(GFD-2021-7509) [SALAH] Artikel lanjutbaja.site: “Innalillahi, Masjid Meledak Saat Waktu Sholat Jumat, Sebanyak 20 Jamaah Meninggal Dunia, Semoga Husnol Khotimah Aminn”
Sumber: Media DaringTanggal publish: 03/09/2021
Berita
Beredar informasi dari akun Facebook Mila Ol berupa sebuah link artikel dari situs lanjutbaja.site yang berjudul “Innalillahi, Masjid Meledak Saat Waktu Sholat Jumat, Sebanyak 20 Jamaah Meninggal Dunia, Semoga Husnol Khotimah Aminn” dengan foto sebuah masjid dengan kubahnya yang terbakar. Postingan ini disukai sebanyak 1 kali dan dikomentari 1 kali.
Hasil Cek Fakta
Kabar ini sudah pernah beredar sejak bulan Juli 2021, diketahui foto kubah masjid yang terbakar tersebut merupakan foto kebakaran Masjid Taqarrub di Gampung Alue Bungkoh, Aceh Utara pada 28 Desember 2019. Kebakaran tersebut diduga akibat korselting listrik dari salah satu ruko yang berkonstruksi papan, 10 unit ruko ludes terbakar, kubah utama Masjid Taqarrub yang berada didekat deretan ruko tersebut ikut terbakar, diketahui hanya ada 1 orang korban luka dari 35 korban kebakaran tersebut.
Kejadian yang dimuat dari halaman artikel yang diklaim meledak pada saat shalat Jumat juga tidak benar, faktanya adanya ledakan dari AC (Air Conditioner) pada sebuah masjid di Narayanganj pada saat shalat Isya pada 7 September 2020. Puluhan orang dilarikan ke rumah sakit khusus luka bakar dan operasi plastik milik pemerintah di Dhaka, Bangladesh, 24 orang tewas dan setidaknya 37 orang dengan luka bakar hingga 90 persen.
Melihat dari penjelasan tersebut, artikel dari lanjutbaja.site yang berjudul “Innalillahi, Masjid Meledak Saat Waktu Sholat Jumat, Sebanyak 20 Jamaah Meninggal Dunia, Semoga Husnol Khotimah Aminn” adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Koneksi yang Salah/False Connection.
Kejadian yang dimuat dari halaman artikel yang diklaim meledak pada saat shalat Jumat juga tidak benar, faktanya adanya ledakan dari AC (Air Conditioner) pada sebuah masjid di Narayanganj pada saat shalat Isya pada 7 September 2020. Puluhan orang dilarikan ke rumah sakit khusus luka bakar dan operasi plastik milik pemerintah di Dhaka, Bangladesh, 24 orang tewas dan setidaknya 37 orang dengan luka bakar hingga 90 persen.
Melihat dari penjelasan tersebut, artikel dari lanjutbaja.site yang berjudul “Innalillahi, Masjid Meledak Saat Waktu Sholat Jumat, Sebanyak 20 Jamaah Meninggal Dunia, Semoga Husnol Khotimah Aminn” adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Koneksi yang Salah/False Connection.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Natalia Kristian (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Indonesia).
Koneksi yang salah. Foto kubah masjid yang terbakar tersebut adalah foto kejadian kebakaran Masjid Taqarrub di Aceh Utara pada 28 Desember 2019 sedangkan kejadian ledakan AC pada sebuah masjid di Bangladesh terjadi pada 7 September 2020 pada saat salat Isya bukan pada saat salat Jumat.
