• (GFD-2020-8038) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Penjelasan Soal Corona dari Mohammad Indro Cahyono dalam Pesan Berantai Ini?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 13/04/2020

    Berita


    Pesan berantai yang berisi hasil wawancara dengan Mohammad Indro Cahyono tentang virus Corona Covid-19 viral di media sosial. Menurut pesan ini, Mohammad Indro Cahyono adalah seorang dokter hewan yang telah meneliti virus selama 20 tahun.
    Salah satu poin wawancara dalam pesan berantai itu menyebut bahwa pandemi Covid-19 hanya akan berlangsung selama dua minggu dan pasien Covid-19 dapat sembuh dengan mengkonsumsi vitamin E. Dalam pesan ini, Indro juga mengatakan bahwa virus bisa dibuat cepat menyebar dan menempel ke manusia.
    Pertanyaan: Kalau dari manusia, pasti ada penyebar pertamanya...
    Jawaban: Ya, penyebar pertamanya dari Wuhan sana, kenapa dia bisa muncul dari sana dan nyebar banyak, ya kita gak ngerti. Spekulasinya banyak. Cuma kalau saya ditanya sebagai orang yang sudah lama maen sama virus, apakah itu bisa dibikin supaya bisa nyebar cepat dan bisa nempel ke manusia, ya saya bilang bisa dibikin.
    Pertanyaan: Lewat intervensi para ilmuwan?
    Jawaban: Bisa. Gak akan sulit. Kalau orang yang biasa maenan virus, itu bisa. Cuma sekarang gak ada gunanya lagi kita membahas itu, wong virusnya sudah nyebar.
    Poin lainnya dalam pesan berantai tersebut yang kontroversial adalah bahwa pasien Covid-19 di Wuhan bisa sembuh karena mengkonsumsi vitamin E, karena vaksin dan obat Covid-19 belum ada. Oleh karena itu, Indro mengimbau agar masyarakat cukup menjaga kebersihan dan mengkonsumsi vitamin E.
    Terakhir, Indro memberikan prediksi bahwa pandemi Covid-19 akan menurun dalam dua minggu, lalu berakhir. "Gak lama. Dalam dua minggu setelah ini, sudah menurun, lalu selesai," demikian narasi dalam pesan berantai yang diklaim berasal dari Indro itu.
    Di Facebook, pesan berantai ini dibagikan salah satunya oleh akun Nurwanti Listya Dewi, yakni pada 8 April 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun Nurwanti Listya Dewi tersebut telah disukai sebanyak 200 kali dan dibagikan lebih dari 150 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Nurwanti Listya Dewi.
    Artikel ini akan berisi pemeriksaan terhadap dua hal:

