• (GFD-2020-4886) [SALAH] “Aplikasi Body Temperature Diary bisa mengukur suhu tubuh kita sendiri tanpa harus beli alat test”

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 22/04/2020

    Berita

    Akun Twitter Tiger Shark (twitter.com/Penyuka_ombak) mengunggah sebuah video dengan narasi sebagai berikut:

    “Wahh…ternyata kita bisa mengukur suhu tubuh kita sendiri tanpa harus beli alat test. Yukk..di coba gaes.”

    Di video yang ia unggah, menampilkan seorang wanita yang sedang mencoba aplikasi “Body Temperature Diary”. Wanita itu mengklaim, aplikasi itu bisa mengukur suhu tubuh hanya dengan menyentuh layar handphone dengan jari.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa aplikasi Body Temperature Diary bisa mengukur suhu tubuh kita sendiri tanpa harus beli alat test adalah klaim yang salah.

    Tidak ada menu ukur suhu tubuh menggunakan sidik jari di aplikasi ini. Aplikasi Body Temperature Diary ini hanya berfungsi untuk merekam suhu tubuh yang sudah diukur dengan termometer pribadi milik pengguna.

    Faktanya, ketika Tekno Liputan6.com menelusuri aplikasi Body Temperature Diary di Google Play Store dan menginstalnya di smartphone, aplikasi tersebut tidak bisa menjadi sebuah termometer untuk mengukur tubuh, apalagi hanya dengan menempelkan sidik jari di layar.

    Sebenarnya, si pembuat aplikasi Body Temperature Diary pun sudah menuliskan di bagian disclaimer yang ada Google Play Store.

    “Aplikasi ini dibuat untuk menjadi buku harian yang baik untuk (mencatat) suhu badan dan nadi Anda. (Aplikasi ini) tidak mengukur suhu dan nadi tubuh Anda,” demikian tulisan disclaimer dari si pengembang aplikasi.

    Aplikasi Body Temperature Diary sejauh ini hanya mempunyai fungsi merekam suhu tubuh yang telah diukur menggunakan termometer. Jadi, pengguna bisa menulis suhu badan mereka dengan cara manual ke kolom yang sudah disediakan. Setelah itu, aplikasi akan menganalisis statistik suhu tubuh pengguna yang sudah dicatat.

    Platform ini memberikan informasi ukuran suhu tubuh yang normal. Contohnya, jika di bawah 35 derajat Celcius, pengguna mengalami hipotermia. Sementara jika suhu tubuh di atas 37,5 derajat, pengguna mengalami demam atau hyperthermia.

    Kesimpulan

    TIDAK ADA menu ukur suhu tubuh menggunakan sidik jari di aplikasi ini. Aplikasi Body Temperature Diary ini hanya berfungsi untuk merekam suhu tubuh yang sudah diukur dengan termometer pribadi milik pengguna.

    Rujukan

  • (GFD-2020-8054) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Virus Corona Covid-19 Bisa Menular Lewat Kentut?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 22/04/2020

