• (GFD-2025-30958) [SALAH] Video "Anggota Dewan Minta Uang Sewa Tenda Darurat ke Pengungsi Korban Bencana"

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 19/12/2025

    Berita

    Akun Facebook “Calon Jutawan” pada Senin (15/12/2025) membagikan video [arsip] dengan narasi:

    “viral rekaman video yang tersebar di media sosial di tengah suasana bencana banjir yang penuh kekacauan dan warga sedang mengungsi di area tenda darurat terlihat seorang anggota dewan meminta uang sewa tenda secara tidak wajar kepada para pengungsi untungnya seorang prajurit tni yang bertugas melakukan patroli kemanusiaan melihat kejadian tersebut

    biadab uang apa ini pak rakyat lagi susah terkena bencana bapak malah tega dengan mereka rakyat itu butuh uang untuk kebutuhan bapak malah minta uang sewa tenda ke mereka yang terkena bencana ketika anda calon dewan anda butuh rakyat giliran rakyat butuh anda bapak malah tega dengan mereka cepat pergi dari sini cepat-cepat cepat pergi dasar anggota dewan gila harta dan kuasa bukannya peduli malah menindas

    dengan adanya video yang tersebar itu sontak warganet ramai-ramai meminta agar anggota dewan yang tidak peduli dengan keadaan rakyat dicopot dari jabatannya bantu ketuk ketuk layar anda kalau anda setuju”.

    Unggahan disertai takarir:

    “Anggota Dewan minta uang Tenda ke pengungsi”.

    Per Jumat (19/12/2025) konten tersebut telah mendapat lebih dari 2.500-an tanda suka, menuai 474 komentar dan dibagikan ulang sebanyak 657 kali oleh pengguna Facebook lainnya.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri kebenaran konten menggunakan alat pendeteksi AI, Hive Moderation. Diketahui, konten merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), probabilitas atau kemungkinannya mencapai 99,9 persen.

    TurnBackHoax lalu memasukkan kata kunci “anggota dewan minta uang sewa tenda ke pengungsi” ke mesin pencarian Google. Hasil penelusuran mengarah ke sejumlah pemberitaan yang tidak saling berkaitan, antara lain:

    • Berita inews.id “Tega, Pengungsi Gempa Cianjur Diduga Ditagih Uang Sewa Lahan Rp1 Juta Viral di Medsos”, tayang Jumat (9/12/2022). Berita ini melaporkan bahwa salah seorang warga Kampung Hargem Cianjur, diduga meminta uang sewa lahan sebesar Rp1,5 juta kepada pengungsi korban gempa Cianjur pada tahun 2022.

    • Berita detik.com “Pasang Tenda untuk Anggota DPRD, Pekerja di Tulungagung Tewas Kesetrum”, tayang Sabtu (22/11/2025). Berita ini melaporkan bahwa dua pekerja tersengat arus listrik saat memasang tenda untuk kegiatan reses anggota DPRD Tulungagung, diketahui salah satu diantaranya meninggal dunia. 

    • Berita rri.co.id “Reses di Kahena, Hamsudin Sumbang Tenda ke Warga”, tayang Kamis (11/12/2025). Berita ini melaporkan bahwa anggota DPRD Kota Ambon, Hamsudin, memberikan bantuan berupa satu unit tenda kepada warga sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan sosial dan kemasyarakatan di kawasan tersebut.

    Sepanjang penelusuran, tidak ditemukan informasi dari sumber kredibel yang membenarkan klaim “video anggota dewan minta uang sewa tenda darurat ke pengungsi korban bencana”.

    Kesimpulan

    Konten yang beredar merupakan hasil rekayasa AI, probabilitas atau kemungkinannya mencapai 99,9 persen. Unggahan video berisi klaim “anggota dewan minta uang sewa tenda darurat ke pengungsi korban bencana” merupakan konten palsu (fabricated content).

    Rujukan

  • (GFD-2025-30959) [SALAH] Indonesia Gelontorkan Rp16,7 Triliun untuk Pulihkan Hutan Tropis di Brasil

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 19/12/2025

    Berita

    Beredar unggahan foto [arsip] dari akun Facebook “Imam Koesnadi” pada Minggu (9/12/2025) disertai narasi sebagai berikut:

    “BREAKING NEWS

    RI GELONTORKAN Rp16,7 T untuk PULIHKAN HUT4N RUS4K DAERAH TROPIS di BRASIL

    Hutan kita yg Rusak yg di pulihkan malah yg di Brazil”

    Hingga Kamis (18/12/2025) unggahan telah mendapatkan 12.000 tanda suka, menuai 8.800 komentar dan telah dibagikan ulang sebanyak 2.400 kali.

    Hasil Cek Fakta

    Disadur dari artikel Periksa Fakta kompas.com

    Informasi yang beredar di media sosial diduga merupakan hasil salah tafsir terhadap agenda Konferensi ke-30 Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP30) yang berlangsung di Belém, Brasil. Mengutip pemberitaan antaranews, Pemerintah Indonesia menargetkan nilai transaksi hingga Rp16 triliun dari perdagangan karbon berkualitas tinggi di seluruh sektor selama pelaksanaan COP30 pada November 2025. 

    Perdagangan karbon merupakan mekanisme berbasis pasar yang dirancang untuk menekan emisi gas rumah kaca. Dalam skema ini, pelaku usaha memperoleh kredit karbon atau hak untuk menghasilkan emisi dalam jumlah tertentu. Apabila emisi yang dihasilkan berada di bawah ambang batas yang ditetapkan, kelebihan kredit tersebut dapat diperdagangkan, sehingga menciptakan insentif ekonomi bagi upaya pengurangan emisi. 

    Selama pelaksanaan COP30, realisasi transaksi perdagangan karbon Indonesia dilaporkan telah mencapai hampir Rp7 triliun dari target Rp16 triliun. Sementara itu, laporan Mongabay mencatat total potensi kredit karbon Indonesia mencapai 90.101.796 ton setara CO₂ (CO₂e).

    Meski demikian, kebijakan perdagangan karbon ini tidak luput dari kritik. Sejumlah elemen masyarakat adat menyampaikan keberatan karena merasa tidak dilibatkan secara bermakna dalam perumusan dan pelaksanaan skema kredit karbon. Mereka menilai penting adanya pengakuan dan perlindungan hak kemasyarakatan adat dalam kebijakan tersebut. 

    Sebelumnya, kompas.com melaporkan bahwa Koalisi Masyarakat Sipil untuk keadilan Iklim (JustCOP) menilai fokus Indonesia terhadap perdagangan karbon belum menyentuh akar persoalan krisis iklim. Direktur Eksekutif Walhi Papua, Maikel Peuki, juga mengkritik perdagangan karbon yang dinilai cenderung pro-korporasi dan berpotensi menambah beban ekologis, termasuk melalui praktik seperti co-firing batu bara.

    “Fokus delegasi pada perdagangan karbon menjadikan misi Indonesia di COP30 sangat transaksional, tanpa menunjukkan komitmen yang kuat terhadap masyarakat adat dan kelompok rentan lainnya,” ujar Maikel. 

    Kesimpulan

    Faktanya, angka 16,7 triliun merujuk pada target nilai transaksi perdagangan karbon Indonesia dalam COP30, bukan bantuan dana untuk pemulihan hutan di Brasil. Dengan demikian, unggahan berisi klaim “Indonesia gelontorkan Rp16,7 triliun untuk pulihkan hutan tropis di Brasil” adalah konten yang menyesatkan (misleading content).

    Rujukan

  • (GFD-2025-30960) Keliru: Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Kota Sibolga karena Azab

    Sumber:
    Tanggal publish: 19/12/2025

    Berita

    TIGA video yang menghubungkan penganiayaan di Masjid Agung Sibolga sebagai penyebab bencana banjir bandang, beredar Facebook [arsip] dan TikTok (akun satu, akun dua, dan akun tiga) pada awal Desember 2025. 

    Penganiayaan tersebut menimpa seorang pemuda bernama Arjuna Tamaraya, 21 tahun, hingga tewas karena tidur di Masjid Agung Sibolga pada akhir Oktober 2025. Peristiwa ini disebut sebagai azab yang menyebabkan Kota Sibolga dilanda banjir pada akhir November 2025.



    Benarkah bencana banjir bandang dan longsor di Kota Sibolga karena azab pengeroyokan pemuda di masjid setempat?

    Hasil Cek Fakta

    Tempo memverifikasi konten itu dengan pencarian gambar terbalik Google, analisis visual, alat deteksi akal imitasi, dan pemberitaan kredibel. Hasilnya, penyebab bencana di Kota Sibolga karena kombinasi siklon Senyar dan kerusakan lingkungan. Bencana ini juga tidak hanya menimpa Kota Sibolga melainkan juga di 51 kabupaten atau kota di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

    Hingga 17 Desember 2025, jumlah korban bencana banjir bandang dan longsor di Kota Sibolga mencapai 54 orang. Ada dua faktor penyebab bencana di Kota Sibolga di akhir November 2025. Pertama, cuaca ekstrem akibat siklon tropis Senyar yang melanda wilayah Sumatera bagian utara dan Selat Malaka pada akhir November 2025. 

    Siklon tersebut meningkatkan intensitas hujan ekstrem di kawasan tersebut, termasuk di Kota Sibolga. Dikutip dari Tribun Medan, curah hujan tinggi di Kota Sibolga terjadi sejak Senin, 24 November 2025 pukul 06.00 WIB hingga Selasa malam, 25 November 2025. Curah hujan tinggi menyebabkan sejumlah titik di Kota Sibolga mengalami bencana longsor.

    Faktor kedua yakni terkait terganggunya ekosistem Batang Toru yang menopang sistem penyangga kehidupan di Kota Sibolga. Direktur Eksekutif WALHI Sumatera Utara Rianda Purba mengatakan ekosistem Batang Toru terganggu karena perubahan tutupan lahan hutan (deforestasi) dalam jumlah besar. Deforestasi menyebabkan fungsi hidrologis terganggu, termasuk kemampuan tanah dan vegetasi menahan air, menstabilkan lereng, dan mengendalikan aliran air di permukaan.

    “Ketika fungsi-fungsi itu menurun, hujan ekstrem akan menjadi banjir bandang dan longsor,” kata Rianda kepada Tempo, Rabu, 17 Desember 2025.

    WALHI Sumut, mengidentifikasi alih fungsi hutan di Batang Toru mencapai 10.795,31 hektare yang terkait dengan aktivitas tujuh perusahaan.  

    Sementara menurut analisis Greenpeace, selama periode 1990-2022, deforestasi di DAS Batang Toru mencapai 70 ribu hektare atau 21 persen dari luas keseluruhan. Kini luas hutan alam yang tersisa di kawasan DAS Batang Toru sebesar 167 ribu hektare atau 49 persen.

    Alih fungsi hutan di kawasan DAS Batang Toru muncul setelah terbitnya berbagai perizinan berbasis lahan dan ekstraktif. Luasan perizinan tersebut mencapai 94 ribu hektare atau 28 persen. Sebagian besar berupa perizinan berusaha pemanfaatan hutan, wilayah izin usaha pertambangan, dan perkebunan kelapa sawit.

    Tempo juga menelusuri video-video di atas dengan pencarian gambar terbalik Google, analisis visual, dan alat deteksi akal imitasi. Hasilnya, ada video yang dibuat dengan akal imitasi (AI). 



