• (GFD-2025-29288) [HOAKS] Inggris Ditagih 2 Triliun Poundsterling Setelah Akui Palestina

    Sumber:
    Tanggal publish: 27/09/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Pada 21 September 2025, Pemerintah Inggris mengakui Palestina sebagai negara berdaulat dan merdeka.

    Menyusul sikap tersebut, di media sosial beredar narasi yang mengeklaim Palestina menagih 2 triliun Poundsterling setelah pengakuan dari Inggris.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi itu tidak benar atau merupakan hoaks.

    Informasi mengenai Inggris ditagih 2 triliun Poundsterling setelah akui Palestina disebarkan oleh akun Facebook ini pada Rabu (24/9/2025):

    Berikut narasinya:

    Inggris Akui Palestina, Kini Ditagih Kompensasi 2 Triliun Pound Sterling!

    akun Facebook Tangkapan layar konten hoaks di sebuah akun Facebook, Rabu (24/9/2025), mengenai Inggris ditagih 2 triliun Poundsterling setelah akui Palestina.

    Hasil Cek Fakta

    Inggris merupakan salah satu dari segelintir negara yang mengakui Palestina sebagai sebuah negara, di tengah genosida berkepanjangan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Gaza.

    Berdasarkan rilis pengakuan atas Palestina, Pemerintah Inggris menulis, negara tersebut harus dipimpin oleh "Otoritas Palestina yang telah direformasi".

    Presiden Palestina Mahmoud Abbas memang pernah menyerukan ganti rugi dari Inggris, Amerika Serikat (AS) dan semua pihak yang berperan dalam tragedi yang terjadi atas negaranya.

    Seruan tersebut disampaikan dalam pidatonya di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September 2023.

    Kendati demikian, ia tidak pernah menyebutkan bentuk atau nominal untuk ganti rugi tersebut.

    Sebagaimana dilansir pemeriksa fakta Snopes, hingga kini Abbas belum mengajukan tuntutan ganti rugi baru setelah pengakuan Inggris atas negara Palestina pada 2025.

    Klaim mengenai nominal ganti rugi atau kompensasi terindikasi muncul di situs web tabloid Inggris, Daily Mail melalui sebuah artikel dan opini yang diterbitkan pada September 2025.

    Namun keduanya mengutip "pakar hukum" yang tidak disebutkan namanya, mengenai kompensasi atas pengakuan pemerintah Inggris atas Palestina.

    Narasi lain ditemukan dalam artikel di blog oleh Juan Cole, seorang profesor sejarah di Universitas Michigan.

    Cole menulis mengenai pemulihan atas Palestina, dan memperkirakan total nilai properti Israel saat ini berkisar 2,5 triliun Dollar AS.

    Ia lantas mengaitkan bahwa Palestina memiliki hampir semua tanah di wilayah tersebut pada saat pemerintah Inggris mulai mengelola Mandat Palestina pada 1920.

    Menurut Cole, angka 2,5 triliun Dollar AS adalah titik awal yang baik untuk reparasi Inggris kepada Palestina.

    Kendati demikian, pemerintah Palestina sejauh ini tidak pernah menagih kompensasi atau ganti rugi semacam itu pada Inggris.

    Kesimpulan

    Narasi mengenai Inggris ditagih 2 triliun Poundsterling setelah akui Palestina merupakan hoaks.

    Pemerintah Palestina tidak pernah menagih nominal ganti rugi atau kompensasi kepada Inggris, setelah pengakuan pada September 2025.

    Nominal yang disebutkan merupakan opini seorang sejarawan yang ditulis di blog.

    Rujukan

  • (GFD-2025-29289) [HOAKS] Video Kericuhan di SPBU Lumajang karena Kelangkaan BBM

    Sumber:
    Tanggal publish: 27/09/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Di media sosial beredar unggahan video yang mengeklaim terjadi kericuhan di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Lumajang, Jawa Timur saat masyarakat mengisi bahan bakar minyak (BBM).

    Kericuhan diklaim terjadi karena kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menyebabkan kelangkaan BBM.

    Namun, setelah ditelusuri narasi tersebut tidak benar atau hoaks.

    Video yang mengeklaim terjadi kericuhan di SPBU Lumajang karena kelangkaan BBM salah satunya dibagikan akun Facebook ini.