    Berita


    Informasi bahwa SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19, bisa menular lewat kentut beredar dalam beberapa hari terakhir. Informasi itu disebut berasal dari dokter asal Australia, Andy Tagg. Di Facebook, informasi tersebut dibagikan salah satunya oleh halaman Medan Talk, yakni pada 19 April 2020.
    Menurut Medan Talk, Tagg menyatakan bahwa penularan Covid-19 bisa terjadi lewat kentut usai menganalisis penelitian yang menemukan adanya virus Corona dalam feses 55 persen pasien Covid-19 yang diteliti. Selain itu, terdapat riset yang menunjukkan bahwa kentut memiliki kekuatan untuk menerbangkan serbuk kotoran dengan cukup jauh.
    "Mungkin saja virus SARS-CoV-2 (virus Corona Covid-19) dapat menular melalui besarnya tekanan gas," ujar Tagg dalam unggahan tersebut. Medan Talk pun menyebut bahwa informasi itu berasal dari situs media Viva. Hingga kini, unggahan itu telah direspons lebih dari 200 kali dan dibagikan lebih dari 100 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan halaman Facebook Medan Talk.
    Apa benar SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19, bisa menular lewat kentut?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, informasi yang diunggah oleh halaman Medan Talk memang bersumber dari berita di Viva pada 18 April 2020 yang berjudul "Dokter Klaim Virus Corona Covid-19 Menular Lewat Kentut". Viva mengutip berita itu dari situs Daily Star yang berjudul "Coronavirus 'could be spreading across the globe through farts' claim doctors".
    Menurut Daily Star, informasi itu berasal dari dokter Australia, Andy Tagg. Tempo pun menelusuri akun media sosial milik Tagg. Dalam akun Twitter-nya, @andrewjtagg, Tagg pernah membuatthreadtentang kemungkinan penularan Covid-19 lewat kentut pada 6 April 2020. Thread inilah yang menjadi sumber dari artikel Daily Star.
    Dalamthread-nya, Tagg yang mengutip penelitian yang dipublikasikan di PubMed pada 2018 menyatakan bahwa kentut memiliki kekuatan untuk menyemburkan bedak dengan cukup jauh. Di sisi lain, berdasarkan laporan dari CDC Zhoushan, Cina, SARS-CoV-2 telah terdeteksi dalam feses dan pada individu tanpa gejala hingga 17 hari setelah terpapar.
    Sementara itu, menurut riset oleh dokter dan ahli mikrobiologi asal Australia pada 2001, kentut mengandung partikel kecil yang dapat menyebarkan bakteri. Tagg pun menyatakan SARS-CoV-2 kemungkinan bisa menular lewat kentut. "Tapi kita butuh lebih banyak bukti. Meskipun begitu, ingatlah untuk selalu mengenakan APD," ujarnya.
    Berdasarkan arsip berita Tempo, Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio mengatakan, dalam beberapa kasus, memang ditemukan virus Corona Covid-19 di feses. "Tapi ini tidak terlalu sering jika dibandingkan di saluran pernapasan," ujar Professor of Clinical Microbiology Universitas Indonesia ini saat dihubungi pada 20 April 2020.
    Meskipun begitu, menurut Amin, virus Corona bisa menyebar lewat kentut. Pasalnya, virus Corona bisa menempel pada reseptor di permukaan selaput lendir sistem pencernaan. Ketika feses keluar, ada kemungkinan virus menempel di saluran pencernaan bagian bawah. "Kalau kemudian terdorong oleh (kentut), pada prinsipnya udara atau tiupan yang keras dia bisa menjadi aerosol," tuturnya.
    Hanya saja, menurut Amin, orang normal yang menggunakan celana serta celana dalam tidak akan menyebarkan virus itu. Kasus ini bisa terjadi pada pasien yang menggunakan pakaian dari rumah sakit. "Kalau petugas kesehatan sedang membersihkan dan pasien kentut, mungkin saja menyebar," tutur Amin sembari menambahkan, "Tapi masih sangat terbatas informasinya."
    Guru Besar Biologi Molekuler Universitas Airlangga, Chairul Anwar Nidom, juga mengatakan bahwa virus Corona Covid-19 mungkin untuk menular melalui feses dan kentut. Menurut dia, kemungkinan tersebut pernah diteliti oleh tim dari Harbin Veterinary Research Institute (HVRI) Cina pada anjing. Penelitian itu dilakukan terhadap swab dari anus anjing.
