• (GFD-2020-8060) [Fakta atau Hoaks] Benarkah WHO Sebut Penularan Corona Tak Lagi Hanya Lewat Droplet Tapi Juga Udara?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 27/04/2020

    Berita


    Pesan berantai yang menyebut bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan penularan virus Corona Covid-19 tidak lagi hanya melalui droplet tapi juga udara beredar di WhatsApp dan Facebook sejak Minggu, 26 April 2020. Menurut pesan berantai itu, virus Corona bisa bertahan dan melayang-layang di udara selama 8 jam.
    Selain itu, pesan berantai itu juga mengklaim bahwa virus Corona yang berada di ruangan tertutup dapat bertahan lebih lama serta lebih cepat mendarat di tubuh seseorang yang belum terkena Covid-19. "Karena udara yang berputar di situ-situ saja," demikian narasi dalam pesan berantai tersebut.
    Pesan itu disebut berasal dari juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto. Agar lebih meyakinkan, pesan berantai tersebut memuat tautan berita dari situs media Kompas.com berjudul "Jubir Pemerintah: Sesuai Rekomendasi WHO, Mulai Hari Ini Semua Gunakan Masker" yang dimuat pada 5 April 2020.
    Pesan berantai itu pun menghubungkan klaim tersebut dengan kewajiban memakai masker ketika keluar rumah. "Maka, Bapak dan Ibu tolong kita ikuti protokol yang semakin ketat ini yaitu bahwa kalau kita keluar, biarpun tidak ke kerumunan massa, WAJIB pakai masker untuk saling melindungi satu sama lain karena menurut WHO ada satu golongan baru dalam proses penularan wabah ini yaitu OTG (orang tanpa gejala)."
    Gambar tangkapan layar pesan berantai di WhatsApp yang berisi klaim tentang penularan virus Corona Covid-19 lewat udara.
    Apa benar WHO menyatakan penularan virus Corona Covid-19 tidak lagi hanya melalui droplet tapi juga udara?

