• (GFD-2024-24800) Cek Fakta: Upeti Kereta Cepat dari RI untuk Topang Ekonomi Tiongkok

    Sumber:
    Tanggal publish: 28/12/2024

    Berita

    Suara.com - Beredar di media sosial sebuah video dengan narasi tentang ekonomi Tiongkok yang ditopang oleh tambang RI, impor produk serta proyek kereta cepat.

    Akun X “TrioKwekKwek555” pada Kamis (12/12/2024) mengunggah video tersebut dengan narasi sebagai berikut:

    “Ekonomi Tiongkok sudah ambrol kalau gak ditopang oleh tambang2 RI upeti Mulyono dan gerombolannya, kalau produk2nya gak diimpor oleh rezim PKI dan gerombolannya. Kereta cepat rongsokan misalnya”

    Terpantau pada Jumat (27/12/2024), konten tersebut sudah ditonton sebanyak 68 kali tayangan dan telah disukai 6 kali.

    Lantas benarkah narasi dalam unggahan tersebut?

    Hasil Cek Fakta

    Melansir TurnBackHoax, Tim Pemeriksa Fakta Mafindo menelusuri pemberitaan metrotvnews.com berjudul “Kereta Cepat Bikin Indonesia Mesti Bayar Utang Rp226,9 Miliar per Bulan” yang terdapat dalam unggahan.

    Ditemukan fakta bahwa berita itu hanya membahas pernyataan anggota Komisi XI DPR Anis Byarwati tentang adanya kewajiban pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang mencapai Rp226,9 miliar per bulan selama 30 tahun. Tidak ada narasi tentang “pembayaran upeti kereta cepat untuk menopang ekonomi Tiongkok”

    Dimasukkan juga kata kunci “Kereta cepat dan utang indonesia Rp 226,9 milyar ke Google Advanced Search. Hasilnya, ditemukan pemberitaan tribunnews.com “Stafsus Menkeu Jelaskan soal Utang Kereta Cepat ke China Dicicil Rp226 M per Bulan Selama 30 Tahun”.

    Isi Artikel yang tayang pada Jumat (6/10/2023) tersebut adalah penjelasan Staf Khusus Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo, melalui akun X resminya, “prastow”, menjelaskan pembayaran utang proyek KCJB akan ditanggung oleh PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) dan China Development Bank (CBD) melalui pendapatan dari kontrak pengangkutan dengan PT Bukit Asam.

    Sebelumnya, TurnBackHoax telah mengupas klaim serupa lewat artikel “[SALAH] Indonesia akan Berikan Upeti Sebesar 226,9 Miliar Selama 130 Tahun Kepada Cina Melalui Hasil Tambang” yang tayang Juni 2024.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa unggahan video berisi klaim “pembayaran upeti kereta cepat untuk menopang ekonomi Tiongkok” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).
  • (GFD-2024-24839) [HOAKS] PSSI Putuskan Timnas Indonesia Tidak Lagi Ikuti Piala AFF

    Sumber:
    Tanggal publish: 27/12/2024

    Berita

    KOMPAS.com - Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) diklaim telah memutuskan tim nasional Indonesia tidak lagi mengikuti Piala AFF.

    Piala AFF merupakan kejuaraan sepak bola antarnegara di kawasan Asia Tenggara. Turnamen tersebut diselenggarakan setiap dua tahun sekali.

    Namun, setelah ditelusuri narasi tersebut tidak benar atau hoaks.

    Narasi yang mengeklaim PSSI memutuskan timnas Indonesia tidak lagi mengikuti Piala AFF muncul di media sosial, salah satunya dibagikan akun Facebook ini, ini,ini, serta Threads ini.

