• (GFD-2020-8065) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Gibran Salahkan Rakyat yang Tak Patuhi Aturan Pemerintah Atas Merebaknya Covid-19?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 29/04/2020

    Berita


    Artikel yang berjudul "Corona Merebak, Gibran Salahkan Rakyat tak Patuhi Aturan Pemerintah" viral di media sosial. Banyak akun di Twitter yang membagikan tautan artikel tersebut. Artikel itu sendiri dipublikasikan oleh situs Suara Nasional pada 26 April 2020.
    Artikel tersebut dibuka dengan kalimat:
    Banyaknya warga yang terkena virus Corona baru (Covid-19) karena tidak mengikuti aturan pemerintah seperti menghindari kerumunan, tidak mudik lebih dulu.
    "Apabila kita semua patuh dengan berbagai anjuran pemerintah dan tenaga ahli, Insya Allah wabah ini segera usai dan aktivitas akan normal kembali," kata Putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) Gibran Rakabuming Raka dalam sebuah video di Solo, Jawa Tengah, Jumat (24/4/2020).
    Artikel ini pun mendapat respons yang beragam dari warganet. Akun @Panca66 misalnya, memberikan komentar, "Bapaknya aja nga mematuhi aturan yang dikeluarkan pemerintah, anaknya kok yo bisa nyalahin rakyat. Ono2 bae." Unggahan ini menjadi salah satu unggahan yang viral.
    Gambar tangkapan layar beberapa unggahan di Twitter yang memuat tautan artikel dari situs Suara Nasional.
    Benarkah Gibran salahkan rakyat yang tak patuhi aturan pemerintah atas merebaknya Covid-19 sebagaimana yang tertulis dalam artikel di atas?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, situs Suara Nasional tidak menyebutkan sumber dari artikel tersebut, apakah hasil wawancara atau menyadur dari media lain. Tempo pun mencari berita dari media-media kredibel untuk dibandingkan dengan isi artikel di situs Suara Nasional itu,
    Melalui pencarian dengan mesin perambah Google, Tempo menemukan bahwa pernyataan Gibran seperti yang dimuat dalam artikel di situs Suara Nasional itu lebih dulu dipublikasikan di Kompas.com pada 24 April 2020 dengan judul "Gibran: Bila Patuh Anjuran Pemerintah, Wabah Corona Segera Usai".
    Kutipan-kutipan dari pernyataan Gibran dalam berita di Kompas.com ini sama dengan yang dimuat di situs Suara Nasional. Namun, dalam berita di Kompas.com, tidak terdapat pernyataan dari Gibran yang menyalahkan rakyat atas merebaknya Covid-19 sebagaimana yang tercantum dalam judul artikel di situs Suara Nasional.
    Konteks pernyataan Gibran, sesuai dengan berita di Kompas.com, adalah imbauan agar warga yang berada di perantauan menunda mudik untuk mencegah meluasnya penularan Covid-19. "Bagi teman-teman yang sedang berada di perantauan, mohon menahan diri untuk tidak mudik terlebih dahulu. Karena kita tak tahu, jangan-jangan kita adalah OTG (Orang Tanpa Gejala)," kata Gibran.
    Gambar tangkapan layar berita di Kompas.com.
    Menurutnya, OTG berpotensi menularkan virus ke orang-orang yang rentan, seperti balita dan orang tua, di kampung halaman. "Apabila kita semua patuh dengan berbagai anjuran pemerintah dan tenaga ahli, Insya Allah wabah ini segera usai dan aktivitas akan normal kembali," kata Gibran.
    Kutipan kedua inilah yang kemudian dijadikan angle berita oleh situs Suara Nasional dengan framing "banyaknya warga yang terkena virus Corona baru (Covid-19) karena tidak mengikuti aturan pemerintah seperti menghindari kerumunan, tidak mudik lebih dulu".
    Media tidak kredibel
    Situs Suara Nasional tergolong sebagai media yang tidak kredibel karena tidak mencantumkan alamat redaksi. Padahal, ketentuan terkait ini diatur dalam Pasal 12 Undang-Undang Pers bahwa "perusahaan pers wajib mengumumkan nama, alamat, dan penanggung jawab secara terbuka melalui media yang bersangkutan; khusus untuk penerbitan pers ditambah nama dan alamat percetakan".
