• (GFD-2023-12027) [SALAH] Gambar Tangkapan Layar Artikel “AHOK resmi jadi ketua KPK menggantikan Firly”

    Sumber: FB
    Tanggal publish: 09/03/2023

    Berita

    “AHOK resmi jadi ketua KPK menggantikan Firly”

    Hasil Cek Fakta

    Akun Facebook Abu Garda pada 3 Maret 2023 pukul 15.21 memposting sebuah gambar tangkapan layar artikel dengan judul “AHOK resmi jadi ketua KPK menggantikan Firly”. Pada pojok bawah foto pada artikel terdapat logo Antaranews.com.

    Setelah ditelusuri pada website Antaranews.com tidak ditemukan judul artikel tersebut. Lebih lanjut penelusuran menggunakan keterangan waktu diunggahnya artikel yaitu 28 Februari 2023 sehingga ditemukan artikel yang asli berjudul “Hoaks! Ahok resmi jadi ketua KPK”. Terdapat kesamaan antara postingan Facebook dengan artikel asli pada gambar yang digunakan artikel. Jika dilihat perbedaan terlihat pada judul artikel.

    Dengan demikian gambar tangkapan layar artikel Antaranews.com telah disunting pada bagian judul artikel. Judul yang asli adalah “Hoaks! Ahok resmi jadi ketua KPK”, sehingga hal tersebut masuk dalam kategori konten yang dimanipulasi.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Luthfiyah OJ (UIN Raden Mas Said Surakarta).

    Gambar tersebut telah disunting pada bagian judul artikel. Faktanya, judul yang asli adalah”Hoaks! Ahok resmi jadi ketua KPK”.

    Selengkapnya pada bagian penjelasan.

    Rujukan

  • (GFD-2023-12028) [SALAH] Gambar Tangkapan Layar Artikel DEMOCRAZY News “Megawati saya sudah Jelas masuk surga malaikat kenal sama bapak saya Soekarno”

    Sumber: FB
    Tanggal publish: 09/03/2023

    Berita

    “Megawati saya sudah Jelas masuk surga malaikat kenal sama bapak saya Soekarno”

    Hasil Cek Fakta

    Akun Facebook Indah M pada 6 Maret 2023 pukul 00.10 memposting sebuah gambar tangkapan layar artikel DEMOCRAZY News dengan judul “Megawati saya sudah Jelas masuk surga malaikat kenal sama bapak saya Soekarno”.

    Setelah ditelusuri pada website DEMOCRAZY News tidak ditemukan judul artikel tersebut. Lebih lanjut penelusuran menggunakan keterangan waktu diunggahnya artikel yaitu 18 Februari 2023 sehingga ditemukan artikel yang asli berjudul “Megawati: Maaf Beribu Maaf Ini, Kenapa Ibu-Ibu Sekarang Kok Seneng Banget Ngikut Pengajian?”. Terdapat kesamaan antara postingan Facebook dengan artikel asli pada gambar yang digunakan artikel yaitu Megawati. Jika dilihat perbedaan terlihat pada judul artikel.

    Dengan demikian gambar tangkapan layar artikel DEMOCRAZY News telah disunting pada bagian judul artikel. Judul yang asli adalah “Megawati: Maaf Beribu Maaf Ini, Kenapa Ibu-Ibu Sekarang Kok Seneng Banget Ngikut Pengajian?”, sehingga hal tersebut masuk dalam kategori konten yang dimanipulasi.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Luthfiyah OJ (UIN Raden Mas Said Surakarta).

    Gambar tersebut telah disunting pada bagian judul artikel. Faktanya, judul yang asli adalah “Megawati: Maaf Beribu Maaf Ini, Kenapa Ibu-Ibu Sekarang Kok Seneng Banget Ngikut Pengajian?”.

    Selengkapnya pada bagian penjelasan.

    Rujukan

  • (GFD-2023-12010) Keliru, Video dengan Klaim Jebol Tembok Cina, Moncong Rudal TNI Menggila

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 08/03/2023

    Berita


    Sebuah video diunggah dengan narasi bahwa moncong rudal TNI menjebol tembok Cina. Unggahan tersebut yang memperlihatkan tembakan meriam, rudal, dan pasukan berpakaian loreng, dibagikan oleh akun Facebook pada 3 Maret 2023. 
    Narator video mengatakan bahwa pasukan TNI menghujani 36 rudal berbagai jenis setelah sebelumnya mempersiapkan pasukan untuk menerjang masuk ke jantung kota. TNI menyerang target dari timur hingga barat Cina saat peringatan dari Indonesia tidak didengarkan oleh Xi Jinping untuk meminta negosiasi. Salah satu serangan menewaskan perempuan berusia 79 tahun, melukai sedikitnya 7 orang lainnya.

    Video berdurasi 8:06 menit itu disukai 1,3 ribu kali dan 32 ribu kali tayang. Benarkah klaim bahwa TNI menghujani dengan 36 rudal dan jebol tembok Cina?

