• (GFD-2020-4755) [SALAH] Tangkapan Layar “Ahox Tidak Akan Dicopot, Erik Tohir : Kami Punya Kepentingan Dengan Cina, Mohon Dipahami.”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 29/08/2020

    Berita

    Akun Facebook Cecep Rudiana mengunggah gambar tangkapan layar judul artikel dari idtoday.co dengan judul “Ahox Tidak Akan Dicopot, Erik Tohir : Kami Punya Kepentingan Dengan Cina, Mohon Dipahami.” Pada tangkapan layar tertera tanggal penayangan 27 Agustus 2020.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, tangkapan layar tersebut hasil suntingan. Sebab, artikel asli dari idtoday.co yang tayang pada 27 Agustus 2020 berjudul “Ahok Tidak Akan Dicopot, Erick Thohir: Kerugian Pertamina Masih Lebih Baik Dibanding Perusahaan Lain.”

    Adapun, diketahui pula bahwa artikel itu merupakan hasil lansiran dari rmol.id dengan judul yang sama dan tayang pada tanggal 27 Agustus 2020.

    Kesimpulan

    Tangkapan layar hasil suntingan. Judul artikel sebenarnya ialah “Ahok Tidak Akan Dicopot, Erick Thohir: Kerugian Pertamina Masih Lebih Baik Dibanding Perusahaan Lain” yang tayang di idtoday.co pada 27 Agustus 2020.

    Rujukan

  • (GFD-2020-8248) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Foto Bendera Tauhid yang Berkibar di Surabaya pada 1935?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 28/08/2020