    Selain itu, dalam situs Suara Nasional, tidak ditemukan Pedoman Pemberitaan Media Siber. Padahal, kewajiban untuk memuat Pedoman Pemberitaan Media Siber oleh perusahaan media juga tercantum dalam Pasal 8 Undang-Undang Pers.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi dalam judul artikel di situs Suara Nasional di atas, bahwa Gibran salahkan rakyat yang tak patuhi aturan pemerintah atas merebaknya Covid-19, menyesatkan. Artikel itu disadur dari Kompas.com yang kemudian diubah angle dan judulnya dengan narasi yang tidak dinyatakan oleh anak sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8064) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Pesan Berantai Soal Modus Baru Perampokan dengan Suara Tangisan Bayi?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 29/04/2020

    Berita


    Pesan berantai yang berisi narasi mengenai modus baru perampokan dengan suara tangisan bayi dan pipa bocor beredar di WhatsApp dan Facebook dalam beberapa hari terakhir. Menurut pesan berantai yang isinya diklaim berasal dari kisah seorang perempuan bernama Ida Laniari itu, modus tersebut dilakukan perampok dengan memutar rekaman suara bayi atau membuka semua keran di luar rumah.
    Salah satu akun Facebook yang membagikan pesan berantai itu adalah akun Adinda Hanny, yakni pada 26 April 2020. Dalam unggahannya, akun ini juga menyertakan foto seorang bayi yang diletakkan di depan pintu sebuah rumah dengan alas selimut.
    Adapun narasi lengkap pesan berantai itu adalah sebagai berikut:
    Pemberitahuan.Penting.Seorang Perempuan, Ida Laniari:Mendengar bayi yang menangis di terasnya malam hari, dan dia menelpon polisi karena saat itu sudah larut malam, Dan dia merasa ada yang aneh…..polisi memberitahu dia, apapun yang terjadi, JANGAN buka pintunya.....Wanita tersebut kemudian mengatakan bahwa sepertinya bayi itu merangkak dekat jendela, dan wanita tersebut khawatir kalo bayi itu akan merangkak ke jalan & menyeberang.Polisi bilang," Sudah ada polisi yang sedang menuju kesana, apapun yang terjadi, JANGAN buka pintu ”Polisi tersebut memberitahu wanita itu bahwa sebuah rekaman pembunuhan merekam suara bayi menangis & menggunakannya sebagai tipuan.Wanita di dalam rumah akan berpikir bahwa ada seseorang yang menelantarkan bayinya di luar mereka. Polisi belum memastikan, tapi polisi sering mendapat telepon dari beberapa wanita yang mengatakan bahwa mereka mendengar tangisan bayi di luar rumah mereka ketika mereka sedang sendiri di rumah pada malam hari.Juga dengan air yang bocor !!!Jika anda bangun di tengah malam & mendengar semua keran di luar rumah anda terbuka / anda berpikir ada pipa yang bocor, JANGAN KELUAR UNTUK MEMERIKSANYA !Ada orang yang sengaja membuka semua keran di luar rumah anda sehingga anda akan keluar untuk memeriksa & kemudian orang itu mulai menyerang anda.Tetaplah waspada, jaga diri anda, dan hubungi tetangga anda !Ada juga rumah yg meteran listriknya dimatikan...Ketika keluar ditodong kmd dirampok rumahnya...Saya Mohon Tolong teruskan pesan ini.Artikel ini sebaiknya ditanggapi secara serius karena, Modus tangisan bayi di sebutkan “ adalah modus baru pelaku kejahatan.Saya menyarankan anda untuk meneruskan pesan ini kepada semua orang yang anda kenal.Ini mungkin bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Sebuah lilin tidak akan redup jika lilin tersebut digunakan untuk menyalakan lilin yang lain..Kirim pesan ini kepada semua orang yang anda kenal yang mungkin butuh untuk diingatkan kembali bahwa dunia yang kita tinggali ini memiliki banyak kegilaan & lebih baik berhati-hati dari pada menyesal nantinya..Setiap orang hanya memerlukan waktu 5 menit untuk membaca ini.Ini mungkin dapat menyelamatkan anda atau seseorang yang anda cintai.Terima kasih.
    Copas### grup K2 TNI-POLRI
    Hingga artikel ini dimuat,unggahan akun AdindaHanny tersebut telah dikomentari lebih dari 9 ribu kali dan dibagikan lebih dari 55 ribu kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Adinda Hanny yang berisi pesan berantai soal modus baru perampokan dengan suara tangisan bayi.