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo dengan tool Plagiarism Checker, narasi dalam pesan berantai di atas bersumber dari artikel di situs Radar Banjarmasin yang dimuat pada 23 Maret 2020. Namun, narasi dalam pesan berantai tersebut telah mengalami penambahan berupa pertanyaan dan jawaban yang memuat prediksi bahwa pandemi Covid-19 akan berakhir dalam dua pekan.
    Mohammad Indro Cahyono mengakui bahwa isi dari pesan berantai yang beredar tersebut merupakan pernyataannya. "Benar, aslinya itu obrolan biasa. Saya enggak tahu kalau itu wartawan, dan beberapa statement belum siap dibuka ke publik. Saat dirilis, saya enggak diberitahu sebelumnya," kata Indro pada 1 April 2020 seperti dikutip dari Detik.com.
    Siapakah Indro Cahyono dan apakah penjelasan dalam pesan berantai di atas sesuai fakta?
    Berdasarkan penelusuran Tempo, Mohammad Indro Cahyono adalah dokter hewan lulusan Universitas Gajah Mada. Sejak 2006, ia bekerja di Badan Penelitian Veteriner (Balitvet), sebuah unit yang berada di bawah Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Kementerian Pertanian. Di Balitvet, Indro bertugas sebagai peneliti di Laboratorium Virologi. Pada 2018, Indro keluar dari Balitvet dan menjadi peneliti di kantor swasta.
    Dilihat dari latar belakang tersebut, Indro sebenarnya adalah ahli kesehatan atau ahli virus pada hewan, bukan ahli virus pada manusia. Ia juga tidak terlibat dalam penanganan klinis pasien yang terinfeksi Covid-19.
    Dengan alasan ini, Tim CekFakta Tempo perlu memeriksa ulang penjelasan Indro dengan fakta-fakta penelitian mengenai virus Corona Covid-19. Tempo juga menghubungi Dicky Budiman, dokter sekaligus ahli epidemiologi penyakit menular. Epidemiologi adalah ilmu tentang pola penyebaran penyakit atau kejadian yang berhubungan dengan kesehatan serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keadaan tersebut pada lingkup masyarakat tertentu.
    Berikut ini pemeriksaan fakta atas klaim dalam pesan berantai di atas:
    Klaim 1: Virus Corona sudah ada sejak nabi Isa atau 200 tahun sebelum Masehi.
    Menurut Dicky, klaim ini tidak memiliki referensi ilmiah. Beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa virus Corona sudah ada sejak lama. Tapi hal itu berlaku untuk jenis virus Corona pada hewan, bukan manusia. Virus Corona pada hewan berbeda dengan virus Corona pada manusia.
    Mengutip penelitian Jeffrey Kahn, doktor di Yale University School of Medicine, pada 2005 yang berjudul "History and Recent Advances in Coronavirus Discovery", virus Corona pada manusia baru teridentifikasi pada 1965 ketika Tyrrell dan Bynoe menemukan virus bernama B814 yang menyebabkan sebagian besar infeksi saluran pernapasan atas pada anak-anak.
    Kemudian, sejak 2003, setidaknya terdapat lima jenis virus Corona baru pada manusia yang telah diidentifikasi, termasuk virus Corona yang menyebabkan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Virus Corona penyebab Covid-19 sendiri muncul pertama kali di Wuhan, Cina, pada Desember 2019 dan kemudian menjadi pandemi hingga saat ini.
    Klaim 2: Virus pertamanya menyebar di Wuhan. Virus bisa dibuat supaya cepat menyebar dan menempel ke manusia.
    Klaim ini adalah bagian dari teori konspirasi bahwa virus Corona Covid-19 diproduksi oleh laboratorium di Wuhan, Cina. Tim CekFakta Tempo pernah memuat artikel yang berisi verifikasi atas teori konspirasi yang awalnya diucapkan oleh ahli perang biologis Israel Dany Shoham itu. Menurut Shoham dalam emailnya kepada Tempo, dia tidak memiliki petunjuk dan bukti untuk pernyataannya tersebut, sehingga teori konspirasi ini tidak bisa dibuktikan.
    Dicky juga menjelaskan bahwa teori konspirasi selalu muncul dalam setiap pandemi, seperti saat pandemi HIV-AIDS. Sejauh ini, tidak ada satu pun penelitian para ahli virologi dunia yang menunjukkan bahwa virus Corona Covid-19 adalah produk laboratorium, baik laboratorium Cina maupun laboratorium Amerika Serikat.
    Teori konspirasi pun dianggap berbahaya dalam upaya pengendalian Covid-19 karena akan mengurangi sinergi dan kolaborasi dunia global. “Padahal, pandemi tidak bisa ditangani satu negara, harus ada kolaborasi karena sifatnya global,” kata Dicky.
    Klaim 3: Minum vitamin E bisa mencegah Covid-19.
    Menurut Dicky, vitamin E tidak berkaitan langsung dengan pencegahan Covid-19. Sebelumnya, vitamin D sempat dihubungkan dengan Covid-19 karena berkaitan dengan imunitas. Namun, menurut Dicky, bukan berarti ketika daya tahan tubuh meningkat seseorang menjadi lebih aman dari Covid-19. Pencegahan utama, kata dia, adalah mengkonsumsi makanan bergizi, rajin mencuci tangan, dan jaga jarak.
    Dikutip dari situs resmi Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, vitamin E juga bukan satu-satunya nutrisi yang dibutuhkan untuk melawan Covid-19. Mikronutrisi, seperti vitamin A, B, C, D, dan E, serta mineral zat besi, selenium, dan seng atau zinc sangat penting melawan infeksi. Penelitian menunjukkan bahwa meningkatkan nutrisi dapat membantu mendukung kerja sistem imun yang lebih optimal.
    Klaim 4: Pandemi Covid-19 tidak akan berlangsung lama. Dalam dua minggu setelah ini, sudah menurun, lalu selesai.
    Hal ini tidak sesuai dengan pemodelan yang dilakukan oleh ahli epidemiologi Universitas Indonesia yang memprediksi bahwa pandemi Corona akan menurun pada Mei 2020. Prediksi menurun pada Mei ini pun disertai syarat di mana pemerintah harus melakukan intervensi dengan efektif, yakni membatasi mobilitas masyarakat seperti mudik.
    Dicky juga menjelaskan bahwa klaim "pandemi selesai dalam dua minggu" tersebut sangat gegabah dan tidak sesuai dengan ilmu pandemi. Secara teori, pandemi akan berhenti setelah setengah dari populasi dunia terinfeksi. Proses ini membutuhkan waktu yang lama sehingga tidak mungkin selesai selama dua pekan.
    Merujuk pada sejarah pandemi flu yang dimulai pada Januari 1918, pandemi tersebut baru selesai dalam waktu tiga tahun, yakni pada Desember 1920. Pandemi flu saat itu memiliki nilai kecepatan di atas 2, hampir sama dengan pandemi Covid-19. Pandemi saat itu berlangsung lama karena ketidaksiplinan sejumlah negara untuk membatasi mobilitas masyarakat.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, penjelasan seputar virus Corona Covid-19 dalam pesan berantai di atas memang berasal dari Mohammad Indro Cahyono. Namun, Indro adalah ahli kesehatan pada hewan, sehingga beberapa pernyataannya dalam pesan berantai itu tidak sesuai dengan fakta-fakta mengenai virus Corona Covid-19. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penjelasan seputar virus Corona Covid-19 dalam pesan berantai di atas sebagian benar.
    ZAINAL ISHAQ | IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8039) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Foto-foto Muslim Uighur yang Makin Giat Beribadah saat Pandemi Corona?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 13/04/2020