Koneksi yang salah. Foto kubah masjid yang terbakar tersebut adalah foto kejadian kebakaran Masjid Taqarrub di Aceh Utara pada 28 Desember 2019 sedangkan kejadian ledakan AC pada sebuah masjid di Bangladesh terjadi pada 7 September 2020 pada saat salat Isya bukan pada saat salat Jumat.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2021/07/19/salah-foto-masjid-meledak-saat-waktu-sholat-jumat-sebanyak-50-jamaah-meninggal-dunia/
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1446/keliru-klaim-ini-foto-kebakaran-masjid-di-bangladesh-yang-menewaskan-50-orang
- https://www.suara.com/news/2019/12/28/164836/masjid-taqarrub-aceh-hangus-terbakar-satu-perempuan-terlalap-api
- https://www.liputan6.com/global/read/4349491/pipa-gas-dekat-masjid-di-bangladesh-meledak-24-orang-tewas
- https://www.dhakatribune.com/bangladesh/nation/2020/09/04/50-injured-in-narayanganj-mosque-explosion
(GFD-2021-7510) [SALAH] Obat Covid-19 Molnulpiravir Mulai Beredar September Mendatang
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 03/09/2021
Berita
Beredar sebuah pesan singkat melalui media sosial Whatsapp yang menyatakan bahwa telah ditemukan obat yang dapat menyembuhkan pasien Covid-19, bernama obat Molnupiravir. Melalui narasi ini Molnupiravir dikabarkan mulai beredar dan dapat digunakan pada September 2021 mendatang.
Hasil Cek Fakta
Mengutip Forbes, Molnupiravir pertama kali dikembangkan sebagai obat pencegahan dan pengobatan untuk SARS-CoV dan MERS pada awal tahun 2000-an. Obat ini sebelumnya telah terbukti bekerja melawan banyak virus yang menggunakan RNA polimerase yang bergantung pada RNA, yang juga dimiliki SARS-CoV-2 (Covid-19). Namun setelah melakukan penelusuran, informasi yang menyebutkan bahwa obat Molnupiravir akan segera beredar dan dapat digunakan pada September 2021 mendatang adalah informasi yang keliru.
Dijelaskan oleh dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, obat antiviral molnupiravir saat ini masih dalam tahap uji coba. Pengujian dilakukan karena obat ini dapat bekerja melawan virus yang hampir sama dengan virus corona.
“Studi-studi sebelumnya menunjukkan, obat ini dapat bekerja melawan virus yang menggunakan RNA-dependent RNA polymerase yang juga dimiliki oleh SARS-CoV-2,” ucap dr. Astrid.
Pemerintah melalui PT Kimia Farma Tbk, menargetkan proses uji klinis antigen Molnupiravir selesai pada Oktober 2021. Sampai saat ini belum ada konfirmasi khusus tentang hasil uji fase ketiga dari obat tersebut. Selain itu, saat ini Pemerintah masih ingin memastikan kesiapan anggota Holding BUMN Farmasi itu untuk memproduksi obat-obatan terapi Covid-19, yang dalam hal ini termasuk obat Molnupiravir.
Jadi dapat disimpulkan bahwa narasi yang menyebutkan bahwa obat Molnupiravir akan beredar dan dapat dikonsumsi untuk mengobati pasien Covid-19 mulai bulan September adalah informasi hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.
Dijelaskan oleh dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, obat antiviral molnupiravir saat ini masih dalam tahap uji coba. Pengujian dilakukan karena obat ini dapat bekerja melawan virus yang hampir sama dengan virus corona.
“Studi-studi sebelumnya menunjukkan, obat ini dapat bekerja melawan virus yang menggunakan RNA-dependent RNA polymerase yang juga dimiliki oleh SARS-CoV-2,” ucap dr. Astrid.
Pemerintah melalui PT Kimia Farma Tbk, menargetkan proses uji klinis antigen Molnupiravir selesai pada Oktober 2021. Sampai saat ini belum ada konfirmasi khusus tentang hasil uji fase ketiga dari obat tersebut. Selain itu, saat ini Pemerintah masih ingin memastikan kesiapan anggota Holding BUMN Farmasi itu untuk memproduksi obat-obatan terapi Covid-19, yang dalam hal ini termasuk obat Molnupiravir.
Jadi dapat disimpulkan bahwa narasi yang menyebutkan bahwa obat Molnupiravir akan beredar dan dapat dikonsumsi untuk mengobati pasien Covid-19 mulai bulan September adalah informasi hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)
Informasi keliru. Mengenai waktu beredarnya obat Covid-19 belum dapat dipastikan. Uji klinis fase ketiga baru akan keluar di bulan Oktober 2021 mendatang.
Informasi keliru. Mengenai waktu beredarnya obat Covid-19 belum dapat dipastikan. Uji klinis fase ketiga baru akan keluar di bulan Oktober 2021 mendatang.
