• (GFD-2024-19623) Cek Fakta: Tidak Benar Video Drone Iran Nyangkut di Kabel Listrik Wilayah Israel

    Sumber:
    Tanggal publish: 06/05/2024

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta- Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim video drone Iran nyangkut di kabel listrik wilayah Israel, informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 28 April 2024.
    Unggahan klaim video drone Iran nyangkut di kabel listrik wilayah Israel menampilkan sebuah benda dengan bentuk menyerupai pesawat terlihat menyangkut pada bentangan kabel di udara.
    Dalam video tersebut terdapat tulisan "Drone Iran nyangkut di kabel listrik wilayah israel"
    Benarkah klaim video drone Iran nyangkut di kabel listrik wilayah Israel? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim video drone Iran nyangkut di kabel listrik wilayah Israel, dengan menangkap layar video untuk dijadikan bahan penelusuran menggunakan Google Image.
    Penelusuran mengarah pada artikel berjudul "Fact Check: Old Unrelated Visual Of Drone Stuck In Electric Lines Erroneously Linked To Iran-Israel Conflict" yang dimuat situs newsmobile.in, pada 18 April 2024.
    Artikel situs newsmobile.in mengulas video yang identik dengan klaim.
     
    Situs newsmobile.in menyebutkan bahwa video “drone bunuh diri” telah menabrak kabel listrik di sebuah desa bernama Qamar Aldin, yang terletak di Hasakah, Suriah. Postingan ini dibagikan akun X pada 21 Februari 2024.
    Penelusuran juga mengarah pada artikel berjudul "This Video Does Not Show An Iranian Drone Stuck In Electrical Power Lines In Iraq" yang dimuat situs misbar.com, pada 15 April 2024.
    Situs misbar.com mengulas video yang identik dengan klaim dan menyebutkan Video tersebut menunjukkan sebuah drone terjebak di kabel listrik lembah Qamar el-Din, yang terletak di barat laut Deir al-Zour, Suriah, pada bulan Februari. Alsharqiya News, jaringan lokal Suriah, melaporkan bahwa asal muasal drone tersebut tidak diketahui.
    Klaim tersebut beredar setelah adanya laporan terlihatnya puluhan drone Iran terbang di atas wilayah udara Irak menuju Israel.
     

    Kesimpulan


    Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim video drone Iran nyangkut di kabel listrik wilayah Israel tidak benar.
    Video tersebut telah beredar sebelum terjadinya konflik Iran-Israel.
     

    Rujukan

  • (GFD-2024-19644) [HOAKS] Pengurangan Populasi Jadi 800 Juta Jiwa pada 2030

    Sumber:
    Tanggal publish: 06/05/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar narasi bahwa Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kependudukan Dunia 1994 telah menyepakati pengurangan populasi menjadi 800 juta jiwa pada 2030.

    Sebanyak 160 negara saat itu menyadari pertumbuhan penduduk sudah di luar kendali dan harus dihentikan.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut hoaks.

    Narasi soal pengurangan populasi menjadi 800 juta jiwa pada 2030 dibagikan oleh akun Facebook ini. Berikut narasi yang dibagikan:

    Konspirasi Pengurangan Penduduk Bumi

    Pada tahun 1994 di KTT Kependudukan Dunia yang di ikuti 160 Negara sepakat bahwa pertumbuhan Penduduk di luar kendali dan itu harus di hentikan karena sumber daya bumi ini dalam bahaya.

    Sebuah kesepakatan di tanda tangani utk mengurangi populasi dan seluruh penduduk dunia disisakan hanya 800 juta orang sampai 2030.

    Hasil Cek Fakta

    Dilansir AAP Factcheck, Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) PBB tahun 1994 di Kairo dihadiri oleh 179 negara, bukan 160 negara.

    Dana Kependudukan PBB mengatakan, konferensi tersebut menghasilkan Program Aksi yang diadopsi oleh semua negara peserta.