    Berita


    Sebuah gambar tangkapan layar yang berisi tiga foto sejumlah pria yang mengenakan kopiah putih, beberapa di antaranya berjenggot, beredar di Twitter. Foto-foto itu diklaim sebagai foto muslim Uighur yang semakin giat beribadah di tengah pandemi virus Corona Covid-19.
    Gambar tangkapan layar tersebut diunggah oleh akun Ikhsan Kamil, @IkhsanK07895159, pada 8 April 2020. Dalam tiga foto itu, terlihat pula sejumlah pria yang sedang berdoa. Selain itu, terdapat narasi yang mengajak agar umat Islam di Indonesia bisa meniru apa yang dilakukan oleh muslim Uighur di Cina.
    "Seharusnya umat Muslim di Indonesia itu mencontoh muslim Uighur. Walaupun negaranya itu sumbernya virus Corona, tapi mereka tidak panik dan bahkan semakin giat ibadahnya, seolah-olah tidak ada bencana pagebluk virus Corona," demikian narasi dalam gambar tangkapan layar tersebut.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Twitter Ikhsan Kamil.
    Gambar tangkapan layar ini beredar di saat pemerintah Indonesia menerapkan pembatasan kegiatan ibadah, seperti salat berjamaah di masjid, untuk menekan penyebaran virus Corona Covid-19. Beberapa daerah pun sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB di mana kegiatan ibadah dibatasi.
    Apa benar foto-foto dalam gambar tangkapan layar di atas adalah foto-foto muslim Uighur yang semakin giat beribadah saat pandemi Corona?

    Hasil Cek Fakta


    Tim CekFakta Tempo menggunakanreverse image tooldari Google dan Storyful, Source, untuk melacak siapa yang pertama kali mengunggah ketiga foto tersebut. Hasilnya, Tempo mendapatkan bahwa ketiga foto itu telah beredar di internet pada 2009-2016, sebelum terjadinya pandemi Covid-19.
    Berikut ini fakta-fakta atas foto tersebut:
    FOTO I

    Foto ini telah beredar sejak 2015 dan dimuat oleh situs berbahasa Bosnia, Dzematdonjevukovije.org. Foto tanpa keterangan ini digunakan dalam artikel berjudul "Minat Besar dalam Islam di Cina" yang dipublikasikan pada 27 Februari 2015. Artikel ini mengulas tentang jumlah muslim di Cina yang meningkat dua kali lipat dalam dua puluh tahun terakhir. Foto ini kemudian dipakai oleh sejumlah situs hingga kini, termasuk situs media di Indonesia. Pada 2018 misalnya, iNews menggunakan foto yang berasal dari AFP ini dengan keterangan muslim Uighur di Cina.
    Sumber: Dzematdonjevukovije.org dan iNews
    FOTO II