    Nidom pun mengatakan bahwa temuan tersebut tidak mengherankan karena reseptor virus Corona, ACE2, berada di beberapa organ. "Riset itu menunjukkan bahwa keluarnya virus melalui saluran pernapasan dan atau saluran pencernaan ada hubungannya dengan host atau inang dari virus tersebut," ujar Nidom pada 20 April 2020.
    Selain melakukan penelitian terhadap anjing, ujar Nidom, HVRI melakukan riset terhadap swab dari tenggorokan kucing dan ferret. Berdasarkan riset itu, Nidom menyimpulkan virus Corona Covid-19 bisa menyebar lewat kentut atau feses. Meskipun belum ada bukti ilmiah dan klinis yang mendukung, dia mengingatkan virus Corona Covid-19 cukup unik dan tidak bisa diprediksi.
    Menurut peneliti bidang mikrobiologi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia Sugiyono Saputra, yang mengutip laporan di British Medical Journal, mikroorganisme memang bisa keluar saat proses pelepasan gas dari sistem pencernaan melalui anus. Meskipun begitu, mikroorganisme yang keluar saat kentut tidak akan bisa menyebar ketika seseorang memakai celana.
    Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa celana mampu menjadi barrier untuk mencegah kemungkinan menyebarnya mikroorganisme. "Jadi, tidak perlu khawatir tentang itu asalkan memakai celana. Sepengetahuan saya, penyakit yang penularannya lewat feses pun belum pernah dilaporkan bisa lewat kentut," ujarnya kepada CNN Indonesia pada 20 April 2020.
    Sugiyono membenarkan bahwa virus Corona Covid-19 pernah dilaporkan terdeteksi pada feses serta benda di area toilet. Namun, viabilitas dari virus tersebut belum diuji, dan bukti ilmiah yang menunjukkan penularannya secara langsung pun belum pernah dilaporkan. "Mengutip pernyataan WHO, penularan utama Covid-19 adalah dari droplet saluran pernapasan," katanya.
    Hal serupa diungkapkan oleh dokter spesialis paru, Erlang Samoedro. Menurut dia, seperti dilansir dari CNN Indonesia, penularan virus Corona Covid-19 lewat kentut sulit terjadi. Virus ini memang ditemukan pada feses. Namun, Erlang menilai bahwa aerosolasisasi ke udara bebas lebih kecil lantaran terhalang pakaian.
    Kalau pun terdapat virus dalam kentut, orang yang kentut tersebut tentu mengenakan celana yang memungkinkan virus tersaring. "Kalau mungkin (menular melalui kentut), ya memang mungkin, tapipractical less likely," ujar Sekretaris Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia ini pada 20 April 2020.
    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ), Covid-19 dapat menyebar dari orang ke orang lewatdropletatau tetesan dari hidung atau mulut ketika seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin. Selain itu, menurut ahli epidemiologi Dicky Budiman saat dihubungi pada 14 April 2020, virus ini juga berpotensi menular secara aerosol.
    Namun, saat ini, para peneliti masih melakukan riset mengenai sejauh mana kemungkinan penularan Covid-19 secara aerosol. Menurut ahli epidemiologi dari Pusat Dinamika Penyakit Menular Harvard, William Hanage, seperti dilansir dari Vice, para ilmuwan juga belum bisa memastikan sejauh mana virus Corona Covid-19 dapat menyebar melalui udara.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, virus Corona Covid-19 memang dinilai mungkin untuk menular lewat kentut. Namun, hingga artikel ini dimuat, belum ada bukti ilmiah dan klinis yang mendukung klaim bahwa virus Corona Covid-19 bisa menyebar melalui kentut. Sejauh ini, penelitian baru dilakukan terhadap feses orang yang terinfeksi virus Corona Covid-19. Dalam beberapa kasus, virus itu ditemukan di feses. Selain itu, hingga kini, para peneliti masih melakukan riset mengenai sejauh mana kemungkinan penularan Covid-19 secara aerosol.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8055) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Bill Gates Bikin Vaksin Corona yang Dipasang Microchip?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 22/04/2020

