KOMPAS.com - Beredar foto dan video di media sosial yang memperlihatkan seekor ikan dengan kulit bermotif loreng harimau.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, konten itu dibuat dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Konten yang menampilkan ikan dengan kulit bermotif loreng harimau dibagikan oleh akun Facebook ini dan ini, pada 10 dan 15 Juli 2024.
(GFD-2024-21247) [KLARIFIKASI] Konten Ikan Bermotif Loreng Harimau Dibuat oleh AI
Sumber:Tanggal publish: 19/07/2024
Berita
Hasil Cek Fakta
Tim Cek Fakta Kompas.com mencermati menemukan watermark berupa tulisan dalam aksara Mandarin pada konten tersebut.
Setelah ditelusuri, watermark itu merujuk ke Kling AI, perangkat kecerdasan buatan yang dikembangkan Kuaishou AI Team untuk membuat video berdasarkan teks perintah.
Watermark berbahasa Mandarin disematkan pada semua konten yang dihasilkan oleh Kling untuk menunjukkan konten tersebut dibuat dengan AI.
Kling merupakan salah satu produk dari Kuaishou Technology, perusahaan China yang mengembangkan aplikasi jejaring sosial untuk berbagi video pendek.
Pada 8 Juli 2024, Kuaishou mengumumkan pembaruan ketiga untuk Kling. Fitur baru yang diluncurkan termasuk menambah durasi video yang dihasilkan AI hingga 10 detik.
Sementara, berdasarkan artikel pemeriksa fakta Tempo.co, pada Kamis (18/7/2024), konten yang sama dinarasikan sebagai ikan pembawa keberuntungan.
Setelah ditelusuri, watermark itu merujuk ke Kling AI, perangkat kecerdasan buatan yang dikembangkan Kuaishou AI Team untuk membuat video berdasarkan teks perintah.
Watermark berbahasa Mandarin disematkan pada semua konten yang dihasilkan oleh Kling untuk menunjukkan konten tersebut dibuat dengan AI.
Kling merupakan salah satu produk dari Kuaishou Technology, perusahaan China yang mengembangkan aplikasi jejaring sosial untuk berbagi video pendek.
Pada 8 Juli 2024, Kuaishou mengumumkan pembaruan ketiga untuk Kling. Fitur baru yang diluncurkan termasuk menambah durasi video yang dihasilkan AI hingga 10 detik.
Sementara, berdasarkan artikel pemeriksa fakta Tempo.co, pada Kamis (18/7/2024), konten yang sama dinarasikan sebagai ikan pembawa keberuntungan.
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, gambar seekor ikan dengan kulit bermotif loreng harimau bukan menunjukkan hewan asli.
Konten tersebut dihasilkan dengan Kling AI, perangkat kecerdasan buatan yang dikembangkan Kuaishou AI Team untuk membuat video berdasarkan teks.
Konten tersebut dihasilkan dengan Kling AI, perangkat kecerdasan buatan yang dikembangkan Kuaishou AI Team untuk membuat video berdasarkan teks.
Rujukan
- https://www.facebook.com/photo?fbid=1725578574878475&set=gm.892625966172093&idorvanity=205357581565605
- https://www.facebook.com/reel/1069645934539610
- https://kling.kuaishou.com/en
- https://www.kuaishou.com/en
- https://ir.kuaishou.com/news-releases/news-release-details/kuaishou-unveils-comprehensive-ai-models-reshaping-content-and
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/3007/keliru-klaim-video-ikan-bermotif-harimau-pembawa-keberuntungan
- https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D
(GFD-2024-21172) [SALAH] Campuran Kopi, Kemiri, dan Pasta Gigi Bisa Memutihkan Gigi
Sumber: Facebook.comTanggal publish: 18/07/2024
Berita
Sering dihina gara-gara gigi kuning? Haluskan kemiri lalu campurkan kopi tuangkan odol secukupnya setelah itu masukan ke dalam wadah. Gosokkan ke gigimu dua kali sehari. Lakukan selama tujuh hari. Gigi sekuning apapun putih seperti mutiara
Hasil Cek Fakta
Artikel disadur dari Tirto.id.