Rujukan
(GFD-2021-8749) Keliru, Vietnam Menang Perang dari Amerika Serikat Berkat Buku Strategi Perang Gerilya
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 02/09/2021
Berita
Sebuah unggahan di Instagram mengklaim kemenangan Vietnam terhadap Amerika pada perang 1955-1975 berkat buku Strategi Perang Gerilya yang ditulis Jenderal A.H Nasution beredar. Akun ini mengunggah klaim tersebut dengan membagikan foto sekelompok pasukan elit bersenjata dengan mengenakan baju kamuflase dan disandingkan dengan foto sebuah buku karya A.H Nasution.
Pada foto tersebut ditambahkan juga narasi “Kemenangan Vietnam dalam perang melawan Amerika Serikat pada tahun 1955-1975, sebagian besar karena menggunakan strategi perang gerilya, ternyata strategi itu diambil dari buku karya Jenderal A.H Nasution,”. Unggahan itu dibagikan pada 23 Agustus 2021 dan telah mendapatkan respons suka dari 14,5 ribu akun.
Benarkah kemenangan Vietnam atas Amerika Serikat pada perang 1955-1975 berkat buku strategi perang gerilya karya Jenderal A.H Nasution?
Tangkapan layar unggahan yang mengklaim Vietnam memenangkan perang melawan Amerika tahun 1975 berkat buku strategi perang karya A.H Nasution.
Hasil Cek Fakta
Untuk membuktikan klaim di atas, tim Cek Fakta Tempo mula-mula menelusuri informasi terkait perang Vietnam. Dikutip dari idntimes, perang vietnam merupakan perang yang dikenal dengan nama perang Indocina kedua. Perang Vietnam sendiri terjadi antara 1957 dan 1975 dan merupakan Perang Dingin antara dua kubu ideologi besar, yakni Komunis dan SEATO.
Melansir dari laman History, setelah blok Poros menyerah pada tahun 1945, Vietnam berada dalam status quo. Ho Chi Minh melihat kesempatan ini dan mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam Utara pada 2 September 1945. Ia pun menjadi presiden pertama dari Republik Demokratik Vietnam yang berhaluan komunis.
Pada Juli 1946 Ho Chi Minh menolak proposal Prancis yang menawarkan pemerintahan terbatas atas Vietnam dan memulai perang gerilya melawan Prancis. Perang Indocina Pertama antara Vietnam dan Prancis secara resmi dimulai sejak saat itu.
Empat tahun kemudian, tepatnya pada bulan Januari 1950, Republik Rakyat Tiongkok dan Uni Soviet secara resmi mengakui Republik Demokratik Vietnam. Keduanya pun mulai memasok bantuan ekonomi dan militer kepada para pejuang perlawanan komunis di negara itu.
Dengan bantuan dari dua raksasa komunis tersebut, Vietnam meningkatkan serangan mereka terhadap pos-pos Prancis di Vietnam. Melihat hal ini, Amerika menganggap Vietnam sebagai ancaman dan meningkatkan bantuan militer mereka untuk Prancis. inilah awal mulai meningkatnya eskalasi dalam perang tersebut.
Dikutip dari BBC, ada beberapa alasan kegagalan Amerika Serikat dalam mengalahkan tentara Vietnam saat perang Vietnam yaitu pertama taktik militer Amerika yang tidak populer. Taktik Amerika yang lebih banyak menggunakan serangan udara dianggap brutal. Sehingga warga Vietnam justru ikut melawan mereka.
Kedua Operasi militer yang tidak tepat sasaran. Amerika Serikat kerap melakukan operasi yang justru membuat warga sipil menjadi korban dan makin tidak mendukung Amerika Serikat.
Ketiga, Informasi Intelijen yang tak sepenuhnya akurat. Intelijen Amerika Serikat mencoba menyingkirkan tentara Vietnam di dusun-dusun bagian Selatan dengan cara membunuh orang-orang yang mereka pikir bagian dari tentara Vietnam. Banyak warga sipil tak berdosa terbunuh. Warga sipil Vietnam pun kemudian mempertanyakan apakah tentara Amerika Serikat benar-benar ada di pihak mereka. Akibatnya pasukan Amerika Serikat menjadi sangat tidak populer.
Selain itu kemampuan berperang yang efektif para tentara Vietnam juga menyebabkan Amerika Serikat makin tak leluasa. BBC melaporkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan tentara Vietnam mampu bertahan dari serangan tentara Amerika serikat.