    Berita


    Pesan berantai yang berisi narasi bahwa Bill Gates, pendiri Microsoft, membuat vaksin yang dipasang microchip beredar grup-grup percakapan WhatsApp sejak Senin, 20 April 2020. Pesan berantai itu diklaim berasal dari mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari. Pesan berantai tersebut diberi judul "Vaksin Bill Gates Jangan Digunakan di Indonesia, Mengapa?".
    Dalam pesan berantai itu, disebutkan bahwa Bill Gates telah menyiapkan vaksin Corona untuk 7 miliar penghuni dunia. Bahkan, uji coba vaksin itu sudah mulai dilakukan. "Yang lebih mengkhawatirkan, untuk mencapai obsesinya, Bill Gates telah menjalin hubungan dengan pemerintah negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, agar vaksinnya menjadi program resmi pemerintah."
    Pesan berantai itu juga menyebutkan bahwa, untuk menghadapi wabah Corona di Indonesia, pemerintah sebaiknya tidak menggunakan vaksin yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan farmasi yang berkaitan dengan Bill Gates. Menurut pesan berantai tersebut, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian, yakni:
    "Menurut saya, Indonesia saat ini tidak perlu vaksin Corona karena virusnya sangat labil. Dan kita tidak punya data yang valid mana orang yang positif corona dan negatif. Demi ketahanan nasional kita, andaikan kita pada suatu saat memerlukan vaksin (ada syarat tertentu), (maka-red) kita harus mampu membuat vaksin mandiri dengan strain kita sendiri, dengan keamanan yang bisa kita percaya tidak ditumpangi kepentingan politik bangsa lain. Saatnya kita mandiri dalam melindungi rakyat kita. Ingat, kesehatan adalah kunci utama ketahanan nasional."
    Dalam pesan berantai itu, terdapat pula tulisan dengan subjudul "Vaksinasi dan Microchip Bill Gates". Menurut tulisan itu, yang mengutip berita dari Kompas.com, sebuah vaksin anti-Corona akan diuji coba secara klinis setelah mendapat restu dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat. Vaksin itu diajukan oleh perusahaan bio teknologi yang berbasis di Pennsylvania, AS, bernama Inovio Pharmaceuticals. Pengembangan vaksin ini, turut disokong oleh Bill Gates dan istrinya, Melinda Gates, melalui Bill and Melinda Gates Foundation.
    Tulisan ini pun mengutip dua artikel dari situs asing NY Post. Pertama, artikel tentang vaksinasi oleh Bill Gates yang dibarengi dengan pemasangan microchip ke dalam tubuh orang yang divaksin. Kedua, artikel tentang penemuan yang menunjukkan bahwa virus Corona tidak stabil dan sudah berkali-kali terjadi mutasi.
    Artikel ini akan berisi pemeriksaan fakta terhadap dua hal, yakni:

    Hasil Cek Fakta


    Apa benar pesan berantai itu berasal dari mantan Menkes, Siti Fadilah Supari?
    Kepada Liputan6.com, kuasa hukum Siti Fadilah Supari, Achmad Colidin, membenarkan bahwa tulisan tersebut merupakan tulisan Siti Fadilah. "Iya betul (tulisan Siti Fadilah Supari). Jadi, Ibu menulis di kertas, kemudian dikasih ke keluarga," kata Achmad pada 21 April 2020.
    Menurut Achmad, walaupun berada di dalam rumah tahanan, Siti tidak menutup telinga dengan informasi yang ada. Informasi seputar Covid-19 bisa didapatkan dari internet yang disediakan bagi seluruh penghuni penjara. Siti pun menuliskan surat yang berisi saran kepada pemerintah soal vaksin yang diproduksi oleh perusahaan yang terkait dengan Bill Gates.
    Namun, surat yang ditulis oleh Siti hanya sampai pada kalimat "ingat, kesehatan adalah kunci utama ketahanan nasional". Seperti dikutip dari berita di Liputan6.com pada 21 April 2020, tulisan dengan subjudul "Vaksinasi dan Microchip Bill Gates" tidak terdapat dalam surat Siti.
    Benarkah Bill Gates membuat vaksin Covid-19 yang dipasang microchip?
    Dilansir dari Reuters, rumor mengenai rencana Bill Gates untuk memakai implan microchip dalam melawan pandemi Covid-19 bermula dari wawancara pendiri Microsoft itu dengan para pengguna Reddit. Setelah wawancara itu berakhir, muncul sebuah tulisan berjudul "Bill Gates will use microchip implants to fight coronavirus".
    Ditulis layaknya sebuah berita, tulisan yang menyesatkan itu menyebut bahwa "quantum dot dye", teknologi yang ditemukan oleh Gates Foundation, akan digunakan sebagai kapsul yang diimplan ke manusia yang memiliki "sertifikat digital". Teknologi ini disebut dapat menunjukkan siapa saja yang sudah menjalani tes Covid-19.
    Kepada Reuters, salah satu penulis utama makalah penelitian mengenaiquantum dot dye, Kevin McHugh, mengatakan, "Teknologiquantum dot dyebukan berbentuk microchip atau kapsul yang bisa diimplan ke manusia, dan setahu saya tidak ada rencana menggunakan teknologi ini untuk memerangi pandemi Covid-19."
    Dalam wawancara di Reddit itu, Bill Gates memang sempat menyebut "sertifikat digital". Namun, penyebutan "sertifikat digital" itu untuk menjawab pertanyaan mengenai dampak pandemi Covid-19 terhadap bisnis dan ekonomi dunia. Dalam wawancara tersebut, Bill Gates sama sekali tidak menyinggung masalah microchip.
    Organisasi cek fakta AS, FactCheck, juga telah memverifikasi klaim "Bill Gates berencana menggunakan vaksin Covid-19 untuk melacak orang-orang dengan microchip". Menurut mereka, klaim itu keliru. Gates Foundation mengkonfirmasi bahwa penelitian mengenaiquantom dot dyetidak terkait dengan vaksin Covid-19. Begitu pula dengan sertifikat digital.
    Terkait vaksin Bill Gates
    Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), lembaga yang didanai oleh Bill and Melinda Gates Foundation, memang mendukung pengembangan vaksin Corona Covid-19 oleh Inovio Pharmaceuticals Inc. Pada 7 April 2020, seperti dilansir dari Tech Crunch, FDA AS juga telah menerima aplikasi dari Inovio untuk melakukan uji coba klinis fase 1 vaksin Covid-19 pada manusia. Vaksin tersebut bernama INO-4800.
    Namun, vaksin itu sejatinya tidak dibuat dari nol. Sebelumnya, Inovio telah merampungkan studi fase 1 vaksin untuk Middle East Respiratory Syndrome (MERS). MERS berasal dari keluarga virus yang sama dengan Covid-19, yakni virus Corona. Studi itu menunjukkan hasil yang menjanjikan, di mana antibodi level tinggi yang diproduksi bertahan cukup lama.
    Inovio pun baru mulai mengembangkan vaksin Covid-19 pada 10 Januari 2020. Di tanggal tersebut, para ilmuwan Cina membagikan sekuens genetik dari virus Corona Covid-19. Tiga jam setelah menerima sekuens genetik itu, Inovio mulai merancang vaksin INO-4800. Ketika itu, Inovio belum mendapatkan pendanaan dari CEPI. Baru pada 23 Januari 2020 Inovio menerima hibah sebesar US$ 9 juta dari CEPI untuk pengembangan vaksin INO-4800.
    Selain itu, bukan Inovio saja yang sudah memulai tahap uji coba vaksin Covid-19 pada manusia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ), terdapat tiga perusahaan yang telah memulai uji coba vaksin Covid-19 pada manusia. Pertama adalah CanSino Biologics Inc, yang uji cobanya telah memasuki fase kedua. Adapun dua lainnya adalah Moderna Inc dan Inovio. CanSino Biologics dan Moderna memulai uji coba pada manusia sejak Maret lalu.
    Saat dihubungi Tim CekFakta Tempo pada 21 April 2020, ahli epidemiologi Dicky Budiman juga mengatakan, hingga kini, belum ada vaksin untuk Covid-19. Begitu pula dengan vaksin Bill Gates. Kalau pun ada, vaksin itu akan sangat diperlukan untuk mengakhiri pandemi.
    Menurut Dicky Budiman, selama ini, Bill Gates merupakan "musuh" kaum antivaksin. "Jadi, segala hal yang bisa menjadi penguat gerakan antivaksin akan diangkat. Ini bukan hal baru, isu terkait vaksin dan Bill Gates," ujar kandidat doktor di Universitas Griffith Australia tersebut.
    Adapun soal klaim bahwa Bill Gates telah mengumumkan akan adanya pandemi besar, ketika itu, dia berbicara dalam konferensi TED pada 2015. Namun, dalam video konferensi tersebut yang diunggah TED di situsnya, Bill Gates tidak menyebut tahun berapa wabah itu bakal terjadi. Saat itu, Bill Gates hanya menyatakan bahwa dunia perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi wabah berikutnya, setelah terjadinya wabah Ebola pada 2014.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, surat yang ditulis oleh mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari, telah mengalami modifikasi. Dalam surat Siti, tidak terdapat tulisan dengan subjudul "Vaksinasi dan Microchip Bill Gates" sebagaimana yang terdapat dalam pesan berantai di atas. Sementara itu, klaim bahwa Bill Gates membuat vaksin Covid-19 yang dipasang microchip adalah klaim yang keliru.
    IBRAHIM ARSYAD | ANGELINA ANJAR SAWITRI
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-3846) [SALAH] Luhut Perintahkan TNI-Polri Tangkap Pemda yang Tutup Bandara