    Hasil Cek Fakta


    Hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, video di atas merupakan video kompilasi yang tidak terkait dengan narasi bahwa pasukan TNI menembakkan 36 rudal berbagai jenis ke bagian timur dan barat Cina.  Berikut ini fakta-fakta setelah video tersebut difragmentasi menjadi tangkapan layar:
    Video 1
    Video 1
    Potongan gambar pada ini muncul beberapa kali dalam video kompilasi tersebut. Video ini pernah diunggah oleh akun Facebook Indonesia Strong Military pada 7 Juli 2020. Keterangan pada unggahan tersebut sangat singkat: Sistem pertahanan udara ringan Arhanud TNI-AD.
    Video 2
    Video 2
    Gambar ini adalah potongan video yang sebelumnya pernah diunggah oleh akun YouTube berbahasa Rusia pada 28 Oktober 2021. Keterangan pada video tersebut: penghancuran dengan perhitungan "Tulpans" dari Distrik Militer Barat benteng musuh di wilayah Tambov, Rusia.
    Video 3
    Video 3
    Foto ini milik Associated Press. Perempuan dalam foto tersebut adalah korban dari Gempa di  Provinsi Sichuan 2013. Ia menangis sambil duduk di atas tumpukan puing di Kotapraja Lingguan di daerah Baoxing, Provinsi Sichuan barat daya Cina pada 22 April 2013. Gempa telah menewaskan sekitar 200 orang dan melukai lebih dari 11.000 orang. Gempa itu terjadi kurang dari lima tahun setelah gempa besar di wilayah yang sama menewaskan sekitar 70.000 orang.
    Narator Video
    Narator video membacakan sebuah artikel yang dimuat oleh Kompas.com berjudul “Rusia Kembali Hajar Seluruh Ukraina dengan Rentetan 36 Rudal, Ukraina Klaim Tembak Jatuh 16 Rudal”. Beberapa kata sengaja diubah, sehingga mengubah maknanya.
    Narasi paragraf pertama: Pasukan Rusia kembali menyerang Ukraina dengan hujan 36 rudal berbagai jenis pada Kamis (16/2/2023), menyerang target dari timur hingga barat Ukraina saat peringatan satu tahun perang hampir tiba. Pada kalimat tersebut, kata pasukan Rusia diganti menjadi TNI dan Ukraina diubah menjadi Cina. 

    Kesimpulan


    Dari pemeriksaan fakta di atas, video dengan klaim bahwa TNI menjebol tembok Cina adalah keliru. Narasi dan kolase video yang diunggah tidak ada hubungannya dengan judul di atas.

    Rujukan

  • (GFD-2023-12011) Cek Fakta: Hoaks Kelompok Anti-LGBT Dilarang Beli Kopi Starbucks

    Sumber: liputan6.com
    Tanggal publish: 08/03/2023

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Beredar di media sosial postingan yang menyebut kelompok anti- LGBT dilarang membeli kopi Starbucks. Postingan ini beredar sejak beberapa waktu lalu.
    Salah satu akun ada yang mempostingnya di Facebook. Akun itu mengunggahnya pada 2 Juli 2017.
    Dalam postingannya terdapat gambar artikel dengan tulisan "Starbucks CEO: If You Support Traditional Marriage Don't Buy Our Coffee" atau dalam Bahasa Indonesia "CEO Starbucks: Jika Anda Mendukung Pernikahan Tradisional Jangan Beli Kopi Kami".
    Akun itu menambahkan narasi: "If you support traditional marriage, DON'T Buy our coffee". Camkan kata-katanya "Kalau kalian mendukung pernikahan traditional (pria dengan wanita-red), JANGAN BELI kopi kami". Berarti hanya orang yang MENDUKUNG LGBT lah yang membeli kopi mereka. Itu menurut nalar saya. Maaf kalau salah."
    Lalu benarkah postingan yang menyebut kelompok anti-LGBT dilarang membeli kopi Starbucks?

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dengan mengetik kata kunci "CEO Starbucks marriage coffee fact check" di mesin pencarian Google. Hasilnya ada beberapa artikel yang membantah klaim tersebut.
    Salah satunya dari AP News dalam artikel "Post twists words of Starbucks CEO on marriage" yang diunggah 3 Februari 2023. Dalam artikel tersebut pihak Starbucks memberikan bantahan yang dikirim melalui email.
    "Pernyataan yang beredar di internet terkait pandangan kami pada konsumen adalah salah," bunyi pernyataan tersebut.
    AP News menjelaskan bahwa postingan pernyataan CEO Starbucks, Howard Schultz tersebut telah beredar sejak beberapa tahun lalu. Pernyataan itu merupakan salah interpretasi pada pidato Schultz pada tahun 2013 terkait dukungan Starbucks pada kelompok LGBT.
    "Ini bukan keputusan ekonomi. Dasar kami mendukung keputusan ini setelah melihat lebih luas dari kacamata kami. Kami memperkerjakan lebih dari 200 ribu dalam perusahaan ini dan sangat menghormati perbedaan," ujar Schultz.
    "Jika ada para pemegang saham yang tidak setuju pandangan ini maka Anda bisa menjual saham Starbucks dan membeli saham lain," katanya menambahkan.

    Kesimpulan


    Postingan yang menyebut kelompok anti-LGBT dilarang membeli kopi Starbucks adalah tidak benar.

    Rujukan