    Program setebal 177 halaman ini tidak menyebutkan rencana untuk memangkas jumlah penduduk, namun lebih mengacu pada pertumbuhan yang berkelanjutan dan stabilisasi.

    Bab tentang pertumbuhan penduduk menggambarkan tujuan akhir program sebagai "peningkatan kualitas hidup generasi sekarang dan generasi yang akan datang".

    Laporan ini juga memperkirakan populasi global akan meningkat dari sekitar 5,6 miliar pada tahun 1994 menjadi 7,9 miliar-11,9 miliar pada 2050.

    Caroline Kabiru, seorang peneliti senior di Pusat Penelitian Kependudukan dan Kesehatan Afrika yang telah menerbitkan makalah tentang KTT PBB di Kairo tahun 1994, mengatakan, klaim mengenai rencana depopulasi adalah salah kaprah dan keliru.

    "Saya tidak mengetahui adanya rencana dari PBB atau organisasi global lainnya untuk mengurangi populasi global bersih menjadi 800 juta," kata Kabiru.

    "Program Aksi tidak menyebutkan target demografis apa pun. Faktanya, dokumen tersebut menyoroti pertumbuhan populasi yang diharapkan," ujarnya.

    Sementara itu, Alex Ezeh, seorang profesor kesehatan global di Universitas Drexel, Philadelphia, mengatakan, klaim tersebut berlawanan dengan kesepakatan konferensi.

    Konferesi tersebut menyepakati bahwa setiap orang memiliki hak untuk memutuskan kapan dan berapa banyak anak yang akan dimiliki.

    "ICPD mengalihkan perhatian dari mengejar target demografi ke pemenuhan kebutuhan reproduksi individu dan pasangan. Klaim tersebut salah tanpa ada satu pun kebenaran, setidaknya sejauh menyangkut referensi ICPD," kata Ezeh.

    Kesimpulan

    Narasi soal pengurangan populasi menjadi 800 juta jiwa pada 2030 adalah hoaks.

    Konferensi Kependudukan dan Pembangunan PBB di Kairo pada 1994 tidak menyebutkan rencana memangkas jumlah penduduk, namun pertumbuhan yang berkelanjutan dan stabilisasi.

    Rujukan

  • (GFD-2024-19645) [HOAKS] Foto Restoran Siap Saji Terbengkalai

    Sumber:
    Tanggal publish: 06/05/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Foto restoran siap saji McDonald's terbengkalai beredar di media sosial Threads.

    Namun, setelah ditelusuri Tim Cek Fakta Kompas.com, foto tersebut merupakan hasil manipulasi.

    Foto McDonald's terbengkalai ditemukan di akun Threads ini, ini, ini, dan ini.

    Foto yang sama juga ditemukan di akun Facebook ini.

    Berikut narasi yang ditulis pengguna Threads pada Selasa (30/4/2024), dalam terjemahan bahasa Indonesia:

    McDonald's terbengkalai

    akun Threads Tangkapan layar konten manipulasi di sebuah akun Threads, Selasa (30/4/2024), memuat foto bangunan restoran siap saji McDonald's terbengkalai.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com menggunakan pendeteksi foto dan video yang dikembangkan Hive Moderation.

    Tools tersebut membantu mendeteksi persentase rekayasa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) pada gambar atau video.

    Hasil pendeteksian menunjukkan, gambar McDonald's terbengkalai 99,9 persen merupakan gambar yang dibuat dengan AI.

    Sejumlah platform menyediakan fitur pembuat gambar AI. Hanya dengan memasukkan kata kunci atau prompt, maka foto menyerupai jepretan asli akan dihasilkan.

    Akun Instagram @chatgptricks pada 5 Februari 2024 menunjukkan prompt sederhana untuk membuat gambar restoran siap terkenal terbengkalai.

    Ada foto rekayasa bangunan McDonald's, KFC, Starbucks, Five Guys, Popeye's, Chipotle, dan lain-lain.