    Hasil Cek Fakta


    Tim CekFakta Tempo mula-mula membaca berita dari Kompas.com yang tautannya dicantumkan dalam pesan berantai itu. Hasilnya, tidak ditemukan keterangan dari juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, bahwa WHO menyatakan penularan Covid-19 tidak lagi melalui droplet tapi juga udara.
    Selain itu, tidak ada pula penjelasan bahwa WHO menyatakan virus Corona Covid-19 bisa bertahan dan melayang-layang di udara selama 8 jam atau pun bertahan lebih lama di ruangan tertutup serta lebih cepat mendarat di tubuh seseorang yang belum terkena Covid-19 karena udara berputar di situ-situ saja.
    Berita tersebut berisi pernyataan Yuri bahwa, sesuai rekomendasi WHO dalam mencegah penyebaran Covid-19, semua orang harus menggunakan masker. Yuri juga mengatakan bahwa masyarakat dapat menggunakan masker kain. Sementara tenaga kesehatan wajib mengenakan masker bedah atau masker N95. Penggunaan masker ini penting karena, ketika seseorang berada di luar rumah, terdapat banyak sekali ancaman penularan virus.
    Sampai hari ini, WHO tidak pernah membuat pernyataan bahwa virus Corona Covid-19 bisa ditularkan melalui udara. Dalam situs resminya, WHO masih menulis bahwa, menurut penelitian sejauh ini, virus Corona Covid-19 umumnya menular melalui kontak dengan droplet dari saluran pernapasan orang yang terinfeksi, bukan melalui udara.
    WHO memberikan penjelasan bagaimana Covid-19 bisa menular melalui droplet, yakni sebagai berikut:
    Covid-19 dapat menyebar dari orang ke orang melalui droplet dari hidung atau mulut yang keluar saat orang yang terjangkit Covid-19 batuk atau napas (bersin). Droplet ini kemudian jatuh ke benda-benda dan permukaan di sekitarnya. Orang yang menyentuh benda atau permukaan tersebut lalu menyentuh mata, hidung, atau mulutnya dapat terjangkit Covid-19. Penularan Covid-19 juga dapat terjadi jika orang menghirup droplet yang keluar dari batuk atau napas (bersin) orang yang terjangkit Covid-19. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga jarak lebih dari 1 meter dari orang yang sakit. WHO terus mengkaji perkembangan penelitian tentang cara penyebaran Covid-19 dan akan menyampaikan temuan-temuan terbaru.
    Rekomendasi penggunaan masker bagi seluruh masyarakat
    Sebelumnya, WHO hanya merekomendasikan penggunaan masker bagi orang yang sakit dan orang yang merawat pasien. Pada 6 April 2020, WHO merekomendasikan penggunaan masker bagi seluruh masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Namun, alasannya bukan karena virus Corona Covid-19 bisa bertahan di udara selama 8 jam, melainkan karena kemungkinan penularan Covid-19 dari orang tanpa gejala.
    Di dokumen WHO tentang saran penggunaan masker dalam konteks Covid-19, terdapat sejumlah laporan di mana orang yang terinfeksi tapi belum menunjukkan gejala (pra-gejala) berpotensi menularkannya ke orang lain. Selain itu, ada pula orang yang telah terkonfirmasi positif Covid-19 tapi tidak menunjukkan gejala.
    Meskipun begitu, hingga saat ini, belum ada bukti bahwa pemakaian masker oleh orang yang sehat dapat mencegah mereka terinfeksi virus pernapasan, termasuk virus Corona Covid-19. Karena itu, menurut WHO, penggunaan masker tetap harus disertai dengan langkah-langkah pencegahan mendasar lainnya, yakni rajin mencuci tangan, jaga jarak, serta tidak menyentuh wajah dan mata.
    WHO juga menekankan bahwa masker medis dan respirator diprioritaskan untuk tenaga kesehatan. WHO pun mendukung negara-negara yang mengeluarkan rekomendasi penggunaan masker bagi orang yang sehat sembari melakukan penelitian tentang efektivitas hal tersebut. Saran bagi penggunaan masker nonmedis, harus mempertimbangkan jumlah lapisan kain, bahan yang digunakan, kualitas hidrofobik, bentuk, dan pas atau tidaknya masker saat dipakai.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa WHO menyatakan penularan Corona Covid-19 tidak lagi hanya melalui droplet tapi juga udara, keliru. Hingga artikel ini dimuat, dalam situs resminya, WHO menyebut bahwa virus Corona Covid-19 umumnya menular melalui kontak dengan droplet dari saluran pernapasan orang yang terinfeksi, bukan melalui udara.
    IKA NINGTYAS
    Update: Dikutip dari Kompas.com, pada 9 Juli 2020, WHO mengeluarkan pernyataan resmi bahwa virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, dapat menyebar melalui udara. WHO mendefinisikan penularan melalui udara sebagai penyebaran infeksi yang disebabkan oleh inti tetesan (aerosol) yang bisa menular ketika melayang di udara dalam jarak serta waktu yang lama. WHO bersama para ilmuwan telah mengevaluasi apakah SARS-CoV-2 juga dapat menyebar melalui aerosol tanpa adanya prosedur yang meng

    Rujukan

  • (GFD-2020-8061) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Pesan Berantai Soal Aksi Balas Dendam Para Pembegal dan Geng Motor pada Selasa Malam Besok?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 27/04/2020