    Foto ini telah beredar sejak 2009. Foto tersebut pertama kali dipublikasikan oleh situs berbahasa Bengali di India, Jugantor.com, dalam artikel yang berjudul "Apakah kata 'teroris' diperuntukkan bagi Muslim?" pada 31 Agustus 2009. Dalam artikel itu, terdapat keterangan foto yang berbunyi, "Muslim Uighur di Tiongkok". Foto ini pun sering dipakai oleh sejumlah situs, namun dengan keterangan yang berbeda. Kantor berita Antara misalnya, pernah menggunakan foto ini dalam artikel berita berjudul "Pengamat Cina Anggap Kelas Muslim Tidak Patut" yang dimuat pada 30 Januari 2018.
    Sumber: Jugantor.com dan Antara
    FOTO III

    Foto ini pernah dipublikasikan oleh situs Sixthone.com dalam artikelnya yang berjudul "In Pictures: Chinese Muslims Celebrate Eid al-Fitr" pada 6 Juli 2016. Foto tersebut diberi keterangan, "Kaum muslim mengambil foto ulama senior yang tiba di Masjid Niujie yang bersejarah untuk merayakan Idul Fitri di Beijing, 6 Juli 2016. Damir Sagolj/Reuters". Foto ini juga pernah dimuat oleh situs Diplo-mag.com pada 11 Agustus 2019.
    Sumber: Sixthone. com  dan  Diplo-mag.com
    Salah satu daerah yang ditutup
    Xinjiang, rumah bagi komunitas muslim Uighur, menjadi salah satu daerah yang ditutup oleh pemerintah Cina sejak Februari 2020 untuk menekan penyebaran virus Corona Covid-19. Dilansir dari The New York Times, setelah sebulan lebih,lockdowndi Xinjiang diakhiri pada pekan kedua Maret 2020.
    Menurut laporan pemerintah Cina, Xinjiang memiliki 76 kasus Covid-19 dan tiga kematian akibat virus tersebut. Warga Uighur yang tinggal di luar negeri skeptis dengan perhitungan pemerintah Cina tersebut. Mereka sempat khawatir virus itu akan menyebar dengan cepat di Xinjiang jika virus masuk ke dalam kamp, penjara, atau daerah pedesaan dengan perawatan medis yang terbatas. Bagi banyak orang Uighur, komunikasi dengan dunia luar yang sebagian besar terputus oleh tindakan keras pemerintah menambah ketidakpastian.
    Sebelum wabah Covid-19 menyebar di Cina, Xinjiang berada di bawah kontrol yang ketat dari otoritas Cina. Wilayah ini dipenuhi dengan pos-pos pemeriksaan untuk mengendalikan pergerakan populasi minoritas. Banyak muslim yang ditangkap dan ditempatkan di kamp-kamp atau penjara terkait berbagai perilaku yang oleh pemerintah dianggap ekstrem. Setelah kasus Covid-19 pertama di Xinjiang dilaporkan pada 23 Januari, kontrol otoritas Cina ke wilayah tersebut semakin meningkat.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi yang menyertai foto-foto di atas, bahwa foto-foto tersebut merupakan foto muslim Uighur yang semakin giat beribadah di tengah pandemi Corona, menyesatkan. Ketiga foto tersebut diambil jauh sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Selain itu, kecil kemungkinan foto-foto kegiatan muslim Uighur yang berada di kamp-kamp di Xinjiang bisa tersebar luar mengingat wilayah tersebut dikontrol secara ketat oleh pemerintah.
    IKA NINGTYAS
    Catatan Koreksi: Artikel ini diubah pada Senin, 13 April 2020, pukul 15.00 pada bagian pemeriksaan fakta untuk menambahkan keterangan dan sumber pada foto ketiga. Redaksi mohon maaf.
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-3825) [SALAH] Video “Pertama Kali dalam Sejarah Presiden dan Senat AS Membuka Sidang Dengan Alquran”

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 13/04/2020

    Berita

    Beredar melalui pesan berantai di Whatsapp sebuah video yang menampilkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghadiri sebuah acara. Dalam narasi yang tertera di video itu tertulis klaim bahwa acara itu merupakan sidang antara Presiden Donald Trump dengan Senat AS yang dibuka dengan pembacaan Al Quran.