    Berita


    Foto hitam-putih yang memperlihatkan puluhan pria sedang berjejer di depan sebuah gedung sembari membawa bendera dengan tulisan Arab beredar di media sosial. Bendera itu disebut sebagai bendera tauhid. Foto itu pun diklaim sebagai foto pada 1935 yang diambil di Surabaya, Jawa Timur.
    Dalam foto itu, terdapat tulisan yang berbunyi "Bendera tauhid telah berkibar di Indonesia sejak 1935". Di bawah foto tersebut, ada pula sebuah paragraf yang isinya sebagai berikut:
    "Jika ada yang berkata bahwa bendera Tauhid itu bendera HTI, sebaiknya belajar sejarah lagi. Ini adalah foto lama tahun 1935 di depan Madrasah Al-Irsyad Surabaya. Silakan diperhatikan, bendera Tauhid dibentangkan di foto ini. Al-Irsyad Surabaya sendiri didirikan tahun 1919, jadi sudah lebih dulu ada sebelum NU, Banser apalagi HTI yang baru berdiri di Indonesia sekitar tahun 1980-an."
    Di Facebook, foto beserta klaim itu dibagikan salah satunya oleh akun Hamzah Johan Albatahany, yakni pada 23 Agustus 2020. Akun ini pun menulis, "Kita harus faham dan dapat membedakan mana bendera tauid dan bendera HTI agar kita tidak membenci bendera tauhid." Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah dibagikan sebanyak 150 kali.
    Foto dengan klaim itu pun pernah dibagikan oleh akun Twitter @JackMar39_PaSid pada 27 Juli 2019. Unggahan itu mendapatkan lebih dari 300 retweet dan 500 likes.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Hamzah Johan Albatahany.
    Apa benar foto tersebut adalah foto bendera tauhid yang berkibar di Surabaya pada 1935?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, foto itu memang diambil di Madrasah Al-Irsyad Surabaya pada 1935. Namun, bendera dalam foto itu bukanlah bendera tauhid, melainkan bendera Kerajaan Arab Saudi. Bendera itu sengaja dibentangkan ketika berpose untuk foto tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap berdirinya pemerintahan Kerajaan Arab Saudi di bawah kepemimpinan Raja Abdul Aziz Al Saud pada 1932.
    Untuk memverifikasi klaim dalam unggahan akun Hamzah Johan Albatahany, Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto tersebut denganreverse image toolGoogle dan Yandex. Hasilnya, ditemukan bahwa foto itu pernah dimuat oleh situs Perpusataan Online Al-Irsyad, situs yang dibuat oleh Pusat Dokumentasi dan Kajian Al-Irsyad Bogor, pada 30 Maret 2015.
    Foto itu terdapat dalam artikel yang berjudul "Al-Irsyad Surabaya Berdiri 1919". Dalam keterangan foto tersebut, disebutkan bahwa foto itu diambil di Madrasah Al-Irsyad Surabaya pada 1935. Tidak terdapat penjelasan bahwa bendera dalam foto itu adalah bendera tauhid.
    Penjelasan yang lebih rinci diberikan oleh Ketua Pusat Dokumentasi dan Kajian Al-Irsyad Bogor, Abdullah Abubakar Batarfie, di situs pribadinya pada 25 Oktober 2018. Ketika itu, telah ramai isu bahwa bendera dalam foto itu merupakan bendera tauhid yang sudah berkibar di Madrasah Al-Irsyad Surabaya sejak 1935.
    Abdullah menegaskan bahwa bendera yang disebut-sebut sebagai panji tauhid itu adalah bendera Kerajaan Arab Saudi. "Bendera Kerajaan Arab Saudi yang sengaja dibentangkan dalam pose foto bersama para pemuka dan Pemuda Al-Irsyad Surabaya sebagai bentuk dukungannya terhadap berdirinya pemerintahan Kerajaan Saudi Arabia di bawah kepemimpinan King Abdul Aziz Al Saud," ujar Abdullah.
    Penjelasan terkait foto itu juga pernah ditulis oleh Ketua Lazis Yamas Surabaya, Washil Bahalwan, di blog pribadinya. Washil merupakan saudara dari Abdurrahman Bahalwan dan Ahmad Bahalwan, pionir pengajar di Madrasah Al-Irsyad Surabaya.
    Washil menuturkan bahwa foto tersebut diambil di sekolah Al-Irsyad Surabaya pada 1935. Dalam foto itu, terlihat para pengurus yayasan, dewan guru, dan pandu bersama tamu-tamu dari Arab Saudi. "Nampak Ketua Yayasan Al-Irsyad Surabaya, Rubaya Bin Thalib (berserban dan berjenggot putih), empat baris dari kanan)," kata Washil.
    Dilansir dari artikel di BBC Indonesia pada 8 November 2018, pengamat politik Islam dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Rumadi Ahmad, menuturkan bahwa bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid tidak sekadar bermakna kalimat tauhid, tapi merupakan simbol yang mewakili ideologi tertentu.
    "Bahkan, bendera Saudi sendiri kan tulisannya sama, warnanya saja yang beda. Tapi kenapa Saudi mempersoalkan bendera model HTI seperti itu? Karena Saudi tahu bahwa, di balik bendera itu, meskipun tulisannya sama-sama laa ilaaha illallah, tapi di balik simbol itu ada ideologi yang berbeda dan bahkan menjadi musuh pemerintah Saudi," ujar Rumadi.
    Kalimat "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah" memang dipakai dalam beberapa bendera. Selain Arab Saudi, Afghanistan pun memasukkan kalimat ini dalam benderanya. ISIS juga memakai bendera hitam dengan tulisan "laa ilaaha illallah", dengan bentuk tulisan yang berbeda dengan bendera Hizbut Tahrir maupun bendera Arab Saudi.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto di atas adalah foto bendera tauhid yang berkibar di Surabaya pada 1935, keliru. Bendera itu merupakan bendera Arab Saudi yang dibentangkan di Madrasah Al-Irsyad Surabaya pada 1935 saat berfoto bersama para tamu dari Arab Saudi. Bendera itu sengaja dibentangkan sebagai bentuk dukungan terhadap berdirinya pemerintahan Kerajaan Arab Saudi di bawah kepemimpinan Raja Abdul Aziz Al Saud pada 1932.
    IBRAHIM ARSYAD
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8249) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Sosok Malaikat di Antara Jemaah Masjid Nabawi?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 28/08/2020

