tirto.id - Beredar video di media sosial Facebook yang mengklaim sejumlah tikus terinfeksi hantavirus sengaja disebarkan dari sebuah truk di jalanan.
Video tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama “Melts in Oven” (arsip) pada Senin (11/05/2026). Gambar tersebut memperlihatkan sejumlah tikus keluar dari lubang yang berada di bagian belakang truk berwarna merah dan melompat ke jalanan.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“What the... are those rats? Oh, no way. They keep coming out of there. Whoa, look at them. Jesus.” Begitu narasi diucapkan dalam video.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Pengunggah juga menuliskan keterangan pada unggahan: “Organisasi Kesehatan Dunia telah mengumumkan mengenai hantavirus yang menyebar dari tikus. Menurut beberapa sumber, tikus sengaja dilepaskan ke kota. Debat berlanjut pada apakah tikus-tikus ini telah disuntikkan dengan Hantavirus, dan kekhawatiran terus berkembang.”
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (19/05/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 158 likes, 49 komentar, 69 kali dibagikan, dan 147 ribu kali ditayangkan. Kolom komentar dipenuhi reaksi ketidakpercayaan dan pertanyaan masyarakat terkait kebenaran informasi tersebut.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “David Lee”, dan akun X @suryaden, unggahan tersebut menampilkan video serupa terkait tikus yang disebar dari truk yang diklaim terinfeksi hantavirus.
Lantas, benarkah truk tersebut sengaja membawa tikus terinfeksi hantavirus yang disebarkan di jalan?
Baca juga:Hoaks, Hantavirus Efek Samping dari Vaksin Pfizer
Periksa Fakta Penyebaran Hantavirus. foto/Fuad
(GFD-2026-34856) Salah, Video Tikus Terinfeksi Hantavirus Disebar Truk di Jalan
Sumber:Tanggal publish: 20/05/2026
Berita
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasilnya mengarah pada laman Misbar yang menyatakan bahwa video yang beredar, yang menunjukkan sebuah truk melaju di jalan, sementara puluhan tikus tampak melompat dari bagian belakangnya, dimana adegan tersebut direkam oleh pengemudi mobil di belakangnya, adalah hoaks. Video tersebut dihasilkan oleh AI.
Pengunggah yang membagikan rekaman tersebut mengklaim bahwa tikus-tikus itu sengaja dilepaskan untuk menyebarkan infeksi hantavirus, yang baru-baru ini menarik perhatian luas menyusul laporan infeksi dan kematian di atas kapal Belanda. Namun, visual pada klip tersebut mengungkapkan beberapa indikator yang tidak logis yang mendukung kesimpulan bahwa itu manipulasi digital.
Kemudian, Tirto menonton secara menyeluruh dan menemukan sejumlah kejanggalan, terutama pada gerakan tikus-tikus yang tampak tidak alami, dengan pola lompatan dan gerakan berulang yang menyerupai animasi otomatis. Selain itu, bagian belakang truk tidak memiliki detail lalu lintas umum seperti plat nomor, angka, tanda reflektif, dan rambu peringatan, yang memperkuat kesimpulan bahwa rekaman tersebut dihasilkan oleh AI.
Untuk memastikannya, kami menggunakan situs Hive Moderation untuk mengetahui persentase penggunaan AI dalam video. Hasil analisis menunjukkan bahwa video tersebut memiliki probabilitas 86,2 persen sebagai hasil manipulasi AI.
Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Tikus terinfeksi hantavirus disebarkan truk” pada laman pencarian Google. Hasilnya mengarah pada laman Kompas yang menyatakan bahwa video yang beredar merupakan hasil manipulasi artificial intelligence (AI).
Ditemukan video asli dalam akun Instagram @ai.marynyuk yang diunggah pada 13 Maret 2026, yang menampilkan video identik dengan gambar truk yang sama. Akun tersebut menyertakan keterangan bahwa video itu dibuat dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Selain itu, tidak ada keterangan bahwa tikus dalam video terinfeksi hantavirus.
Dengan demikian, klaim bahwa tikus yang disebarkan oleh truk tersebut terinfeksi hantavirus tidak berdasar dan tidak didukung oleh fakta.
Dalam rangkuman Tirto, hantavirus menyebabkan penyakit seperti Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Seseorang dapat tertular hantavirus melalui kontak dengan hewan pengerat seperti tikus dan mencit.
Adapun penyebaran hantavirus dapat terjadi jika terpapar urin, kotoran, dan air liur hewan pengerat. Virus ini juga dapat menyebar melalui gigitan atau cakaran tikus dan hewan pengerat lainnya.
Penelitian dan dokumentasi medis menunjukkan bahwa infeksi hantavirus berpotensi tinggi terjadi ketika manusia melakukan kontak dengan urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang telah terinfeksi. Sampai saat ini, penularan hantavirus dari manusia ke manusia hanya ditemukan pada hantavirus Andes. Penularan semacam ini diduga disebabkan oleh kontak dekat dan berkepanjangan.
Baca juga:Pakar Minta Kemenkes Jelaskan Detail Kasus Kematian Hantavirus
Pengunggah yang membagikan rekaman tersebut mengklaim bahwa tikus-tikus itu sengaja dilepaskan untuk menyebarkan infeksi hantavirus, yang baru-baru ini menarik perhatian luas menyusul laporan infeksi dan kematian di atas kapal Belanda. Namun, visual pada klip tersebut mengungkapkan beberapa indikator yang tidak logis yang mendukung kesimpulan bahwa itu manipulasi digital.
Kemudian, Tirto menonton secara menyeluruh dan menemukan sejumlah kejanggalan, terutama pada gerakan tikus-tikus yang tampak tidak alami, dengan pola lompatan dan gerakan berulang yang menyerupai animasi otomatis. Selain itu, bagian belakang truk tidak memiliki detail lalu lintas umum seperti plat nomor, angka, tanda reflektif, dan rambu peringatan, yang memperkuat kesimpulan bahwa rekaman tersebut dihasilkan oleh AI.
Untuk memastikannya, kami menggunakan situs Hive Moderation untuk mengetahui persentase penggunaan AI dalam video. Hasil analisis menunjukkan bahwa video tersebut memiliki probabilitas 86,2 persen sebagai hasil manipulasi AI.
Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Tikus terinfeksi hantavirus disebarkan truk” pada laman pencarian Google. Hasilnya mengarah pada laman Kompas yang menyatakan bahwa video yang beredar merupakan hasil manipulasi artificial intelligence (AI).
Ditemukan video asli dalam akun Instagram @ai.marynyuk yang diunggah pada 13 Maret 2026, yang menampilkan video identik dengan gambar truk yang sama. Akun tersebut menyertakan keterangan bahwa video itu dibuat dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Selain itu, tidak ada keterangan bahwa tikus dalam video terinfeksi hantavirus.
Dengan demikian, klaim bahwa tikus yang disebarkan oleh truk tersebut terinfeksi hantavirus tidak berdasar dan tidak didukung oleh fakta.
