• (GFD-2024-24109) Hoaks Kaitan Vaksin Covid-19 dengan Persebaran Mpox

    Sumber:
    Tanggal publish: 21/11/2024

    Berita

    tirto.id - Wabah virus Mpox yang sempat kembali merebak pada Agustus 2024 lalu. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) telah menetapkan keadaan darurat terkait wabah Mpox pada pekan kedua Agustus 2024.

    WHO mengambil langkah tersebut setelah terjadi peningkatan kasus dan kematian akibat Mpox di negara-negara Afrika. Peningkatan dan kematian itu disebabkan oleh virus Mpox klad 1b. WHO melaporkan peningkatan kasus akibat klad 1b terjadi di Kongo dan negara Afrika lainnya. Hingga awal Agustus 2024, kasus Mpox sudah tercatat lebih dari 15.600 kasus dan 537 kasus kematian.

    Di media sosial, banyak beredar narasi dan teori soal penyebaran virus Mpox. Banyak yang mengaitkan keberadaan virus ini dengan vaksinasi Covid-19. Salah satu yang Tirto temukan adalah unggahan dari akun “Tahir Ali” (arsip). Dia menyebut kalau berdasar ahli virologi, Mpox adalah efek samping dari vaksin Covid-19.

    Unggahan tersebut juga mengutip Dr. Wolfgang Wodarg yang mengatakan kalau Mpox adalah penipuan, wabah yang ada adalah akibat dari hancurnya sistem kekebalan tubuh akibat vaksin Covid-19.

    “Kasus-kasus cacar monyet saat ini dilaporkan di negara-negara dengan tingkat vaksinasi tinggi di seluruh dunia, sementara negara-negara dengan tingkat vaksinasi yang lebih rendah tidak melaporkan adanya kasus apapun,” begitu pesan penutup dari akun tersebut.

    Unggahan tersebut memang tidak viral, namun berpotensi menyebabkan kegaduhan terkait kesehatan publik. Lebih jauh, Tirto juga menemukan narasi serupa dari unggahan akun "Syifaiz CRAFT" (arsip) dan "Dwi Chan" (arsip) juga di Facebook pada September 2024. Ada juga unggahan dari akun "Vessel" (arsip) dan "Spike Detox" (arsip) yang juga mengutip pernyataan Wolfgang Wodarg yang menyebut Mpox sebagai efek samping dari vaksin Covid-19.

    Keberadaan unggahan-unggahan tersebut menunjukkan kalau narasi tersebut masih terus ada dan berkembang sampai dengan November 2024.

    Lalu, bagaimana faktanya? Apakah benar ada kaitan antara vaksin Covid-19 dan wabah Mpox? Benarkah Mpox tersebar di negara-negara dengan tingkat vaksinasi Covid-19 tinggi?

    Hasil Cek Fakta

    Sebagai pengantar bahasan mengenai Mpox, penyakit yang disebabkan oleh virus Mpox (MPXV), spesies dari genus Orthopoxvirus. Pada asalnya, penyakit ini adalah penyakit zoonosis, yang berarti ditularkan dari hewan ke manusia. Meski begitu, penyakit ini juga dapat menyebar dari manusia ke manusia.

    Sebelumnya Mpox disebut sebagai monkeypox alias cacar monyet. Belakangan, nama itu dihapus WHO karena menimbulkan stigma tertentu, sehingga resmi diganti menjadi Mpox pada tahun 2022 lalu.

    Gejala Mpox umumnya berupa demam, sakit kepala hebat, nyeri otot, sakit punggung, lemas, pembengkakan kelenjar getah bening (di leher, ketiak atau selangkangan) dan ruam atau lesi kulit.

    Soal kaitan antara Mpox dengan penyakit ataupun vaksin Covid-19, Tirto mencoba menelusuri faktanya.

    Kementerian Kesehatan Indonesia (Kemenkes) dalam keterangan resminya pernah membuat bantahan soal kaitan Covid-19 dan Mpox. Kemenkes juga menyebut bahwa narasi, soal Mpox yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang melemah akibat vaksin Covid-19, tidak tepat.

