• (GFD-2024-21481) [PENIPUAN] Pengobatan Ida Dayak di Gedung Wanita Semarang pada 2 sampai 6 Agustus 2024

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 30/07/2024

    Berita

    “Ida Dayak akan Hadir di Semarang. Jangan lewatkan pengobatan Ida Dayak, Kesempatan ini terbuka untuk umum. Mulai dari:
    2 Sampai 6 Agustus 2024
    09.00 S/d 17.00
    Gedung Women’s Club House
    Semarang”

    “Ibu Ida Dayak akan hadir di Semarang.
    Jangan lewatkan pengobatan Ida Dayak. Semoga ikhtiar anda mendapatkan kesembuhan oleh Allah SWT.

    Untuk pendaftaran silahkan langsung hubungi:

    Whatsapp:
    0882-4243-1792
    Admin Ida Dayak”.

    Hasil Cek Fakta

    Akun Facebook Ida Dayak Official mengumumkan adanya Ibu Ida Dayak yang akan datang di Gedung Wanita Semarang pada tanggal 2 sampai 6 Agustus. Unggahan yang ditulis pada 6 Juli tersebut telah disukai 676 kali dan dibagikan ulang 90 kali. Pada kolom komentar juga terdapat 179 komentar dari orang-orang yang tertarik maupun bertanya detil lebih lanjut mengenai acara ini.

    Setelah dilakukan penelusuran, informasi tersebut palsu. Melansir dari situs resmi Kominfo, Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kota Semarang telah memberikan klarifikasi langsung ke Kominfo melalui surat bahwa informasi acara Ida Dayak di Semarang tersebut adalah palsu. Terlebih lagi, Gedung Wanita di Kota Semarang juga mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah menerima permintaan penyewaan gedung untuk acara tersebut pada tanggal tersebut.

    Dengan demikian, informasi yang disebarkan oleh akun Facebook Ida Dayak Official merupakan konten palsu.

    Kesimpulan

    Konten palsu. Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Semarang serta Gedung Wanita Semarang telah mengonfirmasi bahwa tidak ada acara Ida Dayak yang akan dilaksanakan pada 2-6 Agustus di Semarang.

    Rujukan

  • (GFD-2024-21482) [SALAH] Polisi Jerman Sarankan Fans Inggris Menghisap Ganja pada Euro 2024

    Sumber: Twitter
    Tanggal publish: 30/07/2024

    Berita

    “Polisi Jerman sarankan Fans Inggris hisap ganja. Waduh. #EURO2024 #England #Hooligans #Serbia #Euro #Germany #Hooligan #Fans #oBOLAzo”.

    Hasil Cek Fakta

    Akun Twitter @obolazo menulis cuitan yang menyatakan bahwa polisi Jerman menyarankan fans Inggris untuk menghisap ganja pada pertandingan Euro 2024. Cuitan tersebut ditulis pada 16 Juni 2024 dan telah dilihat hampir 700 kali.

    Setelah dilakukan penelusuran, informasi tersebut menyesatkan. Euro News membahas informasi ini di artikelnya yang berjudul “Did German police tell Euro 2024 fans to smoke weed rather than drink alcohol?”. Melansir dari artikel tersebut, kepolisian Gelsenkirchen, Jerman, menyatakan bahwa kepolisian Jerman tidak pernah secara eksplisit menyarankan partisipan dalam Euro 2024 untuk menghisap ganja. Sebaliknya, kepolisian Jerman menyatakan bahwa mereka akan memastikan keamanan semua fans sepak bola yang hadir dan akan menangkap siapa saja yang bersikap agresif, terlepas dari apa saja yang dikonsumsi.

    Selain itu, informasi serupa juga telah dibahas oleh kanal media olahraga Spanyol, Marca, di artikelnya yang berjudul “German Police debunk claims that fans can smoke cannabis inside Euro 2024 venues”.

    Dengan demikian, informasi yang disebarkan oleh @obolazo merupakan konten yang menyesatkan.

    Kesimpulan

    Konten yang menyesatkan. Kepolisian Jerman sendiri telah memberikan konfirmasi bahwa tidak pernah ada himbauan tersebut yang datang dari pihaknya.

    Rujukan

  • (GFD-2024-21485) [HOAKS] Alergi Kacang Disebabkan Kandungan Minyak Kacang dalam Vaksin Anak

    Sumber:
    Tanggal publish: 30/07/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar narasi yang mengeklaim alergi kacang disebabkan oleh kandungan minyak kacang dalam vaksin yang disuntikkan ke anak-anak.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut hoaks.

    Narasi alergi kacang disebabkan kandungan minyak kacang dalam vaksin dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini, pada Juli 2024.

    Berikut narasi yang dibagikan:

    Peanut allergies are a result of peanut oil placed in childhood vaccines. (Alergi kacang dipicu oleh kandungan minyak kacang dalam vaksin yang disuntikkan kepada anak-anak.)

    Hasil Cek Fakta

    Dilansir Mayo Clinic, alergi kacang terpicu ketika sistem kekebalan tubuh mengidentifikasi kacang yang tertelan atau terhirup sebagai sesuatu yang berbahaya bagi tubuh.