Dalam rangkuman Tirto, hantavirus menyebabkan penyakit seperti Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Seseorang dapat tertular hantavirus melalui kontak dengan hewan pengerat seperti tikus dan mencit.
Adapun penyebaran hantavirus dapat terjadi jika terpapar urin, kotoran, dan air liur hewan pengerat. Virus ini juga dapat menyebar melalui gigitan atau cakaran tikus dan hewan pengerat lainnya.
Penelitian dan dokumentasi medis menunjukkan bahwa infeksi hantavirus berpotensi tinggi terjadi ketika manusia melakukan kontak dengan urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang telah terinfeksi. Sampai saat ini, penularan hantavirus dari manusia ke manusia hanya ditemukan pada hantavirus Andes. Penularan semacam ini diduga disebabkan oleh kontak dekat dan berkepanjangan.
Baca juga:Pakar Minta Kemenkes Jelaskan Detail Kasus Kematian Hantavirus
Kesimpulan
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa unggahan video yang mengklaim bahwa tikus terinfeksi hantavirus sengaja disebarkan oleh truk di jalan bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).
Hasil analisis menunjukkan bahwa video yang beredar terindikasi kuat merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan (AI).
Klaim yang menyebut bahwa tikus yang disebarkan oleh truk tersebut terinfeksi hantavirus merupakan video manipulasi dan tidak berdasar pada fakta yang kredibel
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Hasil analisis menunjukkan bahwa video yang beredar terindikasi kuat merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan (AI).
Klaim yang menyebut bahwa tikus yang disebarkan oleh truk tersebut terinfeksi hantavirus merupakan video manipulasi dan tidak berdasar pada fakta yang kredibel
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
- https://www.facebook.com/reel/1452424296640010
- https://archive.today/gV6Nu
- https://www.facebook.com/reel/1967239630560675
- https://x.com/suryaden/status/2053611792753160201
- https://tirto.id/hoaks-hantavirus-efek-samping-dari-vaksin-pfizer-hwiZ
- https://www.misbar.com/en/factcheck/2026/05/11/does-video-show-truck-throwing-rats-road-spread-hantavirus
- https://hivemoderation.com/ai-generated-content-detection
- https://www.kompas.com/cekfakta/read/2026/05/18/154000882/-hoaks-video-sejumlah-tikus-terinfeksi-hantavirus-disebar-menggunakan
- https://www.instagram.com/reels/DVzBKMGjeyR/
- https://tirto.id/apa-saja-gejala-hantavirus-bagaimana-cara-mengobatinya-hvCa
- https://tirto.id/pakar-minta-kemenkes-jelaskan-detail-kasus-kematian-hantavirus-hwjm
(GFD-2026-34602) Tidak Benar, Kapolri Pekerjakan 1000 Narapidana Masak MBG
Sumber:Tanggal publish: 20/05/2026
Berita
tirto.id - Beredar unggahan di media sosial Facebook yang mengklaim Kepala Kepolisian Negara RI mempekerjakan 1000 narapidana untuk memasak makanan makan siang bergizi gratis (MBG).
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Siantar Nexspart” (arsip) pada Rabu (29/04/2026). Unggahan memperlihatkan gambar beberapa orang pekerja SPPG mengenakan seragam biru dengan foto dari belakang, dan di bagian bawah terlihat gambar jajaran Kapolri, salah satunya Listyo Sigit Prabowo.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“1000 nara pidana di pekerjakan untuk masak MBG, jika ada yg keracunan jgn lapor polisi itu konyol.” Begitu narasi tertulis dalam gambar.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Pengunggah juga menambahkan keterangan dalam unggahan: “Kapolri menegaskan "Kesatuannya menugaskan 1.000 nara pidana untuk bekerja memasak makanan MBG. Kegiatan ini guna memberikan nilai bagi kepolisian untuk mengurangi biaya kariawan. Untuk masalah keracunan di himbau jangan pernah lapor ke polisi itu sama saja Konyol karena Ribuan dapur MBG di kelolah oleh kapolri.”
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (19/05/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 1,9 ribu likes, 404 komentar, dan 146 kali dibagikan. Kolom komentar dipenuhi dengan reaksi kekecewaan masyarakat dan kritik negatif terhadap Kapolri.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook @Herliani Herliani, Instagram @nurhadi_vlog dan YouTube @bambanghermansyah2239. Unggahan tersebut menampilkan gambar serupa terkait Kapolri yang mempekerjakan narapidana untuk memasak MBG.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?
Baca juga:Polri Bangun 1.376 SPPG MBG, Target Dirikan 1.500 Tahun 2026
Periksa Fakta 1000 Napi. foto/Periksa Fakta tirto
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Siantar Nexspart” (arsip) pada Rabu (29/04/2026). Unggahan memperlihatkan gambar beberapa orang pekerja SPPG mengenakan seragam biru dengan foto dari belakang, dan di bagian bawah terlihat gambar jajaran Kapolri, salah satunya Listyo Sigit Prabowo.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“1000 nara pidana di pekerjakan untuk masak MBG, jika ada yg keracunan jgn lapor polisi itu konyol.” Begitu narasi tertulis dalam gambar.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Pengunggah juga menambahkan keterangan dalam unggahan: “Kapolri menegaskan "Kesatuannya menugaskan 1.000 nara pidana untuk bekerja memasak makanan MBG. Kegiatan ini guna memberikan nilai bagi kepolisian untuk mengurangi biaya kariawan. Untuk masalah keracunan di himbau jangan pernah lapor ke polisi itu sama saja Konyol karena Ribuan dapur MBG di kelolah oleh kapolri.”
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (19/05/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 1,9 ribu likes, 404 komentar, dan 146 kali dibagikan. Kolom komentar dipenuhi dengan reaksi kekecewaan masyarakat dan kritik negatif terhadap Kapolri.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook @Herliani Herliani, Instagram @nurhadi_vlog dan YouTube @bambanghermansyah2239. Unggahan tersebut menampilkan gambar serupa terkait Kapolri yang mempekerjakan narapidana untuk memasak MBG.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?
Baca juga:Polri Bangun 1.376 SPPG MBG, Target Dirikan 1.500 Tahun 2026
Periksa Fakta 1000 Napi. foto/Periksa Fakta tirto
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasil penelusuran mengarah pada Instagram @humaspoldajabar yang menyatakan bahwa klaim mencatut nama Polri yang mempekerjakan ribuan narapidana untuk memasak di dapur MBG pada akun Facebook “Siantar Nexspart” dengan narasi: “1.000 Narapidana dipekerjakan untuk masak MBG, Jika ada yang keracunan jangan lapor Polisi, itu konyol” adalah konten palsu (fabricated content).
Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Kapolri pekerjakan 1000 narapidana di dapur MBG” pada mesin pencarian Google. Hasilnya mengarah pada laman Kompas yang menyatakan bahwa tidak ditemukan pernyataan Kapolri Listyo Sigit yang memerintahkan 10.000 narapidana untuk memasak MBG.
