Akun Hijriah (fb.com/yuria.chilelowditzhuqae) mengunggah foto Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi dengan narasi sebagai berikut:
“Gubernur SUMUT instruksikan
“Seluruh MASJID buka pintu selapang lapangnya untuk orang ibadah…jangan kosongkan masjid.. klw perlu ajak dzikir bersama-sama….Hidup dan mati itu kehendak Allah…Mati sedang shlat, mati sedang berdzikir, mati sedang ibadah lebih baik ketimbang mati mengurung diri tanpa ibadah”
-Edi Rahmayadi (Gubernur Sumatera Utara) -“
(GFD-2020-4888) [SALAH] “Gubernur SUMUT instruksikan Seluruh MASJID buka pintu selapang lapangnya untuk orang ibadah”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 24/04/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, klaim bahwa Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengintruksikan agar masjid dibuka seluas-luasnya di tengah pandemi COVID-19 adalah klaim yang salah.
Edy Rahmayadi tidak pernah mengeluarkan intruksi tersebut. Edy hanya pernah menyatakan agar umat Islam tidak meninggalkan masjid pada pertengahan bulan Maret 2020.
Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait dengan memasukkan kata kunci “Gubernur Sumut Perintahkan Buka Masjid” ke mesin pencarian Google. Hasilnya, tidak ditemukan pernyataan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi yang memerintahkan agar masjid dibuka seluas-luasnya untuk beribadah di saat pandemi Covid-19.
Tidak ditemukan pula kutipan yang berasal dari Edy seperti yang terdapat dalam gambar tangkapan layar di atas bahwa, “Hidup mati itu kehendak Allah. Mati sedang salat, mati sedang zikir, mati sedang ibadah lebih baik ketimbang mengurung diri.”
Edy hanya pernah menyatakan agar umat Islam tidak meninggalkan masjid. “Khusus beragama Islam, jangan meninggalkan masjid karena takut Corona. Siapkan alas untuk tempat kita bersujud. Dengan sajadah yang kecil juga boleh, yang besar juga boleh, bawa sapu tangan,” ujar Edy di Deli Serdang, Sumut, pada 15 Maret 2020, seperti dilansir dari Kumparan.com.
Edy juga pernah memerintahkan agar karpet masjid dibuka. Warga yang beragama Islam diminta membawa alas sendiri saat salat berjemaah di masjid. Hal itu disampaikan Edy dalam rapat yang membahas masalah kesehatan di Kantor Gubernur Sumut pada pertengahan Maret 2020.
Pernyataan tersebut diberitakan salah satunya oleh Detik.com pada 17 Maret 2020 dengan judul “Gubsu Edy Perintahkan Sekolah Libur-Karpet Masjid Dibuka demi Cegah Corona”.
Saat itu, Edy berkata, “Karpet-karpet sementara dibuka. Biarkan saja di semen. Nanti dipel. Masing-masing pakai sajadah masing-masing.”
Setelah ditelusuri, gambar tangkapan layar yang diunggah oleh akun Torrellap Brayy tersebut sudah beredar sejak pertengahan Maret 2020. Pemerintah Provinsi Sumut pun membantah bahwa Edy pernah mengintruksikan agar masjid dibuka seluas-luasnya di tengah pandemi Covid-19.
“Nggak ada, nggak ada. Itu dari mana?” ujar Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Sekretaris Daerah Provinsi Sumut, Hendra Dermawan Siregar, seperti dikutip dari Medan Bisnis Daily pada 22 Maret 2020.
Hendra pun menambahkan bahwa gambar tangkapan layar tersebut sudah distempel hoaks.
“Kan yang ada kemarin, dari WA (WhatsApp) orang masuk, dia (Edy) pakai pakaian tentara, terus membilangkan semua orang masuk ke masjid, itu udah kita stempel hoax,” kata Hendra.
Edy Rahmayadi tidak pernah mengeluarkan intruksi tersebut. Edy hanya pernah menyatakan agar umat Islam tidak meninggalkan masjid pada pertengahan bulan Maret 2020.
Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait dengan memasukkan kata kunci “Gubernur Sumut Perintahkan Buka Masjid” ke mesin pencarian Google. Hasilnya, tidak ditemukan pernyataan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi yang memerintahkan agar masjid dibuka seluas-luasnya untuk beribadah di saat pandemi Covid-19.
Tidak ditemukan pula kutipan yang berasal dari Edy seperti yang terdapat dalam gambar tangkapan layar di atas bahwa, “Hidup mati itu kehendak Allah. Mati sedang salat, mati sedang zikir, mati sedang ibadah lebih baik ketimbang mengurung diri.”
Edy hanya pernah menyatakan agar umat Islam tidak meninggalkan masjid. “Khusus beragama Islam, jangan meninggalkan masjid karena takut Corona. Siapkan alas untuk tempat kita bersujud. Dengan sajadah yang kecil juga boleh, yang besar juga boleh, bawa sapu tangan,” ujar Edy di Deli Serdang, Sumut, pada 15 Maret 2020, seperti dilansir dari Kumparan.com.
Edy juga pernah memerintahkan agar karpet masjid dibuka. Warga yang beragama Islam diminta membawa alas sendiri saat salat berjemaah di masjid. Hal itu disampaikan Edy dalam rapat yang membahas masalah kesehatan di Kantor Gubernur Sumut pada pertengahan Maret 2020.
Pernyataan tersebut diberitakan salah satunya oleh Detik.com pada 17 Maret 2020 dengan judul “Gubsu Edy Perintahkan Sekolah Libur-Karpet Masjid Dibuka demi Cegah Corona”.
Saat itu, Edy berkata, “Karpet-karpet sementara dibuka. Biarkan saja di semen. Nanti dipel. Masing-masing pakai sajadah masing-masing.”
Setelah ditelusuri, gambar tangkapan layar yang diunggah oleh akun Torrellap Brayy tersebut sudah beredar sejak pertengahan Maret 2020. Pemerintah Provinsi Sumut pun membantah bahwa Edy pernah mengintruksikan agar masjid dibuka seluas-luasnya di tengah pandemi Covid-19.
“Nggak ada, nggak ada. Itu dari mana?” ujar Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Sekretaris Daerah Provinsi Sumut, Hendra Dermawan Siregar, seperti dikutip dari Medan Bisnis Daily pada 22 Maret 2020.
Hendra pun menambahkan bahwa gambar tangkapan layar tersebut sudah distempel hoaks.
“Kan yang ada kemarin, dari WA (WhatsApp) orang masuk, dia (Edy) pakai pakaian tentara, terus membilangkan semua orang masuk ke masjid, itu udah kita stempel hoax,” kata Hendra.
Kesimpulan
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi tidak pernah mengeluarkan instruksi tersebut. Edy hanya pernah menyatakan agar umat Islam tidak meninggalkan masjid pada pertengahan bulan Maret 2020.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/748/fakta-atau-hoaks-benarkah-gubernur-sumut-edy-rahmayadi-instruksikan-masjid-dibuka-seluas-luasnya-saat-pandemi-covid-19
- https://kumparan.com/kumparannews/edy-rahmayadi-jangan-tinggalkan-masjid-karena-takut-corona-1t1xIt5z0u5/full
- https://news.detik.com/berita/d-4942334/gubsu-edy-perintahkan-sekolah-libur-karpet-masjid-dibuka-demi-cegah-corona
- http://www.medanbisnisdaily.com/news/online/read/2020/03/22/103735/pemprov_sumut_bantah_gubernur_edy_pernah_bilang_jangan_pernah_tinggalkan_masjid_karena_corona/
(GFD-2020-4889) [SALAH] Peta Sebaran Covid-19 Wilayah Situbondo
Sumber: flyerTanggal publish: 24/04/2020
Berita
flyer yang berisi informasi terkait dengan peta sebaran virus corona atau Covid-19 wilayah Situbondo
Hasil Cek Fakta
Seorang pemuda diamankan oleh pihak berwajib setelah membuat flyer berisi informasi palsu atau hoaks terkait dengan peta sebaran virus corona atau Covid-19 wilayah Situbondo. Agar terlihat meyakinkan, pelaku turut mencantumkan logo milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo dan menggunakan format serupa.
Melansir dari jatimnow.com, Kapolres Situbondo AKBP Sugandi menjelaskan bahwa Flyer atau selebaran tersebut adalah palsu alias hoaks. Pihaknya hingga saat ini telah mengamankan pelaku untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
“Setelah dilakukan penelusuran berhasil ditemukan pembuat dan pengunggahnya. Kemudian diamankan karena berita tersebut sudah tersebar sampai keluar wilayah Situbondo,” jelas Sugandi.
Jika melihat unggahan, tentunya data yang dicantumkan pelaku sangatlah jauh berbeda jika dibandingkan dengan data sesungguhnya. Dalam flyer palsunya, pelaku menyebut bahwa positif corona di Situbondo sudah mencapai 883 orang. Melansir dari beritajatim.com, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memberikan pernyataan pers dengan rincian jumlah pasien positif Covid-19 di Jawa Timur. Khofifah merinci, positif Covid-19 di Jatim berjumlah 662 orang, 11 di antaranya dari wilayah Situbondo.
Flyer berisi informasi palsu tersebut mengacu kepada misleading content atau konten yang menyesatkan. Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.
===
Melansir dari jatimnow.com, Kapolres Situbondo AKBP Sugandi menjelaskan bahwa Flyer atau selebaran tersebut adalah palsu alias hoaks. Pihaknya hingga saat ini telah mengamankan pelaku untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
“Setelah dilakukan penelusuran berhasil ditemukan pembuat dan pengunggahnya. Kemudian diamankan karena berita tersebut sudah tersebar sampai keluar wilayah Situbondo,” jelas Sugandi.
Jika melihat unggahan, tentunya data yang dicantumkan pelaku sangatlah jauh berbeda jika dibandingkan dengan data sesungguhnya. Dalam flyer palsunya, pelaku menyebut bahwa positif corona di Situbondo sudah mencapai 883 orang. Melansir dari beritajatim.com, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memberikan pernyataan pers dengan rincian jumlah pasien positif Covid-19 di Jawa Timur. Khofifah merinci, positif Covid-19 di Jatim berjumlah 662 orang, 11 di antaranya dari wilayah Situbondo.
Flyer berisi informasi palsu tersebut mengacu kepada misleading content atau konten yang menyesatkan. Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.
===
Kesimpulan
Beredar sebuah flyer yang berisi informasi terkait dengan peta sebaran virus corona atau Covid-19 wilayah Situbondo. Masyarakat sempat dibuat percaya lantaran peta tersebut memiliki format sama persis dengan yang biasa digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Situdondo. Namun belakangan diketahui peta sebaran Covid-19 tersebut adalah palsu alias hoaks, setelah pihak berwajib berhasil mengamankan pelaku.
Rujukan
- https://jatimnow.com/baca-25811-polisi-amankan-pembuat-hoaks-peta-sebaran-covid19-di-situbondo
- https://www.sidikkasus.co.id/diduga-sebar-hoax-peta-covid-19-pakai-logo-pemkab-situbondo-oknum-kim-kanjeng-juglangan-akan-dipolisikan.html?
- https://mediajatim.com/2020/04/19/diduga-sebar-kabar-hoaks-oknum-kim-kanjeng-juglangan-terancam-dipolisikan/
- https://mediajatim.com/2020/04/19/diduga-sebar-kabar-hoaks-oknum-kim-kanjeng-juglangan-terancam-dipolisikan/
(GFD-2020-8057) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Gubernur Sumut Edy Rahmayadi Instruksikan Masjid Dibuka Seluas-luasnya Saat Pandemi Covid-19?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 24/04/2020
Berita
Narasi bahwa Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi menginstruksikan agar masjid dibuka seluas-luasnya saat pandemi Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh virus Corona baru, beredar di media sosial. Narasi itu terdapat dalam gambar tangkapan layar yang dilengkapi dengan foto Edy dengan seragam TNI.
Berikut ini narasi yang tertulis dalam gambar tangkapan layar tersebut:Gubernur Sumut intruksikan Seluruh masjid buka pintu selapang-lapangnya untuk orang ibadah.. klo perlu ajak dzikir bersama-sama... "Hidup mati itu kehendak Allah,, Mati sedang sholat, mati sedang dzikir mati sedang ibadah lebih baik ketimbang mengurung diri nggak ibadah".
Di Facebook, gambar tangkapan layar itu diunggah salah satunya oleh akun Torrellap Brayy ke halaman Kata Bijak dan Motivasi Hidup pada Rabu, 22 April 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah dibagikan lebih dari 100 kali dan disukai lebih dari 250 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Torrellap Brayy.
Apa benar Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengintruksikan agar masjid dibuka seluas-luasnya di tengah pandemi Covid-19?
Hasil Cek Fakta
Untuk memeriksa klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait dengan memasukkan kata kunci “Gubernur Sumut Perintahkan Buka Masjid” ke mesin pencarian Google. Hasilnya, tidak ditemukan pernyataan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi yang memerintahkan agar masjid dibuka seluas-luasnya untuk beribadah di saat pandemi Covid-19.
Tidak ditemukan pula kutipan yang berasal dari Edy seperti yang terdapat dalam gambar tangkapan layar di atas bahwa, "Hidup mati itu kehendak Allah. Mati sedang salat, mati sedang zikir, mati sedang ibadah lebih baik ketimbang mengurung diri."
Edy hanya pernah menyatakan agar umat Islam tidak meninggalkan masjid. "Khusus beragama Islam, jangan meninggalkan masjid karena takut Corona. Siapkan alas untuk tempat kita bersujud. Dengan sajadah yang kecil juga boleh, yang besar juga boleh, bawa sapu tangan," ujar Edy di Deli Serdang, Sumut, pada 15 Maret 2020, seperti dilansir dari Kumparan.com.
Edy juga pernah memerintahkan agar karpet masjid dibuka. Warga yang beragama Islam diminta membawa alas sendiri saat salat berjemaah di masjid. Hal itu disampaikan Edy dalam rapat yang membahas masalah kesehatan di Kantor Gubernur Sumut pada pertengahan Maret 2020.
Pernyataan tersebut diberitakan salah satunya oleh Detik.com pada 17 Maret 2020 dengan judul "Gubsu Edy Perintahkan Sekolah Libur-Karpet Masjid Dibuka demi Cegah Corona". Saat itu, Edy berkata, "Karpet-karpet sementara dibuka. Biarkan saja di semen. Nanti dipel. Masing-masing pakai sajadah masing-masing."
Setelah ditelusuri, gambar tangkapan layar yang diunggah oleh akun Torrellap Brayy tersebut sudah beredar sejak pertengahan Maret 2020. Pemerintah Provinsi Sumut pun membantah bahwa Edy pernah mengintruksikan agar masjid dibuka seluas-luasnya di tengah pandemi Covid-19. "Nggak ada, nggak ada. Itu dari mana?" ujar Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Sekretaris Daerah Provinsi Sumut, Hendra Dermawan Siregar, seperti dikutip dari Medan Bisnis Daily pada 22 Maret 2020.
Hendra pun menambahkan bahwa gambar tangkapan layar tersebut sudah distempel hoaks. "Kan yang ada kemarin, dari WA (WhatsApp) orang masuk, dia (Edy) pakai pakaian tentara, terus membilangkan semua orang masuk ke masjid, itu udah kita stempel hoax," kata Hendra.
Panduan ibadah di tengah pandemi Covid-19
Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa mengenai penyelenggaraan ibadah saat pandemi Covid-19 pada 16 Maret 2020. Dalam Fatwa Nomor 14 tahun 2020 itu, seperti dilansir dari BBC, MUI menyebut:
Pada 6 April 2020, Kementerian Agama pun telah menerbitkan surat edaran terkait Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 H di tengah pandemi Covid-19. Salah satu isi panduan itu adalah salat tarawih dilakukan secara individual atau berjamaah bersama keluarga inti di rumah. Panduan ini untuk mencegah makin meluasnya penularan virus Corona Covid-19 di Indonesia.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengintruksikan agar masjid dibuka seluas-luasnya di tengah pandemi Covid-19 adalah klaim yang keliru. Edy tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut, termasuk kutipan bahwa, "Hidup mati itu kehendak Allah. Mati sedang salat, mati sedang zikir, mati sedang ibadah lebih baik ketimbang mengurung diri."
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- http://archive.ph/U32EZ
- https://kumparan.com/kumparannews/edy-rahmayadi-jangan-tinggalkan-masjid-karena-takut-corona-1t1xIt5z0u5/full
- https://news.detik.com/berita/d-4942334/gubsu-edy-perintahkan-sekolah-libur-karpet-masjid-dibuka-demi-cegah-corona
- http://www.medanbisnisdaily.com/news/online/read/2020/03/22/103735/pemprov_sumut_bantah_gubernur_edy_pernah_bilang_jangan_pernah_tinggalkan_masjid_karena_corona/
- https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51867023
- https://kemenag.go.id/berita/read/513133/sambut-ramadan--kemenag-terbitkan-panduan-ibadah-saat-covid-19-mewabah
(GFD-2020-8058) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Pemerintah Italia Minta Pembacaan Al Quran di Tengah Pandemi Covid-19?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 24/04/2020
Berita
Halaman Facebook Tahukah Anda membagikan sebuah artikel dari situs Ayojalanterus.com yang berjudul "Pemerintah Italia Meminta Dibacakan Al Quran dan Doa untuk Melawan Wabah Corona" pada 17 April 2020. Unggahan ini viral dan telah dibagikan lebih dari 1.600 kali hingga 24 April 2020.
Menurut artikel di situs Ayojalanterus.com itu, ayat yang dibaca berasal dari Surat Al-Fatihah dan Surat Ali Imran ayat 190-193. Doa itu diminta setelah, di Italia, jumlah kasus Covid-19 per 17 April 2020 mencapai 168.941 orang, di mana 22.170 orang di antaranya meninggal.
Dalam artikel itu, diunggah pula video dari kanal YouTube Portal Islam yang berjudul sama, "Pemerintah Italia Meminta Dibacakan Al Quran dan Doa untuk Melawan Wabah Corona". Dalam video yang diunggah pada 16 April 2020 itu, terlihat seorang pria yang membacakan Al Quran di sebuah podium yang dipasang bendera Italia.
Gambar tangkapan layar unggahan halaman Facebook Tahukah Anda.
Apa benar pemerintah Italia meminta pembacaan Al Quran dan doa di tengah pandemi Covid-19?
Hasil Cek Fakta
Untuk memeriksa klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri gambar tangkapan layar dari video unggahan kanal Portal Islam dengan reverse image tool Google. Lewat cara ini, Tempo terhubung dengan akun Twitter Politic Turk yang membagikan video yang identik pada 19 April 2020. Akun itu memberikan keterangan dalam bahasa Turki yang terjemahannya adalah "Wali Kota Carpi, Italia, Alberto Bellelli, mengajarkan Al Quran".
Dalam unggahan ini, Tempo mendapatkan petunjuk dari komentar yang ditulis oleh akun Cetin Fahrettin yang membantah keterangan soal video itu. Ia mencuit bahwa video tersebut adalah video pembacaan doa dari semua agama, di antaranya Yahudi, Kristen, dan Islam, pada 13 April 2020. Acara itu digelar sebagai solidaritas sekaligus untuk mendoakan mereka yang meninggal karena virus Corona Covid-19.
Akun Cetin Fahrettin pun menyertakan sumber, yakni video berdurasi lebih panjang yang diunggah pada 13 April 2020 oleh kanal Notizie Settimanale della Diocesi di Carpi, sebuah kanal informasi yang diproduksi oleh Keuskupan Carpi, Italia. Video yang berdurasi sekitar 32 menit itu berjudul "Incontro interreligioso del 13 aprile 2020" yang artinya "Pertemuan antar agama 13 April 2020".
Gambar tangkapan layar unggahan video di kanal YouTube Notizie Settimanale della Diocesi di Carpi.
Kanal tersebut memberikan keterangan bahwa video itu adalah pertemuan antar agama dan multikultural untuk mengenang para korban Covid-19. Pertemuan ini digelar pada 13 April 2020 di Piazza Martiri, Napoli, Italia. Pertemuan itu disiarkan sekitar pukul 12 siang di stasiun televisi TRC dan TV Qui. Pertemuan antar agama tersebut diselenggarakan oleh Keuskupan Carpi bersama pemerintah kota.
Acara ini pun dihadiri oleh Wali Kota Alberto Bellelli, Vikaris Jenderal Monsinyur Ermenegildo Manicardi dari keuskupan, Rabi Beniamino Goldstein dari Komunitas Yahudi Modena dan Reggio, Imam Mourad Selmi dari Asosiasi Komunitas Muslim, Florin Chihaia dari Gereja Ortodoks autocephalous Rumania, Archpriest Arcadie Porcescu dari Gereja Ortodoks Moldavia San Spiridione di Trimithonte, Elisa Yang dari komunitas Kristen Evangelis Cina, dan Manroob Bernyanyi dari komunitas Sikh.
Untuk memastikan kebenaran lokasi penyelenggaraan kegiatan doa bersama itu, yakni Piazza Martiri, Tempo menelusurinya melalui Google Maps. Lewat penelusuran itu, dipastikan bahwa benar kegiatan tersebut memang berlokasi di Piazza Martiri.
Gambar tangkapan layar lokasi Piazza Martiri di Google Maps.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, narasi bahwa pemerintah Italia meminta pembacaan Al Quran dan doa di tengah pandemi Covid-19 sebagian benar. Pasalnya, peristiwa dalam video yang digunakan untuk menyebarkan narasi itu tidak hanya berisi pembacaan doa dari perwakilan kelompok muslim. Dalam video utuhnya, kegiatan itu juga melibatkan seluruh perwakilan agama di Italia, seperti Katolik, Kristen, Yahudi, dan Sikh. Pertemuan antar agama itu diselenggarakan oleh Keuskupan Carpi dan pemerintah kota untuk mengenang mereka yang meninggal karena terinfeksi virus Corona Covid-19.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- http://archive.ph/Z0n7c
- https://www.ayojalanterus.com/2020/04/pemerintah-italia-meminta-dibacakan-al.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook
- https://www.youtube.com/watch?v=m8I7F84DnhU&feature=emb_logo
- https://twitter.com/politicturk/status/1251798659827630081
- https://twitter.com/CetinFahrettin/status/1251932396083183617
- https://www.youtube.com/watch?v=qRY9D3A2YIw
- https://s.id/gpuJB
Halaman: 7321/7817