Baru-baru ini, di media sosial Facebook, beredar sebuah unggahan yang mengklaim menyikat gigi dengan menggunakan campuran bubuk kopi, kemiri dan pasta gigi dapat membantu memutihkan gigi.
Dilansir dari Tirto.id, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), drg. Usman Sumantri, M.Sc., Siti Nadia Tarmizi, mengatakan kopi dan kemiri tidak memiliki sifat pemutih gigi yang terbukti secara ilmiah. Sementara itu, pasta gigi memang mengandung bahan abrasif yang bertujuan untuk membersihkan plak dan noda, namun bukan bertujuan untuk memutihkan gigi secara signifikan.
Sementara itu, dilansir dari hallosehat, dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. mengatakan bahwa kopi mengandung senyawa tanin yang justru dapat menyebabkan perubahan warna gigi menjadi menguning.
Berdasarkan dari temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa klaim menyikat gigi dengan menggunakan campuran bubuk kopi, kemiri dan pasta gigi dapat memutihkan gigi adalah tidak benar.
Baru-baru ini, di media sosial Facebook, beredar sebuah unggahan yang mengklaim menyikat gigi dengan menggunakan campuran bubuk kopi, kemiri dan pasta gigi dapat membantu memutihkan gigi.
Dilansir dari Tirto.id, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), drg. Usman Sumantri, M.Sc., Siti Nadia Tarmizi, mengatakan kopi dan kemiri tidak memiliki sifat pemutih gigi yang terbukti secara ilmiah. Sementara itu, pasta gigi memang mengandung bahan abrasif yang bertujuan untuk membersihkan plak dan noda, namun bukan bertujuan untuk memutihkan gigi secara signifikan.
Sementara itu, dilansir dari hallosehat, dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. mengatakan bahwa kopi mengandung senyawa tanin yang justru dapat menyebabkan perubahan warna gigi menjadi menguning.
Berdasarkan dari temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa klaim menyikat gigi dengan menggunakan campuran bubuk kopi, kemiri dan pasta gigi dapat memutihkan gigi adalah tidak benar.
Kesimpulan
Klaim bahwa menyikat gigi dengan menggunakan campuran bubuk kopi, kemiri dan pasta gigi dapat memutihkan gigi adalah tidak benar. Faktanya kopi mengandung senyawa tanin yang dapat menyebabkan perubahan warna gigi menjadi menguning.
Rujukan
(GFD-2024-21173) [SALAH] WHO Pandemic Treaty Berkaitan dengan Smart City, Digitalisasi, hingga Neuralink dan Starlink Buatan Elon Musk untuk Mengontrol Manusia
Sumber: Instagram.com, Noice.idTanggal publish: 18/07/2024
Berita
“TOLAK WH0 PANDEMIC TREATY DIGITALISASI FOR TOTAL CONTROL”
Narasi dalam video:
“Makanya nanti akan ada smart city, di semua kota kota besar dan nanti akan menyeluruh di Indonesia, persiapkan itu akan menjadi penjara digital. Karena orang yang sudah di kota akan merasa comfort tidak mau keluar lagi, dia mau bertahan terus di kota. Dengan segala macam cara dan kalau perlu bayar mahal, periodenya saat WHO Pandemy Treaty, itu Mei tahun ini kalau itu udah dilakukan kapan pun meraka akan lakukan. Tujuan mereka, 2025 sudah digitalisasi di seluruh aspek kehidupan dan tahun 2030 kita masuk ke New World Order dengan One World Government, One World Currency, One World Religion, itu tujuannya. Jangan main main, kita harus siap-siap. Makaitu sekarang banyak orang, ‘saya mau ini, pengen ini, pengen cari senang, mempersiapkan diri hidup senang’ dan sebagainya, saya ingin mempersiapkan diri bagaimana hidup susah.”