    Berikut narasi yang disampaikan:

    MENTERI ESDM KURANG AJARDaerah Lumajang pengisian BBM berakhir ricuhDengan adanya kebijakan baru dalam pengisian BBM

    Akun Facebook Video kericuhan di SPBU Lumajang yang diklaim karena kelangkaan BBM

    Hasil Cek Fakta

    Setelah video itu menyebar di media sosial, Polres Lumajang menyampaikan klarifikasi.

    Melalui unggahan di Instagram, Humas Polres Lumajang membantah narasi yang menyebut kericuhan dalam video disebabkan oleh kelangkaan BBM.

    Adapun lokasi kericuhan berada di SPBU  Desa Sentul, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang. Polres Lumajang menjelaskan, kericuhan terjadi saat berlangsung karnaval pada 17 September 2025.

    Saat itu, sejumlah orang yang menonton karnaval berteduh di SPBU karena hujan. Namun, kemudian terjadi gesekan antara beberapa orang yang akhirnya menimbulkan kericuhan.

    "Pada sekitar pukul sepuluh malam, hujan lebat turun. Karena banyak para penonton dan peserta karnaval kehujanan, ini pada berteduh di SPBU. Entah apa sebabnya, terjadi perkelahian. Itu urusan mereka, bukan urusan SPBU. Hanya ada perkelahian, tidak ada kejadian lain," demikian pernyataan Polres Lumajang. 

    Sebagaimana sudah ditulis Kompas.com,  Pj Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun juga membantah narasi soal kericuhan di SPBU Lumajang karena kelangkaan BBM.

    Ia menjelaskan, keributan itu terjadi saat penonton karnaval berteduh di area SPBU dan dalam pengaruh minuman keras. 

    Kesimpulan

    Video yang diklaim menampilkan kericuhan di SPBU Lumajang karena kelangkaan BBM merupakan informasi tidak benar atau hoaks.

    Kericuhan yang terjadi di SPBU Desa Sentul, Kecamatan Sumbersuko itu terjadi karena ada gesekan antara penonton karnaval. Video itu telah dibantah oleh Polres Lumajang dan pihak Pertamina Patra Niaga. 

    Rujukan

  • (GFD-2025-29290) [HOAKS] Netanyahu Sebut Indonesia, Malaysia, dan Pakistan Pengecut

    Sumber:
    Tanggal publish: 27/09/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Di media sosial, beredar sebuah video menampilkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Indonesia, Malaysia, dan Pakistan sebagai negara pengecut.

    Pernyataan itu terkait dengan upaya ketiga negara dalam mendukung kedaulatan Palestina.

    Setelah ditelusuri Tim Cek Fakta Kompas.com, video itu merupakan konten manipulatif.

    Video Netanyahu menyebut Indonesia, Malaysia, dan Pakistan pengecut disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, ini, dan ini.

    Dalam video berdurasi 30 detik tersebut, Netanyahu mengatakan bahwa upaya Indonesia, Malaysia, dan Pakistan untuk membebaskan Palestina hanyalah mimpi palsu belaka.

    Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada 4 Juni 2025:

    Si apa itu memangnya Prabowo Subianto. bermimpi mau ikut memerdekan palestina.Itu mimpi mereka jam 12 siang hari.

    Bravo #Israel bravo #IDFGood job Benyamin NetanyahuIsrael forever.

    akun Facebook Tangkapan layar konten manipulatif di sebuah akun Facebook, 4 Juni 2025, menampilkan video Netanyahu menyebut Indonesia, Malaysia, dan Pakistan pengecut.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com mengambil tangkapan layar dan melakukan pencarian gambar di Google Lens.

    Hasilnya mengarahkan ke sebuah video di kanal YouTube Israeli PM yang diunggah pada 19 Januari 2012.

    Berdasarkan posisi mikrofon dan motif dasi Netanyahu, video tersebut merupakan sumber aslinya.

    Dikutip dari Likoed NL, dalam pidatonya di Sinagoga Portugis, Amsterdam, Netanyahu menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Belanda atas dukungannya terhadap Israel.

    Menurut Netanyahu, Belanda dan Israel memiliki pandangan yang sama mengenai konflik Timur Tengah dan ancaman Iran yang memiliki senjata nuklir.