    Akun-akun itu membagikan video yang menampilkan Ketua Umum PSSI Erick Thohir sedang melakukan konferensi pers. Video diberi keterangan:

    PSSI keluarkan Pernyataan Tegas Akhirnya Timnas Indonesia Resmi Keluar: Dari U19 U20 Dan Senior Sudah Tidak Akan Lagi Ikut Piala Aff

    Rapat PUTUSAN TERAKHIR PSSI, KELUAR DARI AFF

    Kabar yang di tunggu-tunggu tentang kelanjutan timnas Indonesia untuk keluar dari aff.

    PSSI mengeluarkan pernyataan dengan tegas mulai tahun 2025 timnas Indonesia resmi keluar dari aff mulai dari U-19, U-20 dan senior sudah tidak akan mengikuti piala aff, dikarenakan aff penuh dengan kecurangan dan kontroversi.

    Akun Facebook Tangkapan layar Facebook narasi yang menyebut PSSI memutuskan timnas Indonesia tidak akan lagi mengikuti Piala AFF

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, video yang menampilkan Erick Thohir identik dengan unggahan di kanal YouTube Liputan 6 pada 29 April 2023.

    Dalam video itu Erick  menyampaikan bahwa Joko Widodo yang saat itu menjabat presiden, mendukungnya membentuk Satgas Anti Mafia Bola.

    Hal itu dilakukan untuk memberantas praktik mafia sepak bola di Indonesia, terutama terkait pengaturan skor dan pertandingan.

    Setelah tersingkir dari Piala AFF 2024, tidak ada informasi valid Erick Thohir mengumumkan timnas Indonesia keluar dari ajang dua tahunan itu.

    Sebagaimana sudah diberitakan Kompas.com, Erick justru mengatakan bahwa Piala AFF 2024 merupakan pengalaman yang bagus bagi pemain muda.

    Sebab, di Piala AFF 2024 Indonesia tidak menurunkan tim senior dan lebih memilih memainkan para pemain mudanya. 

    Menurut Erick, hal bisa menjadi modal positif bagi Indonesia untuk menyongsong SEA Games dan Kualifikasi AFC U-23 pada 2025. 

    "Makanya saya lagi mengecek jadwal. Jadi, pengalaman hari ini saya rasa bagus buat pemain muda, bisa coba kasih yang terbaik. Karena memang kita mesti coba regenerasi," kata Erick. 

    Pasukan Shin Tae-yong gagal memenuhi target lolos ke semifinal Piala AFF 2024 setelah tumbang 0-1 dari Filipina pada 21 Desember 2024. Indonesia hanya mampu bertengger di posisi ketiga klasemen Grup B dengan poin 4. 

    Kesimpulan

    Narasi yang mengeklaim PSSI memutuskan timnas Indonesia tidak akan lagi mengikuti Piala AFF adalah hoaks.

    Video yang beredar merupakan momen ketika Erick Thohir menyampaikan pembentukan Satgas Anti Mafia Bola pada 2023. Saat itu tidak ada pernyataan apa pun soal Piala AFF.

    Setelah Indonesia tersingkir dari Piala AFF 2024, Erick justru menyebut bahwa turnamen itu merupakan pengalaman berharga bagi pemain muda Indonesia. Mengingat, di Piala AFF 2024 Indonesia tidak menurunkan tim senior. 

    Rujukan

  • (GFD-2024-24774) Cek Fakta: Hoaks Mahfud Md Diangkat Prabowo Jadi Jaksa Agung

    Sumber:
    Tanggal publish: 27/12/2024

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Kabar tentang Mahfud Md diangkat Presiden Prabowo Subianto menjadi Jaksa Agung beredar di media sosial. Kabar tersebut disebarkan salah satu akun TikTok pada 26 Desember 2024.
    Akun TikTok tersebut mengunggah foto Mahfud Md yang mengenakan seragam kejaksaan, seakan-akan sedang dilantik sebagai jaksa agung. Dalam foto tersebut juga terdapat narasi sebagai berikut.
    "PRABOWO LANTIK JAKSA AGUNG! ATURAN MEMISKINKAN & HUKUMAN MATI KORUPTOR LANGSUNG DI-SAHKAN!
    Mahfud MD Diangkat Prabowo Jadi Jaksa Agung!" demikian narasi dalam foto tersebut.
    "mahfud md diangkat prabowo jadi jaksa agung," tulis salah satu akun TikTok.
    Konten yang disebarkan akun TikTok tersebut telah 6.934 kali direspons dan mendapat 283 komentar dari warganet.
    Benarkah kabar tentang Mahfud Md diangkat Prabowo menjadi Jaksa Agung? Berikut penelusurannya.
     