Sebagai informasi, Kepolisian RI tidak bertanggung jawab langsung secara administratif atas pengelolaan Lapas. Sehingga, kepolisian tidak memiliki kewenangan untuk mengerahkan narapidana untuk membantu program MBG. Meski demikian, sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) memang memberdayakan warga binaan untuk membantu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Misalnya, Lapas Kelas I Sukamiskin, Kota Bandung, Jawa Barat, mengadakan skema kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Arcamani yang memanfaatkan dapur lapas menjadi dapur MBG.
Menurut Adita Irawati, Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan, terdapat lebih dari 47 warga binaan yang turut menyiapkan bahan makanan, memasak, hingga mencuci peralatan. Ada pula Lapas Kelas I Tangerang yang bekerja sama dengan SPPG Babakan.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen Pas) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Mashudi, mengatakan ada 70 lokasi Lapas yang dimanfaatkan menjadi SPPG atau dapur MBG. Meski demikian, hingga kini jumlah narapidana yang membantu program MBG belum mencapai 1.000 orang.
Melansir Radar Cirebon, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Babakan, Kota Tangerang, Banten, juga melibatkan operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Tangerang, namun prosesnya telah melalui proses seleksi yang ketat, termasuk mengikuti tes psikologis dan kesehatan.
Head Chef SPPG Babakan, Chef Kuming, menegaskan bahwa tenaga kerja dari warga binaan tak dipilih secara sembarangan, melainkan melalui tahap penyaringan berlapis.
“Mereka (warga binaan) ini tuh bukan orang-orang sembarangan, dalam artian mereka sudah dites dari psikologi, dari kesehatannya, dan segala macam secara ketat,” begitu keterangan Chef Kuming saat diwawancarai SPPG Babakan, Kota Tangerang, Banten, Kamis (23/4/2026).
Kolaborasi antara SPPG Babakan dan Lapas Kelas 1 Tangerang menjadi sarana pelatihan bagi warga binaan yang segera kembali ke masyarakat, melibatkan 11 narapidana yang dipekerjakan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Babakan di Tangerang untuk mencuci ompreng, bukan memasak. Head Chef SPPG tersebut menjelaskan bahwa narapidana yang dipekerjakan telah melalui serangkaian seleksi ketat dari kepolisian maupun dari SPPG.
Sampai artikel ini ditulis, tidak ditemukan laporan resmi maupun pemberitaan kredibel yang menyebut Kepolisian Republik Indonesia (Polri) melibatkan ribuan narapidana sebagai juru masak di dapur SPPG.
Baca juga:Prabowo Sebut MBG & Dana Desa Bikin Rp10,8 M Beredar di Desa
Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Kapolri pekerjakan 1000 narapidana di dapur MBG” pada mesin pencarian Google. Hasilnya mengarah pada laman Kompas yang menyatakan bahwa tidak ditemukan pernyataan Kapolri Listyo Sigit yang memerintahkan 10.000 narapidana untuk memasak MBG.
Sebagai informasi, Kepolisian RI tidak bertanggung jawab langsung secara administratif atas pengelolaan Lapas. Sehingga, kepolisian tidak memiliki kewenangan untuk mengerahkan narapidana untuk membantu program MBG. Meski demikian, sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) memang memberdayakan warga binaan untuk membantu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Misalnya, Lapas Kelas I Sukamiskin, Kota Bandung, Jawa Barat, mengadakan skema kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Arcamani yang memanfaatkan dapur lapas menjadi dapur MBG.
Menurut Adita Irawati, Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan, terdapat lebih dari 47 warga binaan yang turut menyiapkan bahan makanan, memasak, hingga mencuci peralatan. Ada pula Lapas Kelas I Tangerang yang bekerja sama dengan SPPG Babakan.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen Pas) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Mashudi, mengatakan ada 70 lokasi Lapas yang dimanfaatkan menjadi SPPG atau dapur MBG. Meski demikian, hingga kini jumlah narapidana yang membantu program MBG belum mencapai 1.000 orang.
Melansir Radar Cirebon, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Babakan, Kota Tangerang, Banten, juga melibatkan operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Tangerang, namun prosesnya telah melalui proses seleksi yang ketat, termasuk mengikuti tes psikologis dan kesehatan.
Head Chef SPPG Babakan, Chef Kuming, menegaskan bahwa tenaga kerja dari warga binaan tak dipilih secara sembarangan, melainkan melalui tahap penyaringan berlapis.
“Mereka (warga binaan) ini tuh bukan orang-orang sembarangan, dalam artian mereka sudah dites dari psikologi, dari kesehatannya, dan segala macam secara ketat,” begitu keterangan Chef Kuming saat diwawancarai SPPG Babakan, Kota Tangerang, Banten, Kamis (23/4/2026).
Kolaborasi antara SPPG Babakan dan Lapas Kelas 1 Tangerang menjadi sarana pelatihan bagi warga binaan yang segera kembali ke masyarakat, melibatkan 11 narapidana yang dipekerjakan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Babakan di Tangerang untuk mencuci ompreng, bukan memasak. Head Chef SPPG tersebut menjelaskan bahwa narapidana yang dipekerjakan telah melalui serangkaian seleksi ketat dari kepolisian maupun dari SPPG.
Sampai artikel ini ditulis, tidak ditemukan laporan resmi maupun pemberitaan kredibel yang menyebut Kepolisian Republik Indonesia (Polri) melibatkan ribuan narapidana sebagai juru masak di dapur SPPG.
Baca juga:Prabowo Sebut MBG & Dana Desa Bikin Rp10,8 M Beredar di Desa
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyatakan bahwa Kapolri mempekerjakan 1000 narapidana untuk memasak di dapur MBG adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Sejumlah Lapas memang memanfaatkan dapur dan warga binaan untuk membantu program MBG. Namun, Kepolisian RI tidak bertanggung jawab langsung secara administratif atas pengelolaan Lapas dan tidak memiliki kewenangan untuk mengerahkan narapidana untuk membantu program MBG.
Kapolri Listyo Sigit tidak pernah memerintahkan 1000 narapidana untuk memasak MBG. Sampai artikel ini ditulis, tidak ditemukan informasi yang membenarkan klaim tersebut.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Sejumlah Lapas memang memanfaatkan dapur dan warga binaan untuk membantu program MBG. Namun, Kepolisian RI tidak bertanggung jawab langsung secara administratif atas pengelolaan Lapas dan tidak memiliki kewenangan untuk mengerahkan narapidana untuk membantu program MBG.