Pertama, meski tidak memiliki pesawat, tank atau artileri sendiri, tentara Vietnam berhasil bertahan melawan Amerika sampai Amerika Serikat meninggalkan Vietnam pada 1970-an menggunakan sejumlah taktik khusus.
Kedua, selalu menggunakan strategi perang gerilya. Tentara Vietnam memiliki pengalaman melakukan strategi perang ini saat melawan Jepang dan Prancis setelah Perang Dunia Kedua - mereka sangat akrab dengan medan dan iklim.
Ketiga, tentara Vietnam mampu memenangkan 'hati dan pikiran' para petani di wilayah Vietnam Selatan. Mereka menawarkan untuk membantu dalam pekerjaan sehari-hari dan juga menjanjikan mereka tanah, lebih banyak kekayaan dan kebebasan dibawah Ho Chi Minh dan komunis. Hal ini menyulitkan pasukan Amerika untuk mengetahui siapa yang orang Vietkong dan siapa yang bukan.
Keempat, tentara Vietnam memiliki sistem terowongan tersembunyi yang membentang lebih dari 200 mil. Ada rumah sakit, gudang senjata, kamar tidur, dapur, dan sumur di bawah tanah. Sistem terowongan ini bisa menyembunyikan ribuan tentara saat perang gerilya.
Kelima, dukungan asing, tentara Vietnam dan Vietnam Utara didukung oleh Uni Soviet (USSR) dan Cina. Dua negara itu yang memasok uang dan senjata mereka.
Dilansir cek fakta liputan6, Jurnal penelitian dengan judul “Ho Chi Minh and the origins of the Vietnamese doctrine of guerrilla tactics” yang ditulis Edward C. O’Dowd mengungkapkan bahwa Ho Chi Minh-pemimpin vietnam Utara- diketahui pernah bergabung di sebuah sekolah perang gerilya di Henyang, China pada 1938. Ia kemudian menulis pamflet Cach Danh Du Kich (Taktik Gerilya) sekitar tahun 1941 yang berfungsi sebagai panduan bagi para pemimpin datasemen gerilya Komunis Vietnam (1941-1944) dan kader pertama Tentara Rakyat Vietnam.
Sedangkan buku "Pokok-Pokok Gerilya" karya Jenderal A.H Nasution pertama kali diterbitkan tahun 1953. Vietnam mengalahkan Amerika Serikat dengan mengadopsi perang gerilya model Mao yang bertujuan akhir menghancurkan lawan. Disebutkan kalau model Mao yang digunakan oleh Vietnam Utara membagi peperangan menjadi tiga fase, dan ini dikenal juga dengan istilah Dau Tranh Strategy.
Fase pertama adalah penyebaran propaganda, perekrutan, infiltrasi organisasi, dan pengadaan senjata. Fase kedua adalah perang gerilya yang melibatkan sabotase, penyergapan, dan tindakan militer lain terhadap militer lawan maupun institusi vital. Fase ketiga adalah perang konvensional untuk merebut kota, menggulingkan
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa kemenangan Vietnam terhadap Amerika pada perang 1955-1975 berkat buku strategi perang gerilya yang ditulis Jenderal A.H Nasution, keliru. Kemenangan Vietnam atas Amerika Serikat pada perang vietnam merupakan hasil strategi gerilya yang dipelajari Ho Chi Minh-pemimpin vietnam Utara- di sekolah perang gerilya di Henyang, China pada 1938.
Ia kemudian menulis pamflet Cach Danh Du Kich (Taktik Gerilya) sekitar tahun 1941 yang berfungsi sebagai panduan bagi para pemimpin datasemen gerilya Komunis Vietnam (1941-1944) dan kader pertama Tentara Rakyat Vietnam. Sementara buku "Pokok-Pokok Gerilya" karya Jenderal A.H Nasution pertama kali diterbitkan tahun 1953. Vietnam mengalahkan Amerika Serikat dengan mengadopsi perang gerilya model Mao yang bertujuan akhir menghancurkan lawan.