    Bagaimana kebenaran pesan berantai soal modus baru perampokan di atas?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi informasi tersebut, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait dari media-media kredibel dengan memasukkan kata kunci "modus perampokan dengan suara bayi" di mesin pencarian Google. Hasilnya, diketahui bahwa pesan berantai yang sama pernah beredar pada 2018 dan 2019.
    Dikutip dari artikel cek fakta di Turnbackhoax.id pada 24 Februari 2018, pesan berantai itu berasal dari hoaks yang sebelumnya beredar di luar negeri yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Informasi tersebut juga pernah diverifikasi oleh Hoax-Slayer yang menyatakan bahwa klaim itu salah.
    Menurut Hoax-Slayer, pesan berantai tersebut muncul pertama kali pada 2003. Hoax-Slayer juga menyatakan bahwa tidak ada laporan dari sumber-sumber yang kredibel mengenai modus semacam itu yang digunakan oleh pembunuh berantai di mana pun.
    Pada Maret 2019, pesan berantai yang sama kembali beredar. Pesan berantai ini pun telah distempel sebagai hoaks oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). "Sebenarnya, pesan tersebut adalah tipuan yang sudah berjalan lama yang muncul pertama kali di tahun 2013," demikian keterangan Kominfo.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Instagram Humas Polda Jawa Timur.
    Humas Polda Jawa Timur pun telah menyatakan pesan berantai itu sebagai hoaks. "Telah beredar informasi di media sosial dan WhatsApp tentang modus kejahatan tangisan bayi. Perlu kami klarifikasi bahwa berita tersebut adalah hoaks," kata Humas Polda Jatim di Instagram pada 5 Maret 2019.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi dalam pesan berantai di atas, bahwa terdapat modus baru perampokan dengan suara tangisan bayi, keliru. Hoaks ini sudah pernah beredar di Indonesia sejak 2018. Polisi pun telah menyatakan pesan berantai itu sebagai hoaks.
    IBRAHIM ARSYAD
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8063) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Foto Satelit Pangkalan Militer Cina di Laut Natuna Utara?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 28/04/2020

    Berita


    Foto-foto yang diklaim sebagai citra satelit pangkalan militer Cina di Laut Natuna Utara beredar di media sosial. Menurut narasi yang menyertainya, foto-foto itu dirilis oleh Google Earth dan disebut sebagai gambar proyek pembangunan pangkalan militer Cina di Laut Natuna Utara yang tidak jauh dari Pulau Batam dan Pontianak.
    Di Facebook, foto-foto itu diunggah salah satunya oleh akun Kopi Pahit Pribumi, yakni pada 25 April 2020. Akun ini menulis narasi sebagai berikut:
    "Ngeriiii....!!!!Akhirnya ketahuan lagi !!!Kenapa China Dukung Penuh Jokowi.Google Earth Rilis Gambar Proyek Pembangunan Pangkalan Militer China Dilaut Natuna, Tidak Jauh Dari Pulau Batam-Riau dan Tidak Jauh Dari Pontianak.Ternyata Ada Hal Besar Yang Ditutup-tutupi Dari Rakyat Indonesia.Potensi Terbesar Dalam Memaksakan Kehendak Untuk Tetap Berkuasa, Terkesan Ada Yang Ingin Di Selesaikan.Viralkan....!!!Agar Semua Rakyat Indonesia Tahu Dan Sadar Bahwa NKRI Diujung Tanduk....Kalau Pangkalan Militer China Sdh Selesai.... Dan Pelabuhan Juga Bandara Dikuasai.... Lalu Rakyat Indionesia Tidak Akan Bisa Lari Kemana-mana....Kita Pasti Akan Diberangus Oleh Mereka..!!!"
    Akun Kopi Pahit Pribumi juga mencantumkan tautan sumber gambar yang ia unggah. Tautan itu merujuk pada unggahan akun Twitter @HmEi7_IND dan artikel di situs Militermeter.com. Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun Kopi Pahit Pribumi tersebut telah dibagikan lebih dari 350 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Kopi Pahit Pribumi (kiri) dan artikel di situs Militermeter.com (kanan).
    Apa benar foto-foto tersebut adalah citra satelit pangkalan militer Cina di Laut Natuna Utara?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memeriksa klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula memeriksa artikel di situs Militermeter.com yang tautannya diunggah oleh akun Kopi Pahit Pribumi. Menurut artikel tersebut, foto-foto satelit itu memperlihatkan pangkalan militer Cina di Kepulauan Spratly.