Kapolri Listyo Sigit tidak pernah memerintahkan 1000 narapidana untuk memasak MBG. Sampai artikel ini ditulis, tidak ditemukan informasi yang membenarkan klaim tersebut.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
- https://www.facebook.com/photo/?fbid=5007556236137253&set=a.3307261749430638&_rdc=1&_rdr#
- https://web.archive.org/web/20260519041408/
- https://www.facebook.com/login/?next=
- https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fphoto%2F%3Ffbid%3D5007556236137253%26set%3Da.3307261749430638
- https://www.facebook.com/DedekHerlianiAdja/posts/kapolri-menegaskan-kesatuannya-menugaskan-1000-nara-pidana-untuk-bekerja-memasak/122243400290291833/
- https://www.instagram.com/p/DXwNfogilCf/?__d=1%253Futm_source%253Dig_embed
- https://www.youtube.com/shorts/Cd0Z_sTq_Yg
- https://tirto.id/polri-bangun-1376-sppg-mbg-target-dirikan-1500-tahun-2026-hwg2
- https://www.instagram.com/p/DYWfrg7CUP_/
- https://www.kompas.com/cekfakta/read/2026/05/15/164800982/-klarifikasi-narasi-keliru-kapolri-perintahkan-narapidana-memasak-mbg?page=all
- https://radarcirebon.disway.id/nasional/read/219754/pekerjakan-napi-di-dapur-mbg-sppg-tangerang-pastikan-sudah-lewati-proses-tes-psikologi-ketat
- https://tirto.id/prabowo-sebut-mbg-dana-desa-bikin-rp108-m-beredar-di-desa-hwgP
(GFD-2026-34603) Salah, Video Tikus Terinfeksi Hantavirus Disebar Truk di Jalan
Sumber:Tanggal publish: 20/05/2026
Berita
tirto.id - Beredar video di media sosial Facebook yang mengklaim sejumlah tikus terinfeksi hantavirus sengaja disebarkan dari sebuah truk di jalanan.
Video tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama “Melts in Oven” (arsip) pada Senin (11/05/2026). Gambar tersebut memperlihatkan sejumlah tikus keluar dari lubang yang berada di bagian belakang truk berwarna merah dan melompat ke jalanan.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“What the... are those rats? Oh, no way. They keep coming out of there. Whoa, look at them. Jesus.” Begitu narasi diucapkan dalam video.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Pengunggah juga menuliskan keterangan pada unggahan: “Organisasi Kesehatan Dunia telah mengumumkan mengenai hantavirus yang menyebar dari tikus. Menurut beberapa sumber, tikus sengaja dilepaskan ke kota. Debat berlanjut pada apakah tikus-tikus ini telah disuntikkan dengan Hantavirus, dan kekhawatiran terus berkembang.”
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (19/05/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 158 likes, 49 komentar, 69 kali dibagikan, dan 147 ribu kali ditayangkan. Kolom komentar dipenuhi reaksi ketidakpercayaan dan pertanyaan masyarakat terkait kebenaran informasi tersebut.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “David Lee”, dan akun X @suryaden, unggahan tersebut menampilkan video serupa terkait tikus yang disebar dari truk yang diklaim terinfeksi hantavirus.
Lantas, benarkah truk tersebut sengaja membawa tikus terinfeksi hantavirus yang disebarkan di jalan?
Baca juga:Hoaks, Hantavirus Efek Samping dari Vaksin Pfizer
Periksa Fakta Penyebaran Hantavirus. foto/Fuad
Video tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama “Melts in Oven” (arsip) pada Senin (11/05/2026). Gambar tersebut memperlihatkan sejumlah tikus keluar dari lubang yang berada di bagian belakang truk berwarna merah dan melompat ke jalanan.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“What the... are those rats? Oh, no way. They keep coming out of there. Whoa, look at them. Jesus.” Begitu narasi diucapkan dalam video.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Pengunggah juga menuliskan keterangan pada unggahan: “Organisasi Kesehatan Dunia telah mengumumkan mengenai hantavirus yang menyebar dari tikus. Menurut beberapa sumber, tikus sengaja dilepaskan ke kota. Debat berlanjut pada apakah tikus-tikus ini telah disuntikkan dengan Hantavirus, dan kekhawatiran terus berkembang.”
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (19/05/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 158 likes, 49 komentar, 69 kali dibagikan, dan 147 ribu kali ditayangkan. Kolom komentar dipenuhi reaksi ketidakpercayaan dan pertanyaan masyarakat terkait kebenaran informasi tersebut.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “David Lee”, dan akun X @suryaden, unggahan tersebut menampilkan video serupa terkait tikus yang disebar dari truk yang diklaim terinfeksi hantavirus.
Lantas, benarkah truk tersebut sengaja membawa tikus terinfeksi hantavirus yang disebarkan di jalan?
Baca juga:Hoaks, Hantavirus Efek Samping dari Vaksin Pfizer
Periksa Fakta Penyebaran Hantavirus. foto/Fuad
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasilnya mengarah pada laman Misbar yang menyatakan bahwa video yang beredar, yang menunjukkan sebuah truk melaju di jalan, sementara puluhan tikus tampak melompat dari bagian belakangnya, dimana adegan tersebut direkam oleh pengemudi mobil di belakangnya, adalah hoaks. Video tersebut dihasilkan oleh AI.
Pengunggah yang membagikan rekaman tersebut mengklaim bahwa tikus-tikus itu sengaja dilepaskan untuk menyebarkan infeksi hantavirus, yang baru-baru ini menarik perhatian luas menyusul laporan infeksi dan kematian di atas kapal Belanda. Namun, visual pada klip tersebut mengungkapkan beberapa indikator yang tidak logis yang mendukung kesimpulan bahwa itu manipulasi digital.
Kemudian, Tirto menonton secara menyeluruh dan menemukan sejumlah kejanggalan, terutama pada gerakan tikus-tikus yang tampak tidak alami, dengan pola lompatan dan gerakan berulang yang menyerupai animasi otomatis. Selain itu, bagian belakang truk tidak memiliki detail lalu lintas umum seperti plat nomor, angka, tanda reflektif, dan rambu peringatan, yang memperkuat kesimpulan bahwa rekaman tersebut dihasilkan oleh AI.
Untuk memastikannya, kami menggunakan situs Hive Moderation untuk mengetahui persentase penggunaan AI dalam video. Hasil analisis menunjukkan bahwa video tersebut memiliki probabilitas 86,2 persen sebagai hasil manipulasi AI.
Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Tikus terinfeksi hantavirus disebarkan truk” pada laman pencarian Google. Hasilnya mengarah pada laman Kompas yang menyatakan bahwa video yang beredar merupakan hasil manipulasi artificial intelligence (AI).
Ditemukan video asli dalam akun Instagram @ai.marynyuk yang diunggah pada 13 Maret 2026, yang menampilkan video identik dengan gambar truk yang sama. Akun tersebut menyertakan keterangan bahwa video itu dibuat dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Selain itu, tidak ada keterangan bahwa tikus dalam video terinfeksi hantavirus.
Dengan demikian, klaim bahwa tikus yang disebarkan oleh truk tersebut terinfeksi hantavirus tidak berdasar dan tidak didukung oleh fakta.
Dalam rangkuman Tirto, hantavirus menyebabkan penyakit seperti Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Seseorang dapat tertular hantavirus melalui kontak dengan hewan pengerat seperti tikus dan mencit.
Adapun penyebaran hantavirus dapat terjadi jika terpapar urin, kotoran, dan air liur hewan pengerat. Virus ini juga dapat menyebar melalui gigitan atau cakaran tikus dan hewan pengerat lainnya.