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 21/04/2020

    Berita

    Akun Ahmad Muhajir membagikan sebuah tangkapan layar yang mengklaim bahwa Luhut Binsar Pandjaitan memerintahkan TNI-Polri untuk menangkap Pemerintah Daerah (Pemda) yang menutup bandara. Dalam tangkapan layar tersebut juga tampak kutipan pernyataan Luhut mengenai dirinya memiliki kekuasaan negara.

    Berikut kutipan narasinya:

    Ada dua narasi, yakni narasi pada postingan dan narasi pada gambar tangkapan layar. Berikut narasinya:

    Narasi pada postingan:

    “Pedasnya LEVEL 10.....

    Se Indonesia NGGAK PUNYA NYALI.....negelawan KAKEK TUA.....”

    Narasi pada gambar tangkapan layar:

    “Luhut Minta Panglima TNI dan Kapolri Kawal Bandara, Jangan Sampai Ditutup Pemda.

    Tangkap kalau ada yang melawan. Jangan ada yang kurang ajar sama saya dan pada pemerintah pusat.

    LBP: "Negara ini Dalam Kekuasaan saya..." Kamu Mau apa... Saya Akan Buldozer Siapapun yang Ganggu Ahok, China Dan Kelompok Saya. Siapapun Dia. Ini Bisnis dan Investasi Lebih Penting Dari Hidup Kalian.”

    Hasil Cek Fakta

    Melalui penelusuran, diketahui bahwa postingan itu menyesatkan. Sebab, judul yang dikutip pada tangkapan layar berasal dari pemberitaan bizlaw.id berjudul “Luhut Minta Panglima TNI dan Kapolri Kawal Bandara, Jangan Sampai Ditutup Pemda” yang tayang pada tanggal 7 April 2020.

    Pada pemberitaan tersebut, tidak ditemukan Menteri Luhut memerintahkan TNI-Polri untuk menangkap Pemda. Bahkan, tidak ditemukan pernyataan bahwa ia menguasai negara. Berikut kutipan beritanya:

    […] Luhut Minta Panglima TNI dan Kapolri Kawal Bandara, Jangan Sampai Ditutup Pemda

    Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang kemungkinan akan diterapkan sejumlah daerah langsung diantisipasi pemerintah pusat. Luhut Panjaitan selaku Menteri Perhubungan ad interim, meminta kepada para stakeholder terkait agar tidak menutup prasarana transportasi publik seperti bandara hingga terminal selama masa penyebaran wabah virus corona. Panglima TNI dan Kapolri termasuk yang diminta Luhut untuk menjaga transportasi umum tetap berjalan normal.