    Juru Bicara Kemenkes, dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH menjelaskan, Mpox dan Covid-19 adalah penyakit yang berbeda. Mpox telah muncul jauh sebelum kemunculan SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 dan vaksin Covid-19.

    “Mpox dan Covid-19 ini dua penyakit yang berbeda. Sebelum Covid-19 ada, Mpox sudah ada,” jelas Syahril di Jakarta, akhir Agustus 2024 lalu.

    Syahril juga menerangkan, berdasar informasi WHO, kasus Mpox di manusia pertama kali dilaporkan terjadi di Republik Kongo pada tahun 1970. Menilik sejarah kemunculan Mpox yang jauh sebelum pandemi Covid-19, Syahril menegaskan bahwa penyakit tersebut tidak ada kaitannya dengan efek samping vaksin Covid-19.

    Menilik sejarah kemunculan Mpox yang jauh sebelum pandemi Covid-19, Syahril menegaskan bahwa penyakit tersebut tidak ada kaitannya dengan efek samping vaksin Covid-19. “Jadi, penyakit Mpox ini tidak dapat dikatakan karena efek samping dari vaksin Covid-19. Itu tidak ada hubungannya,” tegasnya.

    Lembaga penyiaran internasional asal Jerman, Deutsche Welle (DW), juga sempat menyoroti mengenai kaitan antara vaksin Mpox dan vaksin Covid-19, yang mengutip Dr. Wolfgang Wodarg.

    DW menjelaskan Wodarg adalah seorang dokter dan bekas anggota Partai Sosial Demokrat (SPD) Bundestag Jerman. Dia kemudian menjadi calon kuat kandidat dari partai dieBasis, partai kecil yang dibentuk untuk menolak lockdown terkait Covid-19 di Jerman.

    Video wawancaranya, yang kemudian dikutip isinya, ataupun diunggah ulang berasa dari unggahan pada tahun 2022. Kala itu Wodarg diwawancara televisi kontroversial Austria, AUF1.

    DW menemukan terdapat sejumlah negara yang "mengadopsi" dan menyebarkan ulang wawancara Wodarg tersebut, kebanyakan unggahan dalam bahasa Portugis dan Spanyol.

    Lebih lanjut, Ahli Mikrobiologi dan Imunologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health di Amerika Serikat, Kari Moore Debbink, menyebut tidak menemukan kaitan Mpox dengan vaksin Covid-19.

    “Vaksin Covid mRNA digunakan secara global, sementara kasus Mpox biasanya ditemukan di negara-negara tertentu di Afrika, dengan beberapa kasus rendah di luar wilayah tersebut. Oleh karena itu, tidak ada hubungan geografis antara penggunaan vaksin Covid mRNA dan kasus Mpox," katanya mengutip DW.

    Profesor Penyakit Menular di Vanderbilt University Medical Center di Nashville, Amerika Serikat, William Schaffner, juga sependapat. "Ini adalah dua virus yang sangat berbeda, dan tentu saja, vaksin melawan Covid tidak ada hubungannya dengan Mpox," ujarnya kepada DW.

    Kantor Berita AFP juga sempat membuat penelusuran mengenai hal ini. AFP sempat mendapat keterangan dari Spesialis Penyakit Menular dan Ahli Mikrobiologi di Fakultas Kedokteran Li Ka Shing di Universitas Hongkong, Yuen Kwok-Yung. Senada, ia juga menyebut narasi ini tidak tepat.

    "Vaksinasi Covid-19 tidak menyebabkan atau membuat seseorang terkena Mpox, [virus ini] sering kali ditularkan melalui kontak dekat dengan pasien penderita Mpox," katanya dikutip dari AFP.

    Hal yang sama juga diungkapkan oleh Profesor Epidemiologi Penyakit Menular di London School of Hygiene and Tropical Medicine, David Heyamann. "Tidak ada bukti yang mengatakan bahwa epidemi Mpox ada hubungannya dengan vaksin," ujarnya kepada AFP.

    Sementara terkait klaim penyebaran Mpox tersebar di negara-negara dengan tingkat vaksinasi Covid-19 tinggi juga kurang tepat.