    Hal ini dapat memicu respons imun yang menghasilkan gejala seperti gatal-gatal, masalah pencernaan, dan reaksi alergi akut dan parah (anafilaksis).

    Meskipun akar penyebab alergi kacang tidak diketahui, faktor-faktor seperti usia, genetika, dan alergi lainnya dianggap sebagai penyebabnya.

    Sementara itu, pemeriksa fakta Snopes menemukan bahwa narasi vaksin untuk anak-anak mengandung minyak kacang berasal dari artikel The New York Times yang terbit pada 1964.

    Artikel itu memberitakan uji klinis perusahaan farmasi Merck terhadap vaksin flu yang mengandung ekstrak minyak kacang yang diberi nama "Adjuvant 65".

    Namun, artikel tersebut sama sekali tidak menyebutkan bahwa vaksin yang beredar pada 1960-an umumnya mengandung minyak kacang.

    Sebaliknya, artikel itu memberitakan, vaksin yang diuji oleh Merck tidak disetujui untuk digunakan secara umum di Amerika Serikat.

    Adapun pemeriksa fakta Health Feedback menemukan sebuah publikasi di jurnal akademik "Vaccine" pada 2005, yang menjelaskan bahwa perusahaan farmasi hanya menggunakan minyak kacang sebagai bahan pembantu dalam uji klinis awal vaksin selama tahun 1960-an.

    Bahan pembantu atau adjuvan adalah bahan yang digunakan dalam beberapa vaksin untuk menciptakan respons imun yang lebih kuat.

    Saat ini, satu-satunya bahan berbasis minyak yang digunakan sebagai adjuvan vaksin adalah squalene (minyak hati ikan hiu).

    Kesimpulan

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi mengeklaim alergi kacang disebabkan kandungan minyak kacang dalam vaksin untuk anak-anak adalah hoaks.

    Akar penyebab alergi kacang masih belum diketahui, tetapi faktor-faktor seperti usia, genetika, dan alergi lainnya dianggap sebagai penyebabnya.

    Sementara itu, perusahaan farmasi hanya menggunakan minyak kacang sebagai bahan pembantu dalam uji klinis awal vaksin selama tahun 1960-an.

    Saat ini, satu-satunya bahan berbasis minyak yang digunakan sebagai adjuvan vaksin adalah squalene (minyak hati ikan hiu).

    Rujukan

  • (GFD-2024-21486) [HOAKS] KLB Polio di Indonesia akibat Vaksin Polio Tipe 2

    Sumber:
    Tanggal publish: 30/07/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar video yang mengeklaim Kejadian Luar Biasa (KLB) polio di Indonesia terjadi akibat pemberian vaksin polio tipe 2.

    Dalam video berdurasi 1 menit, seorang pria menjelaskan, sudah lama tidak ada wabah polio di Indonesia.

    Ia menyimpulkan, KLB yang belakangan terjadi akibat pemberian vaksin oral polio tipe 2.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi itu tidak benar atau hoaks.

    Informasi yang mengeklaim KLB polio di Indonesia disebabkan oleh pemberian vaksin polio tipe 2 disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, ini, ini, ini, dan ini.

    Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada Rabu (24/7/2024):

    BismillahirrahmanirrahimWalaupun keadaan sedang rapuh tetapi tetap harus berswaraVaksin polio type 2 justru berpotensi menimbulkan KLB Polio

    Laporan WHO bahwa KLB ( Kejadian Luar Biasa ) polio di Indonesia berasal dari vaksin polio tipe 2

    Semua kembali ke pilihan orang tua, sebab mandatory akan terus di lakukan selama orang tua nya tidak berbenah diri dan tidak mencari ilmunya

    Hasil Cek Fakta

    Indonesia pernah mendapat sertifikat bebas polio dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada 2014.

    Status bebas polio tersebut membuat Indonesia terlena dan tidak mengantisipasi adanya kasus polio liar. Kini, WHO mengkategorikan Indonesia sebagai wilayah berisiko tinggi penularan polio.

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, ada 32 provinsi dan 399 kabupaten/kota di Indonesia masuk dalam kategori risiko tinggi polio.

    Berdasarkan catatan sepanjang 2022 sampai 2024, ada 11 kasus kelumpuhan akibat virus polio tipe 2 dan satu kasus akibat virus polio tipe 1.

    Terdapat tiga tipe virus polio yang mampu menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan.

    Umumnya, negara-negara yang mengalami outbreak didominasi dengan virus polio tipe 2 yang muncul dari dua sumber.

    Pertama, virus polio liar atau Wild Poliovirus (WPV). Sumber virus ini sangat jarang, tetapi dapat ditemukan di daerah yang memiliki cakupan vaksinasi yang tidak memadai.

    Kedua, Vaccine Derived Poliovirus (VDPV). Ini merupakan bentuk virus yang bermutasi dari strain virus yang dilemahkan dari vaksin polio oral.