    Berita


    Foto yang memperlihatkan sejumlah pria Arab yang duduk bergerombol di suatu tempat beredar di media sosial. Di tengah belasan pria itu, ada seseorang yang tampak memancarkan cahaya dan dilingkari hijau. Foto tersebut diklaim menunjukkan penampakan malaikat di antara para jemaah Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi.
    "Subehanallah penampakan malaikat di antara orang2 sholat di masjid nabawi,masya allah. semoga yg bagikan ini berikan reseki, umur panjang,dan terhindar dari segala musibah.. amin. komen jika kalian baik hati," demikian narasi yang terdapat di bagian atas dan bawah foto itu.
    Di Facebook, foto tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Virus Corona, yakni pada 26 Agustus 2020. Hingga artikel ini dimuat, foto tersebut telah dibagikan lebih dari 350 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Virus Corona.
    Apa benar foto tersebut menunjukkan penampakan malaikat di antara jemaah Masjid Nabawi, Arab Saudi?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digital foto tersebut denganreverse image toolSource, Google, dan Yandex. Hasilnya, ditemukan bahwa foto itu telah beredar di internet sejak 2012. Foto tersebut merupakan gambar tangkapan layar video siaran langsung salat berjamaah yang digelar di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, pada 2012. Namun, seseorang yang terlihat bercahaya dalam video itu bukanlah penampakan malaikat.
    Di YoTube, video salat berjamaah di Masjid Nabawi tersebut pernah diunggah oleh kanal Agbny Arab pada 10 Desember 2012 dengan judul dalam bahasa Arab yang jika diterjemahkan berbunyi “Seseorang bersinar terang di Masjid Nabawi dan administrasi Haram mengkonfirmasi kebenarannya”. Dalam keterangannya, disebutkan bahwa seseorang yang bercahaya itu terekam pada menit 14:30.
    Namun, dilansir dari situs media Uni Emirat Arab, Al Bayan, Kepresidenan Masjid Nabawi menyatakan bahwa apa yang beredar di media sosial, yang memperlihatkan pantauan kamera Masjid Nabawi saat mendokumentasikan salat Jumat dan merekam seseorang yang bersinar, hanyalah montase.
    Direktur Humas Kepresidenan Masjid Nabawi Syekh Abdul Wahid Al-Hattab mengatakan, “Kami tidak melihat apa-apa, tapi kami mendengar apa yang beredar di media sosial dan YouTube tentang apa yang dikatakan terjadi saat salat Jumat kemarin. Apa yang terjadi hanya permainan montase, tidak kurang atau lebih."
    Direktur Madinah TV Center, Saad Al-Awfi, juga menyatakan bahwa yang terlihat dalam rekaman tersebut hanyalah cahaya yang terpantul dari orang itu, kemudian tertangkap kamera Masjid Nabawi. Adapun Syekh Ghazi Al-Mutairi, profesor dari Universitas Islam Madinah, mengingatkan agar publik tidak terburu-buru mengeluarkan opini yang abstrak tentang insiden fotografi ini.
    Situs Rzma.com pun menunjukkan gambar tangkapan layar video yang memperlihatkan pria yang sama dengan yang diklaim sebagai "malaikat". Situs ini menemukan, sekitar 10 menit sebelum rekaman menampakkan seseorang yang bersinar itu, kamera menyorot tempat yang sama. Ketika itu, pria tersebut tidak terkena cahaya matahari. Kondisi di luar Masjid Nabawi saat itu memang sangat cerah.
    Gambar tangkapan layar cuplikan yang memperlihatkan pria yang sama dengan pria yang diklaim bercahaya (kiri) dan gambar tangkapan layar cuplikan yang merekam pria lain dengan tangan yang terlihat bercahaya (kanan). Sumber: Rzma.com
    Situs ini juga memperlihatkan cuplikan lain dari cahaya matahari yang menyinari bagian tertentu dari seorang pria lain. Dalam gambar tangkapan layar cuplikan itu, terlihat bahwa bagian tangan seorang pria berbaju biru bersinar karena terkena cahaya matahari yang menerobos celah di antara payung raksasa Masjid Nabawi.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto di atas menunjukkan penampakan malaikat di antara jemaah Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, keliru. Seseorang yang terlihat bercahaya dalam foto itu merupakan salah satu jemaah yang tubuhnya terkena sinar matahari ketika terekam kamera Masjid Nabawi.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-4723) [SALAH] “Materai Dinaikan Menjadi Rp 10.000 Karena Nilai Rupiah Tidak Mungkin Menyentuh Rp 10.000”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 28/08/2020