    Ikuti Kuis Cek Fakta Liputan6.com di Aplikasi Youniverse dan menangkan saldo e-money jutaan rupiah.
    Caranya mudah:
    * Gabung ke Room Cek Fakta di aplikasi Youniverse
    * Scroll tab ke samping, klik tab “Campaign”
    * Klik Campaign “Kuis Cek Fakta”
    * Klik “Check It Out” untuk mengikuti kuisnya
     

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kabar tentang Mahfud Md diangkat Prabowo menjadi Jaksa Agung. Penelusuran dilakukan memasukkan kata kunci "mahfud md diangkat jadi jaksa agung" di kolom pencarian Google Search.
    Hasilnya tidak ada informasi valid yang mendukung klaim tersebut. Penelusuran kemudian dilakukan dengan mengunjungi akun Instagram resmi yang dikelola Mahfud Md, @mohmahfudmd.
    Dalam salah satu postingannya, Mahfud menyebut bahwa kabar tentang dirinya diangkat Prabowo menjadi Jaksa Agung tidak benar. Bahkan, ia memberikan stampel hoaks pada foto dirinya yang mengenakan seragam kejaksaan.
    Berikut gambar tangkapan layarnya.
    "Dengan segala hormat, saya sampaikan bahwa berita di bawah ini hoax. Berita bahwa saya dilantik atau akan menjadi jaksa agung itu tdk berdasar sumber yang akurat. Gambarnya editan, narasinya hanya fiksi. Jangan bertanya kepada saya lagi, tanya kepada yang memproduksi saja. Saya benar2 tidak tahu soal ini???," tulis akun Instagram @mohmahfudmd pada 26 Desember 2024.
     

    Kesimpulan


    Kabar tentang Mahfud Md diangkat Prabowo menjadi Jaksa Agung ternyata tidak benar alias hoaks. Faktanya, tidak ada informasi valid yang mendukung klaim tersebut. Mahfud Md bahkan menyebut bahwa kabar tersebut adalah hoaks.

    Rujukan

  • (GFD-2024-24777) Konteks Lengkap Laporan Serangan Ransomware pada BRI

    Sumber:
    Tanggal publish: 27/12/2024

    Berita

    tirto.id - Pada Rabu (18/12/2024), beredar informasi yang menyebutkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi target serangan kelompok hacker ransomware Bashe. Narasi ini juga kemudian beredar di media sosial.

    Tirto menemukan unggahan akun TikTok “merdekasiber” terkait hal ini.

    “Bank Rakyat Indonesia, salah satu bank terbesar di Indonesia, dilaporkan menjadi korban serangan grup Bashe Ransomware. Insiden ini dilaporkan terjadi pada tanggal 18 Desember 2024 jam 7:00 dari laporan FalconFeeds.io melalui platform X.com. Serangan ini menimbulkan kekhawatiran akan keamanan data pelanggan dan integritas sistem informasi bank,” begitu bunyi narasinya.

    Akun @FalconFeedsio pada hari yang sama menunjukkan sebuah tangkapan layar yang menyebut BRI menjadi korban dari Bashe. Meski kemudian mereka membuat klarifikasi yang menyebut kalau mereka tidak bisa mengkonfirmasi klaim serangan terhadap BRI ini.