    Berita


    Pesan berantai soal bakal digelarnya aksi balas dendam oleh para pembegal dan geng motor pada Selasa malam besok beredar di WhatsApp pada Senin, 27 April 2020. Pesan berantai yang isinya diklaim berasal dari Divisi Humas Mabes Polri itu pun menghimbau warga untuk tidak keluar rumah hingga Rabu dini hari, 29 April 2020.
    Di bagian awal pesan berantai itu, terdapat narasi bahwa polisi akan melakukan razia besar-besaran di seluruh Indonesia. Razia ini digelar karena banyak kerabat para pembegal atau geng motor yang akan melakukan balas dendam. Balas dendam itu disebabkan oleh banyaknya rekan mereka yang ditangkap, ada juga yang dibakar, oleh warga.
    "Mereka berkata: 'Bahwasannya kami para pembegal motor akan membalas dendam atas perlakuan masyarakat yang main bakar terhadap anggota kami, bahkan akan lebih kejam dan brutal di jalanan'. Mereka berjanji, setiap ada pengendara sepeda motor di pagi sampai malam dan dini hari, akan dibacok dan dicincang," demikian narasi dalam pesan berantai tersebut.
    Di bagian akhir, terdapat pula narasi yang berbunyi, "Mulai jam 10 malam besok sampa dengan dini hari, penduduk dilarang beraktivitas di keluar rumah disebabkan adanya teror balas dendam dari komplotan pembegal dan geng motor. Tadi siang kantor polsek dilempari kertas yang bertuliskan: 'Nyawa harus dibayar dengan nyawa dan kami akan bertumbuh menjadi besar'."
    Gambar tangkapan layar pesan berantai di WhatsApp yang berisi klaim soal aksi balas dendam para pembegal dan geng motor.
    Apa benar pesan berantai soal aksi balas dendam para pembegal dan geng motor itu?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memeriksa klaim tersebut, Tim CekFakta mula-mula memasukkan kata kunci "aksi balas dendam pembegal dan geng motor" ke mesin pencarian Google. Hasilnya, ditemukan bahwa narasi tersebut pernah beredar pada 2016. Bantahan mengenai adanya aksi itu pernah dimuat oleh Detik.com pada 11 November 2016. Ketika itu, narasi yang beredar sama persis dengan narasi dalam pesan berantai di atas, yakni:
    Pihak kepolisian akan melakukan Razia besar2an di semua titik.Razia dilakukn dengan gabungan mulai dari Mabes, Polda, Polres hingga Polsek. Karena banyak kerabat para Pembegal atau Genk motor yang akan membalas dendam dikarenakan rekan2 mereka banyak yg tertangkap & ada juga yang dibakar.
    Mereka berkata: "bahwasannya kami para pembegal motor akan membalas dendam atas perlakuan masyarakat yang main bakar terhadap angota kami, bahkan akan lebih kejam & brutal di jalanan".
    Mereka berjanji setiap ada pengendara sepeda motor di pagi sd malam & dini hari akan dibacok dan dicincang.Tlg sebarkn informasi ini bhw mulai jam 10 malam besok sampai dengan dini hari, penduduk dilarang beraktifitas keluar rumah disebabkn adanya teror balas-dendam dr komplotan pembegal dan Genk motor.
    Tadi siang kantor Polsek dilempari kertas yang bertulisan, "Nyawa harus dibayar dengan Nyawa dan kami akan bertumbuh menjadi besar,"
    Para warga dihimbau JANGAN keluar pada mlm & dini hari utk sementara, jika TIDAK ada hal-hal yang mendesak.Demikian pesan dr Humas Mabes-Polri.Bantu Share yaa ..demi keselamatan kwn2 & keluarga kita.Tks.
    Saat itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, menegaskan bahwa pesan berantai tersebut hoaks. Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Biro Penerangan Mabes Polri ketika itu, Brigadir Jenderal Agus Rianto. "Berita seperti ini sudah beberapa kali beredar. Mudah-mudahan masyarakat tidak terprovokasi," kata Agus.
    Dilansir dari Liputan6.com, pesan berantai itu beredar setelah adanya aksi anggota geng motor yang berniat balas dendam dengan menembak anggota geng lain. Peristiwa ini terjadi di Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat, pada 9 Oktober 2016 sekitar pukul 04.00 WIB.
    Penembakan itu bermula saat Tribowo, pria berusia 20 tahun asal Cilangkap, Jakarta Timur, berkendara ke daerah Jatiasih untuk balas dendam dan mencari geng motor yang menyerang kelompoknya. Sebelumnya, rekan korban, Paul Martin Manurung, mengalami luka tembak di bagian leher saat melewati Jalan Raya Kodau, Pondok Gede, Bekasi, pada 9 Oktober 2016 sekitar pukul 03.00 WIB.
    Tak terima kawannya ditembak, Tribowo dan rekan-rekannya menyisir Jalan Raya Kodau yang mengarah ke Jatiasih. Tribowo cs pun menyerang sekelompok pemuda yang sedang berkumpul di depan Gang H Puro, Jatimekar, Jatiasih. Namun, Tribowo lebih dulu dipepet dan ditembak dengan senjataairsoft gun. Tribowo pun tersungkur dan tewas di tempat.
    Pesan berantai yang sama pun pernah menyebar di media sosial pada 2017, 2018, 2019, dan 2020. Pada 2017, pesan berantai itu beredar di Sumatera Utara, yang juga telah dibantah oleh polda setempat. Juru bicara Polda Sumut, Komisaris Besar Rina Sari Ginting menegaskan bahwa rencana aksi balas dendam para pelaku begal tersebut tidak ada. "Hoaks itu muncul sejak 10 Oktober lalu," katanya dikutip dari Jawapos.com pada 20 Oktober 2017.
    Hari ini, 27 April 2020, Polri juga sudah membantah pesan berantai mengenai razia polisi karena bakal adanya aksi balas dendam para pembegal atau geng motor. Saat ini, kepolisian sedang melaksanakan Operasi Ketupat 2020 dalam rangka pengamanan Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, pesan berantai soal aksi balas dendam para pembegal dan geng motor pada Selasa malam besok di atas keliru. Pesan berantai tersebut sudah beredar sejak 2016 dan terus dibagikan setiap tahunnya hingga saat ini. Polisi juga telah menegaskan bahwa pesan berantai itu hoaks.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-4818) [SALAH] Surat Undangan Doa Bersama Mengatasnamakan Gubernur Jawa Timur