    Berdasarkan petunjuk tersebut, Tempo menelusuri lokasi Kepulauan Spratly. Berdasarkan peta di situs resmi Perpustakaan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Kepulauan Spratly masih berada di dalam Laut Cina Selatan dan tidak berada di dalam Laut Natuna Utara.
    Dilihat di Google Maps, kepulauan ini terletak di tengah Laut Cina Selatan. Negara yang terdekat dengan kepulauan ini adalah Filipina. Sementara dalam peta baru Indonesia yang fotonya pernah dimuat di Kumparan.com, Laut Natuna Utara berada di barat daya Kepulauan Spratly.
    Tempo pun mencari pemberitaan tentang pembangunan pangkalan militer Cina di Kepulauan Spratly dengan mesin pencarian Google. Dilansir dari berita di Kompas.com pada 29 Maret 2017, Cina memang memiliki tiga pangkalan militer berskala besar yang telah selesai dibangun di Laut Cina Selatan.
    Asia Maritim Transparency Initiative (AMTI), bagian dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington DC, Amerika Serikat, pernah merilis citra satelit pangkalan di Kepulauan Spratly tersebut. Pangkalan itu terletak di pulau karang Subi, Mischief, dan Fiery Cross.
    Selain di Kepulauan Spratly, menurut AMTI, Cina memiliki pangkalan lain di Pulau Woody dan Kepulauan Paracel. Keduanya berada di utara Kepulauan Spratly. "Ini akan memungkinkan pesawat tempur militer Cina beroperasi ke hampir seluruh Laut Cina Selatan," kata AMTI.
    Dilansir dari Tirto.id, sejak kepemimpinan Presiden Xi Jinping, Cina telah mereklamasi sekitar 1.290 hektare tanah di tujuh pulau karang di Kepulauan Spratly. Di atasnya dibangun pangkalan militer. Ada tiga pangkalan militer Cina di sana, yakni Yongshu di Fiery Cross, Zhubi di Subi, dan Meiji di Mischief.
    Selain Cina, Kepulauan Spratly pun diperebutkan Filipina, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Filipina punya lapangan terbang Rancudo di Pulau Thitu, Vietnam memiliki distrik Truong Sa di salah satu pulau, sementara Malaysia membangun Layang-layang Resort di pulau karang Swallow.
    Untuk memastikan hal itu, Tempo menelusuri lokasi Subi, Mischief, dan Fiery Cross di Google Earth. Hasilnya, foto-foto unggahan situs Militermeter.com memang merupakan citra satelit pulau karang yang berada di Kepulauan Spratly tersebut, yakni Subi dan Fiery Cross. Ada pula foto satelit Pulau Woody.
    Berikut ini foto-foto satelitnya:
    Gambar tangkapan layar citra satelit pulau karang Subi di Google Earth.
    Gambar tangkapan layar citra satelit pulau karang Fiery Cross di Google Earth.
    Gambar tangkapan layar citra satelit Pulau Woody di Google Earth.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi bahwa foto-foto di atas merupakan citra satelit pangkalan militer Cina di Laut Natuna Utara menyesatkan. Foto-foto itu memperlihatkan gambar satelit pangkalan militer Cina di Kepulauan Spratly, tepatnya di pulau karang Subi dan Fiery Cross, serta di Pulau Woody. Pulau-pulau tersebut berada di dalam Laut Cina Selatan, bukan di Laut Natuna Utara.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8062) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Kakak-Adik di Tangerang yang Kena Covid-19 Usai Bermain di Luar Rumah?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 28/04/2020

    Berita


    Pesan berantai dengan narasi bahwa ada kakak-adik di Tangerang yang tertular Covid-19 setelah bermain di luar rumah beredar di grup-grup percakapan WhatsApp. Pesan berantai itu dilengkapi dengan video yang memperlihatkan dua anak yang sedang berpelukan dengan seorang perempuan di dalam sebuah mobil ambulans.
    Dalam video berdurasi 2 menit 10 detik itu, terlihat seorang perempuan bersama seorang bocah di dalam mobil ambulans. Beberapa saat kemudian, masuk bocah lainnya yang digendong oleh seorang pria ke dalam mobil ambulans itu. Si perempuan juga memeluk bocah-bocah itu. Beberapa petugas medis dengan alat pelindung diri (APD) pun tampak berada di sekitar mobil ambulans tersebut.