Penelitian dan dokumentasi medis menunjukkan bahwa infeksi hantavirus berpotensi tinggi terjadi ketika manusia melakukan kontak dengan urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang telah terinfeksi. Sampai saat ini, penularan hantavirus dari manusia ke manusia hanya ditemukan pada hantavirus Andes. Penularan semacam ini diduga disebabkan oleh kontak dekat dan berkepanjangan.
Baca juga:Pakar Minta Kemenkes Jelaskan Detail Kasus Kematian Hantavirus
Pengunggah yang membagikan rekaman tersebut mengklaim bahwa tikus-tikus itu sengaja dilepaskan untuk menyebarkan infeksi hantavirus, yang baru-baru ini menarik perhatian luas menyusul laporan infeksi dan kematian di atas kapal Belanda. Namun, visual pada klip tersebut mengungkapkan beberapa indikator yang tidak logis yang mendukung kesimpulan bahwa itu manipulasi digital.
Kemudian, Tirto menonton secara menyeluruh dan menemukan sejumlah kejanggalan, terutama pada gerakan tikus-tikus yang tampak tidak alami, dengan pola lompatan dan gerakan berulang yang menyerupai animasi otomatis. Selain itu, bagian belakang truk tidak memiliki detail lalu lintas umum seperti plat nomor, angka, tanda reflektif, dan rambu peringatan, yang memperkuat kesimpulan bahwa rekaman tersebut dihasilkan oleh AI.
Untuk memastikannya, kami menggunakan situs Hive Moderation untuk mengetahui persentase penggunaan AI dalam video. Hasil analisis menunjukkan bahwa video tersebut memiliki probabilitas 86,2 persen sebagai hasil manipulasi AI.
Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Tikus terinfeksi hantavirus disebarkan truk” pada laman pencarian Google. Hasilnya mengarah pada laman Kompas yang menyatakan bahwa video yang beredar merupakan hasil manipulasi artificial intelligence (AI).
Ditemukan video asli dalam akun Instagram @ai.marynyuk yang diunggah pada 13 Maret 2026, yang menampilkan video identik dengan gambar truk yang sama. Akun tersebut menyertakan keterangan bahwa video itu dibuat dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Selain itu, tidak ada keterangan bahwa tikus dalam video terinfeksi hantavirus.
Dengan demikian, klaim bahwa tikus yang disebarkan oleh truk tersebut terinfeksi hantavirus tidak berdasar dan tidak didukung oleh fakta.
Dalam rangkuman Tirto, hantavirus menyebabkan penyakit seperti Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Seseorang dapat tertular hantavirus melalui kontak dengan hewan pengerat seperti tikus dan mencit.
Adapun penyebaran hantavirus dapat terjadi jika terpapar urin, kotoran, dan air liur hewan pengerat. Virus ini juga dapat menyebar melalui gigitan atau cakaran tikus dan hewan pengerat lainnya.
Penelitian dan dokumentasi medis menunjukkan bahwa infeksi hantavirus berpotensi tinggi terjadi ketika manusia melakukan kontak dengan urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang telah terinfeksi. Sampai saat ini, penularan hantavirus dari manusia ke manusia hanya ditemukan pada hantavirus Andes. Penularan semacam ini diduga disebabkan oleh kontak dekat dan berkepanjangan.
Baca juga:Pakar Minta Kemenkes Jelaskan Detail Kasus Kematian Hantavirus
Kesimpulan
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa unggahan video yang mengklaim bahwa tikus terinfeksi hantavirus sengaja disebarkan oleh truk di jalan bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).
Hasil analisis menunjukkan bahwa video yang beredar terindikasi kuat merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan (AI).
Klaim yang menyebut bahwa tikus yang disebarkan oleh truk tersebut terinfeksi hantavirus merupakan video manipulasi dan tidak berdasar pada fakta yang kredibel
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Hasil analisis menunjukkan bahwa video yang beredar terindikasi kuat merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan (AI).
Klaim yang menyebut bahwa tikus yang disebarkan oleh truk tersebut terinfeksi hantavirus merupakan video manipulasi dan tidak berdasar pada fakta yang kredibel
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
- https://www.facebook.com/reel/1452424296640010
- https://archive.today/gV6Nu
- https://www.facebook.com/reel/1967239630560675
- https://x.com/suryaden/status/2053611792753160201
- https://tirto.id/hoaks-hantavirus-efek-samping-dari-vaksin-pfizer-hwiZ
- https://www.misbar.com/en/factcheck/2026/05/11/does-video-show-truck-throwing-rats-road-spread-hantavirus
- https://hivemoderation.com/ai-generated-content-detection
- https://www.kompas.com/cekfakta/read/2026/05/18/154000882/-hoaks-video-sejumlah-tikus-terinfeksi-hantavirus-disebar-menggunakan
- https://www.instagram.com/reels/DVzBKMGjeyR/
- https://tirto.id/apa-saja-gejala-hantavirus-bagaimana-cara-mengobatinya-hvCa
- https://tirto.id/pakar-minta-kemenkes-jelaskan-detail-kasus-kematian-hantavirus-hwjm
(GFD-2026-34615) Hoaks, Hantavirus Efek Samping dari Vaksin Pfizer
Sumber:Tanggal publish: 20/05/2026
Berita
tirto.id - Beredar unggahan di media sosial Facebook yang mengklaim vaksin Pfizer memberikan efek samping, yaitu adanya hantavirus. Virus tersebut juga diklaim tidak menular dari manusia ke manusia karena cara masuknya disuntik melalui vaksin.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Uma A” (arsip) pada Jumat (8/5/2026). Unggahan tersebut memperlihatkan beberapa foto tangkapan layar yang menjelaskan keterikatan berbagai macam vaksin dengan adanya hantavirus, dimulai dari vaksin COVID, Moderna, dan korban hantavirus di kapal Hondius.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“Benar kata WHO. Mereka sudah terinfeksi sebelum naik kapal. Ai grok juga membenarkan yaitu hanta virus tidak menular melalui manusia ke manusia. Adanya hanta virus adalah efek samping dari vaksin pjer dan di tulis langsung oleh pjer 🤣. Wajar tdk menular dari manusia ke manusia. Cara masuknya disuntik melalui vaksin😆. Tenang, vaksin hanta udh dibuat moderna 2024😆 Yang idiot pada sibuk ketakutan 😆. Mainan thrds wajar makin gila karena yg dibaca ketakutan terus. Cara main thrds sama seperti Twitter tapi isi literasi rakyatnya berbeda. Biasanya org gila emang suka ngumpul sesama org gila.” Begitu narasi tertulis dalam unggahan.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Sampai artikel ini ditulis pada Senin (18/5/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 588 likes, 113 komentar, dan 261 kali dibagikan. Kolom komentar terbagi dua, sebagian komentar menunjukkan ketidakpercayaan masyarakat, dan sebagian lainnya mempercayai informasi tersebut dan bersyukur karena menolak vaksin.
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Fauji Ru” (arsip) pada Kamis (7/5/2026), yang memperlihatkan gambar dengan klaim daftar efek samping vaksin COVID-19 Pfizer termasuk infeksi paru-paru hantavirus.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?
