• (GFD-2020-8246) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Hanya Imam Besar FPI yang Punya Penangkal Virus Corona Covid-19?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 27/08/2020

    Berita


    Gambar yang mirip dengan tangkapan layar sebuah berita dengan klaim "hanya Imam Besar FPI yang punya penangkal virus Corona" beredar di media sosial. Saat ini, Imam Besar Front Pembela Islam atau FPI adalah Muhammad Rizieq Shihab.
    Menurut narasi dalam gambar tersebut, klaim itu berasal dari korlap FPI. "Di Tanya soal virus Corona Korlap FPI: Hanya Imam Besar kami yg punya penangkal virus Corona, karna Imam besar kami cucu Nabi," demikian narasi dalam gambar itu.
    Narasi tersebut dilengkapi dengan foto seorang pria berkopiah putih dan berjaket hitam yang sedang duduk. Di depan pria itu, terdapat papan kayu bertuliskan "Korlap FPI". Ada pula sebuah mikrofon yang mengarah ke wajah pria tersebut.
    Di Facebook, gambar itu dibagikan salah satunya oleh akun Raden Kemulan Sarung pada 24 Agustus 2020. Akun ini pun menulis, "Tebak..... Kira2 apa isi otak orang ini ? Cuma kawatir , jangan2 gk punya otak." Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah dibagikan lebih dari 300 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Raden Kemulan Sarung.
    Artikel ini akan berisi pemeriksaan terhadap dua hal, yakni:

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, tangkapan layar itu merupakan hasil suntingan dari sebuah berita yang disertai foto Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat memimpin rapat persiapan Asian Games 2018. Selain itu, hingga saat ini, belum ada penangkal virus Corona Covid-19 karena uji klinis berbagai vaksin Covid-19 masih berlangsung.
    Untuk memverifikasi klaim dalam unggahan akun Raden Kemulan Sarung, Tempo mula-mula memasukkan kata kunci "Di Tanya soal virus Corona Korlap FPI: Hanya Imam Besar kami yg punya penangkal virus Corona, karna Imam besar kami cucu Nabi" ke mesin pencarian Google. Namun, tidak ditemukan bahwa berita dengan judul tersebut pernah dimuat di media massa.
    Tempo kemudian menelusuri foto pria berkopiah putih dan berjaket hitam dalam gambar yang dibagikan oleh akun Raden Kemulan Sarung dengan reverse image tool Source. Hasilnya, ditemukan bahwa foto tersebut identik dengan foto Jokowi saat memimpin rapat terbatas persiapan Asian Games 2018 di Kantor Presiden di Jakarta pada 4 Mei 2018.
    Foto Jokowi itu adalah foto dokumentasi Sekretariat Kabinet yang pernah dimuat oleh situs Teropong Senayan pada tanggal yang sama dalam beritanya yang berjudul "Pimpin Ratas, Jokowi Kembali Pakai Jaket Asian Games". Tempo menemukan enam kesamaan antara foto Jokowi yang sedang memimpin rapat terbatas itu dengan foto pria yang diklaim sebagai korlap FPI.