TIM CEKFAKTA TEMPO
Rujukan
- https://www.instagram.com/p/CS64afLljlC/?utm_source=ig_embed&ig_rid=df5c1d04-2085-4af1-b851-fa3da8991475
- https://www.tempo.co/tag/jenderal-a-h-nasution
- https://www.tempo.co/tag/perang-vietnam
- https://www.idntimes.com/science/discovery/shandy-pradana/perang-vietnam-awal-mula-intervensi-amerika-dan-kekalahan-paman-sam-c1c2-1 %20
- https:/www.bbc.co.uk/bitesize/guides/zv7bkqt/revision/3
- https://www.bbc.co.uk/bitesize/guides/zv7bkqt/revision/4%20
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4339238/cek-fakta-hoaks-vietnam-kalahkan-amerika-serikat-berkat-andil-pahlawan-indonesia
(GFD-2021-8750) Keliru, Penggunaan Thermogun sebagai Adaptasi Scan Barcode di Dahi
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 02/09/2021
Berita
Video pendek dengan klaim penggunaan thermogun hanya tahap adaptasi untuk scan barcode yang nantinya akan distempel di dahi menyebar melalui Whatsapp. Berdurasi 30 detik, video itu memuat cuplikan sejumlah foto, seperti tato vaksinasi di lengan, video Bill dan Melinda Gates serta beberapa teks.
Video itu diawali dengan potongan gambar kerumunan orang dengan teks, “Thermogun di jidat sebagai kilah mengukur suhu tubuh sebelum masuk gedung itu omong kosong. Itu semua adalah tahap adaptasi untuk scan barcode yang nantinya distempel di jidat.”
Teks berikutnya memuat klaim bahwa sistem tersebut memberikan akses cepat dan mudah ke riwayat vaksinasi, menghindari risiko kesalahan administrasi menurut penelitian di Science Translational.
Sistem yang diberi nama Quantum Dot Tatto itu akan memudahkan untuk mengidentifikasi siapa yang telah divaksinasi. Sistem ini disebutkan didanai oleh Bill and Melinda Gate Foundation.
Video ini menyebar di tengah proses vaksinasi Covid-19 di dunia tengah berlangsung sebagai pencegahan terhadap penyebaran virus SARS-Cov-2.
Tangkapan layar cuplikan unggahan video dengan klaim bahwa Penggunaan Thermogun sebagai Adaptasi Scan Barcode di Dahi.
Hasil Cek Fakta
Penggunaan Termometer Inframerah atau dikenal dengan thermogun bukan untuk adaptasi rencana scan bercode vaksinasi yang akan ditempel di kening. Sebab thermogun berfungsi untuk mengukur suhu tubuh manusia dengan menggunakan inframerah. Terkait Quantum Dot Tatto untuk vaksinasi baru sebatas penelitian yang dilakukan sebelum pandemi Covid-19 terjadi.
Ketua Departemen Fisika Kedokteran/Klaster Medical Technology IMERI FKUI Prasandhya Astagiri Yusuf menjelaskan pada Tempo, 21 Juli 2020 lalu, menjelaskan, thermo gun bekerja untuk mendeteksi temperatur arteri temporal saat ditembakkan ke dahi untuk mengestimasi suhu tubuh seseorang. Thermogun menggunakan sebuah lensa untuk memfokuskan sinar yang datang dari suatu obyek ke detektor yang disebut thermopile.
Detektor itu yang menyerap radiasi inframerah dan mengubahnya menjadi panas. Semakin besar energi radiasi yang ditangkap, semakin thermopile panas. Bahan itu yang kemudian diubah ke listrik dan muncul sebagai angka bacaan temperatur pada layar thermo gun.
Selama ini thermogun sudah sering dipakai di dunia medis dan aman dinyatakan aman bagi tubuh.
Tentang Quantum Dot Tatto
Istilah Quantum Dot Tatto (QDT) pertama kali muncul setelah para peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) menerbitkan penelitian mereka di Science Translational Medicine pada 18 Desember 2019 berjudul Biocompatible near-infrared quantum dots delivered to the skin by microneedle patches record vaccination.
QDT adalah platform microneedle berbasis mikropartikel fluoresen, yang dapat menyediakan riwayat vaksinasi secara langsung di kulit. Menurut Genetic Engineering & Biotechnology News, platform tersebut diciptakan karena salah satu faktor ketimpangan akses terhadap vaksin, terutama di negara berkembang, karena kurangnya infrastruktur untuk menyimpan catatan medis. Sehingga tidak tersedia cukup data untuk menentukan siapa yang telah divaksin dan siapa yang masih membutuhkan vaksin tertentu. Hal ini menyebabkan 1,5 juta kematian setiap tahun yang seharusnya bisa dicegah apabila mereka mendapatkan vaksin.