    Kesimpulan

    Foto bangunan restoran siap saji McDonald's terbengkalai merupakan manipulasi.

    Hive Moderation mengidentifikasi foto tersebut 99,9 persen merupakan hasil rekayasa AI.

    Rujukan

  • (GFD-2024-19649) [HOAKS] Pfizer Meminta Maaf karena Promosi Vaksin Covid-19 Ilegal

    Sumber:
    Tanggal publish: 06/05/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Perusahaan farmasi Pfizer diklaim melayangkan permintaan maaf karena mempromosikan vaksin Covid-19 tanpa izin dan data keamanan.

    Narasi yang diunggah di media sosial itu beredar luas melalui tangkapan layar artikel berbahaya Inggris.

    Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi itu tidak benar atau hoaks.

    Informasi mengenai Pfizer meminta maaf karena mempromosikan vaksin Covid-19 ilegal, disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, ini, ini, dan ini.

    Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada 18 April 2024:

    Pfizer meminta Maaf karena promosi Vax C19 Tanpa izin Secara Ilegal tanpa Data Keamanan

    Sementara, berikut terjemahan tangkapan layar artikel yang disebarkan:

    Pfizer Mengatakan 'Maaf' karena Mempromosikan Vaksin COVID Tanpa Izin Secara Ilegal Tanpa Data Keamanan

    akun Facebook Tangkapan layar konten hoaks di sebuah akun Facebook, 18 April 2024, mengenai Pfizer meminta maaf karena mempromosikan vaksin Covid-19 ilegal.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com menelusuri situs yang menjadi rujukan melalui mesin pencari.

    Dengan memasukkan judul artikel pada kolom mesin pencari, muncul artikel dari The National Pulse yang diterbitkan pada 8 April 2024.

    Media Bias Fact Check mengidentifikasi situs web The National Pulse memiliki bias ekstrem sayap kanan.

    Artikel-artikel dari situs tersebut memuat propaganda, teori konspirasi, serta sengaja menyebarkan disinformasi tanpa sumber yang kredibel.

    Situs web yang berdiri sejak 2016 tersebut memiliki pandangan konservatif yang antiimigrasi, menentang aborsi, dan menolak keberagaman orientasi seksual.

    Faktanya, Pfizer dan BioNTech telah melakukan serangkaian uji klinis yang menunjukkan vaksin Covid-19 yang mereka kembangkan 95,3 persen efektif.

    Dilansir situs Pfizer, fata keamanan dari studi Fase 3 juga telah dikumpulkan dari lebih dari 12.000 peserta yang divaksinasi yang ditindaklanjuti enam bulan setelah dosis kedua, yang menunjukkan keamanan dan tingkat toleransi yang baik.

    Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), vaksin mRNA, termasuk yang dibuat Pfizer telah memiliki standar keamanan dan efektivitas yang sama ketatnya dengan semua jenis vaksin lainnya di Amerika Serikat (AS).

    Sementara di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan Emergency Use Authorization (EUA) untuk vaksin Covid-19 Pfizer.

    Berdasarkan data uji klinik fase 3, efikasi vaksin Pfizer pada usia 16 tahun ke atas menunjukan keberhasilan sebanyak 95,5 persen dan pada remaja usia 12-15 tahun sebesar 100 persen.

    Dalam menguji keamanan dan efikasi vaksin Covid-19 Pfizer, BPOM bekerja sama dengan Tim Ahli Komite Nasional Penilai Vaksin Covid-19 dan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

    Sehingga tidak dapat dikatakan bahwa vaksin Covid-19 tidak memiliki data keamanan atau ilegal.

    Kesimpulan

    Narasi mengenai Pfizer meminta maaf karena mempromosikan vaksin Covid-19 ilegal merupakan hoaks.

    Vaksin Covid-19 Pfizer telah melalui serangkaian uji klinis dan memiliki efektivitas 95,3 persen.

    CDC dan BPOM telah menjalankan uji klinik fase 3 dan hasilnya menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 Pfizer aman.

    Rujukan