    Foto dalam unggahan akun Facebook Raden Kemulan Sarung (atas) dan foto dokumentasi Sekretariat Kabinet saat Presiden Jokowi memimpin rapat persiapan Asian Games 2018 (bawah). 
    Benarkah hanya Imam besar FPI yang punya penangkal virus Corona Covid-19?
    Untuk menangkal penularan Covid-19, hanya bisa dilakukan apabila sudah tersedia vaksin. Namun, hingga artikel ini dimuat, vaksin Covid-19 belum tersedia karena masih dalam penelitian dan pengujian. Pencegahan penyakit dengan vaksin telah dilakukan pada penyakit-penyakit seperti hepatitis A, flu, polio, dan rabies.
    Menurut Covid-19 Vaccine Tracker ciptaan Regulatory Affairs Professionals Society ( RAPS ), terdapat 42 kandidat vaksin Covid-19 yang tengah dibuat oleh institusi dan perusahaan dari berbagai negara. Ada yang masih dalam tahap praklinis, ada pula yang sudah dalam tahap uji klinis fase III. Dari daftar institusi dan perusahaan tersebut, tidak satu pun yang dinamai Imam Besar FPI.
    Dilansir dari CNN Indonesia, ada tiga vaksin Covid-19 asal Cina yang akan bisa diakses di Indonesia. Saat ini, ketiga perusahaan itu telah memasuki tahap uji klinis fase III. Ketika memasuki uji klinis fase III, vaksin akan diuji ke ribuan relawan untuk menentukan keampuhan vaksin melawan virus.
    Perusahaan pertama adalah Sinovac Biotech Ltd yang uji klinis fase III-nya dilakukan di Indonesia. Perusahaan kedua adalah China National Biotec Group (CNBG) Sinopharm yang menggelar uji klinis fase III di Uni Emirat Arab (UEA), Peru, Maroko, dan Argentina.
    Adapun perusahaan ketiga adalah CanSino, perusahaan pertama penerima paten teknologi pembuatan vaksin Covid-19. Sama seperti Sinopharm, CanSino telah melakukan uji klinis III pada Agustus 2020. CanSino saat ini tengah bernegosiasi dengan negara lain untuk uji coba lebih lanjut, termasuk di Indonesia.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa hanya Imam Besar FPI yang punya penangkal virus Corona Covid-19 keliru. Pertama, tangkapan layar mirip berita yang memuat klaim itu adalah hasil suntingan dari sebuah berita yang disertai foto Jokowi saat memimpin rapat terbatas persiapan Asian Games 2018. Kedua, untuk menangkal penularan Covid-19, hanya bisa dilakukan dengan vaksin. Hingga artikel ini dimuat, vaksin Covid-19 belum tersedia. Dari 42 kandidat vaksin Covid-19 yang tengah dibuat oleh institusi dan perusahaan dari berbagai negara pun, tidak satu pun yang bernama Imam Besar FPI.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8247) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Foto Eksodus Rakyat Suriah Ketika Terjadi Perang Saudara di Negaranya?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 27/08/2020