    Sumber: Surat Undangan
    Tanggal publish: 27/04/2020

    Berita

    Beredar sebuah surat undangan yang berisikan ajakan doa bersama kepada seluruh pengurus pesantren se- Jawa Timur yang akan diselenggarakan pada Senin, 27 April 2020. Dalam undangan tersebut mengatasnamakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Dengan Narasi :
    “Kepada

    Yth: Bapak/Ibu

    Pengasuh Pesantren Se- Jawa Timur

    Di_tempat

    Assalamualaikum Wr Wb

    Dengan Hormat,Salam sejahtera kami sampaikan semoga kita senantiasa dalam lindungan Allah Swt.

    Bahwa Virus Covid-19 di Jawa Timur semakin hari mengalami peningatan,segala upaya pencegahan dan penanganan telah kami lakukan semaksimal mungkin oleh karenanyakami mengajak semuanya untuk berdoa agar Musibah Covid-19 ini cepat berlalu.

    Oleh karena itu kami mengharapkan kehadiran Bapak/ibu pengasuh PESANTREN SE-Jawa Timur dalam rangka kegiatan DO’A BERSAMA yang akan kami selenggarakan pada:

    Hari : Senin

    Tanggal : 27 April 2020

    Jam : 15.30 Wid s/d selesai

    Tempat : Gedung Grahadi Surabaya

    Demikian undangan ini atas perhatian dan kehadirannya dosampaikan terimakasih

    Wassalamualikum Wr Wb

    Surabaya, 23 April 2020

    GUBERNUR JAWA TIMUR

    KHOFIFAH INDAR PARAWANSA”

    Hasil Cek Fakta

    Namun setelah melakukan penelusuran, melalui akun instagram pribadinya Khofifah menyebutkan jika surat tersebut tidak benar dan telah dibuat oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Beliau juga menyebutkan jika secara pribadi maupun Pemprov Jawa Timur tidak pernah mengeluarkan surat ajakan tersebut.

    “Saya pastikan surat ini adalah hoax yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Secara pribadi maupun atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, saya tidak pernah menyelenggarakan doa bersama seperti yang tertera dalam surat tersebut,” tulis Khofifah di akun instagrm pribadinya.