Baca juga:Dinkes Tangsel Imbau Warga Waspada Hantavirus & Jaga Kebersihan
Periksa Fakta Efek Samping Vaksin Pfizer. foto/hotline periksa fakta tirto
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Uma A” (arsip) pada Jumat (8/5/2026). Unggahan tersebut memperlihatkan beberapa foto tangkapan layar yang menjelaskan keterikatan berbagai macam vaksin dengan adanya hantavirus, dimulai dari vaksin COVID, Moderna, dan korban hantavirus di kapal Hondius.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“Benar kata WHO. Mereka sudah terinfeksi sebelum naik kapal. Ai grok juga membenarkan yaitu hanta virus tidak menular melalui manusia ke manusia. Adanya hanta virus adalah efek samping dari vaksin pjer dan di tulis langsung oleh pjer 🤣. Wajar tdk menular dari manusia ke manusia. Cara masuknya disuntik melalui vaksin😆. Tenang, vaksin hanta udh dibuat moderna 2024😆 Yang idiot pada sibuk ketakutan 😆. Mainan thrds wajar makin gila karena yg dibaca ketakutan terus. Cara main thrds sama seperti Twitter tapi isi literasi rakyatnya berbeda. Biasanya org gila emang suka ngumpul sesama org gila.” Begitu narasi tertulis dalam unggahan.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Sampai artikel ini ditulis pada Senin (18/5/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 588 likes, 113 komentar, dan 261 kali dibagikan. Kolom komentar terbagi dua, sebagian komentar menunjukkan ketidakpercayaan masyarakat, dan sebagian lainnya mempercayai informasi tersebut dan bersyukur karena menolak vaksin.
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Fauji Ru” (arsip) pada Kamis (7/5/2026), yang memperlihatkan gambar dengan klaim daftar efek samping vaksin COVID-19 Pfizer termasuk infeksi paru-paru hantavirus.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?
Baca juga:Dinkes Tangsel Imbau Warga Waspada Hantavirus & Jaga Kebersihan
Periksa Fakta Efek Samping Vaksin Pfizer. foto/hotline periksa fakta tirto
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasil penelusuran tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.
Kemudian, Tirto mengetikkan kata kunci “Hantavirus adalah efek samping dari vaksin Pfizer.” Hasil penelusuran mengarahkan ke laman Kementerian Komunikasi dan Digital, yang menyatakan bahwa narasi yang mengklaim bahwa hantavirus merupakan efek samping vaksin Covid-19 produksi Pfizer adalah tidak benar.
Senada dengan itu, kepada Tirto dr. Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, menegaskan bahwa klaim hantavirus merupakan efek samping dari vaksin COVID-19 produksi Pfizer atau vaksin mRNA lainnya seperti Moderna merupakan narasi yang tidak memiliki dasar ilmiah dan termasuk bentuk misinformasi kesehatan yang dapat menyesatkan masyarakat.
Secara virologi, hantavirus adalah kelompok virus zoonotik dari famili Hantaviridae yang secara alami berreservoir pada hewan pengerat, terutama tikus dan rodensia liar lainnya. Penularan kepada manusia umumnya terjadi melalui inhalasi aerosol dari urin, feses, atau saliva rodensia yang terinfeksi, bukan melalui vaksinasi intramuskular. Dengan demikian, secara patogenesis, mekanisme transmisi hantavirus sama sekali tidak berkaitan dengan platform vaksin mRNA COVID-19.
Menurut World Health Organization, hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan kadang-kadang ditularkan ke manusia. Infeksi pada manusia dapat menyebabkan penyakit parah dan sering kali kematian, meskipun penyakitnya bervariasi tergantung pada jenis virus dan lokasi geografis.
Pada manusia, gejala biasanya mulai muncul antara satu hingga delapan minggu setelah terpapar, tergantung pada jenis virusnya, dan biasanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, serta gejala gastrointestinal seperti sakit perut, mual, atau muntah.
Public Health and Medical Professionals for Transparency dalam phmpt.org menuliskan dokumen dengan 38 halaman yang memuat analisis laporan kejadian ikutan pasca-otorisasi vaksin Covid-19 yang diproduksi Pfizer/BioNTech. Meski tercantum dalam dokumen Pfizer, bukan berarti bahwa vaksin tersebut menyebabkan infeksi paru-paru akibat hantavirus.
Narasi yang mengklaim bahwa vaksin Pfizer menyebabkan infeksi hantavirus muncul setelah beredar tangkapan layar dokumen Pfizer yang mencantumkan “hantavirus pulmonary infection” dalam daftar Adverse Events of Special Interest (AESI).
Namun, daftar tersebut bukan daftar efek samping yang terbukti disebabkan oleh vaksin. Pfizer menjelaskan bahwa dokumen itu hanya mencatat berbagai kondisi medis yang terjadi selama periode pemantauan vaksin COVID-19, tanpa otomatis menunjukkan hubungan sebab-akibat dengan vaksin.
Melansir laman Reuters.com, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa vaksin Pfizer COVID-19 menyebabkan hantavirus atau mengandung hantavirus. Penyebutan hantavirus dalam dokumen Pfizer hanyalah bagian dari pemantauan berbagai kejadian medis selama masa studi vaksin, bukan bukti hubungan langsung dengan vaksin.
“There are no hantaviruses in the ingredient list of the Pfizer COVID vaccine, now called Comirnaty. According to Pfizer’s website, opens new tab, the Comirnaty shot does not contain live viruses.” Begitu ditulis dalam Reuters.
Klaim yang menyebutkan bahwa vaksin Pfizer menyebabkan infeksi hantavirus adalah menyesatkan. Hantavirus masuk dalam dokumen Pfizer hanya sebagai catatan riwayat medis selama masa pemantauan studi, bukan sebagai efek samping dari vaksin itu sendiri.
“Misleading. Hantavirus pulmonary infection appeared in a list that recorded any medical event a person experienced during Pfizer’s study period, regardless of whether the medical event was caused by the vaccine. Pfizer’s regulatory document lists events that were later found to be causally related to the shot, and this list does not include a hantavirus pulmonary infection.”
Menurut dr. Andreas Wilson, kesalahpahaman publik ini sebagian besar muncul akibat interpretasi keliru terhadap dokumen farmakovigilans Pfizer yang mencantumkan istilah “hantavirus pulmonary infection” dalam daftar Adverse Events of Special Interest (AESI). Perlu dipahami bahwa AESI bukanlah daftar efek samping yang terbukti disebabkan oleh vaksin, melainkan daftar seluruh kejadian medis yang dilaporkan selama periode observasi pascavaksinasi, terlepas dari hubungan kausalnya.
"Dalam studi keamanan obat dan vaksin, semua kejadian klinis wajib dicatat untuk tujuan surveillance, termasuk penyakit yang sama sekali tidak berhubungan langsung dengan produk yang diuji. Dengan kata lain, keberadaan istilah hantavirus dalam dokumen tersebut tidak berarti vaksin menyebabkan hantavirus, melainkan hanya bahwa ada laporan kejadian tersebut selama masa pemantauan," tambahnya.
Menurut hasil penelitian gov.uk, vaksin Pfizer BNT162b2 adalah vaksin mRNA yang berisi materi genetik untuk menginstruksikan sel tubuh untuk membuat protein spike SARS-CoV-2 agar sistem imun membentuk perlindungan terhadap COVID-19. Komponen utamanya adalah mRNA SARS-CoV-2, lipid nanoparticles (pembungkus mRNA), PEG/polyethylene glycol, garam, gula (sukrosa) dan air injeksi. Vaksin ini tidak mengandung virus hidup, mikrochip, nanobot, ataupun hantavirus.
Dokter Andreas Wilson menambahkan, Vaksin Comirnaty (BNT162b2) milik Pfizer/BioNTech merupakan vaksin berbasis messenger RNA (mRNA), yang hanya mengandung instruksi genetik untuk sintesis protein spike SARS-CoV-2 guna merangsang respons imun adaptif tubuh. Komponen vaksin ini terdiri atas mRNA sintetis, lipid nanoparticle sebagai sistem penghantar, polyethylene glycol (PEG), buffer salts, sukrosa, dan air steril untuk injeksi.
Vaksin ini tidak mengandung virus hidup, tidak mengandung virus hantavirus, tidak mengandung nanoteknologi biologis seperti “nanobot”, dan tidak mengandung agen infeksi lain di luar komponen yang telah dijelaskan secara resmi. Oleh sebab itu, tuduhan bahwa hantavirus “disuntikkan” melalui vaksin Pfizer merupakan pernyataan yang bertentangan dengan prinsip farmakologi dan imunologi dasar
Vaksin Pfizer ini memang memiliki risiko miokarditis, terutama diamati pada laki-laki muda setelah dosis kedua, tetapi kasusnya jarang dan sebagian besar pulih. Tidak ada bukti dalam dokumen ini maupun bukti ilmiah bahwa vaksin Pfizer menyebabkan infeksi hantavirus.
Sebagaimana dalam rangkuman Tirto, hantavirus adalah penyakit yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat, bukan hasil rekayasa atau efek samping vaksin Covid-19. Virus hanta diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya.
Sebagai informasi, hantavirus diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya. Faktor risiko utama di antaranya aktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, gudang tertutup, area banjir, hingga kegiatan luar ruang seperti berkemah dan mendaki.
Menurut dr. Wilson, secara epidemiologis, infeksi hantavirus pada manusia dapat bermanifestasi sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), tergantung pada strain virus dan wilayah geografis. Manifestasi klinis biasanya meliputi demam tinggi, mialgia berat, nyeri kepala, gangguan gastrointestinal, trombositopenia, hingga gagal napas akut akibat edema paru nonkardiogenik.
Penyakit ini memiliki mortalitas yang cukup tinggi, khususnya pada HPS. Faktor risiko utama bukanlah riwayat vaksinasi, melainkan paparan lingkungan dengan infestasi tikus tinggi, seperti gudang tertutup, area pascabanjir, pertanian, hutan, dan lokasi berkemah. Hal ini semakin menegaskan bahwa hantavirus adalah penyakit zoonosis lingkungan, bukan komplikasi imunisasi.
Baca juga:Tidak Benar, Bill Gates Sebut Vaksin untuk Mengurangi Penduduk
Kemudian, Tirto mengetikkan kata kunci “Hantavirus adalah efek samping dari vaksin Pfizer.” Hasil penelusuran mengarahkan ke laman Kementerian Komunikasi dan Digital, yang menyatakan bahwa narasi yang mengklaim bahwa hantavirus merupakan efek samping vaksin Covid-19 produksi Pfizer adalah tidak benar.
Senada dengan itu, kepada Tirto dr. Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, menegaskan bahwa klaim hantavirus merupakan efek samping dari vaksin COVID-19 produksi Pfizer atau vaksin mRNA lainnya seperti Moderna merupakan narasi yang tidak memiliki dasar ilmiah dan termasuk bentuk misinformasi kesehatan yang dapat menyesatkan masyarakat.
Secara virologi, hantavirus adalah kelompok virus zoonotik dari famili Hantaviridae yang secara alami berreservoir pada hewan pengerat, terutama tikus dan rodensia liar lainnya. Penularan kepada manusia umumnya terjadi melalui inhalasi aerosol dari urin, feses, atau saliva rodensia yang terinfeksi, bukan melalui vaksinasi intramuskular. Dengan demikian, secara patogenesis, mekanisme transmisi hantavirus sama sekali tidak berkaitan dengan platform vaksin mRNA COVID-19.
Menurut World Health Organization, hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan kadang-kadang ditularkan ke manusia. Infeksi pada manusia dapat menyebabkan penyakit parah dan sering kali kematian, meskipun penyakitnya bervariasi tergantung pada jenis virus dan lokasi geografis.
Pada manusia, gejala biasanya mulai muncul antara satu hingga delapan minggu setelah terpapar, tergantung pada jenis virusnya, dan biasanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, serta gejala gastrointestinal seperti sakit perut, mual, atau muntah.
Public Health and Medical Professionals for Transparency dalam phmpt.org menuliskan dokumen dengan 38 halaman yang memuat analisis laporan kejadian ikutan pasca-otorisasi vaksin Covid-19 yang diproduksi Pfizer/BioNTech. Meski tercantum dalam dokumen Pfizer, bukan berarti bahwa vaksin tersebut menyebabkan infeksi paru-paru akibat hantavirus.
Narasi yang mengklaim bahwa vaksin Pfizer menyebabkan infeksi hantavirus muncul setelah beredar tangkapan layar dokumen Pfizer yang mencantumkan “hantavirus pulmonary infection” dalam daftar Adverse Events of Special Interest (AESI).
Namun, daftar tersebut bukan daftar efek samping yang terbukti disebabkan oleh vaksin. Pfizer menjelaskan bahwa dokumen itu hanya mencatat berbagai kondisi medis yang terjadi selama periode pemantauan vaksin COVID-19, tanpa otomatis menunjukkan hubungan sebab-akibat dengan vaksin.
Melansir laman Reuters.com, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa vaksin Pfizer COVID-19 menyebabkan hantavirus atau mengandung hantavirus. Penyebutan hantavirus dalam dokumen Pfizer hanyalah bagian dari pemantauan berbagai kejadian medis selama masa studi vaksin, bukan bukti hubungan langsung dengan vaksin.
“There are no hantaviruses in the ingredient list of the Pfizer COVID vaccine, now called Comirnaty. According to Pfizer’s website, opens new tab, the Comirnaty shot does not contain live viruses.” Begitu ditulis dalam Reuters.
Klaim yang menyebutkan bahwa vaksin Pfizer menyebabkan infeksi hantavirus adalah menyesatkan. Hantavirus masuk dalam dokumen Pfizer hanya sebagai catatan riwayat medis selama masa pemantauan studi, bukan sebagai efek samping dari vaksin itu sendiri.