    Berita

    Akun Facebook Prodi Kanoman membagikan tautan artikel (24/08/2020) dari gelora.co yang berjudul “Pemerintah Mau Hapus Meterai Rp 3.000 dan Rp 6.000, Naik jadi Rp 10.000” dengan narasi sebagai berikut:
    “Karena nilai rupiah tidak mungkin menyentuh 10.000 maka materai aja dinaikan menjadi Rp 10.000. Harap maklum dan sabar”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, artikel gelora.co yang berjudul “Pemerintah Mau Hapus Meterai Rp 3.000 dan Rp 6.000, Naik jadi Rp 10.000” yang tayang pada 24 Agustus 2020 tidak memuat informasi mengenai kenaikan meterai dikarenakan nilai rupiah yang tidak mungkin menyentuh Rp10.000, melainkan keterangan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang mengatakan bahwa bea meterai perlu direvisi karena sudah terlalu lama dari Undang-Undang (UU) sebelumnya berdasarkan Nomor 13 Tahun 1985 Tentang Bea Meterai. UU tersebut dinilai sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

    Untuk diketahui, pemerintah berencana menaikkan tarif bea meterai menjadi Rp10.000. Usulan tersebut sudah disampaikan Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI pada tahun 2019 lalu. Pada tahun 2019, Direktur Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan Pajak Direktorat Jendral (DJP) Kementerian Keuangan Yon Arsal mengatakan, Pemerintah telah mengajukan rancangan Undang-Undang (RUU) bea materai Kepada DPR RI. Revisi ini penting mengingat UU Bea Meterai sudah harus dievaluasi karena merupakan aturan lama, rencana perubahan tarif bea meterai juga diusulkan masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun 2020.

    Bea meterai sendiri ditetapkan sejak tahun 1985. Pada tahun 1985, tarif bea meterai sebesar RP500 dan Rp1.000. Sesuai undang-undang yang berlaku, maksimal peningkatan tarifnya sebatas 6 kali dari tarif awal. Nantinya tarif bea meterai hanya diberlakukan satu tarif yang sebelumnya ada dua tarif, Rp3.000 dan Rp6.000. Pemerintah juga akan mengubah sejumlah aturan bagi dokumen-dokumen yang wajib dikenakan bea meterai. Sri Mulyani mengatakan salah satu alasan dinaikkannya tarif bea meterai karena Produksi Domestik Bruto (PDB) sudah naik 8 kali lipat sejak tahun 2000.

    "Dalam kurun waktu 17 tahun, PDB per kapita Indonesia telah meningkat hampir 8 kali lipat. Menggunakan data BPS, PDB per kapita tahun 2000 (pertama kali bea materai Rp 6.000) adalah Rp 6,7 juta sementara PDB perkapita tahun 2017 adalah Rp 51,9 juta," ujarnya, dilansir dari liputan6.com.

    "Maka dari itu, kami usulkan bahwa tarif meterai lebih sederhana menjadi satu tarif yakni Rp 10 ribu," dia menambahkan.

    Nilai kurs rupiah pernah tembus di level Rp10.000 per dolar AS beberapa tahun silam. Akan tetapi, penguatan nilai kurs rupiah tidak ada hubungannya dengan bea meterai, karena fungsi meterai ialah pajak dokumen yang dibebankan oleh Negara untuk dokumen tertentu dan jika dokumen tersebut ingin digunakan sebagai alat bukti di pengadilan, harus dilunasi bea meterai yang terutang.

    Dengan demikian, klaim tersebut salah. Dinaikkannya tarif bea meterai menjadi Rp10.000 bukan disebabkan oleh rupaih yang tidak akan menyentuh Rp10.000. Salah satu alasan dinaikkannya tarif bea meterai karena Produksi Domestik Bruto (PDB) sudah naik 8 kali lipat sejak tahun 2000.

    Kesimpulan

    Klaim tersebut tidak benar. Bukan disebabkan nilai rupiah yang tidak mungkin menyentuh Rp10.000, melainkan salah satu alasan dinaikkannya tarif bea meterai karena Produksi Domestik Bruto (PDB) sudah naik 8 kali lipat sejak tahun 2000.

    Rujukan