“Permainan Frekuensi Mode On! Elon Musk: Di masa depan, tidak akan ada telepon, yang ada hanya Neuralinks… NEURALINK + STARLINK = MIND CONTROL BUKAN OMONG KOSONG BELAKA…”
Narasi dalam video:
“Makanya nanti akan ada smart city, di semua kota kota besar dan nanti akan menyeluruh di Indonesia, persiapkan itu akan menjadi penjara digital. Karena orang yang sudah di kota akan merasa comfort tidak mau keluar lagi, dia mau bertahan terus di kota. Dengan segala macam cara dan kalau perlu bayar mahal, periodenya saat WHO Pandemy Treaty, itu Mei tahun ini kalau itu udah dilakukan kapan pun meraka akan lakukan. Tujuan mereka, 2025 sudah digitalisasi di seluruh aspek kehidupan dan tahun 2030 kita masuk ke New World Order dengan One World Government, One World Currency, One World Religion, itu tujuannya. Jangan main main, kita harus siap-siap. Makaitu sekarang banyak orang, ‘saya mau ini, pengen ini, pengen cari senang, mempersiapkan diri hidup senang’ dan sebagainya, saya ingin mempersiapkan diri bagaimana hidup susah.”
“Permainan Frekuensi Mode On! Elon Musk: Di masa depan, tidak akan ada telepon, yang ada hanya Neuralinks… NEURALINK + STARLINK = MIND CONTROL BUKAN OMONG KOSONG BELAKA…”
Hasil Cek Fakta
Artikel disadur dari Tempo.
Sebuah postingan di Instagram membagikan cuplikan video dari salah satu podcast di Noice dengan pembicara Dharma Pongrekun yang menyebut bahwa smart city di kota-kota besar Indonesia bisa menjadi penjara digital, membuat orang enggan keluar kota dan orang di dalamnya dapat terkontrol. Dia mengaitkan ini dengan rencana WHO Pandemy Treaty yang akan mempercepat digitalisasi pada 2025 dan menuju New World Order pada 2030, dengan satu pemerintahan, satu mata uang, dan satu agama.
Pada akhir video tersebut juga menunjukkan tangkapan layar postingan bahwa Elon Musk terkait Neuralink dengan menyematkan narasi bahwa Neuralink dan Starlink jika digabungkan maka mind control atau pengendalian pikiran manusia bukanlah omong kosong belaka.
Setelah ditelusuri klaim dalam postingan tersebut menyesatkan. Dilansir dari Tempo.co, WHO Pandemic Treaty merupakan sebutan lain dari konvensi WHO terkait perjanjian internasional tentang pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons terhadap pandemi di masa yang akan datang. Perjanjian tersebut dibuat agar negara-negara dapat menunjukkan solidaritas dan kesetaraan dalam merespons pandemi di masa yang akan datang.
Dengan begitu, dalam perjanjian dilakukan untuk memastikan agar negara-negara berpenghasilan tinggi dan perusahaan swasta dapat secara adil, tidak menimbun jutaan dosis vaksin berlebih, serta dapat berbagi pengetahuan dan produk yang dapat menyelamatkan nyawa sebagai bentuk solidaritas dan kesetaraan yang dimaksud. Tidak ada kaitannya dengan digitalisasi ataupun smart city dalam suatu kota yang dapat mengontrol manusia.
Berkaitan dengan Neuralinks dan Starlink yang dapat mengontrol manusia, ini juga merupakan klaim yang menyesatkan. Neuralinks merupakan perusahaan teknologi saraf yang salah satu proyeknya merancang agar otak manusia secara langsung terkoneksi dengan komputer agar memungkinkan manusia mengendalikan komputer dengan pikiran.
Sedangkan Starlink merupakan perusahaan penyedia operasi jaringan internet berbasis satelit yang dikembangkan oleh SpaceX yang diketahui merupakan perusahaan penerbangan luar angkasa. Kedua perusahaan tersebut merupakan milik Elon Musk. Namun tangkapan layar dari postingan X oleh Elon Musk tersebut tidak berkaitan dengan mind control atau pengendalian pikiran manusia, maksud dari postingan X tersebut Elon membayangkan bagaimana pikiran manusia dapat mengontrol telepon dengan pikiran di masa depan.
Penelusuran oleh Tempo.co menyebut bahwa pada 28 Januari 2024 Elon Musk pernah menguji chip Neuralinks pertama kali pada otak manusia, namun keberhasilan dari proyek tersebut tidak ada verifikasi informasinya. Meski Elon Musk mengklaim bahwa kondisi penerima kembali pulih dengan baik.
Kabar palsu dari Dharma Pongrekun tentang WHO Pandemic Treaty telah beberapa kali dibantah keasliannya oleh Pemeriksa Fakta Mafindo. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir karena klaim yang dapat menakut-nakuti tersebut tidak terbukti kebenarannya.
Dengan demikian, WHO Pandemic Treaty berkaitan dengan digitalisasi dan mengontrol manusia adalah tidak benar dengan kategori Konten yang Menyesatkan.
Sebuah postingan di Instagram membagikan cuplikan video dari salah satu podcast di Noice dengan pembicara Dharma Pongrekun yang menyebut bahwa smart city di kota-kota besar Indonesia bisa menjadi penjara digital, membuat orang enggan keluar kota dan orang di dalamnya dapat terkontrol. Dia mengaitkan ini dengan rencana WHO Pandemy Treaty yang akan mempercepat digitalisasi pada 2025 dan menuju New World Order pada 2030, dengan satu pemerintahan, satu mata uang, dan satu agama.
Pada akhir video tersebut juga menunjukkan tangkapan layar postingan bahwa Elon Musk terkait Neuralink dengan menyematkan narasi bahwa Neuralink dan Starlink jika digabungkan maka mind control atau pengendalian pikiran manusia bukanlah omong kosong belaka.
Setelah ditelusuri klaim dalam postingan tersebut menyesatkan. Dilansir dari Tempo.co, WHO Pandemic Treaty merupakan sebutan lain dari konvensi WHO terkait perjanjian internasional tentang pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons terhadap pandemi di masa yang akan datang. Perjanjian tersebut dibuat agar negara-negara dapat menunjukkan solidaritas dan kesetaraan dalam merespons pandemi di masa yang akan datang.
Dengan begitu, dalam perjanjian dilakukan untuk memastikan agar negara-negara berpenghasilan tinggi dan perusahaan swasta dapat secara adil, tidak menimbun jutaan dosis vaksin berlebih, serta dapat berbagi pengetahuan dan produk yang dapat menyelamatkan nyawa sebagai bentuk solidaritas dan kesetaraan yang dimaksud. Tidak ada kaitannya dengan digitalisasi ataupun smart city dalam suatu kota yang dapat mengontrol manusia.
Berkaitan dengan Neuralinks dan Starlink yang dapat mengontrol manusia, ini juga merupakan klaim yang menyesatkan. Neuralinks merupakan perusahaan teknologi saraf yang salah satu proyeknya merancang agar otak manusia secara langsung terkoneksi dengan komputer agar memungkinkan manusia mengendalikan komputer dengan pikiran.
Sedangkan Starlink merupakan perusahaan penyedia operasi jaringan internet berbasis satelit yang dikembangkan oleh SpaceX yang diketahui merupakan perusahaan penerbangan luar angkasa. Kedua perusahaan tersebut merupakan milik Elon Musk. Namun tangkapan layar dari postingan X oleh Elon Musk tersebut tidak berkaitan dengan mind control atau pengendalian pikiran manusia, maksud dari postingan X tersebut Elon membayangkan bagaimana pikiran manusia dapat mengontrol telepon dengan pikiran di masa depan.
Penelusuran oleh Tempo.co menyebut bahwa pada 28 Januari 2024 Elon Musk pernah menguji chip Neuralinks pertama kali pada otak manusia, namun keberhasilan dari proyek tersebut tidak ada verifikasi informasinya. Meski Elon Musk mengklaim bahwa kondisi penerima kembali pulih dengan baik.
Kabar palsu dari Dharma Pongrekun tentang WHO Pandemic Treaty telah beberapa kali dibantah keasliannya oleh Pemeriksa Fakta Mafindo. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir karena klaim yang dapat menakut-nakuti tersebut tidak terbukti kebenarannya.