    WHO memiliki catatan persentase populasi yang mendapat vaksin Covid-19 di negara-negara di dunia, minimal satu dosis. Negara seperti Brunei Darussalam, Nauru, Niue, Palau, Puerto Rico, Tokelau, dan Uni Emirat Arab (UEA), masuk di jajaran tertinggi dengan persentase penduduk tervaksin 100 persen. Sementara negara seperti Yaman, Papua Nugini, Haiti, Madagaskar, Kongo, Gabon, dan Kamerun tercatat sebagai negara populasi vaksinasi terkecil, di bawah 15 persen.

    Sementara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) melakukan pemetaan kasus Mpox di seluruh dunia. Data tersebut antara 1 Januari 2024-15 November 2024 (ketika artikel periksa fakta ini ditulis).

    Berdasar peta tersebut, terdapat setidaknya tujuh negara dengan kasus Mpox lebih dari 500 kasus. Terbanyak ada Republik Demokratik Kongo (9.457 kasus), Amerika Serikat (3.004 kasus), Brasil (1.490 kasus), Burundi (1.874 kasus), Australia (1.188 kasus), Spanyol (594 kasus), dan Tiongkok (586 kasus).

    WHO juga sempat membuat laporan serupa pada Oktober 2024, namun datanya hanya berfokus di negara-negara Afrika. Negara Seperti Republik Demokratik Kongo, Burundi, dan Uganda tercatat sebagai negara dengan catatan kasus Mpox paling banyak.

    Terlihat bahwa tidak selalu ada irisan antara negara dengan persentase populasi dengan tingkat vaksinasi Covid-19 tinggi dengan negara dengan kasus Mpox yang lebih dari 500.

    Republik Demokratik Kongo (catatan: berbeda dengan Kongo), misalnya, sebagai negara dengan kasus Mpox terbanyak, hanya 19 persen persentase penduduknya yang mendapat vaksin Covid-19.

    Contoh lain, Iran, negara yang persentase penduduk mendapat vaksin Covid-19-nya mencapai 78 persen, temuan kasus Mpox-nya masih 0 sejauh ini. Contoh lain, negara seperti India yang punya penduduk dalam jumlah besar, 74 persen penduduknya sudah mendapat vaksin Covid-19, berdasar catatan WHO. Di negara tersebut, hanya ada enam kasus Mpox yang tercatat.

    Teori jumlah kasus Mpox sejalan dengan jumlah vaksin, ditemukan di negara seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Brasil, Spanyol, dan Australia. Namun, jika melihat negara-negara lain di dunia secara umum, tidak terlihat ada hubungan sebab-akibat langsung antara vaksin Covid-19 dan kasus Mpox.

    Kesimpulan

    Hasil pemeriksaan fakta menunjukkan narasi yang mengaitkan antara vaksin Covid-19 dan wabah Mpox bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

    Sejumlah ahli dan pemerintah sudah membantah narasi ini. Penyakit Mpox sudah jauh lebih dulu (kasus pertama pada 1970) ketimbang Covid-19. Sementara para ahli kesehatan juga telah menekankan dari berbagai sudut pandang kalau tidak ada kaitan antara Mpox dan vaksin Covid-19.

    Data juga menunjukkan, kasus Mpox juga tidak hanya terjadi di negara dengan tingkat vaksinasi Covid-19 tinggi. Di Republik Demokratik Kongo, negara dengan kasus Mpox terbanyak, persentase populasi yang telah menerima vaksin Covid-19-nya terhitung rendah.

    Rujukan

  • (GFD-2024-24110) [PENIPUAN] Lamaran Kerja di PT Freeport Indonesia

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 21/11/2024

    Berita

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) pada Kamis (31/10/2024) menemukan unggahan foto [arsip] di akun Facebook “Gustiana Biana Zakiyyah”. Isinya berupa informasi mengenai lowongan pekerjaan (loker) di PT Freeport Indonesia.

