• (GFD-2024-19322) [KLARIFIKASI] WEF Bantah Kabar Klaus Schwab Sakit Parah dan Dirawat di RS

    Sumber:
    Tanggal publish: 24/04/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Tersiar kabar pendiri Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF), Klaus Schwab, dirawat di rumah sakit (RS) karena sakit parah.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, juru bicara WEF telah membantah kabar tersebut.

    Kabar mengenai Klaus Schwab dirawat di RS karena sakit parah disebarkan oleh akun Facebook ini dan ini.

    Narasi serupa juga beredar dalam bahasa Indonesia, seperti yang disebarkan oleh akun Facebook ini dan ini.

    Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada Senin (15/4/2024):

    BREAKING: Klaus Schwab telah dirawat di rumah sakit dan sakit parah.

    Hasil Cek Fakta

    Juru bicara WEF Yann Zopf membantah kabar Schwab sakit parah dan dirawat di RS.

    "Klaim ini sepenuhnya tidak berdasar. Dia dalam keadaan sehat dan belum pernah ke rumah sakit akhir-akhir ini," kata Zopf, dilansir USA Today, pada 23 April 2024.

    WEF merupakan organisasi non-pemerintah yang mempertemukan para pemimpin politik, budaya, dan bisnis di seluruh dunia untuk mengatasi permasalahan global.

    WEF, terutama Klaus Schwab, kerap dicatut untuk menyebarkan misinformasi dan disinformasi.

    Dikutip dari The Associated Press (AP Fact Check), Zopf mengatakan, Schwab dan WEF telah menjadi sasaran narasi konspirasi.

    "Seperti banyak individu dan organisasi terkemuka, ia dan Forum Ekonomi Dunia telah menjadi sasaran narasi konspirasi, serta kampanye misinformasi dan disinformasi,” ujar dia.

    Klaim soal Schwab sakit bersumber dari artikel di Weekly Crier pada 14 April 2024. Berdasarkan deskripsi web, Weekly Crier juga menerbitkan opini sindiran dan komedi.

    Kesimpulan

    Juru bicara WEF, Yann Zopf, membantah kabar Klaus Schwab sakit parah dan dirawat di rumah sakit. Ia memastikan Schwab dalam keadaan sehat.

    Menurut dia, Schwab dan WEF telah menjadi sasaran narasi konspirasi, kampanye misinformasi dan disinformasi.

    Rujukan

  • (GFD-2024-19326) [KLARIFIKASI] Penjelasan soal Risiko Anemia Aplastik pada Obat Sakit Kepala

    Sumber:
    Tanggal publish: 24/04/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar informasi yang menyebut salah satu merek obat sakit kepala dapat memicu anemia aplastik.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, informasi tersebut perlu diluruskan.

    Informasi yang menyebutkan salah satu merek obat sakit kepala dapat memicu anemia aplastik dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini.

    Berikut narasi yang dibagikan:

    Reminder utk teman2 semuanya, jangan terlalu sering konsumsi obat ini yaaa.

    saya perhatiin ternyata keterangan efek sampingnya ditambahin, berisiko anemia aplastik.

    Kalo minum obat yg beredar di pasaran, mohon dibaca semua keterangannya utk jaga2 ya

    Hasil Cek Fakta

    Anemia aplastik adalah salah satu penyakit kelainan darah kronis yang jarang terjadi.

    Penyakit itu terjadi karena sumsum tulang tidak dapat menghasilkan sel darah putih, sel darah merah, dan trombosit dengan cukup.

    Dilansir Kompas.com, Profesor Farmakologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan keterangan risiko anemia aplastik pada obat sakit kepala.

    "Tidak perlu parno (paranoid)," kata Zullies, pada 17 April 2024.

    Menurut dia, anemia aplastik merupakan efek samping yang sangat jarang terjadi.

    Efek samping ini berpotensi menyerang jika obat sakit kepala digunakan secara kronis atau dalam jangka panjang.

    Sementara, obat sakit kepala umumnya hanya dikonsumsi seperlunya, yakni saat muncul keluhan.

    "Karena proses anemia aplastik itu juga suatu proses panjang," kata dia.

    Zullies menjelaskan, anemia aplastik sebenarnya bukan disebabkan oleh penggunaan obat, melainkan penyakit autoimun.

    Penyakit autoimun adalah suatu masalah kesehatan yang terjadi karena sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melawan infeksi justru menyerang tubuh sendiri.

    Dalam kasus ini, menurutnya, imunitas penderita anemia aplastik menyerang sumsum tulang belakangnya sendiri.

    Akibatnya, sumsum tulang tidak dapat memproduksi sel darah merah. Sehingga, tubuh tidak mampu berfungsi secara normal.

    "Karena sistem imun bertindak secara salah memyerang tubuh sendiri dalam hal ini sumsum tulang belakang, sehingga tidak bisa menghasilkan sel darah. Jadi bukan karena obat," terang Zullies.

    Kendati demikian, untuk menghindari efek samping yang mungkin terjadi, pastikan untuk mengonsumsi obat sakit kepala sesuai aturan pemakaian dalam kemasan.

    "Asal sudah sembuh sakit kepalanya ya sudah cukup. Biasanya butuh tiga kali sehari saja (minum obat)," tuturnya.

    Kesimpulan

    Anemia aplastik bukan disebabkan oleh penggunaan obat, melainkan penyakit autoimun.