    Terdapat 8 tembusan dalam surat Luhut, antara lain kepada Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri BUMN, Panglima TNI, Kapolri, hingga Kepala BNPB.

    "Dalam rangka memberikan kepastian terhadap pelayanan transportasi nasional tetap berjalan, maka Kementerian Perhubungan mengharapkan dukungan dan kerjasama seluruh Pemerintah Daerah, TNI dan Polri serta stakeholder terkait untuk bersama-sama memastikan agar pelayanan transportasi di wilayah operasional Bandar Udara, Pelabuhan, Terminal, Stasiun dan prasarana transportasi lainnya dapat tetap berjalan," tulis Luhut dalam Surat Menhub Nomor PL. 001/1/4 PHB 2020 perihal Operasionalisasi Bandar Udara, Pelabuhan dan Prasarana Transportasi lainnya tertanggal 6 April 2020.

    Operasional seluruh sarana transportasi itu disebutnya tetap dapat berjalan dengan mengoptimalkan pengawasan serta mengacu pada protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19.

    "Berkenaan dengan hal tersebut di atas, mohon dikiranya Menteri dapat menyampaikan kebijakan tersebut kepada Kepala Daerah di seluruh Indonesia serta menghimbau agar tidak melakukan penutupan fasilitas transportasi yang berada pada wilayahnya," pinta Luhut. […]

    Pemberitaan itu sejalan dengan sejumlah pemberitaan terkait permintaan Menteri Luhut agar transportasi publik tetap berjalan selama masa pandemi COVID-19. Pemberitaan dari liputan6.com dengan judul “Menko Luhut Larang Bandara hingga Terminal Tutup Meski Ada Corona” yang tayang pada tanggal 6 April 2020 berisikan permintaan operasional bandara dan transportasi publik tetap berjalan.

    Dalam pemberitaan itu juga tidak ditemukan perintah Luhut kepada TNI-Polri terhadap Pemda yang menutup bandara. Pemberitaan tersebut hanya membahas seputar isi dalam Surat Menhub Nomor PL. 001/1/4 PHB 2020 perihal Operasionalisasi Bandar Udara, Pelabuhan dan Prasarana Transportasi lainnya tertanggal 6 April 2020. Berikut kutipannya:

    […] Menko Luhut Larang Bandara hingga Terminal Tutup Meski Ada Corona

    Liputan6.com, Jakarta - Luhut Binsar Pandjaitan selaku Ad Interim Menteri Perhubungan (Menhub) meminta kepada para stakeholder terkait untuk tidak melakukan penutupan terhadap prasarana transportasi publik semisal bandara hingga terminal selama masa penyebaran wabah virus corona (Covid-19).

    Permintaan itu dituangkan dalam Surat Menhub Nomor PL. 001/1/4 PHB 2020 perihal Operasionalisasi Bandar Udara, Pelabuhan dan Prasarana Transportasi lainnya tertanggal 6 April 2020.

    Terdapat 8 tembusan dalam surat tersebut, antara lain kepada Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri BUMN, Panglima TNI, Kapolri, hingga Kepala BNPB.

    "Dalam rangka memberikan kepastian terhadap pelayanan transportasi nasional tetap berjalan, maka Kementerian Perhubungan mengharapkan dukungan dan kerjasama seluruh Pemerintah Daerah, TNI dan Polri serta stakeholder terkait untuk bersama-sama memastikan agar pelayanan transportasi di wilayah operasional Bandar Udara, Pelabuhan, Terminal, Stasiun dan prasarana transportasi lainnya dapat tetap berjalan," tulis Luhut dalam surat tersebut.

    Operasional seluruh sarana transportasi itu disebutnya tetap dapat berjalan dengan mengoptimalkan pengawasan serta mengacu pada protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19.