    Pada 17 Maret 2023, ditemukan kasus virus polio tipe 2 yang diturunkan dari vaksin (cVDPV2) yang beredar pada bayi perempuan berusia 48 bulan di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

    WHO mencatat, pasien tersebut belum pernah menerima dosis vaksin virus polio oral (OPV) atau vaksin virus polio yang tidak aktif (IPV) sebelumnya.

    Spesimen tinja dikumpulkan dan terkonfirmasi sebagai cVDPV2. Hasil sekuensing genetik menunjukkan isolat tersebut telah mengalami 30 hingga 31 perubahan nukleotida dari strain vaksin.

    Virus polio yang diturunkan dari vaksin merupakan strain virus polio yang terdokumentasi dengan baik dan bermutasi dari strain aslinya yang terkandung dalam OPV.

    OPV mengandung virus polio hidup yang dilemahkan dan bereplikasi di usus untuk jangka waktu terbatas, sehingga mengembangkan kekebalan dengan membangun antibodi.

    Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, ketika bereplikasi di saluran pencernaan, strain OPV berubah secara genetik dan dapat menyebar di komunitas yang cakupan vaksinasinya rendah.

    Terutama di daerah yang kebersihan dan saitasinya buruk, serta padat penduduk.

    Semakin rendah cakupan vaksinasi, semakin lama virus ini bertahan dan semakin banyak pula perubahan genetik yang dialaminya.

    Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, virus yang diturunkan dari vaksin secara genetik dapat berubah menjadi bentuk yang dapat menyebabkan kelumpuhan seperti halnya virus polio liar, inilah yang dikenal sebagai virus polio yang diturunkan dari vaksin atau VDPV.

    Epidemiolog dan peneliti keamanan kesehatan Griffith University, Dicky Budiman menjelaskan, secara teoritis, VDPV memang dapat memunculkan KLB. Namun, penyebabnya bukan karena pemberian vaksinasi.

    "Dalam kondisi yang sangat jarang, virus ini bisa berubah jadi bentuk yang lebih virulen, lebih menural, menginfeksi dan menyebabkan penyakit pada individu yang belum terimunisasi atau komunitas dengan cakupan imunisasi yang rendah," kata Dikcy saat dihubungi Kompas.com, Senin (29/7/2024).

    Ia menekankan, masalah utama munculnya KLB adalah cakupan vaksinasi yang rendah.

    "Kejadian ini amat sangat jarang terjadi. Umumnya, sekali lagi, hanya pada daerah yang benar-benar rendah atau bahkan belum memiliki cakupan vaksinasi yang memadai," ujar Dicky.

    Sehingga, langkah yang tepat dilakukan adalah memastikan vaksinasi polio dilakukan secara meluas agar tercapai herd immunity.

    Ditambah dengan surveilans, tindakan cepat, dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai manfaat vaksinasi.

    Dicky menyarankan, Indonesia perlu mengganti oral polio vaksin dengan IVP atau inactivated polio vaccine yang tidak mengandung virus hidup.

    "Kalaupun benar terjadi outbreak dengan polio tipe 2, ini di Indonesia atau negara mana pun sangat jarang. Dan ini juga sebetulnya menunjukkan pentingnya mempercepat eliminasi polio melalui vaksinasi dan surveilans yang kuat," kata dia.

    Pemerintah melalui Kemenkes telah menggencarkan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio tahap kedua kepada anak usia 0-7 tahun, dengan memberikan vaksin tetes dan suntik.

    "Pelaksanaan PIN polio akan dilakukan secara massal dan serentak untuk mencapai kekebalan kelompok yang optimal dan dapat mencegah perluasan transmisi virus polio," kata Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Yudi Pramono, dikutip dari situs Kemenkes.

    Vaksin polio tetes diberikan sebanyak tiga kali kepada anak usia 1 bulan, 2 bulan dan 3 bulan, yang dikenal dengan OPV 1, OPV 2 dan OPV 3.

    Sedangkan pada anak usia 4 bulan, pemberian vaksin digabung, yakni tetes dan suntik yang disebut dengan IPV.

    Kemudian, pada anak usia 9 bulan akan kembali diberikan vaksin IPV 2.

    Pemberian imunisasi lengkap kombinasi ini telah mendapatkan rekomendasi dari Komite Imunisasi Nasional (KIN), Komite Ahli Surveilans PD3I, WHO, dan UNICEF.

    Melalui akun Instagramnya, Kemenkes menjelaskan, vaksin polio tipe 2 atau nOPV2 tidak menyebabkan KLB.

    Vaksin ini telah dikaji oleh Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS) dan telah diberikan di 13 negara di dunia.

    Kesimpulan

    Narasi yang mengeklaim KLB polio di Indonesia disebabkan oleh pemberian vaksin polio tipe 2 adalah hoaks.

    Masalah utama munculnya KLB akibat virus polio yang diturunkan dari vaksin atau VDPV, adalah cakupan imunisasi yang rendah. Penyebab lain, ditambah masalah kebersihan, perairan dan sanitasi buruk, serta kepadatan penduduk.

    Kemenkes menerapkan imunisasi kombinasi, oral dan suntik sesuai rekomendasi KIN, Komite Ahli Surveilans PD3I, WHO, dan UNICEF.

    Rujukan