    "Namun, kelompok ransomware tersebut telah menyatakan bahwa mereka berencana untuk merilis data tersebut dalam empat hari sekaligus menawarkannya untuk dijual. Mereka juga telah menerbitkan sampel data untuk mendukung klaim mereka," cuit akun tersebut di platform X, Rabu (18/12/2024).

    Sampai dengan Jumat (20/12/2024), informasi yang beredar di media sosial tersebut mengumpulkan atensi ratusan ribu bahkan jutaan audiens di masing-masing platform.

    Lalu bagaimana faktanya? Apakah benar ada kebocoran data BRI?

    Hasil Cek Fakta

    Terkait polemik yang terjadi, BRI, lewat akun resminya di Instagram mengeluarkan pernyataan yang menyebut kalau tidak ada serangan ransomware terhadap sistem perbankan mereka, pada Kamis (19/12/2024).

    "BRI telah melakukan asesmen mendalam dan tidak menemukan adanya ancaman ransomware terhadap sistem kami. Asesmen lebih lanjut juga menunjukkan bahwa data yang dipublikasikan bukanlah dara keluaran dari sistem BRI," begitu keterangan resmi tertanda dari Direktur Digital dan IT BRI, Arga M. Nugraha.

    Lewat pernyataan tersebut, BRI menegaskan kalau seluruh layanan dan sistem perbankan BRI berjalan dengan normal tanpa gangguan. Bank ini juga memastikan keamanan data nasabah tetap terjaga.

    “BRI menyampaikan terima kasih atas kepercayaan dan kesetiaan nasabah untuk tetap bertransaksi melalui berbagai layanan perbankan kami,” begitu tutup pesan resmi BRI tersebut.

    Sebelumnya, pada Rabu (18/12/2024), Arga menyebut kalau data dan dana nasabah aman. Dia menegaskan kalau seluruh sistem keamanan perbankan BRI berjalan normal dan seluruh layanan transaksi dapat beroperasi dengan lancar.

    “BRI menegaskan bahwa sistem keamanan teknologi informasi yang dimiliki BRI telah memenuhi standar internasional dan terus diperbarui secara berkala untuk menghadapi berbagai potensi ancaman. Langkah-langkah proaktif dilakukan untuk memastikan bahwa informasi nasabah tetap terlindungi,” ujar Arga.

    Tirto juga mencoba mencari konfirmasi dari pihak Falcons Feeds. Platform penyedia jasa keamanan siber ini menjelaskan dalam kasus seperti ini sulit untuk langsung mempercayai pernyataan kedua pihak. Penilaian terhadap data lengkap perlu dilakukan untuk benar-benar yakin terhadap sangkalan dari pihak manapun.

    Sampai dengan Senin (23/12/2024), kelompok hacker ransomware Bashe juga terpantau belum mengeluarkan data yang mereka sebut akan rilis.

    Terkait polemik peretasan akun BRI tersebut, Lembaga Riset Keamanan Siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) sempat mengatakan kalau serangan ini kemungkinan tidak benar.

    “Karena pada malam kemarin (Rabu, 18/12/2024), serta pagi ini (Kamis, 19/12/2024), layanan perbankan BRI serta mobile banking BRI juga tidak mengalami kendala operasional, tidak seperti pada saat Bank Syariah Indonesia yang mengalami serangan ransomware yang mengakibatkan kegagalan operasional perbankan dan aplikasi mobile banking mereka selama beberapa hari,” begitu sebut Chairman CISSReC, Pratama Persadha, dari keterangan yang Tirto terima, Kamis (19/12/2024).

    Hasil investigasi Tim CISSReC juga menyebut kalau sampel data yang dibagikan Bashe Ransomware identik dengan salah satu unggahan Scribd (arsip) yang diunggah oleh salah satu akun bernama "Sonni GrabBike" pada tanggal 17 September 2020.

    Pada investigasi yang lebih lanjut secara random pada beberapa sample data, CISSReC juga menemukan bahwa nomor kartu yang tertera pada sample data yang didapatkan dari Scribd adalah valid serta nomor kartu tersebut masih aktif karena masih bisa dilakukan transfer ke nomor kartu tersebut.