    Hasil Cek Fakta

    TurnBackHoax mencari informasi di laman resmi PT Freeport Indonesia dalam bagian “karier” (https://ptfi.co.id/id/karir). Tidak ditemukan informasi loker dengan formasi seperti yang dicantumkan akun Facebook “Gustiana Biana Zakiyyah”.

    Penelusuran berlanjut ke akun Instagram resmi perusahaan “freeportindonesia ”. Ditemukan sematan cerita berisi imbauan penipuan mencatut nama PT Freeport Indonesia. Perusahaan menegaskan kalau informasi resmi mengenai perekrutan calon karyawan hanya bisa diakses di https://ptfi.co.id/id/karir.

    Sebelumnya, TurnBackHoax sering mengulas klaim loker mencatut PT Freeport Indonesia, beberapa di antaranya:

    [PENIPUAN] Pendaftaran Kerja PT Freeport Lewat Tautan di Facebook
    [PENIPUAN] Link Lowongan Kerja PT Freeport di Facebook
    [SALAH] Lowongan Pekerjaan di PT. Freeport Indonesia
    [SALAH] Lowongan Kerja PT Freeport Indonesia

    Kesimpulan

    Unggahan berisi informasi “lowongan pekerjaan PT Freeport Indonesia” dari akun tak resmi itu merupakan konten palsu (fabricated content).

    Rujukan

  • (GFD-2024-24113) Benar, Modus Baru Pencurian Data dengan Membagikan QRIS Palsu

    Sumber:
    Tanggal publish: 21/11/2024

    Berita



    Sebuah video beredar di WhatsApp yang diklaim memperlihatkan modus baru peretas melakukan pencurian data pribadi korbannya, menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

    Video itu memperlihatkan dua pria menunjukkan cara kerja penipu yang menggunakan kode QRIS. Mula-mula kode itu bisa dipindai menggunakan ponsel, yang kemudian mengantarkan pengguna padawebsiteyang berisi formulir untuk memasukkan data pribadi berupausername,password, dan PIN, yang dimasukkan melalui formulir tersebut, langsung terkirim dan bisa ditampilkan di laptop pelaku penipuan tersebut.



    Tempo menerima permintaan pembaca untuk memeriksa kebenaran narasi tersebut. Benarkah modus penipuan saat ini dapat menggunakan kode batang (barcode) mirip QRIS?

    Hasil Cek Fakta



    Verifikasi Video



    Video yang beredar diambil dari saluran YouTube Samuel Christ, pada 14 November 2024. Dalam siniar itu, Samuel mewawancarai Mr Bert, YouTuber sekaligus penasihat keamanan digital terkait penggunaan kode batang mirip QRIS untuk penipuan.  

    Mr Bert mensimulasikan bagaimana penipu membuat QRIS yang mengantarkan pengguna ke website palsu. Website palsu itu bisa meniru desain web bank atau lembaga resmi lainnya. Website palsu tersebut menampilkan formulir agar pengguna bisa memasukkan data pribadi. Namun, setelah formulir itu diisi, justru data pribadi itu akan terkirim kepada si penipu, alih-alih dikirim ke komputer server bank atau lembaga resmi lainnya.

    Simulasi itu dilakukan agar masyarakat berhati-hati dalam memberikan data pribadi, baik secara langsung, melalui telepon, SMS, email, WhatsApp atau formulir di website. Praktik penipuan menggunakan formulir website palsu seperti itu juga dilakukan dengan modus lain, misalnya lowongan kerja, yang salah satunya telah diungkap Tempo.

    Tempo pernah mempublikasikan artikel mengenai empat cara penipuan menggunakan kode mirip QRIS. Pertama, memasang stiker QRIS palsu seperti yang pernah terjadi di 38 masjid di Jakarta. Pelaku meniban stiker QRIS kotak amal yang sudah ada. Selain itu menempel di tempat baru atau tempat yang sudah ada stiker QRIS di sebelahnya.

    Kedua, menukar rekening pada QRIS. Biasanya, pelaku menyasar pedagang yang minim pengetahuan tentang metode penggunaan QRIS. Cara kerja modus ini adalah dengan meminta korban untuk membayar apa yang mereka ingin beli ke nomor rekening yang berbeda.