    Hingga September 2025, Belanda menjadi salah satu negara yang belum memberikan pengakuannya kepada Palestina sebagai negara berdaulat.

    Dalam video aslinya, Netanyahu sama sekali tidak menyebut Indonesia, Malaysia, atau Pakistan.

    Audio asli dari pidato Netanyahu diganti dengan suara lain.

    Namun, Tim Cek Fakta Kompas.com belum menemukan indikasi campur tangan artificial intelligence (AI) dalam konten tersebut.

    Kesimpulan

    Video Netanyahu menyebut Indonesia, Malaysia, dan Pakistan pengecut merupakan konten hoaks.

    Suara dari pidato Netanyahu di Amsterdam pada 2012 disunting dengan suara lain.

    Dalam pidato aslinya, Netanyahu berterima kasih kepada pemerintah Belanda karena mendukung Israel. Ia sama sekali tidak menyebut Indonesia, Malaysia, atau Pakistan.

    Rujukan

  • (GFD-2025-29297) [KLARIFIKASI] Video Ini Momen Delegasi Walk Out Saat Netanyahu Berpidato pada 2024, Bukan 2025

    Sumber:
    Tanggal publish: 27/09/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Sejumlah delegasi negara yang hadir Sidang Majelis Umum PBB yang ke-80 pada Jumat (26/9/2025) melakukan aksi walk out saat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu akan berpidato. 

    Hanya ada perwakilan beberapa negara seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang tercatat tetap berada di ruangan.

    Di media sosial muncul video yang diklaim menampilkan aksi walk out tersebut. Namun, setelah ditelusuri, video itu keliru dan perlu diluruskan. Peristiwa dalam video merupakan aksi walk out  yang terjadi 2024, bukan 2025.

    Video yang diklaim menampilkan aksi walk out saat Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di Sidang Majelis Umum PBB yang ke-80 pada Jumat (26/9/2025) dibagikan akun Facebook ini, ini dan ini. 

    Dalam video itu tampak sejumlah orang meninggalkan sebuah ruangan ketika Netanyahu berada di podium untuk berpidato.

    Berikut keterangan teks yang disampaikan:

    Delegasi PBB melakukan walk-out saat Netanyahu berbicara dalam forum tersebut. 

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Tim Cek Fakta Kompas.com, video itu sudah beredar sejak 2024, jauh sebelum Sidang Umum PBB yang ke-80 digelar pada 26 September 2025.

    Video identik dengan unggahan di kanal YouTube Guardian News ini.

    Video merupakan momen ketika sejumlah delegasi negara melakukan walk out saat Netanyahu akan menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB yang ke-79 pada 26 September 2024.

    Dikutip dari laman pemeriksa fakta Misbar, saat itu perwakilan tetap Turkiye untuk PBB, Ahmet Yildiz memimpin delegasinya keluar sebelum Netanyahu berpidato. Hal itu kemudian diikuti oleh sejumlah delegasi lain sebagai bentuk protes. 

    Adapun, diizinkannya Netanyahu berpidato di Sidang Umum PBB yang ke-79 menuai kritik dari beberapa pihak.

    Mengingat, Pengadilan Kriminal Internasional sedang mengajukan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu atas tuduhan kejahatan perang.

    Sementara, video yang menampilkan para delegasi negara melakukan walk out pada Jumat (26/9/2025) salah satunya bisa dilihat di kanal YouTube Guardian News ini.

    Dalam video itu tampak sejumlah delegasi meninggalkan ruangan meski pemimpin sidang meminta mereka untuk tetap bertahan. Kendati begitu, Netanyahu tetap berpidato.

    Ia menyampaikan sejumlah hal dalam pidatonya salah satunya terkait beberapa warganya yang masih disandera Hamas.

    Kesimpulan

    Video yang diklaim menampilkan momen sejumlah delegasi negara melakukan aksi walk out saat Netanyahu akan berpidato dibagikan dengan konteks keliru.

    Peristiwa dalam video yang beredar merupakan momen para delegasi walk out di Sidang Umum PBB yang ke-79 pada 26 September 2024.

    Kendati begitu, dalam Sidang Umum yang ke-80 PBB yang digelar pada Jumat (26/9/2025) memang terjadi aksi walk out ketika Netanyahu akan menyampaikan pidato. 

    Rujukan