    Berita


    Foto yang diklaim sebagai foto eksodus rakyat Suriah ketika terjadi perang saudara di negaranya beredar di Facebook. Dalam foto itu, terlihat ribuan orang yang memenuhi sebuah gang yang diapit gedung-gedung yang telah hancur. Para wanita dalam foto tersebut tampak mengenakan jilbab.
    Akun yang membagikan foto dengan narasi itu adalah akun KataKita, yakni pada 26 Agustus 2020. Akun ini pun menulis, "MEREKA HANCUR KARENA TAK ADA CINTA TANAH AIR. sejenak kita merenung... Ini bukannlah gambar cuplikan sebuah Film garapan Sutradara Hollywood,, Tetapi ini adalah eksodus besar besaran rakyat Suriah ketika perang saudara berkecamuk dinegara itu."
    Menurut narasi yang ditulis akun tersebut, perang saudara itu terjadi akibat krisis ideologi dan pemaksakan suatu paham yang bertentangan dengan paham yang telah ada sebelumnya. Padahal, mereka adalah bangsa multi agama. "Jangan sampai hal yang sama terjadi pada bangsa kita yang multi kultural, dengan ras, budaya dan agama yang beragam ini.."
    Hingga artikel ini dimuat, foto tersebut telah disukai lebih dari 5 ribu kali, dikomentari lebih dari 500 kali, dan dibagikan sebanyak 592 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook KataKita.
    Namun, apa benar foto tersebut merupakan foto eksodus rakyat Suriah ketika terjadi perang saudara di negaranya?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digital foto di atas dengan reverse image tool Source dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa foto tersebut bukanlah foto eksodus warga Suriah, melainkan foto pengungsi Palestina di kamp Yarmouk, Damaskus, Suriah.
    Foto itu adalah foto dokumentasi United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA) di kamp Yarmouk pada Januari 2014. Kamp Yarmouk kerap disebut sebagai rumah bagi komunitas pengungsi Palestina terbesar di Suriah.
    Situs resmi UNRWA memuat foto itu pada 26 Februari dalam artikel pendek yang berjudul "Pagi di Yarmouk". Selain foto itu, dalam artikel tersebut, ada pula 12 foto lainnya yang juga diambil dari lokasi yang sama. Foto itu sendiri diberi keterangan "Warga Yarmouk berkumpul menunggu pembagian makanan dari UNRWA pada Januari 2014".
    Gambar tangkapan layar artikel pendek di situs resmi UNRWA.
    Foto tersebut juga pernah dimuat oleh situs media The Washington Post pada 27 Februari 2014 dalam artikelnya yang berjudul "Foto dari Suriah ini mengerikan, tapi apakah melihatnya mengubah sesuatu?". Dalam keterangan fotonya, disebutkan bahwa foto tersebut diambil pada 31 Januari 2014.
    Foto itu memperlihatkan penduduk kamp Palestina di Yarmouk, Damaskus, yang sedang mengantri untuk menerima persediaan makanan. Seorang pejabat PBB menyerukan bahwa para pihak yang bertikai di Suriah mesti mengizinkan petugas untuk tetap mendistribusikan makanan dan obat-obatan di kamp tersebut. Seruan itu muncul setelah Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon mendesak pemerintah Suriah untuk mengizinkan lebih banyak pekerja kemanusiaan bertugas di negaranya, yang hancur akibat konflik yang berlangsung bertahun-tahun.
    Situs media The Guardian pun pernah memuat foto itu dalam artikelnya yang berjudul "Antrean makanan di kamp Yarmouk Suriah menunjukkan keputusasaan para pengungsi" pada 26 Februari 2014. Menurut laporan The Guardian, kerumunan warga Palestina yang terlihat dalam foto itu tengah menunggu bantuan di kamp Yarmouk, Damaskus, yang telah diblokade selama berbulan-bulan.
    Ketika itu, kamp pengungsi Palestina tersebut hancur akibat perang di Damaskus. Foto tersebut menunjukkan pemandangan ketika ribuan orang Palestina yang putus asa dan terperangkap di dalam kamp di tepi ibu kota Suriah itu mengepung petugas yang sedang mendistribusikan paket makanan.
    Lebih dari 18 ribu penghuni kamp Yarmouk berada di bawah blokade. Mereka kekurangan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya. Sebagian besar area kamp telah hancur akibat penembakan, dan upaya untuk mengirimkan bantuan kepada penghuni kamp terhambat oleh pertempuran yang berkelanjutan dalam perang saudara Suriah yang telah berlangsung bertahun-tahun.
    Para petugas PBB pun mengirimkan sekitar 7 ribu paket makanan selama beberapa pekan terakhir, menyusul negosiasi antara pemerintah Suriah, pasukan pemberontak, dan faksi Palestina di kamp Yarmouk. Pengiriman terakhir, sebanyak 450 paket, dilakukan pada 26 Februari 2014. PBB menyatakan bahwa bantuan itu ibarat "setetes air di lautan".