    Ketiga, penipu menggunakan screenshot QRIS yang sudah pernah dilakukan lalu mereka edit. Dalam modus ini, penipu memanfaatkan ketidaktelitian penjual yang sedang fokus dengan para pembeli lainnya. Keempat, adalah quishing. Modus quishing adalah jenis penipuan phising yang menggunakan kode QR untuk menipu pengguna agar mau memberikan informasi pribadi mereka, seperti penggunaan kredensial login atau informasi keuangan.

    Dilansir laman Bank Indonesia ( BI ), QRIS adalah (dibaca KRIS) telah dikembangkan oleh industri sistem pembayaran bersama dengan BI, agar proses transaksi dengan QR Code dapat lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya. Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Fitria Irmi Triswati pernah mengatakan bahwa QR di Indonesia dan QRIS saat ini telah berstandar internasional. Dengan demikian, menurutnya masyarakat tidak perlu khawatir menggunakannya karena keamanannya tidak akan terbobol, sebagaimana dilaporkan Tempo.

    Saat ini, pencurian data pribadi (phising) menggunakan kode QR disebut sebagai sebagai “quishing”. Dengan berbagai strategi, para penipu berupaya agar korbannya mau memberikan data pribadi, seperti data penggunaan kredensial login atau informasi keuangan.

    Dalam hal ini, belum ditemukan terbobolnya keamanan sistem QRIS. Penipuan-penipuan yang terjadi, justru disebabkan cara licik penipu memperdaya korban, dan banyaknya masyarakat yang kurang paham serta kurang waspada terhadap tipu daya pelaku kejahatan.

    Menghindari penipuan lewat QRIS palsu

    Bank Central Asia ( BCA ) dalam website mereka juga membagikan tips agar aman bertransaksi menggunakan kode QR. Pertama berhati-hati dalam bertransaksi menggunakan kode QR, meliputi memeriksa url atau alamat website yang dibuka menggunakan kode QR, dan memeriksa kembali berbagai aspeknya sebelum menyetujui transaksi tersebut.

    Kedua, gunakanlah aplikasi kode QR yang aman, yakni dari sumber resmi Google Playstore dan AppStore. Ketiga, agar selalu mengupdate sistem keamanan ponsel. Keempat, pelaku usaha harus terus memantau kode QR yang dia pasang agar tidak diganti pihak lain secara diam-diam.

    Kelima, menggunakan kode QR dinamis. Kode QR ini dianggap lebih aman karena satu kode hanya bisa dipakai sekali dan secara otomatis menyimpan data transaksi yang sedang dilakukan. Hal ini dapat menyulitkan penipu yang sering memanfaatkan ketidaktelitian korbannya.

    Kesimpulan



    Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan penipu telah menggunakan QRIS untuk mencuri data pribadi sehingga QRIS berbahaya dan tidak boleh digunakan adalah klaim yangbenar.

    Faktanya, penipu menggunakan QRIS dengan memanfaatkan kelengahan manusia, yakni dengan faktor emosi, ketidaktelitian, dan kelemahan lainnya, untuk mencuri data pribadi korbannya. QRIS bisa digunakan secara aman bila transaksi dilakukan secara hati-hati.

    Rujukan

  • (GFD-2024-24114) Keliru, Foto-foto yang Disebut Letusan Gunung Lewotobi Laki-laki

    Sumber:
    Tanggal publish: 21/11/2024

    Berita



    Sejumlah foto beredar di akun Facebook ini [ arsip ] dan ini, yang diklaim letusan Gunung Lewotobi Laki-laki di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Gambar pertama memperlihatkan letusan gunung di malam hari, dengan lontaran abu vulkanik dan material lain ke angkasa, disertai nyala api dan sambaran petir. Foto kedua memperlihatkan aktivitas di jalan sebuah desa dengan latar belakang letusan gunung dengan material vulkanik dan nyala api yang membumbung tinggi. 



    Dua foto itu diikuti beberapa tanggal letusan yang antara lain terjadi padai 4 November, 6 November, ada juga yang menyebut 9 November 2024. Namun, benarkah foto-foto itu memperlihatkan letusan Gunung Lewotobi di Pulau Flores, NTT?