Tim MIT selama beberapa tahun kemudian merancang metode untuk merekam informasi vaksinasi dengan cara yang tidak memerlukan database terpusat atau infrastruktur lainnya. Untuk membuat rekam medis terdesentralisasi “pada pasien”, para peneliti mengembangkan jenis baru titik kuantum berbasis tembaga, yang memancarkan cahaya dalam spektrum inframerah-dekat.
Titik-titik tersebut berdiameter sekitar 4 nanometer, dan dikemas dalam mikropartikel biokompatibel yang membentuk bola dengan diameter sekitar 20 m. Enkapsulasi ini memungkinkan pewarna tetap di tempatnya, di bawah kulit, setelah vaksin disuntikkan.
Tentang Bill and Melinda Gates Foundation Biayai Tato Digital
Narasi yang menghubungkan Bill and Melinda Gates Foundation membiayai tato atau sertifikat digital tersebut telah berkembang sejak tahun lalu. Hal ini bermula dalam wawancara di Reddit, Bill Gates sempat menyebut "sertifikat digital". Namun, penyebutan "sertifikat digital" itu untuk menjawab pertanyaan mengenai dampak pandemi Covid-19 terhadap bisnis dan ekonomi dunia.
Organisasi cek fakta Amerika Serikat, Fact Check, menulis, Gates Foundation mengkonfirmasi bahwa penelitian mengenai quantum dot dye tidak terkait dengan vaksin Covid-19. Begitu pula dengan sertifikat digital.
Bill Gates merupakan salah satu orang terkaya di dunia, yang menempatkan sebagian kekayaannya itu dalam berbagai organisasi dan inisiatif amal melalui Bill and Melinda Gates Foundation. Fokus utama yayasan ini, dan filantropi Bill Gates secara umum, adalah mengurangi ketidaksetaraan dalam bidang kesehatan, dengan fokus pada negara berkembang.
Melalui organisasi-organisasi ini, Bill Gates juga mendanai penelitian terkait solusi teknologi untuk menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat di komunitas termiskin secara global. Sejak 2015, ia telah mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kurangnya kesiapsiagaan dunia dalam menghadapi bencana pandemi.
Salah satunya karena pembelaannya terhadap vaksin, Bill Gates menjadi sasaran utama gerakan anti-vaksin selama lebih dari satu dekade terakhir. Permusuhan yang dibangun selama bertahun-tahun oleh klaim palsu dari kelompok-kelompok anti-vaksin itu, yang meningkat selama pandemi Covid-19, telah menciptakan teori konspirasi seputar Covid-19 yang semakin luas dan berpusat pada Bill Gates.
Kesimpulan
Dari pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa thermogun hanya tahap adaptasi untuk scan barcode yang nantinya akan distempel di jidat, adalah keliru. Thermogun bekerja untuk mendeteksi temperatur arteri temporal saat ditembakkan ke dahi untuk mengestimasi suhu tubuh seseorang.
Sedangkan Quantum Dot Tatto adalah platform yang dikembangkan oleh para peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) untuk memudahkan penyediaan informasi terkait siapa yang belum divaksin dan apakah mereka membutuhkan vaksin lainnya. Implementasi Quantum Dot Tatto tidak dengan menembakkan termometer inframerah ke dahi, melainkan dengan penyuntikan vaksin.
Tim Cek Fakta Tempo
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/bill-and-melinda-gates-foundation
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
- https://tekno.tempo.co/read/1367937/skrining-suhu-covid-19-thermal-gun-jangan-asal-tembak
- https://www.science.org/doi/10.1126/scitranslmed.aay7162
- https://www.genengnews.com/topics/drug-discovery/quantum-dots-deliver-vaccines-and-invisibly-encode-vaccination-history-in-skin/
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/857/fakta-atau-hoaks-benarkah-covid-19-singkatan-dari-certificate-of-vaccination-id-dan-konsep-new-normal-bermuatan-lgbt
Halaman: 6475/7976