    Masyarakat tidak perlu khawatir dengan keterangan risiko anemia aplastik yang tercantum pada kemasan obat sakit kepala.

    Anemia aplastik merupakan efek samping yang sangat jarang terjadi dan hanya berpotensi menyerang jika obat sakit kepala digunakan secara kronis atau dalam jangka panjang.

    Rujukan

  • (GFD-2024-19327) [KLARIFIKASI] Foto Ini Tidak Terkait Serangan Irak ke Pangkalan Militer AS di Suriah

    Sumber:
    Tanggal publish: 24/04/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Sebuah foto peluncuran roket dinarasikan sebagai serangan Irak terhadap Amerika Serikat (AS).

    Lima roket diluncurkan dari kota Zummar, Irak, menuju pangkalan militer AS di timur laut Suriah, pada Minggu (21/4/2024).

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, foto itu bukan memperlihatkan serangan Irak ke pangkalan militer AS.

    Foto peluncuran roket yang disebut sebagai serangan Irak ke pangkalan militer AS di Suriah disebarkan oleh akun Facebook ini dan ini.

    Unggahan serupa juga beredar dalam bahasa Indonesia, seperti yang diunggah oleh akun ini pada Senin (22/4/2024). Berikut narasinya:

    5 roket diluncurkan oleh Perlawanan Jihad Islam Irak dari kota Zummar Irak menuju pangkalan militer Amerika di timur laut Suriah pada hari Minggu.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com menggunakan metode reverse image search untuk mencari tahu rekam jejak foto.

    Hasil pencarian di TinEye mengarahkan ke situs berbagi gambar Alamy.

    Foto yang beredar merupakan jepretan fotografer Khalid Mohammed pada 28 Maret 2015.

    Foto tersebut diambil ketika pasukan keamanan Irak meluncurkan roket ke wilayah ekstremis ISIS saat terjadi bentrokan di Tikrit, 130 kilometer utara Bagdad, Irak.

    Sementara, Irak memang meluncurkan roket ke pangkalan militer AS di timur laut Suriah, pada Minggu (21/4/2024).

    Dilansir Al Jazeera, lima roket ditembakkan ke arah pasukan di pangkalan koalisi di Rmeilan, Suriah. Dalam serangan itu, tidak ada personel AS yang terluka.

    Serangan tersebut dilancarkan sehari setelah Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani kembali dari kunjungan ke AS untuk bertemu Presiden Joe Biden.

    Kabar yang beredar di grup Telegram yang berafiliasi dengan kelompok paramiliter Kataib Hizbullah, fraksi bersenjata Irak memutuskan melanjutkan serangan setelah jeda tiga bulan, karena tidak puas dengan hasil pertemuan tersebut.

    Namun, Kataib Hizbullah membantah mengeluarkan pernyataan untuk menyerang pasukan AS.

    Sementara, pasukan keamanan Irak menyebutkan ada elemen terlarang yang menargetkan basis koalisi internasional dengan roket di jantung wilayah Suriah.

    Setelah melakukan operasi pencairan di utara Niniveh, mereka menemukan kendaraan yang digunakan dalam serangan.

    Kesimpulan

    Foto peluncuran roket Irak ke wilayah ekstremis ISIS di utara Bagdad, Irak pada 28 Maret 2015 disebarkan dengan konteks keliru.

    Foto tersebut tidak ada kaitannya dengan lima roket yang diluncurkan dari kota Zummar, Irak, menuju pangkalan AS di timur laut Suriah, pada Minggu (21/4/2024).

    Rujukan

  • (GFD-2024-19345) [HOAKS] Video Gempa di Majene Sulawesi Barat

    Sumber:
    Tanggal publish: 24/04/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar video yang diklaim memperlihatkan suasana pascagempa di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

    Setelah ditelusuri, narasi itu tidak benar atau hoaks. Video tersebut memperlihatkan dampak gempa di Sulawesi Tengah pada 2018.

    Video yang diklaim memperlihatkan dampak gempa di Sulawesi Barat dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, ini, dan ini pada April 2024.

    Dalam video tampak sebuah jalan amblas dan beberapa orang mencoba menyelamatkan diri.

    Salah satu akun pada 8 April 2024 menuliskan keterangan demikian:

    Baru Saja Gempa Bumi di Majene Sulawesi Barat Mudh2an ALLOH SWT Malindungi Saudara2 kt Di Sana Dn Kt Smua Bastra Slrh Kluarga Kt Aamiin YRA.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com menemukan video serupa di kanal YouTube ini dan telah diunggah pada 2018.

    Video itu memperlihatkan tanah yang retak di Kabupaten Sigi akibat gempa di Kota Palu.

    Seperti diberitakan Kompas.com, pada 28 September 2018, gempa dan tsunami melanda Kota Palu serta Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. 

    Gempa pertama kali mengguncang Donggala pukul 14.00 WIB. Gempa tersebut berkekuatan magnitudo 6 dengan kedalaman 10 kilometer di jalur sesar Palu Koro.

    Kemudian, pada pukul 17.22 WIB terjadi tsunami dengan ketinggian mencapai 6 meter. Akibat peristiwa itu tercatat ratusan orang meninggal di Kota Palu.

    Kesimpulan

    Video gempa bumi di Sulawesi Barat pada 2024 adalah hoaks. Video aslinya memperlihatkan dampak gempa di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada 2018.

    Rujukan