    Video ini memperlihatkan kesamaan dengan video yang diunggah oleh akun YouTube N2STV Naomi berjudul “Shalat Jumat Masjid Agung Sibolga Jelang Idul Adha” pada 24 Juli 2020. Akun Metro TV edisi 4 November 2025 juga menampilkan Masjid Agung Sibolga dalam berita berjudul “Pengurus Ungkap Fakta di Balik Tragedi Masjid Agung Sibolga”.



    Hasil analisis visual pada video kedua ini memperlihatkan kejanggalan yakni gerakan mulut yang tidak sama dengan kata yang diucapkan pria dalam video.  

    Analisis menggunakan alat deteksi AI, Hive Moderation dan AI or NOT menemukan konten tersebut dibuat dengan AI.  



    Alat deteksi Hive Moderation menunjukkan skor 99,7 persen kemungkinan video itu mengandung elemen AI. Sementara AI or NOT menyatakan 37 persen konten dibuat dengan AI generatif dan Wasit AI juga meyakinkan terdeteksi buatan AI. Video ini dibuat menggunakan foto korban yang pernah ditayangkan akun Tribun Sumsel edisi 4 November 2025 menit ke 01:02 dan Serambinews.com menit ke 00:24. 





    Foto pada konten ketiga ini tidak menunjukkan kesamaan dengan sosok pria korban penganiayaan di Masjid Agung Sibolga. Berdasarkan video terakhir korban bernama Arjuna Tamaraya, 21 tahun, baik raut wajah, potongan rambut dan postur tubuh Arjuna, tidak sama dengan foto pada konten itu. Video Arjuna diunggah kembali oleh akun YouTube Tribun Sumsel, 6 November 2025.

    Lokasi salat pria pada foto itu juga terlihat bukan di Masjid Agung Sibolga. Tidak ada kesamaan keramik lantai maupun sajadah yang dipergunakan dengan Masjid Agung Sibolga. Seperti yang tampak pada video unggahan akun Serambinews pada 11 November 2025 di menit ke 00:26.

    Peristiwa Penganiayaan di Masjid Agung Sibolga

    Tempo menulis, pengeroyokan bermula saat korban beristirahat di dalam masjid, Jumat dini hari, 31 Oktober 2025. Salah satu pelaku menegur korban yang masih tertidur, lalu pelaku lain datang dan memukul korban secara bersama-sama. “Para pelaku melakukan kekerasan hingga korban mengalami luka berat di kepala,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sibolga Ajun Komisaris Rustam E. Silaban.

    Warga sempat lalu membawa korban ke RSUD Dr. F.L. Tobing Sibolga untuk mendapat perawatan. Namun, pada Sabtu, 1 November 2025 pukul 05.55 WIB, korban dinyatakan meninggal dunia. Jenazah korban kemudian dimakamkan di kampung halamannya setelah menjalani otopsi di RSUD Dr. F.L. Tobing Sibolga dengan persetujuan keluarga.

    Tak selang berapa lama, polisi berhasil menangkap seluruh pelaku pengeroyokan. Kapolres Sibolga Ajun Komisaris Besar Eddy Inganta mengatakan, polisi menangkap total lima orang terduga pelaku yang terlibat dalam kasus tersebut. “Polres Sibolga berhasil mengamankan lima pelaku yang diduga kuat terlibat dalam pembunuhan seorang pemuda,” ujar Eddy dalam keterangan tertulis, Selasa, 4 November 2025.

    Kesimpulan

    Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa bencana di Sibolga karena azab adalah klaim keliru.

    Rujukan

  • (GFD-2025-30961) Keliru: Video TNI dan Gajah Selamatkan Harimau di Tengah Banjir Sumatera

    Sumber:
    Tanggal publish: 19/12/2025

    Berita

    DUA konten memperlihatkan penyelamatan harimau Sumatera yang dilakukan oleh anggota TNI dan seekor gajah saat banjir Sumatera, beredar di TikTok [arsip], Facebook, dan Instagram pada pekan kedua Desember 2025.