“Misleading. Hantavirus pulmonary infection appeared in a list that recorded any medical event a person experienced during Pfizer’s study period, regardless of whether the medical event was caused by the vaccine. Pfizer’s regulatory document lists events that were later found to be causally related to the shot, and this list does not include a hantavirus pulmonary infection.”
Menurut dr. Andreas Wilson, kesalahpahaman publik ini sebagian besar muncul akibat interpretasi keliru terhadap dokumen farmakovigilans Pfizer yang mencantumkan istilah “hantavirus pulmonary infection” dalam daftar Adverse Events of Special Interest (AESI). Perlu dipahami bahwa AESI bukanlah daftar efek samping yang terbukti disebabkan oleh vaksin, melainkan daftar seluruh kejadian medis yang dilaporkan selama periode observasi pascavaksinasi, terlepas dari hubungan kausalnya.
"Dalam studi keamanan obat dan vaksin, semua kejadian klinis wajib dicatat untuk tujuan surveillance, termasuk penyakit yang sama sekali tidak berhubungan langsung dengan produk yang diuji. Dengan kata lain, keberadaan istilah hantavirus dalam dokumen tersebut tidak berarti vaksin menyebabkan hantavirus, melainkan hanya bahwa ada laporan kejadian tersebut selama masa pemantauan," tambahnya.
Menurut hasil penelitian gov.uk, vaksin Pfizer BNT162b2 adalah vaksin mRNA yang berisi materi genetik untuk menginstruksikan sel tubuh untuk membuat protein spike SARS-CoV-2 agar sistem imun membentuk perlindungan terhadap COVID-19. Komponen utamanya adalah mRNA SARS-CoV-2, lipid nanoparticles (pembungkus mRNA), PEG/polyethylene glycol, garam, gula (sukrosa) dan air injeksi. Vaksin ini tidak mengandung virus hidup, mikrochip, nanobot, ataupun hantavirus.
Dokter Andreas Wilson menambahkan, Vaksin Comirnaty (BNT162b2) milik Pfizer/BioNTech merupakan vaksin berbasis messenger RNA (mRNA), yang hanya mengandung instruksi genetik untuk sintesis protein spike SARS-CoV-2 guna merangsang respons imun adaptif tubuh. Komponen vaksin ini terdiri atas mRNA sintetis, lipid nanoparticle sebagai sistem penghantar, polyethylene glycol (PEG), buffer salts, sukrosa, dan air steril untuk injeksi.
Vaksin ini tidak mengandung virus hidup, tidak mengandung virus hantavirus, tidak mengandung nanoteknologi biologis seperti “nanobot”, dan tidak mengandung agen infeksi lain di luar komponen yang telah dijelaskan secara resmi. Oleh sebab itu, tuduhan bahwa hantavirus “disuntikkan” melalui vaksin Pfizer merupakan pernyataan yang bertentangan dengan prinsip farmakologi dan imunologi dasar
Vaksin Pfizer ini memang memiliki risiko miokarditis, terutama diamati pada laki-laki muda setelah dosis kedua, tetapi kasusnya jarang dan sebagian besar pulih. Tidak ada bukti dalam dokumen ini maupun bukti ilmiah bahwa vaksin Pfizer menyebabkan infeksi hantavirus.
Sebagaimana dalam rangkuman Tirto, hantavirus adalah penyakit yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat, bukan hasil rekayasa atau efek samping vaksin Covid-19. Virus hanta diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya.
Sebagai informasi, hantavirus diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya. Faktor risiko utama di antaranya aktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, gudang tertutup, area banjir, hingga kegiatan luar ruang seperti berkemah dan mendaki.
Menurut dr. Wilson, secara epidemiologis, infeksi hantavirus pada manusia dapat bermanifestasi sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), tergantung pada strain virus dan wilayah geografis. Manifestasi klinis biasanya meliputi demam tinggi, mialgia berat, nyeri kepala, gangguan gastrointestinal, trombositopenia, hingga gagal napas akut akibat edema paru nonkardiogenik.
Penyakit ini memiliki mortalitas yang cukup tinggi, khususnya pada HPS. Faktor risiko utama bukanlah riwayat vaksinasi, melainkan paparan lingkungan dengan infestasi tikus tinggi, seperti gudang tertutup, area pascabanjir, pertanian, hutan, dan lokasi berkemah. Hal ini semakin menegaskan bahwa hantavirus adalah penyakit zoonosis lingkungan, bukan komplikasi imunisasi.
Baca juga:Tidak Benar, Bill Gates Sebut Vaksin untuk Mengurangi Penduduk
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyatakan bahwa vaksin Pfizer menyebabkan efek samping hantavirus adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Hantavirus adalah penyakit yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat dan diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya.
Tidak ditemukan bukti ilmiah yang menyatakan bahwa vaksin Pfizer menyebabkan hantavirus. Penyebutan hantavirus dalam dokumen Pfizer hanyalah bagian dari pemantauan berbagai kejadian medis selama masa studi vaksin, bukan bukti hubungan langsung dengan vaksin.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Hantavirus adalah penyakit yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat dan diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya.
Tidak ditemukan bukti ilmiah yang menyatakan bahwa vaksin Pfizer menyebabkan hantavirus. Penyebutan hantavirus dalam dokumen Pfizer hanyalah bagian dari pemantauan berbagai kejadian medis selama masa studi vaksin, bukan bukti hubungan langsung dengan vaksin.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
- https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid0p1722vzX4m5o4VzcEbV64QZZic1G62Jg6CskmjkjT8Jcoj6Z3r2GUeu7jqvKvKM7l&id=61577212362604
- https://web.archive.org/web/20260518044134/
- https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid0p1722vzX4m5o4VzcEbV64QZZic1G62Jg6CskmjkjT8Jcoj6Z3r2GUeu7jqvKvKM7l&id=61577212362604
- https://www.facebook.com/fauji.apriansyah/posts/pfbid028fpAbR5GmFV8f9umZrFmgvMqbYH3K8nyMTKgVGNXdHRyNL822Ggdzv4qbzmVm5Sol
- https://archive.today/2Gk08
- https://tirto.id/dinkes-tangsel-imbau-warga-waspada-hantavirus-jaga-kebersihan-hwgr
- https://www.komdigi.go.id/berita/berita-hoaks/detail/hoaks-hantavirus-adalah-efek-samping-vaksin-covid-19-pfizer
- https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hantavirus
- https://phmpt.org/wp-content/uploads/2021/11/5.3.6-postmarketing-experience.pdf
- https://www.reuters.com/fact-check/hantavirus-infection-is-not-confirmed-side-effect-pfizers-covid-19-vaccine-2026-05-08/
- https://www.gov.uk/government/publications/regulatory-approval-of-pfizer-biontech-vaccine-for-covid-19/information-for-healthcare-professionals-on-pfizerbiontech-covid-19-vaccine
- https://tirto.id/salah-bill-gates-luncurkan-hantavirus-projek-modifikasi-manusia-hv5Q
- https://tirto.id/tidak-benar-bill-gates-sebut-vaksin-untuk-mengurangi-penduduk-hvWv
Halaman: 152/8117





