit tuberkulosis sudah ditemukan ribuan tahun sebelum masehi. Temuan arkeologi, teks kuno hingga rekaman kedokteran zaman dulu, sudah mendeteksi keberadaan TBC tersebut.
“Tuberkulosis sudah didokumentasikan terjadi ribuan tahun bahkan sebelum masehi,” kata Dicky Budiman kepada Tempo, 22 Mei 2025.
Pada kerangka tubuh mumi di Mesir yang berasal dari 2400-3400 SM, ditemukan gejala penyakit TBC. Di negara Asia, pemilik peradaban tertua adalah India dan Cina, sudah mendeteksi keberadaan penyakit ini. TBC sudah ada di India sejak 3300 tahun lalu sedangkan di Cina 2300 tahun lalu.
Pada masa Yunani, kata Dicky, TBC disebut sebagai consumption atau dalam bahasa Yunani, phthisis. Yunani merupakan salah satu pelopor ilmu pengetahuan. Penyakit ini ditulis dalam buku Hippocrates yang disebut sebagai penyakit mematikan, khususnya pada anak muda.
“Di Eropa, penyakit ini sudah ditemukan sejak era Renaissance. Di era modern setelah penemuan mikroskop, TBC sudah jauh lebih berkembang,” kata dia.
Situs Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melansir bahwa pada tahun 1882, penyakit TB telah membunuh satu dari tujuh orang di Amerika Serikat dan Eropa. Dr. Robert Koch mengumumkan penemuan Mycobacterium tuberculosis (MT), kuman penyebab tuberkulosis pada tanggal 24 Maret 1882. Komunitas kesehatan global menetapkan tanggal 24 Maret sebagai Hari TB Sedunia. Penemuan Dr. Koch ini sangat penting dalam upaya pemberantasan penyakit TBC.
Tahun 1700-an, orang-orang menyebut penyakit TB sebagai "wabah putih" karena kulit penderita TB pucat. Kemudian di tahun 1800-an, orang-orang menyebutnya sebagai "konsumsi”. Hingga akhirnya pada tahun 1834, Johann Schonlein menamai penyakit tersebut tuberkulosis. Clemens von Pirquet menciptakan istilah "infeksi TB laten" untuk merujuk pada TB tidak aktif pada tahun 1909.
Dikutip dari situs National Library of Medicine, genus Mycobacterium berasal lebih dari 150 juta tahun yang lalu. MT memiliki asal usul yang sangat kuno.
Penyakit ini telah bertahan selama lebih dari 70.000 tahun dan saat ini menginfeksi hampir 2 miliar orang di seluruh dunia dengan sekitar 10,4 juta kasus baru TBC setiap tahunnya. Hampir sepertiga dari populasi dunia adalah pembawa basil TBC dan berisiko untuk mengembangkan penyakit aktif.
Dokter spesialis paru dari RS Persahabatan Jakarta, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR mengatakan, berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024, Indonesia berada pada peringkat dua penderita TBC terbanyak di dunia setelah India. Angkanya mencapai 1.060.000 kasus dengan angka kematian 134.000 jiwa.
“Setiap kali praktik, kami selalu menemukan pasien dengan TB ini. Angka TB kita tinggi setiap tahunnya,” kata Agus kepada Tempo, Senin, 26 Mei 2025.
Data TB Indonesia dalam rentang waktu 10 tahun terakhir bisa dilihat di sini.
Menurut Agus, penyakit TB sudah ada sejak lama di Indonesia. Bahkan sejak jaman kerajaan dulu. Agus menyebut keliru bila ada klaim yang mengatakan bahwa penyakit ini tiba-tiba saja ada di Indonesia.
Tangkapan Layar Berita Online
Dari hasil penelusuran Tempo, tangkapan layar berita berjudul Ada 274 RW di Jakarta Berstatus Siaga TBC diambil dari artikel yang publikasikan oleh situs media Viva.co.id pada 14 Mei 2025 pukul 17.42 WIB. Baik judul, foto Kepala Dinas Kesehatan Jakarta, tanggal terbit hingga nama penulis, menunjukkan kesamaan.
Dalam berita tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Jakarta mengatakan bahwa angka kasus TBC di Jakarta terbilang tinggi. Sehingga untuk menekan angka penularannya, Dinas Kesehatan melakukan pengendalian kasus TBC dengan basis komunitas.
“Kami sudah memiliki 274 RW yang statusnya sudah siaga TBC,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jakarta, Ani Ruspitawati di Rusunawa Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, Rabu 14 Mei 2025.
Ani meminta masyarakat yang merasa dirinya pernah melakukan kontak erat dengan penderita penyakit TBC untuk memeriksakan diri. Pemerintah Provinsi Jakarta membentuk Pasukan Putih yang salah satu tujuannya tracing kasus TBC di tengah-tengah masyarakat. Pasukan Putih akan berkeliling ke masyarakat dengan mendatangi langsung, khususnya warga yang termasuk lanjut usia (lansia), untuk pelayanan kesehatan.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemeriksaan fakta, Tim Cek Fakta Tempo menyimpulkan bahwa klaim TBC tiba-tiba ada adalah keliru.
Rujukan
- https://x.com/JurnalAkuntansi/status/1922966035436646618?t=6xJz_WHBKQVXcRBZKbmL-g&s=19
- https://mvau.lt/media/221c4ddf-07a5-4a84-a5a5-e8f59a92b0a2
- https://www-cdc-gov.translate.goog/world-tb-day/history/index.html?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sc
- https://www-cdc-gov.translate.goog/tb/about/active-tuberculosis-disease.html?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sc
- https://www-cdc-gov.translate.goog/tb/about/inactive-tuberculosis.html?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sc
- https://pmc-ncbi-nlm-nih-gov.translate.goog/articles/PMC5432783/?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
- https://data.goodstats.id/statistic/data-jumlah-kasus-tuberkulosis-di-indonesia-dalam-10-tahun-terakhir-dxRL1
- https://www.viva.co.id/berita/metro/1823391-ada-274-rw-di-jakarta-berstatus-siaga-tbc#google_vignette
Halaman: 1780/7940
