• (GFD-2022-10902) [SALAH] Panda Merah Mati Setelah Diberi Dosis Vaksin Covid-19

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 06/11/2022

    Berita

    Sebuah akun Twitter membagikan gambar yang berisi dua tangkapan layar berita, pertama terkait pemberian vaksinasi kepada hewan di Kebun Binatang Toronto dan yang kedua terkait kematian panda merah yang baru berusia 3 bulan, diketahui panda merah yang mati tersebut bernama Dash. Dalam unggahan Twitternya disematkan narasi “mereka membunuh panda merah” narasi tersebut mengartikan bahwa panda merah tersebut mengalami kematian akibat pemberian vaksinasi Covid-19.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri, informasi tersebut salah. Faktanya, di saat kematiannya, Dash belum pernah divaksinasi, hal tersebut dikonfirmasi oleh pihak Kebun Binatang Toronto melalui Twitter resminya, @TheTorontoZoo. Dalam informasi resminya juga menyatakan bahwa pemberian vaksinasi kepada hewan justru terbukti efektif daripada yang belum diberikan vaksinasi.

    Selain itu, menurut worldwildlife.org, panda merah memang sedang mengalami ancaman kepunahan karena perubahan iklim dan aktivitas manusia yang berdampak pada hutan habitat tempat panda merah tinggal. Dilansir dari kompas.com, peneliti The University of Queensland menyebut kondisi tersebut menyebabkan resiko kematian panda merah meningkat dan dapat menurunkan populasi panda merah untuk jangka panjang.

    Dengan demikian, panda merah mati setelah diberi dosis vaksin Covid-19 merupakan hoax dengan kategori Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Mochamad Marcell
    Klaim tersebut salah, faktanya panda merah yang mati di Kebun Binatang Toronto belum diberikan vaksinasi Covid-19. Melalui Twitter resmi Kebun Binatang Totonto (@TheTorontoZoo), mengonfirmasi bahwa informasi tersebut menyesatkan, justru pemberian vaksinasi terhadap hewan yang mereka pelihara terbukti efektif.

    Rujukan

  • (GFD-2022-10903) [SALAH] Covid-19 Subvarian XBB berbeda, mematikan dan tidak mudah terdeteksi dengan baik

    Sumber: Whatsapp.com
    Tanggal publish: 06/11/2022

    Berita

    “berita singapura!
    Semua orang disarankan memakai masker karena virus corona varian baru COVID-Omicron XBB berbeda, mematikan dan tidak mudah terdeteksi dengan baik:-
    Gejala virus novel COVID-Omicron XBB adalah sebagai berikut:-

    Tidak batuk.
    Tidak ada demam.
    Hanya akan ada banyak :-
    Nyeri sendi.
    Sakit kepala.
    Sakit leher.
    Sakit punggung bagian atas.
    Pneumonia.
    Umumnya tidak nafsu makan.
    Tentu saja, COVID-Omicron XBB 5 kali lebih beracun daripada varian Delta dan memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi daripada Delta.
    Dibutuhkan waktu yang lebih singkat untuk kondisi mencapai tingkat keparahan yang ekstrim, dan kadang-kadang tidak ada gejala yang jelas.
    Mari lebih berhati-hati!
    Jenis virus ini tidak ditemukan di daerah nasofaring, dan secara langsung mempengaruhi paru-paru, “jendela”, untuk waktu yang relatif singkat

    Hasil Cek Fakta

    Beredar melalui pesan berantai informasi tentang Covid-19 Subvarian XBB yang telah terdeteksi di Indonesia adalah varian mematikan dan tidak bisa terdeteksi.

    Mengutip dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id , Juru Bicara Covid-19 Kementerian Kesehatan dr. M. Syahril menyampaikan bahwa ada gejala seperti batuk, pilek dan demam. Pasien pertama Covid-19 Subvarian XBB dari Lombok Nusa Tenggara Timur tersebut melakukan pemeriksaan dan dinyatakan positif pada 26 September. Setelah menjalani isolasi, pasien telah dinyatakan sembuh pada 3 Oktober. Jubir Syahril menambahkan meski varian baru XBB cepat menular, namun fatalitasnya tidak lebih parah dari varian Omicron.

    Dilansir dari liputan6.com Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dr. Reisa Broto Asmoro. Ia menyampaikan vaksin covid-19 masih efektif menghadapi gejala berat dari varian XBB. Penjelasan yang senada juga disampaikan oleh Ketua Satgas Covid-19 IDI, Erlina Burhan, menurutnya gejala yang ditimbulkan oleh subvarian XBB cenderung mirip dengan gejala COVID-19 varian Omicron secara umum. Sejauh ini, lanjut Erlina, belum ada laporan resmi yang mengatakan bahwa XBB menyebabkan COVID-19 dengan gejala yang lebih berat.