    Narasi ada dalam video. Berikut narasinya:

    “SubhanAllah
    Pertama kali dalam sejarah
    Presiden dan Senat AS membuka
    sidang dengan ALQUR’AN”

    Video viral
    PERTAMA KALI DALAM SEJARAH PRESIDEN DAN SENAT AS MEMBUKA SIDANG DG MEMBACA AL QURAN

    PERTAMA KALI DALAM SEJARAH PRESIDEN DAN SENAT AS MEMBUKA SIDANG DG MEMBACA AL QURAN
    Presiden AS dan Senat baca alquran dlm persidangan

    Hasil Cek Fakta

    Melalui hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim tersebut tidak benar. Diketahui bahwa peristiwa dalam video bukanlah sidang antara Presiden Donald Trump dengan Senat AS. Video itu merupakan pelaksanaan acara National Prayer Service di Washington National Cathedral yang dihadiri oleh Donald Trump dan istrinya, Melania Trump.

    Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 21 Januari 2017 itu merupakan kegiatan tradisi berdoa di Amerika Serikat selepas terpilihnya Presiden AS yang baru. Pada kegiatan itu, sejumlah pemuka agama dari berbagai agama hadir, termasuk Imam Mohamed Magid dari All Dulles Area Muslim Society Center, yang mewakili Agama Islam.

    Pada acara itu, Magid membacakan Surat Al-Hujurat ayat 13 dan Surat Ar-Rum ayat 22. Pemilihan kedua surat itu diyakini sebagai pesan dari Magid kepada Trump yang kala itu diisukan akan mendaftar umat muslim untuk memonitor kegiatan ibadah mereka di AS.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan itu, maka klaim bahwa video itu mengenai pembacaan Al Quran saat sidang antara Presiden dengan Senat AS tidak benar. Oleh sebab itu, maka konten tersebut masuk ke dalam kategori False Context atau Konten yang Salah.

    Rujukan

  • (GFD-2020-3826) [SALAH] Pesan Berantai PT MOSI Tawarkan Rapid Test Kit COVID-19

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 13/04/2020

    Berita

    Beredar pesan berantai atas nama PT Mutiara Optima Sinergi Indonesia (MOSI) yang mengklaim bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan beberapa BUMN untuk mendatangkan Rapid Test Kit. Berikut kutipan narasinya:

    “Dear bapak/ibu

    dalam masa pandemic ini, kami PT
    Mutiara Optima Sinergi Indonesia (MOSI)
    ingin menyampaikan, bahwa PT MOSI
    saat ini bekerja sama dengan beberapa
    BUMN untuk mendatangkan Rapid Test
    kit Covid-19 uangvakan tersedia dalam
    2 minggu kedepan. Rapid Test ini akan
    sangat membantu masyarakat maupun
    karyawan perihal dalam menekan
    kepanikan dan anjuran masyarakat
    yg mendatangi Rumah Sakit untuk
    kepastian gejala gejala yg dirasakan
    masing-masing orang.

    Dengan pesan ini kami siap membantu
    perusahaan bapak/ibu dalam
    pemenuhan alat Rapid Test ini.
    Silahkan memberikan informasi
    kebutuhan yang diperlukan kepada
    kami, dengan membalas WA ini, dan
    menyebutkan JUMLAH yang dibutuhkan
    (minimum per 100 buah).

    Demikian kami sampaikan, semoga
    pandemic ini berlalu secepatnya.

    Salam,
    Eddy Robin”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa informasi dalam pesan berantai itu tidak benar. Sebab, informasi dalam pesan berantai tersebut sudah dibantah oleh pihak Forum Humas BUMN. Melalui akun media sosialnya, yakni di Twitter (@ForHumBUMN) dan Instagram (@forumhumasbumn), menyatakan bahwa pihak BUMN tidak pernah bekerja sama dengan PT MOSI untuk pengadaan Rapid Test Kit.

    “Beredar pesan pendek mengatasnamakan PT Mutiara Optima Sinergi Indonesia (MOSI) yang menyatakan bekerja sama dengan BUMN untuk mendatangkan alat rapid test kit COVID-19,” tulis Forum Humas BUMN dalam media sosial Twitter dan Instagramnya.

    Lebih lanjut, Forum Humas BUMN mengimbau kepada masyarakat agar mengabaikan pesan berantai tersebut bilamana menerima pesan tersebut. “Jika kamu pernah mendapatkan pesan tersebut silakan diabaikan saja karena merupakan penipuan sebab BUMN tidak pernah bekerja sama dengan perusahaan tersebut untuk mendatangkan alat yang dimaksud,” tulis pihak Forum Humas BUMN.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan konten pesan berantai atas nama PT MOSI tidak benar. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori Fabricated Content atau Konten Palsu.

    Rujukan