    Pada unggahan pertama, dua personel TNI tampak menggendong anak harimau di wilayah terdampak banjir. Adapun rekaman kedua menunjukkan seekor gajah yang tengah menolong harimau Sumatera dari arus sungai yang deras. Narasi dalam kedua konten tersebut mengklaim bahwa peristiwa terjadi di tengah banjir Sumatera pada akhir November 2025.



    Namun, benarkah rekaman penyelamatan harimau oleh TNI dan seekor gajah saat bencana Sumatera itu asli?

    Hasil Cek Fakta

    Tempo memverifikasi video-video itu dengan pengamatan visual, pemindaian menggunakan aplikasi pendeteksi konten akal imitasi (AI) dan membandingkan narasinya dengan informasi dari sumber kredibel. Hasilnya, video-video tersebut hasil buatan AI.

    Video pertama memperlihatkan dua anggota TNI berpakaian loreng menggendong seekor anak harimau sumatera. Analisis manual menemukan kejanggalan. 

    Kejanggalan pertama terlihat dari tampilan wajah salah seorang anggota TNI yang buram. Saat dia berteriak, gerak mulutnya juga tidak sama dengan kalimat yang diucapkan.



    Sedangkan pada citra harimau, terlihat kakinya juga hanya ada tiga dan tidak memiliki ekor. Ketidakkonsistenan seperti ini lazim muncul pada video yang dibuat dengan mesin akal imitasi AI.

    Pengujian menggunakan aplikasi pendeteksi AI, Hive Moderation menghasilkan kemungkinan 99,9 persen menggunakan AI. Demikian juga hasil deteksi AI Illuminarty, kemungkinan penggunaan AI sebesar 22,09 persen.

    Pada video kedua, beberapa bagian konten memperlihatkan ketidakwajaran. Belang pada bulu harimau sering buram atau hilang ketika satwa tersebut bergerak.  



    Alat deteksi Hive Moderation memberikan hasil 93,7 persen kemungkinan visual dibuat menggunakan AI. Deteksi dengan Zhuque menyatakan 32,32 persen kemungkinan video itu mengandung elemen AI. Sedangkan Wasit AI dengan meyakinkan menyatakan video tersebut dibuat oleh AI.



    Bencana Banjir Sumatera

    Berdasarkan berita Tempo, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan anomali cuaca menimbulkan siklon tropis Senyar menjadi penyebab bencana banjir di Sumatera, akhir November 2025.

    Dikutip dari situs Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-Sumatera) bahwa banjir dan longsor dahsyat yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Ia juga menghantam rumah-rumah satwa kunci Sumatera—gajah, harimau, badak, dan orangutan—yang selama ini bergantung pada jaringan hutan yang kini banyak mengalami kerusakan. Anehnya, sampai kini laporan tentang perjumpaan massal antara satwa dan manusia relatif minim.

    Diduga ada beberapa sebab. Pertama, sebagian satwa mungkin tewas di tempat akibat tumbangnya pohon, longsor, atau arus banjir yang kuat sehingga tidak ada siklus “migrasi” ke kawasan manusia yang terlihat. Kedua, banyak satwa memindahkan diri ke sisa-sisa kantong habitat yang masih relatif aman tempat yang sulit diakses manusia dan tim penyelamat sehingga pengamatan lapangan belum menjumpai mereka.

    Ketiga, beberapa populasi mungkin terfragmentasi dan terisolasi, membuat deteksi menjadi lebih sulit, mereka menyelinap ke vegetasi padat, gua, ceruk lembah, atau pulau kecil hutan yang selamat. Keempat, keterbatasan akses dan fokus respon kemanusiaan berarti survei satwa secara sistematis belum prioritas, sehingga data awal cenderung minim dan belum mewakili situasi ekologis sesungguhnya.

    Kesimpulan

    Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan anggota TNI dan gajah menyelamatkan harimau Sumatera adalah keliru. Pembuatan video-video itu melibatkan mesin AI.

    Rujukan