    “Melihat beberapa fakta ini, untuk saat ini serangan siber berupa ransomware tersebut kemungkinan besar adalah informasi yang kurang benar, pun jika memang terkena serangan ransomware, BRI memiliki sistem backup dan prosedur recovery yang bagus karena bisa dengan waktu singkat mengembalikan layanan perbankan,” begitu terang Pratama.

    CISSReC juga melihat bahwa informasi serangan ransomware ini hanya upaya coba-coba untuk memeras BRI, bahwa seolah-olah mereka terkena serangan ransomware. Sebab jika memang kelompok hacker Bashe memiliki data asli dari BRI hasil serangan malware mereka, tentu saja seharusnya mereka mengunggah data tersebut, bukannya mengunggah data yang sudah pernah diunggah di Scribd sebelumnya.

    Identifikasi CISSReC juga menyebut kalau aktivitas kelompok hacker Bashe di dark web cenderung mencurigakan. Sebab meski sudah mengaku aktif sejak 3 September 2019, mereka baru aktif melakukan peretasan pada 5 April 2024.

    Di halaman darkweb-nya, Bashe membagikan 63 data yang mereka klaim didapat dari peretasan dan ransomware. BRI menjadi salah satu data yang mereka masih menunggu penebusannya sampai 23 Desember 2024, pukul 16.00 WIB.

    “Saat ini kita hanya dapat menunggu sampai batas waktu yang diberikan habis dan pihak Bashe melakukan publikasi dari data yang berhasil mereka dapatkan untuk bisa mengonfirmasi kembali apakah data yang mereka unggah adalah data lama seperti yang diunggah sebelumnya di Scribd atau memang data baru,” begitu keterangan dari Pratama, Kamis (19/12/2024).

    Lebih lanjut CISSReC menyoroti persebaran data pribadi di salah satu akun Scribd. "Karena file yang berisi 99 data pribadi yang berisi nama, tanggal lahir, nomor HP, no kartu, Bank yang menyetujui, nama ibu kandung serta alamat lengkap termasuk nama perusahaan tidak seharusnya bocor dan diunggah ke sebuah situs berbagi dokumen seperti Scribd,” begitu catatan mereka.

    Mereka menyarankan pihak BRI untuk berkoordinasi dengan BSSN dan Komdigi untuk melakukan investigasi tentang data yang dibocorkan di situs Scribd tersebut.

    Senada, konsultan keamanan siber yang juga founder Ethical Hacker Indonesia, Teguh Aprianto, pun menyatakan kalau data ransomware yang dipublikasi nyatanya merupakan data yang pernah ditemukan di internet.

    "Setelah tenggat waktunya udah habis, akhirnya datanya dirilis oleh pelaku. Isi datanya cuma 1 file excel yang isinya cuma 100 row data yang match dengan salah satu dokumen di Scribd dan pdfcoffee. Mari tepuk tangan untuk Bashe, group ransomware terkocak sepanjang masa," ujar Teguh lewat akun X resminya, @secgron pada Rabu (25/12/2024).

    Kesimpulan

    Hasil pemeriksaan fakta menunjukkan kalau narasi kebocoran data BRI yang beredar di media sosial bersifat bersifat missing context (menyesatkan tanpa tambahan konteks tertentu).

    Pihak BRI menegaskan kalau asesmen mendalam yang mereka lakukan tidak menemukan adanya ancaman ransomware pada Desember 2024. Bank ini juga menyebut kalau data yang dipublikasikan bukan dari sistem BRI dan seluruh layanan dan sistem perbankan BRI berjalan dengan normal tanpa gangguan.

    Penelusuran lebih lanjut mengindikasikan bahwa data yang dijadikan sampel oleh Bashe identik dengan salah satu unggahan akun Scribd pada tahun 2020 lalu.

    Rujukan