    Khofifah juga mengimbau masyarakat untuk tetap berdoa dan beribadah dari rumah sementara waktu guna memutus mata rantai penyebaran virus Corona.

    “Dengan demikian, dimohon kepada siapapun yang menerima surat palsu tersebut untuk tidak menanggapinya. Mari untuk sementara waktu kita berdoa dan beribadah di rumah masing-masing guna memutus mata rantai penularan Covid-19,” tulis Khofifah dalam akun instagram pribadinya.

    Berdasarkan penjelasan yang di keluarkan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, maka surat di atas masuk ke dalam kategori Konten Palsu.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Indri Pramesti Widyaningrum (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Gunadarma)

    Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membantah telah mengeluarkan surat doa bersama tersebut; dalam akun instagram pribadinya Khofifah menyebutkan jika surat tersebut adalah ulah orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

    Rujukan

  • (GFD-2020-3854) [SALAH] Petugas Kebersihan SMAN 10 Yogyakarta Positif Virus Corona

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 26/04/2020

    Berita

    Beredar pesan berantai melalui WhatsApp mengenai guru dan pegawai SMAN 10 Yogyakarta yang diinstruksikan untuk isolasi mandiri, sebab pegawai petugas kebersihan yang berstatus OTG dinyatakan positif virus Corona. Berikut kutipan narasinya:

    “Assalamualaikum
    Saya meneruskan berita valid dari grup MGMP TIK, bahwa seluruh guru dan pegawai SMAN 10 Yk diinstruksikan untuk menjalani isolasi mandiri sejak Jumat kemarin sampai 14 hari ke depan.
    Kronologisnya :
    Hari Kamis tgl 16 siang, pihak sekolah baru mengetahui bahwa salah satu pegawai cleaning servicenya berstatus OTG (tanpa gejala) dan seharusnya menjalani isolasi mandiri sejak Senin tgl 13.
    Surat perintah isolasi mandiri dikeluarkan puskesmas Gamping setelah hasil rapid testnya positif. Ybs ditest karena ayahnya positif covid19 dan sudah dijemput untuk dirawat di RS.
    Walaupun sudah diperintahkan untuk isolasi mandiri, ybs tidak memberitahu manajemen sekolah dan tetap masuk kerja sampai akhirnya dipaksa pulang oleh aparat desanya pada Kamis siang itu.
    Mbok menawi ada rekan-rekan yang punya riwayat kontak dekat dengan guru/pegawai SMAN 10 Yk beberapa hari ke belakang
    Salam sehat, bapak ibu
    Stay strong”
    Sleman covid

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, melansir dari kumparan.com, Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Kota Yogyakarta, Sri Murni mengatakan hasil rapid test yang bersangkutan negatif. “Tidak positif, berarti tidak benar (pesan berantai tersebut). Jadi hasil tes 17 April itu dinyatakan negatif, tes kedua kemungkinan akan 27 April. Kami berharap semoga tes yang kedua hasilnya juga negatif,” kata Sri Murni.

    Sri Murni menjelaskan bahwa petugas tersebut berstatus OTG karena mertuanya, yang tinggal satu rumah positif virus Corona. Status OTG itu berdasarkan surat dari Puskesmas Gamping, Kabupaten Sleman.

    Dalam penelusuran lain, melansir dari kompas.com, Sri Murni mengatakan petugas kebersihan ini juga sudah menjalani rapid test yang pertama. Hasil dari rapid test yang pertama ini non reaktif. Terkait ada informasi yang beredar jika hasilnya reaktif, itu tidak benar.

    “Hasil tes 17 April itu dinyatakan negatif, tes kedua kemungkinanya 27 April. Kami berharap semoga tes yang kedua hasilnya juga negatif,” kata Sri Murni.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, informasi mengenai petugas kebersihan SMAM 10 Yogyakarta positif virus Corona tidak benar. Oleh sebab itu informasi tersebut masuk dalam Misleading Contentatau Konten yang Menyesatkan.

    Rujukan