Dengan demikian, WHO Pandemic Treaty berkaitan dengan digitalisasi dan mengontrol manusia adalah tidak benar dengan kategori Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Moch. Marcellodiansyah
Klaim tersebut menyesatkan, faktanya WHO Pandemic Treaty adalah perjanjian internasional untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons terhadap pandemi di masa yang akan datang. Sedangkan Neuralink adalah proyek yang digagas oleh Elon Musk untuk membuat komputer terhubung dengan otak agar memungkinkan komputer dikendalikan dengan pikiran manusia. Selengkapnya pada bagian penjelasan.
Klaim tersebut menyesatkan, faktanya WHO Pandemic Treaty adalah perjanjian internasional untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons terhadap pandemi di masa yang akan datang. Sedangkan Neuralink adalah proyek yang digagas oleh Elon Musk untuk membuat komputer terhubung dengan otak agar memungkinkan komputer dikendalikan dengan pikiran manusia. Selengkapnya pada bagian penjelasan.
Rujukan
(GFD-2024-21174) [PENIPUAN] Poster Lowongan Pekerjaan Pertamina Juli 2024
Sumber: Tiktok.comTanggal publish: 18/07/2024
Berita
Info Loker Terbaru SMA SMK D3 S1 2024
Hasil Cek Fakta
Ditemukan sebuah unggahan Tiktok yang membagikan sebuah unggahan mengenai adanya lowongan pekerjaan oleh Pertamina pada Juli 2024. Unggahan tersebut berisikan beberapa slide poster jika PT. Pertamina Group membuka lowongan pekerjaan di tahun 2024 untuk lulusan SMA, SMK, D3, dan S1.
Namun rupanya unggahan tersebut berisi informasi yang tidak benar, karena melalui laman Facebook resmi milik Pertamina sendiri mereka menjelaskan jika bahwa semua informasi mengenai rekrutmen pegawai Pertamina hanya dapat diakses melalui website recruitment.pertamina.com.
Selain itu informasi lowongan juga dapat dilihat di akun instagram @pertaminacareer, tapi jika kita cek ke Instagramnya tersebut pihak Pertamina belum mengumumkan adanya open rekrutmen di tahun 2024 ini.
Sehingga dapat dipastikan bahwa lowongan tersebut tidak benar karena pihak Pertamina sendiri menegaskan jika segala bentuk informasi rekrutmen hanya dapat diakses melalui website resmi mereka.
Sebelumnya turnbackhoax.id juga pernah menemui temuan serupa di Tiktok yang mengatakan jika Pertamina membuka lowongan pekerjaan di bulan Januari 2024 lalu.
Namun rupanya unggahan tersebut berisi informasi yang tidak benar, karena melalui laman Facebook resmi milik Pertamina sendiri mereka menjelaskan jika bahwa semua informasi mengenai rekrutmen pegawai Pertamina hanya dapat diakses melalui website recruitment.pertamina.com.
Selain itu informasi lowongan juga dapat dilihat di akun instagram @pertaminacareer, tapi jika kita cek ke Instagramnya tersebut pihak Pertamina belum mengumumkan adanya open rekrutmen di tahun 2024 ini.
Sehingga dapat dipastikan bahwa lowongan tersebut tidak benar karena pihak Pertamina sendiri menegaskan jika segala bentuk informasi rekrutmen hanya dapat diakses melalui website resmi mereka.
Sebelumnya turnbackhoax.id juga pernah menemui temuan serupa di Tiktok yang mengatakan jika Pertamina membuka lowongan pekerjaan di bulan Januari 2024 lalu.
Kesimpulan
Tidak benar bahwa Pertamina mengumumkan pendaftaran lowongan pekerjaan pada bulan Juli 2024 ini pada platform sosial media Tiktok, akun yang mengatasnamakan Pertamina tersebut dapat diindikasi sebagai akun penipuan.
Rujukan
Halaman: 3240/7951