    "Berkenaan dengan hal tersebut di atas, mohon dikiranya Menteri dapat menyampaikan kebijakan tersebut kepada Kepala Daerah di seluruh Indonesia serta menghimbau agar tidak melakukan penutupan fasilitas transportasi yang berada pada wilayahnya," pinta Luhut.

    Koordinasi dengan Pemerintah Pusat

    Senada, Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati menyatakan, kepastian pelayanan transportasi tetap dapat berjalan baik dilakukan untuk menjamin lancarnya lalu lintas distribusi barang/logistik yang masih sangat dibutuhkan masyarakat.

    "Penutupan fasilitas transportasi seperti bandara, pelabuhan, terminal, dan stasiun, harus dikoordinasikan dengan pemerintah pusat agar tidak mengganggu distribusi logistik yang dibutuhkan masyarakat," tegas dia.

    Di sisi lain, ia juga mengajak tiap operator angkutan penumpang untuk tetap mengikuti protokol kesehatan yang berlaku, terutama kepada masyarakat yang hendak mudik di tengah penyebaran virus corona.

    "Kemenhub terus menghimbau kepada masyarakat untuk tidak mudik dan akan menerapkan aturan yang ketat sesuai dengan protokol kesehatan bagi masyarakat yang tetap ingin mudik," ujar dia. […]

    Pemberitaan lainnya, yakni dari bisnis.com, dengan judul “Corona Mewabah, Luhut Perintahkan Bandara Hingga Pelabuhan Tetap Beroperasi” yang tayang pada 6 April 2020 juga tidak ditemukan perintah Menteri Luhut untuk menangkap Pemda. Berikut kutipan beritanya:

    […] Corona Mewabah, Luhut Perintahkan Bandara Hingga Pelabuhan Tetap Beroperasi

    Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akhirnya meminta agar akses transportasi seperti bandara, pelabuhan, terminal, dan stasiun yang menjadi objek vital nasional yang ditutup sepihak oleh pemerintah daerah agar segera kembali dibuka.

    Beberapa pemda memang melakukan penutupan akses transportasi guna memutus rantai penyebaran Covid-19, tetapi berdasarkan regulasi, prasarana transportasi tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat dalam hal ini Kemenhub.

    Surat yang bertanda tangan Menteri Perhubungan Ad Interim Luhut Binsar Panjaitan menyebut kewenangan terhadap pengawasan dan pengamanannya dan dalam hal akan dilakukan penutupan atau penghentian operasional prasarana transportasi harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat.

    "Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam rangka memberikan kepastian terhadap pelayanan transportasi nasional tetap berjalan, Kemenhub mengharapkan dukungan dan kerja sama seluruh pemerintah daerah, TNI dan Polri serta stakeholder untuk bersama-sama memastikan agar pelayanan transportasi di wilayah operasional dapat tetap berjalan dengan mengoptimalkan pengawasan serta mengacu pada protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19," begitu jelasnya dalam surat yang dikutip, Senin (6/4/2020).

    Surat bernomor PL.001/1/4 Phb 2020 tersebut ditujukan kepada Kementerian Dalam Negeri yang akan memerintahkan kepada Kepala Daerah untuk kembali membuka layanan transportasi umum yang sempat ditutup seperti yang terjadi di Papua dan Kalimantan Timur.

    Lebih lanjut, tulisnya, memperhatikan situasi terkini penyebaran Covid-19 maka diperlukan peningkatan pengamanan dan pengawasan pergerakan orang dan atau barang oleh pengelola prasarana transportasi bersama stakeholder terkait sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.

    "Berkenaan dengan hal tersebut, mohon kiranya Menteri [Dalam Negeri] dapat menyampaikan kebijakan tersebut kepada Kepala Daerah di seluruh lndonesia serta menghimbau agar tidak melakukan penutupan fasi

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut maka konten postingan terbukti tidak benar. Oleh sebab itu, maka konten tersebut masuk kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.

    Rujukan