    Menurut Jubir Satgas Covid-19 RS UNS Solo, dr Tonang Dwi Ardyanto melalui akun Facebook pribadinya, XBB tetap dapat dideteksi di nasofaring, jadi tidak benar bahwa langsung masuk ke paru-paru. Maka XBB tetap dapat dideteksi seperti juga cara mendeteksi varian lainnya. Jadi tes PCR dan Antigen yang ada saat ini, mampu mendeteksinya. Dua pekan terakhir, laporan positivitas memang meningkat. Walau jumlah kesakitan dan kematian tetap masih rendah.

    “XBB TIDAK lebih ganas dibandingkan delta, karena ini adalah sub-varian Omicron. Jadi tidak benar juga bahwa XBB lebih ganas daripada gelombang pertama covid.” tambah Tonang.

    Berdasarkan penjelasan di atas klaim terkait Covid-19 Subvarian XBB yang mematikan dan tidak mudah dideteksi adalah keliru dan termasuk dalam kategori konten yang menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Riza Dwi (Anggota Tim Kalimasada)

    Juru Bicara Covid-19 Kementerian Kesehatan dr. M. Syahril mengatakan meski varian baru XBB cepat menular, namun fatalitasnya tidak lebih parah dari varian Omicron.

    Rujukan

  • (GFD-2022-10885) Cek Fakta: Tidak Benar Balurkan Telur Rebus di Tubuh Bisa Turunkan Demam Anak

    Sumber: liputan6.com
    Tanggal publish: 05/11/2022

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Beredar di media sosial postingan yang menyebut membalurkan telur rebus ke tubuh bisa untuk menurunkan demam pada anak. Postingan itu beredar sejak pekan lalu.
    Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 30 Oktober 2022.
    Dalam postingannya terdapat link yang mengarah pada artikel berjudul "Cara Mengobati Anak Demam, Baby Badan Panas Dengan Telur Rebus"
    Artikel itu menyebutkan bahwa telur yang direbus dibalurkan pada kepala, perut, kaki hingga seluruh badan anak yang demam. Artikel itu juga menyebutkan bahwa cara itu merupakan amalan tabib dari Cina.
    Lalu benarkah postingan yang menyebut membalurkan telur rebus ke tubuh bisa untuk menurunkan demam pada anak?

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dan menemukan artikel dari AFP Fact Check berjudul "Claim that 'rubbing a boiled egg over a child’s body can cure fever' is false: experts" yang tayang 17 Oktober 2022.
    Dalam artikel tersebut terdapat penjelasan dari dr Wendy Wong, praktisi pengobatan Cina yang sudah terdaftar sekaligus mantan asisten profesor di Chinese University of Hong Kong. Ia menyebut klaim dalam postingan itu tidak benar.
    "Perawatan yang disebut berasal dari Cina adalah tidak benar. Klaimnya juga sama sekali salah dan misleading," ujarnya.
    Selain itu terdapat juga penjelasan dari Dr Thurein Hlaing Win, Country Manajer dari website kesehatan Hello Sayarwon di Myanmar.
    "Kita hidup di era yang harus ada bukti nyata dan penjelasan logis di balik sebuah klaim. Dan tidak ada bukti ilmiah telur rebus yang dibalurkan bisa menurunkan demam anak," ucapnya.
    Penelusuran dilanjutkan dengan membuka website Ikatan Dokter Anak Indonesia. Di sana terdapat penjelasan penanganan demam pada anak.
    "Penurunan suhu tubuh dapat dibantu dengan penggunaan obat penurun panas (antipiretik), terapi fisik (nonfarmakologi) seperti istirahat baring, kompres hangat, dan banyak minum," bunyi pernyataan IDAI.

    Kesimpulan


    Postingan yang menyebut membalurkan telur rebus ke tubuh bisa untuk menurunkan demam pada anak adalah tidak benar.

    Rujukan

  • (GFD-2022-10893) [SALAH] Katy Perry terkena Ramsay Hunt Syndrome

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 05/11/2022

    Berita

    Beredar video konser Katy Perry yang menampilkan mata kanannya sulit terbuka beberapa saat. Video viral tersebut mengklaim bahwa Katy Perry terkena Ramsay Hunt Syndrome seperti Justin Bieber akibat Vaksin Covid-19.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri, melalui akun instagramnya Katy menjelaskan bahwa aksi mata kanan tertutup dan sulit dibuka tersebut adalah trik boneka rusak.

    “Datanglah lihat trik pesta mata boneka rusak saya secara nyata di Vegas tahun depan!” tulisnya pada Jumat (28/10/2022) dalam terjemahan bahasa Indonesia.

    Dikutip dari Kompas.com mata kanan Katy yang tertutup perlahan itu memang sengaja dia lakukan untuk membuat kesan boneka rusak. Katy tidak menyebut mengenai masalah kesehatan terkait trik mata itu.

    Berdasarkan penjelasan di atas klaim terkait Katy Perry terkena Ramsay Hunt Syndrome, adalah keliru dan termasuk dalam kategori konteks yang salah.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Riza Dwi (Anggota Tim Kalimasada)

    Katy Perry melalui akun instagramnya menyebutkan, mata kanannya yang menutup itu adalah trik. Tidak ada kaitan antara trik itu dengan vaksin Covid-19.

    Rujukan