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto di atas merupakan foto eksodus rakyat Suriah ketika terjadi perang saudara di negaranya, keliru. Foto tersebut diambil pada 31 Januari 2014 saat pengungsi Palestina di kamp Yarmouk, Damaskus, Suriah, sedang mengantri untuk menerima bantuan makanan yang sebelumnya terhambat oleh pertempuran yang berkelanjutan di Suriah.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-4719) [SALAH] “Media mainstream mana mau publish berita ttg aksi penolakan ruu omnibus law”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 27/08/2020

    Berita

    Akun Dody Saputra (fb.com/dody.saputra.184) membagikan postingan dari akun Bee (archive.md//OTfNz) dengan narasi sebagai berikut:

    “Media mainstream mana mau publish berita ini, krn klu ruu omnibus law disahkan mereka akan punya kekebalan untuk semena2 ke karyawannya. nah, mkn juga karyawannya dilarang buat liput berita ttg aksi penolakan ruu omnibus law ini.”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Medcom, klaim bahwa media mainstream tidak mau memberitakan aksi tolak RUU Omnibus Law di depan Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 25 Agustus 2020 adalah klaim yang salah.

    Faktanya, foto yang dibagikan berasal dari CNBC Indonesia, salah satu media massa online yang terafiliasi dengan CNBC Internasional. Selain itu, sejumlah media arus utama memberitakan aksi tolak RUU Omnibus Law di depan Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 25 Agustus 2020.

    Tiga foto yang diunggah oleh akun Bee tersebut dimuat di artikel berjudul “Lautan Massa Buruh Tolak Omnibus Law Kepung DPR” yang dimuat di situs CNBC Indonesia pada 25 August 2020.

    Dikutip dari Medcom.id, Medcom.id memuat artikel berjudul “KSPI ‘Ancam’ DPR Terkait RUU Ciptaker”. Di dalam artikel itu disebutkan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengancam DPR bila nekad mengesahkan RUU Omnibus Law tersebut.

    Pula di sejumlah media arus utama lainnya. Jika menggunakan kata kunci “unjuk rasa omnibus law” di mesin pencari Google, maka akan terlihat pemberitaan terkait unjuk rasa tersebut dari sejumlah media arus utama.

    Kesimpulan

    Foto yang dibagikan berasal dari CNBC Indonesia, salah satu media massa online yang terafiliasi dengan CNBC Internasional. Selain itu, sejumlah media arus utama memberitakan aksi tolak RUU Omnibus Law di depan Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 25 Agustus 2020.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4720) [SALAH] “Jokowi Bersama Prabowo sedang Ngomongin Rakyat yang sedang Tenggelam”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 27/08/2020

    Berita

    Akun Facebook Amirul Mu’minin mengunggah gambar (10/07/2020) yang memperlihatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbincang dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dengan narasi sebagai berikut:
    “Jokowi bersama Pak “Timbul” sedang ngomongin rakyat yg sedang “Tenggelam” 🥴.”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim gambar tersebut salah. Gambar yang diunggah oleh akun Amirul Mu’minin pada 10/07/2020 merupakan hasil tangkapan layar dari akun Instagram milik Prabowo Subianto dengan diberi keterangan:

    “Pada hari ini saya meninjau kawasan food estate bersama Presiden Republik Indonesia @jokowi di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Bersama dengan Kementerian lainnya Kementerian Pertahanan akan terus bersinergi dalam upaya untuk mewujudkan program cadangan ketahanan pangan” diunggah pada 6 Juli 2020.

    Sebelumnya Jokowi menunjuk Prabowo sebagai leading sector Food Estate atau lumbung pangan di Kalimantan Tengah. Bukan tanpa alasan Jokowi secara langsung menunjuk Prabowo untuk mengurusi cadangan strategi pangan. Pembuatan food estate disampaikan Jokowi sebagai upaya dari tindak lanjut peringatan organisasi pangan dunia (FAO). Di mana FAO memprediksi akan terjadi krisi pangan. Nantinya dalam menjalankan tugasnya Prabowo akan didukung Menteri Pertanian dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

    Kesimpulan

    Klaim gambar tersebut salah. Faktanya foto tersebut di abadikan pada 9/07/2020 ketika Presiden Joko Widodo berbicang dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ketika meninjau lokasi lumbung pangan bersama di Kalimantan Tengah yang sebelumnya ditunjuk oleh Jokowi sebagai Leading Sector.

    Rujukan