    Sesekali, dalam video itu, terdengar suara perempuan yang berbicara. Perempuan tersebut berkata, "Anak bontotnya usia 4 tahun ya, sama yang tengahnya 8 (tahun). Ini semua positif Covid-19. Ini anak usia 4 tahun. Sembuhkan ya Allah. Ini yang tengah, 8 tahun, juga positif Covid-19. Ya Allah ya rahman ya rahim. Kangen, kangen mamanya."
    Adapun narasi lengkap pesan berantai itu adalah sebagai berikut: "Di Tangerang, dua bersaudara kakak beradik terjangkit Covid-19, setelah pulang dari bermain di luar rumah. Saat ini sedang dijemput oleh Team Medis utk dibawa ke Rumah Sakit. Pengalaman berharga bagi para orang tua yg masih mempunyai anak atau cucu yg suka bermain di luar rumah. Apabila sudah pulang ke rumah, langsung cuci tangan, cuci kaki & dianjurkan sekalian untuk mandi. Dan keluar rumah harus memakai masker."
    Gambar tangkapan layar pesan berantai di WhatsApp tentang kakak-adik yang tertular Covid-19 di Tangerang (kanan) dan video yang menyertainya (kiri).
    Apa benar video itu adalah video kakak-adik di Tangerang yang tertular Covid-19 setelah bermain di luar rumah?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, video yang menyertai pesan berantai di atas memang pernah ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi. Salah satunya adalah tvOne, yang mempublikasikan video tersebut di YouTube pada 26 April 2020 dengan judul "Diduga Tertular Corona dari Suami, Istri dan Dua Anaknya Dijemput Petugas Medis".
    Video tersebut diberi keterangan, "Video penjemputan dua bocah yang diduga terinfeksi virus Corona Covid-19 beredar luas di WhatsApp. Video penjemputan dua bocah ini pun cukup mengharukan. Petugas dengan pakaian lengkap menggunakan APD menjemput kedua anak ini menggunakan mobil ambulans. Sang ibu yang terlihat sudah berada dalam mobil ambulans itu tak henti-hentinya memeluk anaknya."
    Kanal YouTube CNN Indonesia juga mengunggah video tersebut pada tanggal yang sama dengan judul "2 Anak Positif Corona Diduga Tertular Ibu". "Video dua anak yang dievakuasi oleh petugas Covid-19 dengan APD lengkap dari rumahnya viral di media sosial. Kedua anak ini diduga tertular dari sang ibu," demikian keterangan yang ditulis oleh kanal CNN Indonesia.
    Namun, dilansir dari Detik.com, peristiwa dalam video itu bukan terjadi di Tangerang. Kedua bocah itu tinggal di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menurut juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor, Syarifah Sofiah, pada 25 April 2020, kakak-adik itu diduga tertular dari ibunya. Kini, mereka telah dibawa ke RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran.
    Pada 26 April 2020, berdasarkan arsip berita Tempo, Bupati Bogor Ade Yasin pun menjelaskan bahwa ayah kedua bocah itu bekerja di RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran. "Awal kejadian, ketika bapaknya pulang dari tempat kerja pada 14 April, tiga jam kemudian, anaknya merasakan panas dan kepalanya sakit, suhunya sekitar 40 derajat Celcius," kata Ade.
    Meskipun begitu, dari hasil laboratorium, si ayah tidak tertular alias negatif Covid-19. Namun, istri serta dua anaknya yang berusia empat tahun dan delapan tahun positif. "Anaknya ada tiga. Yang pertama, usia 8 tahun, positif. Yang kedua, negatif. Yang terakhir, yang 4 tahun, positif," kata Ade yang merupakan Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor itu.
    Ade memaparkan, pada 15 April pagi, kedua anak tersebut sempat dilarikan ke rumah sakit. Kemudian, mereka ditetapkan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP). Selanjutnya, pada 18 April, si ibu juga mengeluhkan sakit sehingga memutuskan untuk tes swab. "Pada 20 April, keluar hasil laboratorium dari RS Polri bahwa ibu beserta kedua anaknya itu positif Covid-19," kata Ade.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi bahwa video di atas adalah video kakak-adik di Tangerang yang tertular Covid-19 setelah bermain di luar rumah menyesatkan. Peristiwa dalam video itu terjadi di Cileungsi, Kabupaten Bogor, bukan di Tangerang. Menurut Bupati Bogor Ade Yasin, ayah kedua bocah tersebut bekerja di RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan