(GFD-2020-4811) [SALAH] Akibat Pandemi COVID-19, Keluarga Beberapa Hari Tidak Makan
Sumber: Instagram.comTanggal publish: 28/04/2020
Berita
Beredar unggahan video melalui akun Instagram @medanheadlines.news. yang menyebutkan bahwa keluarga yang tinggal di jl. Rawa Cangkuk III Medan Denai terdiri dari sepasang suami istri dengan lima orang anak tidak mampu membayar uang sewa kontrakan diusir dan tidak makan selama berhari hari. Disebutkan dalam video, hal tersebut terjadi dikarenakan sang suami kehilangan mata pencarianya akibat pandemi COVID-19 . Sementara itu, sang istri juga pergi mencari kerja. Lima anak mereka sudah dua hari tidak makan sebelum akhirnya dibelikan nasi bungkus oleh warga.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, faktanya klaim tersebut salah. Dikutip melalui laman kumparan.com pihak kelurahan bersama Bhabinkamtibmas, Babinsa, Kepling, tokoh pemuda dan masyarakat langsung melakukan penelusuran terkait kabar tersebut.
Ternyata informasi satu keluarga yang tidak makan berhari-hari tersebut tidak benar. Hal ini diketahui setelah Camat Medan Denai Ali Sipahutar bertemu langsung dengan pihak keluarga, Sabtu malam (25/4).
“Informasi satu keluarga tidak makan dan viral di media sosial itu tidak benar. Mereka masih bisa makan. Mereka memang keluarga tidak mampu dan diusir karena belum membayar uang kontrakan,” katanya, Minggu (26/4).
Menurut Camat Medan Denai Ali Sipahutar, cerita dalam posting-an viral di media sosial itu tidak benar. Ali juga mengatakan Junaidi dan keluarganya merasa kurang nyaman karena didatangi banyak orang setelah cerita soal mereka viral.
Ditemukan juga pengakuan sang istri terkait postingan viral tersebut yang dikutip melalui laman detik.com, Istri Junaidi, Evianti Ritonga, juga sempat membantah cerita yang mengatakan mereka sudah berhari-hari tidak makan. Dia mengatakan pihak keluarga juga telah membantu mereka.
“Tidak benar kalau kami dibilang sudah berhari-hari tidak makan. Saya beserta suami saya sebagai orang tua mereka masih mampu untuk membiayai anak-anak kami, termasuk makan. Apalagi saya dan suami punya keluarga dan mereka selalu membantu kami. Yang benar kami belum membayar uang kontrakan. Jadi apa yang diberitakan itu sama sekali tidak benar,” ujarnya.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka konten yang beredar di Instagram ini dapat masuk ke dalam kategori False Context atau Konten yang salah.
Ternyata informasi satu keluarga yang tidak makan berhari-hari tersebut tidak benar. Hal ini diketahui setelah Camat Medan Denai Ali Sipahutar bertemu langsung dengan pihak keluarga, Sabtu malam (25/4).
“Informasi satu keluarga tidak makan dan viral di media sosial itu tidak benar. Mereka masih bisa makan. Mereka memang keluarga tidak mampu dan diusir karena belum membayar uang kontrakan,” katanya, Minggu (26/4).
Menurut Camat Medan Denai Ali Sipahutar, cerita dalam posting-an viral di media sosial itu tidak benar. Ali juga mengatakan Junaidi dan keluarganya merasa kurang nyaman karena didatangi banyak orang setelah cerita soal mereka viral.
Ditemukan juga pengakuan sang istri terkait postingan viral tersebut yang dikutip melalui laman detik.com, Istri Junaidi, Evianti Ritonga, juga sempat membantah cerita yang mengatakan mereka sudah berhari-hari tidak makan. Dia mengatakan pihak keluarga juga telah membantu mereka.
“Tidak benar kalau kami dibilang sudah berhari-hari tidak makan. Saya beserta suami saya sebagai orang tua mereka masih mampu untuk membiayai anak-anak kami, termasuk makan. Apalagi saya dan suami punya keluarga dan mereka selalu membantu kami. Yang benar kami belum membayar uang kontrakan. Jadi apa yang diberitakan itu sama sekali tidak benar,” ujarnya.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka konten yang beredar di Instagram ini dapat masuk ke dalam kategori False Context atau Konten yang salah.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Dimas Aryalasa Nugroho (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pancasila)
Faktanya klaim tersebut salah. Keluarga tersebut memang diusir dari kontrakan namun tidak benar jika keluarga tersebut tidak makan selama berhari-hari.
Faktanya klaim tersebut salah. Keluarga tersebut memang diusir dari kontrakan namun tidak benar jika keluarga tersebut tidak makan selama berhari-hari.
Rujukan
- https://news.detik.com/berita/d-4991803/viral-keluarga-tak-makan-diusir-dari-kontrakan-pemko-medan-beri-penjelasan
- https://kumparan.com/kumparannews/pengakuan-istri-keluarga-yang-viral-karena-disebut-kelaparan-di-medan-1tIbQLow5wE/full
- https://kumparan.com/sumutnews/satu-keluarga-di-medan-tak-makan-berhari-hari-viral-di-medsos-ini-faktanya-1tIYmzohk7A/full
(GFD-2020-3856) [SALAH] Video “150 Pemuda dan Wanita di Selandia Baru yang Baru Masuk Islam”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 27/04/2020
Berita
Akun atas nama Andi mengunggah video yang diklaim sebagai 150 anak muda laki-laki dan perempuan di Selandia Baru baru masuk agama Islam. Dalam narasi tersebut disebutkan pula mereka yang baru masuk Islam bergetar dan menangis ketika mendengar suara azan. Postingan Andi tersebut tertanggal 21 April 2020 jam 18.01 WIB. Berikut kutipan narasinya:
“Masya Allah, ya Allah Alhamdulillah .
150 pemuda dan wanita di Selandia baru yang
baru masuk Islam bergetar dan menangis mendengar suara panggilan berdoa dan doa
Semoga Allah membimbing saudaraku yang baru masuk Islam di Selandia baru amiin....”
“Masya Allah, ya Allah Alhamdulillah .
150 pemuda dan wanita di Selandia baru yang
baru masuk Islam bergetar dan menangis mendengar suara panggilan berdoa dan doa
Semoga Allah membimbing saudaraku yang baru masuk Islam di Selandia baru amiin....”
Hasil Cek Fakta
Melalui hasil penelusuran, klaim tersebut tidak benar. Sebab, diketahui bahwa video yang dibagikan itu merupakan hasil suntingan dari video liputan peringatan tragedi penembakan masjid Christchurch pada 22 Maret 2019 di Hagley Park, Selandia Baru.
Peringatan itu bertepatan seminggu setelah kejadian penembakan tersebut. Pada acara peringatan itu, Perdana Menteri Jacinda Ardern mengimbau untuk menyiarkan langsung azan dan agenda mengheningkan cipta, tidak hanya di Selandia Baru namun juga pada tingkat global.
Pada acara tersebut dilakukan pengumandangan azan dan salat Jumat berjamaah bagi umat Muslim di Selandia Baru. Saat salat Jumat dilakukan, warga non muslim Selandia Baru membentuk rantai manusia guna melindungi umat Muslim Selandia Baru yang tengah menunaikan ibadah salat Jumat.
Peringatan itu bertepatan seminggu setelah kejadian penembakan tersebut. Pada acara peringatan itu, Perdana Menteri Jacinda Ardern mengimbau untuk menyiarkan langsung azan dan agenda mengheningkan cipta, tidak hanya di Selandia Baru namun juga pada tingkat global.
Pada acara tersebut dilakukan pengumandangan azan dan salat Jumat berjamaah bagi umat Muslim di Selandia Baru. Saat salat Jumat dilakukan, warga non muslim Selandia Baru membentuk rantai manusia guna melindungi umat Muslim Selandia Baru yang tengah menunaikan ibadah salat Jumat.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka konten yang dibagikan oleh akun atas nama Andi tidak benar. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori False Context atau Konten yang Salah.
Rujukan
- https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1170817046584162/
- https://www.rtbf.be/info/monde/detail_l-appel-a-la-priere-relaye-dans-tout-le-pays-la-nouvelle-zelande-rend-hommage-aux-victimes-de-christchurch?id=10177357
- https://www.abc.net.au/news/2019-03-22/new-zealand-pays-tribute-to-christchurch-victims-in-ceremony/10929060
- https://www.bbc.com/indonesia/dunia-47663322
- https://www.youtube.com/watch?v=jbiCuU-Lcb4
- https://news.detik.com/foto-news/d-4478859/penampakan-rantai-manusia-warga-new-zealand-saat-salat-jumat/1
- https://foto.tempo.co/read/71221/saat-muslim-salat-jumat-warga-selandia-baru-bikin-rantai-manusia#foto-2
(GFD-2020-3857) [SALAH] Pilkada 2020 Sumenep Siap Digelar
Sumber: facebook.comTanggal publish: 27/04/2020
Berita
Di tengah merebaknya virus corona atau Covid-19, beredar postingan flyer di akun Facebook Abdul Wahhab. Isinya terkait sukseskan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sumenep yang berisikan foto empat pasang bakal calon bupati. Berikut kutipan narasinya:
“Rakyat Sumenep Menentukan”
“Rakyat Sumenep Menentukan”
Hasil Cek Fakta
Setelah dilakukan penelusuran dengan mesin pencari, ditemukan pemberitaan dari Tribun Madura berjudul “Poster Digital Pilkada Sumenep 2020 Tersebar di WhatsApp, KPU Sumenep Beri Konfirmasi: Hoaks.”
Dalam narasinya Komisioner KPU Sumenep Rafiqi Tanzil mengklarifikasi, pilkada ditunda dan tidak mengeluarkan poster atau gambar apapun. Dikonfirmasi juga dari bakal calon bupati Sumenep, Fattah Jasin juga mengakui jika poster digital itu juga tidak benar.
Diketahui dari artikel bertajuk “Imbas Corona, KPU Kabupaten Sumenep Tunda Sejumlah Tahapan Pilkada Sumenep 2020," KPU Kabupaten Sumenep menunda tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. Penundaan tersebut dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Penundaan tahapan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sumenep ini sesuai dengan hasil rapat pleno pada tanggal 23 Maret 2020.
Hasil dari rapat pleno tersebut katanya, mengeluarkan Surat Edaran (SE) dengan Nomor 114 tertanggal 23 Maret 2020 setelah menindaklanjuti SE KPU RI dengan Nomor Surat 179/PL.02-Kpt/01/KPU/III/2020 tentang penundaan tahapan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Ibu Kota dan Wakil Wali Kota tahun 2020.
Koordinator Divisi Pengawasan Bawaslu Provinsi Jawa Barat, Zaki Hilmi mengatakan pengawasan terkait hoaks pilkada utamanya dilakukan dalam tahapan kampanye, baik kampanye yang bersifat rapat umum maupun kampanye di media sosial. Dalam strategi ini, Bawaslu Kabupaten maupun Kota mengawasi media sosial dan membuka diri terhadap informasi maupun laporan yang disampaikan oleh masyarakat.
“Kalau patroli itu, kami sifatnya proaktif untuk mencari dan itu nanti jadi temuan. Sementara untuk laporan, itu berangkat dari partisipasi masyarakat” kata Zaki Hilmi.
Dalam narasinya Komisioner KPU Sumenep Rafiqi Tanzil mengklarifikasi, pilkada ditunda dan tidak mengeluarkan poster atau gambar apapun. Dikonfirmasi juga dari bakal calon bupati Sumenep, Fattah Jasin juga mengakui jika poster digital itu juga tidak benar.
Diketahui dari artikel bertajuk “Imbas Corona, KPU Kabupaten Sumenep Tunda Sejumlah Tahapan Pilkada Sumenep 2020," KPU Kabupaten Sumenep menunda tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. Penundaan tersebut dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Penundaan tahapan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sumenep ini sesuai dengan hasil rapat pleno pada tanggal 23 Maret 2020.
Hasil dari rapat pleno tersebut katanya, mengeluarkan Surat Edaran (SE) dengan Nomor 114 tertanggal 23 Maret 2020 setelah menindaklanjuti SE KPU RI dengan Nomor Surat 179/PL.02-Kpt/01/KPU/III/2020 tentang penundaan tahapan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Ibu Kota dan Wakil Wali Kota tahun 2020.
Koordinator Divisi Pengawasan Bawaslu Provinsi Jawa Barat, Zaki Hilmi mengatakan pengawasan terkait hoaks pilkada utamanya dilakukan dalam tahapan kampanye, baik kampanye yang bersifat rapat umum maupun kampanye di media sosial. Dalam strategi ini, Bawaslu Kabupaten maupun Kota mengawasi media sosial dan membuka diri terhadap informasi maupun laporan yang disampaikan oleh masyarakat.
“Kalau patroli itu, kami sifatnya proaktif untuk mencari dan itu nanti jadi temuan. Sementara untuk laporan, itu berangkat dari partisipasi masyarakat” kata Zaki Hilmi.
Kesimpulan
Jadi hasil temuan selebaran Pilkada Sumenep yang ada di media sosial, merupakan tidak benar dan pilkada serentak pun ditunda selama pandemi Corona. Bawaslu Pilkada Sumenep juga tidak mengeluarkan selebaran apapun terkait Pilkada. Informasi tersebut dinyatakan sebagai Misleading Content atau Konten yang menyesatkan.
Rujukan
- https://madura.tribunnews.com/2020/03/25/imbas-corona-kpu-kabupaten-sumenep-tunda-sejumlah-tahapan-pilkada-sumenep-2020
- https://madura.tribunnews.com/2020/04/03/poster-digital-pilkada-sumenep-2020-tersebar-di-whatsapp-kpu-sumenep-beri-konfirmasi-hoaks?page=all
- https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/pr-01371401/hoaks-terkait-pilkada-2020-bertebaran-bawaslu-patroli-media-sosial
(GFD-2020-3858) [SALAH] Karena Pandemi COVID-19, yang Seharusnya Dibebaskan Narapidana Pencuri Ayam, Bukan malah Terpidana Koruptor
Sumber: facebook.comTanggal publish: 27/04/2020
Berita
Akun Facebook atas nama Intan mengunggah foto sejumlah pria dengan menggunakan rompi warna orange. Dalam foto tersebut terdapat tulisan “TERIMA KASIH COVID-19 Berkat jasa kamu kami dibebaskan.” Selain itu, pada postingan terdapat narasi yang menyatakan bahwa yang seharusnya dibebaskan adalah Narapidana pencuri ayam, bukan Terpidana kasus korupsi uang negara 2,3 tiriliun yang dibebaskan dari penjara karena pandemi COVID-19.
Berikut kutipan narasinya:
“MEREKA SUDAH AMAN didalem lapas BAPAK MENTRI
Yang dibatasi itu pengunjung
bukan mlah mngeluarkan terpidana korupsi yang JELAS JELAS sudah didalem lapas
Kamar merekapun mewah.mewah enak .
seharusnya keluar adalah lapas yg penghuninya sesak...yaitu penjaranya pencuri ayam
Bukan malah mngeluarkan terpidana korupsi uang negara 2,3 triliun
Hehe....
Klau jadi dikeluarin pasti bgini modelnya”
Berikut kutipan narasinya:
“MEREKA SUDAH AMAN didalem lapas BAPAK MENTRI
Yang dibatasi itu pengunjung
bukan mlah mngeluarkan terpidana korupsi yang JELAS JELAS sudah didalem lapas
Kamar merekapun mewah.mewah enak .
seharusnya keluar adalah lapas yg penghuninya sesak...yaitu penjaranya pencuri ayam
Bukan malah mngeluarkan terpidana korupsi uang negara 2,3 triliun
Hehe....
Klau jadi dikeluarin pasti bgini modelnya”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran tidak ditemukan bahwa Narapidana koruptor akan dibebaskan karena pandemi COVID-19. Dikutip melalui laman detik.com, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana membebaskan Narapidana tindak pidana umum (tipidum) untuk mencegah penyebaran COVID-19 di lapas. Sedangkan untuk napi kasus korupsi, Jokowi tidak pernah membicarakannya dalam rapat.
"Saya hanya ingin menyampaikan bahwa untuk napi koruptor tidak pernah kita bicarakan dalam rapat-rapat kita. Jadi dalam PP 99 tahun 2012 tidak ada revisi untuk ini. jadi pembebasan untuk napi hanya untuk napi pidana umum," kata Jokowi dalam rapat terbatas lewat video conference, Senin (6/4/2020).
Diketahui foto dalam unggahan akun tersebut adalah hasil suntingan, yang pernah tayang sebelumnya pada 19 April 2017 pada laman cnnindonesia.com dengan judul “Usai Mencoblos, Tujuh Tahanan KPK Kompak OK OCE”. Foto tersebut adalah foto tujuh tahanan KPK di Markas Detasemen Polisi Militer Guntur, Jakarta. Mereka berfoto dengan kompak bergaya mengacungkan simbol Oke Oce ciri khas pasangan calon kepala daerah DKI Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang maju pada Pilkada DKI Jakarta 2017.
"Saya hanya ingin menyampaikan bahwa untuk napi koruptor tidak pernah kita bicarakan dalam rapat-rapat kita. Jadi dalam PP 99 tahun 2012 tidak ada revisi untuk ini. jadi pembebasan untuk napi hanya untuk napi pidana umum," kata Jokowi dalam rapat terbatas lewat video conference, Senin (6/4/2020).
Diketahui foto dalam unggahan akun tersebut adalah hasil suntingan, yang pernah tayang sebelumnya pada 19 April 2017 pada laman cnnindonesia.com dengan judul “Usai Mencoblos, Tujuh Tahanan KPK Kompak OK OCE”. Foto tersebut adalah foto tujuh tahanan KPK di Markas Detasemen Polisi Militer Guntur, Jakarta. Mereka berfoto dengan kompak bergaya mengacungkan simbol Oke Oce ciri khas pasangan calon kepala daerah DKI Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang maju pada Pilkada DKI Jakarta 2017.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tersebut maka konten yang beredar di Facebook ini dapat masuk ke dalam kategori False Context atau Konten yang salah.
Rujukan
- https://news.detik.com/berita/d-4966490/jokowi-hanya-napi-pidana-umum-yang-dibebaskan-terkait-corona-bukan-koruptor
- https://www.liputan6.com/news/read/4220366/jokowi-napi-korupsi-tak-akan-bebas-tidak-ada-revisi-pp-karena-corona
- https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200406095618-12-490649/jokowi-pembebasan-napi-koruptor-tak-pernah-dibahas-di-rapat
- https://www.cnnindonesia.com/kursipanasdki1/20170419123710-516-208601/usai-mencoblos-tujuh-tahanan-kpk-kompak-ok-oce
Halaman: 7489/7990