    Hasil Cek Fakta



    Tempo memverifikasi foto-foto itu menggunakan layanan reverse image search dari mesin pencari dan aplikasi pendeteksi gambar AI. Berikut hasil penelusurannya:

    Foto 1



    Foto yang diklaim memperlihatkan Gunung Lewotobi meletus malam hari disertai sambaran petir, sesungguhnya adalah peristiwa meletusnya Gunung Ruang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, 30 April 2024, sebagaimana dilaporkan VOAIndonesia.com.

    Dikutip dari laman ITB, ahli vulkanologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Mirzam Abdurachman, S.T., M.T erupsi Gunung Ruang saat itu, adalah bagian dari serangkaian erupsi yang terjadi bersamaan dengan beberapa gunung api lainnya di Indonesia, termasuk Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Marapi, dan Gunung Lewatolo. Hal ini menunjukkan kompleksitas aktivitas vulkanik di Indonesia.

    Foto 2



    Sementara foto kedua yang menunjukkan suasana jalan sebuah desa saat terjadi erupsi gunung di belakangnya, merupakan gambar yang dibuat menggunakan AI. Pemindaian menggunakan aplikasi deteksi AI, Hivemoderation.com, menyatakan 93,8 persen kemungkinan foto itu dibuat menggunakan AI.

    Sementara pemeriksaan menggunakan aplikasi pendeteksi AI, Truthmedia.org, menyatakan terbukti kuat, atau kemungkinannya 96 persen, bahwa gambar tersebut hasil generative AI.



    Dilansir Tempo, gambar berbasis AI telah beberapa kali ditemukan digunakan untuk menyebarkan hoaks terkait bencana. Penyebar hoaks memanfaatkan kepanikan masyarakat akan situasi yang mengagetkan itu, untuk menyebarkan gambar palsunya.

    Cara menghindari sebaran hoaks gambar AI soal bencana, masyarakat perlu memeriksa lagi informasi-informasi yang didapatkannya. Dikatakan masyarakat perlu mempertanyakan kebenaran konten-konten tersebut.

    “Dapatkan informasi dari sumber terpercaya. Selama bencana, kita wajib menelusuri dari mana informasi itu berasal. Maka, utamakan sumber resmi yang dapat diandalkan seperti lembaga pemerintah, media massa kredibel, dan saksi mata,” tulis Tempo.

    Di tingkat lokal, bila terdapat seruan untuk mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman atau informasi penting lainnya, carilah keterangan dari pihak yang berwenang di tempat tersebut.

    Letusan Gunung Lewotobi Laki-laki

    Gunung Lewotobi di Pulau Flores merupakan gunung yang memiliki dua puncak, yakni Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Lewotobi Perempuan. Gunung Lewotobi Laki-laki meletus pada 4 November 2024, sebagaimana dilaporkan Tempo.

    Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dari Badan Geologi mencatat letusan tersebut terjadi pada pukul 01.27 WITA, 02.24 WITA, dan 02.48 WITA. Letusan-letusan eksplosif itu terjadi di tengah kondisi hujan lebat.

    Bencana itu berdampak pada 6 desa di Kecamatan Wulanggitang dan 4 desa di Kecamatan Ile Bura, yang berada dalam zona bahaya sejauh 7 kilometer dari kawah gunung. Di tempat-tempat itu pula jatuh korban nyawa 10 orang dalam kejadian dini hari tersebut.

    Setidaknya belasan titik pengungsian telah didirikan, terdiri dari tempat pengungsian di lapangan yang dikelola pemerintah dan tempat pengungsian mandiri oleh warga. BNPB mencatat warga terdampak berjumlah 2.734 KK atau 10.295 jiwa.

    Kesimpulan



    Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan dua foto yang beredar tersebut memperlihatkan letusan Gunung Lewotobi Laki-laki di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah klaimkeliru.

    Salah satu foto sesungguhnya memperlihatkan letusan Gunung Ruang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, 30 April 2024. Sementara gambar lainnya dibuat menggunakan AI.

    Rujukan